Beauty And The Beast [4]

batb

Beauty And The Beast

Author : Jung Seomi Dian R |Cast : Oh Sehun, OC |Genre : Angst, Fantasy, Romance, Comfort | Rating : PG-15

©Storyline and poster is Mine. Cast isn’t Mine

 “I Love you, Nuna. I Know How ugly iam. But, i really do…”

Previous : 1 | 2 | 3

—————-

Chapter 4 – I Know How ugly Iam.

————–

Jiyeong menghela nafasnya dan membuangnya secara kasar. Badannya terasa lemas untuk bergerak. Berbaring di atas batu di dalam gua membuat tulang belakangnya nyeri dan permukaan kulitnya terasa perih. Ia menengok ke kanan dan kiri mencari keberadaan Sehun. Namun ia tak menemukan siapapun selain dirinya sendiri di dalam gua. Argumennya, Sehun pergi ke suatu tempat.

Ia menyeret kedua kakinya keluar gua. Matanya mulai meneliti sudut-sudut yang berelasi dengan pertanyaan ‘Kemana perginya sehun’. Namun pertanyaan itu seketika terlenyapkan melihat Sehun sedang duduk di atas cabang pohon yang membuat Jiyeong bergidik risih dengan posisi Sehun. Posisi yang sangat rentan dengan kata ‘jatuh’.

“Sedang apa kau di situ?” tanya Jiyeong heran. Sehun yang merasa diajak bicara melirik ke bawah kemudian tanpa aba-aba menjatuhkan diri menuju tanah. Membuat Jiyeong membulatkan matanya terkejut. Sehun berperilaku seolah memiliki seribu dua ratus nyawa yang masih berada di dalam stocknya, utuh. Jiyeong menatap Sehun tajam.

“Kau khawatir aku terluka?” tanya Sehun dengan nada menjengkelkan. Jiyeong mendengus. Sehun terkekeh atas dengusan Jiyeong. Tak dipungkiri, sekalipun wajahnya ditekuk dan mendengus. Ia tak akan bisa mengalahi ekspresi alamiah tubuh yang mengubah warna pipinya menjadi kemerahan mendengar ucapan Sehun. Khawatir? Oh yang benar saja,

Sehun kemudian menatap langit biru dengan awan startus yang sangat tipis. Sang raja siang mendominasi di atas kepala. Membuat kulit yang terbuka langsung disengat olehnya. Jiyeong mengamati wajah diam Sehun. Beberapa pertanyaan mulai menyelinap dan membuatnya penasaran. Sekuat apapun dia menahan diri untuk tidak bertanya, tetap hasrat bertanyanya sudah sangat tinggi.

“Sehun?”

“Eum?” Sehun menoleh. Jiyeong menutup matanya, sebelum kembali membukanya dengan helaan nafas panjang. Ia sudah lama menahan keinginannya untuk menanyakan hal ini. Padahal, baru kemarin ia mengetahui fakta aneh ini. Ia menatap mata Sehun dalam-dalam.

“Apa relasimu dengan Jongin sebelumnya? Kalian sungguh pernah bersahabat? Lalu apa yang terjadi? Apa benar kalian dulu manusia biasa?” tanya Jiyeong. Ia menahan suaranya agar terlihat normal. Ia bersumpah, tidak mudah menanyakan hal itu langsung kepada Sehun. Ia menggigit bibirnya, khawatir akan reaksi Sehun. Bagaimana jika Sehun marah? Bagaimana jika jawaban Sehun tak sesuai dengan apa yang di harapkannya? Bagaimana jika-

“Hahahaha” Sehun tertawa, menghentikan semua hypotesis ‘bagaimana jika’ dari kepala Jiyeong. Ia menatap Sehun bingung. Sehun memedam tawa palsunya. Menatap Jiyeong yang terlihat tidak mengerti maksud tawanya. Ia menghela nafasnya panjang.

“Sudahlah, itu masa lalu. Aku malas memikirkan masa lalu” ucap iblis yang berupa bocah itu bijak. Namun Jiyeong tidak puas dengan jawaban Sehun. Ia tipe orang yang akan mengorek segala hal untuk mendapatkan kenyataan yang membuatnya penasaran. Bahkan jika harus menggali kuburan neneknya, ia akan melakukannya jika ia sudah merasa penasaran.

Namun melihat ekspresi Sehun berubah drastis menjadi sedih dan sendu dengan tatapan kosong, ia akhirnya memilih berhenti bertanya. Ia bungkam sembari menatap wajah Sehun dari samping. Meskipun jutaan pertanyaan masih terus berputar-putar di kepalanya, ia tak mau menambah beban Sehun, pemuda itu terlihat seolah memendam beban. Matanya menelusuri lekuk wajah Sehun yang sendu. Ia tak lagi mengelak, bahwa wajah Sehun benar-benar di luar kata ‘Sempurna’ bisa dibilang, sangat sempurna. Dia tak bisa menjadi iblis dengan wajah setampan itu.

“Kai di sini penjahatnya ya? Kupikir kau penjahatnya” ucap Jiyeong, ia memalingkan wajahnya menatap pohon besar di samping mereka. Matanya menelusuri kulit pohon yang bergaris abstrak dan mengikutinya, mencoba mengalihkan perhatian matanya. Sehun menoleh dan menatap Jiyeong tak mengerti

“Ahaha, aku sedang membicarakan drama yang sekarang populer di kalangan manusia biasa” ucap Jiyeong setengah bercanda. Sehun mengalihkan tatapannya kembali menuju langit. Jiyeong menghela nafasnya, ia rasa, langit lebih beruntung dibanding dirinya, Sehun lebih memilih menatap langit di banding dirinya, Shin Jiyeong.

“Kupikir kau adalah pemain antagonis. Ternyata Kai-lah antagonisnya disini” ucap gadis itu lagi. Ia menepuk bahu Sehun

“Maaf Sehun…” ucapnya lirih. Sehun menatapnya tajam. “Ke-kenapa?” tanyanya.

“Sekali lagi kau meminta maaf, aku akan membunuhmu, Kim Jiyeong! Aku tak butuh ucapan maafmu. Aku hanya membutuhkan kepercayaanmu” ucap Sehun dengan nada emosi. Beberapa oktaf lebih tinggi dari nada bicaranya yang biasanya.

“Kepercayaanku, sepenuhnya padamu, Oh Sehun” ucapnya lagi. Sehun tersenyum tipis.

“Terimakasih, Jiyeong-ah”

***

“Sial!” Kim Jong In mengumpat. Ia berusaha menghancurkan ilusi milik Sehun, yang memerangkapnya dan membuatnya kehilangan Jiyeong. Ia memejamkan matanya dan fokus. Tak lama, langit terlihat seperti retak. Retakan itu hanya kecil, seperti garis sepanjang lima belas senti, sebelum akhirnya membesar dan merata, langit terlihat seperti puzzle yang terpisah. Kemudian, retakan itu mulai runtuh satu persatu, langit seolah sedang di hancurkan, kemudian terjadi ledakan dan semua retakan itu hancur. Jongin berhasil menghancurkan ilusi Sehun. Namun ia sangat tahu, ia tidak akan bisa menemukan Jiyeong. Ia tak akan menemukan seseorang yang di jebak ilusi.

Jong In pun memejamkan matanya. Nafasnya di tarik masuk kedalam sebelum di hempaskan. Kemudian, ia menghilang seperti angin yang lewat. Tak bersisa, hanya meninggalkan angin kencang yang hanya berhembus sebentar dan hilang.

Jong In membuka matanya. Dadanya naik turun berusaha meminimalisir emosi. Ia tak akan bisa melakukan apapun dengan kemarahan tak bergunanya. Namun sisi gelap di dalam tubuhnya memancingnya menjadi lemah dengan marah. Ia tak mau kalah lagi.

Ia menghela nafasnya, ia membuka knop pintu rumah yang berada di hadapannya. Ia melihat seorang malaikat cantik, bersayap hitam. Jongin mendudukan diri di hadapan gadis cantik yang saat itu sedang membaca. Sang gadis meliriknya sebentar sebelum tersenyum ganjil.

“Kalau kau kemari mencari sekutu atau meminta bantuan, kau datang pada orang yang salah” ucap gadis itu. Jong In tersenyum ganjil lagi. Ia tahu akan sedikit menarik bersilat lidah dengan gadis di hadapannya.

“Sungguh? Kurasa aku tepat orang, Park Jiyeon” ucap Jong In percaya diri.

“Hei, jangan percaya diri dulu, hanya karena oppaku di pihakmu, aku akan ikut-ikutan di pihakmu. Aku tidak punya alasan mendukungmu. Bagaimanapun, kau penjahatnya disini” ucap Jiyeon. Jong In tersenyum penuh arti. Mendengar ucapan Jiyeon, gadis itu sudah tahu pasti apa masalahnya.

“Kau bisa apa dengan memihak iblis jelek itu?” ucap Jong In. Park Jiyeon mendelik, ia menatap Jongin dengan mata yang di pincingkan. “Kenapa?” tanya Jong In setelah ditatap seperti itu oleh Jiyeon.

“Dengar Kim Jong In, pertama, aku tidak memihak Oh Sehun. Kedua, Oh Sehun itu tampan,” ucap Jiyeon. Jong In berdecih.

“Dengar Park Jiyeon, bergabunglah denganku, maka aku akan memenuhi permintaanmu, yang sangat kau inginkan,” ucap Jong In. Jiyeon membulatkan matanya dan mendongak menatap Jong In tidak percaya.

“Dengar, Kim Jong In, apa bukti jika kau bisa melakukannya?” tanya Jiyeon, Kai tersenyum sebelah.

***

Jiyeong berjalan keluar dari Goa malam-malam. Punggungnya sudah tak mau lagi toleran dengan kerasnya batu goa yang membuat seluruh tubuhnya pegal. Namun saat menyadari Sehun tak berada di tempatnya, ia segera keluar, mencari keberadaan iblis tampan itu.

Ia pun menyusuri kelamnya hutan sendirian, kemudian ia berhenti, senyum mengembang di sudut bibirnya. Ia menemukan Sehun sedang berdiri sembari menatap bintang yang berkelipan diatas langit, airmukanya terlihat sendu. Ia pun mendekat dan memeluk tubuh kokoh Sehun, meskipun aura hitam menguar, tak kunjung membuat Shin Jiyeong melemas, ada kekuatan lain yang suci mendorong kuat-kuat aura hitam tersebut. Jiyeong menyandarkan kepalanya pada punggung Sehun, menempelkan telinga kirinya dan mengeratkan lingkaran tangannya.

“Kau kenapa eoh? Ada yang kau pikirkan?” tanya Jiyeong. Sehun tersenyum tipis, tangannya naik menyentuh tangan Jiyeong yang melingkar di pinggangnya.

“Aku memikirkanmu” ucap Sehun. Jiyeong tertawa.

“Anak sepuluh tahun yang pandai menggombal” sindirnya.

“Hei, kau tidak lihat? Tubuh sebesar ini sepuluh tahun? Kau perlu periksa mata, Jiyeong-ah” ucap Sehun setengah bercanda. Ia mengeratkan pegangannya pada kedua tangan Jiyeong di perutnya.

“Sehun?”

“Iya?”

“Apa yang tadi kau pikirkan? Kumohon jangan mengalihkan percakapan, dan serius” ucap Jiyeong. Ia menyadari sikap aneh Sehun daritadi. Sehun kembali menatap langit, sebelum ia memejamkan matanya, menahan seluruh perasaan bercampur aduk di dalam hatinya.

“Aku salah” ucap Sehun pelan, lirih, namun terdengar jelas di telinga Jiyeong yang menempel di punggung Sehun, ia merasakan getaran punggung Saat Sehun bicara.

“Salah apa?” tanya Jiyeong. Jawaban Sehun terlalu ambigu. Ia tak tahu maksudnya.

“Aku salah telah menculikmu, Shin Jiyeong, itu kesalahan terbesarku” ucap Sehun lagi-lagi dengan nada super lirih. “Kau tahu, Jiyeong-ah? Jika aku tidak menculikmu, kenyataan ini tak akan pernah terbuka. Karena aku tak ingin Kai menjadi lebih jahat lagi setelah ini. Bukan hanya aku yang akan terluka, puluhan orang di luar sana akan sedih, dengan apa yang di lakukan Kai selanjutnya” ucap Sehun, masih dengan nada lirihnya.

“Aku marah kepada Kai, aku punya hasrat juga untuk membunuhnya, tapi aku takut dia berbuat lebih jahat lagi sehingga bukan hanya aku yang terluka setelahnya” ucap Sehun, ia tersenyum lemah, tertawa lirih.

Jiyeong menatap Sehun tak percaya, di saat seperti ini, Sempat-sempatnya Sehun mempedulikan orang lain? Ya Tuhan, dia tak seharusnya menjadi iblis. Makhluk dengan hati sepertinya, seharusnya tidak perlu di takdirkan menjadi iblis dengan kekuatan mengerikan seperti ini…

Jiyeong mengeratkan pelukannya pada tubuh Sehun ia menaruh wajahnya di balik punggung Sehun, tak lama, ia menangis, airmatanya membasahi baju hitam yang Sehun pakai. Sehun pun mengeratkan genggamannya pada tangan Jiyeong. Airmatanya mulai berdesakan keluar, tapi memalukan sekali jika dia menangis. Dia tak ingin menangis. Dia tak akan menangis.

“Noona?”

“Heum?”

“Siapkah kau dengan kemungkinan selanjutnya? Kita hanya ada dua orang, sedangkan mereka jutaan, kaum iblis dan malaikat, mereka tak akan pernah setuju jika kita berhubungan, semua makhluk tau itu.” Ucap Sehun lirih.

Jiyeong menatap bintang-bintang. Angin malam menerpa kedua tubuh rapuh itu. Kedua tubuh dengan perasaan yang terombang-ambing tak jelas. Jiyeong mencoba berpikir, ia sempat merasa takut dengan kenyaan bahwa ia harus melawan ribuan malaikat dan iblis lainnya. Ia rasa, ini tak akan menjadi mudah, dan tak akan bisa menjadi mudah. Melawan takdir. Itulah yang sedang mereka lakukan

“Aku siap Sehun…” ucap Jiyeong tak kalah lirih, tak ada nada keyakinan disana. Sehun menghela nafasnya panjang. Mencoba mengatur udara agar mencukupi paru-parunya. Kedua mata merah menyalanya berubah menjadi hitam legam ketika kedua mata mereka bertemu, namun tak mengubah ukuran tubuh Sehun.

Sehun mempersempit jarak diantara mereka dan mulai menempelkan bibirnya padaa milik Jiyeong, mencoba menguatkan masing-masing dengan kekuatan suci yang tak jarang di sebut dengan cinta. Perasaan yang sebenarnya menggelikan, membuatmu bahkan melawan takdir. Mereka sadar, mereka sadar apa yang sedang mereka lakukan, apa yang sedang mereka lawan. Namun dengan segenap perasaan tulus bernama Cinta. Mereka akan bertahan. Mereka akan saling menguatkan diri dengan genggaman tangan dan menembus kejamnya dunia yang membuat mereka berbeda.

Ciuman itu basah dengan airmata yang tercampur dari empat hulu yang berbeda, dua kelopak Sehun, dua pelupuk Jiyeong. Mencoba saling menguatkan dengan kerapuhan masing-masing, berusaha saling percaya dan meyakininya.

Tuhan, ada satu harapan Jiyeong padamu.

Izinkan mereka berdua bahagia.

***

Malam terasa lebih dingin dari malam sebelumnya. Sangat jarang terjadi di musim semi, namun pada kenyataannya, malam ini bahkan melibihi dinginnya kutub, hahaha, berlebihan? Sedikit, bagaimanapun, dia tak pernah merasakan malam sedingin ini sebelumnya.

Jiyeong menggosokkan kedua telapak tangannya. Ia melirik Sehun yang masih tertidur. Ia akhirnya mendekat dan membaringkan diri di samping bocah sepuluh tahun itu. Di peluknya tubuh kecil itu, mencari kehangatan tubuh Sehun. Ia memejamkan matanya, memeluk Sehun terasa begitu nyaman, sudah menjadi sejenis esktasi baginya, terlalu candu, tubuh Sehun memilik adiksi tersendiri.

Akhirnya, ia tertidur dengan posisi seperti itu.

Sehun membuka matanya di waktu yang tepat, ia harus segera meninggalkan goa karena tubuhnya akan berubah menjadi iblis lagi. Namun niatannya tersendat melihat Jiyeong yang tertidur di sampingnya, memeluknya. Sehun mengulum senyumnya, matanya bergerilya pada wajah terlelap Jiyeong yang terlihat sangat tenang, Sehun menyingkirkan poni di dahi Jiyeong dan menyingkirkannya.

Jiyeong sangat cantik, seorang malaikat, pemain harpa, berwajah sempurna,

Sedangkan dirinya? Apa Sehun terlalu tidak tahu diri selama ini karena menyukai Jiyeong? Apa dia telah membuat Jiyeong terlibat masalah yang sangat sulit karena keegoisannya? Sehun mengelus surai Jiyeong, andai ia memiliki kekuatan membolak-balik waktu, ia akan mengembalikan semua sebelum ia memunculkan diri di depan Jiyeong. Ia tak ingin mereka berakhir seperti ini.

Ia tahu, mereka akan menghadapi masalah besar nanti. Disaat cinta mereka terbongkar. Sebuah cinta yang tidak seharunya terjadi diantara mereka. Sebuah cinta yang dimulai oleh dirinya. Ini seharusnya tak boleh di mulai. Harusnya Sehun menyimpan semua perasaan itu untuk dirinya sendiri. Membiarkan Jiyeong tidak tahu, membiarkan Jiyeong tidak mengenal wajahnya, meski nyatanya begitu, setidaknya Jiyeong tak harus terlibat masalah ini.

Sehun kembali mengelus surai Jiyeong lembut, tangannya mengusap pipi Jiyeong, gadis itu melenguh karena tidurnya terganggu. Sehun menjauhkan tangannya. Ia bangkit dari posisi berbaringnya, diliriknya lagi Jiyeong yang masih terlelap dengan sempurna.

Ini salahnya. Sehun egois. Ini semua kesalahannya.

Ia tak pernah menyangka kemungkinan ini. Ia tidak pernah membayangkan tentang apa yang terjadi selanjutnya, ia dengan buta menculik Jiyeong, menciumnya, dan membuatnya yang tidak tahu apapun menjadi tahu dan kemudian ia membuat gadis itu jatuh padanya.

Sehun tahu siapa dirinya, ia benar-benar tahu. Tapi apa salah dia berharap mendapatkan sedikit kebahagiaan? Atau dirinya memang tak memiliki hak untuk bahagia? Dia hanya seorang iblis. Ia tak memiliki hak untuk bahagia. Ya Tuhan, kenapa ini harus terjadi padanya?

“Aku mencintaimu Nuna… Aku tahu betapa jelek diriku, tapi aku benar-benar mencintamu…”

***

“Jong In menghilang”

Jiyeong menhentikan kegiatannya menyisir rambut dan menatap Sehun.

“Dia ingin membunuh kita, Nuna, dia pasti merencanakan sesuatu” ucap Sehun anak itu duduk di depan Jiyeong. Mencoba menenangkan Jiyeong, raut takut gadis itu terpancar jelas dengan cara nya menatap Sehun. Ia memegang kedua tangan Jiyeong dengan kuat. Sehun tersenyum, ia menguatkan genggaman tangannya. Ia meraih sisir ditangan Jiyeong dan menaruhnya di samping mereka.

“Aku sudah merencanakan sesuatu juga nuna, kau akan selamat” ucap Sehun menenangkan. Ia kemudian tersenyum lembut, menunjukkan senyuman tulusnya dengan tak meluputkan eyesmile yang membuat kedua matanya berubah menjadi bulan sabit saat tersenyum. Jiyeong tertegun akan senyuman tulus Sehun,

Jiyeong mencoba tersenyum menenangkan hatinya, separuh dari perasaannya sudah berubah menjadi ragu lagi. Sanggupkah ia berjuang berdua bersama Sehun? Perlahan, tembok kokoh yang di bangun olehnya sendiri, perlahan mulai retak. Ia memeluk tubuh Sehun kuat-kuat, berusaha meyakinkan dirinya untuk tetap bertahan,

Sebentar lagi, Jiyeong-ah, sebentar lagi….

Jiyeong menenggelamkan kepalanya di dada Sehun mencoba menghirup sebanyaknya aroma yang mengandung adiksi baginya itu. Ia meyakinkan dirinya untuk tetap bertahan, agar tetap bisa bersama Sehun, tetap menghirup aroma yang menjadi adiksi baginya. Sehun tersenyum, sebuah senyuman lembut, senyuman yang berhasil menjeratnya lebih dari satu kali. Sekarangpun begitu, senyuman Sehun membuatnya larut dalam sebuah perasaan takut dan khawatir, juga nyaman, ia tahu, cinta itu perasaan yang rumit. Ia membalas senyuman Sehun, dengan sebuah senyuman lemah.

“Ayo kita hadapi segalanya yang akan terjadi” ucap Sehun. Jiyeong mengangguk sebagai jawaban. Merekapun saling mengeratkan pelukan, memberikan kepercayaan tersebesar mereka satu sama lain.

To Be Continued

 

Hai Reader! Jumpa lagi dengan author labil :*

Maaf ya, janjinya kemaren Cuma sampe chapter 4 -_- pada kenyataannya, ternyata ceritanya lebih panjang lagi >_< Masih ada satu chapter lagi keknya 😀

Yodah,  sekian~

XOXO^^

Iklan

13 pemikiran pada “Beauty And The Beast [4]

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s