Our Love Story in Seoul High School (Chapter 7)

Gambar

Tittle            : Our Love Story in Seoul High School  (Chapter 7)

Author         : Choi_Inji (Khaerisma)

Length         : Chaptered

Genre          : romance, school life, family, sad (gagal), humor (maybe), gaje (banget)

Rating          : General

Main cast    :

–          Choi Inji                       (OC)

–          Kim Hyo Na                (OC)

–          Nam Jiyoung              (OC)

–          Choi Junghee              (OC)

–          Hwang Ahra                (OC)

–          Park Minjung               (OC)

–          Byun Baekhyun          (Exo K)

–          Lee Byung Hun           (Teen Top)

–          Lee Jinki                      (SHINee)

–          Lee Chunji                   (Teen top)

–          Park Chanyeol            (Exo K)

–          Xi Luhan                      (Exo M)

Others cast : find it by your self

List   : Chapter ( 1 l 2 l 3 l 4 l 5 | 6 )

Hai Chingudeul J, aku balik lagi..

Masih seperti biasa, disini aku gak ngasih side-side.an ya… biar kalian nebak sendiri si ini di-couple.in ama siapa. Ingat ya, ada 6 Couple. Ok J .Gomawo ^^

Warning       : Typo banyak dan berserakan dimana-mana.

“DON’T PLAGIAT and DON’T BASH okJ”

~Happy Reading~

 

“mmm.. sulit untuk meminta maaf dengan perempuan seperti itu. walaupun dia pintar, baik hati dan pandai bergaul, tapi tetap saja, dia keras kepala.” Ucap jinki.

“kau tau sekali tentangnya.” Ucap baekhyun curiga.

Chapter 7

“wae? Memang salah jika aku tau secara detail tentang orang yang aku sukai?” tanya jinki. Baekhyun membelalakkan matanya.

“MWO? KAU MENYUKAINYA?” ucap baekhyun sedikit teriak. Jinki mengangguk dengan tersenyum.

“wae?” tanya jinki santai.

“ANDWAE!! KAU TAK BOLEH MENYUKAINYA! DIA..” ucap baekhyun tanpa sadar, sedetik kemudian ia tersadar. Dengan segera dia menutup mulutnya.

“BWAHAHAHAHA..” tawa jinki meledak.

“hahahaha.. baekhyun, hahahaha… kau.. hahaha..”

“ehmm.. ehmm.. ne, benarkan kau menyukainya?” tanya jinki dengan smirknya. Baekhyun segera memalingkan wajahnya.

“tenang saja, aku tak menyukainya!” ucap jinki santai. Baekhyun kembali menoleh.

“apa maksudmu?” tanya baekhyun bingung.

“aku tak menyukainya. Aku hanya berteman baik dengannya. Tentunya tanpa sepengetahuanmu.” Ucap jinki jujur.

“teman baik? Jadi selama ini kau berteman dengannya?” tanya baekhyun. Jinki mengangguk.

“lalu kenapa kau tak bilang padaku? Bukankah dia membencimu dan juga L.Joe?” tanya baekhyun.

“memangnya perlu memberitahumu siapa saja temanku? Dia hanya membencimu. Sejujurnya dia tidak membenciku, hanya saja dia merasa aku sedikit menyebalkan karena berteman denganmu dan suka menjaili temannya.” Ucap jinki panjang lebar. Baekhyun pun hanya mengangguk-angguk ria.

“hah… dia membencimu, kau membencinya. Eee.. tunggu dulu. Bukankah kau bilang kalau kau membencinya 2 tahun lalu? Ow ya.. atau mungkin sekarang kau tak membencinya? Mengaku sajalah baekhyun! Kau tak membencinya lagi kan? kau menyukainya kan?” goda jinki.

“mwo? siapa bilang aku tak membecinya? Menyukainya? Enak saja. Aku..” baekhyun bingung harus menjawabnya.

“ya, ya, ya. Kau menyukainya. Aku tahu itu. sudalah kajja.” Ucap jinki sambil melangkah pergi.

“hey, aku tak bilang begitu.” teriak baekhyun yang kemudian mengejar jinki.

~~~

Sore Hari

Taman

“ya, kenapa kau tak mengerti-mengerti? Sudah lima kali aku mengajarimu dan memberi contoh padamu tapi kenapa kau masih belum mengerti?” tanya jung hee kesal. Chunji terkekeh.

“mian chagi. Aku masih bingung. Jelaskan sekali lagi ne.” Mohon chunji.

“aish, sekali lagi ne. Jika kau masih tak mengerti, aku akan pulang.” Ucap jung hee.

“ne, hwanung merupakan anak putra dari tuh…”

“annyeong jung hee, annyeong chunji sunbae.” Sapa seorang yeoja berambut panjang terurai dan berwarna pirang. Jung hee dan chunji menoleh, lalu sedetik kemudian mereka mengembangkan senyumnya.

“annyeong minjung. Apa yang kau lakukan disini?” tanya jung hee.

“aku sedang jalan dengan Mapo, anjingku. Kasian, sudah seminggu ini tak kubawa keluar rumah. Oh, ne, kau? Sedang apa kau  dan chunji sunbae disini?” tanya minjung.

“hah, beginilah minjung. Jika punya namjachingu babo seperti dia. Sudah terlambat masuk sekolah, dapat hukuman banyak dan sulit, dia masih tak faham lagi dengan soalnya. Padahal aku sudah menjelaskan padanya 5 kali min-ii.” Ucap jung hee. Chunji menatap jung hee tajam, jung hee pun membalas. Minjung terkekeh geli.

“kau tak boleh begitu jung hee. Sebagai yeojachingu yang baik, kau harus berada di sisinya dalam suka maupun duka. Contohnya, membantunya mengerjakan tugas.” Ucap minjung. Chunji tersenyum bangga sedangkan jung hee menatapnya kesal.

“ne, minjung benar. Seharusnya kau menjadi..”

HUKK HUKK

Suara anjing menggonggong. Ya, itu suara Mapo yang melarikan diri. Minjung tak sadar bahwa ia tak sengaja melepas tali dari tangannya. Minjung akhirnya sadar.

“MAPO.. MAPO… JANGAN LARI” teriak minjung.

“junghee-ya, chunji sunbae.. aku pergi dulu ne. Annyeong.” Ucap minjung dan berlari mengejr Mapo.

“sahabatmu itu aneh.” Ejek chunji.

“ya, begitulah dia. Aneh. Sampai mana tadi?” tanya jung hee. Chunji menggelengkan kepalanya.

“haish.. GOD GIVE ME A PATIENT!!“ teriak Jung hee. Sedangkan chunji terkekeh.

~~~~

“MAPO… hosh..hosh..MAPO…” ucap minjung kelelahan.

HUKK HUKK

“mapo?” ucap minjung sambil celingak-celinguk.

“MAPO? DIMANA KAU?” teriak minjung.

“igo. Apa ini anjingmu?” tanya seorang namja bertubuh tinggi, berparas tampan dengan rambut hitam yang pekat.

“aaa..ee… aa.. ii…iiya.. gamsahamnida.” ucap minjung terbata-bata. Namja itu tersenyum.

DEG DEG DEG

“igo. Hati-hati. Untung saja penemunya mengembalikannya padamu, jika tidak, kau akan kehilangannya. Anjingmu lucu. Sama seperti yang punya. Annyeong Mapo, annyeong pemilik Mapo.” Ucap namja itu sambil melangkah pergi meninggalkan minjung yang masih terbengong.

“aigoo.. dia tampan sekali. Eh, aku lupa tanya namanya. Aish, minjung babo. Hah, sudahlah.” Ucap minjung pasrah.

“eh, dia bilang apa? Anjing ini lucu, seperti yang punya? AAAAA… aku lucu?” teriak minjung histeris.

“tapi, tunggu. Kenapa dia tau kalau anjing ini bernama Mapo?” tanya minjung pada dirinya sendiri. Minjung pun menoleh pada Mapo. Minjung menepuk jidatnya.

“aish, kenapa aku lupa? Aku kan menempelkan kalung yang bertuliskan Mapo di leher Mapo. Aish, jeongmal Minjung babo.” Ucap minjung merutuki dirinya sendiri.

“hah.. semoga aku bisa melihatnya lagi. Ya, aku harap.”

HUK HUK

Minjung menoleh ke arah Mapo. Minjung tersenyum pada Mapo, kemudian ia berjongkok dan mengelus-elus bulu Mapo dengan gemas.

“gomawo ne? Karena kau kabur, kau jadi mempertemukanku dengan namja tampan seperti dia. Ehehe. Besok kau kabur lagi ne? Dan temukan namja tampan itu.”

-.-.-.-.-.-

Sekolah

Kelas X A

Minjung masih tersenyum-senyum gaje memikirkan namja kemarin sore. Jung hee bergidik ngeri karena melihatnya.

“kau ini kenapa min-ii?” tanya jung hee.

“ah? Mwo? aku?” tanya minjung yang tersadar dari lamunannya. Jung hee mengangguk.

“aaa.. itu. aku sedang memikirkan namja tampan yang menemukan Mapo.” Ucap minjung sedikit malu.

“namja tampan? Menemukan Mapo?” tanya jung hee kebingungan. Minjung mengangguk.

“kemarin sore yang menemukan Mapo, seorang namja tampan dan tinggi. Dia juga baik dan ramah.” Ucap minjung masih dengan tersenyum-senyum.

“oo.. jadi temanku ini sedang jatuh cinta?” tanya jung hee menggoda. Minjung mengangguk malu.

“ahahahaha. Arraseo. Semoga kau berjodoh dengan pangeranmu itu.” ucap jung hee.

TETT…

Kang seongseonim memasuki kelas. Minjung dan jung hee menghentikan aktivitas berbicaranya (?). anak-anak lain pun sama.

~~~

TETT..

Park seongseonim memasuki kelas dengan diikuti seorang namja tampan.

“KYAA… TAMPAN SEKALI.” Teriak para yeoja ricuh.

“wah, dia tampan ya inji. Tapi tetap saja tampan jinki.” Ucap jiyoung dengan menyenggol lengan Inji yang masih sibuk dengan bukunya. Inji mendongakkan kepalanya lalu membelalakkan matanya.

‘kenapa dia disini? Oh tidak, ini tidak baik. Kau, apa yang kau lakukan disini? Mau membuatku menderita lagi hah?’ batin Inji.

“tenang anak-anak. Silahkan nak, perkenalkan dirimu.” Ucap park seongsonim.

“nde, annyeong haseyo. Naneun Xi Luhan imnida. Bangapsemnida.” Ucap namja yang bernama Luhan itu.

“ne, kau boleh duduk di belakang nona choi.” Ucap park seongseonim. Luhan memberi membungkuk sambil mengucapkan terima kasih dan segera berjalan menuju tempat duduknya.

‘bagus.’ Batin Inji sambil memejamkan matanya.

~~~

Istirahat

Inji segera mengambil bukunya dan berjalan keluar. Tanpa sepengetahuannya, Luhan mengikutinya. Inji melangkah menuju atap sekolah. Ya, disana terkenal dengan ketenangannya. Dan itu terbukti dengan tidak ada satu orang pun yang pernah kesana kecuali Inji. Inji ingin meredamkan kekesalannya dengan beraa disana sambil membaca buku. Inji mendudukkan dirinya di kursi yang tersedia.

“kau sudah sering disini?” sebuah suara familiar bagi Inji, inji pun menutup bukunya.

“untuk apa kau kembali?” tanya inji yang sama sekali tidak menghadap Luhan.

“aku.. aku ingin minta maaf padamu.” Jawab Luhan dengan lirih.

“untuk apa minta maaf? Kau tak perlu minta maaf. Kau juga tidak usah kembali, aku sudah bisa melupakanmu.” Ucap Inji dengan menahan emosinya.

“kau melupakanku? Jadi, kau tak mencintaiku lagi?” tanya Luhan.

“menurutmu? Aku bukan yeoja lemah Luhan.” Ucap inji. Sedetik kemudian ia berdiri dan hendak berjalan meninggalkan Luhan. Namun Luhan membalikkan badan inji dan memeluknya erat. Inji tak membalas pelukan Luhan.

“mianhae. Jeongmal mianhae. Aku menyesal telah memutuskanmu dan meninggalkanmu. Tapi percayalah padaku. Aku punya alasan yang kuat untuk itu.” Ucap Luhan. Sedetik kemudian, ia melepaskan pelukannya.

“bukankah aku sudah bilang? Untuk apa minta maaf padaku? Kau baru minta maaf padaku setelah kau kembali? Kau kira aku akan semudah itu memaafkanmu?” bentak Inji yang mulai emosi dan mulai menitikkan air mata.

“ani.. kau salah. Aku sudah minta maaf kepadamu…” Luhan menggantungkan kalimatnya.

“saat kau sedang berada di dalam mimpi.” Ucap Luhan lirih.

“mwo?” ucap inji yang malah kebingungan.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~Flashback~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Seorang wanita paruh baya dengan pakaian seorang pelayan memasuki kamar Luhan. Luhan yang sedang asik membaca buku, menoleh pada pelayan tersebut.

“tuan muda, anda dipanggil Tuan untuk datang ke ruangannya.” Ucap seorang pelayan.

“ne? Ah, gomawo.” Jawab Luhan. Luhan meletakkan bukunya dan segera berjalan keluar menuju ruangan appanya. Luhan mengetuk pintu dan segera masuk setelah dipersilahkan duduk.

“ada apa appa memanggilku?” tanya Luhan

“Luhan, appa ingin kau mengurusi perusahaan yang ada di amerika. Masalah sekolahmu bisa diatur. Kau tak perlu takut tentang itu. appa sudah menyiapkan rumah dan sebagainya disana.” Ucap appa Luhan panjang lebar.

“mwo? kenapa mendadak begini? Kenapa appa tidak menyuruh hyung saja?” ucap Luhan yang masih terkejut.

“Luhan, appa mohon. Appa dan eomma harus mengurusi perusahaan yang ada di Jepang, cina dan juga paris. Appa sudah meminta hyungmu tadi. tapi hyungmu meminta untuk mengurusi perusahaan yang ada di amerika jika dia sudah siap. Jadi, satu-satunya harapan hanya kau Luhan. Kau sudah siap. Kau mau ne? Kalau kau mau, kau akan berangkat lusa.” mohon appa. Luhan menjadi ragu. Ingin ia membantu appanya, tapi, dia juga masih ingin disini.

“tenang saja, kau disana hanya 6 bulan. Bisa lebih, bisa kurang. Itu tergantung dengan kerjamu.” Ucap appa

“apa aku…”

“andwae. Kau tidak boleh membawa siapapun. Aku tahu kau punya yeojachingu Luhan. Tapi, appa harap, kau memutuskan yeojachingumu itu. agar kau dapat fokus dengan pekerjaan.” Ucap appa.

“mwo? appa, apakah memintaku untuk mengurusi perusahaan appa yang ada di amerika itu belum cukup? Sehingga memintaku untuk memutuskan yeojachinguku?” ucap Luhan emosi.

“jika kau ingin memiliki istri yang pantas untukmu kelak, kau harus sukses. Kau harus benar dalam memilih pasangan. Jika yeojachingumu itu jodohmu, maka ia tidak akan hilang darimu. Putuskan dia!” perintah appa.

“appa..” rengek Luhan

“PUTUSKAN YEOJACHINGUMU!” bentak appa Luhan.

“baik, jika itu yang appa mau. Aku akan menuruti permintaan appa. Lebih baik aku kehilangan orang yang benar-benar aku sayangi daripada durhaka kepada appa.” Ucap Luhan kemudian namun masih menahan emosinya. Luhan pun meninggalkan ruangan itu. appa Luhan pun merasa bersalah, namun apa daya? Nasi telah menjadi bubur.

Luhan mengajak Inji, yeojachingunya jalan-jalan ke sebuah taman. Mereka berdua menghabiskan hari-hari bersama dengan sebuah keceriaan. Namun di dalam hati Luhan, terdapat sebuah ketakutan dan kebimbangan. Takut membuat Inji menangis dan bimbang untuk memutuskan Inji atau tidak.

Luhan pun mengantarkan Inji pulang.

“gomawo Han-ii. Ah ne, gelang itu harus kau bawa setiap saat dimanapun dan kapanpun. Tak peduli kau sedang apa, mengapa dan bagaimana. Arraseo?” ucap Inji

“ne, arraseo!” ucap Luhan sambil tersenyum.

“Inji-ya, kau janji kan tidak akan menangis? Kau janji?” tanya Luhan.

“ha? Kau ini kenapa Han-ii? Aneh sekali.” Ucap Inji. Raut Luhan menjadi sedih.

“janji saja padaku, bahwa kau tak akan menangis. Ne?” ucap Luhan lagi. Awalnya Inji ragu. Namun kemudian ia mengangguk.

“ne, aku janji. Aku janji tidak akan menangis sampai kapanpun.” Ucap Inji mantap. Luhan tersenyum kecil.

‘kau tidak akan menangis, tapi kau pasti akan membenciku. Mianhae Inji’ batin Luhan.

“bagus kalau begitu. aku harap kau tidak akan menangis seperti janjimu itu. pakai selalu ya gelangmu. Ini gelang kita. Jika kau merindukanku, lihat saja gelang itu. pasti akan ada wajahku. hehehe” ucap Luhan dengan tawa palsunya. Namun Inji tak tertawa, malah raut wajahnya berubah..

“kau akan pergi?” tanya Inji tiba-tiba. Pertanyaan Inji membuat raut wajah Luhan berubah.

“kk.. kenapa kau berpikiran seperti itu?” tanya Luhan balik.

“ya.. habis kau berkata seperti akan meninggalkanku.” Jawab Inji. Luhan pun diam.

“apa kau dan aku berjodoh?” tanya Luhan.

“mwo?”tanya Inji yang kebingungan.

“aku hanya bertanya, apa kau dan aku berjodoh?”

“jika kita berjodoh, kau dan aku akan menikah kelak. Memangnya ada apa sih? Dari tadi bicaramu aneh”

“ani.. hanya saja..”

“apa?”

“Inji..” panggil Luhan. Inji menatap Luhan.

“kita putus.” Kata-kata itupun keluar dari mulut Luhan.

“mwo? apa maksudmu?”

“kita putus.”

“tt..aa..tapi.. wae?” bukannya menjawab, Luhan malah pergi meninggalkan Inji yang masih bingung atas sikapnya.

Keesokan Harinya

04.00 KST

Luhan bangun pagi-pagi begini hanya untuk menemui Inji. Ia yakin, ia pasti tak boleh bertemu Inji sebelum berangkat. Maka dari itu, ia nekat untuk ke rumah Inji pagi-pagi begini. Lagipula, Luhan hanya ingin melihat Inji. Bukan berbicara dengan Inji. Karena ia tahu, Inji pasti akan sangat marah padanya.

Luhan yang sudah memakai jaket tebal dengan sepatu hangatnya, diam-diam menyelinap keluar rumah dan mengambil mobil yang sudah terparkir rapi di garasinya. Penjaga rumah memang tahu kalau Luhan akan pergi. Penjaga rumah memang sudah kenal betul dengan Luhan. Sehingga dia tidak mempermasalahkan hal ini. Luhan sangat berterima kasih dengan penjaga rumahnya karena mau menjaga rahasia<hal ini> Luhan. Luhan pun segera mengendarai mobilnya menuju apartement Inji.

Apartement Inji

Luhan memakirkan mobilnya di depan apartement Inji dan segera keluar. Ia tahu, apartement Inji dikunci sehingga ia memutuskan untuk lewat dari jendela. Ia juga tahu bahwa caranya adalah salah. Mengendap-endap seperti pencuri yang ingin mencuri sesuatu. Namun ini bukan hal pertama yang Luhan lakukan. Ia pernah melakukan cara ini saat Inji ulang tahun. Pada waktu itu, ia ingin membuat surprise. Alhasil, ia malah kena marah dari Inji karena masuk seperti pencuri. Walau pernah dimarahi Inji, itu tak menyusutkan seorang Luhan untuk melakukan hal itu lagi.

Kini, Luhan sudah berada di kamar Inji. Luhan melihat Inji yang tertidur. Luhan terkejut tatkala melihat sebuah foto yang berada dipelukan Inji. Foto itu adalah foto mereka berdua saat bermain salju di dekat rumah Luhan.

Luhan pun mendekati Inji yang masih tertidur pulas. Dan duduk dikursi yang ada disamping tempat tidur Inji. Luhan membelai rambut Inji yang menutupi wajah Inji dan mengelus pipi lembut Inji.

“Inji-ya! Mianhae. Mungkin itu kata yang pertama kuucapkan. Aku tak tahu harus berbuat apalagi. Tapi.. Inji, nan jeongmal saranghae. Aku harap kau tidak membenciku. Ya. Jika kita berjodoh, kita akan menikah kelak. Tak ada yang tahu masa depan kan? aku harap kau adalah mempelai yeoja yang ada disampingku, mempelai namja.” Luhan berhenti sejenak.

“geurae. Aku akan berangkat hari ini. jaga dirimu baik-baik. Sekali lagi. Mianhae. Jeongmal mianhae.” Luhan bangkit dari duduknya.

“saranghae Inji-ya!” Luhan pun segera pergi dari apartement Inji. Tentu saja apa yang dikatakan Luhan tidak didengar Inji. Inji masih di dalam mimpinya.

Pagi Hari

Pagi ini Inji akan ke rumah Luhan dengan membawakan sekotak makanan untuk Luhan. Namun tujuannya bukan itu melainkan mendengar penjelasan kenapa Luhan memutuskannya. Inji tak tahu Luhan datang ke apartementnya. Inji tak tahu Luhan meminta maaf padanya.

Sampai di depan rumah Luhan, Inji melihat salah seorang pelayan Luhan sedang membawa kantong plastik yang Inji yakini itu sampah. Namun sepertinya itu bukan sampah. Melainkan barang-barang Luhan. Inji pun memutuskan untuk mendekati pelayan itu.

“permisi ahjumma. Bukankah ini barang Luhan?”

“oh, nona Inji? Ne. Ini barang tuan muda. Tapi kata tuan barang ini dibuang saja. Nanti akan dibelikan yang baru disana.”

“disana? Apa maksud ahjumma?”

“loh? Nona belum tahu? Tuan muda dan tuan akan pindah ke amerika.”

“mwo? kapan mereka berangkat ahjumma?”

“sudah 10 menit yang lalu nona.”

“mwo?” Inji terkejut dan tak sengaja menjatuhkan sekotak makanan yang ia bawa. Inji kemudian berlari meninggalkan pelayan itu tanpa pamit dan mencari taksi untuk mengejar Luhan. Setelah mendapat taksi, Inji pun segera meminta sopir taksi untuk pergi ke bandara.

Bandara

Sampai di bandara, Inji masuk dan mencari Luhan ke segala arah. Dilihatnya kesekeliling. Orang yang dicari belum juga ia lihat. Inji memutuskan untuk naik ke lantai 2. Lagi-lagi ia mengedarkan pandangannya dengan terus berjalan. Tiba-tiba, Inji melihat seorang namja yang familiar dengannya. Ya, itu adalah namja yang ia cari. Inji berlari sekuat tenaga mengejar namja tersebut.

“Luhan!” panggil Inji setelah dekat dengan Luhan. Namja yang merasa namanya dipanggil itu menoleh dan mendapati Inji berlari ke arahnya dengan nafas terengah-engah. Raut wajahnya berubah menjadi sedih dan khawatir. Kini Inji sudah berada di depan Luhan. Inji mengatur nafasnya sebelum ia bicara.

“apa maksud dari semua ini?” Inji angkat bicara. Luhan pun diam.

“jawab! Kau punya mulut dan kau tidak bisu! Jawab!” bentak Inji. Luhan terkejut. Ternyata Inji yang dikenalnya sebagai yeoja lembut dan manja bisa keras seperti ini. belum sempat Luhan menjawab, tiba-tiba datang appa Luhan.

“Luhan, kajja. Pesawat kita sebentar lagi berangkat.” Luhan yang diam hanya menuruti apa kata appanya. Luhan dan appanya berjalan menjauhi Inji. Inji tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Appa Luhan sama sekali tak menyapanya bahkan melihatnya. Dia seperti diacuhkan dan dianggap tidak ada. Inji terjatuh lemas dan mencoba menahan air matanya yang mulai turun. Ia tahu, dia bodoh. Kenapa dia bisa mencintai namja yang seperti itu? tapi tetap saja, kesedihan sangat membebaninya. Akhirnya ia menangis.

Tanpa disadarinya, ada seorang namja yang melihatnya dari kejauhan. Ingin sekali ia menolongnya. Namun ia tahu, itu tak akan ada gunanya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~Flashback End~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 “mianhae. Aku harus memutuskan untuk tinggal di Amerika. Aku harus mengurus pekerjaan appaku sementara selama appa berada di paris. Aku masih mencintaimu. Lebih dari yang kau tahu. Disana aku hanya memikirkan dirimu.” Jelas Luhan.

“lalu, kenapa kau memutuskanku dengan tanpa alasan? Meninggalkanku dengan segala pertanyaan? Kenapa kau tak jujur saja padaku? Sebenarnya apa yang ada difikiranmu Luhan?”

“aku.. aku.. mungkin, jika aku mengatakan yang sebenarnya, kau akan beranggapan bahwa aku adalah namja yang lemah. Tapi, mungkin itu memang kenyataanya. Aku bukan namja kuat. Aku adalah namja lemah.”

“kau ini bicara apa Luhan?”

“aku namja lemah. Aku sangat penurut. Seharusnya aku tak memutuskanmu. Seharusnya aku tak menuruti perkataan appaku. Seharusnya aku tak meninggalkanmu sendiri tanpa alasan yang jelas. Aku.. aku..”

Inji yang tak tahan mendengar celotehan Luhan, ia pun memeluk Luhan. Inji berniat menenangkannya. Inji merasa bukan hanya Luhan yang salah. Namun ia juga. Kenapa dia harus marah-marah kepada Luhan sebelum ia tahu alasan Luhan dengan jelas.

“sstt.. diam. Kau ini bukan anak kecil. Kau ini sudah dewasa. Jangan berceloteh seperti anak kecil. Lagipula kau ini namja. Kau ini bukan namja cengeng kan?“

Luhan yang mendengar perkataan Inji menjadi tenang dan membalas pelukan Inji.

“Mianhae. Aku sudah memaafkanmu. Dan aku juga minta maaf.  Aku tahu. Ini semua bukan sepenuhnya salahmu. Aku juga bersalah. Aku tahu kau itu namja kuat. Bukan namja lemah. Appamu menyuruhmu untuk memutuskanku karena ia tahu itu yang terbaik untukmu.” Ucap Inji tenang.

“gomawo sudah memaafkanku. Mm… kau tahu kalau appaku menyuruhku begitu?” tanya Luhan. Inji melepaskan pelukannya dan mengangguk membalas pertanyaan Luhan.

“kau kira itu hal sulit? Itu hal sepele. Lagipula kau sudah memberitahuku. Secara tidak langsung.”

Luhan tersenyum.

“Inji-ya! Apa kau masih mau untuk menjadi yeojachinguku?” tanya Luhan. Inji hanya diam tanpa menatap Luhan.  Sejujurnya ia ragu bahwa ia masih mencintai Luhan atau tidak.

“mmm.. Luhan-ya, aku rasa… mm.. lebih baik, kita hanya sebatas teman.”

“arraseo!” jawab Luhan yang mencoba tersenyum yang kenyataannya ia kecewa.

“aku tahu. Hatimu masih belum siap menerimaku kembali.”

“mianhae. Tapi, kita bisa jadi sahabat.”

“ne. Geurae. Kita kembali ke kelas. Kurasa sebentar lagi bel.” Inji mengangguk. Inji dan Luhan pun segera turun menuju ruang kelas.

Kelas XII A

Luhan dan Inji berjalan bersama menuju ruang kelas. Sesampai di ruang kelas, sebuah kulit pisang mengenai wajah Luhan. Inji yang melihat wajah Luhan terkena kulit pisang, terkejut dan menoleh kepada seorang namja yang sibuk tertawa.

Inji rasa namja itu ingin menjahili dirinya dengan melempar kulit pisang itu ke mukannya, namun yang terkena malah Luhan. Ya, itu terbukti dengan berhentinya tawa namja tersebut dengan tiba-tiba dan memasang wajah ekspresi terkejut. Luhan juga terkejut.

“Hyung?!”

.

.

.

TBC

Gimana? Penasaran? Hehe. Mian ne, di chapter ini Cuma dikit lagi. Abisnya, ide ngadat lagi. So, aku Cuma dapet ya.. kira-kira segini. Mm.. sebenarnya udah ada kelanjutannya, tapi aku potong pas yang bikin penasaran. Hehe. Licik ya? Gak kok. Aku gak suka kelicikan. Ya, Seperti biasa. Aku hanya ingin bilang “PLEASE RCL and DONT BASH”

Iklan

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s