Time : 20.12.04

time20

Title : Time : 20.12.04

Student ID : Jung Seomi

Main cast : Oh Sehun, Xi Luhan, HunHan, EXO

Genre : Brothership

Length : Oneshot

.

————————-

Sehun Side of Story

.

Pemuda itu meringkuk sendirian di rumahnya. Ia membetulkan kacamata yang semenjak tadi bertengger manis di hidungnya. Rumah kecil yang terdiri dari tiga ruangan itu tak cukup menghangatkannya dari Hujan. Yeah, saat ini sedang hujan. Ia hanya sendirian dan kedinginan. Ia tak memiliki siapapun. Kalaupun ia memiliki seorang adik, itu tak berguna. Nyatanya, ia sendiri tidak tahu dimanakah sang adik.

Brak!

Suara pintu yang kini sudah lepas dari engselnya pun terdengar. Pemuda itu, Luhan mendongak. Ia menatap sedih pintu yang kini tergeletak. Menampakkan pelaku perusak benda malang tersebut. Seorang pemuda berkulit seputih susu yang tengah menampilkan seringaiannya dengan baju basahnya.

“Bukankah aku sangat kuat?” tanyanya licik. Luhan mendesah. Ia berjalan kearah pintu yang di dobrak adiknya dan membenarkan pintu itu kembali ke tempatnya. Lagipula, ia lelah berdebat dengan adiknya, Sehun. Ia memilih mengalah dan membenarkan pintu itu dalam diam. Sebenarnya ia kesal, namun sudahlah. Tidak ada yang bisa ia lakukan.

Sehun memutar bola matanya dan berjalan ke kamar mandi mengganti bajunya. Ia menatap sang kakak yang tengah memperbaiki pintu yang telah ia dobrak. Sang kakak yang kedinginan dengan tubuh kurusnya berusaha memperbaiki kerusakan yang telah ia perbuat. Ia tersenyum dengan senyum yang… Entahlah… namun senyum itu menggambarkan suasana hatinya.

—————

 “Sehunnie, lihat itu kan kakakmu” kata Kai sambil menunjuk ke arah pemuda yang tengah menjadi pelayan restoran. Dengan penampilan super cupu yang memang sudah menjadi penampilan sehari-hari kakaknya itu. Sehun tersenyum kecut melihat senyuman sang kakak yang melayani pelanggannya dengan baik

“Sehunnie, kau punya kakak yang hebat. Ia menghidupimu sendirian. Sekalipun ia sangat dingin dan cupu. Kau tahu sehun, kau adalah manusia paling beruntung mengenalnya bahkan menjadi adiknya” kata Kai. Sehun menatap Kai dengan tatapan dinginnya. Kemudian ia kembali menatap sang kakak

“Tentu saja akulah yang paling beruntung, tapi dia tidak, ia tidak beruntung memiliki adik sepertiku”

Sehun tersenyum miris. Ia paling tidak suka hal seperti ini terjadi. “Sehunnie, katakan yang sebenarnya. Kau masih menyayanginya kan?” tanya Kai lagi

Sejenak Sehun berpikir. Ia harus menjawab apa? Ia menimbang begitu lama akhirnya ia menjawab.

“Aku tidak menyanyanginya. Aku bahkan menyesal di lahirkan sebagai adiknya. Dia memalukan” kata Sehun pedas. Kai terkejut mendengar jawaban Sehun. Tanpa mereka sadari, Luhan berada di dekat mereka membawa pesanan Kai dan Sehun. Ia tersenyum miris dan meletakkan pesanan mereka kasar. Ia menatap mata Sehun. “Dan aku… menyesal kau lahir di dunia ini. Merepotkanku sebagai adikku. Bahkan makan dari hasil kerja kerasku” jawab Luhan lebih tajam dan pedas dari perkataan Sehun. Ia kembali ke tempatnya.

 Sehun hanya bisa memandangi punggung Luhan yang semakin menjauh. Sehun tersenyum miris. Perasaannya terluka. Tentu, siapa yang tidak terluka ketika orang yang paling kau sayangi dan satu-satunya keluarga yang kau miliki mengatakan kata yang sekejam itu padamu?

“Ya, Hyung bencilah aku hyung… Berhentilah menyayangiku hyung… seperti inilah yang aku mau. Dan… Maafkan aku Luhan hyung. Aku melakukannya demi Kau…”

————————-

Sehun mendesah. Sehun keluar dari ruangan serba putih yang bisa di sebut dengan ruang Dokter. Selalu seperti ini. Rasanya,  Ia ingin mengutuk ruangan ini. Karena setiap keluar dari tempat ini, ia hanya mendapat hal buruk dan vonis yang lebih mematikan. Kenapa hidupnya begitu tidak beruntung?

Sehun duduk di kursi taman rumah sakit itu. Ia menatap kertas yang ada di tangannya. Kanker darah. Itulah yang jelas tertera di sana. “Menyedihkan sekali kau Sehun…” monolog Sehun

Penyakit terkutuk ini, kenapa harus menyerangnya? Kalaupun ia bisa sembuh, tapi itu tidak akan mungkin. Darimana anak yatim piatu sepertinya bisa melakukan kemoterapi ataupun hal lain untuk menghilangkan kanker mematikan itu?.

Ia menangis menatap obat yang ada di tangannya. Itu satu-satunya cara yang dapat ia lakukan untuk hidup. Dan satu-satunya alasan dia hidup adalah kakaknya, kakak yang membesarkannya setelah panti asuhannya terbakar.Kakak yang menunjukan padanya bagaimana rasanya di cintai. Kakak yang membuatnya mengerti rasanya di sayangi. Kakak yang telah membantunya untuk mengukir senyum di wajahnya. Kakak yang enam tahun lebih tua dari dirinya. Kakak yang selalu menjaganya. Melindunginya dalam segala hal.

———————-

“Sehunnie, kau tahu? Tadi Baekhyun bercerita tentang adiknya yang lebih tinggi darinya, kalau tidak salah namanya Chenyeol… Chanhyul ah Chanyeol! Dan aku juga menceritakan tentangmu padanya bla bla bla” Luhan bercerita pada Sehun sambil memainkan videogame. Sehun hanya diam mendengar cerita sang kakak sambil mengerjakan PR nya. Sekali-kali ia tersenyum sambil menanggapi cerita sang kakak. Tiba-tiba setetes darah jatuh dari hidungnya.

“Hyung aku ke kamar mandi sebentar”

“Ne” jawab Luhan masih berkutat dengan gamenya. Sehun mengelap darahnya dan pergi ke kamar mandi. Ia membersihkannya dan mentupunya dengan tissue hingga darahnya berhenti mengalir

Sehun menatap dirinya pada cermin. Ia heran kenapa akhir-akhir ini ia sering mengalami mimisan. Ya, ini bukan pertama kalinya ia mengalami mimisan. Akhirnya, ia memutuskan untuk pergi ke rumah sakit.

Sehun menatap sebuah kertas dengan ekspresi shock. Ia benar-benar terkejut dengan hasil yang ia terima. Kanker darah. Ia tahu itu bukanlah sebuah penyakit ringan. Leukemia bisa saja membunuhnya.

Membunuhnya…

Membunuhnya?

Apalagi, pengobatan leukemia tidaklah murah. Sehun menunduk sedih. Hal yang paling membuatnya Sedih adalah…

Kenyataan bahwa mungkin ia akan meninggalkan Luhan hyungnya. Sehun menangis. Kenapa ini harus terjadi padanya? Hatinya terasa sangat sakit. Ia tahu dengan pasti. Hyungnya sangat menyayanginya. Ia tidak bisa membayangkan harus pergi dari Hyungnya. Ia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Ia sangat sedih melihat Luhan sedih.

Luhan pernah bilang. Kalau ia tidak yakin bisa hidup tanpa Sehun. Dan Luhan pernah bilang kalau jika Sehun pergi maka ia akan sangat sedih. Waktu itu ketika usia Sehun  10 tahun, Sehun pernah pergi bermain ke rumah Kai tanpa izin pada Luhan. Alhasil, Luhan tidak tidur mencarinya dengan mata sembab nan lelah dan sangat sedih. Waktu itu Sehun sangat sedih melihat kondisi Luhan. Dan Sehun tahu satu hal ia tidak boleh meninggalkan Hyungnya. Dan ia berjanji tidak akan pernah meninggalkannya.

Lalu sekarang? Bagaimana? Apa yang harus ia lakukan? Ketika kenyataan dan takdir berkata lain dengan apa yang ia harapkan. Sehun merasa sangat takut dan sedih… kali ini ia tidak tahu harus bagaimana

Sehun memejamkan matanya untuk berpikir. Hingga suatu hal terpikir olehnya. Ia harus membuat Luhan membencinya. Sebenci apapun agar kelak waktunya, Luhan tak akan terlihat sangat sedih. Ya, itu caranya. Dan mulai saat itu, Sehun selalu dingin kepada Luhan. Apalagi Luhan yang tiba-tiba juga berubah menjadi dingin dan sangat cupu. Entahlah kenapa, tapi itulah yang terjadi.

————————–

Aku masuk ke rumah kecilku yang ku tinggali bersama Luhan Hyung. Aku menatap Luhan Hyung sendu. Ia terlihat mengobrak-abrik lemari baju kami. Luhan hyung pasti sudah sangat membenciku lebih dari apapun

“Kenapa kau kembali ke tempat ini?” tanya Luhan hyung dingin. Aku hanya mendesah. Bukankah ini yang aku inginkan? Luhan hyung membenciku. Dan itu sudah terjadi. Biarlah hatiku sakit dan sedih asalkan Luhan hyung bahagia nantinya.

“Hyung tidak tahukah kau Hyung. Aku meridukannya… Rindu akan suara hangat mu, Luhan hyung… aku merindukan senyummu Luhan hyung…. aku merindukannya hyung sangat”

“Aku mengambil barang-barangku dan berniat pergi” kataku dingin. Ya, ini saat nya aku pergi. Luhan hyung tidak boleh melihat keadaanku yang semakin melemah. Aku juga tidak boleh ketahuan mimisan. Meskipun harus sakit pergi dari tempat ini, maksudku pergi dari Luhan Hyung. Namun aku terkejut melihatnya sudah mengemasi barang-barangnya.

Bahkan… Hyung  sekarangberniat pergi….

Ingin sekali aku memohon agar hyung-lah yang tetap disini. Aku yakin tidak mudah mencari tempat tinggal baru. Lagi pula, aku akan segera pergi dari tempat ini. Aku akan segera pergi dari dunia ini kan? Dan Luhan hyung masih punya masa depan yang panjang. Tapi aku tidak bisa melakukannya…

“Sehun-ssi, akulah yang akan pergi. Senang berkenalan denganmu Sehun-ssi. Jangan pernah mengingat namaku. Aku hanyalah angin lewat. Aku berjanji, aku tidak akan kembali lagi Sehun-ssi. Aku mintamaaf telah menjadi kakak yang gagal. Dan aku berterimakasih akan semua yang pernah kau berikan padaku sebelum kau berubah. Saatnya salah satu dari kita pergi. Anggaplah kita tidak pernah bertemu Sehun-ssi”

Deg

A-apa yang barusan ia katakan? Rasanya kata-kata itu sangat menyakitkan… apalagi, ia tidak memanggilku seperti biasanya ia memanggilku. Embel-embel ssi melekat di kalimatnya. Kakiku bergetar, mataku memanas rasanya aku ingin menangis sekarang. Memeluk erat kakak yang merupakan keluargaku satu-satunya. Tapi tubuhku membeku. Aku terkunci dan tidak bisa bergerak. Aku mati-matian menahan airmata yang sepertinya akan segera tumpah sekarang juga.

Aku mendengar suara kakinya yang makin menjauh. Punggungnya yang nampak makin mengecil. Aku ingin memanggil namanya dan menangis hingga ia menenangkanku seperti dulu. Namun, suaraku terhenti di tenggorokanku. Aku tidak boleh egois. Aku tidak boleh membuatnya menyanyangiku dan hanya akan berurai airmata bersama kepergianku pada waktunya nanti.

Tes

Airmataku tak terbendung lagi seiring lenyapnya Luhan hyung dari pandanganku. Bahkan hyung aku bersumpah, aku tidak akan pernah bisa melupakan namamu. Sebuah nama terindah yang pernah turut mengukir lembaran harianku. Nama yang membuatku memiliki alasan untuk hidup. Nama yang membuatku tetap tersenyum. Nama terindah yang pernah ada

Aku  beruntung memiliki Hyung sepertimu. Tapi tidak denganmu, kau tidak beruntung memiliki adik penyakitan seperti ku Hyung

Tes

Titik air mulai terjatuh. Namun itu bukan airmata karena warnanya merah. Dan aku yakin itu berasal dari hidungku. Lagi-lagi mimisan.

Aku pergi ke kamar mandi dan menyumbat hidungku dengan tissue yang kumiliki. Dan membiarkannya hingga darah itu berhenti mengalir. Kepalaku juga tiba-tiba terasa pening dan sakit. Aku menatap darah yang merembes di tissue yang aku bawa.

Satu hal yang aku pikirkan, waktunya sudah dekat…

Aku menatap layar televisi dengan tatapan hampa. Semenjak kepergian Luhan hyung. Aku hidup seperti mayat hidup. Toh, sebentar lagi aku benar-benar berubah menjadi sosok mayat. Apalagi sekarang tubuhku sudah makin melemah. Mimisan lebih sering terjadi. Kepalaku juga sering pusing.

Setiap hari aku selalu memikirkan Luhan Hyung. Ya, meski dia sekarang membenciku. Dan aku yakin dan menjamin bahwa aku adalah makhluk yang paling ia benci di dunia ini. Tapi ialah orang yang paling ia sayangi di dunia ini.

“Sehunnie… ini aku Kai. Izinkan aku masuk!” terdengar suara Kai dari luar. Dan aku mengizinkannya masuk

“Mana Luhan? Dan kenapa kau tidak masuk sekolah akhir-akhir ini?” tanyanya. Aku menatapnya dengan tatapan sedih

“Ada apa eoh?” tanyanya kepadaku

Aku mulai berpikir. Setidaknya aku akan menceritakan semua ini pada Kai. Ya, setidaknya bisa mengurangi bebanku

“APA?! LEUKIMEA? KANKER DARAH?!” tanya Kai dengan nada super tinggi. “Ayolah Kai, kau berlebihan”

“Sehunnie, kenapa kau tidak pernah bilang apa-apa eoh?” tanyanya. Aku tahu sahabatku itu mati-matian menjaga imagenya dan tetap terlihat keren meski aku tahu ia menahan air matanya. Itu bisa jelas sekali terlihat

“Maaf Kai” kataku lirih. Aku tidak tahu haru bagaimana sekarang. Aku jadi mengingat Luhan hyung. Kai saja seperti ini reaksinya. Bagaimana dengan Luhan hyung?

“Jangan beritahu Luhan hyung Kai, ia juga tidak akan pernah bertanya padamu karena ia sudah membenciku”kataku. Ia hanya terdiam dan mengalihkan tatapannya. Dan suasana berubah menjadi sunyi.

“Dan kau puas sekarang?” tanyan Kai sedih “Aku tahu Sehun ini tidak mudah bagimu” tambahnya. Aku hanya tersenyum lemah. Lalu hidungku kembali meneteskan darah. Aku segera meraih tissue yang ku siapkan di meja dan mengelap darah yang keluar itu. Kai menatapku khawatir

Gwenchana?” tanya Kai khawatir. Aku tersenyum “Sudahlah Kai. Aku akan baik-baik saja bila Luhan Hyung tidak pernah tahu masalah ini. Bahkan nanti ketika aku pergi, jangan katakan apapun padanya” kataku. Kai hanya tersenyum. Aku bisa melihat bahwa ia mengasihaniku. Entah karena penyakitku atau karena aku yang harus pura-pura pada Luhan hyung, atau mungkin keduanya. Kai, jaga janjimu…. jangan lukai Luhan hyungku. Jikapun kau kasihan padaku karena aku terluka, cukup akulah yang terluka… jangan biarkan Luhan Hyung terluka.

Aku bangun dari tidurku. Sudah beberapa hari Luhan hyung tidak disini. Aku tidur dan melakukan segala hal sendiri. Aku bangun dari ranjangku. Namun, pergerakanku terhenti.

Aku merasakan pening hebat di kepalaku. Dan diasaat yang sama hidungku mengeluarkan cairan kental berwarna merah. Kakiku melemas. Dan tubuhku terjatuh ke tanah. Perlahan semua mengabur dan suara lenyap. Aku tahu satu hal… ini mungkin waktunya…

Waktu aku harus mengucapkan selamat tinggal

Waktu aku harus mengahiri semua

Waktu aku harus meninggalkan sahabatku

Waktu aku harus mengginggalkan suara lembut seseorang

Waktu aku harus mengginggalkan senyum hangat seseorang

Waktu aku harus mengginggalkanmu, Luhan Hyung

Waktu aku harus mengucapkan Maaf, terimakasih dan selamat tinggal

Aku menyanyangimu Luhan Hyung

Dan hal yang terakhir kulihat adalah senyuman Luhan Hyung yang sukses meraih impiannya. Lantas akupun tersenyum tipis “Lu… han… Hyung…”

—————————

Kai berteriak sekencangnya melihat tubuh lemah Sehun yang tergeletak di lantai. Ia segera membawa Sehun ke rumah sakit. Ia benar-benar takut dan khawatir. Ia sudah mengetahui semua karena kemarin Sehun sudah menceritakan semua padanya secara jelas. Bahkan ia sudah mencabut capnya yang menyatakan Sehun adalah adik paling durhaka yang nyatanya Sehun adalah adik yang paling baik di dunia.

Sesampainya di rumah sakit Sehun langsung di bawa masuk ke ruang perawatan. Kai mondar-mandir kesana kemari. Ia sangat takut dan khawatir akan apa yang akan terjadi pada Sehun selanjutnya. Ia menggigit bibirnya takut-takut. Ia belum siap menerima kenyataan bahwa sahabatnya akan meninggalkan nya. Meninggalkan dunia. Dan meninggalkan kakaknya…

Seorang dokter yang kita ketahui bernama Kris Wu keluar dari ruangan itu. Tatapannya terlihat sedih

“Bagaimana keadaan sahabat saya Dr.Wu?” tanya Kai. Kris mendesah. “Kami sudah melakukan yang terbaik namun inilah saatnya. Maafkan kami” . “Mwo?”

“Sekali lagi kami minta maaf” kata Kris yang langsung menjauh. Kai tercengang. Ia menatap kosong punggung Kris yang makin mengecil. Ia sock dan masih tidak mengerti apa yang terjadi. Sedetik kemudian ia tersadar, Kai menatap tubuh tak bernyawa Sehun. Airmata Kai tumpah begitu saja mengabaikan kesan kerennya. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia menangisi sahabat bodohnya yang melalui jalan terburuk untuk menyanyangi kakaknya

“Tunggu, Kakaknya?

Luhan Hyung harus tahu semua ini!”

Kai berlari dari koridor rumah sakit tersebut mengabaikan tatapan aneh orang-orang. Mengabaikan setengah dari dirinya yang menyuruhnya berhenti karena janjinya untuk tidak memberitahu Luhan aas semua ini. Namun, menurutnya Luhan harus tahu. Luhan tidak boleh berdendam pada Sehun. Luhan hyung tidak boleh membenci Sehun seumur hidupnya. Itu tidak boleh terjadi.

Kai berlari ke rumah Sehun dan Luhan. Satu hal yang belum Sehun ceritakan pada Kai. Luhan pergi dari rumah itu. Sehun hanya bilang bahwa Luhan hanya menginap di rumah Baekhyun

Kai berlari secepatnya kerumah Sehun.Jika Luhan tidak ada ia berencana ke rumah Baekhyun karena jalurnya searah. Namun betapa terkejutnya Kai melihat Baekhyun dengan tatapan kosong menatap rumah Luhan.

Mereka sama-sama saling menatap

“Dimana Sehun?”-Baehyun. “Dimana Luhan Hyung?”-Kai

Dua pertannyan itu keluar bersamaan.

“Luhan Hyung….” –Baekhyun. “Sehun….” – Kai

Kembali kata-kata yang di katakan secara bersamaan. Baekhyun dan Kai menangis. Mereka sama-sama bingung dan menebak sebuah hal yang mereka harap sama sekali tidak pernah terjadi

“Apa Luhan hyung….” Kali ini Kai mengatakannya sendiri. Baekhyun mengangguk

“Lalu Sehun?…” tanya Baekhyun balik. Kai juga mengangguk

“Leukemia” lirih keduanya bersamaan.

Keduanya sama-sama membulatkan matanya tidak percaya. Jadi Sehun dan Luhan sama-sama mengidap leukemia? Tidak mungkin

————————–

Luhan Side of Story

.

Luhan mendesah berat. Ia duduk di taman rumah sakit. Ia menangis disana.

Luhan tersenyum miris melihat hasil cek laboratnya yang menyatakan kanker darah.

Ya, Luhan juga mengidap Kanker darah atau Leukemia. Ia menjambak rambutnya frustasi. Bahkan Sehun belum lulus sekolah. Ia belum menepati janjinya untuk hidup bahagia dengan Sehun. Ya, Sehunlah yang ia pikirkan sekarang. Ia menangis tanpa mau menerima kenyataan pahit yang benar-benar tidak mau berpihak padanya.

Apa yang harus ia katakan pada Sehun nantinya? Bagaimana reaksi Sehun mengetahuinya? Bagaimana reaksi Sehun bila melihatnya jatuh pingsan? Bagaimana reaksi Sehun bila…. Bila waktunya…. waktunya ia harus pergi…?

Luhan takut membayangkannya.

Ia tidak mengerti. Tidak cukupkah penderitaan Sehun yang harus tidak merasakan kasih sayang Ayah dan ibu mereka karena mereka meninggal di saat Sehun berusia satu tahun. Saat itu mereka langsung pindah ke Panti asuhan. Malangnya, panti asuhan terbakar saat usia Sehun 10 tahun. Dan kini? Apakah Sehun harus sangat bersedih mengetahui tentang kakaknya yang ternyata penyakitan seperti ini?

Luhan mendesah. Ia menangis frustasi. Ia tidak mengerti kenapa hal seperti ini terjadi pada dirinya dan Sehun…

Luhan berpikir… dan ia berpikir bahwa ketika Sehun membencinya. Maka ia tidak akan terlalu sedih bila waktu Luhan harus pergi.

——————————–

“Ck, lihatlah dirimu berandalan kotor! Tidak tahukah kau betapa aku menyesal membesarkanmu?” tanyaku pada Sehun yang tengah mengerjakan PRnya. Akhir-akhir ini bukan hanya aku yang menjauhinya. Ia juga. Mungkin karena penampilan baruku yang cupu

“Hey Cupu! Diamlah aku sedang belajar” katanya dingin. Meski aku terluka tapi…yeah, sehun… Mianhae… kau harus membenciku apapun yang terjadi! Itu harus dan wajib!

“kakak yang pabo!” katanya sinis. Ya, Sehun bencilah aku…

Aku sedang bekerja di sebuah kafe milik Xiumin temanku. Ya, ini salah satu pekerjaan sampinganku. Dan aku lihat Sehun dan Kai memesan makanan pada Baekhyun. Lalu Baekhyun menyuruhku mengantarkan pesanan kedua orang itu. Aku mendesah dan mengantarkannya ke meja Sehun.

“Aku tidak menyanyanginya. Aku bahkan menyesal di lahirkan sebagai adiknya. Dia memalukan” kata Sehun pedas. Aku terkejut mendengarnya. Rasanya sangat menyakitkan ia mentakan hal seperti itu. Tapi bukankah itu yang aku inginkan? Oh Ayolah Luhan sadarlah.

Aku mendekat kemudian membalas “Dan aku… menyesal kau lahir di dunia ini. Merepotkanku sebagai adikku. Bahkan makan dari hasil kerja kerasku” jawabku lebih tajam dan pedas. Aku menaruh pesanannya kemudian aku langsung berbalik pergi menyembunyikan air mataku ketika aku harus terpaksa mengatakan kalimat itu.

Maaf Sehun… ini untukmu

“Aku ingin membuat rekening baru atas nama adikku, Sehun. Dan aku ingin memindahkan semua uang di rekeningku ke rekening adikku” kataku pada teller Bank. Sang teller tersenyum dan mengiyakan permintaanku. Kemudian ia mengurus segala hal yang di perlukan. Aku hanya mendesah ketika teller itu pergi mengurus apa yang kuminta.

Ya, aku memberikan tabunganku pada Sehun. Tentu saja! Aku sudah tidak butuh uang. Sekalipun aku tahu ini cukup untuk kemoterapi, tapi sudahlah… aku tidak akan menghabiskannya untuk kepentinganku. Ini adalah masa depan Sehun

Aku tersenyum. Namun, hidungku mengeluarkan cairan merah kental. Aku terkejut dan takut. Aku mengelapnya dengan tanganku. Beruntung, alirannya tidak terlalu deras, jadi ia bisa menyembunyikannya.

Aku membereskan barang-barangku untuk dibawa pergi. Ya, aku harus pergi. Aku tidak bisa menahan cairan kental yang mungkin seenaknya keluar dari hidungku. Aku takut Sehun melihatnya dan tahu tentang penyakitku. Aku harus pergi dari rumah ini sesegera mungkin

“Kenapa kau kembali ke tempat ini?” tanyaku dingin.

 “Aku mengambil barang-barangku dan berniat pergi” balas Sehun. Sehun pergi? Ia tidak boleh pergi! ia harus tinggal disini! Akulah yang harus pergi! Usiaku bahkan di ujung tanduk!

 “Sehun-ssi, akulah yang akan pergi. Senang berkenalan denganmu Sehun-ssi. Jangan pernah mengingat namaku. Aku hanyalah angin lewat. Aku berjanji, aku tidak akan kembali lagi Sehun-ssi. Aku mintamaaf telah menjadi kakak yang gagal. Dan aku berterimakasih akan semua yang pernah kau berikan padaku sebelum kau berubah. Saatnya salah satu dari kita pergi. Anggaplah kita tidak pernah bertemu Sehun-ssi” kataku. Ayolah, aku sadar perkataan tadi teramat kejam. Maaf Sehun… maaf aku mengatakannya

Ya, Sehun senang bertemu denganmu. Senang berkesempatan menjadi orang yang beruntung mengenalmu. Aku yang penyakitan ini beruntung menjadi orang yang bisa melihatmu tersenyum. Aku yang hanya kakak yang gagal ini sangat beruntung pernah bisa membuatmu tersenyum. Tapi anggaplah aku hanya angin lewat. Aku bukan siapa-siapa Sehun-ah… aku adalah kakak yang gagal. Dan terimakasih Sehun… atas segalanya…. Terimakasih mengizinkanku menjadi kakakmu. Terimakasih telah menjadi bagian yang turut mengukir hidupku. Dan aku minta maaf tidak bisa mendampingimu lagi seperti janjiku… maaf kan aku Sehun-ah… aku menyayangimu

Aku Lihat ia hanya diam tanpa kata. Aku tidak bisa mengenali eskpresinya. Sehun hanya diam. Sedangkan aku? Aku sudah tidak tahan menangis. Bagaimana aku sanggup mengatakannya? Aku sudah memutuskan semua hubungan keluarga diantara kami. Aku bahkan memanggilnya dengan embel-embel ssi

Maaf Sehunnie, aku adalah kakak yang paling buruk di dunia! Ya, inilah aku…

—————————–

Aku bermalam di rumah Baekhyun sahabatku. Aku sudah menceritakan semua padanya. Tentang Sehun… tentang kenapa aku melakukan semua ini. Tentang penyakit gila yang terkutukku. Dan semuanya. Ia mengizinkanku untuk tinggal dirumahnya.

Beruntung aku punya sahabat seperti Baekhyun.

Malam yang cukup gerah.  Aku merasa haus dan pegi ke dapur baekhyun dan mengambil air

Tiba-tiba terasa nyeri berat di kepalaku. Juga darah segar yang mengalir di hidungku dengan derasnya. Selain itu aku juga muntah darah. Apa yang terjadi? Jangan-jangan! Oh Tidak! Apa harus sekarang semua ini terjadi? Ini tidak boleh terjadi!

Kepalaku makin terasa sakit aku berrusaha berpegangan tembok agar kakiku yang melemas masih bisa menopang tubuh kurusku. Namun apa daya? Tubuhku sungguh sudah ambruk

Ini mungkin memang saatnya

Baekhyunnie, Xiumin-ah Gomawo untuk segalanya

Sehun-ah… Hiduplah dengan baik ne? Jangan pernah menyerah. Maaf Hyung tidak bisa selalu ada untukmu… Maaf hyung tidak bisa lagi menemani sisa hidupmu… Jalanilah segalanya dengan baik Sehun-ah… dari sini, aku akan selalu melindungimu… aku menyanyangimu Sehun-ah.. betapa menyesalnya aku tidak bisa melihat kesuksesan yang kita impikan… betapa menyesalnya aku tidak bisa melihatmu tumbuh dan menjadi lebih dewasa… betapa menyesalnya aku tidak bisa melihatmu mendapat surat kelulusanmu… betapa menyesalnya aku tidak dapat melihat lagi senyummu…Terimakasih Sehun… Dan Selamat Tinggal… Aku selalu menyayangimu

Hyungmu yang gagal, Luhan

————————

Baekhyun dan Kai bertatapan dengan ekspresi Shock. Jadi apa artinya ini? Sehun dan Luhan… mereka sama-sama sudah pergi dalam waktu yang sama?

Mereka berdua menatap makam Sehun dan Luhan yang bersebelahan dengan ekspresi takjub yang sendu. Ya, keduanya sudah pergi. Pergi dengan tanpa saling mengetahui satu sama lain bila mereka saling menyayangi.

Waktu yang sama. Tahun yang sama. Bulan yang sama. Hari yang sama. Jam yang sama. Menit yang sama. Detik yang sama. Perasaan yang sama. Cara yang sama. Sebab yang sama. Mereka sama-sama pergi meninggalkan dunia ini. Mereka menghembuskan nafas terakhir mereka

Pada jam 20.12.04 (Jam 20 menit ke 12 detik ke 04)

Mirip seperti tanggal lahir mereka 20-04 untuk Luhan, dan 12-04 untuk Sehun jadilah 20.12.04

“Kai, bukankah mereka kakak beradik yang sangat bodoh?” tanya Baekhyun dalam isakkannya. “Mereka hanyalah dua orang saudara yang saling menyanyangi, saling melindungi, dengan cara yang mereka pilih… Cara yang paling buruk” jawab Kai. Baekhyun hanya tersenyum tipis. Ia sudah kehilangan sahabatnya, Kakak yang paling hebat di dunia. Begitupun Kai, ia kehilangan sahabatnya yang merupakan adik yang paling keren sepanjang masa.

“Semoga mereka bahagia bersama di surga”

END

A-Yo!

Brothership again?!

Angst Again?!

HunHan Again?!

Hahahahaha, They’re the best EXO’s OTP for me, I Love HunHan ❤

My FB TL is full about new HunHan’s moment! Ugh! Really! I cant explain how much happy me /bahasa kacau/ sok inggris/ sekarang bingung/

Okay, Last~ After “Read”, Click “Like” Then text “Review” @ Student Chat

Best, Jung Seomi ~

Iklan

12 pemikiran pada “Time : 20.12.04

  1. baca ff ini air mataku ngga bisa berhenti keluar, sumpah ini ff menyentuh hati banget thor
    gak sia” dateng ke blog ini pokoknya 4 jempol buat autor nya
    annyeong aku baru mampir di blog ini 🙂

    Suka

  2. FF nye keren abis thor…. gue suka sama ff buatan lu….. gue suka sama cerita yg lu buat…. baru kali ini gue suka baca ff sambil ngeluarin air mata.

    Good Job author (y)

    Suka

  3. Bagus, tapi yahh? Kenapa sad ending,, ga pa pa deh…
    Bikin lagi ya thor, tapi yang happy ending, heheheh, ditunggu cerita selanjutnya 🙂

    Suka

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s