Trade Off chapter 4b

chapter 4a copy

Title: Trade Off chapter 4 b

Author: Chubby Kawaii 136 a.k.a CK136

blog: (https://chubbykawaii136.wordpress.com)

facebook: (https://www.facebook.com/chubby.kawaii.136)

twitter: (https://www.twitter.com/chubbykawaii136)

Genre: Straight, Romance, Friendship, Angst, Hurt/Comfort, School life, Fantasy, AU

Rating: Teen

Length: Chaptered

Main Cast: Shim Sekyung (OC) sebagai reader sekalian, Park Chanyeol, Wu Yi Fan a.k.a Kris, Oh Sehun, Oh Hyesun (OC), dan Byun Baekhyun

Disclaimers: Saya pemilik sah alur cerita ini! Don’t copas without permission!

Summary: Trade off, setiap kisah kehidupan pasti memerlukan sebuah pengorbanan untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Baik itu fisik, materi, persahabatan, tali persaudaraan bahkan… cinta.

 

 

Hyesun mengamuk di kamarnya. Semua benda di meja rias ia jatuhkan, cermin ia banting hingga pecah berkeping-keping, dan tak sengaja ia menyenggol sebuah figura. Amarah Hyesun semakin membara ketika irisnya menangkap sosok Sekyung tengah tersenyum dengannya dalam foto itu.

 

 

Hyesun membuang semua benda yang mengingatkannya tentang mantan sahabatnya itu. Apapun, tak terkecuali foto kelulusan mereka sewaktu SMP tadi. Dalam bingkai itu, mereka terlihat tertawa lepas tanpa beban. Dengan rambut acak-acakan dan baju corat-coret berlatarkan halaman sekolah tempat mereka dulu biasa menghabiskan waktu istirahat. Lagi, sebuah foto yang terlihat lebih baru. Sekyung tengah menggenggam sebuah es krim cone rasa coklat sedangkan dirinya sendiri sibuk menghabiskan segelas greentea. Masih dengan pose yang sama, ekspresi yang terlihat semakin bahagia. Hyesun mengusap kaca bingkai foto itu karena terkena airmatanya. Ia hampir lupa akan niatnya untuk membuang semua benda yang sekarang terasa tak berarti itu.

 

 

Sebuah kotak berukuran cukup besar menjadi penampung seluruh kenangannya bersama Sekyung. Hyesun membuka baterai ponselnya dan mengambil kartu sim yang selama ini dia pakai. Dia mematahkannya tanpa penyesalan dan menggantinya dengan nomor baru yang sudah ia beli. Tekadnya untuk menjauh dari Sekyung sudah bulat dan dia tak pernah main-main. Dia lebih dewasa dari Sekyung, Sekyung juga pernah bilang bahwa dia sangat cantik, orangtuanya juga kaya, apalagi yang kurang? Dengan semua yang ia miliki, banyak orang yang mau berteman denganya, tak hanya Sekyung, gadis kekanakan yang selama ini dia anggap teman tetapi malah menikamnya dari belakang.

 

 

Hyesun mengangkat kotak itu seorang diri, bersiap untuk membuangnya ke tempat sampah di depan halaman rumahnya. Dia membuka pintu gerbang rumahnya penuh perjuangan. Dan begitu gerbang itu terbuka, sepasang gelak tawa membuat matanya memanas. Airmata dengan cepat berkumpul di pelupuk matanya.

 

 

Sekyung tengah bergurau dengan Chanyeol di depan rumahnya. Dan sialnya rumah Hyesun dan Sekyung saling berhadapan.

 

 

Sekyung menyadari keberadaannya, matanya membulat melihat apa yang dibawa Hyesun. Sekyung berlari mengampiri Hyesun. Tapi gadis itu tak mungkin membiarkan sejengkal kulitnya tersentuh tangan Sekyung. Ia buru-buru meletakkan kotak tak berdosa itu sembarangan dan kembali menutup gerbangnya rapat-rapat.

 

 

Sekyung terlambat, ia kalah cepat dengan Hyesun. Dia menggedor gerbang rumah Hyesun, “Eonnie, keluarlah… kita perlu bicara, eonnie.” pintanya dengan suara binding karena Sekyung juga tengah terisak.

 

 

Hati Hyesun sudah benar-benar mati, biasanya jika ia melihat Sekyung bersedih maka dia yang akan menenangkannya. Tapi sekarang ia tak peduli lagi dengan apa yang terjadi pada Sekyung.

 

 

Sekyung jatuh terduduk dibalik gerbang Hyesun, Chanyeol menyusulnya dan menenangkan Sekyung, “Sssttt, sudah jangan menangis. Sekyungie tidak boleh menangis.” ucap Chanyeol yang dapat didengar Hyesun. Hatinya telah mati kembali terkena sembilu. Seharusnya ucapan itu ditujukan padanya, bukan Sekyung!

 

 

Sekyung meraih kotak yang dibuang Hyesun dan perlahan membukanya. Air matanya semakin deras begitu melihat benda-benda pemberiannya dibuang begitu saja. Sekyung berusaha berdiri dan membawa kotak itu ke rumahnya. Chanyeol membantunya mengangkat sisi lain. Untung saja neneknya sedang pergi, jika tidak maka ia pasti akan ditanyai ini-itu sampai mulutnya berbusa.

 

 

Sekyung mengusap figura berisi fotonya dengan Hyesun di sebuah taman beberapa waktu lalu.

 

 

“Kau terlihat cantik di foto ini.” celetuk Chanyeol.

 

 

Sekyung menggeleng keras, “Ini salah, oppa. Semua ini salah! Aku seharusnya tak bersamamu! Hyesun eonnie lebih cantik, lebih anggun, dan lebih feminim dariku. Aku kekanakan! Aku ceroboh! Aku pemalas! Aku tak bisa memasak! Aku bukan orang yang tepat untukmu!”

 

 

“Meski Hyesun lebih cantik, lebih baik, dan dia memiliki kelebihan segalanya darimu. Tapi kau tetap takdirku.”

 

 

Sekyung memandang Chanyeol tak suka, “Hubungan kita hanya sebatas teman kan oppa? Kita berteman juga karena orangtua kita menjalin sebuah bisnis bersama. Oppa belum mengenalku jadi oppa tidak mengerti apa yang telah oppa perbuat pada kehidupan kecil yang sudah aku anggap sempurna.” Sekyung berhenti karena isakan tangis, “Hiks… oppa membuat persahabatanku dengan Hyesun eonnie putus, persahabatan yang membuat hidupku semakin hidup hancur seketika setelah oppa datang dan tiba-tiba mendekatiku! Apa oppa tahu betapa sakit rasanya?!”

 

 

“Lalu kenapa kalau kita hanya berteman karena hubungan orangtua? Aku minta maaf jika benar aku yang menjadi penyebab hancurnya persahabatan kalian.”

 

 

“Hiks… hiks… oppa tidak mengerti! Hyesun eonnie menyukai Chanyeol oppa dan oppa malah dekat denganku! Oppa harus menjelaskan pada Hyesun eonnie kalau kita hanya berteman, tidak lebih.”

 

 

“Bagaimana jika kita memang bukan hanya berteman?”

 

 

“Maksud oppa?”

 

 

“Apa artinya ciuman pertama kita jika status kita hanya teman?” tegas Chanyeol.

 

 

Sekyung menunduk lesu, “Aku pikir, oppa hanya bercanda.”

 

 

Chanyeol mengangkat dagu Sekyung, “Meskipun aku tidak pernah serius, tapi ketika bersamamu aku tak akan bisa bercanda. Lagi pula mana ada sahabat yang lebih memilih namja yang ia sukai dibandingkan persahabatannya. Kau mengerti?”

 

 

“Tapi…”

 

 

“Cukup tanamkan kata-kata ini di dalam pikiranmu, ‘Aku percaya pada Park Chanyeol dan akan selalu berada disampingnya apapun yang terjadi.’ Coba ulangi apa yang aku katakan tadi.”

 

 

“Aku percaya pada Park Chanyeol dan akan selalu berada disampingnya apapun yang terjadi.”

 

 

“Bagus, cukup percaya padaku. Aku kan sudah berjanji untuk selalu membuatmu tersenyum, jadi aku mohon tersenyumlah untukku.” Sekyung akhirnya menarik ujung bibirnya sedikit, “Jika aku melihatmu bersedih lagi maka aku akan segera menciummu!”

 

 

Sekyung sedikit menjauh dari Chanyeol karena rasa kaget dan takut, ‘Dasar mesum!’ pikir Sekyung.

 

 

Sebuah mobil berhenti di depan rumah Sekyung. Seorang nenek turun dari pintu mobil dan melambai pada sang supir.

 

 

“Halmonie pulang.” gumam Sekyung.

 

 

“Karena halmonie sudah pulang, aku juga mau pamit. Sudah hampir malam.”

 

 

Sekyung mengantarkan Chanyeol sampai ke depan pintu, “Tapi motor oppa kan rusak, apa tidak apa-apa pulang dengan kendaraan itu?”

 

 

“Tidak apa-apa, rusaknya tidak parah kok masih bisa dikendarai.”

 

 

Nenek Sekyung mengamati sosok Chanyeol dari atas ke bawah, “Siapa pemuda ini, Sekyung?”

 

 

Chanyeol tersenyum lebar lalu memamerkan telinga besarnya, “Aku Yoda, halmonie. Yoda kecil yang berubah menjadi Park Chanyeol.”

 

 

“Ah~~ iya aku ingat, kau pasti anak semata wayang Park Chaeri itu kan? Kenapa baru sekarang pulang ke Koreanya? Orangtuamu tidak ikut?”

 

 

“Halmonie benar, appa dan eomma masih betah di New York. Aku pulang ke Korea karena rindu dengan Sekyung. Khekhekhe~” pipi Sekyung memerah.

 

 

“Halmonie mengerti, dasar anak muda. Mari masuk.”

 

 

“Tak perlu, halmonie. Aku sudah bertamu sejak tadi dan niatnya ingin pulang karena hari semakin petang.”

 

 

“Baiklah, hati-hati dijalan ne.”

 

 

“Ne. Annyeong halmonie, annyeong Sekyungie.”

 

 

Chanyeol sedikit kepayahan untuk mengendalikan motornya, membuatnya beberapa kali oleng. Sekyung masih memikirkan ucapan Chanyeol, ‘Aku percaya pada Park Chanyeol dan akan selalu berada disampingnya apapun yang terjadi. Aku percaya pada Park Chanyeol dan akan selalu berada disampingnya apapun yang terjadi. Aku percaya pada Park Chanyeol dan akan selalu berada disampingnya apapun yang terjadi. Aku percaya padanya…’

 

 

 

======================***======================

 

 

 

Sekyung duduk di tempat yang sedikit jauh dari lapangan basket, sesekali Chanyeol melambai dan tersenyum padanya. Sehun memandang Sekyung dan Chanyeol bergantian, ‘Mereka serasi, seperti matahari dan bulan yang saling mengisi kekurangan masing-masing. Aku percaya bahwa Chanyeol sunbae dapat menjaga Sekyung lebih baik dariku. Aku serahkan sepenuhnya Sekyung padamu, sunbae.’

 

 

“Sehun…” panggil Sekyung, Sehun menoleh ke arahnya. “Aku bukan seseorang yang pandai menyembunyikan rahasia lewat gerak-gerik. Jadi aku tebak kau pasti sudah tahu bahwa aku suka pada Kris sunbae.” Sehun diam menunggu Sekyung melanjutkan kalimatnya, “Aku mempunyai seorang sahabat. Waktu itu aku sedikit drop karena melihat Kris sunbae dengan yeoja lain dan dia mengatakan padaku bahwa masih ada orang yang lebih baik dari dia. Apa… menurutmu apa yang sahabatku katakan benar adanya?”

 

 

“Tuhan sudah mengirimkanmu seorang malaikat pelindung, Sekyung. Hanya saja sayapnya belum terlihat.”

 

 

“A~ kau sama seperti sahabatku tadi, dia juga bilang bahwa akan ada malaikat yang segera hadir dalam hidupku. Siapa itu? Siapa?” tanya Sekyung penasaran.

 

 

“Emh, lebih baik biarkan waktu saja yang menjawab.”

 

 

“Huu~~ jawaban yang terlalu mainstream.”

 

 

Sehun tertawa kecil, “Aku hanya ingin membuat seorang Shim Sekyung penasaran.”

 

 

“Baiklah kalau begitu akan aku cari tahu sendiri.”

 

 

Tim basket sudah selesai berlatih dan duduk di pojok lapangan seperti biasa. Chanyeol memanjangkan lehernya untuk mencari keberadaan Sekyung.

 

 

“Kau tidak ingin memberi sunbae-sunbae itu minuman dingin?” tanya Sehun sembari menuding pojok lapangan dimana Chanyeol dan Kris cs tengah beristirahat.

 

 

“Untuk apa? Lagi pula percuma aku memberi Kris sunbae minuman sedangkan yang menghabiskannya malah Chanyeol oppa. Tadi aku kan juga sudah bilang tentang Kris sunbae. Atau… dia malaikat yang kau maksud tadi?”

 

 

“Bukan, malaikat itu bukan Kris sunbae. Ya sudah jika tak mau. Lebih baik kita mengisi perut di kantin. Kajja.”

 

 

Sekyung dan Sehun berjalan ke kantin, Sehun sengaja memesan sebuah minuman dingin sebagai penyukses rencananya. Sedangkan Sekyung sibuk memilih makanan apa yang cocok untuk makan siangnya kali ini.

 

 

“Sekyung…” Sekyung hanya berdehem sebagai respon, “Aku akan mentraktirmu apa saja jika kau bisa menyelesaikan tantangan dariku.”

 

 

“Apa saja?” ulang Sekyung dengan mata yang berbinar bahagia, Sehun mengiyakan, “Cepat katakan padaku apa tantangannya?” tanya Sekyung antusias.

 

 

Sehun melambungkan botol minuman dinginnya, “Cukup berikan ini pada Chanyeol sunbae dan tunggu sampai dia menghabiskannya.”

 

 

“Mwo? Neon michoseo? Untuk apa aku melakukan hal bodoh itu, eoh?”

 

 

“Oleh karena itu, hal bodoh ini akan mempertemukanmu dengan malaikat tadi. Percayalah padaku.”

 

 

Sekyung berpikir sejenak untuk menimbang jawabannya, “Baiklah… asal kau mentraktirku apa saja ne.”

 

 

“Seorang Oh Sehun tidak akan mengingkari janjinya.”

 

 

“Baiklah Oh Sehun.” Sekyung merebut botol minuman dingin ditangan Sehun, “Akan aku lakukan.” Sekyung melangkah ke lapangan dengan pasti.

 

 

‘Aku harus membantu Sekyung dan Chanyeol sunbae untuk bersatu. Aku tidak boleh membiarkan Hyesun merusak kebahagiaan mereka. Aku akan berusaha, Sekyung.’

 

 

Sekyung berjalan pelan menghampiri Chanyeol, membuat gerombolan yeoja yang tengah berkerumun minggir untuk mempermudah Sekyung bertemu dengan Chanyeol. Chanyeol masih belum menyadari kedatangan Sekyung. Chanyeol duduk dengan mata memandang lurus ke depan, mengalihkan pandangannya dari yeoja-yeoja yang menawarinya minuman dan makanan. Tapi ia sama sekali tak tertarik, hanya pemberian dari Sekyung yang akan ia terima.

 

 

Seorang yeoja berambut sebahu dengan lesung pipit manis memberi Chanyeol sekotak brownish, “Terimalah ini, sunbae.” pintanya memelas. Chanyeol sama sekali tak meliriknya, ia terkesan acuh dan cuek.

 

 

Sekyung melihat itu. Tak seperti Kris yang ramah pada semua yeoja, Chanyeol hanya terlihat tersenyum jika bersamanya. Sekyung tersenyum paham dan semakin mendekatkan diri pada Chanyeol. Sekyung menarik handuk kecil dari leher Chanyeol dan menyapukannya di dahi Chanyeol yang banjir keringat.

 

 

“Minumlah ini agar oppa menjadi segar.”

 

 

Wajah Chanyeol berubah cerah, ia mengamati air mineral digenggaman Sekyung, “Ini sungguh untukku?” tanyanya tak cukup percaya.

 

 

“Tentu.” Sekyung membukakan penutupnya dan memberikan pada Chanyeol.

 

 

Dengan senang hati ia menerimanya, ‘Akhirnya… aku tidak bermimpi kan Tuhan?’

 

 

Karena terlalu bahagia atas pemberian Sekyung, Chanyeol sampai tersedak dan terbatuk-batuk. Mungkin airnya masuk ke hidung.

 

 

“Gwanchana, oppa?” tanya Sekyung khawatir. Chanyeol mengangguk dan kembali menghabiskan hingga tetes terakhir. Sekyung mengusap dagu Chanyeol yang basah karena tumpahan air.

 

 

“Sering-sering memberiku minum ne.” Chanyeol menampakkan cengirannya.

 

 

Sekyung mengembalikan handuk Chanyeol, “Akan aku usahakan. Aku kembali ke kelas dulu, oppa. Annyeong.”

 

 

“Annyeong, sampai jumpa nanti, Sekyungie.” Chanyeol tak berhenti memperhatikan Sekyung hingga gadis itu masuk ke kelasnya. Ia memandang bekas botol minuman yang telah habis ditangannya dengan gembira, “Terimakasih, Sekyungie.” lirihnya sebelum memasukkan botol itu ke tasnya.

 

 

 

======================***======================

 

 

 

Sekyung duduk di bangkunya dengan sebuah senyum bahagia. Entah kenapa hatinya terasa penuh oleh perasaan tak menentu yang membuatnya bingung sendiri. Bayangan Chanyeol tak pernah luput dari pikirannya. Terlebih lagi sekarang ia tahu bahwa sebenarnya senyuman pria tampan itu hanya ditujukan padanya seorang.

 

 

Seseorang menutup pintu kelas dengan kasar. Sekyung memandangnya dari bawah ke atas. Nampak sepatu berhak tinggi yang tidak sepantasnya digunakan siswa sekolah, kaki jenjang yang terlihat begitu terawat, rok yang sangat pendek, baju ketat, rambut digerai, dan blush on tebal di pipi kanan dan kiri.

 

 

Cheerleader, dengan Hyesun yang berdiri paling depan dengan sangat percaya diri. Diikuti kelima yeoja yang lain dengan penampilan yang sama.

 

 

“Nampaknya tuan putri sudah terlalu bersenang-senang hari ini.” suara centilnya menggema di penjuru ruangan, membuat gaung kecil sampai ke hati Sekyung. Tak ada orang lain selain gadis itu dan anggota cheerleader di dalam kelas. Gadis itu hanya bisa menunduk takut. “Kau terlalu banyak menyentuh Chanyeol oppa!” suaranya naik drastis, hingga lebih menyerupai sebuah bentakan kasar.

 

 

Sekyung berdiri dan ingin segera keluar dari kelas ini, tapi keenam yeoja (termasuk Hyesun) mengepungnya hingga tak ada jalan keluar ataupun celah kecil untuknya.

 

 

“Jangan berani memutus ucapanku, Sekyung! Urusan kita belum selesai!”

 

 

Hyesun mendorong kepala Sekyung hingga membentur tembok cukup keras, airmata Sekyung mulai terkumpul seiring rasa sakit yang ia rasakan. Ia menggigit bibir bawahnya untuk mereda sakit. Sebisa mungkin Sekyung berusaha agar tidak menangis dihadapan cheerbodoh ini. Ia tidak ingin terlihat lemah.

 

 

Hyesun mencengkeram kuat rahang Sekyung hingga Sekyung semakin meringis kesakitan, “Aku akan mengatakan ini untuk pertama dan terakhir kalinya bahwa Chanyeol oppa milikku! Hanya milikku! Camkan itu, Shim Sekyung!” Hyesun melepaskan cengkramannya dan membiarkan Sekyung terjatuh lemas ke lantai. Airmata Sekyung berhamburan keluar karena rasa sakit di fisik dan hatinya.

 

 

‘Dia bukan Hyesun eonnie, bukan! Hyesun eonnie tak mungkin membiarkanku menderita seperti ini! Hyesun eonnie tidak mungkin menyiksaku! Aku mohon Tuhan, kembalikanlah Hyesun eonnie!’

 

 

 

======================***======================

 

 

 

Chanyeol menunggu Sekyung di gerbang, namun yeoja itu tak kunjung datang. Berkali-kali ia melirik jam tangannya hingga halaman sekolah sudah kelihatan sepi, hanya tinggal dirinya dan satpam yang kelihatan sudah marah karena lama menunggu.

 

 

“Tolong jangan tutup gerbangnya dulu, pak. Teman saya masih ada yang di dalam.” pinta Chanyeol.

 

 

Satpam itu menarik nafas kasar, “Baiklah. Tapi jika lima menit lagi dan teman yang kau maksud tak juga keluar maka aku akan mengunci gerbang ini dan segera pulang.”

 

 

“Terimakasih atas kemurahan hati bapak.” ucap Chanyeol sedikit lega.

 

 

Sementara gadis yang ditunggu-tunggu kehadirannya tengah bingung, bola matanya memandangi pantulan dirinya yang telihat sedikit tak berbentuk. Sekyung merasa risih dengan warna merah bekas cengkraman Hyesun tadi. Rasanya masih sakit dan perih. Bagaimana jika Chanyeol berpikir yang tidak-tidak dengan dagunya yang berwarna merah? Bagaimana jika neneknya sampai tahu? Pasti ia kena semprot habis-habisan.

 

 

Sekyung mengobrak-abrik isi tasnya dan mencari suatu benda yang bisa menutupi dagunya. Tapi hasilnya ia hanya mendesah kecewa karena tidak menemukan apapun selain buku dan alat tulis. Sekyung kembali memutar otak.

 

 

Aha! Sekyung ingat, bukankah rambutnya lumayan panjang? Kenapa tidak ia gunakan untuk menutupi dagunya? Wah~ ide yang sangat bagus, Shim Sekyung.

 

 

Sekyung merapikan rambutnya dan menarik beberapa helai dari sisi kiri ke sisi kanan. Sempurna! Dagu merahnya sudah tak terlihat. Kini ia berlari secepat mungkin, Chanyeol pasti sudah menunggunya lama.

 

 

Pintu gerbang semakin tertutup, Sekyung semakin mempercepat langkahnya.

 

 

“Jangan ditutup dulu, pak!” paksa Chanyeol.

 

 

“Tapi ini sudah lebih dari lima menit dan teman kamu belum keluar juga!”

 

 

Sekyung berteriak dari belakang, “Chakkaman!” serunya. Chanyeol memandang Sekyung lega. Sekyung berhenti karena terengah-engah.

 

 

“Kemana saja tadi? Kenapa lama sekali? Kau membuatku khawatir.” omel Chanyeol.

 

 

“Mian, oppa.” balas Sekyung masih berusaha menstabilkan nafasnya.

 

 

Satpam sudah pulang terlebih dahulu, tinggal mereka yang masih sibuk di depan gerbang sekolah.

 

 

“Cepat kenakan helmnya dan kita pulang.” suruh Chanyeol.

 

 

Sekyung merutuki kebodohannya, ‘Aku lupa bahwa aku harus memakai helm! Lalu bagaimana nasib daguku yang masih sakit?’ keluh Sekyung dalam hati.

 

 

“Sini aku pakaikan.” Chanyeol mengambil helm untuk Sekyung dan berusaha memasangnya di kepala Sekyung, “Bagaimana aku bisa memakaikanmu helm jika tanganmu terus memegang dagu? Cepat pindahkan tanganmu dan kita segera pulang.” Sekyung menatap Chanyeol ragu tanpa memindahkan tangannya, “Aku bilang lepaskan.” Chanyeol perlahan menggeser tangan Sekyung namun Sekyung masih bersikeras mempertahankan tangannya. Tapi sudah takdirnya bahwa namja lebih kuat dari yeoja, tangan Sekyung akhirnya lepas bersamaan dengan sebuah lengkingan kesakitan.

 

 

“Aaawwwww….” rintih Sekyung.

 

 

Chanyeol mengamati dagu Sekyung yang nampak memerah dan bengkak, “Aigo~ kenapa dengan dagumu? Siapa yang melakukan ini? Katakan padaku!”

 

 

Sekyung tidak mungkin mengatakan bahwa ini ulang Hyesun, “Aku tadi membentur tiang bendera cukup keras hingga daguku seperti ini.” jelas Sekyung.

 

 

“Jika benar kau membentur tiang bendera maka seharusnya dahimu yang benjol, bukan dagumu!” ucap Chanyeol realistis.

 

 

“Mungkin tadi aku mendongak, iya mendongak.”

 

 

“Jangan bohong, Shim Sekyung!”

 

 

“Aku tidak bohong, oppa. Sungguh.”

 

 

“Baiklah, lebih baik segera obati lukamu. Untuk sementara tidak usah memakai helm dulu.”

 

 

Chanyeol membonceng Sekyung bukan ke arah rumahnya, melainkan ke perumahan lain yang terasa asing bagi Sekyung. Udaranya sejuk, dengan orang-orang ramah dan pepohonan rindang di kanan-kiri. Chanyeol menggandeng Sekyung memasuki sebuah rumah besar nan mewah dengan air mancur di halaman depan.

 

 

“Duduk disini dulu, aku akan mengambil alat kompres.”

 

 

Sekyung duduk di sebuah sofa yang terlihat begitu berkelas, barang-barang mahal menghiasi ruang tamunya, dan pandangannya berhenti pada sebuah figura besar yang terpajang rapi di tembok.

 

 

Dua orang namja tampan yang sangat Sekyung kenal berdiri bersampingan dengan begitu akrab di belakang, di depannya dua pasang suami-istri juga sedang tersenyum bahagia.

 

 

Chanyeol datang dengan sebuah mangkok berisikan air dingin dan handuk untuk mengompres dagu Sekyung.

 

 

“Itu foto keluargaku dan keluarga Kris.” ujar Chanyeol begitu melihat Sekyung yang serius mengamati foto keluarganya.

 

 

“Kalian bersaudara?”

 

 

“Begitulah, Kris sepupuku. Ibu kami adalah kakak dan adik.”

 

 

“Pantas saja kalian begitu dekat.”

 

 

Chanyeol mengangkat dagu Sekyung dan mulai mengompresnya perlahan, “Kenapa? Kau cemburu?”

 

 

“Argh~~ pelan-pelan oppa! Sakit!”

 

 

“Ne, ini juga pelan.”

 

 

Ponsel Chanyeol bergetar membuat tangannya harus rela berpindah dari dagu Sekyung, “Aish, mengganggu saja. Yeoboseo…”

 

 

 

^^^^^^^^^^^^^^^TBC^^^^^^^^^^^^^^^

 

 

Mind to review? Tetap semangat 136!!! ~^.^~

Iklan

9 pemikiran pada “Trade Off chapter 4b

  1. Argghhhh benci Hyesun. Inilah yanh dinamakan cinta segitiga tak beraturan, wkwk. Kasihan Sehunnie, udahlah Sehun buat aku aja ne? Makin penasaean sama cerita selanjutnya dan siapa sebenarnya main cast cowonya. Fighting

    Suka

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s