Trade Off chapter 3

chapter 3copy

 

 

 

Title: Trade Off chapter 3

Author: Chubby Kawaii 136 a.k.a CK136

blog: (https://chubbykawaii136.wordpress.com)

facebook: (https://www.facebook.com/chubby.kawaii.136)

twitter: (https://www.twitter.com/chubbykawaii136)

Genre: Straight, Romance, Friendship, Angst, Hurt/Comfort, School life, Fantasy, AU

Rating: Teen

Length: Chaptered

Main Cast: Sekyung (OC) sebagai reader sekalian, Park Chanyeol, Wu Yi Fan a.k.a Kris (masih kakak author ^0^), Oh Sehun, Hyesun (OC), dan Byun Baekhyun

Disclaimers: Saya pemilik sah alur cerita ini! Don’t copas without permission!

Summary: Trade off, setiap kisah kehidupan pasti memerlukan sebuah pengorbanan untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Baik itu fisik, materi, persahabatan, tali persaudaraan bahkan… cinta.

“Kalian saling kenal?” bingung Sehun. Aku menggeleng cepat.

 

 

“Belum.” jawab suara dalam di depanku. Aku mulai gemetar. Hwaaaa…. kemana perginya si bodoh Baekhyun disaat seperti ini! Ia menyodorkan sebelah tangannya padaku, “Park Chanyeol imnida.”

 

 

Dengan ragu aku menjabat tangannya, hangat. Aku baru saja ingin menyusun kalimat perkenalan yang pas tapi dia (Park Chanyeol) buru-buru menimpali, “Aku tahu namamu, Sekyung.” sahutnya mengingatkanku akan kejadian memalukan itu. Arght~~

 

 

Aku hanya mencoba tersenyum meski terlihat aneh, “Senang bertemu denganmu.” demi seluruh makhluk yang hidup di muka bumi! Setelah ini aku akan mencuci lidahku karena telah mengeluarkan kata-kata nista tadi.

 

 

Kami mulai berbincang ringan (dengan aku yang beralih posisi sebagai pendengar). Aku kadang menimpali ucapan Sehun dan sedikit tersenyum (terpaksa) untuk kalimat Park Chanyeol.

 

 

Park Chanyeol, kesan pertama yang aku dapat darinya adalah pribadi yang riang dan begitu cerah, berselera humor tinggi, dan ekspresi yang berlebihan seperti tinggi badannya.

 

 

Baekhyun tiba-tiba muncul dan menuding sesuatu (atau mungkin lebih tepatnya seseorang) di belakangku. Aku menoleh dan mendapati Kris sunbae berjalan ke meja kami. Ku rapikan anak rambut dan bertingkah seanggun mungkin.

 

 

“Yeol, aku tinggal ke kelas dulu ya, kau sudah tahu kelasmu kan?”

 

 

Chanyeol sunbae mengangguk, “Tenang saja, Kris. Ada Sekyung disini.” loh? Apa hubungannya denganku?

 

 

Hyesun eonnie datang setelah kepergian Kris sunbae, ditangannya terdapat satu cup greentea kesukaannya. Aku menarik salah satu kursi yang sudah ditinggal pemiliknya dan sedikit menggeser kursiku lebih dekat dengan Sehun. Aku tidak mau mengambil resiko untuk duduk disamping Park Chanyeol. Hyesun eonnie berterimakasih lalu duduk disampingku. Sekarang urutan duduknya menjadi aku-Hyesun eonnie-Park Chanyeol- lalu Sehun. Sedikit bernafas lega karena ada jarak antara aku dan namja yang masih setia memampangkan senyumnya padaku. Hyesun eonnie kelihatan salah tingkah. Awalnya suasana sedikit kaku tapi kembali mencair setelah perkenalan Hyesun eonnie dengan Park Chanyeol, dilanjutkan dengan obrolan singkat mengenai Kang songsaengnim.

 

 

 

======================***======================

 

 

 

Langit sore sedikit menghitam dengan beberapa awan kelabu menggantung di langit. Udara juga sedikit menggerahkan, mungkin akan turun hujan sebentar lagi. Kami bertiga berjalan pulang. Aku, Hyesun eonnie, dan makhluk tak kasap mata yang sangat menjengkelkan bernama Baekhyun. Kadang ia membuat jarak antara aku dan Hyesun eonnie, setiap kali aku bertanya mengapa? Jawabannya hanya ‘iseng’.

 

 

Ekor mataku menangkap Kris sunbae yang pulang dengan mobil pribadinya, kapan aku bisa berada di kursi penumpang?

 

 

Hyesun eonnie bertanya, “Apa kau kenal dengan namja di kantin tadi, Kyungie?”

 

 

“Yang aku tahu namanya adalah Park Chanyeol. Bukankah ia tadi juga sudah berkenalan dengan eonnie?”

 

 

“Iya, tapi kalian kelihatan akrab.”

 

 

“Akrab dari mananya?” sungutku.

 

 

“Buktinya tadi sewaktu di lapangan basket dia melambai padamu, lalu ketika kita berbincang di kantin dia juga kelihatan sudah lama mengenalmu. Aku pikir kalian saudara sepupu.”

 

 

Kalaupun ia benar sepupuku, aku lebih memilih tinggal di loker David Jones dari pada harus memiliki sepupu seperti Park Chanyeol.

 

 

Wajah Hyesun eonnie kelihatan berseri-seri, ada yang aneh dengannya? Ah~ aku tahu dan sepertinya aku punya calon bully-an baru khekhekhe~, “Kenapa eonnie terus bertanya tentang Park Chanyeol? O, atau jangan-jangan eonnie suka pada Park Chanyeol ya?” godaku, balas dendam karena ia telah mengejekku dengan Sehun tempo hari.

 

 

Tiba-tiba wajahnya memerah, langkahnya terhenti sesaat, “Apa kelihatan sejelas itu?” khekhekhe~ wajah paniknya kelihatan semakin cantik.

 

 

“Tidak kok, eonnie. Aku hanya menebak saja dan sepertinya benar.”

 

 

Hyesun eonnie menangkup wajahnya malu. Jadi benar Hyesun eonnie tertarik dengan namja sejenis Park Chanyeol? Aku ulangi lagi Park Chanyeol yang kemarin aku tumpahi kopi tanpa meminta maaf , telah mengetahui namaku, dan selalu tersenyum mengejek setiap kali melihatku?

 

 

Satu lagi yang aku simpulkan dari seorang Park Chanyeol selain sifat periangnya adalah… dia aneh. Ok, senyumnya sedikit menawan, tapi terselip aura menyeramkan. Semacam creppy smile.

 

 

Tiba-tiba sebuah pertanyaan besar terjatuh di otakku, mengapa wanita secantik dan sebaik Hyesun eonnie bisa tertarik dengan pria bernama Park Chanyeol??? Aku terus memikirkan itu sepanjang jalan, hingga deru sepeda motor mampir di telinga.

 

 

Panjang umur, objek yang baru saja aku bahas muncul secara ajaib. Ia menghentikan sepeda motornya tepat disampingku, Chanyeol sunbae membuka helmnya, “Ayo aku antar pulang.” aku terus berjalan karena bukan merasa sebagai orang yang dia maksud. Hyesun eonnie terdiam di tempat.

 

 

“Hey, aku bicara padamu, Sekyung.” ucapnya lagi. Mati! Kenapa harus aku? Sebenarnya otakku kembali melempar adegan memalukan sewaktu di bandara. Aku berbalik dengan susah payah. “Cepat naik.” perintahnya. Bahkan ia sudah membawa dua helm.

 

 

“Aku?” tanyaku bodoh dan ambigu. Chanyeol sunbae mengangguk cepat. Aku melirik Hyesun eonnie yang nampak juga belum mengerti dengan keadaan ini, “Tapi Hyesun eonnie…” aku tak bisa melanjutkan kalimatku.

 

 

“Dia kan sudah besar, lagi pula rumahmu sudah dekat kan, Hyesun?” aku memandang Chanyeol sunbae tak percaya, bagaimana ia bisa tahu rumah Hyesun eonnie? Bukannya ia orang baru disini?

 

 

“Tak apa, Kyungie. Chanyeol sunbae benar.”

 

 

Chanyeol sunbae menepuk jok kosong di belakangnya, aku mendekatinya ragu. Karena aku berjalan terlalu lambat, dia menarikku pelan dan memakaikan helm. Aku duduk di belakang Chanyeol sunbae dengan perasaan tak tentu. “Kami duluan, Hyesun. Annyeong.” ucap Chanyeol sunbae sebelum melesat.

 

 

Chanyeol sunbae mengendarai dengan kecepatan tinggi, terlalu cepat hingga angin menerbangkan semua rambutku ke belakang. Aku berpegangan pada sisa jok, takut terjatuh.

 

 

“Pegang pinggangku.” ucapnya.

 

 

Heh? Yang benar saja! Aku menggeleng cepat, “Tidak apa-apa, begini juga sudah nyaman.”

 

 

Sebelah tangannya malah mengais sesuatu di belakang, dan hap… tanganku tertangkap. Chanyeol sunbae meletakkan secara paksa tanganku ke pinggangnya, “Aku tidak mau kau jatuh.” teriaknya.

 

 

Setelahnya, hanya suara burung sore yang terdengar. Tak terasa, tinggal beberapa meter jalan lurus dan aku akan sampai rumah. E eh~ tapi apa ini? Chanyeol sunbae malah berbelok, “Errr, sunbae.” ia masih fokus pada jalanan, “Maaf Chanyeol sunbae, tapi rumahku sudah terlewati.”

 

 

“Aku tahu.” aku ternganga bingung, dia sedikit melirikku lewat kaca spion, “Kita jalan-jalan sebentar.” ucapnya tanpa beban.

 

 

Kami berhenti di sebuah danau buatan dengan perahu kecil di sudut-sudutnya. Angin menerpa air danau dan aktivitas burung pelikan membuat airnya beriak. Chanyeol sunbae mengajakku berdiri di pagar pembatas, ia merentangkan tangannya jauh-jauh dan tak terduga menjatuhkannya di bahu sempitku.

 

 

“Aku rindu tempat ini. Dulu sewaktu aku SMP, aku dan Kris sering kesini. Sekedar mengusir rasa jenuh di rumah. Kami biasanya akan lomba berenang, siapa yang lebih dulu sampai keujung dan kembali ke tepi berhak ditraktir apa saja.” ia tertawa sejenak dan mengusap bahuku, aku mendongakkan wajahku untuk bisa melihat wajahnya, “Dan sekarang, aku ingin kau yang menemaniku kesini.”

 

 

“Tapi kenapa… aku?”

 

 

Chanyeol sunbae menarik tangannya hingga kami hampir berpelukan, “Karena kau adalah Sekyung.” tuh kan benar, dia aneh. Ini jawaban teraneh sekaligus paling menjengkelkan yang pernah aku terima, bahkan lebih menjengkelkan daripada ucapan Baekhyun. Aku juga tahu kalau namaku Sekyung.

 

 

Aku teringat kejadian tak mengenakan di bandara, masih mendongak untuk mensejajarkan mata kami, aku mencoba memberanikan diri untuk berkata, “Mi… mian untuk waktu di bandara. Aku… ak… aku…” aku kembali kehilangan kata-kata, mungkin terlalu gugup.

 

 

“Gwanchana~” ucapnya santai, “Jangan dipikirkan.”

 

 

“Tapi… sunbae terkena kopi panas dan aku sungguh menyesal. Aku tak bermaksud…”

 

 

“Aku tahu kau tak sengaja menumpahkannya, aku mengerti santai saja. Aku malah berterimakasih.”

 

 

Dahiku berkerut bingung, “Berterimakasih?”

 

 

“Iya, ini yang dinamakan takdir. Dan berkat takdir, aku bisa bertemu dan mengenalmu.” sepertinya arah pembicaraan kami mulai menyimpang.

 

 

“Sunbae percaya takdir?”

 

 

“Secara realistis, tidak. Tapi secara religi, aku sangat percaya pada takdir yang diberikan Tuhan.” kali ini Chanyeol sunbae benar-benar membawaku ke dalam pelukannya. Aku tak bisa bernafas karena gugup, tak dapat bereaksi apapun seolah tenagaku diserap habis oleh kehangatan tubuhnya. Aroma mint kembali tercium. Nampaknya aku mulai suka dengan wewangian itu. “Dan aku sangat berterimakasih kepada-Nya.”

 

 

Kami belum genap satu hari berkenalan (meski sudah saling bertatap muka sewaktu di bandara), tapi Chanyeol sunbae sudah berani mengajakku pulang bersama, kemudian jalan-jalan, dan berakhir dengan pelukan seperti ini. Aku tak dapat mengelak bahwa ada perasaan senang yang terselip ketika ia memelukku, tapi tidakah ini terlalu cepat?

 

 

Aku berusaha keras mendorongnya meski hanya menghasilkan sentuhan halus, bukan berniat untuk menggodanya tapi sungguh wajahku sudah panas karena malu. Aku takut diejek karena jantungku rasanya mau keluar.

 

 

Chanyeol sunbae merenggangkan pelukannya, “Wae?” sebuah pertanyaan singkat yang rasanya sekarang sangat sulit untuk ku jawab, bahkan lebih sulit dari soal essay Kang songsaenim.

 

 

Aku tidak ingin melihat matanya karena aku tahu pipiku pasti akan bertambah merah, aku memilih menunduk sambil berusaha merangkai kata, “Sss… sudah sore, sunbae.”

 

 

“Lalu? Kau sudah mau pulang? Hhhhm, padahal aku masih ingin disini.” ucapnya kecewa. Aku sebisa mungkin mengalihkan pandanganku, “Ya sudah. Kajja!” serunya semangat.

 

 

Chanyeol sunbae memakai helmnya dan kembali memakaikanku helm. Kami kembali membelah jalanan, melewati rombongan burung yang terbang ke selatan. Pohon filicium yang juga sudah aku anggap sebagai temanku terlihat lebih hijau karena air hujan. Aku turun dan tak lupa mengucapkan terimakasih.

 

 

“Kau tidak menyuruhku mampir?” aku menunjukan ekspresi bingung seolah berkata, ‘Memang sunbae mau mampir?’ dia malah tertawa cukup keras, “Aku hanya bercanda, jangan menanggapi seserius itu.” ia menyodorkan tangannya, “Mana ponselmu?” tanyanya yang terdengar sedikit memaksa. Ku acak saku rok dan berhasil menemukan benda persegi itu. Chanyeol sunbae segera merebutnya dan mengotak-atik sesuka hati. “Nah~ sudah.” ia mengembalikan ponselku.

 

 

“Sekali lagi terimakasih, sunbae.”

 

 

Chanyeol sunbae berdecak, “Ck, jangan panggil aku seformal itu. Panggil saja Chanyeol oppa.”

 

 

“Tapi…”

 

 

“Ini bukan pertanyaan yang berjawab iya atau tidak, tapi sebuah perintah yang mau tidak mau harus dipatuhi. Arraseo, Sekyungie?” dia memberi embel-embel di belakang namaku? Dan tadi dia bilang aku harus memanggilnya oppa?

 

 

“Ba… baik, Chanyeol sun… ups maksudku Chanyeol o.. op… oppa.” gagapku, aku mulai kesal dengan tingkah lakunya tetapi entah mengapa aku tak bisa marah, malah rasa gugup terus membayang-bayangi.

 

 

Ia mengacak rambutku, “Oppa pulang dulu ya, annyeong.” ia mulai memutar kunci.

 

 

Aku tersadar akan helmnya yang masih aku pegang, “Oppa, ini helmnya. Terimakasih.”

 

 

“Simpan saja untuk besok.” ucapnya sebelum benar-benar pergi. Angin berputar sepoi mengiringi gelindingan bannya. Aku masih berpikir dengan jawabannya ‘Simpan saja untuk besok.’ memang besok hari apa sampai aku harus berjalan kaki menggunakan helm? Ah~ sudahlah, nanti saja dipikir ulang. Sekarang aku mau makan dulu.

 

 

Baekhyun berdiri tegak tepat di tengah-tengah pintu. Mau apa bocah ini? “Minggir.” ucapku, ia tetap tak bergeming, “Aku bilang minggir, Baekhyun. Aku lelah.”

 

 

“Lelah berkencan dengan sunbae barumu itu?” ucapnya dengan nada benci. Kenapa dengannya?

 

 

“Kami tidak berkencan. Sungguh, aku berani bersumpah.” ucapku sungguh-sungguh.

 

 

Baekhyun melipat tangannya, “Kau tadi dengar sendiri kan kalau Hyesun menyukai sunbae baru itu! Lalu kenapa kau malah mendekatinya, heum?” bentak Baekhyun sampai aku terlonjak dan hampir jatuh. Sungguh, aku tak mengerti dengan apa yang dia maksud.

 

 

“Iya, aku tahu. Tapi aku sama sekali tidak mendekati Chanyeol oppa.”

 

 

“Tuh kan, bahkan sekarang kau memanggilnya OPPA!” aku memilih pergi daripada meneruskan kesalah pahaman ini.

 

 

Aku masuk dengan raut kesal, berlari ke depan frezzer dan meneguk botol air dingin dengan rakus. Kepalaku panas karena Baekhyun, aku tidak ingin bertengkar dengannya. Bertengkar bukan gayaku. Dia hanya salah paham. Iya, aku yakin itu.

 

 

Halmonie menghampiriku, “Baru pulang? Tadi kemana saja? Kenapa akhir-akhir ini sering pulang telat?” aku makin badmood mendengar rentetan pertannyaan tadi. Dan tanpa menjawab pertannyaannya aku lebih memilih untuk menenangkan diri di kamar dan menguncinya.

 

 

Ku tatap nanar kursi belajarku. Biasanya Baekhyun akan gelendotan disana, tapi sekarang… Tuhan, jangan biarkan Baekhyun pergi. Aku masih membutuhkannya, aku tidak ingin kehilangan sahabat sehebat dia. Aku mohon kabulkan permintaanku sekali ini saja, Tuhan. Doaku dalam hati.

 

 

 

======================***======================

 

 

 

~~~Author POV~~~

 

 

Pagi ini untuk pertama kalinya Sekyung bangun tanpa ditemani cengiran Baekhyun, hanya kicauan burung penunggu filicium dan sengatan matahari pagi saja yang membuat tidur nyenyaknya terusik. Tatapannya masih sama, Sekyung merindukan Baekhyun, meski teman khayalannya belum lama pergi tapi Sekyung merasa sudah kehilangan Baekhyun selama berdekade-dekade dan ada yang hilang dari puzzle hidupnya.

 

 

Ia sangat paham dan sangat menyadari bahwa Baekhyun merupakan unsur penting yang tidak boleh luput dari kehidupannya. Jika keluarganya merupakan jantungnya dan Kris adalah udaranya, maka Baekhyun ia anggap sebagai paru-paru yang akan menyaring udara demi keberlangsungan hidupnya.

 

 

Sekyung melakukan ritual paginya dengan malas, berjalan ke sekolah dengan lemas tak bertenaga, senyumnya hilang. Bukankah Baekhyun yang mengatakan bahwa Sekyung tidak boleh sedih, karena ia adalah lord of happiness. Tapi sekarang apa? Baekhyunlah yang membuatnya sedih, hanya karena salah paham yang sebenarnya dikarenakan seorang Park Chanyeol yang baru kemarin dikenal Sekyung.

 

 

Hyesun memandang Sekyung khawatir, “Kau kenapa? Sakit? Tak biasanya kau sediam ini.”

 

 

Sekyung menggeleng, “Tidak, aku baik-baik saja. Hanya seperti ada yang hilang.”

 

 

“Owh, aku pikir kau sakit.” Hyesun terdiam sejenak, dengan ragu ia bertanya, “Apa… Chanyeol sunbae kemarin benar-benar mengantarkanmu sampai ke depan rumah?”

 

 

Sekyung menjawab dengan hati-hati, “Iya, tapi jangan salah paham eonnie, kami tak ada hubungan apa-apa. Chanyeol oppa hanya mengantarku pulang, tidak lebih.” Sekyung masih mengingat jelas bentakan Baekhyun kemarin ‘Kau tadi dengar sendiri kan kalau Hyesun menyukai sunbae baru itu! Lalu kenapa kau malah mendekatinya, heum?’.

 

 

Hyesun terlihat kaget, “Kau tadi memanggil Chanyeol sunbae apa?”

 

 

“Ch… Chanyeol op… pa~” nada bicara Sekyung melemah.

 

 

“Sejak kapan kau memanggil Chanyeol sunbae dengan oppa?” Hyesun nampak tidak suka.

 

 

“Kemarin, eonnie. Chanyeol oppa sendiri yang menyuruhku memanggilnya oppa.” Sekyung menunduk, merasa bersalah.

 

 

“Tapi~ seharusnya kau menolak! Bukankah kau tahu jika aku menyukai Chanyeol sunbae? Kita sahabatkan, Sekyung? Kecuali… kalau kau juga tertarik pada Chanyeol sunbae dan ingin bersaing denganku.”

 

 

‘Hyesun eonnie pasti sangat marah sampai-sampai dia tidak memanggilku Kyungie seperti biasa.’ Sekyung berusaha menjelaskan, “Aniya, eonnie. Kita teman dan selamanya akan selalu begitu. Aku tahu eonnie suka pada Chanyeol oppa. Tapi sungguh, aku sama sekali tidak tertarik pada Chanyeol oppa, sedikitpun tidak pernah. Eonnie tahu sendiri bukan kalau aku menyukai Kris sunbae?” Sekyung memasang wajah seriusnya, jarang sekali dia bisa berekspresi seserius ini.

 

 

Hyesun nampak berpikir ulang dan mulai mengangguk, “Arraseo~ maafkan eonnie yang telah salah paham ne.”

 

 

Kedua gadis itu akhirnya saling melempar senyum, “Gwaenchana eonnie, Sekyung mengerti kalau Hyesun eonnie uhuk~~ cemburu. Khekhekhe~” kekeh Sekyung membuat pipi Hyesun kembali memerah.

 

 

Kali ini ketika tim basket berlatih, Hyesun dan Sekyung berniat memberi mereka minuman dingin. Sekyung dan Hyesun memilih air mineral. Mata Sekyung sudah berbinar bahagia membayangkan betapa bahagianya ia bila botol minuman ditangannya beralih ke tangan Kris sunbae. Hyesun juga sama, dia semakin merona ketika membayangkan Chanyeol menenggak habis minumannya dan mengucapkan kata terimakasih.

 

 

Kedua gadis itu berlarian ke lapangan, mencoba adu kecepatan dengan gadis-gadis lain yang juga ingin menemui pangeran masing-masing.

 

 

Suasana di lapangan basket nampak berbeda. Biasanya anggota tim basket yang akan berlatih adalah Kris, Tao, Kai, Luhan, Lay, dan Chen. Tapi hari ini terlihat berbeda dengan bergabungnya Chanyeol sebagai anggota baru untuk menggantikan Lay yang sedang memiliki keperluan. Sekyung dan Hyesun melihat pangeran masing-masing dari pinggir lapangan (kali ini lebih dekat).

 

 

Semua pemain berhenti latihan dan mengerumpul di sudut lapangan yang terdapat kursi khusus. Sekyung mencari Kris sunbae. Dia melihatnya duduk di tempat paling pojok dengan sebuah handuk kecil menggantung di lehernya. Keringat berlomba turun dari dahi Kris.

 

 

Dengan malu-malu Sekyung berkata, “Sunbae, ini minum untuk sunbae.” Sekyung menyerahkannya dengan kedua tangan. Kepalanya menunduk, harap-harap cemas jikalau Kris tidak menerima pemberiannya.

 

 

Sebuah tangan besar mengambilnya perlahan, “Gomawo.” ucapnya singkat. Kris membukanya dan mengangkatnya ke atas untuk meminum isinya tapi…

 

 

“CHAKKAMAN!!!” teriak namja yang sukses menghentikan pergerakan Kris dan membuat kupu-kupu di perut Sekyung melenyap. Namja itu adalah… Park Chanyeol. Dengan kasar ia mengambil botol minuman dari tangan Kris, “Ini milikku, Kris. Kau ambil yang ini.” Kris tak ambil pusing, toh botol pemberian Chanyeol juga masih disegel.

 

 

Sekyung melongo bingung begitu juga Hyesun, ‘itu pasti minuman pemberian Hyesun eonnie.’ pikir Sekyung.

 

 

Chanyeol meminum minuman pemberian Sekyung (yang seharusnya milik Kris) hingga habis, “Lain kali kau tidak boleh memberi apapun pada namja lain. Arrachi?” kemudian ia kembali berucap, “Oh iya aku hampir lupa bilang, tadi pagi seharusnya aku menjemputmu tapi karena aku bangun terlambat jadi tidak bisa.” Chanyeol memasang creepy smile-nya.

 

 

Sekyung memandang Kris sunbaenya kecewa, sama halnya dengan Hyesun yang kembali tersulut amarah, ‘Kenapa Chanyeol sunbae lebih memilih minuman dari Sekyung? Kenapa harus Sekyung? Kenapa selalu dia?’

 

 

Lagi-lagi Chanyeol memberi sebuah senyuman kepada Sekyung, “Terimakasih, Sekyungie.” ucapnya.

 

 

Hyesun benar-benar kecewa pada Sekyung, pasti kemarin Chanyeol tidak hanya mengantar Sekyung pulang. Ia benar-benar marah, bingung, hatinya yang baru saja ia buka tiba-tiba patah dengan begitu cepat. Ia tidak boleh membiarkan Chanyeol semakin dekat dengan Sekyung. Tidak boleh!

 

 

Hyesun berlari entah kemana. Sekyung jelas tahu tatapan dan raut muka Hyesun yang begitu sakit hati, ia tidak bisa menyalahkan Chanyeol. Tapi bagaimana dengan dirinya yang begitu disudutkan banyak pihak? Dan pihak yang menyudutkannya adalah kedua sabahat baiknya sendiri, Baekhyun dan Hyesun. Sekyung ingin menangis, kepada siapa lagi dia harus menceritakan isi hatinya? Siapa yang akan berangkat sekolah dengannya nanti? Kemana Baekhyun? Kenapa dia tak pernah muncul lagi? Dan kemana perginya Hyesun? Sekyung tak tahu, yang ia tahu orang-orang menganggapnya jahat dan bersalah atas semua yang terjadi.

 

 

Seseorang mengusap lelehan airmata dari pipi Sekyung, Sekyung mendongakan kepalanya dan menemui sebuah sosok yang begitu ia kenal, sebuah sosok baru yang sudah berhasil membuat sebuah masalah besar datang, dan sosok itu adalah Park Chanyeol.

 

 

“Gwanchana?” tanyanya lembut. Sekyung mengusap sisa airmatanya kasar dan hanya mengangguk lemah. Chanyeol mengusak rambut Sekyung, “Jangan menangis, tak apa jika kau tidak mau mengatakan apa masalahmu padaku. Tapi aku berjanji akan selalu membuatmu tersenyum apapun caranya.” Chanyeol menautkan kelingkingnya dengan kelingking kecil milik Sekyung, “Pegang janjiku dan ingat baik-baik, kau boleh menagihnya jika perlu.” tangan Chanyeol mengusap pipi Sekyung sebelum beranjak pergi.

 

 

Tanpa terduga Sekyung memberanikan diri untuk bertanya, tangannya menahan lengan Chanyeol agar tak pergi semakin jauh. Chanyeol kembali mendekati Sekyung dengan ekspresi penuh tanya, “Siapa sebenarnya kau? Apa kita teman? Apa kita saudara? Atau kita kembar yang terpisah? Kita baru kenal kemarin dan kau sudah bertindak sejauh ini…” Sekyung menggeleng tak percaya, “Aku tak begitu mengenalmu tapi kenapa kau begitu perhatian padaku? Maaf jika ucapanku tidak sopan, sunbae.”

 

 

Chanyeol kembali membawa tubuh Sekyung ke dalam pelukannya, membuat teriakan keras para yeoja menggema di lapangan, bibir Chanyeol berhenti di telinga Sekyung, “Karena kau takdirku.” bisiknya lembut, “Aku tidak akan sempurna tanpamu, kau mengerti?”

 

 

Sekyung tahu, pasti Hyesun tengah menangis melihatnya dan Chanyeol seperti ini. Tapi, untaian kata dari Chanyeol membuatnya semakin bingung, terlebih perilaku Chanyeol padanya, terlalu mencolok untuk bisa dikatakan sebagai teman.

 

 

Seisi lapangan terdiam, sepertinya membeku karena terlalu kaget dengan apa yang mereka lihat. Sambil menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya, mereka bersiap menekan tombol dial untuk menelpon ambulance, takut-takut terkena serangan jantung.

 

 

Chanyeol melepaskan pelukannya dan menatap Sekyung lamat-lamat, “Aku kan sudah bilang, panggil aku oppa.” jemarinya mencolek hidung Sekyung dan kembali mengukir sebuah senyum, hanya untuk Sekyung seorang.

 

 

Sekyung berjalan menjauh dari area lapangan. Terdengar kasak-kusuk yang begitu menusuk telinga dengan menyebut-nyebut namanya. Sekyung butuh teman, Sekyung ingin menumpahkan perasaannya dan Sekyung ingin seseorang memberinya jalan keluar agar ia tak semakin terjerat dalam masalah rumit ini.

 

 

Seorang namja dengan seragam rapi dan beberapa berkas ditangannya tertangkap iris Sekyung. Benar, Sekyung masih punya Sehun. Siapa tahu dia bisa memecahkan masalahnya dengan begitu mudah seperti halnya Sehun mengerjakan soal trigonometri. Dengan semangat Sekyung berlari menuju Sehun, tapi langkahnya terhenti ketika melihat Hyesun tiba-tiba muncul dan berbicara dengan Sehun. Mata kedua gadis itu sama-sama memerah. Dari gestur yang Sekyung lihat, Hyesun terlihat membentak Sehun, dan namja itu seolah tak punya stok kata untuk balas membentak Hyesun.

 

 

Hyesun menatap Sehun tajam sebelum berbalik. Kini bola matanya bertemu dengan Sekyung. Dia mendecih dan kembali menekankan suatu hal pada Sehun.

 

 

Sehun melihat Sekyung dan Hyesun bergantian, kemudian kembali melangkah dengan beban pikiran yang terlihat jelas di wajahnya.

 

 

Sekyung tak tahu lagi harus berbuat apa, hingga ia ingat akan sebuah benda kecil yang mungkin dapat menolongnya. Sekyung mengetik sebuah pesan singkat kepada Hyesun, ‘Ku mohon, eonnie. Jangan marah. Ini tidak seperti yang eonnie bayangkan. Aku tidak menyukai Chanyeol sunbae, selamanya tidak akan. Aku pegang, janjiku.’ Send.

 

 

 

^^^^^^^^^^^^^^^TBC^^^^^^^^^^^^^^^

 

Ingat!!! saya tidak menerima Silend Reader(s), tidak pernah. Jadi untuk mengahrgai jeri payah saya *ceilah* untuk membuat ff ini, silakan RCL yeoreobun ^^

Iklan

10 pemikiran pada “Trade Off chapter 3

  1. Ah, udah nemu titik terangnya authornim, masih praduga sih. Aku rasa namja yang dijemput Sekyung di bandara itu pasti Chanyeol, itu aja sih. Masih penasaran sama cerita selanjutnya, endingnya jangan sad end dong authornim, aku menghindari cerita sad end. Fighting authornim ^^

    Suka

    • “teimakasih udah RCL ff sederhana ini dari chapter awal ^^
      soal endingnya… emh~ sebenarnya ff ini udah selesai dibuat dan aku juga bingung itu ending yang bahagia atau sedih. Silakan tunggu chapter selanjutnya. Jiayou!!! ^^//

      Suka

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s