Dear, Lil’ Deer (Chapter 3)

2014-04-27-23-53-06_deco

Dear, Lil’ Deer (The 3rd Page)

by: eishiefkaa

|| Casts: Luhan, Im Yoona || Genre: Romance || Rating: T || Length: Chaptered ||

Once again, i’m not the owner of the casts. Enjoy:)

.

Chapter 3: Punishment

Pernah tidak kalian merasa kesal dengan seseorang karena ia melakukan suatu kesalahan dengan sengaja? Jika kalian balik bertanya, jawabanku adalah: ya, aku pernah. Tepatnya malam ini, ketika namja rusa itu kembali berulah.

“Hai, Yoona~”

Ia menipuku.

Bayangkan, ia menyapa begitu santai di depan Lee Seung Gi-oppa yang sedang dinner bersamaku, di apartement kecil ini. Jika di deskripsikan, dengan bed-hair cokelatnya, bajunya yang tidak dapat dikatakan rapi, senyum menyebalkannya, dan-oh, plus lengannya yang melingkar di leherku, ……makan malam ini hancur sudah.

Hh, ayolah Luhan, dua jam yang lalu kau masih imut dengan tingkah penurutmu itu.

Kutatap Seung Gi oppa yang sedari tadi hanya semakin mempertajam pekat matanya ke arah kami. Bibirnya bergerak terbuka, dengan alisnya turun ke bawah. Semua mimiknya seolah ingin menuduh: kau berbohong Yoona.

Oppa menggertakkan giginya, “Jadi kalian tinggal berdua?”

Ia bertanya penuh penekanan. Aku tak mengangguk, juga tak menggeleng. Untuk saat ini baiknya memang diam. Semua jawaban pasti terdengar salah di telinga oppa. Semua orang yang sedang kesal juga begitu, kan?

Ting!

“Yoona, jawab aku.”-Oppa menaruh alat makannya kasar.

Masih memilih diam, kepalaku akhirnya menggeleng. Tidak, oppa, ujar benakku yang ingin sekali berkata.  100% aku jujur, aku tidak tinggal bersamanya. Namja itu sendiri yang bilang kalau ia hanya menginap. Tapi bagaimana cara menyakinkan oppa?

Oppa berdelik lagi, “Benarkah?”

“Ne, hyung, kami tinggal berdua.”

“Mwo?!” Serentak aku dan oppa menyahut dan menoleh ke arah sumber suara bersamaan. Di belakangku, Luhan terkekeh ringan.

Luhan, kenapa kau yang menjawab?!

“Masih kurang jelas? Aku tinggal bersama Yoona, Seung Gi-hyung. Dan kau pasti tahu, kan, kenapa ia merahasiakannya? Karena aku dan Yoona-”

“M-MWO?! Neo micheoseo?? Kau bicara apa, Luhan?!” Sontak aku berdiri dan menutup bibirnya dengan kedua tangan. Sumpah serapah kulantunkan kepadanya, tak mengira ia akan berbuat sejauh ini. Cukup. Merutuki perbuatannya dalam hati tak mampu mengubah sesuatunya, karena detik itu juga, oppa menggebrak meja dan segera beranjak pergi. Wajahnya tertilik tak peduli dengan adu mulutku dan Luhan.

“Oppa, tunggu! Dengarkan aku!” sahutku mengejar Seung Gi oppa. Ia sudah membuka pintu ketika kemejanya kutarik, “Seung Gi oppaa, tung-”

Oppa menoleh. Ia marah. “Dengarkan apa lagi Yoona? Bocah itu sudah menjelaskan semuanya. Apa lagi yang perlu kuketahui?” bentaknya.

Kugigit bibirku panik. Oppa benar, tak ada yang perlu ia dengar lagi dari yeoja chingu-nya yang payah. Apa lagi yang bisa kujelaskan? Semua hanya akan terdengar bagai alasan belaka jika kuucapkan.

Kembali aku memilih diam.

Tak lama, genggamanku di kemeja oppa melonggar. Oppa membiarkan, dan ia langsung melangkah keluar. Kepergianya tak dapat kubantah. Tetapi tak bisakah setidaknya ia tahu bahwa namja itu yang berdalih? Bukan aku.

“Luhan… kemari.” panggilku kemudian, pelan. Luhan berjalan mendekatiku tanpa ragu dan amat santai. Di rautnya tak ada rasa bersalah-itu yang benar benar membuatku kesal. Apakah ia paham akibat perbuatannya tadi? Kenapa, sih, ia melakukan hal yang tak masuk akal seperti ini? Buang kalimatnya yang pernah bilang menyukaiku. Namja konyol mana yang berbuat seperti ini terhadap yeoja yang disukainya?

“Huh, namja konyol mana yang tak mau mendengarkan dan mempercayai yeoja chingunya? Dasar Seung Gi-hyung.”-Luhan malah mengatai oppa. Ya! Ini salahmu, pabo!

“Jangan bicara seenaknya! Kenapa kau pura-pura tidur, eoh?”

Namja itu mengerjap. Ia mungkin tersentak dengan volume suaraku. “Pu.. pura-pura? Kau, kan, membangunkanku, Yoona, makanya aku-”

“Lalu kenapa tadi kau langsung memeluk leherku di depan oppa?”

“…sudah jelas, kan, soalnya aku-”

“Dan kenapa kau berbohong kepadanya?”

“Ya, Yoona-”

“Ya, Luhaan!” Akhirnya aku menjerit memotong tiap jawabannya. Napasku terengah menanyakan semua itu. Kurasakan sudut mataku mulai berair, meringis lirih. Otakku terasa penat jika memikirkan bagian terburuk dari ulahnya malam ini: Seung gi oppa-minta putus. Hal tersebut bisa terjadi sewaktu waktu mulai detik ini.

Luhan menyeka pipiku yang basah. Aku terisak isak di depannya. Meski masih dengan mimik polos, pelukannya kembali kurasakan. Ya, ia mendekapku, hangat seperti biasanya. Aku benci mengatakannya, tetapi untuk saat ini aku cukup menyukainya.

Rusa aneh. Ia yang membuatku menangis, ia juga yang menghentikan tangisku. Tepukan lembutnya di punggungku bahkan terasa nyaman. Oh, sejak kapan kelopak mataku tertutup? Apakah aku menikmatinya?

Luhan kemudian bersuara, “Jangan seenaknya memotong tiap ucapanku,” katanya, tetap tanpa sisipan nada bersalah.

 Aku mendengus, “Jangan seenaknya mendekorasi ulang hidupku,” kataku. Kudengarkan tawa gelinya, seraya mempererat lengannya di pinggangku. Meski antara enggan dan sebaliknya, sayang sekali jika kulepas pelukannya sekarang.

“Jadi,” lanjutku padanya, “apa saja tadi jawabanmu?”

“Huh, bahkan aku tak percaya kau punya jawaban masuk akal untuk semua pertanyaanku.”-imbuhku lagi datar. Rusa cina itu tak bergeming. Ia justru menaruh kepalanya di bahuku. Aku tak peduli. Sudah terbiasa mungkin.

“Daripada kukatakan panjang lebar,” ucapnya setengah berbisik, “bagaimana kalau kuberikan satu alasan yang menyatukan ketiganya?”

Lelah, kupejamkan kembali mataku perlahan, “Katakan. Aku tak akan marah.”-aku bergurau. Tentu saja aku marah.

Luhan kembali diam. Semakin lama, wajahnya semakin merambat ke ceruk leherku, dan ia berhenti tepat di situ. Tak kugubris kelakuannya, gumamanku yang merespon, “Aku tak main-main, Luhan.”

“Aku juga, Yoona. Joaheyo, joaheyo, joaheyo. Kau masih tak paham?” bisiknya tulus.

Gantian aku yang enggan membalas. Harum rambutnya yang bagaikan bau susu seperti dulu, tak berubah, selalu sukses mengganggu konsenku. Sombong tidak, ya, jika kutertawai dia, tanpa wajah-memerah-menyebalkan, lalu berkata: ‘ah, aku, kan sudah tahu kau menyukaiku,’ seperti itu? Ia sudah mengatakannya beberapa kali, apa lagi yang tak kupahami? kau tahu Luhan, bahwa aku tahu kau menyukaiku.

“Ya, Yoona.”

“Ya, Luhan,” potongku, lagi. Ia mendengarkan. Kutaruh daguku di sela rambut lembutnya. Jangan salah sangka, aku hanya mencoba berucap di sana, “jarak sedekat ini, juga sikapmu tadi… tahu, kan, artinya apa?”

Luhan mengadah, menatap kearahku. Ia tahu, ia tak tahu. Mana yang benar, aku juga tidak tahu. Yang jelas, ia masih mendengarkan.

“Apa?” tanyanya lugu. Aku tersenyum.

“Besok malam kau harus tidur di mana, tebak?”

*****

Seohyun dan Luhan semakin akrab. Kesimpulan itu kudapat dari ‘acara kencan’ mereka siang ini. Setelah keduanya hilang di tempat rekaman, Taeyeon membawa informasi bahwa Seohyun mengajak Luhan makan siang. Jadi, sekali lagi, intinya, mereka kencan. Terdengar aneh menurutku.

Bukan masalah kedekatan mereka. Yang meenyebalkan adalah, kenapa Seohyun selalu mengajak Luhan makan, begitu pula sebaliknya. Apakah ia bermaksud membuat Luhan sedikit gemukan? Hh, jika benar begitu, aku harus menegaskan kepadanya bahwa rusa yang gendut itu tidak lucu. Kalau ia tak percaya, tinggal kuberikan bukti dalam foto masa Sd Luhan.

Yah, bukan saatnya memikirkan mereka. Seung Gi oppa, namja itu belum mengirimiku pesan atau panggilan sedari kemarin. Nomornya juga tak bisa kuhubungi. Jadi sekarang, aku berdiri di toko kecil ini, tanpa teman jalan-pasrah. Sebenarnya aku masih harus berada di SM bersama member lain untuk latihan. Tetapi kepalaku terasa berat. Aku butuh hiburan sebentar. Lagipula, Seohyun juga diizin-kan break lunch duluan, kan?

‘Jingle bells, jingle bells, jingle all the way~’

5 hari lagi memasuki natal. Hadiah-hadiah indah banyak mengelilingi sudut toko. Merah dan hijau bertebaran. Aku bahkan telah memilih beberapa barang untuk kuberikan pada teman-teman. Kantung belanja yang kubawa sangat banyak dan penuh, berisi beberapa boneka, kosmetik, dan sepatu lucu untuk seluruh member GG; setelan jas modis untuk kru dan manager-ssi; topi rusa, kaus kaki, dan hoody manis yang (tentu saja) kubeli untuk Luhan; lalu…

Syal yang saat ini sedang dalam pengerjaan, untuk oppa.

Inilah alasan pikiranku pening. Bagaimana jika oppa tak mau memaafkanku? Apa aku harus melewati malam natal sendirian?

.

.

Tring~ Tring~

Ketika sedang menyetir, handphone tiba-tiba berdering, menandakan panggilan masuk. Seketika tanpa pikir panjang, mobil langsung kuparkiri di pinggir jalan agar bisa mengangkatnya cepat. Hitung hitung Seung Gi oppa yang menelpon-telah memaafkanku.

“Yeoboseyo?”-orang di sebrang sana kusapa tak sabaran. Sempat terdengar respon terkejut darinya, aku tak peduli. Aku hanya ingin berbicara dengan oppa.

Sayangnya, bukan suara berat oppa yang tertangkap. Sungguh bukan suara yang kuharapkan. Aku mengenalnya. Suara serak sekaligus kekanakan seperti-

“Yoona!” -nah, itu dia.

Sapaannya terdengar tak jauh. Maksudku, ia memanggil seperti bukan dari telepon. Dan benar saja, namja bernick name Luhan itu terlihat jelas di spionku, berlari kemari. Kutebak ia menelpon karena mengenal ‘si pemilik mobil ini’.

Kepala kusenderkan ringan, menunggunya. Walau agak sebal, setidaknya kali ini ada yang menemaniku.

“Yoon….a,” Luhan memanggil lagi, terengah. Ia dengan seenaknya membuka pintu mobil dan menerobos masuk. Tubuhnya lagi-lagi tertilik kedinginan.

Kutatap heran Luhan lekat lekat. Dari pakaian, tampang, dan… dompetnya? Langsung terlintas satu pertanyaan di benakku: Ia sendirian? Begitu. Aku merasa rusa ini tidak habis pergi dengan Seohyun. Tak ada tanda-tanda yeoja itu di sekitarnya. Setidaknya, tak ada bau parfum seorang Seohyun.

“Wae, Yoona? Kau mau melubangi wajahku?” Luhan berujar, membuat lamunanku buyar. “Menatapku lama seperti itu nggak gratis, lho.”

Kugembungkan kedua pipiku, meremehkan leluconnya yang menyebalkan. Pede sekali dia, rutuk-ku dalam hati. Aku lalu kembali pada kesibukanku menyetir, sedang Luhan mulai membuka topik natal.

“Yoona mau hadiah apa dari Lu-klaus? Nanti akan kubelikan~” sahutnya setengah bercanda. Aku mencibir.

“Hu-uh, kalau memang ada, mungkin aku hanya akan memintamu untuk tidak mengacaukan urusan-urusanku lagi.” Ia tertawa ringan, padahal aku benar-benar mengeluh.

Sesaat Luhan sempat melihat kantung-kantung kresek di jok belakang, menggelitiknya untuk bertanya, “Hadiah untukku?”

Aku mengangguk kecil. Tentu saja kutambahkan dengan, “Untuk yang lain juga ada.”

Luhan memberikan “Oh~” panjangnya. Ia tertangkap masih mengintip. Agaknya rasa penasarannya kambuh dengan pertanyaan ‘apakah hadiah itu adalah barang yang diinginkannya atau tidak’. Dasar rusa kecil.

Langsung saja kutembak tebakanku, “Memang kau mau hadiah apa, heum?” -membuatnya bergidik kaget.

“Ya, Yoona, sejak kapan kau belajar membaca pikiranku? Seram sekali…”

“Aishh, tertulis di wajahmu, pabo!” ketusku sembari memukul pundaknya. Senang sekali rasanya ketika mendengar rusa cina itu mengaduh kesakitan. Aku nyengir, “hehe, rasakan.”

Luhan tersenyum. Sekedip kemudian ia bertanya, “Kalau hadiah yang kau beli tidak sesuai dengan yang kuinginkan, boleh tidak meminta yang lain?”-katanya. Aku mengangkat bahu pelan,

“Tergantung.”

“Ada syaratnya?” dan aku mengangguk angguk-tentu saja!

Sudah kubilang, kan, yang kuinginkan hanyalah KAU tak lagi mengacaukan hidup damaiku.” Namja itu mengangkat alisnya. Aku menambahkan, “Jika kau menurutinya, aku janji memberikan apapun yang kau minta.”

“Jinjja?”

“Ne, n-Tunggu, Luhan, kenapa kau serius sekali? Memang apa yang kau minta?”

Luhan menyengir evil, “Lihat saja nanti. Khe khe. Ahh, tak sabar menunggu nataaal.”

Kukerutkan dahiku kepadanya yang kini bernyanyi lagu natal (yang liriknya kuduga ‘versi Luhan’). Mencurigakan…

.

.

.

Aku dan Luhan berhenti di sebuah toko manik. Luhan yang menyuruh. Kami melihat-lihat perhiasan plastik cukup lama. Ternyata banyak kalung dan cincin mainan yang sangat lucu kutemukan.

“Luhan-luhan! Lihat gelang ini imut sekalii, ada gajah gajah kecilnyaa,” pekikku.

Luhan terkikik lebar, “Tadi kau marah-marah kusuruh berhenti di sini. Sekarang tak menyesal, kan?”

Aku menggeleng senang. Sejak kapan, ya, ia menemukan toko kecil ini? Banyak sekali yang ingin kubeli jika aku membawa uang banyak. Gelang gajah, gelang 8 warna, kalung santa, serta cincin berlian plastik sederhana yang begitu menarik perhatian, rupanya mengalahkan harga dua topi rusa yang tadi kubeli. Mahal sangat.

“Yoona, kau mau yang mana?”-Luhan bertanya melihatku kebingungan. Aku tak merespon.

Akhirnya kuputuskan untuk mengajak Luhan kembali ke SM. Tentu saja cincin kecil tadi tak jadi kubeli. Tak mungkin juga, sih, kuminta Luhan membelikannya, karena ia juga telah membeli cincin sejenis yang berbeda warna. Entah untuk siapa benda itu, yang pasti warna gelap yang dipilihnya sangat tak cocok untuk diberikan kepada seorang yeoja. Hh, aku mendesah. Satu lagi misteri unik dari rusa kecil ini.

*****

Apartement, 8:13 pm

“Yoona, makan malam sudah kubuat, tuh. Aku pakai kamar mandi duluan, ya.” Luhan berseru dari dapur. Ia sedang melaksanakan hukuman teringannya kali ini, yaitu memasak untuk kami berdua. Jika diperintah, namja itu memang paling malas untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Tapi, siapa sangka tiap masakan buatannya membuatku ketagihan.

Karena itulah, segera, ketika Luhan tengah mandi, kusantap hidangan tersebut dengan lahap. Namja itu benar-benar berbakat menjadi koki. Heran, kenapa ia tak buka restauran saja?

“Yoona, makan pelan-pelan.”

“Uhuk! Lu-Luhan? Kenapa cepat sekali mandinya?” panikku, susah payah menelan nasi di mulut. Luhan bahkan sudah berpiyama lengkap dengan guling di tangannya.

Rusa itu menunduk lucu, “Aku takut masuk angin kalau lama-lama.” jelasnya. Ia lalu menatapku dengan puppy eyesnya, membuatku berpikir ada yang tidak beres.

“Ada apa?” Tanyaku. Luhan memiringkan kepalanya, memajukan bibir bawahnya. Ia berkata:

“Kau sungguh sunguh menyuruhku tidur di balkon?”

.

.

.

Yup, Luhan. Aku serius, dan itu membuat kebanggaan tersendiri bagiku. Sebut aku sepupu yang jahat, tapi ini hukuman yang paling tepat.

Luhan sudah duduk tak nyaman di sofa kecil yang kusiapkan di sana. Meski terbilang hangat, gerak geriknya berkata palsu bahwa ia kedinginan. Haha, dasar penakut.

“Ini selimut untukmu.” Kulemparkan dua selimut tebal sekaligus, meski dua pemanas ruangan juga telah dinyalakan. Rusa itu tak berterimakasih. Ia lebih fokus kepada pemandangan di bawah sana.

Ck, salah sendiri malah fokus ke sana.

“Yoona… kau sudah mau tidur?”

Aku mengangguk mantap, “Ne, Luhannie. Kau tidak takut, kan, jika kutinggal?”-Luhan tak menjawab. Tetapi wajahnya mendadak kembali normal, tidak lagi tegang. Ia mengerjapkan matanya, memandangku aneh. “M-mwoya? Kenapa melihat seperti itu?” ucapku risih.

Namja itu hanya menggeleng pelan. Ia lalu kembali mengedarkan pandangannya ke bawah. “Tidak, aku sedikit gugup.”

“Hah? Hahaha, kukira apa.” Ledekku, “kalau begitu kutinggal ya, Luhan. Met tidur~ Jangan sampai jatuh, ara.”

Kututup segera pintu balkon dan beranjak ke kamar.

.

.

11:09 pm

Tik-tik-tik.

Gawat. Mataku sedari tadi tidak mau terpejam. Aku khawatir dengan keadaan Luhan. Jangan-jangan ia juga tak bisa tidur karena phobianya? Atau bisa saja alat pemanas-nya tiba-tiba rusak dan ia tak bisa masuk karena kakinya susah merangkak saking ketakutan. Atau karena pusing melihat ke bawah, tubuhnya tanpa sengaja lunglai dan jatuh? Dari lantai 10?! Oke, Yoona, kau berlebihan. Tetapi setidaknya kita tahu tempat itu berbahaya untuk seorang rusa.

Kuderapkan kakiku, melangkah ke tempat berpagar tersebut. Pelan kubuka pintunya dan menatap lega rusa cina yang sedang terlelap dengan aman. Fyuh, kuhembuskan napasku pendek. Rupanya anak kecil, ya tetap anak kecil. Lucu juga mengetahui bahwa ia bisa melawan rasa takutnya dengan rasa kantuk. Lihat saja tidurnya, damai sekali.

Kuusap-usap rambut namja itu gemas. Sudah lama tak kulihat Luhan yang sedemikian tenang. Kukira wajah tidurnyapun bakal menyebalkan, namun ini sebaliknya. Manis seperti saat ia masih mengekoriku kemana-mana.

Aku duduk di depan pintu, mengutuki diriku yang masih cemas akan Luhan. Habis, jika terjadi sesuatu padanya, ia tak akan bisa menjalankan schedule-nya dengan baik, atau ‘makan’ bersama Seohyun tanpa halangan. Aku cukup tahu, rasanya sakit di tengah jadwal yang padat itu amat tidak enak. Makanya, aku tak mau Luhan juga begitu.

Jadi, meski sedikit dingin (karena tanpa selimut), kucoba untuk memejamkan mataku, berharap dapat tidur sepulas rusa cina di sofa itu.

Met tidur Luhan.

.

.

.

12:56 am

“Dasar pabo. Kau bisa masuk angin, tahu.”

Hengh?

Tertinjau dari kulitku, seseorang tengah mengangkut tubuhku yang terasa lemas dan pegal. Ah, sedang apa aku tadi? Sekarang jam berapa? Masih malamkah? Sendi-sendiku, kok, sakit semua.

Kesadaranku sedikit pulih. Hanya sedikit. Cukup untuk membangunkan seper-empat kelopakku agar dapat menangkap cahaya, gambar, atau apapun. Dan yang pertama tertilik adalah figura seseorang dari bawah. Tepatnya, dagu miliknya saja yang dapat kulihat. Tangan hangatnya kurasakan di punggung dan kaki bagian atasku. Jadi kusimpulkan, aku sedang digendong olehnya. Entah kemana aku dibawa…

Ngantuk. Mataku beristirahat lagi. Kesadaranku semakin hilang. Sebelum semuanya menggelap, kudengar orang itu menggumamkan sesuatu, sangat pelan:

“Phobia-ku sepertinya hilang begitu cepat ketika kau sebut namaku seperti tadi, Yoona.”

…Mwo… Apa… katanya?

Luhannie, huh? Kau harus tanggung jawab telah membuat jantungku berdenyut ngilu tak karuan begini.”

.

.

Semoga pagi cepat datang.

TBC

___________

Waaa, annyeonghayoo 😀

Duuh, bikin chapter 3 ini pengorbanan waktu banget parah T^T kukira nggak bakal bisa lanjut lagii gara gara writer block;_; alur ceritanya nggak berkembang pula -,- latarnya apa lagi *mianhae*

makasih untuk semua pembaca DLD yaa 🙂 nama kalian juga udah kucantumin di ff ini, di blog aku sebagai rasa terimakasih (kayak udah mau ending wkwk :p )

Oke sekian dari saya 😀 khamsahamnidaa~

Iklan

21 pemikiran pada “Dear, Lil’ Deer (Chapter 3)

  1. Luhan jahil banget sih. Bisa-bisanya mengacaukan dinnernya Yoona sm Seunggi. Hahaha dan apalagi tuh masa Luhan nyium sepupunya sendiri. Yah walaupun emg sepupu jauh sih tp kan tetep aja. Kykynya aku bisa nebak tuh permohonannya Luhan. Apalagi klo bukan mw Yoona nerima dia dan jadi pacarnya? Anyway chapter ini lucu banget, phobianya Luhan bisa ngilang dlm sekejab hahaha.

    Maaf kak aku baru komen di chapter 3 ini. Menurutku FFnya bagus kok, menarik. Sayang banget sih klo ga dilanjutin. Apalagi pas bagian seru”nya ._.

    Suka

  2. Luhan manis deh, lucu. Dan entah knapa sy mikirnya seo sm luhan itu gk beneran kencan. Mungkin aja seo itu suka sm seunggi jd marah sm yoona. Trus luhan sm seo itu cm untk manas2in yoongi. Hahah reader sotoy nih sy. Next chapt dong 🙂

    Suka

  3. aku jadi berasa kalo luhan itu plin plan, ya?
    katanya suka sam yoong unni, tp kok malah kencan sama seo?
    dan, tadi, pas yoona nyebut nama luhan yg bikin phobia luhan hilang itu, yoona pas ngigau atau, , ?
    next chap ditunggu ^_^

    Suka

    • Luhan sama seo masih dirahasiain hubungannya^^ ditunggu aja ya 🙂
      Kalo yg yoona itu, tadi kan pas mereka belom tidur si yoona nggak sengaja manggil luhan pake ‘luhannie’, (baca bagian awal balkon) makanya si luhan jadi aneh gitu. Kheke, biasa..si luhan malu malu di sebut namanya kayak gitu sama yoona x)

      Makasih udah baca dan meninggalkan komentarr ❤

      Suka

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s