[Chapter Seven] Dandelion : Need

dandelion

 

Title: [Chapter Seven] Dandelion: Need | Author: doremigirl

Casts: Park Chanyeol (EXO), Lee Hyora (OC), Oh Sehun (EXO) | Genre: Romance, Life | Rating: T

Disclaimer: I do not own anything beside the storyline. Despite that I really want Oh Sehun as my boyfriend. Park Chanyeol, Oh Sehun, and Krystal Jung as visualization of Lee Hyora are belong to God.

Recommended Song: 2Ne1 – Comeback Home (Unplugged vers.)

Read previous chapters [here]

.

He extremely needs you..,”

.

Terdengar riuh yang tidak biasa di dalam salah satu gedung pertunjukan hari itu. Ada banyak orang yang mengantre di depan loket-loket tiket yang tersedia. Seharusnya orang-orang ini melakukan semacam reservation atau semacamnya, agar tidak perlu mengantre panjang seperti ini.

Gedung pertunjukan tua itu seperti hidup kembali, menjadi destinasi para turis yang haus akan hiburan Wina. Pada saat aku datang pertama kali ke sini, tepat tiga bulan yang lalu, gedung pertunjukan itu terlihat mati. Katanya, pemerintah sedang melakukan pemugaran rutin untuk gedung tersebut. Hal yang sudah biasa dilakukan untuk negara-negara yang menjadikan arsitektur tua sebagai daya tarik turis.

Gedung itu dibangun sekitar seabad yang lalu. Konon tempat di mana para keluarga kerajaan menikmati suguhan musik, atau opera, yang merupakan hiburan klasik, serta berharga mahal saat itu.

Mungkin di sana dulu ada para pemain opera dengan gaun berbahan ringan. Mungkin di sana ada alunan musik klasik yang begitu menentramkan. Sang Ratu akan duduk di sebelah sang Raja, sedang putrinya mungkin akan tertawa dengan seorang pangeran. Membayangkannya saja terasa begitu indah.

Kemudian, ponselku bergetar. Dengan gelagapan aku mengangkatnya. “Halo?”

“Hyo, aku membayarkan tiketmu untuk menonton pertunjukan. Bukannya untuk melamun di depan gedung seperti itu,” Terdengar suara rendah yang terdengar khas ditelingaku. Sesaat kemudian, retinaku menangkap sosok yang menjulang tinggi yang berada tak jauh dariku. Memang tak terlihat mencolok, namun seperti sudah di set sebelumnya, aku selalu mengenal sosoknya.

“Aku sedang menunggumu, bodoh. Kaupikir aku akan masuk sendirian?” kataku. Laki-laki itu tertawa rendah, lalu melangkah ke hadapanku dengan rambut merahnya, serta senyum secerah bunga matahari.

“Harusnya kau tak perlu menelponku, Chanyeol. Buang-buang pulsa saja,” Begitu kataku ketika ia tiba di hadapanku. Saluran telepon sudah kuputus.

Chanyeol mengacak rambut merahnya sejenak, sambil tersenyum lebar. Rambut merah itu sempat membuatku ternganga ketika melihatnya. Sekali meliriknya dapat membuat mataku jengah. Laki-laki itu membuat keputusan yang cukup berani dengan mengganti warna rambutnya. Untuk selebrasi kelulusan, katanya.

Laki-laki itu baru datang sekitar satu minggu yang lalu. Ia membeli tiket penerbangan ke Wina, untuk menonton konser salah satu orkestra favoritnya. Secara mengejutkan, ia tiba-tiba mengirimkan e-mail, dan memintaku untuk menjemputnya di bandara. Dan dasar tengil, ia bahkan tidak menyediakan dana untuk menyewa penginapan. Jadilah ia tinggal di rumahku.

Ibu untungnya lebih lunak kepada Chanyeol, tidak seperti dulu. Rupanya ibu sudah mengetahui tentang apa yang terjadi, sampai mengakibatkan jatuhnya skorsing untukku. Beliau tahu bahwa Chanyeol sesungguhnya adalah laki-laki yang baik.

Sikap Chanyeol juga mendukung persepsi ibu. Selama di rumah kami satu minggu terakhir, ia tidak melakukan sesuatu yang mencurigakan. Ia bahkan bangun pagi, lalu membantuku membersihkan rumah, serta menyiram tanaman. Kulihat ibu menjadi sering tertawa ketika mendengar candaan Chanyeol. Dan tawa itu terasa seperti oasis di gurun.

Aku kemudian terlonjak ketika Chanyeol menyenggol lenganku. “Kau melamunkan apa, sih? Ayo kita masuk ke dalam..,” ajaknya.

Tanpa kata, aku melangkah. Dalam hati, aku bertanya-tanya, apakah Chanyeol akan segera pulang setelah konser ini? Bukankah ini tujuannya tinggal di Wina?

Seorang penjaga berkostum a la royal membuka pintu gedung, mempersilakan kami untuk masuk ke dalam. Dengan langkah tenang, Chanyeol memasuki gedung. Ia sempat berhenti sejenak, lalu menggenggam tanganku.

“Kalau kau berjalan dengan langkah sepelan itu, kau bisa kehilangan sosokku,” katanya padaku. “Siapa yang akan menemanimu di sini nanti, hm?” Begitu katanya, mengajakku bercanda. Aku hanya terdiam, terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri.

Ia kemudian menuntunku ke kursi baris kedua, dan mengajakku untuk duduk di sebelahnya. Butuh waktu sepuluh menit sampai pertunjukan dimulai. Aku yakin tidak akan ada penundaan, karena masyarakat Wina adalah masyarakat yang tepat waktu.

Entah mengapa aku ingin waktu terhenti.

Aku menatap Chanyeol yang sibuk dengan selebaran di tangannya. Selebaran itu merupakan run down acara. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba menyusup di hatiku.

Aku tidak ingin ia kembali ke Korea. Aku ingin dia menemaniku selagi di Wina, entah mengapa. Kehadirannya membuatku merasa senang, dan tidak merasa sendiri lagi.

Aku ingin Chanyeol tetap tinggal di sini, bersamaku.

.

“Bagaimana menurutmu pertunjukannya?” Aku yang sedang meminum lemon tea terdiam sejenak. Lemon tea di restoran ini terlampau manis untuk ukuranku.

Pikiranku kemudian melayang ke pertunjukan orkestra beberapa waktu yang lalu. Para pemain melaksanakan tugasnya dengan sangat baik, menciptakan harmoni dari musik klasik yang tak pernah mati. Karya-karya Beethoven, Chopin, serta komposer favoritku, Tchaviosky semuanya ditampilkan dengan sangat apik dan grande. Aku tidak menyangka bahwa karya Tchaviosky akan ditampilkan. Karena setahuku karyanya hanya dimainkan saat pertunjukan drama dengan ballet.

Dan mendengarkan Waltz of the Flower sebagai encore membuatku begitu bersyukur akan keputusanku menemani Chanyeol.

“Serius, kau bertanya bagaimana pertunjukannya menurutku? Itu adalah pertunjukan paling keren yang pernah kutonton selama hidupku, Chanyeol. Thanks,” Chanyeol terlihat berseri-seri ketika aku mengatakan pemikiranku tentang pertunjukan. Hal itu seakan secara langsung menjunjungnya. Itu artinya seleranya begitu bagus.

Chanyeol kemudian mengaduk sup ayamnya, dan menyeruputnya. “Hmm. Ini enak sekali,” katanya sambil tersenyum lebar. Ada semburat yang berwarna senada dengan rambut miliknya.

Pemikiran tentang kapan kepulangan Chanyeol mau-tidak mau sedikit menggangguku. “Chanyeol,” panggilku.

Hm?

“Konser ini.. tujuanmu, bukan? Lalu apa setelah ini kau akan..,” Aku menelan ludahku. Tenggorokanku tercekat. “Pulang?”

Chanyeol menatapku lekat-lekat. Kemudian laki-laki itu tertawa lebar. “Iya, tentu saja, Hyo. Aku akan segera kembali ke Korea. Tidak akan merepotkanmu, dan ibumu lagi,” katanya ringan.

Sebundel perasaan menyusup begitu saja ke dalam hatiku. Jika ia pergi, itu artinya aku akan berkencan dengan laptop-ku, atau mungkin jalan-jalan keliling Wina sendirian. Tidak menyenangkan.

Aku mengaduk bubur kental di hadapanku perlahan. Potongan-potongan ayam di atasnya terlihat bergerak dengan pasrah. Suasana hatiku menjadi memburuk.

“Memangnya.. kau ingin aku tetap tinggal?”

Pertanyaan Chanyeol membuatku terlonjak. Laki-laki itu sedang menatapku dengan senyum kecil di wajahnya. Terlihat begitu tulus. Chanyeol memang laki-laki berhati baik.

Uh, menurutmu?” tanyaku balik. Entah mengapa merasa gugup. Cepat-cepat aku menyuapkan sesendok bubur ke dalam mulutku. Kaldu ayam terasa menggigit lidahku.

Chanyeol kemudian tertawa, maklum. Ia mungkin tertawa karena ekspresiku. Aku tak tahu. Laki-laki itu mengangkat kedua bahunya ringan. “Aku mungkin akan tinggal untuk sehari yang terakhir. Aku belum memesan tiket, jadi akan memesan besok..,”

Aku mengangguk pelan. Masih tersisa sehari untuk perjalanannya di Wina.

.

Dengkuran halus ibuku membuatku terbangun. Aku mengerjapkan mataku pelan, lalu melirik sosok ibu di sampingku. Ibu pasti pulang larut malam lagi.

Semenjak dipindah tugaskan di Wina, pekerjaan ibu terasa makin menguras tenaga. Ibu awalnya adalah seorang konsultan di perusahaan cabang di Korea. Keahliannya membawanya ditransfer ke perusahaan pusat di Wina. Ibu bahkan tidak pernah membahas tentang kepulangan ke Korea, atau pengurusan tiket.

Kendati aku begitu merindukan Korea, namun aku tak mau membuat ibu khawatir hanya karena aku nekat pulang, dan hidup sendiri di Korea. Ibu adalah tipikal orang yang tenang jika dapat melihat anaknya setiap hari. Tipikal orang yang percaya jika ia melihat fakta dengan mata  kepalanya sendiri. Agak keras kepala.

Selama seminggu terakhir, ibu memang tidur di kamarku. Kamar ibu digunakan oleh Chanyeol, karena rumah kami hanya memiliki dua kamar. Beruntung pakaian ibuku berada dalam lemariku, sehingga Chanyeol bisa meletakkan pakaiannya di sana.

Seperti yang sudah kukatakan, aku terkejut sekali ibuku bisa memberikan izin agar laki-laki itu bisa tinggal di rumah kami. Sebuah keajaiban rupanya datang.

Ketika aku membuka pintu, aku mendapati sosok Chanyeol sedang berada di ruang tengah. Laki-laki itu sedang membersihkan meja dengan penuh semangat.

Ia memasang senyum cerah khasnya, lalu menyapa, “Pagi, Hyo!”

“Pagi, Chanyeol!” Aku tersenyum kecil. Sapaan secerah ini tidak akan kudapatkan lagi jika ia pulang ke Korea. Tidak akan ada lagi orang yang begitu rajin membersihkan rumah sepagi ini.

Dengan langkah seribu, aku segera melangkah menuju kamar mandi, dan membersihkan diri. Setelah berpakaian, aku menuju dapur, hendak menyiapkan sarapan.

Tapi belum sempat aku mengambil bahan, kulihat laki-laki itu sudah mulai memasak. Ia sedang menggoreng daging isian burger. Raut wajahnya terlihat begitu serius ketika mengamati minyak panas yang melompat kecil.

“Kenapa jadi dirimu yang memasak?” tanyaku.

“Memangnya tidak boleh?” Chanyeol menimpali dengan senyum. “Anggap saja ini adalah special treatment. Besok aku akan pulang, jadi tidak akan ada laki-laki yang memasakkan kalian sarapan,” Ia menambahkan sambil tertawa pendek-pendek.

Oh, iya. Dia akan pulang besok.

Tanpa menimpali perkataannya, aku mulai memanaskan bun di kompor yang lain. Tak lupa menyediakan seledri, tomat serta keju dan mayonaise.

Entah mengapa aku tidak ingin dia mengingatkan diriku tentang hal itu.

Keheningan menyusup di antara kami selama hampir sepuluh menit. Hingga akhirnya Chanyeol berkata, “Kau jadi lebih pendiam, ya,” Sebelah tangannya yang memegang penggorengan dengan tangkas memindahkan daging ke piring di sebelahku.

“Kau sakit?” tanyanya. Aku menggeleng.

“Hanya malas berbicara,” jawabku singkat. Dengan cekatan tanganku mulai menumpuk berbagai bahan yang sudah jadi tersebut. Chanyeol menggulung lengan sweater-nya, lalu ikut membantuku.

“Apa ini gara-gara aku?”

Aku meliriknya, kesal. Lalu menghela napas. Suasana hatiku menjadi semakin buruk karenanya. Chanyeol kemudian tertawa. Terdengar puas. Dasar bodoh.

Aku kemudian memukul lengannya, berkali-kali. Namun laki-laki itu tetap tertawa. “Kau menyebalkan. Bisa-bisanya tertawa padahal kau tahu itu kesalahanmu!” kataku dengan penuh kekesalan. Entah sudah berapa banyak pukulan yang kuberikan padanya.

Sesaat kemudian, hantaman tanganku di lengannya kemudian melemah. Kenapa aku sebal sekali? Ini, kan memang kebiasaan Chanyeol sejak dulu.

Dengan canggung, aku menghentikan pukulanku. Chanyeol membuang napasnya lega. “Tuhan, syukurlah aku masih hidup..,” celetuknya.

“Maaf,”

Chanyeol menganga kecil ketika mendengarku meminta maaf padanya. Mungkin ini adalah kali pertama aku berbicara seperti itu padanya. Chanyeol menepuk pundakku pelan. “Aku mau bertanya satu hal padamu, Hyo..,”

Seakan ada semacam gravitasi, tatapan mataku kemudian bertemu dengan tatapannya. Laki-laki itu menatapku dengan penuh keseriusan. Tatapan yang tak pernah kudapati lagi semenjak kekacauan yang kami buat pada saat sekolah menengah dulu. Tatapan itu bahkan bukan tertuju padaku dulu, namun ingatan itu masih terasa begitu segar.

Do you need me to stay?” tanyanya. Lembut, namun ada penekanan pada kalimatnya. Menuntut jawaban yang serius.

Tiga bulan. Itulah waktu yang dulu dijanjikan oleh ibuku. Namun sampai sekarang ibuku belum memberiku kepastian. Sepertinya kami tidak akan kembali ke Korea dalam waktu dekat. Ibu bahkan sempat memberikanku formulir untuk masuk di salah satu perguruan tinggi di Wina.

Aku begitu merindukan Korea. Kawan-kawanku, rumahku, bahkan kedai-kedai kecil yang menjual tteokbokki kesukaanku. Dan Chanyeol adalah bagian dari sana. Datang secara sukarela, menawarkan pelipur untuk rinduku.

“Hyo.. Do you need me to stay?” ulangnya. Mataku berkaca-kaca. Aku merasa dimengerti. Selama ini ibuku bahkan tidak mengerti bagaimana perasaanku sebenarnya.

Perlahan, aku berjinjit, lalu memeluknya. Laki-laki itu membalasnya. Ia mengelus rambutku. “Sure. I’ll stay here. For you..,” bisiknya. Bahkan ia tak perlu menungguku untuk berbicara. Ia sudah tahu diriku.

“.. terima kasih,”

.

Burung-burung gereja berkicauan, terdengar begitu keras ditelingaku. Musim semi di Wina terasa begitu indah. Dengan bunga-bunga ranum yang bermekaran, terasa begitu cocok dengan berbagai arsitektur kuno yang masih tertata.

Chanyeol duduk di salah satu kursi taman, sambil membersit hidungnya. Ia selalu saja terkena flu saat musim semi. Aku tahu itu.

Kendati demikian, dengan riang ia sibuk memotret macam-macam bunga dengan angle yang berbeda menggunakan handphone-nya. Aku sendiri sedang sibuk memperhatikan jalanan yang dipenuhi oleh orang yang lalu lalang.

“Lihat.. Lihat..,” Chanyeol menarik lengan jaketku, berusaha untuk menarik atensiku. Aku menoleh, sedikit kesal karena Chanyeol begitu berisik.

“Apa?”

Chanyeol kemudian menunjukkan sebuah bunga putih tepat di depan wajahku, membuatku terlonjak. Sesaat kemudian aku tersenyum lebar.

“Dandelion di Wina, Hyo,” kata Chanyeol. Aku tertawa kecil. Laki-laki ini selalu menemukan Dandelion untukku. Aku mengambil bunga kecil itu dari genggamannya.

“Ini adalah simbol harapan, Hyo. Cepat sebutkan harapanmu,” perintahnya.

Aku kemudian memejamkan mata, lalu meniup dandelion itu.

.

Semoga semuanya baik-baik saja.

.

Anak-anak dandelion mulai berterbangan, ke tempat yang tak pernah kutahu di mana. Aku pikir, anak-anak dandelion itu akan bertumbuh, menjadi dandelion baru. Harapan baru.

Aku kemudian melirik Chanyeol. Laki-laki itu seperti biasa menyambutku dengan senyuman menghangatkan. Laki-laki itu selalu menemukan pengharapan di saat aku membutuhkannya.

Untuk saat ini aku tak mau berpikir banyak.

.

Tanpa kusadari, ada beberapa e-mail yang tak kubaca selama beberapa hari terakhir. Aku terlalu sibuk bercanda dengan Chanyeol sehingga tak memiliki waktu untuk mengecek handphone.

From: Sehun [a week ago, 04:35 pm]

Hyo, how have you been?

 .

From: Sehun [six days ago, 09:24 pm]

Kapan kau akan kembali ke Korea? Ada beberapa hal yang mau aku bicarakan denganmu.

.

From: Sehun [three days ago, 10:35 pm]

Aku tidak tahu kau akan membaca ini atau tidak.. tapi aku baru saja membaca sebuah artikel tentang dandelion, dan aku teringat akan dirimu.

Kapan kau akan kembali? I miss you. Everything seems so hard without you.

 

From: Sooji [four hours ago]

Hyo, Sehun sakit. Panas tinggi, sekarang berada di ICU. Mereka bilang Sehun bisa saja terkena penyakit yang serius. He keeps murmuring your name. Bisakah kau kembali?

 

From: Sooji [three hours ago]

Hyo, he extremely needs you. Kalau kau tidak membalas pesanku, aku akan mencarimu sampai ke ujung dunia. Aku takut, Hyo.


I’ve promised a few people for this chapter. Hiks. T^T

Buat pembaca yang sudah mau repot-repot berkunjung ke rumahku, buat ngingetin kalau cerita ini masih ditunggu. Makasih banyaak. Aduh aku nggak tau gimana lagi aku terima kasih sama kalian. Kalian membuat semangat aku naik sampai ubun-ubun. Jadilah aku ngebut buat ngerjain ini. Ini pake hati, kok. Serius.

Aku akan mulai mem-protect cerita ini selang satu chapter lagi. Bukan karena ada konten yang nggak sesuai atau gimana, karena pada chapter tersebut aku akan mulai membuka konfliknya lebih lebar lagi. Ketentuan memberikan password hanya untuk ID WordPress yang sudah berkomentar di cerita ini. Untuk ketentuan lebih jelasnya akan aku jelaskan di chapter selanjutnya.

By the way, I’ve changed the poster. Pretty neat, huh? Hehe.. Aku pakai visualisasi Krystal, karena dia itu.. cantik. Dan aku nggak mau cuma sekadar ulzzang yang memerankan Hyo. EH IYA NAMANYA TERNYATA UDAH AKU REVEAL. Kk~

Thanks for all the good readers. For the nice feedback for me. It means a lot. Sekali lagi maaf kalau ini terlambat banget. >< /gandeng Sehun/

xoxo~

Iklan

18 pemikiran pada “[Chapter Seven] Dandelion : Need

  1. Tebakanku bnr ttg sehun yg sakit, yeayyy~ *iniparahsehunsakitmalahbahagia
    Chanyeol msh suka bgt kayanya ama hyo. Dan hyo kayanya udah lbh ngerasa bahkan mungkin amat ngerasa nyaman ama chanyeol. Oh tidak…. sehun gmna ㅠㅠ

    Suka

  2. Hai, perkenalkan aku readers bru utk ff ini dan bru komen di part ini jga 🙂
    sehun karakternya agak misterius ya, daaannn itu menarik.
    Sedikit saja tentang sehun di bagian ending part ini udh bkin penasaran.
    Meskipun hampir di keseluruhan part ini ttg chanyeol dan hyo, tp ttp karakter sehun lbh menarik perhatian.

    Suka

  3. Aku kurang ngerti ama kata2 ‘membersit hidung’ saeng 😀 feeling ku perchapter juga beda2 aku uda jadi orang labil disini 😦 tuh kan, setiap hyo-yeol moment tuh aku ngerasa feelnya lebih dapet. Trus aku ragu sama hyo sekarang, masa dia ga keinget ama sehun sama sekali?? 😡 tapi.. aku baru inget kalo aku juga pernah minta hyo sama yeol untuk sementara sih,, 😀 sehun ga boleh sakit! Sehun harus sembuh!.. /maksa/ gitu ajah hehehe 😀

    Suka

  4. aaah sehun sakit…
    kenapa hyo jdi tertarik ama chanyeol? kenapa ga ama sehun aja? hihih tapi gapapadeh.

    kamsahamnida, aku tunggu kelanjutan ceritanya yah thor.

    Suka

  5. Aih.. Baru nemu FF yang beginian !! Bahasanya asyik banget, aku suka
    Dan itu.. What happen you, Sehun? Kangen banget sama Hyo? BTW? Aku baru baca dichapter ini, dan belum sempat kechapter sebelumnya!

    Bagus banget author!

    Keep writing and Next»

    Suka

  6. Sehun sakit apa? Di ff sebelumnya aku udah bisa nebak kalau Sehun itu sakit. Sampai sekarang masih bingung, siapa yang dipilih Hyo Chanyeol atau Sehun

    Suka

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s