Beauty And The Beast [Little Boy -1]

beautyandthebeast

Beauty And The Beast

Jung Seomi Presents

Oh Sehun EXO | Kim Jiyeong OC | Kim Jongin EXO

Romance, Fantasy, Sad

©The owner of This Fanfic is Jung Seomi. The cast owned by their parents

Warn! Typo! Title with the story is different!

———

Little Boy – Chapter 1

———

 

Suara dentingan harpa yang di petik terdengar begitu indah dan menenangkan. Menghanyutkan siapapun yang mendengarnya, suara nyaman yang berdenting lembut ketika mengenai gendang telinga. Seorang malaikat cantik duduk di pinggir sungai sembari menarikan jarinya pada harpa emas yang berada dipangkuannya.

Gadis itu tersenyum lembut ketika seorang malaikat lain mendatanginya. Seorang malaikat bersayap hitam. Dan biar kuberitahu, malaikat bersayap hitam bukanlah malaikat yang jahat. Namun mereka hanya terkesan menakutkan karena kondisi fisik mereka. Namun wajah mereka tetap tidak berbohong. Mereka tetaplah indah, sebut saja malaikat bersayap hitam itu Kim Jongin, ia memiliki nama, dan itulah namanya.

“Kau memainkan harpa lagi, Kim Jiyeong?” tanya malaikat bersayap hitam tadi. Gadis itupun tersenyum. Ia melebarkan kedua sayapnya bersama dengan Jongin. Keduanya terbang meninggalkan tempat itu dan kembali ke langit.

Oh Sehun keluar dari tempatnya bersembunyi tadi. Aura gelap dan hitam langsung terpancar ketika dia melewati sungai tersebut. Bahkan rumput yang di injaknya menjadi layu. Sepasang mata merah menyalanya begitu terang di sekitar aura gelap yang berada di sekitarnya.

————–

Kim Jiyeong – Nama malaikat cantik yang sedang menaburkan bubuk berwarna emas pada taman bunga dandelion. Ketika bubuk emas itu mengenai  tanaman yang belum berbunga itu, bunga-bunga dandelion yang indah tumbuh dengan cepat pada saat itu juga, langsung terbentuk kuncup dan kemudian mekar dan semakin mekar menjadi bunga dandelion yang lembut dan cantik. Ia tersenyum melihat bunga-bunganya yang begitu indah tumbuh dengan cantiknya.

Namun beberapa saat kemudian, munculah sebuah aura gelap. Burung-burung berterbangan tanpa arah meninggalkan taman bunga. Bunga dandelion yang baru saja tumbuh menjadi layu kering. Jiyeong tahu bahwa ada iblis yang mendekat. Iblis dengan aura yang sangat kuat. Dan Jiyeong yakin iblis itu pun memiliki kekuatan yang sangat kuat. Jiyeong pun membuka sayapnya. Ingin lari, namun tubuhnya terasa melemas tiba-tiba. Kekuatannya untuk berdiri bahkan terasa tersedot habis. Ia merasakan nyeri di sekujur tubuhnya. Aura hitam itu semakin mendekat. Dunia yang awalnya cerah berubah menjadi sangat gelap. Seolah mentari di atas langit telah tertelan oleh kegelapan.

Bulu kuduk Jiyeong berdiri ketika melihat siluet tubuh seseorang yang mendekat. Meskipun samar, ia tahu orang yang mendekatinya adalah seorang pria. Dan tubuh itu semakin mendekat. Jiyeong merasakan jantungnya berdebaran kencang karena takut. Tubuhnya membeku seketika. Orang itu terus mendekatinya. Jarak yang terpaut mungkin hanya tersisa dua meter.

Jarak diantara mereka semakin tereliminasi. Dan akhirnya, Jiyeong bisa melihat dengan jelas wajah orang yang mendekatinya tersebut. Jiyeong merasakan nafasnya hampir berhenti dan tenggorokkannya tercekat. Seorang laki-laki berdiri di hadapannya. Tubuhnya tinggi dan memancarkan kegelapan. Namun kulit orang tersebut justru terlihat sangat pucat, berbeda dengan aura yang di pancarkan olehnya.

Katakan Jiyeong gila! Ia bahkan tidak berkutik ketika pria mengerikan dan misterius itu menempelkan bibirnya pada miliknya. Bahkan kini mereka beradu akan lumatan-lumatan halus hingga berubah menjadi sedikit menuntut. Pria itu menekan tengkuk Jiyeong yang semakin melemas. Ia tidak bisa melakukan apapun bahkan untuk melawan. Tubuhnya benar-benar di luar navigasinya. Ia tidak tahu apa yang terjadi  selanjutnya, pandangannya buram dan akhirnya ia tidak sadarkan diri

———

Jiyeong membuka matanya. Kepalanya terasa sangat pening dan tubuhnya sangat sakit. Tulang belakangnya ngilu dan pandangannya sedikit mengabur. Ia berusaha bangkit dari posisi berbaringnya. Mencoba mengenali tempat dimana dirinya sekarang berada.

Namun sial, ia sama sekali tidak mengenal dimana dirinya sekarang. Hanya sebuah gua sunyi yang ia tidak pernah ketahui sebelumnya. Ia mencoba bangkit dari duduk dan berjalan pelan keluar dari gua tersebut. Di  depan gua, ia menemukan sebuah sungai kecil yang airnya jernih. Mengingat tentang sungai, ia merindukan harpanya tiba-tiba, ia biasa memainkan harpa di pinggir sungai. Dan ia merindukan malaikat bersayap hitam, Kim Jongin.

Kim Jongin, malaikat yang selalu melindungi dan menjaganya, ia mencintai Kim Jongin. Namun bicara tentang cinta, ia ingat semalam ia di cium secara paksa oleh seseorang yang tidak ia kenal, namun ia sangat yakin, makhluk itu adalah iblis jahat.

Ia kembali menangis mengingat kejadian semalam. Bahkan ia belum berciuman dengan Jongin sebelumnya. Ia bukan malaikat yang suci lagi sekarang. Ia menatap bayang dirinya di air sungai. Ia merasa menjadi malaikat yang menjijikan. Ia sudah berciuman. Berciuman dengan siapa yang bahkan ia sendiri tidak tahu.

“Noona?” suara anak kecil membuatnya menoleh kesamping. Ia menemukan anak kecil yang sangat manis sedang berdiri di sampingnya sembari membawa sekeranjang buah apel. Anak itu kemungkinan berusia sepuluh tahun.

Jiyeong mengusap airmatanya kasar. “N-ne? Bagaimana kau bisa berada disini? Adik manis? Apa disini ada orang lain? Noona kebingungan disini…” Tanya Jiyeong. Bocah berusia sepuluh tahun itu justru menekuk wajahnya dan melipat bibir bawahnya. Jiyeong mengerutkan dahinya. “Kenapa?”

“Aku namja, Noona. Kau tega sekali memanggilku ‘manis’ aku kan sangat ‘tampan’” Jawab anak kecil itu dengan nada kesal. Entah bagaimana, ekspresi itu membuat Jiyeong tertawa. Ia tertawa renyah. Dan diam-diam, anak laki-laki di sampingnya tersenyum tipis melihat Jiyeong tertawa.

“Baiklah, kau tampan….” ucap Jiyeong mencubit pipi anak tadi gemas.

“Sakit, noona…” ucapnya anak tadi sembari memajukan bibirnya. Jiyeong kembali tertawa melihat betapa imutnya anak di hadapannya.

“Ah, kau tahu dimana noona bisa bertemu dengan warga desa?” tanya Jiyeong. Anak kecil tadi mengangguk dengan antusias. Ia menarik tangan Jiyeong dengan tangan kecilnya dengan penuh semangat. Jiyeong hanya pasrah ketika sang anak menarik tangannya entah kemana.

Hingga sampailah mereka di sebuah desa kecil di pinggir hutan. Anak tadi mengajak Jiyeong masuk kedalam sebuah gubuk kecil dan menyuruh Jiyeong duduk.

“Noona, aku tidak punya orang tua, aku tinggal sendiri. Penduduk desa selalu mengasihaniku. Dan dengan belas kasihan mereka aku tumbuh. Noona tinggalah bersamaku” ucap anak tadi. Jiyeong sendiri bingung mau menjawab apa. Bagaimanapun, dirinya masih malaikat. Ia masih memiliki sepasang sayap yang kasat mata oleh manusia biasa.

“Tapi…”

“Kumohon Noona” ucap anak tadi semakin memelas. Mata harapnya berbinar meminta agar Jiyeong mau tinggal bersamanya. Jiyeong tertegun. Ia merasa terperangkap dalam sebuah jerat ketika menatap kedua mata anak kecil tersebut. Ia tidak tahu apa yang terjadi. Tapi kepalanya secara refleks mengangguk begitu saja.

Kemudian anak tadi tersenyum riang. Ia memeluk Jiyeong dengan senang dan erat. “Terimakasih noona” ucap anak tadi. Jiyeong pun membalas pelukan anak tadi dengan mengelus surai hitam anak itu. Dan Jiyeong baru sadar, mereka belum saling mengetahui nama.

“Hei, bolehkah noona tahu namamu?” tanya Jiyeong melonggarkan sedikit pelukan mereka. Anak tadi mengangguk.

“Namaku Oh Sehun” ucap anak itu sembari tersenyum lebar. “Kalau noona?”

“Namaku Kim Jiyeong”

“Nama yang cantik!” ucap Sehun dengan polosnya. Jiyeong tertawa mendengar ucapan Sehun. Ia mengacak surai Sehun penuh kasih sayang.

——–

Jiyeong terbangun dari tidurnya, ketika merasakan pagi telah datang berkunjung. Ia mengamati makhluk kecil yang terlelap di sampingnya, Oh Sehun. Jiyeong akui, anak kecil ini sangatlah tampan. Tidur nya terlihat sangat nyenyak. Tanpa sadar, Jiyeong mengulum senyum manisnya. Ia mengelus surai hitam Sehun dengan lembut, kemudian meninggalkan tempat tidur tua itu dan keluar. Udara sejuk pagi hari langsung menyambutnya dengan baik.

Ia menatap langit. Sedikit menyesal ia menerima permintaan Sehun untuk tetap tinggal. Bagaimanapun, ia masih bertanggung jawab dengan langit. Tapi mengingat tatapan Sehun, ia akhirnya membatalkan niatannya untuk menyesal menerima permintaan Sehun.

Iapun masuk dan memasak makanan dari persediaan makanan yang Sehun punya. Ia menanak nasi dan membuat sup.

Sehun bangun ketika mencium bau harum dari bagian belakang gubug kecilnya. Ia melihat noona cantiknya sedang memasak. Ia tersenyum.

“Noona, kau memasak?”

“Eum. Kemarilah!”

Sehun pun mendekati noonanya dan duduk di sebelahnya. Jiyeong mengambil sendok dan menaruh sup di sendok tersebut dan mengarahkan pada bibir Sehun. Sehun langsung menutup bibirnya. Memalukan sekali Jiyeong menyuapinya. Ia menggeleng sembari menutup mulutnya.

“Ayolah, Sehunnie…” ucap Jiyeong. Sehun tertegun atas panggilan dari sang noona Sehunnie. Ia pun akhirnya menyerah dan membuka mulutnya, membiarkan jiyeong menyuapkan makanan kepada Sehun. Rasa makanan yang paling sempurna, menurut Sehun.

“Terimakasih, Noona”

“Tidak masalah!”

————

Pukul sepuluh malam Sehun bangkit dari tidurnya. Ia menatap Jiyeong yang tertidur di sampingnya. Ia mendesah kecil. Tangan kecilnya menyingkirkan poni yang menutup wajah Jiyeong, lalu tersenyum melihat ekspresi tenang Jiyeong saat tertidur. Kemudian, Ia segera meninggalkan tempat tidurnya dan pergi keluar rumah. Ia berlari meninggalkan rumahnya sejauh mungkin. Hingga sampailah ia di tengah hutan.

 Tubuhnya berubah, ia membesar. Seolah ia tumbuh dengan sangat cepat. Ia berubah menjadi sosok pemuda berusia delapan belas tahun dan aura hitam menguar kuat keluar dari tubuhnya. Matanya berubah menjadi merah dan rambutnya terbagi menjadi dua warna, hitam di bagian bawah, putih di bagian atas.

Tidak lama kemudian, datanglah aura lain penuh kemarahan masuk ke tengah hutan tersebut. Seorang malaikat bersayap hitam datang dan langsung menyerang Sehun dengan api yang sangat besar. Namun Sehun memusnahkan api itu dengan segera.

Malaikat itu menatap Sehun penuh amarah. Ia mendekat dan menyerang Sehun bertubi-tubi, namun Sehun selalu dapat menghindar dengan sangat mudah. Malaikat itu semakin marah.

“Katakan padaku dimana Kim Jiyeong! Iblis jahat!” ucap malaikat tersebut dengan marah.

Calm Down, Kim Jongin,” ucap Sehun santai. Jongin masih menyerangnya dengan api marah bertubi-tubi tak jarang ia melemparkan listrik, air, tanah atau elemen-elemen lain untuk kemarahannya.

“Oh Sehun! Katakan! Dimana kau sembunyikan Kim Jiyeong?!” Jongin menyambarkan petir pada Sehun. Namun Sehun dengan mudahnya membaliknya kepada Jongin. Sehun terlalu kuat!

“Whoaaa… kau benar-benar marah ya? Jiyeong mutlak milikku! Kami sudah berciuman!” ucapan Sehun dengan nada mengejek. Seketika, kedua mata Jongin membulat. Amarahnya sudah berada di puncak kepalanya sekarang.

“APA? Kau mengotorinya! Dia adalah malaikat suci! Kenapa kau mencemarinya! Dia juga tidak mencintaimu! Dia harusnya berciuman dengan orang yang dicintainya… bukan dengan kau!” ucap Jongin, malaikat itu semakin marah dan matanya sudah memancarkan kebencian yang paling dalam. Sehun hanya tersenyum meremehkan. Ia tidak peduli. Asalkan ia bisa bahagia bersama Jiyeong.

Jongin masih menyerangnya dengan kondisi marah. Dan Sehun sangat mudah mengalahkan Jongin. Karena kekuatan seorang malaikat akan lemah jika di padukan dengan kemarahan. Itu sebabnya, Sehun sama sekali tidak takut.

Ia menghentikan pergerakan Jongin dengan cara menggunakan mind power. Kemudian, ia melempar petir kepada Jongin dan malaikat bersayap hitam itu pun tak lagi sadarkan diri. Sehun pun kembali ke wujud anak-anaknya. Matanya kembali menjadi orbs hitam yang cerah. Ia kemudian berlari kembali ke rumah gubugnya dan tertidur bersama Jiyeong. Ia tersenyum puas.

———-

Pagi ini, Jiyeong bangun dan tidak menemukan Sehun di sampingnya. Kedua matanya langsung membulat sementara nyawanya berlum seratus persen terkumpul. Ia pun membawa tubuhnya langsung berlari keluar dari gubuk kecil Sehun. Ia mencari Sehun dan menanyakan kepada penduduk desa. Namun tidak ada satupun yang tahu. Pikirannya kembali menuju goa  tempat dia dan Sehun pertama kali bertemu.

Ia pun berlari menuju goa tersebut. Dan ia melihat Sehun melamun disana sembari bermain dengan air.

“Sehunnie? Kau kenapa disitu?” tanya Jiyeong. Ia duduk disamping Sehun.

“Noona? Bagaimana Noona bisa tahu aku disini?”

“Kau ini! Aku mencari mu kemana-mana dan kau hanya berkata ‘bagaimana noona bisa tahu aku disini’ huh?” tanya Jiyeong sembari menjitak dahi Sehun. Sehun hanya meringis dan mengelus dahi yang menjadi bahan jitakan Jiyeong.

Mereka memainkan air sungai dengan ranting pohon. Tidak ada yang berbicara disana. Entah mengapa, mereka nyaman dengan keadaan diam itu.

Sehun secara tiba-tiba menaruh kepalanya di paha Jiyeong. Membuat kedua mata Jiyeong membulat. Tiba-tiba perasaan aneh menggerayanginya. Jantungnya berdebar dan darahnya berdesir kuat ketika melihat wajah Sehun yang tenang. Anak sepuluh tahun itu memejam kan kedua matanya erat dan menyamankan posisinya di paha Jiyeong. Jiyeong sendiri gelagapan dengan isi perasaannya. Rasanya ia seolah berhenti bernafas. Ada rasa aneh yang entah darimana datang bersemi di dalam hatinya.

“Noona? Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Sehun dengan mata masih tertutup.

“Apa? Siapa yang menatapmu? Pabbo” jawab Jiyeong kelabakan. Ia terkejut Sehun mengetahui dirinya sedang mengamati anak berusia sepuluh tahun itu. Sehun membuka matanya dan tersenyum manis. Jiyeong semakin merasa slow motion ketika menatap Senyuman Sehun. “Kajja, kita pulang” ucap Sehun. Dia menggandeng tangan Jiyeong dan membawanya kembali ke gubuk mereka.

Jiyeong diam selama perjalanan. Ia terus merasa aneh pada tangannya yang di genggam erat oleh tangan kecil Sehun. Hampir mirip dengan perasaannya jika Jongin melakukan hal yang sama. Namun gilanya, kali ini seorang anak kecil yang melakukannya. Katakan Jiyeong masih waras! Ia tidak mungkin jatuh cinta kepada anak sepuluh tahun kan? Ia bukan pedophile.

Namun reaksi jantungnya yang berdebar-debar membuatnya tidak yakin otaknya masih lurus. Entah mengapa tiba-tiba ia merasa pernah melihat wajah Sehun sebelumnya. Tapi berbeda, Sehun sedikit berbeda. Sayangnya, ia benar-benar tidak ingat.

Ia menatap tangan kecil Sehun yang masih menggengam tangan kanannya. Otaknya blank seketika. Pikirannya melayang-layang entah kemana.

“noona, kita sudah sampai” ucap Sehun. Nyawa Jiyeong kembali ke tubuhnya. Ia menatap Sehun bingung

“Ne?”

“Kita sudah sampai, noona cantik” ucap Sehun tanpa dosa. Jiyeong sendiri bertambah bingung dengan dirinya sendiri iapun mengikuti Sehun masuk kedalam gubuk kecil itu. Sehun langsung merebahkan dirinya di ranjang.

“Sehunna, malam ini, noona ingin tidur sendiri saja. Kau keberatan?” tanya Jiyeong.

“Eh? Kenapa noona?” tanya Sehun bingung. Jiyeong menggeleng, karena dia sendiri tidak tahu juga alasan pastinya.

“Ah, baiklah, kalau itu mau noona” ucap Sehun. Ia pun menggelar tikar di bawah dan tidur disana. Jiyeong ingin menggantikan Sehun namun dia sadar tidak bisa tidur di bawah. lagipula kelihatannya, Sehun sudah tertidur pulas.

Iapun akhirnya juga ikut berbaring di ranjang tua milik Sehun. Namun sayang nya pikirannya terus mengarah kepada Sehun dan Sehun. Apa yang terjadi antara dirinya dengan Sehun? Kenapa ia bisa merasakan perasaan yang sama antara Jongin dan Sehun? Apa mungkin dirinya sudah tidak waras lagi? Apa yang terjadi dengan dirinya? Ia berusaha menepis betapa gila dirinya.

Ia menatap Sehun yang masih tertidur pulas. Tidur Sehun terlihat sangat nyenyak. Ia menatap bocah berusia sepuluh tahun itu. Wajahnya, hidung mancungnya, bibir tipisnya, mata elangnya yang terpejam, semuanya terlihat sempurna tanpa cacat. Ia bisa gila! Bagaimana dirinya bisa terjebak pada perasaan seperti ini? Tuhan… jangan hukum dia.

Ia pun berusaha tertidur dengan bayang-bayang senyuman anak sepuluh tahun itu terus melayang di kepalanya. Entah mengapa, ia merasakannya lagi, ia merasa ia pernah bertemu dengan Sehun sebelumnya. Namun ia tidak tahu kapan dan dimana.

Ia pun memejam kan matanya. Meski ia tidak tidur. Entah hanya perasaannya atau bukan, ia merasa bahwa Sehun pergi keluar rumah. Ia pun membuka matanya dan melihat Sehun sudah tidak ada di tempat tidurnya. Kemana Sehun pergi?

Jiyeong panik dan langsung bangkit dari tempat tidurnya. Ia meraih jaket hangat dan pergi keluar. Ia tidak menemukan Sehun dimanapun. Akhirnya, ia membuka sayapnya untuk mencari Sehun dengan terbang. Ia mengepakkan sayap putihnya dan terbang diatas hutan.

Sehun berdiri di tengah hutan. Anak itu baru mengeluarkan sedikit aura gelapnya namun burung-burung dan makhluk hutan sudah menjauhinya. Sehun memejamkan matanya dan mulai merasakan kemunculan aura malaikat di sekitarnya. Ia pun berpikir bahwa itu adalah Kai, dan kemungkinan besar memang Kai.

Tubuhnya pun membesar dan menjadi pemuda delapan belas tahun seperti biasanya, matanya berubah menjadi merah dan menyala. Ia pun tersenyum ganjil menyadari aura malaikat bersembunyi di balik semak-semak. Dan menggunakan elemen angin, ia menerbangkan semak-semaknya dengan kuat.

Dan saat semak itu terbang, Sehun bisa melihat sosok malaikat itu dengan seutuhnya.

Ia tercengang. Kedua matanya membulat sempurna. Orang yang awalnya duduk itu berdiri dan menatap Sehun penuh kebencian. Pipinya basah karena airmata, orang itu mengalihkan tatapannya dari Sehun

“Noon-na?”

TBC

A-llo! Im back with a Fantasy FanFic! I think it will be just an threeshot or 4 chap, Idnt kwow either.

Hahahah, its very Bad FanFic right?

Is someone courious about the next chap? Please Wait!

-Jung Seomi Dian R-

Iklan

25 pemikiran pada “Beauty And The Beast [Little Boy -1]

  1. Hugaaa,,,,,, Sehun bisa manipulasi tubuh sama usia ya xD hahaha,,, ttp aja kerasa sama Jiyoung nya beda,,, tetep sebagai seorang lelaki dewasa hehehe… Yahh,, ketauan dehhh,,, apa Jiyoung bakal marah sama Sehun??

    Suka

  2. Jadi ini cinta terlarang? Malaikat dan iblis jatuh cinta? Wow, penasaran sma ini ff. Pembawaanx juga ringan jadi mudah d pahami 😌😌 good ff kak

    Suka

  3. Castnya pas banget Sehun jadi iblis, dia lebih cocok jadi itu. Tapi Jiyeong tau kalo Sehun ngebohongin Jiyeong jadi anak kecil, apa dia bakalan tetep tinggal sama Sehun? Atau balik lagi kelangit?

    Suka

  4. Ping balik: Beauty And The Beast 2 | Gallery of EXO School

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s