A Cup of Love

A Cup of Love2

Title: A Cup of Love

Author: Chubby Kawaii 136 a.k.a CK136 (https://chubbykawaii136.wordpress.com)

Genre: Straight, Romance

Rating: Teen

Length: Ficlet

Main Cast: OC as reader(s) dan si bulet Do Kyungsoo

Disclaimers: Saya pemilik sah alur cerita ini! Don’t copas without permission!

Summary: Secangkir cinta yang kembali menyatukan kita.

Cuap-cuap: fanfic ini dibuat khusus (pake telor) untuk editorku tercinta, tersayang, terkasih, tercelamanya. Angga 212 alias bininye orang bulet *tunjuk D.O* semoga kamu suka, my baby boo ^^

Warning!!! Silent reader dilarang membaca fanfic ini!!!

Sial! Hari ini benar-benar sial!

 

 

Tugas menumpuk! Bangun telat! Jalanan macet! Terlambat masuk kelas pertama! Dihukum seharian! Dan sekarang aku menggigil kedinginan karena kehujanan! Sendirian tidak punya tempat berteduh. Dan karena tidak punya pilihan lain, akhirnya dengan kantong yang sebenarnya sudah menipis, aku memilih masuk ke sebuah café.

 

 

Para pelayan sibuk membersihkan meja dan mengantarkan pesanan. Belum banyak pelanggan yang hadir. Aku memilih tempat duduk paling ujung. Kulihat sepasang pria tengah sibuk dengan urusan masing-masing di panggung kecil yang disediakan di depan audien.

 

 

Yang lebih tinggi menyetel nada gitar dan yang lebih pendek mengecek fungsi mikropon, “Halo… halo… tes tes… hana dul… tes tes…” bisa disimpulkan bahwa mereka adalah band di café ini.

 

 

Aku melirik arloji sekilas. Tanpa ku sadari ternyata aku sudah duduk dengan baju basah sembari memperhatikan aktivitas kedua pria tadi selama lebih dari lima belas menit tanpa memesan apapun.

 

 

Aku juga bingung mau memesan apa. Bukannya pilih-pilih, tapi aku takut tidak bisa membayarnya nanti. Ini tanggal tua, jadi wajar kalau dompetku kering.

 

 

Seorang pelayan menghampiri mejaku lengkap dengan kertas dan penanya. Mati aku! Aku bingung dan langsung berpura-pura memilih menu.

 

 

“Bisa ku catat pesanan anda, nona?” tanyanya sopan.

 

 

Aku membolak-balik daftar menu untuk mencari menu termurah. Dan yang berhasil tertangkap mataku adalah…

 

 

“Tolong segelas lemon tea.”

 

 

“Anda sepertinya habis kehujanan. Bagaimana kalau hot lemon tea?” tawarnya.

 

 

“Emh… ok.” jawabku canggung.

 

 

Setelah pelayan itu berlalu, aku kembali memandang panggung kecil di depan sana. Tanpa terduga, ternyata meja-meja sudah penuh sesak oleh pelanggan. Setiap meja mempunyai empat kursi dan hanya aku yang duduk sendirian dengan ketiga kursi kosong.

 

 

“Lagu pertama adalah lagu yang sangat menggambarkan perasaanku saat ini.” ucapnya memecah teriakan riuh pengunjung.

 

 

Pria yang satunya segera memetik gitar dengan piawai. Jemarinya menari-nari diantara senar-senar. Menghantarkan nada-nada sendu yang sedikit membuat moodku membaik.

 

 

Tepat sebelum lagu dimulai, pelayan tadi kembali datang dengan segelas hot lemon tea, “Silakan dinikmati, nona.” ucapnya sebelum membungkuk hormat dan pergi. Aku hanya membalasnya dengan seulas senyum.

 

 

Mungkin secangkir lemon tea panas bisa membuatku hangat. Aku menghirup aromanya dan menyeruput sedikit. Emh… lumayan enak. Lain kali jika aku berkunjung ke café ini, aku akan memesan lemon tea lagi.

 

 

Same bed but it feels just a little bit bigger now

Our song on the radio but it don’t sound the same

When our friends talk about you, all it does is just tear me down

Cause my heart breaks a little when I hear your name
It all just sounds like oooooh…

Mmm, too young, too dumb to realize

That I should have bought you flowers

And held your hand Should have gave you all my hours

When I had the chance Take you to every party

Cause all you wanted to do was dance

Now my baby’s dancing

But she’s dancing with another man

 

 

Aku menikmati alunan melodi dan suara merdu penyanyi pria itu sambil menghabiskan minumanku.

 

 

I hope he buys you flowersI hope he holds your hand

Give you all his hours When he has the chance

Take you to every party Cause I remember how much you loved to dance

Do all the things I should have done When I was your man

Do all the things I should have done When I was your man

 

 

Apa dia sedang sakit hati? Apa dia baru saja putus dari kekasihnya? Dan mantan kekasihnya sudah punya pengganti?

 

 

Tiba-tiba berbagai pertanyaan berputar di kepalaku. Eh? Tapi kenapa aku malah mengurusi urusan orang lain? Memang kenapa kalau dia sakit hati? Memang kenapa kalau dia baru saja putus? Memang kenapa kalau mantan kekasihnya sudah punya pengganti baru?

 

 

Tak terasa sudah beberapa lagu mereka lantunkan dan lemon teaku juga sudah habis. Aku memanggil pelayan dan membayar billnya lalu memutuskan untuk pulang.

 

 

Aku memilih untuk menunggu bus malam di teras café karena kebetulan dekat dengan jalan raya dan halte. Tapi setelah sekian lama menunggu, busnya tak kunjung tiba. Merasa kakiku mulai kram, aku putuskan untuk duduk di tempat duduk yang disediakan.

 

 

Beberapa pengunjung café pulang silih berganti meninggalkanku yang masih menunggu bus sendirian.

 

 

Seorang pria tinggi, anggota band yang memetik gitar tadi, keluar café dan segera menjemput motornya untuk dibawa pulang. Disusul pria yang lebih pendek, namun tak ada tanda-tanda bahwa ia juga akan pulang dengan mengendarai kendaraan pribadinya.

 

 

Dia berdiri tepat disampingku dan tanpa terduga kepalanya memutar kemari, “Apa kau sudah menunggu diluar cukup lama?” tanyanya dengan suara bariton yang terdengar tegas.

 

 

Aku mengangguk mengiyakan, “Ya, lumayan lama.”

 

 

“Bus terakhir biasanya melewati daerah ini sekitar pukul sepuluh, paling sebentar lagi juga datang.” aku kembali melirik arlojiku. Dan benar, sudah hampir pukul sepuluh malam. Ck, kalau aku tidur terlalu malam bisa-bisa aku terlambat bangun seperti tadi pagi kemudian mendapat hadiah dari songsaenim lagi. Huft~

 

 

“Kenapa wajahmu jadi muram? Apa yang kau pikirkan?” tanya pria tadi yang sepertinya… khawatir dengan perubahan mimik wajahku. Tapi apa mungkin pria yang sama sekali tidak ku kenal menghawatirkanku? Aneh.

 

 

“Ah~ tidak. Aku hanya terlalu lelah saja.” sanggahku.

 

 

Pria tadi mengangguk mengerti, “Sekarang kau kuliah dimana?” dahiku mengerut bingung. Namja ini terus bertanya seolah-olah kami teman dekat yang bertahun-tahun tidak berjumpa.

 

 

Seakan tahu dengan kebingunganku, namja tadi kembali berucap, “Kau tidak mengenalku? Jangan bilang kau melupakanku!”

 

 

“Memang anda siapa?” jangan-jangan dia artis. Aku memang jarang memonton televisi jadi wajar kalau aku tidak tahu siapa dia.

 

 

Dia tersenyum mengejek, “Jadi kau benar-benar lupa ya.”

 

 

Suara deritan dari sebelah kiri membuat kepala kami sama-sama berputar. Busnya sudah datang, tanpa pikir panjang lagi aku segera naik dan mencari tempat duduk yang nyaman. Tidak banyak orang didalamnya karena ini sudah larut malam.

 

 

Namja tadi turun seletah melewati beberapa blok, “Jika kau ingin tahu siapa aku, datanglah ke café esok hari. Annyeong~”

 

 

Namja itu tahu bagaimana cara membuat kepala orang semakin sakit. Aku tidur terlalu malam lagi, dan semakin tidak bisa memejamkan mata karena terus memikirkan ucapan terakhirnya tadi.

 

 

 

============***=============

 

 

 

Hari ini kelas berakhir lebih awal. Huft~ untung saja. Selama pembelajaran berlangsung pikiranku melayang kemana-mana, ini semua gara-gara namja kemarin.

 

 

“Jika kau ingin tahu siapa aku, datanglah ke café esok hari.”

“Jika kau ingin tahu siapa aku, datanglah ke café esok hari”

“Jika kau ingin tahu siapa aku, datanglah ke café esok hari”

 

 

Kata-katanya bagaikan mantra sihir yang membuatku semakin penasaran. Oleh karena itu, sore ini aku datang ke café itu lagi.

 

 

Suasananya berbeda dengan kemarin malam, lebih terasa santai dan nyaman. Aku kembali menduduki kursi kemarin. Ku lihat namja anggota band yang bermain gitar kemarin tengah bercanda dengan barista, mereka tak ada lelahnya untuk sekedar berhenti tertawa.

 

 

Tiba-tiba seorang pelayan menghampiri mejaku dengan segelas minuman, mungkin pesanan orang lain. Aku ingin meminum lemon tea lagi tapi barusaja aku hendak buka mulut, pelayan itu malah menaruh minumannya di mejaku.

 

 

“Maaf, tapi saya belum memesan apapun. Mungkin anda salah meja.” protesku sesopan mungkin.

 

 

“Ini pesanan untuk anda dari seseorang. Silakan dinikmati.” tanpa menggubris omelan sopanku barusan, pelayan itu malah pergi meninggalkanku bersama segelas minuman berwarna coklat muda ini.

 

 

Aku mengangkat gelasnya untuk sekedar menghirup aromanya, “Itu latte.” seru si bartender yang kulihat bersama pemain gitar tadi.

 

 

Oh~ minuman ini namanya latte, “Biasanya ada krim di atasnya.” lanjut si bartender.

 

 

Krim? Apa yang bartender itu maksud adalah cairan putih berbentuk love sign ini?

 

 

Aku mencoba meneguknya. Dan hasilnya aku memporak-porandakan bentuk hatinya. Emmm, manis dan tidak terlalu berat dimulut. Seseorang menarik kursi didepanku, rupanya namja kemarin.

 

 

“Annyeong~” sapanya.

 

 

“Annyeong.”

 

 

Dia mengamati wajahku, “Jadi apa kau sudah mengingatku?” aku menggeleng dan dia malah tersenyum, “Baiklah, akan ku beri clue. Yang pertama, kita saling mengenal semasa SMA.”

 

 

Cluemu terlalu umum, aku mengenal banyak orang waktu SMA.”

 

 

Dia malah terkikik geli, “Kau tetap tidak berubah ya. Baiklah aku beri kau clue kedua, kita sangat dekat selama hampir tiga tahun.” dekat? Apa mungkin dia dulu satu kelas denganku?

 

 

“Kita teman sekelas?” dia mengangguk, “Emh… Sehun?” dia menggeleng, “Tao?” dia kembali menggeleng, “Kai?” terkaku masih belum putus asa, tapi namja ini lagi-lagi menggeleng.

 

 

Dia menghembuskan nafas kecewa, “Kita berpisah tiga setengah tahun yang lalu dan sepertinya kau sudah menghapusku dari ingatanmu.” ucapnya terdengar sedih, “Aku Do Kyungsoo, mantan kekasihmu sewaktu SMA. Apa sekarang kau sudah ingat?”

 

 

Omona~!!! D… dia Kyungsoo-ku? Dia benar-benar Kyungsoo kekasihku dulu?

 

 

“Aigo Kyungsoo oppa. Aku tidak pernah melupakanmu, aku tidak bermaksud…”

 

 

“Aku mengerti, mungkin karena kau sudah punya namjachingu baru makanya kau melupakanku.”

 

 

“Aniya~ aku masih sendiri seperti janji kita dulu. Janji yang kau ucapkan sebelum pergi ke Amerika untuk menuntut ilmu.”

 

 

Mata bulatnya melihat tanganku yang masih setia menggenggam segelas latte, “Sebenarnya latte itu aku gunakan untuk menyatakan perasaanku lagi. Tapi sepertinya kau sudah meminumnya. jadi… mau tidak mau kita akan menjadi sepasang kekasih lagi.”

 

 

Giliran aku yang tersenyum geli, “Tanpa meminum inipun aku akan mengatakan iya.” aku meraih jemarinya, “Berjanjilah jangan pergi jauh lagi.”

 

 

“Aku, Do Kyungsoo berjanji tidak akan pergi meninggalkanmu sendirian lagi.” serunya lantang membuat barista dan pemain gitar tadi bersiul menggoda kami.

 

 

+++++FIN+++++

Yang sudah membaca silakan hargai author dengan RCL ^^

Semangat 136!!! ^.^~~

Iklan

17 pemikiran pada “A Cup of Love

  1. iiiihhh!!!,ff ini bikin aq senyam senyum gaje,hihihi..ceritanya ringan n fluffny kerasa bangets!,n btw si d.o wajahny udah brubah kah?sampe2 si oc lp?,*hadeuuh.n buat authorny fighting ya??!!

    Suka

  2. Ihhh~~ keren thor ffnya….. aku pingin dong dibuatin yg coupleny Chen XD hahaha bole g?? Pake nama Korea aku Hwang Sel la yg happy ending hahahhaa

    Klo g jg gpp
    Hahahaha
    Good job ya~

    Suka

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s