[Chapter Six] Dandelion: Family Wannabe

dandelion2

Author: doremigirl | Casts: Oh Sehun (Sehun EXO), OC | Genre: Romance | Rating: Teen 

Suatu hari, ibuku mengabarkan padaku, bahwa ia akan dipindahtugaskan ke Wina untuk sementara waktu. Ia bertanya padaku, apakah ia akan ikut dengannya atau tidak.

Saat itu, tanpa pikir panjang aku mengiyakan. Aku sedang menganggur. Ujian untuk persiapan masuk ke dalam universitas masih beberapa bulan lagi. Aku bisa ke Wina dalam rangka rekreasi.

Kami berangkat menuju bandara pagi-pagi sekali. Dengan mata yang masih setengah mengantuk, aku mengikuti langkah cepat ibu menuju ruang tunggu.

Namun sesaat kemudian, mataku membulat ketika melihat seorang laki-laki ber-sweater merah sedang duduk di salah satu kursi. Laki-laki itu memakai topi, namun aku begitu yakin itu adalah dia.

.

.

Sehun.

.

Refleks, aku berjalan cepat menghampirinya. Apa yang sedang ia lakukan di sini? Ke mana ia saat aku mencarinya beberapa waktu yang lalu?

.

“Sehun..,” panggilku pelan. Entah mengapa suaraku menjadi serak ketika melihat sosoknya yang semakin dekat.

Aku sungguh berharap aku sedang menyapa orang yang salah. Laki-laki itu terlihat begitu kurus. Tubuhnya bersandar begitu saja di atas kursi, terlihat begitu lunglai, dan lemas.

Tuhan, tolong biarkan aku menyapa orang yang salah.

“Sehun..,” panggilku lagi.

Harapanku tidak terkabul. Leher laki-laki itu bergerak, ia menoleh kepadaku. Kedua iris mata itu..

Butuh beberapa waktu bagi laki-laki itu untuk mengenaliku. Ia mengerjap beberapa kali, sebelum akhirnya berkata, “.. Hyo?”

Seharusnya aku senang karena dapat melihatnya lagi. Namun entah mengapa, aku jadi ingin menangis melihat sepasang lingkaran hitam di bawah matanya.

Sebenarnya apa yang terjadi selama beberapa bulan ini? Seingatku, saat kelulusan ia masih terlihat begitu baik.

Aku mengambil tempat duduk di sebelahnya. “Aku.. akan menemani ibuku ke Wina,” jawabku. “Tapi aku akan kembali dalam tiga bulan..,”

Ia hanya mengeluarkan oh pelan. Hening menyelimuti kami berdua. Begitu lama, sampai rasanya menyesakkan dada. Aku akan segera boarding beberapa menit lagi.

Manik mata kami saling berlarian, tidak berani menatap satu sama lain. Sungguh, suasana ini begitu aneh. Kami berdua larut dalam kecanggungan.

“Kau.. ke mana saja beberapa bulan ini?” tanyaku.

Sehun menatapku. Ekspresinya terlihat begitu lelah, entah mengapa. Kedua mata itu seakan bisa menutup kapan saja. Dia tidak terlihat fit untuk ukuran orang yang akan berpergian jauh.

“Aku ada di rumah,” jawabnya singkat.

“Tapi mengapa kau tidak membukakanku pintu?” tanyaku lemah. Andai ia tahu, aku begitu mengkhawatirkan dirinya. Aku khawatir terjadi sesuatu padanya.

Sehun terdiam. Kedua matanya hanya menatap mataku. Mulutnya sedikit terbuka, terlihat hendak mengatakan sesuatu. Namun, tak lama kemudian ia menelan kembali kalimatnya.

Melihat dirinya yang terlihat sedang tidak sehat, aku tergerak untuk menyentuh dahinya. Panas.

“… Kau sakit,” kataku pelan. Laki-laki itu terbatuk sebentar, dan hanya diam.

.

“Aku tahu,”

Aku kemudian menelan ludahku. Aku tidak bisa meninggalkan Sehun seperti ini. Aku tidak bisa pergi ke Wina, dan bersenang-senang. Sementara ia di sini, berjuang mengobati dirinya sendiri.

Sehun selama ini hidup sendiri. Kedua orang tuanya sudah meninggal karena kecelakaan, meninggalkannya yang masih berumur lima tahun. Sehun kecil begitu sering bermain denganku, karena ibuku adalah kawan baik dari ibunya.

Walau ibuku sering sekali meminta Sehun untuk menginap di rumah, Sehun dan kakaknya menolak. Kakaknya – yang saat itu berumur tiga belas tahun – berjuang keras untuk menghidupi mereka berdua dengan bekerja sebagai pelayan di sebuah kafe.

Kini, kakaknya sedang melanjutkan studi di Australia, sementara Sehun sendirian di Korea. Sudah jalan tiga tahun kakaknya melanjutkan studi di negeri kangguru itu. Kendati Sehun adalah orang yang sangat baik dalam menyembunyikan perasaannya, aku sering kali mendapati ekspresi rindunya pada keluarga satu-satunya itu.

“Kau jangan khawatir. Nikmatilah perjalananmu ke Wina,” kata Sehun sambil melempar senyum lemah. Ia kembali terbatuk. Aku terdiam, ia memang pintar membaca ekspresi orang.

Walau dia berkata seperti itu, ia tahu ia tidak akan pernah bisa menghilangkan kekhawatiranku terhadapnya.

“Aku ke sini untuk mengantarmu pergi. Jika ujung-ujungnya kau tidak pergi, untuk apa aku datang ke bandara pagi-pagi buta seperti ini, huh?” katanya dengan nada yang dibuat sebal. Ternyata ia ke sini untuk mengantarku, bukan untuk berpergian ke suatu tempat.

Sekeras apapun ia berusaha, aku tetap khawatir.

Melihat ekspresiku yang tidak berubah, tangan hangatnya membungkus tanganku, menyusupkan kehangatan di sela-sela jemariku. Membuatku nyaman.

“Jangan khawatir. Aku baik-baik saja. Sungguh, aku hanya butuh istirahat,” bisiknya di telingaku.

Besides, it’s not worth it for you to refuse to go to Wina only for a three-days-cold,” katanya sambil tertawa kecil. Ia kemudian menyandarkan kepalanya di bahuku, kedua lengannya merengkuhku, membawaku ke dalam pelukannya yang hangat.

Aku seakan dapat mendengar degup jantungku sendiri saat itu. Terdengar begitu jelas. Perasaan bahagia itu membuncah bagai kembang api yang memercik di langit saat pergantian tahun. Aku takut ia dapat mendengar degup jantungku. Sesaat kemudian aku teringat perkataannya saat kami duduk di sekolah menengah dulu.

Seorang sahabat jatuh cinta pada sahabatnya sendiri.. tidak salah, bukan?

Aku mendapati diriku membungkam karenanya. Rasa khawatir itu mulai berkurang, karena kenyamanan yang ia tawarkan.

“Jika kau sampai di Wina, kirimkan e-mail padaku tentang betapa bagusnya tempat itu. Atau.. mungkin kita bisa berhubungan lewat skype?” bisiknya. Kali ini, bisikan itu terdengar begitu dekat dengan telingaku. Napasnya terasa hangat.

“Pasti,” kataku ringan.

Hening menyelimuti kami berdua lagi. Beruntung suasana bandara sedang sepi, jadi aku dan dia tidak terlihat begitu aneh.

Can you promise me something?” tanyanya.

About what?”

Ia kemudian mendorong bahuku pelan, kemudian menatapku lekat-lekat. Jemarinya menyusuri wajahku, menyibak rambut panjangku.

Kemudian, tanpa kata ia mendekatkan wajahnya. Bibirnya menyentuh bibirku dengan lembut. Kurasakan diriku membalasnya. Bahkan kenyataan bahwa kami sedang berada dalam bandara sejenak terlupakan.

.

.

Ia kemudian berhenti, dan menjauhkan wajahnya, meninggalkan wajahku yang memanas. “Comeback safely,” pesannya.

Dengan canggung, aku mengangguk.

.

Ia kemudian tersenyum, dan menunjuk ibuku yang baru saja kembali dari membeli beberapa kaleng minuman. Ia beruntung, karena menghentikan ciuman itu tepat saat ibu belum kembali. Jika tidak, aku tidak mengerti bagaimana menjelaskannya pada ibu.

Ibu kemudian menghampiri Sehun, sambil memberikannya sekaleng minuman dingin. Rupanya ibu menelepon Sehun, dan memberitahunya bahwa aku serta ibu akan pergi ke Wina. Laki-laki itu bertanya kapan jadwal penerbangan kami, dan ia segera menyusul begitu tahu hari ini aku akan pergi.

Kedua lengkung sabit itu kembali terbit di wajah Sehun ketika ia bercakap dengan ibuku. Ia adalah laki-laki yang begitu sopan, begitu kata ibuku. Dari kecil, sampai sekarang, perilakunya tidak pernah berubah.

Tanpa sadar, aku tersenyum lembut ketika melihat Sehun dan ibuku. Mereka berdua terlihat seperti pasangan ibu dan anak. Hatiku mendadak hangat, dan pikiranku melayang.

Andai mereka berdua tahu, inilah gambaran keluarga yang sangat ingin kumiliki.

Iklan

15 pemikiran pada “[Chapter Six] Dandelion: Family Wannabe

  1. aah kenapa baru kali ini nemu ff bagus kek gini aak;;;
    actually aku baru nemu ff dgn alur yg tepat. karna selama ini nemunya alur lambat yg bahkan beberapa chapter itu setting waktu cuma sehari geez-_- dan beda bgt sama dandelion ini! really not this point jugasih yg bikin aku naksir sama ff ini, baik cerita sama castnya bener2 bisa dikemas jd aku yg baca serasa beneran waah authornim jjang! keep it simple yes, authornim, utk chapter selanjutnya!

    Suka

  2. huaaaaaaaa 😥
    kerennnnn! tapi, ntah knp aku rasa sehun kayak pemakai narkoba gitu disini kan di prolog nya dia di penjara(?) iya kan thor? *kepo + sotoy* next chap buruan thor!!!! mianhae baru bisa coment di chap ini thor… *bow*

    Suka

  3. wahh ff nya bgus banget feel nya dapet aku suka banget tpi mnurut ff nya pendek banget klo boleh d.panjangin sdikit supaya lebih memuaskan oke #maaf terlalu panjang komen nya..
    lanjut ya thor keep writing and fighting:-D

    Suka

  4. aduuuuhhh author. kenapa pendek2 amat? jadi kurang puas+penasaran banget!
    aku suka ff ini,bahasanya itulohh… keren dah thor ffnya!
    cepet cepet dilanjut yah thor chp selanjutnya..
    kamsanida^^

    Suka

  5. demi Tuhan, aku dag-dig-dug-ser -apaan–‘) baca part ini.. Trus feeling aku sama sehun juga salah, ohh yaa kkaebsong~ *balik kepelukan bacon* -abaikan–‘) seperti biasa feelnya selalu ngena.. Ohya tadi aku nemu typo pas paragraf 1 yang harusnya ‘aku’ itu saeng ktik ‘ia’. Yang lain, -perfect- . Dan now, aku ngerasa si sehun kaya kena penyakit parah gitu.. Trus mreka ga bakal bersama gitu.. -Weleh- semoga ga bener ya.. Semoga cman perasaan aku ajah ya.. -apaancoba?–‘) karena jujur, aku pengennya happy ending.. Udah cukup si Hyo itu sakit hati,, Saeng berenti membuat Hyo menderita!!! /teriak pake tao/ ok, maap komennya kepanjangan -banget- so, udah segini aja.. Ditunggu next chapternya,, 😉

    Suka

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s