Ain’t No Tomorrow (Ficlet)

IMG_20140607_023827

 

BYoon presents

✘ Ain’t No Tomorrow ✘

 

Starring by EXO’s Kai and Apink’s Naeun

 

Genre: AU, Angst, Little bit action | Rating: PG-13 | Length: Ficlet

Credit poster:  Yessy Mandzukic @ http://posterfanfictiondesign.wordpress.com (Thanks for this awesome poster 😀 )

Attention! This story is mine but all cast belongs to God. Don’t copycat and plagiat without permission! Sorry for typo and bad story.
Recomended backsound: Beast – Black Paradise

 

Silent readers? Go away, please!

 

₪₪₪

 

Nowhere to run

 

Di bawah naungan sinar rembulan, suara dentuman mendominasi keheningan. Ratusan orang berjubah hitam memuntahkan peluru melalui senjatanya. Menciptakan suara memekakkan telinga setiap detiknya. Diiringi suara rintihan maupun teriakan serta tangisan yang memilukan oleh ratusan penduduk pedesaan itu.

Hanya sepertiga dari mereka yang bertahan hidup meskipun luka sayat memenuhi tubuhnya, sementara sisanya telah tergeletak dengan tubuh bersimbah darah. Kini tanah pedesaan itu telah tergenang oleh lautan darah dengan bau anyir yang menusuk indera penciuman.

Mungkin sama sekali tak ada yang menyadari bila seorang gadis tengah bersembunyi di balik sebuah pohon rindang. Ia menutup mulutnya dengan sebelah tangannya. Sedikit ragu, gadis itu membalikkan tubuhnya untuk melihat sendiri kondisi orang-orang tak berdosa tersebut.

Bulir demi bulir air mata mengalir membasahi pelupuk matanya begitu mendapati seorang berjubah hitam menancapkan pedang tajam tepat pada jantung seorang pria paruh baya. Kedua tangan gadis itu gemetar hebat saat pria paruh baya yang tak jauh darinya tergeletak dengan cairan merah pekat yang memancar, mengucur dengan derasnya.

Dengan sigap, gadis itu menyandarkan tubuhnya pada batang pohon. Masih teringat jelas dalam ingatannya, sewaktu seorang pria paruh baya mengucapkan kalimat terakhir kepadanya sebelum peperangan bersimbah darah ini dimulai. Namun, kini gadis itu harus melihat pria paruh baya yang ia sebut dengan panggilan ‘ayahanda’ itu terbunuh dengan kedua matanya secara langsung.

 

Berlari. Berlarilah sejauh yang kau dapat. Jika hingga esok hari ayah serta para pengawal tak menyusulmu, maka itu berarti kami telah meregang nyawa di hadapan musuh.

 

Gadis itu mengepalkan kedua tangannya cukup kuat. Amarahnya telah memuncak, menyesaki batinnya. Ketika suara dentuman yang cukup memekakkan telinga kembali terdengar, gadis tersebut melangkahkan kakinya dengan cepat. Meninggalkan area pedesaan yang kini hanya menyisakan untaian kenangan, tanpa menyadari bila seorang lelaki mengetahui jejaknya dari kejauhan.

Angin malam yang semakin menusuk sama sekali tak memudarkan tekad gadis tersebut untuk berlari menjauh. Tak ada tempat yang terlintas dalam pikirannya untuk menyembunyikan diri. Ia berlari tak tentu arah menyusuri ribuan pohon pinus dengan pikiran kalut. Gadis itu sama sekali tak peduli bila ia harus terjebak di dalam hutan sekalipun atau hingga kumpulan serigala mencabik serta melumat daging tubuhnya.

Gadis bersurai hitam itu kelelahan. Gaun putih yang membalut tubuhnya pun kini sedikit kusam. Bahkan helai demi helai rambutnya yang semula tersisir rapi kini sedikit kusut. Bulir demi bulir keringat turut merembes melalui pelipisnya. Ia sama sekali tak memikirkan bagaimana penampilannya saat ini. Namun tetap saja, paras ayunya sama sekali tak memudar.

Dengan raut wajah ketakutan, gadis itu mempercepat kecepatan larinya. Sesekali ia menoleh ke belakang untuk memastikan keadaan. Hingga tak menyadari bila jalan menurun yang cukup terjal telah menghadangnya.

Gadis itu terguling pada rerumputan liar. Tubuhnya membentur puluhan batuan kecil. Beberapa tumbuhan liar menggores beberapa bagian tubuhnya. Kini gadis itu tergeletak tak berdaya dengan luka di sekujur tubuhnya. Cairan merah pekat mengaliri pelipisnya. Goresan-goresan kecil memenuhi punggung tangannya. Gaun yang membalut tubuhnya pun turut tergores.

Ia mengerjapkan kedua matanya yang cukup berat. Kepalanya seolah ditimpuk benda yang cukup keras hingga pandangannya mulai sedikit kabur. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, gadis itu berusaha bangkit dari posisinya.

Rasa nyeri serta perih yang hebat menjalar pada sekujur tubuhnya. Gadis itu melangkah terhuyung-huyung. Ia meringis menahan rasa sakit yang semakin menyulitkan fokus pandangannya. Namun, sejauh mata memandang, ia melihat sebuah geladak tak jauh dari tempatnya berpijak.

Gadis itu melangkah dengan tertatih-tatih. Kini ia menjejakkan kakinya pada geladak kayu. Hamparan danau yang cukup luas mengunci pandangannya. Tanpa sadar, ia melangkahkan kakinya menuju ujung geladak.

Sinar rembulan memantulkan bayangan diri gadis itu pada air danau tak beriak tersebut. Ia memandang sayu pada pantulan dirinya. Helai demi helai rambutnya kusut. Darah yang mengalir pada pelipisnya pun kini telah menodai gaunnya. Kedua katup bibirnya pun memucat.

Gadis itu memundurkan langkahnya. Sebulir air mata kembali mengaliri pelupuk matanya. Sungguh, ia ingin mengutuk dalang di balik kejadian mengenaskan ini. Orang yang telah merenggut ratusan nyawa tak berdosa dengan semena-mena, siapapun itu.

Raut terkejut terpancar pada wajah gadis itu begitu ia membalikkan tubuh. Seorang lelaki dengan setelan jas resmi berdiri hanya beberapa langkah darinya, entah sejak kapan. Ia melayangkan tatapan bengis pada gadis di hadapannya.

“Aku menemukanmu, Son Naeun”, ucap lelaki itu penuh kemenangan.

Gadis itu memandang lelaki di hadapannya seolah tak percaya. Bahkan selama sehari penuh, tak ada seorang pun yang menyerukan namanya. Termasuk ayahandanya sendiri. Ia memandang lelaki itu lekat-lekat. Hingga sebuah simbol yang terlukis pada leher lelaki itu membuat kedua matanya membulat sempurna. Sebuah simbol naga. Lantas, gadis itu mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.

 

Simbol naga adalah simbol yang dimiliki oleh rival Raja Son. Kerajaan negeri seberang yang memiliki dendam tak terbalas sejak seabad yang lalu. Raja Kim beserta keturunannya, orang-orang berwajah bengis dan berhati besi.

 

“Apakah kau dalang atas semua ini?”, selidik Naeun.

Lelaki itu hanya tersenyum sinis. Amarah Naeun kembali meluap. Ia semakin menguatkan kepalan tangannya.

“Mengapa diam saja? Apakah kau dalang atas semua ini? Katakan padaku!”, seru Naeun berapi-api.

Lelaki tersebut menepuk-nepuk kedua telapak tangannya seraya tertawa lepas.  “Kau bahkan telah mengetahuinya sebelum aku memberitahu”

Sebulir air mata kembali mengaliri pelupuk mata Naeun. Ia menggigit bibir bawahnya. “Apa yang kau inginkan?”

Lelaki itu memasukkan kedua tangan pada saku celananya. “Aku menginginkanmu, Nona Son”

“Apa maksudmu?”, ucap Naeun dengan wajah tak suka.

Lelaki tersebut tersenyum sinis. “Belasan tahun aku hanya dapat mengagumimu dari kejauhan. Aku selalu memikirkan bagaimana agar kita dapat saling mengenal. Berulang kali pula aku dihujami tentangan serta cacian oleh khalayak, bahkan sanak saudaraku sendiri. Suatu kehormatan, kini aku dapat berpapasan denganmu secara langsung, Nona Son”

Alasan lelaki itu sama sekali tak menenangkan batin Naeun. Ia justru turut melayangkan tatapan tajam pada lelaki di hadapannya.

“Lantas, apa dengan melakukan pembantaian kepada ratusan orang tak berdosa adalah pilihan yang tepat? Apa kau tidak mengetahui rasanya melihat ayahmu terbunuh mengenaskan secara langsung? Dapatkah kau membayar ratusan nyawa yang kau renggut dengan paksa?”, seru Naeun dengan nada meninggi.

Lelaki itu berdecih. “Aku adalah Kim Jongin, pemegang kuasa tertinggi mulai saat ini. Tak ada satupun aturan yang mengekangku untuk melakukan semua hal yang kuinginkan”

Gadis tersebut mengalihkan pandangannya pada danau. Kedua matanya terasa begitu berat. Kelopak matanya sudah membengkak. Air matanya tertahan pada kedua sudut matanya. Tak ada rasa bersalah pada diri Jongin, ia justru merekahkan senyumnya.

“Hiduplah bersamaku, Son Naeun. Kita akan memulai semua dari awal”, ujar Jongin seraya mengulurkan sebelah tangannya.

Tak ada respon oleh Naeun. Gadis itu sempat menoleh ke belakang sebelum pada akhirnya memandang Jongin dengan sayu.

”Kau tahu, Kim Jongin? Danau ini memiliki suhu yang sangat rendah. Siapapun yang menyelam di sini pada malam hari, ia akan membeku dalam lima detik. Bila ratusan nyawa telah melayang karenaku, maka aku pun harus menyusul mereka di alam sana”, ucap Naeun tak berdaya.

Kedua tangan Jongin mengepal. Kedua matanya membulat tatkala Naeun memundurkan langkahnya perlahan. Hanya beberapa langkah, Naeun akan terjatuh dari geladak.

“Hentikan! Berhenti di situ, Son Naeun!”, seru Jongin seraya melangkah menghampiri gadis di hadapannya.

“Jangan mendekat!”, bentak Naeun.

Nampaknya Jongin sama sekali tak mengindahkan larangan Naeun. Lelaki itu justru mempertipis jaraknya dengan gadis tersebut secara perlahan. Raut wajah Jongin sama sekali tak dapat menipu bahwa kecemasan yang amat besar menghantui dirinya.

“Sudah kukatakan jangan mendekat!”, seru Naeun tak terima.

Seberkas kilat serta suara gemuruh mendominasi keheningan. Rintik demi rintik hujan mengguyur permukaan bumi dengan derasnya. Hawa dingin yang menerpa cukup membuyarkan fokus pandangan Naeun. Gadis itu memejamkan kedua matanya seraya meringis menahan rasa sakit. Jongin membelalakkan kedua matanya begitu menyadari bila hanya butuh satu langkah bagi Naeun untuk menceburkan dirinya pada danau

“Son Naeun!”

Gadis itu merasakan sekujur tubuhnya mati rasa oleh dinginnya air danau, seharusnya. Namun, ia justru merasakan dekapan yang begitu hangat di bawah guyuran hujan. Aroma wewangian yang menyeruak pada indera penciumannya menguatkan bila ia masih berada di daratan.

Lantas, Naeun membuka kedua matanya perlahan. Seseorang mendekapnya begitu erat. Kim Jongin, lelaki itu memunggungi danau. Ia menopang dagunya pada bahu Naeun.

“Aku mencintaimu, Son Naeun. Aku tak akan pernah mengizinkanmu untuk merenggut nyawamu sendiri dengan cara seperti ini”, bisik Jongin lirih.

Cukup lama mereka terdiam. Rintik hujan yang mengguyur dengan derasnya seolah turut menyertai benak masing-masing. Nampak kilatan pada kedua manik mata Naeun. Dengan perlahan, ia melipat sebelah lengan gaunnya. Gadis itu mengeluarkan pisau kecil yang telah ia sembunyikan sejak awal. Tanpa mengulur waktu, Naeun menancapkan pisau kecil tajam tersebut pada punggung Jongin. Cukup dalam hingga hanya menampakkan gagang pisau pada permukaan punggung Jongin.

“Jika kau tak mengizinkanku untuk menyusul mereka, maka biarkan aku mengirimmu ke neraka”, bisik Naeun seraya menghempaskan tubuh Jongin ke dalam danau.

Cairan merah pekat pada telapak tangan Naeun semakin memudar oleh guyuran hujan. Ia memandang sayu pada air danau tak beriak tersebut.

“Tak ada hari esok untukmu, Kim Jongin”, ucap Naeun seraya melangkah meninggalkan geladak dengan terhuyung.

Dinginnya air danau nyatanya sama sekali tak merenggut nyawa Jongin. Lelaki itu melayang di tengah kedalaman danau tanpa berniat untuk segera menampakkan diri ke permukaan. Senyumnya merekah, bersamaan dengan gelembung-gelembung oksigen yang muncul melalui mulutnya.

 

Do you know, Son Naeun? When people get hurt, they learn to hate.

 

 

FIN

 

 

Annyeonghaseo ^0^
Hari ini aku bawa ff dengan pairing cast KaiEun. Adakah yang nge-shipper couple ini? ‘-‘
Ga tau kenapa ini aku suka bikin ff yang cast utamanya menderita, udah gitu ceritanya ga berakhir bahagia. Katakan jika aku adalah author paling kejam -_-
Tapi bukan berarti walaupun cast nya menderita itu karena aku benci sama mereka ya. Aku justru malah ngebiasin mereka banget kok ^^
Mind to review? Komen kalian sangat membantu 😀

Iklan

24 pemikiran pada “Ain’t No Tomorrow (Ficlet)

  1. ahhh….. lgi tgng2nya kok udh end~~~~ buat sequelnya dong thor…
    thor gk tau knp q pnya crita buat lanjutan ininya tpi… q gk tau ya ini hanya imajinasiku sja…. ^_^
    critanya ini kl gk slh kai msh blm matikan? kl blm mati q jdi mikirin bahwa ia nnt alan ttp berusaha mendapatkan naeun bagaimanapin cranya dan kai akan ketemu lgi ama naeun yg bikin naeun shock karna dikira naeun kai itu udh mati trs… nnti endingnya bsa sad bsa happy.
    gk tau lah yg penting buat sequelnya aj thor, kl bsa sequelnya chap eon

    Suka

    • Kalo masalah sequel aku masih bimbang XD
      Ide kamu boleh juga ^^ Heum, iya. Jadi si Kai itu belum mati. Jujur aja ini aku pengen buat sequel tapi ffku yang lain belum kelar semua XD Kadang jadi beban XD
      Tapi kalo misalnya sempet aku bikin kelanjutannya, ok 😀
      Makasih udah nyempetin baca dan komen ^^

      Suka

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s