Trade Off chapter 2

kris chanyeol copy copy

Title: Trade Off chapter 2

Author: Chubby Kawaii 136 a.k.a CK136

blog: (https://chubbykawaii136.wordpress.com)

facebook: (https://www.facebook.com/chubby.kawaii.136)

twitter: (https://www.twitter.com/chubbykawaii136)

Genre: Straight, Romance, Friendship,Little comedy, Angst, Hurt/Comfort, School life, Fantasy, AU

Rating: Teen

Length: Chaptered

Main Cast: Sekyung (OC) sebagai reader sekalian, Wu Yi Fan a.k.a Kris (masih kakak author ^0^), Oh Sehun, Hyesun (OC), Byun Baekhyun, dan *nama disamarkan*

Disclaimers: Saya pemilik sah alur cerita ini! Don’t copas without permission!

Summary: Trade off, setiap kisah kehidupan pasti memerlukan sebuah pengorbanan untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Baik itu fisik, materi, persahabatan, tali persaudaraan bahkan… cinta.

Sekyung benci menunggu, tidak ada yang lebih dibenci gadis itu selain menunggu. Eh~ tapi tunggu dulu, mungkin berbohong juga perilaku yang ia benci.

 

 

Berulang kali ia menguap lebar tapi pesawat yang ia tunggu belum juga mendarat. Jemari lentiknya bergerak resah, ada hal yang lebih penting untuk ia lakukan selain menunggu seseorang yang sama sekali tidak Sekyung ketahui. Lebih baik ia diceramahi Kang songsaengnim atau berbincang dengan Sehun mengenai aljabar ataupun trigonometri.

 

 

Sekyung mengamati kerumunan orang yang berlalu lalang, ia duduk di kursi tunggu sendirian dengan selembar kertas bodoh bertuliskan namanya. Ibunya bilang orang yang akan dia jemput sudah mengetahui namanya jadi dia hanya tinggal mengangkat kertas itu tinggi-tinggi agar orang tadi tahu akan keberadaannya. Hampir satu jam ia jenuh menunggu di bandara Incheon. Baekhyun ikut menguap, sepertinya ia sama bosannya dengan Sekyung.

 

 

“Lebih baik kau beli kopi untuk mengusir rasa kantuk, aku sudah tertular.” Baekhyun merentangkan tangannya lalu mencari posisi tidur yang pas.

 

 

Sekyung bangkit, setidaknya ia tak punya ide lain untuk menghilangkan rasa bosannya selain celetukan Baekhyun tadi. Sekyung memesan satu cup kopi panas. Ia menunggu sembari tetap memasang mata dan telinga. Siapa tahu pesawat yang ia tinggu sebentar lagi akan mendarat.

 

 

‘Pesawat dengan nomor penerbangan xxxxxxxxxx dari New York telah mendarat.’

 

 

Sekyung menerima kopinya lalu membayarnya. Ia membungkuk sopan dan berjalan kembali ke tempat Baekhyun tertidur. Tapi pemuda itu malah memandangnya seakan-akan ada bencana hebat, “Loh kenapa kau malah disini?” Sekyung menunjuk cup kopinya lalu kembali menyeruputnya pelan, Baekhyun menepuk jidatnya, “Pesawat yang dari tadi kau tunggu-tunggu sudah mendarat, Sekyung. Jangan jadi bodoh disaat genting seperti ini!”

 

 

Sekyung tersedak karena kaget, “Jinjja? Ah~ kenapa tidak memanggilku dari tadi?” gerutu Sekyung. Buru-buru ia lari ke arah kerumunan.

 

 

Baekhyun mendengus, “Masih mending ku beri tahu.” ia kembali ke posisi semula untuk kembali tidur.

 

 

Sekyung berdesak-desakan, ia sebisa mungkin menyelamatkan cup kopinya, Ini dibeli dengan uang dan aku baru meminumnya sedikit, jangan sampai tumpah! Sekyung berhasil menerobos ke barisan depan, ia berusaha mengangkat tinggi-tinggi kertasnya. Dan sebuah peristiwa tak mengenakkan (yang Sekyung tidak mungkin lupakan seumur hidupnya) terjadi…

 

 

Hari ini bandara Incheon benar-benar sarat akan manusia. Mereka saling dorong hingga seseorang di belakang Sekyung tak sengaja mendorongnya. Sekyung tak bisa lagi menjaga keseimbangannya dan limbung ke depan. Bertepatan dengan itu seorang pria tinggi lengkap dengan koper besarnya tengah melintas di depan Sekyung. Dan…

 

 

Byuuuuurrrrr…..

 

 

Secangkir kopi panas yang berusaha Sekyung jaga agar tidak tumpah akhirnya berhasil mendarat di kemeja namja dihadapannya. Mata Sekyung membulat sempurna, Tuhan tolong aku! Sejenak mata mereka bertemu, tatapan namja itu menyiratkan amarah yang membara, Hey nona, ini kemeja mahal, kau harus tahu itu!

 

 

Kaki Sekyung gemetar hebat karenanya, hatinya merongrong agar mulutnya segera terbuka dan mengucapkan kata maaf. Tapi yang ada Sekyung malah mematung di tempat, mulutnya serasa dikunci, lidahnya terasa kelu, dan punggungnya tak mau disuruh membungkuk.

 

 

Namja tadi merebut kertas Sekyung, dan Sekyung hanya diam tanpa perlawanan sama sekali. Ia melihat Baekhyun tengah berguling-guling sambil memegang perutnya yang sakit karena terlalu keras mentertawakannya. Mata Sekyung sudah memerah, takut-takut namja dihadapannya akan memarahinya dan memakinya habis-habisan.

 

 

Sejenak namja tinggi itu mengamati tulisan yang tertata rapi di atas kertas. Matanya kembali menatap Sekyung yang semakin tegang, keringat dingin mengalir di kening Sekyung. Namja tadi tersenyum tipis. Tampan, namun Sekyung tak tahu pasti apa arti dibalik senyumannya. Ia mencondongkan tubuhnya ke Sekyung membuat Sekyung reflek melangkah mundur, meski hanya satu langkah karena kakinya masih gemetar dan semakin melemas.

 

 

Ia meletakkan bibirnya tepat di samping telinga Sekyung, aroma mint tercium kuat dihidung Sekyung. Namja itu mulai membuka mulut, “Nama yang indah…” ucapnya pelan, lebih terdengar seperti desahan halus yang memabukkan.

 

 

Sekyung cengo, tak tahu apa yang harus ia lakukan. Tanpa sadar mulutnya menganga lebar. Namja tadi sedikit menggeser wajahnya ke hadapan Sekyung. Mata mereka beradu. Ya Tuhan, jangan buat aku mengompol disini! jerit Sekyung dalam hati. Sebelah tangan namja tadi bergerak ke atas dan berhenti di dagu Sekyung, sedikit memberinya senyum sebelum mengangkat pelan dagu Sekyung agar bibir atas dan bibir bawahnya kembali menyatu, “Jangan menunjukkan ekspresi itu, kau terlihat sangat bodoh.” bisiknya lagi, masih terdengar menyerupai desahan lembut. Nafas hangatnya menerpa wajah Sekyung, membuat semburat merah tercetak jelas dipipi Sekyung.

 

 

Namja tadi menegakkan badannya dan meraih salah satu dari tangan Sekyung, ia menyerahkan kembali kertas Sekyung sebelum kembali mendorong koper besar dan troli untuk pergi bersamanya. Jantung Sekyung berdetak tak karuan dibuatnya. Belum pernah ia merasa seperti ini, meski Kris memandangnya sekalipun. Ini pertama kali bagi Sekyung. Dan rasanya sangat… luar biasa.

 

 

Suara berisik orang yang saling mendorong kembali terdengar, mengembalikan Sekyung ke dunianya. Baekhyun tersenyum bodoh disampingnya dan segera menarik Sekyung untuk kembali duduk di kursi tunggu.

 

 

Sekyung masih memegangi dadanya yang tetap berdetak kencang, Baekhyun menatap Sekyung bingung, “Kau kena serangan jantung?”

 

 

Sekyung malah tersenyum mendengarnya, “Sepertinya begitu.”

 

 

Baekhyun menggeleng, ia merasa sesuatu yang tak wajar terjadi pada sahabatnya ini, “Aku pikir kau benar-benar gila.”
Sekyung mengangguk tanpa sadar, “Ini semua karena namja tadi. Aku pikir namja itu akan marah lalu memintaku untuk menyerahkan seluruh uangku untuk mengganti kemeja bermereknya yang telah aku tumpahi kopi. Kemudian menyeretku ke pengadilan untuk segera dituntut atas kasus perlakuan tidak mengenakan dan dipenjara seumur hidup. Tapi…” Sekyung menggeleng sambil terus tersenyum di tengah ucapannya, “ternyata ia hanya mengambil kertasku, membacanya, dan dia bilang bahwa namaku… indah.” Sekyung semakin tenggelam dalam imajinasinya.

 

 

“Aku pikir seharusnya aku mengantarmu ke psikiater. Kau kelihatan sudah tidak waras, Sekyung.”

 

 

Telinga Sekyung pura-pura tuli. Ia sengaja tak mendengar kata-kata Baekhyun. Pikirannya kembali melayang jauh. Sebuah rupa menawan, ciptaan Tuhan yang begitu agung mulai memenuhi kepalanya. Ia mengingat kembali bagaimana senyum pria tadi, bagaimana cara ia berkedip, bagaimana suara baritonnya terdengar, bagaimana ia…

 

 

“Baru kemarin kau mengatakan bahwa jatuh cinta itu sulit, tapi sekarang buktinya kau malah melamun seperti ini.” potong Baekhyun mencibirnya.

 

 

Sekyung menggenggam gelas kopinya yang telah kosong penuh rasa sayang, “Bukannya aku jatuh cinta, Baekhyun…” elak Sekyung, “Hanya saja pria tinggi tadi sangat mirip dengan yang ada di mimpiku kemarin malam. Kau masih ingat cerita tentang mimpiku itu kan?” Baekhyun mengangguk, “Nah~ dia mirip sekali, tapi kenapa kami tak bertemu di depan sekolah? Kenapa malah di bandara dan dengan cara yang memalukan seperti ini?” Sekyung membekap mulutnya seolah ia baru menyadari bahwa rudal Korea Utara sudah menghantam Seoul, “Aku lupa meminta maaf padanya! Baekhyun, tolong sembunyikan aku! Aku takut dipenjara! Aku masih muda! Aku belum menjadi seorang istri! Aku masih ingin merasakan bagaimana bahagianya menjadi seorang ibu! Aku mau melihat cucu-cucuku dulu! Baekhyun~~” rengek Sekyung. Orang-orang yang kebetulan melintas di depan Sekyung sedikit prihatin, mereka pikir Sekyung adalah anak autis atau paling tidak orang gila yang baru keluar dari panti rehabilitasi.

 

 

Baekhyun mulai risih dengan tingkah Sekyung, “Lihat, semua orang memandangmu aneh, Sekyung. Hentikan aksi bodohmu. Mereka tak mungkin bisa melihatku, nanti kau dikira orang gila betulan.”

 

 

“Tapi bagaimana jika aku bertemu dengan namja itu lagi? Bagaimana kalau aku dimintai ganti rugi? Bagaimana kalau harga kemejanya itu jutaan won? Oh tidak! Orangtuaku akan bangkrut! Baekhyun~~~”

 

 

Baekhyun menutup mukanya malu, “Jika ada yang bertanya apa aku mengenalmu, aku pasti akan menjawab ‘tidak’. Kau membuatku malu, Sekyung.”

 

 

 

======================***======================

 

 

 

Rasa bersalah dan ketakutan Sekyung menguap kembali menjadi buih-buih kejenuhan. Sudah lebih dari satu jam ia mengangkat kertas yang sedari tadi ia genggam. Hingga kertas itu kusut, tulisannya mulai kabur, dan tangan Sekyung sudah menangis pegal, orang yang ditunggunya belum juga keluar dari dalam bumi.

 

 

Sekyung menurunkan tangannya bersamaan dengan sebuah tarikan nafas yang panjang dan terdengar berat. Sejenak ponselnya bergetar. Ibunya menelpon.

 

 

“Annyeong eomma…” suaranya sedikit serak.

 

 

“Halo, sayang. Eomma hanya ingin menyampaikan. Dia bilang sudah sampai di Seoul dan bertemu denganmu.”

 

 

“Ha~?” keluh Sekyung tak mengerti.

 

 

“Eomma disuruh menyampaikan bahwa dia menyuruhmu pulang saja. Ternyata saudaranya ada yang tinggal di Seoul.”

 

 

Telinga Sekyung memanas, keluar asap dari lubang telinganya karena marah besar. Sekyung melemparkan pandangannya pada Baekhyun penuh kilatan amarah, “Ya sudah! Sekyung pulang!” tanpa mengucapkan salam Sekyung segera menekan tombol merah dan mengantongi ponselnya.

 

 

Langkahnya terkesan ditarik-tarik, sepertinya kaki Sekyung kesemutan karena terlalu lama berdiri. Sepasang tangannya membentuk kepalan dan meremas kertas yang ia bawa hingga menjadi bulat dan melemparnya tepat ke dalam tempat sampah. Baekhyun mengekor, bulu kuduknya berdiri, ia takut melihat seorang Sekyung marah besar, ia takut langit mengeluarkan petirnya dan keluar tanduk dari kepala Sekyung.

 

 

Sekyung menendang apa saja, “Apa-apaan orang itu! Dia bilang aku dirusuh menjemputnya di bandara, tapi kenapa ia malah pergi dengan siapa tadi…” Sekyung berusaha mengingatnya.

 

 

“Saudaranya yang ada di Seoul.” ingat Baekhyun.

 

 

“Iya benar. Lalu eomma bilang orang itu sudah sampai di Seoul dan bertemu denganku! Hello~ dari tadi pagi aku berdiri hingga matahari sudah berada di atas kepala tapi tak seorangpun yang mendekatiku! Tahu begini aku tidur saja di rumah!” Sekyung menendang sebuah kaleng softdrink dengan kencang.

 

 

“Adawww…” seseorang yang berdiri beberapa meter di depannya mengaduh kesakitan. Ia mengusap kepalanya yang sedikit benjol dan memungut kaleng softdrink yang ditendang Sekyung. Matanya berusaha mencari sang pelaku.

 

 

Sekyung berlari ke belakang kursi dan mengamati korban tak bersalahnya, mulutnya kembali terbuka lebar, “I… itu… Kris sunbae…” gagap Sekyung. Wajahnya mengkerut seketika, “Sunbae idamanku terkena… aish~” Sekyung mengacak rambutnya frustasi, “Eothokke, Baekhyun? Bagaimana aku bisa keluar dari sini? Aku rasa ini hari tersial yang pernah ada!”

 

 

Baekhyun yang masih tetap berdiri menggeleng maklum pada tindakan ceroboh yang dilakukan Sekyung, “Dia tidak melihatmu menendang kaleng itu, bodoh! Cepat keluar dan segera pulang! Aku mau tidur di kamarmu.”

 

 

“Ish~ dasar bossy!” Baekhyun mengangkat bahunya ringan lalu berjalan duluan.

 

 

 

======================***======================

 

 

 

Keesokan harinya di sekolah…

 

 

Matahari memberikan sinar hangatnya, dipayungi beberapa awan kecil. Langit terlihat cerah dengan beberapa kupu-kupu dan burung yang sibuk melakukan aktivitas masing-masing. Sama halnya dengan Sekyung, ia sedang berdiri di pinggir lapangan seperti hari kemarin, ditemani Hyesun dan Baekhyun tentunya.

 

 

Bola mata Sekyung tak pernah lepas dari Kris, seolah namja itu telah mengikat pandangan Sekyung pada ia seorang.

 

 

Tanpa Sekyung sadari seorang namja dengan senyuman dan beberapa lembar kertas ditangannya telah berdiri di sampingnya, “Annyeong Sekyung, annyeong Hyesun.” sapanya.

 

 

“Annyeong, Sehun. Lama tak berjumpa.” balas Hyesun. Sementara Sekyung belum sadar juga. Hyesun menyenggol tubuh Sekyung cukup keras.

 

 

“Ada apa, eon?” tanya Sekyung polos. Hyesun reflek menunjuk Sehun. Namja itu tersenyum kalem.

 

 

“Oh~ hai Sehun…” ucapnya singkat lalu kembali fokus ke lapangan basket.

 

 

“Ini, aku membawa titipan Kang songsaengnim, songsaengnim bilang ini khusus untukmu.”

 

 

Sekyung menatap Sehun tak percaya, “Khusus?” ucapnya sedikit berteriak, “Berarti hanya aku seorang yang menerima tugas ini?” Sehun mengangguk. Hyesun tersenyum lalu menggeleng. “Tapi… seingatku aku tak melakukan pelanggaran apapun, aku juga tenang saat pelajaran Kang songsaengnim tempo hari, lalu kenapa aku bisa mendapat tugas khusus ini?” bingung Sekyung.

 

 

“Entahlah, mungkin kau murid favorit Kang songsaengnim.” demi Tuhan, Sekyung pasti sudah meminta Sehun untuk mengeluarkan lidahnya dan memotongnya secara paksa karena telah berbicara sengelantur itu, tapi itu tidak akan terjadi selama akal sehatnya masih berjalan.

 

 

Sekyung menyandarkan tubuhnya pada tiang disampingnya dengan lemas, “Mungkin…”

 

 

“Krreeeeaaassseeeee……” teriak seseorang dengan suara baritonnya yang khas. Tangan panjangnya melambai pada sang kapten basket diikuti senyum tampan yang sebenarnya dapat membuat anak tk menangis kelimpungan karena takut.

 

 

Orang-orang terkaget-kaget bahkan menjerit histeris (karena mayoritas yang berada di lapangan adalah yeoja).

 

 

“Aigo… tampannya!”

 

 

“Apa dia pangeran baru, kyaaaa!”

 

 

“Aku belum pernah melihatnya, siapa dia? Astaga, tampan sekali!”

 

 

“Aish~ dia kyeopta bukan tampan!” gadis-gadis anggota cheerleader mulai berkasak-kusuk.

 

 

Kris menghentikan permainannya sejenak dan berjalan mendekati sang pemanggil, “A-yo, what’s up bro?” sapanya dengan suara yang sama. Mereka sama-sama tinggi, suara mereka sama-sama dalam, sama-sama berwajah tampan, dan mungkin masih banyak persamaan lain yang belum diketahui. Para gadis semakin menggila, teriakan mereka hampir membuat kaca-kaca pecah.

 

 

Sekyung tak menghiraukan hiruk-pikuk yang terjadi, ia masih manyun memikirkan nasibnya dengan tugas Kang songsaengnim. Sementara mata Hyesun terlihat penuh binar, belum pernah ia terlihat seperti itu. Sekyung hendak pergi ke kantin untuk sekedar menghibur dirinya yang tengah berduka (atas hadiah yang diberikan Kang songsaengnim) tapi mendadak Hyesun mencegahnya.

 

 

“Tunggu, Kyungie. Mau kemana?”

 

“Ke kantin, aku mau menenangkan diri. Disini berisik sekali.”

 

 

Hyesun membalikkan tubuh Sekyung kembali ke lapangan dan menuding seorang namja tinggi yang kini ikut bermain basket bersama Kris dan kawan-kawannya, “Kau lihat itu, namja itu… apa kau kenal dia?”

 

 

Sekyung menajamkan indra penglihatannya, ia mengamati postur tubuhnya, cara ia berjalan, Sekyung sepertinya pernah melihat ini tapi dimana? Dan ketika wajahnya terlihat… tak sengaja ia melayangkan pandangannya ke arah Sekyung dan melambai dengan senyum aneh. Mata Sekyung hampir melompat keluar.

 

 

 

~~~Sekyung POV~~~

 

 

Itu… namja itu… dia… AAAAAAA~ aku menjerit dalam hati. Eomma, tolong anakmu! Dia namja yang aku tabrak dengan kopi panasku di bandara kemarin. Iya, tidak salah lagi itu dia! Dan apa tadi yang ia lakukan, melambai sambil tersenyum ke arahku? Ah~ tidak tidak, mungkin aku hanya besar kepala. Siapa tahu dia kenal dengan seseorang di sebelahku, belakangku, atau dimana saja asal bukan aku. Uh~ setelah ini aku ingin operasi plastik agar tidak ada seorangpun yang mengenali. Aku masih takut pada namja itu.

 

 

Hyesun eonnie malah menjerit kecil dan semua suara jeritannya masuk dengan lancar ke telingaku, membuatnya berdengung sebentar.

 

 

Aku harus segera melarikan diri, iya! Harus! Tanpa menjawab pertanyaan Hyesun eonnie aku segera tancap gas ke kantin. Hyesun eonnie masih tak bergerak dari tempatnya. Aku tidak peduli, sekarang yang harus dipikirkan adalah bagaimana caranya menyingkir dari sini. Sehun dengan perlahan menyamakan langkahnya dengan langkah cepatku.

 

 

“Ada apa, Sekyung? Wajahmu memucat.” tanya Sehun khawatir.

 

 

OK, sekarang mukaku pasti tengah mempertontonkan ekspresi ketakutan yang konyol dan berhasil membuat anak buah Kang songsaengnim ini membuntutiku, “Tak apa, Sehun. Aku hanya lapar saja, tadi aku tidak sempat sarapan karena terburu-buru.” bohongku, dan untungnya Sehun percaya itu.

 

 

Sehun mengangguk paham, “Kalau begitu ayo ke kantin. Aku akan mentraktirmu jelly.” wah~ namja ini… aku tidak tahu bahwa orang yang dekat dengan guru semacam Kang songsaengnim bisa sebaik dia.

 

 

Aku mengganti ekspresi wajahku dengan tersenyum bahagia, “Ayo~” ucapku semangat.

 

 

Kami memilih kursi paling pojok. Sehun membawa dua jelly dan menyerahkan salah satunya padaku, “Aku dengar kau suka coklat.” dan benar saja, jelly yang teronggok di depanku berwarna coklat dengan topping krim coklat dan taburan permen warna-warni. Tahu begini aku akan berteman dekat dengan Sehun kemudian mengajaknya ke restoran Italy setiap harinya. Haha~ teman yang jahat. Tidak, aku tidak separah itu. Aku bukan tipikal orang yang memanfaatkan kebaikan orang lain, terkecuali bila hal itu menyangkut yang mulia Kang Songsaengnim.

 

 

“Eoh~? Dari mana kau tahu?” tanyaku ringan sembari melahap satu sendok jelly.

 

 

“Dulu Hyesun sering menceritakanmu.” balas Sehun.

 

 

Aku mengangguk, “Ya, Hyesun eonnie benar-benar sudah ku anggap sebagai kakakku sendiri dan kami sudah berteman dari jaman meolitikum jadi tidak heran kalau kami sudah mengenal seluk-beluk masing-masing.” Sehun tersenyum, menghilangkan bulatan matanya menjadi bulan sabit, “Kau dan Hyesun eonnie saudara sepupu kan?” Sehun mengangguk sebelum kembali menyuap, “Tapi~ kenapa sepertinya kalian kurang dekat?” Sehun terbatuk begitu mendengar pertanyaanku, mungkin tersedak, “Ups, bukan maksudku lancang tapi…”

 

 

“Gwaenchanayo, aku hanya terburu-buru menelan tadi.” kilahnya, “Kami dekat kok, hanya saja setelah aku berpindah rumah ke distrik gangnam kami jadi jarang bertemu.” aku membulatkan bibir, “Hyesun juga pernah bilang kau tidak suka pelajaran berhitung.” dia sedikit mencondong ke depan dan berbisik sangat lirih, bahkan kalau bukan karena kantin yang sepi aku pasti tak dapat mendengar suaranya, “Dan kau sangat membenci Kang songsaengnim.” aku menegang ditempat, sedikit menyesal bahwa Hyesun eonnie mengetahui rahasia ku yang teramat sangat aku jaga ini. Aku beri tahu satu sifat yang membuatku sedikit membenci Hyesun eonnie, dia bukan seorang penyimpan rahasia yang baik. Entah kenapa, tapi dia menceritakan pada orang lain hal-hal yang aku anggap tabu dan hanya dia dan aku saja yang boleh tahu.

 

 

Aku hanya meringis bodoh dan mengalihkan konsentrasiku pada jelly yang sudah sedaritadi aku abaikan.

 

 

“Hyesun bilang kau juga suka bubbletea.

 

 

“Sebenarnya aku lebih suka sejenis kopi.”

 

 

“Owh~ menarik, seperti cappuchino, moccachino, espresso, atau…”

 

 

“Aku lebih suka latte, chocolatte atau vanilla latte seperti yang kita minum di café waktu itu.”

 

 

“Lalu… kalau aku boleh tahu, mengapa kau tidak suka pelajaran menghitung?”

 

 

Topik ini lagi, aku sudah sebisa mungkin menghindarinya tapi sepertinya setiap kali aku berbincang dengan Sehun akan berakhir seputar angka.

 

 

Well, sebenarnya sangat sederhana. Aku tidak suka hal yang merepotkan, membingungkan, dan semakin lama menjadi semakin menjenuhkan seperti pelajaran menghitung. Hanya ada angka, angka dan angka. Aku tahu sebenarnya matematika hanya bermainan angka antara 0 sampai 9. Tapi satu-satunya perhitungan yang aku sukai hanya sampai 6+6.” Sehun mengeryit bingung. Aku berdiri ingin menunjukkan pada yang ku maksud pada Sehun, “1+1 gwiyomi, 2+2 gwiyomi, 3+3 gwiyomi, 4+4 gwiyomi, 5+5 gwiyomi, 6+6 gwiyomi.” aku kembali duduk sebagai akhir dari pertunjukan bodoh yang hanya berlangsung tak sampai satu menit. Sehun terlihat takjub atas gerakan gwiyomi yang aku praktekan. Kemudian selang beberapa saat kami tertawa bersama disusul suara riuh dari arah pintu masuk kantin. Tim basket pasti sudah selesai latihan.

 

 

Aku kembali merasakan firasat yang tidak enak, bagaimana kalau namja itu kemari, meminta ganti rugi dihadapan seisi sekolah. Apa yang akan aku lakukan nanti? Tapi aku sedang bersama Sehun, dan sejauh ini dia orang yang baik, mungkin saja ia bermurah hati dan mau menolongku.

 

 

Dan dugaanku benar, Kris sunbae dan kawan-kawannya menyerbu tempat duduk dan segera memesan minuman dingin. Semua gadis (terkecuali aku) melingkar di sekeliling anggota tim basket. Aku sedikit gerah melihat sunbae-sunbae anggota cheers bertingkah genit pada Kris sunbae. Kalau aku punya bulldoser aku pasti sudah melindas mereka!

 

 

Ini suapan terakhir, jelly kami sama-sama habis. Seseorang berlari ke kantin dan bingung untuk duduk dimana. Semuanya penuh, tinggal tersisa satu tempat duduk di meja ku dan Sehun. dan orang itu adalah… namja yang aku tumpahi kopi T^T. Aku mulai bergerak tak nyaman, ingin segera pergi dari sini.

 

 

Firasatku benar lagi! Sial! Aku mengumpat dalam hati. Setiap meja terdiri dari tiga kursi, dan mengapa Tuhan mentakdirkan kursi di meja ini yang tersisa?! Kemana Hyesun eonnie? Seharusnya kursi ini untuknya!

 

 

“Boleh aku bergabung?” tanyanya, Sehun malah mengangguk . Diam-diam aku sedikit menggeser kursiku lebih dekat dengan Sehun.

 

 

“Tentu silakan.” jawab Sehun sopan.

 

 

Setelah duduk dia malah menatapku tajam lalu mengarahkan telunjuknya, wajahnya menyiratkan sebuah kalimat oh~ jadi kau yang merebut kekasihku?! Itu hanya sebuah kalimat penjelas, aku tidak mungkin merebut kekasihnya karena dia seorang namja, dan aku masih straight.

 

 

“Sekyung…” teriaknya, aku hampir mematahkan kaki meja saking kagetnya.

 

 

 

^^^^^^^^^^^^^^^TBC^^^^^^^^^^^^^^^

 

 

Saya harap anda para SILENT READER segera beraubat dan sadar akan dosa anda!!! RCL juseyo ^^

Iklan

8 pemikiran pada “Trade Off chapter 2

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s