99th Mission 1st Chap : A Voice

99missionyangbener

Author : Jung Seo Mi -Diramadhani | Cast : Oh SeHun, Byun Baekhyun, Original Charachters and Others | Genre : Action, Angst, Romance | Rating : Parental Guidance for under 14 Years Old

© I dont own the cast. Storyline is mine.

“I dont know about thing that they called it ‘Love’. But, my heart always want to protect you, my body always want to hug you, my mind always full of you, is it that the such thing named Love?”

A Voice -1

———————–

 

Jika dihitung, ini adalah menit ke duapuluh sejak SeHun duduk di sofa ruang tamunya. Mata gelap SeHun hanya tertuju pada gadis yang duduk bersila tanpa suara. Gadis itu diam, diam yang kosong. Tidak ada gairah dalam tatapannya, sebuah tatapan kelam yang begitu penuh akan kesedihan. Ia terus berpikir dalam diamnya, sebenarnya apa yang telah di alami gadis ini sehingga bisa terkena depresi seberat ini hingga dia terus bungkam? SeHun menghela nafasnya.

“Apa yang sebenarnya telah terjadi padamu heum?” ucap SeHun jengah.

Gadis itu melirik SeHun, begitu sebentar. Kedua iris mereka bertubrukan dalam waktu yang sangat singkat bahkan tak mencapai delapan detik. Kedua mata tanpa gairah itu mampu membuat SeHun bergidik meski hanya bertatapan dengannya sebentar. SeHun mengalihkan tatapannya ke tempat lain, dialah yang mencoba memutuskan kontak itu pertama kali. Sedangkan ia tahu, gadis di depannya masih menatap kearahnya sampai beberapa detik kemudian.

“Yah, kau tau… semuanya tidak akan selesai jika kau hanya tutup mulut seperti itu,” ucap SeHun dengan nada yang lebih mirip keluhan. Dia melirik ponsel di atas meja kaca ruang tamunya. Waktu yang ditunjukkan oleh ponselnya terus bergulir, namun tak sekalipun sebuah pesan hinggap di sana. Membuatnya lagi-lagi harus menelan semua kekesalannya mentah-mentah.

“Aku bukan tipe orang yang suka mengajak bicara. Jadi tolong hargai, ucapkan satu kata –ah, setidaknya satu huruf saja….” SeHun berdiri dan menatap penuh mohon kepada gadis itu. Namun, dia tetap tak bergeming. Kedua matanya pun tak tertuju pada SeHun, mata itu mengarah kepada lantai berwanra abu-abu di ruang tamunya. Membuat SeHun merasa lantai keramik di rumahnya lebih menarik dibanding dirinya. SeHun frustasi. Ini bukan gayanya : mengajak orang lain bicara, apalagi diacuhkan seperti ini.

“Tsk. Aku sedang bicara dengan rumput.” Karena lelah, dia pun meninggalkan gadis itu sendirian di ruang tamu rumahnya. Sedikit menyesal, seharusnya dulu dia membiarkan gadis itu mati kehabisan darah, bukan menyelamatkannya. Jika ia tahu, gadis ini sama sekali tidak ada gunanya.

Ia menarik sebuah bantal untuk menjadi alas kepalanya. Ponselnya bergetar dua menit kemudian, pesan dari Byun Baekhyun masuk di sana, membuat SeHun tersenyum penuh kelegaan. Sebuah pesan singkat yang sungguh berarti bagi dirinya, seolah menentukan masa depannya :

“SeHun, kami baik-baik saja. Kami juga bertemu Dr. Zhang, kelihatannya dia bisa membantu”

SeHun pun menelpon setelah membaca pesan barusan. Dia hanya mendengarkan Baekhyun berucap di sebrang sana dan hanya sesekali menanggapi dengan gumaman. Setidaknya mendengar Baekhyun bicara membuatnya mengetahui beberapa hal : Dr. Zhang adalah warga negara amerika sekarang, dia menetap di Manhattan dan sementara tinggal di Korea untuk menangani beberapa kasus, dia sendiri lahir di tanah asia yaitu China. Kemudian, Seo Chaeri, dokter muda itu mengalami Luka cukup berat akibat kejadian semalam, sedangkan Byun Baekhyun baik-baik saja. Byun Baekhyun juga menanyakan tentang gadis aneh yang berada di ruang tamu rumah SeHun, dan SeHun hanya menjawab secukupnya, ‘gadis itu masih bungkam’. Terlebihnya, ia hanya mendengar cerita kurang penting yang ia tak ingat dari Baekhyun.

Panggilan itu berakhir, ia terkadang merasa takjub pada Baekhyun yang bisa bicara selama dan sebanyak itu, panggilan yang menghabiskan waktu duapuluh menit didominasi 97% suara Baekhyun. Oh, sungguh jika membicarakan Baekhyun dan dirinya, sama saja kau membicarakan warna hitam dan putih, begitu kontras.

SeHun kembali bergerak menuju ruang tamunya, gadis itu masih duduk di sana, tak ada pergerakan yang berarti sejak SeHun meninggalkan ruangan ini. Tak ada yang berubah, kecuali kedua matanya yang mulai terpejam.

“Dia tidur? Tsk. Merepotkan saja.”

.

Do Kyungsoo tengah menggunakan sepasang mata bulatnya untuk berusaha mengintimidasi Oh SeHun, meski ia tahu itu tak berguna. Karena bagi SeHun, tak ada yang perlu ditakuti dari tatapan tersebut, ia heran dengan orang-orang yang sebelumnya merasa ciut ditatap seperti itu oleh sepasang mata bulat Do Kyungsoo. Dua orang yang dibatasi meja besi yang berukuran 1×2 meter itu diam, dengan keadaan Kyungsoo yang serius, dan SeHun dengan wajah datar arogan khasnya.

Duamenit kemudian, Baekhyun datang memecah suasana yang diciptakan Kyungsoo dan SeHun. Polisi bermarga Byun itu berdecih sarkas. “Tsk.”

“Kapan semua ini akan beres jika kalian hanya bertatap mata seperti orang konyol ugh?” Baekhyun berkacak pinggang menatap dua rekan kerjanya yang hanya saling melempar pandang. Baekhyun yang memang menunggu semua ini selesai sudah tidak tahan lagi untuk sekedar tidak mengomel pada mereka berdua.

“Kelihatannya kau memang tidak banyak terluka atas kejadian semalam, Byun.” –dan SeHun semakin mengacaukan moodnya dengan ucapan kosong tak penting itu.

Baekhyun menghempaskan nafasnya, berharap Kyungsoo mengucapkan satu kalimat yang lebih baik dibanding SeHun. Namun, mereka berdua sama saja. Kyungsoo –yang tak tahan kehadiran baekhyun– menyeret Baekhyun keluar dari ruangannya sebelum kembali duduk di depan SeHun, menatap pemuda berkulit pucat itu penuh intimidasi.

“Baiklah, kita mulai lagi…” ucap Kyungsoo. SeHun mengangguk –“yeah.”

“Ceritakan semuanya secara spesifik padaku, bagaimana bisa kau menemukannya. Sejelas mungkin.” Ucap kyungsoo, mengawali introgasinya pada SeHun. SeHun menarik nafasnya, pemuda berbadan jakung itu menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi, ia menggunakan kedua lengan tangan untuk menopang kepalanya. Kedua mata ber-iris cokelat itu fokus pada ujung meja besi yang tepat berada di depannya.

Menemukannya? SeHun sendiri selama ini enggan memikirkan kejadian itu, entah bagaimana setiap detail kejadian itu terlalu memalukan untuk diputar ulang. Sebenarnya, bukan memalukan dalam konteks yang eum… patut ditertawakan atau menghancurkan harga dirinya, namun SeHun selalu merasa aneh jika membayangkan kembali, seolah dia melihat orang yang di sana waktu itu, bukanlah dirinya sendiri.

SeHun mulai memutar ulasan kejadian dua minggu yang lalu dan menjelaskannya secara pelan dan inci kepada Kyungsoo, dari saat dia menemukan sosok gadis terkapar di ujung ruangan lembab yang merupakan jebakan yang dibuat keparat mafia untuk mengelabuhi grup kepolisiannya. Jujur, SeHun mengakui tingat ketinggian intelegensi mafia-mafia itu karena mereka sanggup membodohi otak –turunan einstein– milik Byun Baekhyun.

Tidak banyak yang terjadi saat itu, SeHun yang merasa dibodohi oleh mafia keparat hanya tersenyum sinis menyadari seorang gadis masih tertinggal di sana. Seorang gadis yang tengah tak sadarkan diri, sekarat dengan bau ekstrim bernuansa amis di sekitar tubuhnya –dan SeHun merasa paling diberkati ketika sadar bahwa gadis itu masih bernafas. Setidaknya, ia bisa membawanya ke pada Seo Chaeri untuk di pulihkan, lalu Do Kyungsoo bisa mengintrogasinya untuk menemukan dimana saja markas organisasi mafia besar ini, dan semua akan menjadi lebih mudah.

Namun menengok kenyataan, sungguh sangat kontras dengan apa yang ia harapkan sebelumnya. Gadis itu tidak bersikap seperti apa yang dia kira, justru menjadi parasit baru baginya. Ia tidak pernah berpikir, gadis ini memiliki masalah kejiwaan yang aneh. SeHun bahkan terlalu malas membahasnya. Karena keanehan itu semakin membuatnya terusik lagi, gadis itu harus terus menempel padanya. Ini menjijikkan.

“Tak ada yang lain lagi?” tanya Do Kyungsoo. Detektif muda itu sibuk menyalin segala ucapan yang keluar bebas dari mulut SeHun kedalam komputernya. Sedangkan SeHun hanya mengangguk tanpa bersuara.

Dan Kyungsoo berterimakasih pada SeHun untuk waktu dan mengizinkan opsir muda itu meninggalkan ruangannya. SeHun hanya meresponnya dengan anggukan dan segera meninggalkan ruangan Kyungsoo. Ketika menutup pintu ruangan Kyungsoo, ia menemukan Baekhyun masih berdiri disana.

Then, bagaimana dengan hasil introgasinya?” tanya Baekhyun. Namun SeHun hanya mengedikkan kedua bahunya sebagai respon atas ucapan Baekhyun. Tentu saja pertanyaan itu seharusnya ditanyakan pada Kyungsoo, bukan kepadanya.

“Lalu, bagaimana perkembangan gadis itu?” Baekhyun mulai bertanya lagi. SeHun menarik nafasnya dalam-dalam. Ia sungguh sensitif dengan bahasan yang satu ini. Ia sungguh paling tidak suka membahasnya. Gadis itu hanya merepotkannya saja.

Please Baek….”

You know Hun, she trusts you. She listens to youYou are the one that can do it.” Ucap baekhyun. Pria itu menghela nafasnya “—sementara Yixing yang bisa membantupun, baru akan kemari seminggu lagi.” Ucap Baekhyun. SeHun membuang nafasnya kasar, lagi. Ia sendiri menyesal sudah menyelamatkan gadis ini dulu, karena sekarang, gadis itu hanya mau mengikuti ucapannya akibat aksi sok hero-nya itu, dia tidak mendengarkan orang lain selain dirinya. Dan ulang, hanya mendengarkan. Tak lebih, gadis itu tak akan mau membuka bibirnya.

Mengalihkan pembicaraan, SeHun menanyakan siapa itu Yixing, dan jawaban yang ia dapat dari Baekhyun, Yixing adalah Dr. Zhang. Zhang Yixing. Dia berdecak. Seminggu? Memberi tumpangan pada gadis yang bicara saja tidak bisa selama seminggu. Tsk. Ini mengesalkan.

Please Hunkau satu-satunya harapanku.” Ucap Baekhyun dramatis. SeHun membuang mukanya sambil berdecih jijik akan ekspresi Baekhyun yang dibuat-buat. Sedangkan Baekhyun hanya tertawa. Mereka kembali ke ruangan masing-masing setelahnya. SeHun hanya berdiam diri di sana sembari menetralkan emosinya. Sedangkan ia tak tahu apa yang Baekhyun rencanakan untuk saat ini. SeHun harap, Baekhyun tak akan salah perhitungan untuk dua kali.

Karena, SeHun sudah tidak sabar memecahkan kepala Kang Jinseok, dengan senapan miliknya sendiri.

.

SeHun menutup mobil patroli hijaunya.  Ia menatap lama bangunan yang berdiri kokoh dihadapannya –rumahnya sendiri. Jika hari-hari sebelumnya bantal putih empuknya menjadi hal yang paling dirindukannya, maka hari ini, menginjakkan kaki di rumahpun membuatnya jengah. Ia membuka pelan knop pintu rumahnya, dan lagi-lagi irisnya menangkap bayangan itu. SeHun menghela nafasnya,

“Tsk. Kau tau? Kau itu merepotkan.” Ucap SeHun. Polisi muda itu melepas sepatu hitamnya dan menaruh mereka di sebelah pintu. Kemudian duduk di hadapan gadis yang diam seribu bahasa semenjak dua hari lalu. SeHun menghela nafasnya lagi. Tadi siang, SeHun menerima telepon dari seseorang yang mengaku bernama Zhang Yixing, dokter psikolog yang menjajikan dirinya untuk menghilangkan depresi yang dialami oleh gadis ini. Orang itu bilang, bahwa SeHun harus mencoba bersikap lembut.

Well, itu sama sekali bukan gayanya. Bersikap. Lembut. SeHun menarik nafasnya dalam, kemudian memejamkan kedua matanya sebelum kembali membukanya perlahan. Jika ia tidak mengingat bagaimana dendam kesumat yang ia simpan kepada organisasi itu –terlebih pimpinan mereka, mungkin ia tidak akan sudi melakukan ini. Tapi jika ini satu-satunya jalan… baiklah,

“Kau masih mau diam? Tak adakah yang ingin kau ucapkan padaku? Bahkan… eum… setelah aku menyelamatkanmu dua minggu lalu?” –Oh, SeHun bersumpah ingin menertawai dirinya sendiri setelah mengucapkan kalimat barusan. Ini benar-benar bukan dia. Kemungkinan ada arwah penasaran yang sedang merasuki tubuhnya.

Gadis itu dengan kedua mata legam yang berkilat sedih dan takut itu mendongak dan langsung menatap SeHun. SeHun membalas tatapan mata itu. Hanya beberapa detik sebelum mereka memutus kontak mata yang terjadi. SeHun tau, dari sejak awal dia melihat gadis ini, kesan pertama yang ia dapat memang, gadis ini cantik. Namun tak sejelas sekarang, karena ketahuilah, gadis itu berlumuran darah ketika SeHun menemukannya dulu…

“Kau benar-benar tidak berniat berkata-kata, termasuk… terimakasih?” tanya SeHun lagi. Gadis itu tetap bungkam, menundukkan dalam-dalam kepalanya. Dan tak ada yang SeHun lakukan selain mengempaskan badannya yang lelah ke sandaran sofa. Tak lama, ia kembali bangkit untuk membersihkan badannya.

“Jika kau membutuhkanku, ketuk pintu kamarku. Aku akan mandi dan memasak.” Ucap SeHun. Dia menyeret tas kerjanya masuk ke dalam kamar dan membantingnya sembarang sebelum menghilang di balik pintu kamar mandi.

.

Setelah selesai memasak makanannya, SeHun membanting tubuhnya di atas ranjang. Tubuhnya terasa kaku oleh kelelahan yang ia dapat hari ini. Di hempaskannya nafas berat untuk mengurangi kelelahannya. Selanjutnya, Ia melirik smartphonenya dan menemukan empat panggilan tak terjawab dari orang yang sama, dan orang itu adalah Kai. Sehun kemudian menghela lagi nafasnya, ada masalah apa lagi sekarang? Benar-benar melelahkan. Akhirnya,  SeHun pun menelpon balik Kai.

Kai langsung berteriak padanya selepas mengangkat panggilan SeHun. Tak lama, sebelum akhirnya Kai bercerita padanya tentang investigasi yang di lakukan oleh pemuda Tan itu di salah satu lokasi dan juga mengintrogasi beberapa polisi daerah. Untuk menemukan kumpulan mafia keparat yang menjadi misi mereka. Kai bilang, ia menemukan sebuah lokasi yang membantu menemukan markas utama organisasi mafia target mereka bersama Detektif Park Chanyeol. SeHun sendiri hanya mendengarkan dengan baik. Kai begitu bersemangat dalam misi ini.

And, hey, how about ‘that’ girl?” hingga pertanyaan itulah yang terucap dari bibir Kai, setelah sepuluh menit bercerita dan ditanggapi dengan gumaman. SeHun langsung berdecak. Kenapa semua orang hobi sekali menanyakan perkembangan gadis yang bahkan hanya bergerak untuk memejamkan kelopak matanya saja? –huh, mengesalkan.

“Ouh, please Kai…”

“ ‘Kaythen. Aku rasa belum ada perkembangan yang berarti, didn’t it?” tanya Kai.

Yeah. Tak ada yang ingin kau katakan lagi, kan? Then, bye.” Ucap SeHun menutup panggilan secara sepihak. Kemudian, melempar smartphonenya kesal. Selalu pertanyaan itu, tak taukah dunia, ia sangat benci dengan pertanyaan itu.

.

SeHun tak tau jam berapa sekarang, namun suara pintu kamarnya yang digedor secara kasar membuatnya memaksa kedua kelopak matanya untuk terbuka. Kepalanya terasa berat dan selain suara itu kian mengganggu telinganya. SeHun menyeret kakinya mendekat ke arah pintu, kemudian membuka pintu kamarnya dengan keadaan setengah sadar, sendinya masih terasa begitu kaku.

SeHun hampir terjungkal kebelakang ketika gadis yang semenjak kemarin hanya berada di ruang tamunya secara tiba-tiba memeluknya dan mengeratkannya seerat mungkin. SeHun sendiri masih membeku di tempatnya, seolah Shock dan belum menyadari akan apa yang sedang terjadi. Gadis ini tiba-tiba berdiri di depan kamarnya, mengetuk pintu secara kasar, kemudian memeluknya dengan begitu erat? SeHun masih diam, tangan dan kakinya masih diam di tempat

Setelah beberapa detik, terdengar isakan yang keluar dengan mulut gadis itu, SeHun semakin terbeku di tempatnya. Tangan kakinya terpaku di tempat. Ia melirik dari ujung matanya kepada tubuh berada di dalam pelukannya, kepala yang tenggelam di dadanya. SeHun tetap diam hingga ia  merasakan bajunya basah. Basah oleh airmata.

“A-aku… a-aku takut tuan…”

SeHun semakin terkejut. Gadis ini… benar-benar sedang bicara denganya, SeHun dari awal memang tau, gadis ini bisa bicara. Ia masih ingat suara pertama yang gadis itu ucapkan padanya, ia masih sangat mengingatnya, hari itu, tak sedetikpun peristiwa yang ia lupakan, pada hari pertama keduanya bertemu. Dan SeHun masih membeku,

“Mereka… mereka… mereka…” gadis itu kembali membuka bibirnya. Suaranya terdengar ketakutan, getaran itu terdengar jelas pada suara yang ia keluarkan, mendengar isakan itu semakin keras, SeHun pun akhirnya tersadar. Perasaannya terganggu mendengar isakan itu semakin mengeras.

Kemudian yang ia lakukan hanyalah mengangkat kedua tangannya, memeluk balik sang gadis, ia menggunakan tangan kirinya di punggung gadis itu dan menepuknya sesekali –berusaha memberikan rasa aman, dan tangan lainnya ia pakai untuk mengusap permukaan rambut gadis itu dengan pelan… SeHun mengumpulkan suaranya dan berucap, begitu lembut…

“Tenanglah, aku disini… mereka… tidak akan ada yang bisa melukaimu lagi…” dan lagi, kalimat semacam itulah yang terucap dari bibir SeHun, kalimat yang tak pernah ia duga akan terlepas dari bibir tipisnya, tak pernah biarpun hanya sekali. Namun hanya kalimat itulah yang bisa ia ucapkan ketika gadis itu terisak di dalam dekapannya.

Ya, hanya itu…

—————

Iklan

41 pemikiran pada “99th Mission 1st Chap : A Voice

  1. Yaampun baru chapter 1 aja udah greget banget ceritanya, duh 10jempol deh buat ff ini suka banget. sehun bisa beda cuma sama cewe nya itu, kira kira namanya siapa ya. Wkwk izin baca next chapter ya❤💙

    Suka

  2. thor ff mu berhasil mengalihkan duniaku hahaha -_-
    sempet berenti baca ff karena gak ada ff yg bagus dan berhasil buat bikin aku penasaran, tapi pas iseng nyari ff suami eh bias *sehun langsung kecantol ama ff mu, keep writing thor ^^

    Suka

  3. Jujur, aku udh prnh baca part 1 sekilas, baru sekarang baca full ..
    Sehun cool banget disini, ceritanya juga menraik..
    Keep writing..
    Fighting

    Suka

  4. KERENN!!! sehun kalem banget sama ceweknya AAA :””D bagus bgt thor.. aku suka ff nya bahasanya enak buat dibaca sam dingerti. Baekhyun niat banget bikin sehun nurut buat si cewenya wkwk.. sebenernya bingung mereka ketemu gara2 apa??

    Suka

  5. aduh ni cerita bikin penasaran tentang mafia??
    Sebenernya gadis itu kenapa sih?? Ya ampun bikin penasaran

    ya udah deh Keep Writing y

    Suka

  6. uhhh pa yg terjdi dengan gadis itu ,
    sehun peninggg kayak nya tuhhh ,kasihan tpi ,
    yg buat aq penasaran judul nya kan
    99th mission ,pa hbungan nya sma gadis itu tau sehun atau sma mafi2 itu ,
    bikin penasaran nih cerita nya lanjut ya ,
    walau pun dikit yg coment aq tetap dukung kok

    Suka

  7. kok klihatannya seru nih….. q blm bca yg prolognya tpi…. yg chap 1 seru kok.
    q reader bru di sini q ska sma ff ini klihatannya fantasy dan gmana gtu~~~~. awlnya q kira ff ini oneshoot eh~~~ ternyata ini chap gk pp lah lbh pnjg lbh baik
    q tunggu klanjutannya ya

    Suka

  8. Aaahhh… Akhirnya di post juga chap 1 🙂
    si sehun jdi polisi wah… *aku gk bisa ngebayangin deh xD* aku penasaran sama cewe itu sebenernya dia itu siapa? Apa jngan2 di orang jht yg bersekongkol sama mafia2 itu? Ahh… Entahlah -,- thor aku tunggu ya chap 2 jngan lama2 juga ya nge-post nya 🙂 so keep writing^^

    Suka

  9. wah sehun jdi polisi… gak bisa ngebayangin tpi keren thor… masih penasaran sma cewekbyg diselamatin itu knpa dia jdi kayak gitu… lanjut thor…

    Suka

  10. Dan akhirnya chap 1 sudah muncul :’D
    Sebentar, Lay itu warga negara amerika, menetap sementara di korea, tapi lahir di China. How ‘maruk’ are you, Bang -_-
    Oke, yeoja yang diselametin Sehun semakin bikin aku penasaran ‘-‘ Yang kutakutin itu kalo ternyata dia cuma berpura-pura ga berdaya dan minta perlindungan sama Sehun padahal dia sendiri berkomplot sama mafia itu ‘-‘ *dugaan macam apa ini*
    Kutunggu next chapter, okay. Fighting ^^!

    Suka

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s