Special Suho’s Birthday: The Happiness of Enduring Hardship Together

the happiness of enduring hardship together copy copy

Title: The Happiness of Enduring Hardship Together

Author: Chubby Kawaii 136 a.k.a CK136 (https://chubbykawaii136.wordpress.com)

Genre: Straight, Romance

Rating: Teen

Length: Ficlet

Main Cast: OC as reader(s) dan guardian Suho a.k.a Kim Joonmyeon

Disclaimers: Saya pemilik sah alur cerita ini! Don’t copas without permission!

Summary: Pada akhirnya kita masih mempunyai kebahagiaan setelah kita bertahan mengahadapi beratnya sebuah hubungan bersama

Cuap-cuap: fanfic ini dibuat spesial untuk hadiah ulangtahun leader kayarayabanyakduit uri Suho ^.^/\

Warning!!! Silent reader dilarang membaca fanfic ini!!!

 

 

 

 

Kita seperti selalu mengenang masa lalu

Apakah itu karena kita takut untuk melihat masa depan?

Kau bilang dunia terlihat akan runtuh setiap harinya

Jadi kau hanya menundukkan kepalamu dan enggan mendongak

Kita seharusnya saling berpegangan tangan dan mendaki gunung untuk melihat

Melihat pemandangan luar dari jendela yang kita sentuh di balkon

Jika kau harus menangis, maka biarkan aku memelukmu

Tanpa banyak kejutan, pada akhirnya kita akan mendapatkan sebuah kebahagiaan kecil

Meskipun terkadang kita merasa khawatir dan putus asa

Pada akhirnya kita masih mempunyai kebahagiaan setelah kita bertahan mengahadapi beratnya sebuah hubungan bersama

Setiap waktu ketika cinta mencapai cerita akhir

Kenangan masa lalu akan menyatukan kita

Meskipun terkadang kita bersedih dan gembira

Pada akhirnya kita masih mempunyai kebahagiaan setelah kita bertahan mengahadapi beratnya sebuah hubungan bersama

Hanya ada kepahitan ketika angin meniupmu dalam kesendirian

Tapi tidak ada lagi yang namanya kesendirian dan keputus asaan ketika angin meniupmu padaku

-EXO-M – The Happiness of Enduring Hardship Together-

 

 

Kim Joonmyeon, namja terbaik yang pernah ku kenal. Senyumnya selalu menyejukan hati. Dia kaya, kaya raya. Namun tak pernah sedikitpun ia membanggakan harta ayahnya, hatinya lembut sama seperti tangannya yang kini tengah menggenggam erat tanganku.

 

 

Hari ini musim dingin dan salju masih berlomba-lomba jatuh menyelimuti tanah, tidak biasanya dia mengajakku kencan di saat udara sedingin ini.

 

 

Suho (begitu ia akrab disapa) ceroboh sekali hari ini. Dia lupa mengenakan sarung tangan dan syal serta jaketnya hanya dikancingkan asal-asalan.

 

 

“Maafkan aku telah membuatmu khawatir, aku terlalu terburu-buru hingga melupakan segala hal.” ucapnya membela diri. Alhasil, aku memasangkan sebelah sarung tanganku untuk menghangatkan telapak tangannya dan sebelah tangan kami telanjang dan saling bergumul mencari sedikit kehangatan.

 

 

“Sebenarnya untuk apa kita bertemu disini?” tanyaku.

 

 

Suho menghembuskan nafasnya dan meninggalkan kepulan asap halus di udara, “Ini terlalu mendadak, sebenarnya aku tidak tahu harus memulai dari mana.” bola matanya bergerak ragu.

 

 

“Ku tebak kau sampai tidak tidur semalam, lihat saja kantung matamu itu.” aku mengusap sudut matanya untuk sedikit membuatnya tenang, namun sepertinya gagal. Hal apa yang membuat Suho menjadi sekhawatir ini?

 

 

“Ayah… beliau menjodohkanku dengan anak rekan bisnisnya.” setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa berat, menggerogot hati dan membuat lututku lemas.

 

 

Aku merasakan tangannya bergetar diantara sela-sela jariku, “Lalu? Apa kau menyetujuinya?” tanyaku bodoh.

 

 

Suho melepaskan kaitan jemarinya dan memegang bahuku untuk membuat mata kami saling beradu, “Tentu saja aku menolaknya, jelas-jelas aku sudah memilikimu. Hemm~ seharusnya aku mengenalkanmu dengan ayah dulu.” Suho menundukan wajahnya sedih.

 

 

Aku melepas tangannya dari bahuku kemudian menggenggamnya, “Orangtua tahu apa yang terbaik untuk anaknya dan aku sangat menghormati keputusan ayahmu. Jadi…”

 

 

“Jadi kau menyetujui perjodohan ini?! Apa kau gila?!” alis Suho saling bertautan, aku tahu itu artinya dia marah besar.

 

 

“Jika itu yang terbaik untukmu, mengapa tidak.” berat aku mengucapkannya. Namun apa daya, aku hanya seorang pekerja di sebuah café sedangkan Suho, dia punya segalanya. Aku merasa terlalu rendah untuk menjadi pendampingnya.

 

 

Suho membuang muka dan tersenyum tidak percaya, “Sungguh aku kecewa padamu! Untuk apa kita menjalin hubungan selama lima tahun jika kau mudah menyerah hanya karena sebuah perjodohan?!” ia memijat keningnya, “Aku mengajakmu bertemu disini untuk menyelesaikan masalah perjodohan konyol ini! Ku mohon berjuanglah bersamaku!” meskipun ia marah, tak sedikitpun Suho menunjukan sebuah kekasaran. Setiap kata-katanya terdengar tegas namun lembut.

 

 

Di matanya berkilat keinginan besar untuk masih mempertahankan hubungan kami. Jujur, aku juga tidak rela memberikan Suho pada yeoja lain. Namun, sekalipun aku sudah mengenal ayahnya sejak dulupun, aku tidak yakin jika keluarganya mengijinkan Suho bergaul dengan orang-orang kalangan rendah sepertiku.

 

 

“Aku… ragu, Suho. Aku merasa tidak pantas untukmu.”

 

 

Suho membawaku kedalam pelukannya, “Kita akan berjuang bersama, aku yakin kita bisa. Jika kau benar-benar mencintaiku, cobalah untuk bekerja keras. Cinta memang terkadang menyakitkan, namun dengan kerja keras kita akan mendapat balasan yang setimpal.” itulah seuntai kalimat terakhir sebelum Suho mengantarkanku pulang.

 

 

 

 

==========***==========

 

 

 

 

Hari ini langit mulai dihiasi sinar matahari, namun angin tak bosan-bosannya berputar kesana-kemari. Meski begitu masih banyak orang yang memesan minuman hangat.

 

 

Sebuah mobil hitam berhenti di depan café. Coba tebak mobil siapa itu? Yup, benar. Suho. Dengan langkah cepat ia menghampiriku dan segera memelukku. Aku membalasnya sekilas.

 

 

“Aku ingin berbicara denganmu mengenai hal kemarin.” kulihat kantung matanya semakin terlihat jelas. Suho sepertinya frustasi memikirkan perihal perjodohannya. Sama, aku juga. Setelah pertemuan kemarin, aku tidak bisa terjaga sama sekali.

 

 

“Ayahku memberikan keringanan.”

 

 

“Keringanan apa?”

 

 

“Perjodohannya akan diundur jika aku bersedia mengurus cabang perusahaan diluar negeri.”

 

 

Kali ini aku yang membuang muka, menghembuskan nafas kasar dan memijat pelan keningku. Aku paling tidak suka dengan yang namanya hubungan jarak jauh.

 

 

“Kalau begitu kita break saja dulu.” putusku final.

 

 

Suho melotot tidak suka, “Aku tahu kau tidak akan suka, namun jangan sampai memutuskan sampai sejauh itu. Kita bisa saling mengirim surat elektronik atau video call.” bujuk Suho.

 

 

Walaupun kami sudah menjalin hubungan selama lima tahun, namun aku tidak bisa membiarkan Suho pergi jauh dariku. Tidak selamanya.

 

 

“Aku tidak jamin aku akan bertahan hanya dengan mengirim surat ataupun sekedar video call.”

 

 

“Aku akan pulang ke Korea setiap bulannya, hanya untuk bertatap muka denganmu.”

 

 

Aku menimbang-nimbang tawaran Suho, “Bukankah kau bercita-cita untuk memiliki café yang kau urus sendiri? Buktikan padaku! Selama aku pergi, berjuanglah untuk mewujudkan impianmu. Berjuanglah untuk cinta kita. Aku juga akan berjuang disana dan pulang dengan kebahagiaan.” lanjutnya.

 

 

 

==========***==========

 

 

 

 

Beberapa minggu berlalu dan pagi ini rencanya Suho akan terbang ke Paris. Aku mengantarnya sampai di bandara. Nampak seorang ibu-ibu dan yeoja cantik sudah menanti kedatangan Suho. Mereka bergantian memeluk Suho dan aku hanya bisa mematung disini. Hatiku berteriak ingin memeluk Suho namun kakiku masih tahu diri.

 

 

Suho berbalik dan menatapku dari kejauhan. Mataku berusaha mengatakan padanya kata ‘selamat tinggal’ dari sini. Suho mengerti, dia membalasnya dengan sebuah senyuman hangat yang dapat kuartikan sebagai ‘Aku akan sangat merindukanmu.’

 

 

Kepergian Suho hari ini bukanlah sebuah akhir, namun awal cerita baru dari perjuangan kami berdua. Aku akan menunjukan pada Suho bahwa aku bisa mewujudkan cita-citaku, aku akan membuat café milikku sendiri suatu saat nanti.

 

 

 

==========***==========

 

 

 

 

Setiap harinya, Suho akan menelponku untuk sekedar menanyakan apa yang sedang aku lakukan di Korea, sejauh mana langkahku untuk mencapai cita-cita. Dan aku akan selalu menjawabnya dengan tawa bahagia.

 

 

Selama beberapa tahun ini aku mencoba menabung walau hanya sedikit, mencari harga tanah yang lumayan miring namun tetap dekat dengan pembeli. Aku yakin Suho juga bekerja keras di Paris.

 

 

Suho menepati janjinya untuk pulang ke Korea satu bulan sekali. Dia pasti akan membantuku mewujudkan cita-cita dan menasehatiku ini dan itu.

 

 

Seperti hari ini, Suho dan aku berkencan sembari mencari peralatan untuk membuat kopi. Telponnya berdering halus dan dengan cekatan ia mengangkatnya.

 

 

“Yeoboseyo… oh~ tapi aku sedang ada urusan. Tidak bisakah ditunda dulu? Ok, annyeong.” Suho mengembalikan telponnya.

 

 

Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan ini tapi hatiku sangat penasaran, “Nuguya?” tanyaku hati-hati.

 

 

Suho menatapku dan menjawab pertanyaanku dengan ragu, “Gadis yang dijodohkan denganku.”

 

 

Aku mengalihkan pandangan dari matanya untuk sedikit mengusir rasa sakit, “Jika ada urusan penting lebih baik kau temui saja dia, aku bisa menbeli peralatannya sendiri.” ucapku lembut sambil berusaha tersenyum.

 

 

Suho menggenggam tanganku, “Kau lebih penting dari apapun di dunia ini.” untuk kesekian kalinya ia memberiku senyuman menyejukan, mengusir segala kegelisahan yang tadinya mengusik hatiku. Suho, kau tidak pernah membuatku kecewa.

 

 

 

 

==========***==========

 

 

 

 

Genap satu tahun sudah semenjak pertama kalinya Suho ditugaskan untuk mengurus cabang perusahaannya yang berada di Paris. Aku juga sudah memiliki sebuah café kecil dan mengurusnya bersama ketiga pegawaiku. Suho tak henti-hentinya memberiku semangat dan membantuku untuk mengembangkan café ini.

 

 

Suho mengundangku untuk makan malam, entah ada maksud tersembunyi apa.

 

 

Saat ini aku tengah berada di dalam mobilnya. Tangannya mengusap lembut punggung tanganku. Kami berhenti di sebuah restaurant mewah. Suho keluar duluan lalu membukakan pintu untukku. Dia menggandengku masuk.

 

 

Di sebuah meja dengan lima kursi, duduk seorang pria dan wanita parubaya dengan seorang gadis yang aku lihat mengantar Suho ke bandara beberapa waktu yang lalu. Suho menuntunku kesana dan menarik sebuah kursi untuk ku duduki. Aku berusaha untuk bersikap sesopan mungkin.

 

 

“Jadi… ini kekasihmu, Suho?” tanya ayah Suho.

 

 

Aku memutar kepala untuk melihat ekspresi Suho. Dia tengah tersenyum cerah, “Iya, appa.” rupanya Suho sudah memberitahukan hubungan kami pada orangtuanya.

 

 

“Senang bertemu dengan anda, tuan Kim.”

 

 

“Begitu pula denganku, nona. Apa Suho sudah memberitahumu tentang mengapa kita bisa mengadakan acara makan malam ini?”

 

 

Aku menggeleng lemah, “Belum.”

 

 

Gadis disampingku berdehem kemudian berkata, “Kami akan membicarakan perihal perjodohan ku dengan Suho oppa.” ucapnya riang. Pipinya merona ketika melihat Suho. Diam-diam tangan Suho merangkak di balik meja, jemarinya memeluk jemariku, berusaha mengatakan kata tegar dan sabar.

 

 

“Aku minta maaf nona, tapi tolong mengertilah… Suho sudah kami jodohkan.” lanjut ayahnya. Aku berniat angkat kaki namun jari Suho menahanku untuk tetap tinggal.

 

 

“Ba… baik, tuan Kim. Saya mengerti.” tenggorokanku tercekat airmata, tak dapat lagi mengeluarkan kalimat lain selain rangkaian kata bodoh itu.

 

 

Manik mata Suho berputar-putar, air mukanya berubah kecewa. Apa yang harus aku lakukan?

 

 

“Tapi appa…”

 

 

“Tidak ada penolakan! Ini urusan masa depanmu dan appa yang paling tahu!”

 

 

Gadis itu kelihatan sedih, senyumnya sedikit luntur melihat ekspresi Suho, “Tak apa, aku mengerti. Kami akan membicarakan ini bertiga.” ucapnya lembut.

 

 

Bertiga? Itu berarti aku, Suho dan gadis itu.

 

 

 

 

==========***==========

 

 

 

 

Matahari bersinar terik. Aku membantu pegawaiku untuk membersihkan meja. Helaian daun yang jatuh tersapu angin yang diciptakan oleh decitan ban mobil. Suho mengunjungi caféku. Tapi ketika dia turun, Suho langsung berputar untuk membukakan pintu disisi lain. Itu berarti dia tidak sendirian.

 

 

“Annyeong~” sapa Suho diambang pintu, tangannya menggandeng seorang gadis.

 

 

“Wah~ kau punya café rupanya. Jika Suho oppa memberitahuku dari dulu pasti aku akan sering berkunjung kemari.”

 

 

Aku tersenyum, “Kamsahamnida.”

 

 

Gadis itu duduk di salah satu kursi diikuti Suho. Suho lalu menepuk kursi kosong disebelahnya, memerintahkanku untuk ikut duduk bersama mereka. Jujur aku canggung. Bagaimana tidak, duduk diantara kekasihku dan calon istrinya. Terdengar aneh bukan?

 

 

“Hari ini aku ingin jalan-jalan bersama kalian berdua.” ujar gadis itu. Kelihatannya ia memang memiliki kepribadian yang hangat.

 

 

“Ikutlah dengan kami.” tambah Suho.

 

 

Aku menimbang-nimbang. Ini sudah lewat dari jam makan siang jadi tidak terlalu banyak pelanggan yang datang, “Emh~ baiklah.”

 

 

Kami bergandengan menuju mobil Suho (atau lebih tepatnya gadis itu yang menggenggam tanganku dan tangan Suho).

 

 

“Pantai… aku mau kesana. Aku ingin mendengar deburan ombak serta suara burung laut.” ucapnya riang. Suho duduk di kursi kemudi sementara aku dan gadis ini duduk bersama di jok belakang. Suho tersenyum ringan lalu melirikku dari kaca depan, aku membalas senyumannya.

 

 

Sepanjang perjalanan gadis ini tak henti-hentinya mengoceh, kata-katanya kadang terdengar aneh dan mengundang tawa. Kami melewati jembatan dan beberapa pedesaan yang masih hijau.

 

 

“Pantai…..!!!” jeritnya ketika melihat hamparan pasir putih, “Wah~~ tidak ada pantai seindah ini di Paris.”

 

 

Paris? Jadi… gadis ini pernah tinggal di Paris? Berarti… ketika Suho pergi ke Paris dia… mereka…

 

 

“Kita sudah sampai!” seru Suho membuyarkan pikiranku.

 

 

Aku marah? Mungkin. Aku kecewa? Sedikit. Aku sakit? Aku juga tidak tahu. Aku tidak merasa bahwa gadis ini akan merebut Suho dariku, mungkin dia hanya…. meminjamnya sebentar saja.

 

 

Begitu mobil berhenti gadis disampingku segera membuka pintu dan berlari ke bibir, anak rambutnya beterbangan bersama angin laut. Aku ikut turun dan menikmati birunya langit. Suho menggenggamku, “Indah sekali ya.” ucapnya sedikit dengan intonasi tanya. Aku mengangguk tanda menyetujui ucapannya.

 

 

Gadis itu melambai ke arah kami, Suho lalu membawaku mendekati gadis itu, “Pemandangannya sangat cantik.” tutur gadis itu, ia kemudian mengeluarkan sebuah kamera polaroid, “Oppa, tolong foto kami.” pintanya. Dengan kikuk aku berpose bersamanya. Kami saling merangkul, bergandengan tangan dan tersenyum.

 

 

Nice.” puji Suho.

 

 

“Kamsa, oppa. Aku akan membawa foto ini ke Paris sebagai kenang-kenangan.” kemudian tanpa terduga gadis itu memelukku. Aku melirik Suho sekilas, dia tersenyum aneh, senyum yang terselip sebuah kesedihan di dalamnya seakan-akan seseorang ingin pergi jauh darinya. Ah~ benar, apa karena gadis ini bilang dia akan pergi ke Paris? Mollaseo.

 

 

“Aku senang bisa mengenal orang sebaik dirimu, Suho oppa sangat beruntung memiliki pasangan hidup sepertimu.” ia merenggangkan pelukannya dan menatapku lekat, “Tenang saja, kalian pasti bisa bersama.” ucapnya tanpa beban. Lalu setelah itu, dia merengek minta diantar pulang.

 

 

 

 

==========***==========

 

 

 

 

 

Pagi tadi Suho menelponku untuk pergi ke bandara bersamanya, mungkin untuk mengantar kepergian gadis itu. Dan disinilah aku sekarang, berdiri disamping gadis itu bersama koper-kopernya.

 

 

Dia memelukku untuk yang kesekian kalinya, “Baik-baiklah di Korea.” ucapnya parau. Apa dia menangis? Aku melonggarkan pelukan kami dan melihat matanya. Benar, ia menangis. Aku mengusap lelehan airmatanya.

 

 

“Uljima, kita pasti akan berjumpa lagi lain waktu.” ucapku menghiburnya.

 

 

Kini giliran Suho yang dipeluknya, “Terimakasih atas semua yang oppa berikan padaku.” ku lihat Suho membalas pelukannya dan mengusap kepalanya lembut lalu mengangguk.

 

 

Dia pergi bersama koper-kopernya, gadis itu pergi. Aku melihat mata Suho berubah kemerahan, mungkin ia sangat menyayangi gadis itu. Aku meraih jemarinya dan membawanya ke dalam kenyamanan.

 

 

 

 

==========***==========

 

 

 

 

Setelah kepergian gadis itu kami kembali bersama, tapi ada yang aneh dengan Suho, “Waeyo?” tanyaku ketika kami tengah menikmati minuman masing-masing di caféku.

 

 

“Apanya?” tanya Suho bingung.

 

 

“Akhir-akhir ini kau terlihat lesu dan murung, waeyo?”

 

 

“Ah~ anni.”

 

 

“Malhaebwa, katakan padaku apa yang membebani pikiranmu.”

 

 

Suho membuang nafas dan meraih tanganku, “Berjanjilah, jangan marah tentang apapun yang aku katakan nanti dan jangan menyela ucapanku dulu.” aku mengangguk paham, “Sebenarnya… aku ke Paris bukan untuk mengurus perusahaan tapi… aku mengurus gadis itu.”

 

 

“Mengurus?”

 

 

“Ya, dia sakit. Jantungnya lemah jadi tidak boleh melakukan kegiatan yang berat. Ayahnya adalah teman appa. Awalnya kami akan dijodohkan dan segera menikah, tapi begitu aku memberitahu bahwa aku sudah memilikimu… gadis itu menolak pernikahan kami. Dia hanya memintaku untuk menemani pengobatannya di Paris. Dan permintaan terakhirnya adalah… bertemu denganmu.”

 

 

“Per… permintaan… terakhir?” ucapku lirih.

 

 

Suho mengangguk, “Dia ke Korea bersamaku dan untuk makan malam itu… sebenarnya dia yang merencanakannya dan tanpa terduga appa malah berkata seperti itu. Sebagai permintaan maaf, dia memintaku untuk mengajakmu jalan-jalan dan kita pergi ke pantai waktu itu. Dia bilang kau sangat cantik. Dan kepergiannya ke Paris… adalah untuk kembali menjalani pengobatannya. Namun naas… tadi pagi aku mendengar kabar bahwa dia… dia telah pulang.”

 

 

Aku memegangi dadaku yang tiba-tiba sesak, aku tidak tahu bahwa sebenarnya inilah yang terjadi. Jika aku tahu, aku pasti akan merelakan Suho bersama dengannya.

 

 

“Bagaimanapun, segala sesuatu pasti memiliki akhir. Masa lalu bukan hanya kenangan tetapi juga guru yang akan membimbing kita menjadi lebih baik. Dan semua ini telah membawa kita bersama lagi. Aku mencintaimu.”

 

 

Pada akhirnya kita masih mempunyai kebahagiaan setelah kita bertahan mengahadapi beratnya sebuah hubungan bersama

Setiap waktu ketika cinta mencapai cerita akhir

Kenangan masa lalu akan menyatukan kita

Meskipun terkadang kita bersedih dan gembira

Pada akhirnya kita masih mempunyai kebahagiaan setelah kita bertahan mengahadapi beratnya sebuah hubungan bersama

Hanya ada kepahitan ketika angin meniupmu dalam kesendirian

Tapi tidak ada lagi yang namanya kesendirian dan keputus asaan ketika angin meniupmu padaku

 

 

~*~JALAN BUNTU~*~

 

Mungkin ff ini updatenya telat (emang). Selamat ulang tahun mertuaku yang paling ganteng :* semoga kebaikan selalu menyertaimu J. Orang kece harap RCL ^.^ semangat 136!!! ppai ppai~~ ~.~

Iklan

4 pemikiran pada “Special Suho’s Birthday: The Happiness of Enduring Hardship Together

  1. oh ya ampun, kirain si Suho bakalan dinikahin beneran ternyata engga.
    Kasiannnn :”(((
    ah pokoknya saya nyesek bacanya, but ini bagus !
    keep writing ya

    Suka

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s