The Magic Lamp

themagiclamp

The Magic Lamp

“Turn on this lamp, and tell me your wish! And it’ll come true”

Author : Jung Seomi | Cast Lu Han, Original Characters, and others | Genre : Supranaturalfantasy | Rate : Parents Guidance for under 13 years old.

©Standard Desclaimer Applied

_________

Aku itu kesepian. Selalu sendirian, itu sebabnya, aku masuk ke dalamnya. Menjadi sinar benderang berwarna biru di dalam lampion kecil itu.

Dan suatu hari, aku bertemu dengannya, memberinya sebuah permintaan.

Setelah itu, kisah ini berubah dari seperti yang aku kira. Jauh, dari yang aku kira.

 

—————-

The Magic Lamp – ©2014

—————

Ku tumpukan dagu ku diatas meja. Suara bising Seyeon di sebelahku membuat telingaku sakit. Dia terus berceloteh tentang aku yang sama sekali tidak punya pacar. Aku lelah mendengarnya terus memprotesku untuk segera mencari pasangan agar tidak kesepian. Dan itu membuatku jengah, jujur, untuk apa sih gadis SMA sepertiku pacaran? Lebih baik aku di rumah, tidur tanpa memikirkan orang lain.

Lagipula, siapa juga yang mau menjadi kekasihku? Aku hanya gadis biasa, tidak istimewa. Tidak cantik, tidak pintar, tidak kaya, membosankan, dan bla bla bla. Menjelaskan seberapa datar diriku itu akan menjadi sangat panjang.

“Aku tidak peduli, pokoknya minggu depan kamu harus sudah menggaet laki-laki untuk jadi pacar!” ucap Seyeon final sebelum meninggalkanku yang kebosanan sendiri. Aku menumpukan daguku pada tangan kananku yang ku kepalkan. Sesekali ku buang nafasku malas. Aku sebenarnya iri sih dengan orang-orang yang berpacaran, kadang. Karena mereka tidak perlu mendengar omelan Seyeon mungkin? Sedangkan aku? Sehari semalam terus di omeli seperti itu.Huh! Menyebalkan!

Setelah lonceng tanda berakhirnya sekolah berderingan, sekitar pukul enam sore, ku seret kakiku meninggalkan sekolah tua ini. Aku tidak tinggal di Seoul yang selalu terang dan tak pernah tidur, aku tinggal di sini, kota kecil yang tenang, membuatku merasa nyaman. Tinggal berdua dengan kakakku, Han Jimin, yang lebih sering menghabiskan waktu di kantornya sebagai editor penerbit yang tak terlalu besar.

Aku pun masuk  kedalam ruko yang di beli kakakku lima tahun lalu, aku melepas sepatuku dan masuk ke dalamnya, menyalakan lampu dan membanting diri di atas tempat tidur. Namun itu tak lama,  karena tiba-tiba lampu di rumahku padam. Aku bingung dengan apa yang terjadi. Aku pun keluar untuk mengecek keadaan. Dan kulihat, lampu di ruko tetangga juga mati semua. Aku pun kembali masuk ke dalam rumahku lagi, mencari lilin atau lampu minyak atau apa saja lah yang bisa membantuku menghindari kegelapan ini.

Namun sial, aku tak menemukan sebatangpun lilin dan kehabisan minyak. Aku pun membuang nafasku kasar. Ku tinggalkan ruko-ku mencari penjual lampu minyak atau lilin. Namun tak ada satupun toko buka malam itu, padahal hari sudah semakin menggelap dan dingin sudah membuatku merinding.

Hingga ada seorang nenek tua menghampiriku, di tangannya ada sebuah lampion yang berbentuk bintang. Ia mengampiriku,

“Kamu membutuhkan penerangan, nak?” tanya nenek itu padaku. Aku ragu menatapnya, nenek itu berpenampilan sangat aneh. Dia memakai baju berwarna hitam dan bawahan putih, kombinasi yang tidak cocok, bukankah lebih baik jika menggunakan atasan putih bawahan hitam?

“Nenek punya satu lampu. Dan nenek ingin menjualnya” ucap nenek itu lagi. Aku pun tersenyum lega, setidaknya aku mendapatkan sebuah lampu untuk saat ini.

“Boleh saya membelinya?” tanyaku.

“Tentu saja. Namun jangan membelinya dengan uang. Nenek tidak membutuhkan uang” ucap nenek itu lagi. Aku mengerutkan dahiku, bingung. Baru pertama kali ini aku bertemu seseorang yang tidak membutuhkan uang.

“Lalu?”

“Bayar hanya dengan merawat lampu itu baik-baik. Jangan rusakkan ia” ucap nenek itu lagi, beliau menyerahkan lampunya padaku. Aku pun menerimanya, menatap lampion berbetuk bintang itu lama.

“Dia memiliki dua warna cahaya. Oranye dan… biru—” ucap nenek itu lagi. “—nyalakan lampu oranye jika kamu membutuhkan cahaya,” sambungnya lagi. Aku pun mengangguk mengerti. Berlama-lamaan di dekat nenek ini membuatku merinding.

“Baiklah, terimakasih nek. Aku izin pulang” ucapku sembari membungkuk. Aku berbalik dan melangkah. Namun tiga langkah kemudian, aku mendengar nenek itu berteriak padaku.

“Jangan merusaknya!—” teriak nenek itu, aku membalikkan kepalaku. “—itu bukan lampu biasa!” sambungnya lagi. Aku semakin mengerutkan keningku, namun aku berkata ‘baiklah’ sebelum kembali berjalan. Dan dua detik kemudian saat aku menoleh ke belakang. Nenek itu tidak ada.

Aku mengedikkan bahuku dan pergi kembali ke ruko kakakku.

Aku berdiri di dalam kamarku yang gelap. Tanganku masih membawa lampu lampion dua warna itu. Aku sebenarnya sudah ingin sekali menyalakannya. Namun, entah mengapa ada sesuatu dari dalam diriku yang melarangku untuk menyalakan lampion itu. Entah kenapa. Seperti firasat. Apalagi, mengetahui keanehan yang dilakukan oleh nenek tadi, yang notabenenya pemilik lampu ini.

Namun, semakin jarum jam yang terus berdecit, setiap detiknya, malam semakin kelam dan gelap. Aku pun menjadi merinding sendiri. Dan dengan tangan gemetar meraih lampion berbentuk bintang itu dan menyalakannya. Tanganku yang masih gemetaran menekan tombol asal. Aku pun memejamkan mataku karena aku sebenarnya takut kegelapan, apalagi kegelapan dalam kesendirian.

Kutekan tombol itu, berharap cahaya benderang keluar dari sana. Namun ketika aku memencetnya—

–tidak ada cahaya yang keluar dari benda tersebut. Aku pun semakin takut. Apa lampu ini rusak? Nenek tadi bilang ini  bukan lampu biasa, dan aku tidak boleh merusaknya? Lalu, aku bersumpah tak melakukan apapun pada lampu ini, hanya saja, dia tidak mau bercahaya.

Hingga muncul asap-asap yang menyesakkan udara dari lampion tersebut. Kelihatannya, lampion ini benar-benar rusak. Aku merasakan bulu kudukku semakin meremang. Dan perlahan, ada sedikit cahaya yang terpancar dari dalam lampion itu, cahaya itu kecil, namun semakin membesar dan semakin terang.

Cahaya itu tidak berwarna oranye, kuning, ataupun putih.

Cahaya itu berwarna biru.

Aku terperangah, menutup kedua mataku sendiri dengan perlindungan lenganku karena cahaya itu semakin terang, terasa hampir melukai kedua mataku. Sebelum kemudian, cahayanya menyurut dan semakin menyurut. Lalu, cahaya itu akhirnya stabil dengan sendirinya.

Aku kembali mengingat ucapan nenek, dia menyuruhku menyalakan warna oranye ketika membutuhkan cahaya. Mungkin itu sebabnya, kenapa dia menyuruhku menggunakan lampu oranye. Lampu birunya sedikit aneh.

Aku pun menaruh lampu tadi di nakas dan membaringkan tubuhku. Hingga aku terlelap dan menaungi alam mimpiku.

***

Cahaya yang sangat terang ini, bahkan sanggup menembus kelopak mataku yang masih ku tutup. Aku mencoba membuka perlahan kedua mataku. Perlahan tapi pasti, aku bisa mulai melihat apa yang terjadi. Ini benar-benar nampak seperti mimpi.

Bagaimana tidak? Kamarku penuh dengan warna biru, dan langit-langit kamarku penuh dengan tulisan, tulisan itu adalah tulisan china yang sama sekali aku tidak paham. Bulu romaku meremang ketika merasakan ada sosok lain di belakangku. Aku membalikkan tubuhku dan melihat seorang laki-laki dengan wajah pucat dan bersinar kebiruan.  Aku menggeser tubuhku kebelakang, menjauhi dirinya. Namun dia justru semakin mendekat. Bahkan sangat amat dekat. Wajahnya yang pucat kebiruan menampilkan sebuah senyuman tipis, dan aku merasa dunia berhenti berputar. Aku rasa, itu benar-benar indah. Aku terkejut mendapati jantungku memompa darahku lebih cepat daripada biasanya. Wajahnya benar-benar dekat. Kedua iris birunya menerkamku masuk ke dalamnya, pria itu memiliki wajah yang sangat sempurna. Aku menahan napasku ketika dia berhenti di hadapanku, tepat duabelas sentimeter di sana.

“Hai, namaku Lu Han. Kamu punya satu permintaan dariku. Setiap orang yang menyalakan lampu biru, harus memintaiku satu hal. Aku biarkan kamu berpikir sampai besok malam. Selamat kembali tidur. Oh iya, aku tidak jahat kok” dan setelah mengucapkan kalimat panjang tadi, dia menghilang, dan cahaya lampu itu memudar, kembali menjadi netral seperti tadi.

Aku sendiri masih belum bisa mencerna keadaan yang barusan terjadi. Keringat membasahi dahiku, udara di sekitar terasa panas, jantungku masih berdetak di atas batas normal, darahku masih berdesir dan napasku terenggah. Hingga, aku bisa mencerna keadaan dan sadar, aku menjatuhkan diriku kembali ke atas tempat tidur, kulirik lampion yang berada di sebelahku. Lampion kecil yang membawa jutaan efek aneh dalam waktu yang belum mencapai duabelas jam

***

Hari ini, hujan mengguyur tepat ketika lonceng yang mengakhiri sekolah di bunyikan. Aku membuka payung ku yang berwarna biru. Ah, biru. Mengingat biru, aku jadi mengingat pemuda lampion semalam. Tadi siang, Seyeon menanyakan asal dari warna kehitaman di sekitar mataku, dan jawabannya tentu tak bisa kukatakan padanya. Dia akan menganggapku gila dan membutuhkan psikiater.

Setelah pukul tengah malam terbangun oleh cahaya biru itu, aku bersumpah aku tidak bisa tidur setelahnya.  Bayangan wajah tampan itu terus terbayang di otakku. Sampai aku sadar, dia dan aku berbeda. Mungkin sedikit gila aku yang tidak pernah mempercayai hal mistis tiba-tiba mempercayainya. Tapi aku tidak mungkin untuk tidak percaya kali ini. Aku bahkan melihatnya dengan kedua mata kepalaku sendiri!

Aku menaruh melipat payung biruku dan masuk ke dalam ruko. Hujan masih mengguyur meskipun dalam skala kecil. Aku melepas sepatuku dan masuk ke dalam, menyalakan lampu kamarku dan kemudian duduk di atas ranjang putihku, ku ambil lampion bintang itu dari nakas dan menatapnya lama. Aku takut, aku bahkan terlalu takut untuk menyalakannya. Aku tak tau, namun alasan ku yang paling berat adalah bertemu dengan pemuda itu, itulah alasan terkuatku untuk takut. Dia membuat jantungku bekerja secara tidak normal, itulah yang menakutiku.

Aku memejamkan kedua mataku, menetralkan tarikan napasku. Mengeluarkan secara keseluruhan napas yang tersendat di dalam tenggorokanku. Aku kemudian membuka kedua mataku, ku tatap lampion itu lama. Satu harapan? Lu Han? Apa aku mendapat satu harapan dari seseorang bernama Lu Han itu? Bagaimana jika aku meminta seorang laki-laki untuk menjadi kekasihku dan membungkam bibir Seyeon?

Aku pun menyalakan lampu itu dengan hati-hati. Kejadiannya sama dengan kemarin. Asap-asap yang mengepul keluar. Dan sebelum cahaya biru itu nampak, aku memadamkan lampu kamarku dan bersembunyi di balik bantal, agar cahaya yang sangat terang itu tidak menyakiti kedua korneaku.

Aku merasakan bahwa cahaya itu mulai semakin terang dan semakin terang. Hingga beberapa detik kemudian, aku merasakan ada yang menepuk punggungku. Aku hampir terjungkal ke belakang merasakannya, aku terkejut. Kemudian, kubuka mataku. Kulihat Lu Han sudah tersenyum manis padaku. Dan senyuman itu, aku bersumpah belum pernah ada orang yang memiliki senyum seindah itu sebelum ini. Aku hampir kehilangan cara bernapas dengan baik melihatnya.

“Sudah menemukan permintaannya?” tanya Lu Han. Aku menggeleng sebagai jawaban. Permintaan yang sebelumnya terpikir tiba-tiba terasa sulit terucap olehku.

“Aku akan menunggu sampai tengah malam” ucapnya lagi. Ia melirik jam yang menempel di dinding kamarku, kemudian ia menoleh ke arahku dan tersenyum. Di wajah tampan yang pucat itu, mengandung sebuah gurat lelah di dalamnya. Apa dia lelah hidup di dalam lampu itu? Aku merasakan hatiku meleleh dan luluh dengan senyumannya. Aku merasakan simpati yang begitu besar tumbuh di lubuk hatiku.

“Namamu siapa?” tanyanya. Aku nyaris tak memperhatikan dia bertanya karena aku tenggelam dalam pikiranku sendiri.

“Han Ji Na” jawabku. Dia mengangguk dan lagi-lagi tersenyum, sangat tipis.

Setelahnya, hanya ada kesunyian yang menyelimuti kami. Suara yang dapat di tangkap gendang telinga hanya desiran angin yang menembus masuk melewati celah jendela dan juga suara jarum jam yang berdetak setiap detiknya, jarum itu terus berputar, mengendalikan waktu yang ada. Semakin lama semakin mendekati tengah malam.

Selama diam yang nyaman itu, aku sering menoleh ke arahnya, menatapnya dari samping, memperhatikan wajah tampannya diam-diam, menikmati desiran darah dan kecepatan pacuan benda di dalam dada kiriku, tersenyum sendiri. Apa itu yang Seyeon maksud dengan… cinta? Aku tidak tau,

Dan selain itu, aku juga berkali-kali mendapatinya juga melakukan hal yang sama ke padaku. Dan jika itu terjadi, kami saling membalikkan muka ke arah lain, aku tak tau bagaimana dengannya, tapi wajahku sudah semerah kepiting rebus. Dan semakin jarum jam berputar, semakin kelam malam di luar sana. Namun disini begitu terang, karena pemuda di sebelahku memancarkan sinar birunya yang indah.

Lagi, kami saling bertatapan tanpa sengaja, kali ini, aku hampir terjungkal karena menghindar dari tatapan itu, namun  aku tidak jadi terjatuh. Karena ada lengah kokoh yang menahan tubuhku terjatuh. Aroma maskulin mengguar masuk kedalam indera penciumanku, deru napas terasa menerpa leherku. Aku sendiri merasakan jantungku meletup-letup dengan posisi se-intim ini dengannya. Hingga dia membenarkan posisi kami ke posisi sebelumnya. Kami tidak saling bertatapan, justru membelakangi. Menjauhkan wajah masing-masing karena malu. Dan untuk diriku sendiri… jujur… aku gugup. Kelihatannya, aku benar-benar terpesona pada makhluk lampion biru itu.

Setelahnya, kami kembali diam.

Malam yang semakin mendekat ke tengah malam. Bahkan, mungkin hanya dua kali lagi jarum panjang jam itu berputar maka tengah malam telah ditunjukkan. Artinya, tengah malam hanya tersisa dua menit lagi. Dan aku justru sibuk memikirkan detak jantungku sendiri dibanding dengan permintaan yang harus aku minta.

“Jika kamu tidak membuat permintaan sampai tengah malam, aku mungkin akan terjebak di dalam lampu itu, selamanya” dia akhirnya mengeluarkan suaranya. Untuk pertama kalinya setelah diamnya kami yang lama dengan nada yang begitu… lirih. Dan yang lebih mengejutkan adalah ucapannya. Dia bilang, jika aku tidak mengucapkan permintaanku, dia akan… terjebak di lampion itu? Selamanya?

“Apa?”

–Satu menit lagi yang tersisa—

“Kumohon, mintalah sesuatu, aku akan mewujudkannya, mengembalikan waktu, menjadi kaya, menghidupkan orang yang sudah mati, atau apa saja terserah kamu! Biarkan aku tetap hidup!” teriak Lu Han dengan airmata yang menetes di pipinya. Melihatnya, justru membuatku kacau dan tidak bisa berpikir dengan benar. Apa yang harus aku minta? Aku pun menjadi panik.

 –30 detik lagi yang tersisa—

“A-aku… a-ku…” aku tergagap, aku terlalu bingung harus melakukan apa, saking paniknya diriku. Aku takut sekarang….

—15 detik lagi yang tersisa—

“Kumohon mohonlah sesuatu…” ucapannya semakin lirih…

—10 detik lagi yang tersisa—

“Aku tidak tau apa yang harus kuminta…”

—5 detik lagi yang tersisa—

“Aku sudah tamat” ucapnya lelah, sedangkan aku semakin panik di sini. Lu Han sedikit menjadi kabur. Ia mengabur dan menjadi buram.

—1 detik lagi yang tersisa—

“Jangan Pergi! Lu Han!” dan teriakan itu adalah perminataanku, aku terenggah oleh teriakanku sendiri. Luhan menatapku tidak percaya. Aku sendiri masih dalam kodisi panik, airmata menetes sepajang pipiku. Ia kemudian tersenyum lembut, kemudian mendekat ke arahku, mengusap airmata yang menetes di sana dengan halus.

“Permintaan di terima” ucapnya lembut, kemudian, pria berkulit pucat itu mendekatkan wajahnya ke arahku. Ia semakin mendekat, Lu Han juga memejamkan kedua mata indahnya dan deru napasnya terasa mengenai permukaan wajahku, jarak kami semakin tereliminasi. Aku yang paham apa yang hendak dia lakukan juga ikut memejamkan kedua mataku. Hingga pada akhirnya, bibirnya menempel pada milikku, ciuman itu terasa lembut, hanya kecupan kecil yang hangat dan berarti, hingga ia melepaskan tautan kami. Kami bertatapan lama sebelum aku menyadari satu hal—

“Lu Han! Kamu tidak bercahaya lagi!” teriakku.

“Tentu saja, sekian lama aku menunggu seseorang yang akan mengucapkan itu padaku. Menyuruhku tinggal bersamanya—” ucapnya di selingi dengan tawa tampannya. Ia mengelus suraiku lembut. “—Itu artinya, aku tidak akan kembali menjadi penghuni lampu kecil itu lagi, dan hidup seperti manusia biasa karena permintaan tersebut, terimakasih—” ucapnya. Ia memberikan senyumnya padaku. “—maka dari itu, aku akan menjadi pelindungmu untuk tetap hidup bahagia sampai malaikat maut yang memisahkan kita”

Aku pun menangis haru karena ucapan itu aku menjatuhkan diriku ke dalam pelukan Lu Han dan menikmati kehangatan tubuhnya. Ia membalas pelukanku sembari mengelus punggungku dengan tangannya.

Dan kurasa, Seyeon tak akan mengomel padaku lagi setelahnya, haha…

-FiN-

Apa ini? Jangan bunuh saya karena ini absturd banget -_- Maafkan saya Luhan-ssi. Menjadikan dirimu hantu :3 hantuu tampan kok biarpun saya tetep ga bisa bikin kamu semanlynya, karena di dalam hatiku, Luhaen kan imutttt  😀

Sekian dari saya,

XOXO

Iklan

7 pemikiran pada “The Magic Lamp

  1. authornim daebak deh
    udh bikin aku melting sendiri
    aku kira luhan bakalan pergi eh
    teenyataaaa :3
    keren deh, kalau ada sequelnya kabar-kabar yaa hahaha

    Suka

  2. Apa ini ?? buat aku gigit bantal sendiri kaya orang gila >< #lebay
    Pengen banget punya jin imut kaya luhan(?)
    Mana jadi pacarnya lagiii
    Dan karakter OC yg standar nya rada mirip sama aku, datar banget idupnya #abaikan

    Oke deh, ini ff kece overall (y)

    Banyak2 bikin ff luhan ya ^^

    Suka

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s