Afraid [Spec Tao’s Day]

afraid

Afraid

Author : Jung Seomi | Cast : Huang Zitao & You | Genre : Fantasy, romance | Rating : T

©Fanfic purely mine. Just borrow name of the cast.

“I want to be with you, forever”

This Story dedicated for Our Lovely Panda Maknae! Happy B’day Huang Zi tao!

—————

Huang Zitao mendongak menatap cantiknya langit malam. Suara senyap lullaby tidak membuatnya kunjung mengantuk. Tubuh kokohnya bertarung tatap dengan langit. Jutaan kemilau bergulat dengan gelapnya malam.

“Zi tao? Kau tidak merasa kedinginan?” seorang gadis duduk di samping ZiTao. Ia datang bersama bungkusan jaket wol menutupinya. Sedikit heran dengan Tao yang keluar dengan sehelai kemeja tipis. Membuat sang gadis bergidik, mencoba membayangkan dinginnya udara yang langsung menyerang dan menusuk tulang.

“Hei Ivy, kau tidak ingat siapa aku?” tanya Zitao. Pemuda itu menjauh dan berjalan mendekat pagar pembatas lantai atas. Ia kemudian berdiri dan menaikkan lengannya kanan dan kirinya. Ivy menghela nafasnya dan berjalan mendekati pemuda yang berdiri dengan tubuh kokohnya di samping pagar. Ivy mengikuti arah tatap Zi Tao. Pemandangan seluruh isi Seoul dapat di lihat dari tempat ini.

Ia melirik pemuda di sampingnya, kemudian pandangannya beralih pada kemeja tipis yang dikenakannya.

“Sungguh, aku baik-baik saja, aku menyukai dingin” ucap Zitao dengan mengulum Senyum. Ivy mendesah berat. Ia melirik arloji di tangannya sebelum kembali menatap Zi Tao.

“Aku tahu dengan benar siapa dirimu, Tuan Huang, tapi bersikaplah seperti manusia normal! Kau bisa dikira gila keluar dengan kemeja super tipis di malam musim dingin. Aku bisa memahaminya, tapi dunia tidak hanya di tinggali kita berdua,” ucap Ivy berupa omelan panjang lebar. Sedangkan Zitao terkekeh geli mendengarnya. Ia menutupi mulutnya berusaha menahan gelak tawanya. Namun ekspresi super marah Ivy membuat perutnya semakin terkocok.

Ia akhirnya mengatur air mukanya dan tersenyum pada Ivy, ia menatap kedua iris hitam legam Ivy yang berlapis obsidian. Ivy juga melakukan hal yang sama. Saling seperti itu hingga beberapa saat. Saling menjerat dan terjerat, mereka tak akan sanggup keluar dari jeratan masing-masing.

Tangan Zitao terangkat naik. Permukaan kulitnya mulai bersentuhan dengan pipi Ivy. Ivy hanya tersenyum saat tangan dingin Tao yang kontras dengan suhu badannya saling bersentuhan. Tao membelai lembut pipi Ivy. Meskipun tangan Tao adalah miniatur dari dinginnya samudra antartik, tapi Ivy tak pernah sekalipun berniat menolak tangan dingin itu menyentuhnya. Ia menikmati setiap belaian Tao di kulit wajahnya dengan memejamkan matanya.

“Kau cantik, Ivy” ucap pemuda itu dengan senyum yang menegaskan keseriusan dalam ucapannya.

“Aku tau” jawab Ivy setengah bercanda. Kedua manik mata mereka saling melempar pandang, Namun Ivy mengakhiri kontak mata itu dengan memilih menolehkan kepalanya kesamping, menatap pemandangan gedung bertingkat yang mencakari langit.

Tak lama, ia merasakan udara dingin menyengatnya lagi. Sepasang lengan melingkar pada pinggannya. Rasa dingin yang menyelimuti keduanya terabaikan. Zitao memeluk Ivy dari belakang. Ia tenggelamkan kepalanya pada ceruk leher Ivy menikmati harum sakura yang menguar kuat dari tubuh gadis cantik yang telah resmi menjadi kekasihnya itu. Ivy menikmatinya, matanya kembali terpejam. Saling seperti itu dalam beberapa menit kedepan.

“Kau tidak mengantuk, Nyonya Huang?” Tanya Tao memulai percakapan yang terputus. Ivy menoleh ke samping berusaha untuk melihat wajah Tao dari sudut pandangnya. Pipinya bersemu merah mendenga panggilan dari Zitao

“Margaku belum menjadi Huang” keluh Ivy kesal. Sedangkan Tao hanya tertawa mendapat rengutan dari kekasihnya. Namun setelah tawa Tao padam, tak ada lagi suara selain desiran angin yang berhembus mengujam dingin lebih dalam lagi pada orang-orang yang masih beraktivitas.

“Zitao?” Ivy memulai percakapan

“Heum?”

“Aku takut…” ucap gadis itu dengan nada sendu. Tao menatap kedua belah matanya dalam-dalam“Aku takut jika kita tak bisa bersama” lanjutnya dengan nada lirih. Zitao melepaskan pelukannya ia menghadapkan tubuh Ivy di depannya. Dipegangnya bahu Ivy sebelum ia mengangkat dagu sempurna milik Ivy.

“Kita pasti bisa.” Jawab Zitao mantap. Ivy menghela nafasnya. Arah pandangnya menuju bintang yang bersinar terang di langit. Tujuannya, ia tidak ingin membiarkan airmatanya jatuh, itu sebabnya ia mendongak, beralasan melihat bintang.

“Kita berbeda, Zitao, aku ingin menjadi sepertimu, tapi kau selalu menolaknya” ucap Ivy lemah, senyum lemah dan sendu terukir di bibirnya. Melihatnya, Tao merasa di hantam batu besar. Tangan besar Tao terangkat lagi mengusap pipi Ivy, menghapus airmata yang berhulu dari pelupuk matanya.

“Kau akan menjadi sepertiku Ivy, jika sudah waktunya” ucap Zitao, ia tak melupakan senyumnya yang paling lembut. Tangannya menggenggam erat tangan hangat Ivy dan memberikan kekuatannya.

Ivy menghapus kasar airmatanya. Ia kembali melirik arlojinya. Airmukanya langsung berubah ceria. Ia menatap Zitao dengan sumringah. Ia kemudian menunjukkan arlojinya. Pukul dua belas malam? Zitao mengerutkan dahinya.

“Selamat ulang tahun ke tigaratus delapan puluh enam, Huang Zitao!” ucap Ivy ceria. Zitao tertawa, ini ulang tahunnya yang di rayakan setelah lebih dari tigaratus tahun lama hidupnya. Ia memang makhluk abadi.

“Terimakasih, aku saja hampir melupakannya” ucap pemuda itu dengan tawa.

“Bohong, makhluk sepertimu tidak akan pernah melupakan sesuatu, iya kan?” tanya Ivy lagi. Zitao mengangguk sebagai jawaban. Ia ingat, namun tak memikirkannya, hanya itu yang terjadi. Ia kemudian menarik Ivy duduk di lantai.

“Enak tidak jadi vampir? Hidup selamanya?” tanya Ivy. Zitao menoleh.

“Ada enaknya, ada tidaknya juga” jawab Zitao.

“Aku ingin menjadi vampir. Aku ingin bersamamu, dan bersamamu lagi, selamanya” ucap Ivy dengan nada serius. Dengan santainya, Zitao menanggapinya dengan tawa santai sembari mengusak rambut Ivy yang sudah tertata rapi.

“Baiklah, kau akan selalu bersamaku, aku akan mengubahmu jika saatnya kau berubah, dear” jawab Zitao. Ivy merengutkan bibirnya. Ia ingin menjadi vampir hari ini juga. Namun ia tak bisa, dan tak pernah  bisa mengelak Tao. Ia akhirnya memilih berkutat dengan ponselnya.

“Kenapa kau benar-benar ingin hari ini juga menjadi Vampir?” tanya Zitao. Ivy menoleh dan menatap Zitao.

“Agar bersamaan dengan ulang tahunmu” ucap Ivy sebagai jawaban.

“Kalau begitu, tunggu tahun depan, Huang Ivy” ucap Tao lagi, jawaban yang tak membantu, justru membuat kedua pipi Ivy bersemu warna merah. Mau tak mau, ia mengangguk sebagai jawaban.

Tao tersenyum, ia mengeliminasi jarak diantara keduanya. Bibir dingin pemuda berdarah dingin itu akhirnya bersentuhan dengan belahan bibir milik Ivy. Keduanya saling menyalurkan perasaan cinta masing-masing yang tersirat disana.

-FiN-

Iklan

5 pemikiran pada “Afraid [Spec Tao’s Day]

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s