Hate

hate

Hate

Author : Jung Seomi | Cast : Byun Baekhyun, OC | Genre : Angst | Rating : T

©The Story belongs to Jung Seomi. The Cast(s) isnt Hers

“Please forgive me. I know its my Mistake”

Just an Absturd Storyline! Hope Ya Like it 😀

———–

Aku terbangun ketika cahaya matahari membangunkanku dari tudurku, mataku mengerjap mengurangin intensitas cahaya yang mulai menembus kedalam retinaku. Aku menoleh kesamping, mendapati satu paket makan dan sebuah surat kecil di sampingnya. Aku menghela nafasku kemudian aku mengambil surat kecil itu dan merobeknya sebelum benda itu berakhir malang di tempat sampah.

Dengan brutal, kuhabiskan makanan itu tanpa sisa, sebelum melenggang masuk kekamar mandi yang kebetulan kosong, hari ini aku beruntung tak perlu antri panjang.

Setelahnya, aku segera bergerak perlahan meninggalkan ruangan dan pergi ke sekolah.

Entah bagaimana ini terjadi, aku selalu membencinya, seluruh sel ditubuhku tidak menyukainya, seluruh sistem syarafku menolaknya, setiap menangkap bayangnya, kedua mataku langsung terotomatis menajam, saat mendengar suatanya, telingaku terasa muak.

Aku tak menyukainya, dari ujung rambut hingga kaki. Dari sejak pertama kali aku melihatnya, aku selalu mengatakan padanya kebencianku yang paling dalam, bagiku, dia adalah orang yang menghancurkan kebahagiaanku. Melihat dirinya tersenyum seolah tak terjadi apapun membuatku semakin muak.

Ia mengambil segalanya dariiku, impianku, harapanku, kebahagiaanku, kebanggaanku, dia telah merenggut segalanya. Dia kini duduk ditaman bersama anak-anak kecil yang menghuni panti asuhan ini selain kami. Aku menatapnya dari jauh, wajahnya yang ceria saat bermain dengan anak-anak, senyum yang tak luntur dari bibir tipisnya, mata hitamnya yang berlapis obsidian, hidung bangirnya yang indah. Bagaimana bisa penjahat sepertinya memiliki wajah bagai malaikat? Hei! Apa yang aku pikirkan? Aku menggelengkan kepalaku dan mulai melangkahkan kakiku menjauh.

“Ah, baekhyun oppa? Kau mau pergi ke sekolah? Aku ikut!” Teriaknya menyusulku, aku menatapnya tajam, mengusir, namun dia membalasku dengan senyuman lembutnya.

“Aku bisa membantumu, oppa” ucapnya lagi aku menghindar dan menyuruhnya menjauh, kubenarkan letak batang besi yang menopang tubuhku.

“Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu!” Hardikku dingin, air mukanya berubah sendu, dan entah kenapa, ada perasaan aneh yang berkabut datang menelusup hatiku, karena tak tahan melihat ekspresi wajahnya, dengan segera, aku mengayunkan kruk ini agar membantuku berjalan dengan perlahan. Aku tak mau dibantu oleh orang yang telah membuatku kehilangan dua kakiku pada pertama kali kami bertemu.

Aku berjalan lambat menuju sekolah, tak kupedulikan dia yang masih setia berdiri di belakangku, terus mengikutiku

Namun langkahku berhenti tepat di lapangan olah raga milik sekolah, kulihat Luhan sedang menggiring bola diikuti oleh Sehun yang ingin sekali segera merebutnya, sedangkan kris masih terlihat santai di depan gawang menyaksikan Luhan dan Sehun berebut bola, melihat mereka semakin hebat membuat hatiku teriris

Dulu aku bagian dari mereka. Aku dulu adalah pemain yang paling baik diantara mereka, sebelum kemunculan kesialan itu. Aku menengok kebelakang, gadis itu masih berdiri disana menunduk, dia menangis, untuk apa dia menangis? Bukankah harusnya aku yang menangis? Harusnya dia bahagia telah menghancurkan mimpiku.

Aku tertawa sengit. Ia sedikit mendongak mendengar gelak tawaku. Luhan Sehun menghentikan kegiatan mereka dan menoleh kearahku. Begitu juga siswa lainnya, mereka menjadikanku objek pandang mereka, aku pun menyeret kedua kakiku meninggalkan tempat ini.

***

“Oppa, apapun akan kulakukan oppa, aku hanya ingin kau memaafkanku oppa, aku tahu aku telah melakukan kesalahan yang besar oppa, apapun yang kau mau, akan kulakukan,” ucapnya, dia bahkan sekarang telah berlutut di hadapanku.

“Aku mohon oppa, baekhyun oppa” ucapnya lagi, airmata telah mengalir sepanjang pipinya, aku mengalihkan tatapanku kearah lain, terlalu malas untuk menatapnya. Entah atau mungkin karena hal lain, hal yang paling tak aku suka adalah melihatnya menangis. Mungkin, karena aku rasa dia tak punya hak untuk menangis, atau hal lain yang aku sendiri juga tak begitu paham.

“Kau sungguh akan melakukan apapun?” Tanyaku. Dia mengangguk mantap. Aku tertawa sarkas

“Baik, bahkan, jika aku ingin kau… mati?” Tanyaku. Aku tak percaya aku mengatakan hal barusan? Apa yang tadi kuucapkan? Apa aku gila? Byun Baekhyun, kau bodoh.

“Ma-mati?” Dia tergagap. Wajahnya menunjukkan ekspresi tidak percaya, airmatanya tak keluar, entah apa artinya. Aku tertawa hambar.

“Sudah kuduga kau tak akan sanggup!” Ucapku dingin kemudian aku mendengar helaan nafasnya.

“Jika aku mati, kau akan memaafkanku?” Tanyanya serius. Aku menatapnya sebentar dan mengangguk, aku yakin dia tak benar-benar mau mati. Siapa yang mau mati hanya karena alasan bodoh seperti itu? Konyol, lagipula, aku tahu dia gadis yang cerdas.

“Baiklah,” ucapnya, “besok tengoklah mayatku,” lanjutnya sebelum pergi, aku tercengang, aku mendongak, menatap punggungnya yang menjauh dengan alis bertaut, dia tak benar-benar ingin mati kan? Bagaimana jika dia benar-benar mati?

Hei, baek, untuk apa kau memikirkannya? Biar saja dia mati! Tak ada efeknya untukmu, malah bagus kan jika dia mati, maka hidupmu akan tenang, tak ada bayang-bayang yang mengganggumu sepanjang hari kan? Tak ada yang setiap hari mengirimimu kartu-kartu ucapan maaf kan? Bukankah itu baik? – aku tertawa hambar akan pemikiran ini, entah logika akal sehatku sudah hancur, ada hal yang menolak didalam dadaku.

Aku kelihatannya mulai gila

***

Entah mengapa, malam ini aku justru kesulitan untuk tidur, pikiranku terbayang-bayang jika dia benar-benar melakukan bunuh diri. Hei! Baek, kenapa kau memikirkannya lagi? Memang kenapa jika dia bunuh diri?

“Aissh” aku mengacak rambutku sendiri karena kesal. Entahlah, pikiranku terus melayang-layang kepada jika ia benar-benar mati. Hey, dia kan tidak bodoh! Dia tak mungkin bunuh diri kan?

Kedua mataku tak kunjung tertutup. Seolah ada yang mengganjal di dalam dadaku, ada perasaan aneh yang tak kutahu, mungkin sebuah dorongan aku untuk keluar dari ruangan ini dan memastikan dia benar-benar tak berniat untuk membunuh dirinya sendiri. Aku menggeleng berusaha menepis pemikiran itu,

Yang pertama, dia tidak sebodoh itu untuk mati.

Yang kedua, memalukan sekali jika aku tiba-tiba keluar dan mastikannya tetap hidup

Akupun memilih mengabaikannya biarpun akhirnya insomnia adalah kejadian yang harus kualami. Malam ini benar-benar akan menjadi malam yang panjang. Tapi… bagaimana jika dia benar-benar bunuh diri? Aku bisa benar-benar membunuhnya, aku pun bangkit dari ranjangku, ku ambil sepasang batang besi yang biasa menemaniku, dan menyeretnya keluar,

Namun saat hendak memutar knop pintu kamarku, kuhentikan kegiatanku. Sedang apa aku? Kenapa aku peduli? Biarkan saja dia mati!

Aku pun kembali duduk. Namun entah logika dan perasaan ku berkebalikan. Seolah terjadi perang antara dua sisi dari tubuhku. Pada akhirnya, sisi ego ku menang dan aku tetap bertahan di kamar ini hingga pagi menjelang.

***

“Baekhyun Hyung! Baekhyun Hyung!” Cepat buka pintunya. Suara gedoran menggema di seluruh bagian kamarku. Aku segera bangkit dan mencari keberadaan kruk dan membawanya dengan terhuyung, separuh nyawaku belum berkumpul dengan sempurna.

“Hy-hyung!” Aku melihat kyungsoo yang berteriak tak jelas aku menghentikan gerakannya.

“Bicaralah yang jelas soo,” ucapku. Wajahnya yang panik membuatku khawatir. Tiba-tiba kyungsoo menangis dan memelukku erat, membuatku semakin khawatir.

“Kau baik-baik saja soo?” Tanyaku. Ia menggeleng kemudian menarik tanganku keluar. Aku tak peduli entah kyungsoo ingin membawaku kemana. Terserah dia saja.

Kedua mataku membulat, aku tercekat, seolah pasokan oksigen diudara terganti nitrogen seluruhnya, badanku gemetar dan dadaku sesak,

Dia benar-benar tampil sebagai mayat di hadapanku. Aku benar-benar takut sekarang, bagaimana bisa dia seperti ini? Apa dia gila? Apa dia bodoh?! Dia benar-benar… bunuh diri.

Lututku melemas, aku pun terjatuh. Mataku tak bekedip Aku menyesal, aku tak menyangka dirinya benar-benar  melakukannya, ada perasaan bersalah menyeruak di rongga dadaku. Apa yang telah kulakukan? Aku membunuhnya…

Airmataku terjun bebas dari pelupuk mataku, hingga semua memburam, suara-suara melenyap hingga aku kehilangan kesadaranku.

***

Pagi menjelang, seperti biasa, aku akan bangun dari tidurku, aku selalu menengok kesamping mencari makanan dan surat di sampingku. Namun, aku tak pernah mendapatkannya lagi. Aku tertawa hambar, bagaimana sekarang bisa-bisanya aku mencarinya ketika dulu aku membuangnya?

Dengan tertatih, aku menyeret kaki lemah ku keluar menuju balkon kamar. Aku menatap langit, gumpalan awan hitam menandakan ramalan pasti akan terjadinya hujan. Aku menutup mataku. Ingin aku kembali ke masa lalu menebus semua kesalahan gila yang pernah aku perbuat. Dosaku sudah sangat besar padanya, hanya karena masalah kecil yang membuatku tidak bisa berjalan, dia rela menghilangkan nyawanya. Oh Tuhan, kenapa aku buta? Kenapa aku tak pernah bisa melihat sisi baik dirinya?

Suara derap kaki mendekat, tanpa menoleh, aku tahu dia adalah Kyungsoo.

“Ada apa Soo?” tanyaku lemah. Kudengar helaan nafas dari Kyungsoo.

“Hyung, ini untukmu” aku melirik kyungsoo yang tersenyum kepadaku ia mengulurkan sebuah surat sebelum pergi, aku menatap surat itu sejenak sebelum terburu-buru menyobeknya.

Aku tak kuasa menahan tangisku sepanjang membaca surat kecil itu. Aku benar-benar bodoh dan buta. Seharusnya tuhan menghukumku sekarang.

Untuk itu, kumohon… Jangan maafkan manusia sepertiku, kumohon. Namun, bahagialah kau disana. Maafkan aku… aku benar-benar berengsek.

Aku tak membencimu, aku salah, penafsiranku pada perasaan yang selama ini ada bukan benci, melainkan… cinta.

Aku mencintaimu, akulah yang seharunya minta maaf padamu

***

Untuk Byun Baekhyun

Aku sudah melaksanakan janjiku oppa, oppa sudah memaafkanku kan? aku berharap oppa memberikan maaf oppa setelah semua yang kulakukan pada oppa. Semua, dari aku yang menghancurkan mimpi oppa, aku yang membuat oppa kehilangan kaki kiri oppa, aku adalah penhancur hidup oppa, maaf oppa

Maafkan lagi untuk yang satu ini, aku menyukai oppa, dari pertama kali aku melihat oppa, saat oppa menyelamatkanku dulu, saat setiap hari oppa memarahiku, dan kuanggap wajar, saat oppa dingin padaku, kuanggap bukan masalah. Semuanya jelas, aku pantas dibenci oppa…

Terimakasih oppa, dan maafkan aku, aku bodoh, aku bodoh oppa, maafkan aku… Maafkan aku membuatmu tak bisa meraih mimpimu, maafkan aku oppa…

Terimakasih, selamat tinggal oppa, semoga kau bahagia…

-FiN-

Ini Salah satu dari sekian banyak FF abstrud yang aku buat

Entah kenapa aku ngakak sendiri bacanya!

Abis aneh gini -_-

Maap aku jahatin Byun Baek,

Yodah, segini aja, Bye~

Iklan

14 pemikiran pada “Hate

  1. hikh.. Hikh ;(

    ff nya kren thor..
    Baek’ny jhat bgatttt
    msa gak bsa bdain bnci & cinta..
    Pntngnya kren thor..
    Ditunggu karya lainnya…
    fighting..

    Suka

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s