Our Love Story in Seoul High School (Chapter 8)

Tittle            : Our Love Story in Seoul High School  (Chapter 8)

Author         : Choi_Inji (Khaerisma)

Length         : Chaptered

Genre          : romance, school life, family, sad (gagal), humor (maybe), gaje (banget)

Rating          : General

Main cast    :

–          Choi Inji                       (OC)

–          Kim Hyo Na                (OC)

–          Nam Jiyoung              (OC)

–          Choi Junghee              (OC)

–          Hwang Ahra                (OC)

–          Park Minjung               (OC)

–          Byun Baekhyun          (Exo K)

–          Lee Byung Hun           (Teen Top)

–          Lee Jinki                      (SHINee)

–          Lee Chunji                   (Teen top)

–          Park Chanyeol            (Exo K)

–          Xi Luhan                      (Exo M)

Others cast : find it by your self

 List   : Chapter ( 1 l 2 l 3 l 4 l 5 | 6 | 7 )

Hai Chingudeul J, aku balik lagi..

Chingedeul, aku mau memberitahukan something. Disini Luhan lebih muda daripada Baekhyun ya. Ehehe. Kan Luhan lebih baby face gitu daripada Baekhyun, so.. gomawo sama yang udah ngertiin. Pasti sebelum membaca, udah bisa nebak siapa Luhan dan Baekhyun disini.

Jangan pada aneh ya. Anggep aja Luhan LEBIH MUDA daripada Baekhyun. arraseo? Masih seperti biasa, disini aku gak ngasih side-side.an ya… biar kalian nebak sendiri si ini di-couple.in ama siapa. Ingat ya, ada 6 Couple. Ok J .Gomawo ^^

 

    Warning       : Typo banyak dan berserakan dimana-mana.

“DON’T PLAGIAT and DON’T BASH okJ”

~Happy Reading~

 

Inji rasa namja itu ingin menjahili dirinya dengan melempar kulit pisang itu ke mukannya, namun yang terkena malah Luhan. Ya, itu terbukti dengan berhentinya tawa namja tersebut dengan tiba-tiba dan memasang wajah ekspresi terkejut. Luhan juga terkejut.

“Hyung?!”

Chapter 8

“Hyung?!” ucap Luhan reflek. Namja yang disebut Hyung itu semakin terkejut.

“Baekhyun Hyung?!!” ucap Luhan sekali lagi dengan nada lebih keras dan membuat seisi kelas melihat Luhan. Termasuk Inji yang sekarang memasang wajah bingung. Baekhyun yang sedari diam beralih mendekati Luhan. Seperti biasa, Baekhyun berjalan dengan tenang dan kini mulai tersenyum. Luhan yang melihat baekhyun tersenyum, ikut tersenyum.

“akhirnya kau kembali, saudaraku.” Ucap baekhyun dengan meletakkan tangannya di pundak Luhan. Luhan tersenyum dan memeluk hyungnya, baekhyun. Inji semakin bingung sekarang.

“wait-wait, jj..jadi.. jadi kalian, saudara?” tanya Inji yang membuat kedua saudara itu melepaskan pelukannya.

“memang kenapa jika kita bersaudara? Tak ada ruginya untuk dunia.” Ucap baekhyun sinis.

“hyung, jangan begitu. begini Inji-ya, kami adalah saudara kembar.” Terang Luhan.

“KEMBAARRR???!!!” teriak Inji histeris. Baekhyun memutar bola matanya malas.

“bisakah kau memelankan suaramu ha? Kau kira aku tak punya telinga?” baekhyun mengeluh. Inji memasang wajah kesal ke arah baekhyun. Sedangkan baekhyun memasang wajah acuh tak acuhnya. Luhan yang melihat ini malah menjadi bingung.

“aish, Inji-ya, hyung, kenapa kalian seperti, mm.. tak akrab mungkin.” Ucap Luhan pelan-pelan.

“MEMANG!!” jawab Inji dan baekhyun berbarengan.

“apa penyebabnya?” tanya Luhan yang kini ingin tahu.

“kau mau tahu seberapa buruk kelakuan hyungmu ini? dia selalu mengerjaiku. Dalam sehari bisa lebih dari 3 kali. Dan dia mulai menjailiku saat…” ucapan Inji terputus.

“saat dia mengarahkan saos ke bajuku sehingga bajuku kotor dan dia tak mau membersihkannya.” Potong baekhyun

“enak saja. Aku kan sudah bilang, kalau aku tak sengaja. kau saja yang terlalu sensitif. Lagipula, aku juga sudah memberikan kain untuk membersihkan saos yang ada di bajumu. Kau saja yang tak mau membersihkannya sendiri. Dasar manja. Aku juga sudah minta maaf waktu itu.” terang Inji panjang lebar.

“hey, aku bukan manja. Berani berbuat, berani bertanggung jawab. Kau yang mengotori bajuku, kenapa aku yang disuruh membersihkannya sendiri? Dasar, yeoja tak bertanggung jawab”

“hey, aku bertanggung jawab…………

Luhan dan seisi kelas itu menjadi pendengar setia pertengkaran antara baekhyun dengan Inji. Sedangkan Inji dan Baekhyun, mereka masih terus membela diri dengan adu mulutnya sampai-sampai bel tanda masuk tak didengar mereka.

Perpustakaan

“jinki?” sapa jiyoung lirih. Ia mendudukan dirinya di sebuah kursi berhadapan dengan jinki. Jinki menanggapinya dengan sebuah senyuman.

“Kau datang juga?” tanya Jinki.

“kalau tidak mau aku datang ya sudah.” Ucap Jiyoung yang bangkit berniat pergi (pura-pura).

“kau mau pergi juga tak apa.” Ucap Jinki. Jiyoung berhenti dan berbalik dengan muka kesalnya.

“kenapa kau tak mencegahku?” tanya Jiyoung.

“apa aku harus melakukan itu?”

“ya… bukankah, kalau ada yang pergi harusnya dicegah? Kenapa kau tak mencegahku?”

“baiklah. jangan pergi. Selesai?”

“menyebalkan.” Cibir jiyoung yang kini mendudukkan dirinya lagi. Jinki tersenyum melihat kelakuan jiyoung, lalu ia kembali ke posisi semula. Posisi membaca buku tentu saja. Jiyoung yang merasa diacuhkan, mengerucutkan bibirnya. Ia berdiri dan berniat mengelilingi perpustakaan.

“hah, percuma saja ia memintaku untuk bertemu dengannya disini. Dia saja sibuk dengan bukunya. Bosan sekali aku disini.” Ucap jiyoung kesal sambil melipat kedua tangannya dan bersandar pada jejeran buku yang menghadap ke jendela perpustakaan.

“jadi kau kesini hanya untuk menemuiku?” tanya jinki. Jiyoung menoleh dan sesegera mungkin ia memalingkan wajahnya. Jiyoung masih merasa kesal. Sedangkan jinki, ia tersenyum kecil.

“aigoo.. ternyata kau ini childish sekali. Begitu saja marah. ” Ucap jinki sambil mencubit pipi jiyoung.

“aww.. appo.” Rengek jiyoung.

“eoh? Appo? Lalu aku harus bagaimana? Memberimu sebuah kecupan untuk menghilangkan rasa sakitmu itu hah?” goda jinki. Pipi jiyoung memerah karena malu.

“enak saja. Aku bukan yeoja murahan ya. Kau kira aku ini manja. Yang sedikit-sedikit merajuk. Seperti ini. oppa-oppa, appo.. kau baru saja mencubitku. Cium aku biar pipiku tak sakit lagi..” ucap jiyoung dengan nada diimut-imutkan sambil mempraktekan gerakan manjanya.

“ahahaha..” tawa jinki dan jiyoung meledak.

CUP

Jiyoung seketika berhenti tertawa setelah mendapat kecupan singkat dari jinki. Jiyoung menoleh pada jinki yang malah tersenyum.

“bagaimana? Sudah tak sakit kan yeoja manja?” tanya jinki dengan smirknya.

“ya! Jinki-ya, kau nappeun namja!” ucap jiyoung namun masih dengan suara lirih. Sedangkan jinki tertawa pelan.

“aish, tadi kau yang minta, kenapa jadi aku yang kau salahkan?” ucap jinki.

“mwo? aku tidak memintanya.” Ucap jiyoung kesal.

“ne, tadi kau memintanya. Kau bilang, oppa-oppa, appo.. kau baru saja mencubitku. Cium aku biar sakit di pipiku hilang.” Ucap jinki dengan nada dibuat-buat.

“ii..ii..itu, bbuubb..bub..bkan. aish, kau menyebalkan. Ah, sudahlah. Aku mau kembali ke kelas. Aku kesini malah mendapat ciuman tak menyenangkan.” Ucap jiyoung sambil melangkah pergi.

“tak menyenangkan ha? Jadi kau mau yang menyenangkan? Berarti, kau memang senang jika dicium?” tanya jinki curiga. Dan sukses menghentikan jiyoung melangkah. Jiyoung berbalik dan menatap tajam jinki yang masih menunjukkan smirknya.

“dasar yadong! Kau pintar, kau tampan, kau baik, tapi kau YADONG! Y-a-d-o-n-g! Yadong! Kau tahu yadongkan? Aish, aku menyesal telah menyukai namja sepertimu. Kenapa aku tak tahu dari dulu jika kau itu yadong? Aish, jiyoung babo.” Ucap jiyoung merutuki diri sendiri sambil memukul kepala dan berbalik melangkah pergi. Jinki yang tadi hanya menunjukkan smirknya, sekarang malah tersenyum lebar.

“jiyoung, my princess babo. Ahahaha. Gwaenchana. Aku yadong, kau babo. Bukankah itu akan seru? Ahahaha.” Ucap jinki pada dirinya sendiri.

TEETTT

Kim Seongseonim datang. Semua murid telah siap dengan pelajaran, kecuali, Inji dan Baekhyun yang masih saja bertengkar tanpa ada habisnya. Kim Seongseonim melihat pertengkaran itu dan ikut menjadi pendengar setia mereka.

10 menit kemudian

10 menit berlalu dan pertengkaran belum juga berakhir. Benar-benar awet. Karena emosi berada di puncak, Kim seongseonim, segera melerai Inji dan baekhyun dengan cara menjewer telinga mereka berdua.

“AAAAaaaawww.. ampun ampun.. ya! Lepaskan seongseonim.. appo!!” erang baekhyun.

“ne seongseonim, appo.”

“appo? Geurae, kalau begitu, jika kalian tidak mau sakit, lebih baik kalian memotong rumput di belakang ne?” Kim seongseonim melepas mereka berdua (telinganya).

“MWO??!!” teriak keduanya (Inji dan Baekhyun)

“kkitaa.. dihukum seongseonim?” tanya baekhyun.

“ani.. aku memberikan reward untuk kalian. Jadi, selamat atas kemenangan kalian dalam hala pertengkaran. Terutama baekhyun. Bukan siswa kelas ini, namun ia bisa pindah di kelas ini. jinjja daebak. Sekarang, terima dan kerjakan hadiah kalian ne? Ah ne, reward kalian aku tambah. Kalian tidak boleh mengikuti pelajaranku.” ucap Kim seongseonim.

“mm.. seongseonim, gamsahamnida, kita sangat menghargai reward seongseonim. Tapi, lebih baik, reward itu, kami kembalikan kepada seongseonim.” Ucap baekhyun sesopan mungkin.

“sayang sekali, reward itu harus diterima jadi, CEPAT KEBELAKANG SEKARANG JUGA!!!!” bentak Kim seongseonim.

Taman Belakang

Inji dan Baekhyun masih sibuk dengan kegiatannya, yaitu memotong rumput. Yah, rewardnya. Reward yang menyebalkan. Inji yang seminggu ini menjalankan hukuman 2 kali mencoba tabah. Ia tahu, sejujurnya dia juga salah. Tapi, lebih dominan karena kawannya. Kawan? Namja menyebalkan itu disebut kawan? Tak akan. Inji lebih memilih diam daripada bicara. Menurutnya, sedikit bicara, banyak bekerja. Dan hal itu terbukti, ia lebih dulu selesai dibanding baekhyun yang daritadi mengeluh karena reward ini. ya, walau selang beberapa detik.

Inji memilih duduk di kursi taman itu untuk beristirahat. Ia meregangkan otot-ototnya. Pegal, ia tahu itu. menghirup nafas sejenak, mungkin lebih baik untuk meringankan lelahnya.

CEZZZ

“dingin!!” ucap Inji terkejut. Tentu saja ia terkejut, sebuah minuman soda dingin menempel di pipinya. Dan minuman soda itu dibawa namja menyebalkan itu. siapa lagi kalau bukan baekhyun.

“ahahaha… bukankah enak?” tawa baekhyun. Inji memasang wajah kesal. Sekali lagi, karena baekhyun.

“igo.” Suara baekhyun terdengar di telinga Inji. Inji menoleh.

“untukmu. Igo, aku tahu kau haus.” Ucap baekhyun sekali lagi. Inji masih ragu-ragu menerimanya.

“tenang saja, aku juga punya. Lagipula minuman itu tak ada apa-apanya. Itu minuman soda asli dan murni.” Mendengar perkataan baekhyun, Inji menjadi tenang. Inji mengambil minuman soda itu. kemudian meminumnya habis. Baekhyun juga minum dan duduk di sebelah Inji.

“mmm.. gomawo baekhyun-ah,” ucap Inji.

“for what?” tanya baekhyun.

“untuk.. 2 hal. Kau baik padaku hanya 2 kali. Eh, ani, 3 kali.”

“lebih dari yang kau tahu.” Ucap baekhyun lirih nyaris tak terdengar.

“mwo?” tanya Inji yang tadi samar-samar mendengar perkataan baekhyun.

“ani.. ah ne, 2 hal itu apa?” tanya baekhyun mengalihkan pembicaraan.

“kurasa 3 hal. yang pertama minuman ini. lalu yang kedua, saat membawakan tasku ke ruang musik dan yang terakhir, menolongku saat aku jatuh pingsan.” Mendengar ucapan Inji, baekhyun pun tersenyum. Ia melihat Inji dalam, dan lebih dalam. Inji yang merasa dilihat seperti itu menjadi risih.

“baekhyun?” panggil Inji. Baekhyun kembali memandang Inji seperti biasanya.

“cheonma. Nado. Ah ani.. seharusnya aku minta maaf.”

“untuk?”

“ya, masih ingat kejadian di swalayan?” tanya baekhyun. Inji mengingat sejenak kemudian mengangguk.

“ya, aku minta maaf karena aku merebut ikan darimu. Padahal seharusnya aku mengambil cumi-cumi. Tapi, jangan salahkan aku. Salahkan eommaku. Eommaku yang salah menulis.” Ucap baekhyun.

“gwaenchanayo. Mm.. ngomong-ngomong, kalian kembar?”

“nuguya?”

“aish.. kau dan Luhan.”

“oh, ya. Kami kembar. Wae? Karena wajah kami berbeda? Postur tubuh kami berbeda? Dan lainnya terutama sifat kami berbeda?” Inji yang mendapat pertanyaan baekhyun yang runtut itu hanya bisa mengangguk.

“kami kembar fraternal. Kembar dari dua telur tapi satu ibu. Maka dari itu, kita kembar namun berbeda.” Inji yang mendengar itupun hanya ber’o’ ria.

“tapi, kenapa Luhan selalu menggunakan marga Xi? Bukankah margamu Byun?” tanya Inji.

“Xi adalah marga eommaku. Eommaku dari Cina. Sedangkan Byun adalah marga appaku. Appaku orang korea asli. Bisa saja aku mengganti nama ku maenjadi Xi Baekhyun.”

“ahahaha.. Xi baekhyun? ahaha… itu lucu sekali.. ahahaha.. jelek sekali.. ahaha.. lebih baik kau menggunakan marga byun saja. Itu lebih cocok untukmu. Ahaha..” tawa Inji meledak. Baekhyun ikut tertawa.

“lalu, kenapa kau tak tahu kalau adikmu sendiri pulang?” tanya Inji

“aku tinggal di apartement sendiri. Aku bosan jika di rumah.”

“apartement? Aku juga. Tapi aku malah lebih bosan jika di apartement daripada rumah.”

“pribadi masing-masing. Ngomong-ngomong, kenapa kau dekat dengan Luhan?” tanya Baekhyun.

“ow, dia.. mm.. dia..”

“dia namjachingumu. Aku benarkan?” tanya baekhyun.

“bb..bagaimana kau bisa tahu?” tanya Inji. Baekhyun tersenyum.

“aku tahu, aku melihatmu di bandara. Aku melihatmu menangis disana. Mianhae, aku tak bisa berbuat apa-apa waktu itu. mungkin kau akan mengusirku atau malah semakin membenci keluargaku jika aku mendekatimu.” Ucap baekhyun.

“gwaenchana. Itu.. masa lalu. Aku mantan yeojachingunya. Bukan yeojachingunya lagi.”

“maafkan adikku. Seharusnya aku yang berangkat ke amerika. Bukannya dia. Apa aku.. merusak hubungan kalian?”

“gwaenchanayo. Jodoh ada di tangan tuhan kan? aku akan menerima dengan senang hati siapapun jodohku kelak. Jadi, aku tak menyalahkan siapapun atas kejadian itu.” Ucap inji dengan tersenyum. Menurutnya, senyum itu membuatnya tegar. Baekhyun ikut tersenyum.

Hening.

“kurasa.. lebih baik kita kembali ke kelas.” Usul Inji yang kemudian bangkit dan berjalan. Jujur saja Inji merasa gugup berdekatan dengan Baekhyun. sehingga dia memutuskan untuk pergi.

Sebuah tangan menahan tangan Inji yang membuat Inji berbalik. Inji membulatkan matanya ketika ia meraasakan sentuhan lembut di bibirnya. Ini.. bibir baekhyun. kenapa Baekhyun tiba-tiba menciumnya? Apakah ini modus? Lelucon? Akting? Ataukah.. ini salah satu dari kejahilannya? Hanya Baekhyun-lah yang tahu. Inji hanya bisa mematung. Inji merasa ada kehangatan dibalik semua ini.

Baekhyun yang merasakan Inji tak menolak ciumannya, mencoba melumat bibir tipis Inji dengan lembut. Baekhyun tahu, Inji tak mau membalasnya. Mungkin karena dia terlalu shock akan ini. selang beberapa saat, Baekhyun melepas ciumannya dan melihat wajah Inji yang masih begitu shock. Baekhyun tersenyum.

Inji masih diam dan mematung masih sama seperti tadi. Baekhyun yang menyadari Inji tak bergeming, menarik tangan Inji untuk kembali ke kelas. Ya, paling tidak, baekhyun mengantarkannya kembali ke kelas Inji baru kembali ke kelasnya. Dan Inji masih terdiam.

-.-.-.-.-

Pulang sekolah

Inji masih mengemasi barang-barangnya. Luhan telah pulang duluan. Ahra juga, dan selalu diikuti oleh tiang listrik bernama Park Chanyeol.

Seperti biasa, ia pasti akan menunggu Junghee di kelasnya. Karena tak usah dipanggil pun, dia datang sendiri. Biasanya, sambil menunggu Junghee, Inji membaca buku. Hyona mendekati Inji yang masih sibuk dengan kegiatan membacanya.

“Inji-ya, waaahh.. jinjja daebak! Kau dihukum lagi. Dan sekarang kau dihukum bersama namja yang kau paling benci di dunia ini? wow!” ucap Hyona berniat menggoda. Inji tidak memperdulikan perkataan hyona.

“Inji-ya! Kau mendengarku tidak?” teriak Hyona. Inji tetap diam dan masih membaca buku. Sejujurnya Inji tak membaca buku, melainkan masih memikirkan kejadian tadi. saat… ah Inji benar-benar tak frustasi. Hyona berdecak kesal.

“Inji-ya! Kau kenapa?” teriak Hyona lagi.

“hey-hey-hey, aku punya cerita.” ucap Jiyoung yang tiba-tiba muncul.

“mwo?!” ucap Hyona kesal. Jiyoung mengerucutkan bibirnya.

“kalau tidak mau mendengar ceritaku ya sudah. Tidak perlu membentak seperti itu juga.” Balas Jiyoung.

“hey, yang membentak sekarang siapa?!”

“kau!”

“ani.. kau!”

 “hah.. sudahlah, aku ingin cerita.” Ucap Jiyoung mengakhiri adu mulut (?) dengan Hyona.

“Saat aku di perpustakaan tadi, ya.. niatku hanya ingin bertemu jinki memang. Tapi, ah sudahlah. Intinya saja. Tadi, jinki mencium pipiku. AAAAAAAaaa!!!!” teriak jiyoung histeris. Hyona menutup telinganya dengan tangannya. Sedangkan Inji masih biasa.

“EONNIII!!!” panggil Junghee. Inji menoleh dan langsung bangkit dari duduknya.

“annyeong Hyona, annyeong Jiyoung-ii!” pamit Inji tak berekspresi. Junghee melihat Hyona dan Jiyoung memasang ekspresi bingung. Namun ia segera berbalik mengejar eonni-nya yang sudah mendahuluinya.

“aneh, ada apa dengannya?” tanya Hyona. Jiyoung menggelengkan kepala.

Sore hari

Taman

Luhan pov

Yah, hari ini aku merilekskan diriku ke taman. Pikiranku sekarang sedang tidak tenang. Apalagi perasaanku. Tidak, perasaanku bukan tidak tenang tapi, lebih tepat ke… sakit. Yah, sakit. Mungkin setelah aku melihat kejadian tadi.

Flashback

Pelajaran Kim seongseonim benar-benar membuatku bosan. Kukira pelajaran Sejarah mengasyikkan, ternyata tidak. Benar saja, murid disini tidur semua. Yah, tidak semua kecuali yang suka pelajaran sejarah. Karena semakin bosan, Jadi aku memutuskan untuk keluar. Tentu saja aku ijin terlebih dahulu.

Karena tidak tahu mau kemana, aku memilih pergi ke taman belakang melihat hukuman baekhyun hyung dengan Inji. Pasti seru. Hehehe. Saat aku sampai di taman, aku melihat baekhyun hyung dan…. Inji? Mereka… mengobrol bersama? Aneh.. aneh sekali. Mereka sedang membicarakan apa?

Akhirnya aku memutuskan untuk lebih mendekat agar mengetahui apa yang mereka bicarakan. Tapi tentu saja dengan diam-diam.

“bb..bagaimana kau bisa tahu?”

“aku tahu, aku melihatmu di bandara. Aku melihatmu menangis disana. Mianhae, aku tak bisa berbuat apa-apa waktu itu. mungkin kau akan mengusirku atau malah semakin membenci keluargaku jika aku mendekatimu.” Inji menangis? Apa mereka membicarakan masa lalu?

“gwaenchana. Itu.. masa lalu. Aku mantan yeojachingunya. Bukan yeojachingunya lagi.” tapi aku masih berharap Inji-ya..

“maafkan adikku. Seharusnya aku yang berangkat ke amerika. Bukannya dia. Apa aku.. merusak hubungan kalian?”

“gwaenchanayo. Jodoh ada di tangan tuhan kan? aku akan menerima dengan senang hati siapapun jodohku kelak. Jadi, aku tak menyalahkan siapapun atas kejadian itu”

Hening.

“kurasa.. lebih baik kita kembali ke kelas.” Eoh? Inji ingin pergi? Baru saja aku mendengar percakapannya.

Oh? Apa yang dilakukan Baekhyun hyung? Kenapa kau… kenapa kau melakukan itu hyung? Aku tak percaya. Kau menikamku? Aku kecewa padamu hyung. Aku membencimu.

Flashback end

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Aku terus berjalan menyusuri taman yang penuh dengan bunga.

“Mapo, aku rindu sekali pada namja tampan itu. aaa… aku sangat ingin bertemu dengannya. Kau tahu, harusnya kau kabur lagi saja dan yang menangkapmu itu namja tampan itu. ah, aku gila sekali. Kenapa aku harus bicara dengan anjing yang jelas-jelas tidak tahu perkataan manusia. Aku bodoh sekali.” Mapo? Oh, anjing lucu itu? kurasa yeoja lucu itu sedang bicara dengan anjingnya. Lebih baik aku menghampiri yeoja itu untuk menghibur diriku. Mungkin.

Luhan pov end ~ Author pov

 “annyeong!” sapa seseorang dengan menepuk pundak minjung.

“eoh? Bukankah kau namja yang menemukan Mapo?” tanya minjung. Namja itu tersenyum dan mengangguk kecil.

“kau sering kesini?” tanya namja itu.

“mmm.. tidak juga. Aku kesini jika sedang bosan. Tapi sekarang tidak bosan lagi.” Ucap minjung sambil tersenyum.

“tidak bosan lagi? Kenapa?” tanya namja itu kebingungan.

“karena seseorang yang ku rindukan dan kutunggu sudah datang.” Ucap minjung lagi.

“eoh? Nae? Kau merindukan dan menungguku?” tanya namja itu sambil terkekeh kecil. Minjung mengangguk mantap.

“wae? Kenapa kau merindukanku? Padahal kita baru bertemu sekali. Itupun hanya sebentar.” Ucap namja itu.

“karena wajahmu membuatku selalu ingin bertemu denganmu.” Ucap minjung.

“jadi kau hanya merindukan wajahku? Lalu bagaimana dengan yang lainnya?” tanya namja itu dengan ekspresi kesal yang dibuat-buat. Minjung terkekeh geli.

“ya! Aku merindukan dirimu. Bukan hanya wajahmu. Ahahaha. Ternyata kau ini lucu sekali ya.” Ucap minjung sambil tertawa.

“kau juga. Kau itu yeoja yang manis dan lucu.” Puji namja itu. muka minjung memerah.

“jangan puji aku seperti itu. itu membuatku malu.” Ucap minjung sambil memegangi pipinya.

“oh iya, aku belum tau siapa namamu. Joneun Park Min Jung imnida.” Ucap minjung sambil mengacungkan tangannya. Namja itu menjabat tangan minjung.

“byun Luhan imnida.” Ucap namja itu. ya, namja itu Luhan.

“Luhan? Bukankah itu nama mandarin?” Luhan mengangguk.

“appaku orang korea. Dan eommaku orang mandarin. Biasanya aku memperkenalkan diriku dengan marga Xi. Tapi.. ya terserah kau mau memanggilku Byun luhan atau Xi luhan.”

“namamu bagus jika menggunakan marga Xi. Xi Luhan!”

“geurae. Terserah kau.”

“Luhan-ssi, kau masih sekolahkan? Sekolah dimana?” tanya Minjung.

“aku bersekolah di seoul high school.” Jawab Luhan.

“jinjja? Tapi, kenapa aku tak pernah lihat?” tanya minjung.

“aku baru pindah dari amerika beberapa hari yang lalu.” Ucap Luhan.

“ouw. Kau kelas berapa?” tanya minjung.

“kelas XII A.” Jawab Luhan. Minjung melonjak kaget.

“mwo? kelas XII A? berarti kau sunbae-ku. Ah jeongmal mianhae sunbae. Aku tak sopan.” Ucap minjung sambil membungkukkan badanya.

“ahahaha. Jangan formal begitu kepadaku. Santai saja. Lagian ini tidak disekolah. Kau tak perlu memanggilku sunbae. Di sekolah juga tak perlu memanggilku dengan sebutan sunbae. Aku tak suka dipanggil seperti itu.” ucap Luhan.

“ah, ne. Mmm.. kalau aku memanggilmu Luhan oppa bagaimana?” ucap minjung.

“boleh. Terserah kau saja, asalkan bukan sunbae.” Ucap Luhan.

“arraseo oppa.” Ucap minjung. Mereka berdua pun melanjutkan perbincangan mereka. Mereka juga berjalan-jalan dengan Mapo. Ya, walaupun hanya berkeliling taman, tapi bagi mereka, itu sangat menyenangkan. Luhan ingin melupakan kejadian tadi sejenak bersama yeoja lucu ini.

Malam hari

Rumah Ahra

“ahra-ya, berdandanlah sekarang. Kau harus cantik malam ini. hari ini kita kedatangan tamu. Jadi, jangan membuat eomma dan appa malu karena dandanan dan kelakuanmu yang tidak sopan. Bersikap sopanlah. Kalau sudah selesai berdandan, turunlah.” Ucap eomma ahra di ambang pintu kamar ahra.

“aish. Untuk apa tamu itu datang kemari? Itu tamu eomma dan appa kan? kenapa aku harus ikut menyambut tamu eomma dan appa?” ucap ahra kesal.

“aish. Kau ini bawel sekali. Sudah cepat ganti bajumu. Ini. pakai dress ini. kau akan cantik kalau menggunakan dress ini.” ucap eomma ahra lalu meninggalkan ahra.

“hah.. siapa tamu itu? mengganggu saja.” Ucap ahra.

Ting tong

“oh, tamunya sudah datang?” ucap eomma ahra. Appa ahra berjalan dan membukakan pintu.

“wah, akhirnya kalian datang juga. Silahkan, silahkan.” Ucap appa ahra. Mereka pun segera menuju ruang makan.

“wah, hyun ah, kau tambah cantik sekali. Aigoo.. ini anakmu? Yang satu tampan, yang satu cantik.” Ucap eomma ahra.

“ne ahjung. Kau juga tambah cantik. Dimana anakmu?” tanya hyun ah.

“ah, sebentar ya, aku panggil dia dulu.” Ucap eomma ahra.

“AHRA! TURUN NAK, TAMUNYA SUDAH DATANG!” teriak eomma ahra memanggil ahra. Tak lama kemudian, ahra pun turun menggunakan dress putih selutut dan tanpa lengan. Ya, ahra sangat cantik malam ini. ahra melangkah menuju tempat duduknya. Ahra tak menyadari bahwa seorang namja di depannya sedang tersenyum kepadanya. Ahra mendongakkan kepalanya dan membelalakkan matanya.

“PARK CHANYEOL?!!!”

.

.

.

.

TBC

Gimana? Lanjut? I Just want to say :

“PLEASE RCL and DONT BASH”

Iklan

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s