Trade Off chapter 1

1452389_552649688145198_293669464_n copy

Title: Trade Off chapter 1

Author: Chubby Kawaii 136 a.k.a CK136

Genre: Straight,Romance, Friendship, Angst, Hurt/Comfort, School life, Fantasy, AU

Rating: Teen

Length: Chaptered

Main Cast: Wu Yi Fan a.k.a Kris (kakak author ^0^) OC sebagai reader sekalian, dan Byun Baekhyun

Disclaimers: Saya pemilik sah alur cerita ini! Don’t copas without permission!

Cuap-cuap: epep nista ini tercipta berkat saya kena pelet Chanyeol, mikiran Chanyeol terus sampai melupakan suami sendiri *lirik Baekhyun, Tao bawa tongkat wushu*. Kata editornya awal-awal cerita alurnya terlalu lemot dan membuat bingung, tapi terus scroll aja nanti juga ngerti *paham kagak /plok*. Yaudah deh, selamat membaca yeorobun ^^

Summary: Trade off, setiap kisah kehidupan pasti memerlukan sebuah pengorbanan untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Baik itu fisik, materi, persahabatan, tali persaudaraan bahkan… cinta.

 

 

 

~~~***~~~STORY BEGIN~~~***~~~

 

 

 

 

 

Nampaknya awan-awan bergerak lambat, angin juga bertiup santai. Cahaya matahari pagi agaknya juga masih terlalu malas untuk sampai di jendela kamar seorang gadis remaja. Sayup-sayup terdengar langkah kaki berjalan kesana-kemari, menghentakkan telapak kakinya hingga debamannya bergetar sampai ke tempat tidur sang gadis. Ia membuka kelopak mata perlahan, suara burung yang kebetulan bertengger di pohon filicium samping kamar tidurnya sedikit menambah kebisingan. Tapi letak pohon filicium (yang sudah setinggi atap dan lumayan lebat itu) cukup strategis untuk menghalangi sinar matahari.

 

 

 

Seorang anak laki-laki membuatnya sedikit terkejut dengan cengiran khasnya. Ia melambai-lambai sembari duduk di kursi belajar sang gadis dan akhirnya membantunya menyikap selimut. Ia penopang dagu (kebiasaannya ketika menunggu gadis itu agar benar-benar bangkit dari tidur).

 

 

 

Mungkin karena tidak sabar dengan keleletan sang gadis yang luar biasa dia bergumam, “Kau mau sekolah tidak?”

 

 

 

Mata bulatnya mengerjapkan sebentar sebelum menjawab, “Tentu saja, tapi terburu-buru itu merupakan hal yang tidak baik.” belanya. Kalimat itu juga merupakan prinsip dasar hidup gadis itu. Tapi adakalanya kalimat itu salah. Ya, tergantung situasi dan kondisi.

 

 

 

“Cepat sana mandi! Aku bosan melihat wajahmu yang masih terbayang-bayang mimpimu tadi malam. Sekarang sudah pukul 6, aku yakin kau tidak ingin terlambatkan?”

 

 

 

Sang gadis memandangnya penuh binar, “Kau benar, aku hampir lupa untuk menceritakan mimpiku semalam.” ia bergegas ke kamar mandi, sementara anak laki-laki tadi masih terduduk di tempatnya.

 

 

 

Selang beberapa saat, sampailah ia di meja makan lengkap dengan seragam sekolah dan tas punggung. Ia mengunyah roti yang sudah diolesi selai kacang sambil mengenakan sepatu. Sebuah kebiasaan yang sebenarnya tidak disukai pamannya. Sarapan, ia paling suka ritual pagi ini, sebab jika dilewatkan maka kau akan lemas seharian karena kekurangan energi.

 

 

 

Ia menelan potongan terakhir rotinya, “Tadi malam aku bermimpi…” ucapnya memulai cerita, anak laki-laki tadi hanya duduk di sampingnya sambil patuh memasang telinga mendengarkan celotehannya, “Seorang laki-laki dengan jakun yang menggoda dan rambutnya yang halus berkenalan denganku di depan gerbang sekolah.”

 

 

 

“Apa ada aku disana?” selanya.

 

 

 

“Iya, mulutmu menganga lebar. Sepertinya takjub dengan ketampanan laki-laki yang aku ceritakan tadi.” ucapannya terhenti oleh cekikikannya sendiri.

 

 

 

Seorang nenek mendekat. Ia kelihatan celingukan bingung, seperti tengah mencari sesuatu, “Barusan kau bicara dengan siapa, Sekyung?”

 

 

 

Yang ditanya sedikit berkerut bingung, kemudian mulai mengerti kemana arah pembicaraan ini, “Aku bicara sendiri, halmonie.” dahi neneknya semakin berkerut. Mungkin cucunya ini sudah gila.

 

 

 

Anak laki-laki yang duduk di sampingnya tertawa terbahak-bahak, Sekyung merengut tak suka, “Aku rasa sudah waktunya berangkat sekolah, aku berangkat ya, nek.” pamit Sekyung.

 

 

 

“Hati-hati dijalan, jangan berjalan di tengah jalan raya. Ingat, selalu tengok kanan-kiri dulu sebelum menyebrang.” nasihat itu sudah menjadi sarapan tambahan setiap harinya bagi Sekyung. Sekyung hanya mengangguk paham. Dia bukan anak kecil lagi, seharusnya neneknya mengerti bahwa cucunya tidak akan melakukan hal yang jelas-jelas mengancam nyawanya.

 

 

 

Sekyung berjalan menusuri terotoal. Laki-laki di sampingnya masih terlihat penasaran, “Ceritakan lagi soal mimpimu tadi malam itu. Bagaimana bisa ada laki-laki yang lebih tampan dariku?” sombongnya.

 

 

 

Sekyung mendengus begitu mendengar penuturannya, “Yang jelas dia tinggi, kelihatan bijaksana, sepertinya anak orang kaya, dan jangan lupakan selera humornya. Kau jelas kalah telak jika disandingkan dengan dia, Baekhyun.”

 

 

 

Baekhyun (laki-laki yang berjalan di samping Sekyung) tersenyum meremehkan, “Mari kita lihat, jika mimpimu ini menjadi kenyataan seperti mimpi-mimpi sebelumnya dan ternyata orang yang kau impikan itu jelek, maka kau harus mematuhiku selama-lamanya.” tantang Baekhyun. Entah kenapa, tapi kebanyakan mimpi Sekyung selalu menjadi kenyataan.

 

 

 

Sekyung menyeringai, “Aku terima, tapi jika laki-laki yang ku impikan benar-benar tampan, maka kau yang harus menuruti kemauanku selama-lamanya.”

 

 

 

Mereka saling berjabat tangan, “Deal!” ucap Baekhyun maupun Sekyung tegas.

 

 

 

Seorang gadis melambaikan tangannya pada Sekyung. Gadis dengan perawakan tinggi, kulit sawo matang, mata indah yang dapat memikat siapa saja, dan jangan lupakan senyuman manisnya. Kadang Sekyung iri akan kecantikan temannya yang satu ini. Sedikit mengabaikan keberadaan Baekhyun, Sekyung segera berlari menyeberang jalan dan melempar senyum pada gadis tadi.

 

 

 

“Selamat pagi, Hyesun eonnie.” sapa Sekyung lengkap dengan senyum bodohnya.

 

 

 

Hyesun membalas senyum Sekyung dengan senyuman yang beribu-ribu kali lipat lebih manis. Sekyung bersumpah, jika dia seorang laki-laki, mungkin Hyesun sudah menjadi yeojachingunya, “Pagi juga, Kyungie.”

 

 

 

Sekyung sedikit melirik Baekhyun yang tengah menatap Hyesun tanpa kedip, dia berbisik pelan pada Baekhyun, “Awas di depanmu ada kotoran kucing.” Baekhyun reflek menghindar dan kepalanya terbentur tiang papan reklame cukup keras. Sekyung berusaha menahan tawanya, tapi tidak bisa. Dia seorang pecinta tawa, jadi cukup mustahil baginya untuk menahan tertawa pada saat melihat adegan selucu ini. Baekhyun berniat memukul kepala Sekyung tapi terhenti oleh ucapan Hyesun.

 

 

 

“Ada apa, Kyungie?” bingung Hyesun yang melihat Sekyung tertawa tanpa sebab.

 

 

 

Sekyung gelagapan. Perlu diketahui, Baekhyun hanyalah teman khayalan Sekyung, mereka sudah berteman semenjak Sekyung merasa kesepian karena ditinggal orangtunya yang mengembangkan bisnis mereka ke luar negeri. Dan Sekyung sudah berjanji untuk tidak mengatakan pada siapapun tentang Baekhyun. Dengan terbata-bata Sekyung berucap, “A… anu… itu eonnie. E… eum, tadi ada orang terpeleset diseberang sana. Hehehe…” bohong Sekyung.

 

 

 

Hyesun sudah menganggap Sekyung sebagai adiknya sendiri, ia sangat menyayangi Sekyung, “Tak baik mentertawakan orang yang tertimpa musibah, Kyungie.”

 

 

 

Sekyung mengangguk, ia menarik nafas lega karena Hyesun percaya apa yang ia katakan.

 

 

 

Tak terasa akhirnya kaki mereka sampai disebuah sekolah internasional. Dengan siswa-siswi yang pandai, dari golongan menegah ke atas, sampai pertukaran pelajar ataupun murid berbeasiswa. Sekyung sendiri termasuk beruntung bisa bersekolah disini. Dengan nilainya yang pas-pasan dan sering terkena hukuman dari guru kesiswaan, Sekyung seharusnya bersyukur masih bisa bersekolah disana.

 

 

 

Pagi ini, segerombolan namja anggota tim basket tengah bermain di lapangan. Sekyung memandang takjub kakak kelas pujaan hatinya. Dengan tinggi di atas rata-rata, rambut blonde, dagu runcing, mata tajam, dan jangan lupakan aura dinginnya. Namanya Kris, murid pindahan asal Kanada yang akhirnya menetap di Korea bersama saudaranya. Sudah lama Sekyung menggilai namja ini, semua kriteria Sekyung tergambar jelas diwajah Kris, sang kapten basket.

 

 

 

Dengan gesit Kris mendribble bola melewati lawan-lawannya. Meski ini hanya latihan tapi ia terlihat sangat serius. Sekyung tersenyum sendiri di pinggir lapangan. Hyesun tak mencoba menegur Sekyung, karena ia tahu bahwa Sekyung tengah menikmati pemandangannya. Banyak yeoja yang mendekati Kris, tapi ia terlihat sama sekali tak tertarik hingga sampai sekarang Kris masih saja sendiri.

 

 

 

Sama halnya dengan Baekhyun, ia juga tengah menikmati pemandangannya hanya saja objeknya berbeda. Sekyung menjitak Baekhyun hingga ia hampir terjatuh. Baekhyun hendak membalas pukulan Sekyung, tapi Sekyung sadar dan buru-buru berlindung di balik badan Hyesun.

 

 

 

“Eh~ kenapa pindah?” tanya Hyesun yang bingung atas kelakuan Sekyung.

 

 

 

Sekyung menggeleng, “Disana kurang strategis, wajah Kris sunbae tertutupi yeoja-yeoja genit itu.”

 

 

 

Pandangan Hyesun mengikuti arah telunjuk Sekyung. Lima yeoja dengan pakaian cheerleader tengah bersorak hingga membuat telinga berdengung. Sekyung tak suka genk yeoja itu. Ia pikir mereka centil, suka tebar pesona dan menjengkelkan. Sayangnya, mereka adalah anak orang kaya sekaligus terpandang yang merajai mayoritas pasar industri baik perdagangan maupun agraris di Korea (bahkan sampai sudah mengekspor ke luar negeri). Bibir Sekyung menjorok ke depan ketika melihat salah satu dari mereka menghampiri sunbae idamannya, Kris.

 

 

 

Hyesun menepuk halus punggung Sekyung, ”Tenang saja, Kris sunbae tak mungkin tertarik dengan yeoja semacam mereka.” Sekyung sedikit tersenyum.

 

 

 

“Hey~ kembalikan mulutmu ke letak yang seharusnya atau aku akan mengikatnya ke ring basket!” ancam Baekhyun yang sudah berdiri di belakang Sekyung. Dengan segera Sekyung menggembungkan pipinya, ia tidak ingin bibirnya diikat di ring basket yang begitu tinggi.

 

 

 

Sekyung kembali melayangkan pandangannya ke lapangan. Yeoja tadi masih disamping Kris dan beberapa detik kemudian menyerahkan air mineral pada Kris. Kris menerimanya dengan senyuman, membuat hati Sekyung terbang dan jatuh disaat yang bersamaan. Terbang karena senyuman menawan Kris dan jatuh karena senyuman itu bukan untuknya.

 

 

 

Sekyung mengerang ditempat, “Ayo kita pergi dari sini, eonnie! Cuaca kelihatannya sedang tidak bersabahat! Mataku perih!”

 

 

 

Hyesun menuruti kemauan Sekyung. Mereka sekedar duduk di kelas. Seharusnya ini pelajaran Kang songsaengnim, tapi sepertinya beliau belum hadir.

 

 

 

Wajah Sekyung semakin masam dan Hyesun tak ingin melihat itu, Sekyung seorang yang periang jadi bagi Hyesun ia tak pantas bersedih. Apalagi Baekhyun yang sudah jenuh melihat tampang itu setiap hari, pasti nanti Sekyung akan curhat habis-habisan padanya.

 

 

 

“Bagaimana kalau kita ke kantin saja?” ajak Hyesun.

 

 

 

Sekyung menggeleng cepat, “Aku tidak mau, tim basket dan cheerbodoh itu pasti pergi kesana setelah latihan selesai.”

 

 

 

“Benar juga.” ucap Hyesun yang baru menyadari kesalahannya, “Kalau begitu aku saja yang kesana, kau mau pesan apa?”

 

 

 

Sejenak mata Sekyung berbinar, “Hyesun eonnie ingin mentraktirku?”

 

 

 

Dan binar di mata Sekyung musnah ketika Hyesun menggelengkan kepalanya, “Tidak, aku hanya ingin membelikan pesananmu.” tangannya Hyesun mengulur di depan wajah Sekyung yang sedikit lebih pendek darinya.

 

 

 

Dengan sedikit tidak rela, Sekyung mengeluarkan uangnya, “Aku hanya ingin bubbletea.”

 

 

 

“Kau sudah tertular Sehun ya?” ejek Hyesun.

 

 

 

“ Kalau begitu ganti milktea saja.” ucap Sekyung ogah-ogahan dan menidurkan kepalanya ke atas meja.

 

 

 

“Jangan ngambek, Kyungie. Khekhekhe~” Hyesun melangkah pergi ke kantin. Hanya tinggal Sekyung sendirian di kelas dan ketika Baekhyun hendak mengikuti Hyesun Sekyung segera memberinya deathglare.

 

 

 

“Kau tidak lihat temanmu sedang berduka?” lirih Sekyung, sinar matanya nampak redup.

 

 

 

Baekhyun merengut sebal, “Kau juga tidak lihat jika bidadariku pergi?”

 

 

 

Keduanya seperti mengedepankan ego masing-masing, “Jika kita berbicara dengan pikiran maka tak akan ada habisnya, tapi hatiku tengah bisu sekarang.” ucap Sekyung terdengar lemah.

 

 

 

Baekhyun menghampiri Sekyung, “Aku minta maaf atas keegoisanku.” ujar Baekhyun tulus.

 

 

 

Sekyung memberi Baekhyun secercah senyum, “Aku sudah memaafkan segala kesalahanmu sebelum kau meminta maaf, teman.” mereka berpelukan sejenak kemudian tertawa bahagia.

 

 

 

“Lupakan soal Kris sunbaemu itu, coba kau cari pria lain yang sekiranya hatinya dapat kau capai.”

 

 

 

“Tapi hatiku sudah lama aku percayakan pada Kris sunbae, lagipula siapa yang menyukai gadis urakan sepertiku?” sedih Sekyung.

 

 

 

Baekhyun berpikir sejenak, “Kau benar.” canda Baekhyun yang membuat wajah Sekyung kembali mendung.

 

 

 

Hyesun kembali dengan dua cup minuman ditangannya, “Ini bubbletea mu.” Hyesun menyerahkan satu cup minuman pada Sekyung.

 

 

 

“Gamsa, eonnie. Kembaliannya mana?”

 

 

 

“Uangmu pas, Kyungie. Jangan mencoba memerasku terus.” Sekyung meringis bodoh, “Dan kenapa aku tadi mendengarmu tertawa sendiri? Bukankah di kelas tak ada orang tadi?”

 

 

 

Hyesun pasti mendengar percakapannya dengan Baekhyun, “Ah~ itu, aku hanya bicara sendiri.” ucap Sekyung jujur, ujung matanya menangkap ekspresi sedih Baekhyun.

 

 

 

“O, aku kira Sehun kemari.” goda Hyesun.

 

 

 

“Kenapa jadi membahas sepupumu itu sih, eonnie?” sungut Sekyung tak suka. Hyesun hanya memamerkan eyesmile-nya sebagai tanggapan untuk pertanyaan Sekyung.

 

 

 

 

======================***======================

 

 

 

 

Sekyung berjalan pulang dengan lesu, wajahnya nampak kusut, diikuti mendung yang menjalar sampai ke langit. Angin bertiup lumayan kencang dan itu membuat gadis SMA seperti Sekyung ketakutan. Kadang kilatan petir dan suara halilintar bersautan membuat sebuah lubang di langit. Awan-awan kelihatan semakin hitam dan bersiap menunggu aba-aba dari dewa hujan untuk mulai terjun ke bumi. Sepertinya dewa hujan, dewi fortuna, bahkan Tuhan sedang tidak berpihak pada Sekyung. Tiba-tiba hujan datang dari barat membuat Sekyung lari pontang-panting mencari tempat berteduh. Sebuah halaman dengan jejeran toko-toko cinderamata menjadi tempatnya bersembunyi dari hujan. Bajunya sedikit basah namun tak sampai membuat Sekyung kedinginan. Lumayan banyak orang yang juga sama nasibnya dengan Sekyung, mereka juga menghindari dinginnya air hujan.

 

 

 

Tak sengaja Sekyung mengenali seseorang dengan pakaian seragam yang sama dengan yang ia pakai tengah berteduh juga, wajahnya tak asing lagi dan otaknya langsung memberitahu bahwa orang yang ia lihat itu terdeteksi dalam ingatannya bernama Sehun, sepupu Hyesun. Sehun juga tengah menatap Sekyung, dengan senyum manis menghiasi wajah tampannya.

 

 

 

Sehun berpindah ke samping Sekyung, “Kau juga terjebak hujan?” Sekyung hanya tersenyum sambil berbisik dalam hati, kalau Sehun tahu jawabannya mengapa ia repot-repot bertanya?

 

 

 

“Kau satu kelas dengan Hyesun kan?” Sekyung mengangguk sekilas. “Aku sudah lama tak bertemu dengannya, meski kita satu sekolah.” Sekyung masih mempertahankan senyumnya, biar saja Sehun kira aku bodoh, karena aku tidak tahu harus meresponnya seperti apa. “Oh iya, aku baru ingat di sekitar sini ada café langgananku. Jika hujannya reda, bagaimana kalau kita memesan sesuatu yang hangat disana?” tawar Sehun.

 

 

 

Kali ini Sekyung nampak berpikir, menimbang-nimbang ajakan Sehun ‘Kenapa tidak kalau itu gratis khekhekhe~’ kemudian Sekyung mengangguk setuju. Sehun nampak senang bukan main.

 

 

 

Sehun masih asyik berbincang dengan Sekyung, meski sebenarnya yeoja itu hanya menjawab seadanya. Ia akan terkesan acuh pada orang yang tak begitu ia kenal, terlebih lagi jika orang itu bersikap seolah mereka teman dekat atau lebih kasarnya lagi sok dekat. Dan kesan pertama yang ia tangkap dari Sehun adalah dia sedikit menjenuhkan.

 

 

 

Obrolan mereka hanya berputar pada pelajaran sekolah dan mata pelajaran Kang songsaengnim yang menjemukan (matematika) menjadi porosnya. Tak ayal, karena Sehun adalah seorang ketua kelas yang dipilih langsung oleh guru killer itu (Kang songsaengnim).

 

 

 

 

Sekyung menggembungkan pipinya berusaha mengusir jenuh untuk menghormati Sehun yang telah mentraktirnya secangkir vanilla latte. Tangan Sekyung menyangga kepalanya dengan bosan.

 

 

 

“Kau tahu, aku sangat senang atas penemuan besar Albert Einstein dan mencoba untuk meneliti sesuatu. Aku diutus Kang songsaengnim untuk membuat sebuah penelitian yang nantinya akan dipresentasikan di Amerika. Hebat bukan bila aku bisa berdiri di hadapan orang-orang ternama?” Sekyung mengangguk kaku, “Dan oleh karena itu, aku ingin mengajakmu. Siapa tahu kita bisa berlibur ke Amerika.” ajak Sehun.

 

 

 

Sekyung menunjuk hidungnya sendiri dengan ekspresi kaget bercampur bodoh dan berlebihan seperti biasanya, “Aku? Murid yang selalu mendapat hukuman dari Kang songsaengnim kau ajak untuk mengikuti sebuah penelitian yang sama sekali tak aku pahami dan yang membimbingnya adalah Kang songsaengnim sendiri? Big NO, Sehun!” Sekyung menyilangkan tangannya di depan dada untuk memperkuat pernyataannya bahwa ia adalah seorang penentang besar dari Kang songsaengnim (kalau perlu Sekyung berniat untuk membentuk sebuah perkumpulan penentang guru killer yang selama ini telah sering kali menghukumnya).

 

 

 

Sehun mengerjab beberapa kali, masih belum bisa mencerna kalimat-kalimat yang terlalu cepat keluar dari mulut Sekyung, “Ah~ begitu, aku pikir kau tertarik dengan persoalan semacam ini.” ucap Sehun kikuk.

 

 

 

Sekyung ikut tersenyum kikuk, meski senyumannya lebih pantas disebut seringaian. Pelajaran Kang songsaengnim hanya akan membuat kepalaku meledak, jadi mana mungkin aku tertarik. Sejenak Sekyung menyesali pertemuannya dengan Sehun dan mengapa ia menerima ajakan Sehun untuk minum di café?

 

 

 

Hujan sudah reda dan sebelum perbincangan mereka semakin kaku, Sehun memutuskan untuk mengantarkan Sekyung pulang. Awalnya Sekyung sempat menolak karena rumahnya tinggal beberapa ratus meter dari sini, tapi Sehun tetap bersikeras. Hingga akhirnya Sekyung sudah berada di atas motor sport milik Sehun dan Sehun sebagai pengendaranya.

 

 

 

Sisa-sisa hujan masih terlihat. Di langit terlihat awan yang tadinya hitam menggumpal menjadi suatu awan putih yang sedikit menyembunyikan guratan cahaya jingga. Aspal yang mereka lewati juga masih tergenang air.

 

 

 

Pohon filicium menyambut kepulangan Sekyung dengan lenggokan yang menggugurkan beberapa helai daun dan rintikan air. Sekyung turun dan mengajak Sehun untuk mampir sebentar, “Lain kali saja, Sekyung. Annyeong.” Sehun kembali mengenakan helmnya sebelum hilang tertelan belokan jalan.

 

 

 

Baekhyun tiba-tiba muncul dihadapannya, “Kemana saja kau?” tanyanya sarkastik.

 

 

 

“Hanya mampir di café bersama teman.”

 

 

 

“Kau yakin Sehun hanya temanmu?” goda Baekhyun.

 

 

 

Sekyung berjalan di depan, “Jangan ikut-ikutan seperti Hyesun eonnie!”

 

 

 

Baekhyun terlihat tertawa bahagia melihat raut jengkel Sekyung, “Kenapa? Aku pikir kalian terlihat cocok.”

 

 

 

Sekyung memandang Baekhyun tak suka, “Aku dan Sehun seperti kutub utara dan selatan, kami berada di kubu yang berbeda. Kau tahu guru yang sering menghukumku itu kan?” Baekhyun mencoba mengingat-ingat kemudian ia mengangguk, “Kami sering memanggilnya Kang songsaengnim. Sehun merupakan murid kesayangannya sedangkan aku sangat membenci guru menyeramkan itu.” Sekyung melipat tangannya kesal.

 

 

 

“Tapi bukankah kutub utara dan kutub selatan saling tarik-menarik?” Baekhyun menaikkan alisnya mencoba menggoda Sekyung lagi, Sekyung menampakkan raut frustasinya, “Kau mengerti maksudku? Pelajaran fisika.”

 

 

 

Sekyung melenggang lalu memasuki rumah, “Aku tidak pandai fisika!” ketusnya.

 

 

 

Nenek Sekyung yang mengetahui kedatangan cucunya segera mendekat dengan sebuah rajutan syal yang baru setengah jadi, “Ibumu tadi menelpon, dia bilang kau harus menelponnya jika sudah datang.”

 

 

 

“Iya, halmonie. Nanti Sekyung akan menelpon eomma.”

 

 

 

Nenek Sekyung mengusap kepala Sekyung dengan sayang, “Bagus, segera ganti baju dan makan dahulu.”

 

 

 

“Iya, halmonie.” patuh Sekyung.

 

 

 

Sekyung melihat Baekhyun yang sudah terlebih dahulu memasuki kamar Sekyung, kemudian ia menyusulnya.

 

 

 

Sekyung menutup pintu kasar lalu membanting tas menyusul tubuhnya ke atas ranjang, ingatannya berputar pada senyum Kris.

 

 

 

“Jangan terlalu dipikirkan, masih banyak namja yang lain, yang lebih keren dari Kris, yang lebih tampan dari Kris, yang lebih…”

 

 

 

“Mungkin…” potong Sekyung, pikirannya berlarian kemana-mana, “Tapi… Kris sunbae adalah satu-satunya orang yang berhasil merebut hatiku. Jatuh cinta itu sulit, Baekhyun. Dan tak bisa dipaksakan.” Sekyung memiringkan tubuhnya ke arah Baekhyun yang terduduk di tempat biasa, kursi belajarnya. Sekyung tersenyum miris. Ia memilih bangkit dan mendekati Baekhyun. Tangannya mengusap pelan meja dan kursi yang sudah lama tidak ia gunakan, “Aku tak ingat kapan terakhir kali belajar disini… dengan eomma yang selalu menyuruhku belajar dan belajar. Eomma bilang ‘Seorang murid tugasnya hanya belajar, jadi kau harus belajar yang rajin agar nilai matematikamu membaik, Sekyung.’” Sekyung menghembuskan nafas kasar, “Kapan aku bisa melewati momen itu lagi, Baekhyun? Aku rindu appa, aku rindu eomma, aku rindu saat-saat dimana aku bisa tertawa bersama mereka, dan mereka mengajarkanku apa arti kehidupan yang sesungguhnya.” Sekyung mengangkat pandangannya, “Terimakasih telah bersedia menemaniku dan menjadi temanku, Baekhyun.” Sekyung tersenyum tulus.

 

 

 

Baekhyun menunduk, menyembunyikan matanya yang berair, “Aku hanya sebatas teman khayalanmu, imajinasimu, aku tidak nyata, tapi kau yang membuatku nyata dan merasa berarti juga dibutuhkan. Kita teman, Sekyung. Meski kau sudah bahagia nanti, aku ingin kau selalu mengenangku. Meski aku hanya fatamorgana, dan… terkadang aku menjengkelkan.” pandangan mereka terkunci, “Aku merasakan kebahagiaan akan datang menyelimutimu. Aku ingin kau tersenyum, bukannya bersedih seperti ini. Kau seorang lord of happiness ingat itu.”

 

 

 

Sekyung berlari memeluk Baekhyun, “Berjanji untuk jangan bersedih lagi dan kembali tersenyum.” Baekhyun menarik halus sudut bibir Sekyung hingga membentuk sebuah senyum sederhana namun begitu terasa berharga, “Aku begitu merasakan aura kuat bahwa Tuhan sebentar lagi akan mempertemukanmu dengan seorang malaikat. Mungkin Tuhan memberitahu cluenya lewat mimpimu waktu itu.”

 

 

 

Baik Sekyung ataupun Baekhyun tersenyum, “Aku berjanji pada Baekhyun bahwa aku tidak akan pernah bersedih lagi meski dihadapi masalah sebesar dan sehebat apapun.” Sekyung mengucapkannya dengan mantap dan penuh keyakinan.

 

 

 

“Nah begitu, aku suka Sekyung yang seperti ini.” Baekhyun meraih gagang telepon untuk Sekyung, “Ini, cepat telpon eommamu.”

 

 

 

Sekyung menerimanya dan memencet nomor yang sudah ia hafal diluar kepala, ia meletakkan gagang telponnya di daun telinga. Terdengar telponnya mulai diangkat.

 

 

 

“Halo…”

 

 

 

“Eomma…” lirih Sekyung.

 

 

 

“Eoh~ anak eomma. Sudah pulang ya? Tadi habis dari mana?”

 

 

 

“Sekyung tadi hanya mampir di café sebentar, eomma.”

 

 

 

“Sekolahmu lancarkan?”

 

 

 

Ia menjawab sedikit ragu, “I… iya, eomma.”

 

 

 

“Eomma harap bisa segera kembali ke Korea. Rencananya bulan depan tapi appamu belum menentukan tanggalnya. Kelihatannya ia masih repot mengurusi proposal untuk meetingnya akhir bulan ini.”

 

 

 

“Tak apa, eomma. Kita bisa berbincang lewat telpon.”

 

 

 

“Ya sudah, sampaikan salam eomma untuk halmonie ne.”

 

 

 

“Ne, sampaikan salam juga Sekyung untuk appa ya, eomma.”

 

 

 

“OK. bye dear.”

 

 

 

“Annyeong, eomma.”

 

 

 

Sedikit lega, rasanya seperti ada yang terisi kembali di puzzle di hati Sekyung. Baekhyun ikut tersenyum melihatnya.

 

 

 

Tak berapa lama, handphone Sekyung bergetar. One message from eomma. Tumben sekali eommanya mengirimi pesan? Dengan penasaran Sekyung membukanya.

 

 

 

from: oemma

 

 

Ada yang ingin eomma kenalkan denganmu. Besok dia yang akan datang ke Korea. Jadi eomma harap Sekyung mau menjemputnya di bandara.

 

 

 

Sekyung membalas,

 

 

 

from: Sekyung

 

Siapa, eomma?

 

 

 

from: eomma

 

Nanti kau tahu sendiri.

 

 

 

Sekyung benci dengan sikap eommanya yang satu ini, membuat rasa penasarannya membuncah hingga ia tak bisa tidur. Sebenarnya siapa yang akan datang besok? Appanya? Teman bisnis appanya? Atau mungkin…

 

 

 

 

^^^^^^^^^^^^^^^TBC^^^^^^^^^^^^^^^

 

Penasaran? Kalau begitu silakan di RCL ^^

Iklan

10 pemikiran pada “Trade Off chapter 1

  1. Izinn baca ya chingu:))
    Wowowooo baekhyun ternyata temen khayalnya, seru ii punya temen khayal. Sekyung kayaknya suka banget ya sama kris hihihi
    Siapa yg mau ketemu sama sekyungg? 😮

    Suka

  2. Ff nya keren bgt kak, ini pertama kalinya kau baca ff yang ada temen khayalan gitu, ide nya seger bgt, juga pengen punya temen khayalan seganteng baekhyun😍

    Suka

  3. annyeong author..aku nii reader lama yg habis hiatus, hahahahaa, *ga mau kalah sma author
    aku terusin baca nde..

    oia aku kira cowo yg di dlam mimpinya sekyung itu kris, tpi kaya’a bukan yaa??? apa yg baru mau dteng itu???

    Suka

  4. Wah suka ff nya, bahasanya ringan, karakter oc nya juga bagus. Aku penasaran sama kelanjutannya, apalagi baby baek ada. Fighting thor, ditunggu next chaptnya secepatnya ‘-‘9

    Suka

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s