Delay Death Chapter 9

Delay Death poster 3

Title: Delay Death Chapter 9

Author: kaigirlfriend

Main cast: Bae Suzy (Miss A) | Park Chanyeol (EXO-K)

Support cast: Seohyun (SNSD) | Naeun (Apink) | Sehun (EXO-K) |

Genre: romance, fantasy, sad, hurt

Length: Chaptered

Rating: PG-15

Quotes: bisakah aku menunda kematian itu?

Disclaimer : the story is pure mine. the cast not mine. i’m just borrow it.

Credit Poster: Stella Lee at HSG

 

 

Suzy POV

Disinilah kami sekarang. Kami berada disalah satu restoran mewah dekat Apgujong. Sebelumnya, aku berusaha mati-matian menutupi mata bengkakku dengan make up agar Chanyheol tak melihatnya. Itu hanya akan menambah beban Chanyeol yang akan pergi ke Jepang esok hari.

“tumben sekali kau memakai make up tebal” kata Chanyeol ketika kami sedang menunggu pesanan kami datang.

“hmmm…” aku memikirkan alasan logis untuk menjawab perkataan Chanyeol “aku hanya ingin kembali menjadi diriku seperti sebelum kabur dari rumah”

“oh” Chanyeol hanya ber-O ria.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu.

“Jika kau ingin tetap hidup, carilah pria yang tulus mencintaimu dan mau mengorbankan nyawanya untukmu”

Entah darimana aku mendapat keberanian untuk menanyakan hal ini pada Chanyeol “Chanyeol-ah, apa kau tulus…. mencintaiku?”

Chanyeol terdiam untuk sementara waktu, tapi kemudian balik bertanya “menurutmu?”

“kuharap… ya” jawabku ragu-ragu karena ekspresi Chanyeol berubah seketika sejak aku bertanya padanya.

“mianhaeyo, Suzy-ah. Aku memang mencintaimu, tapi aku tidak tahu apakah aku tulus atau tidak mencintaimu” jawab Chanyeol jujur.

Raut wajahku berubah menjadi kecewa. Mencari cinta yang tulus memang susah. Setidaknya, Chanyeol sudah mau berkata jujur tentang perasaannya kepadaku.

“apa kau kecewa? tenang saja. Aku bukannya tidak tulus mencintaimu, hanya saja aku masih bingung dengan perasaanku sendiri. Saat aku pulang dari Jepang nanti, aku pasti akan mencintaimu dengan tulus. Jika tidak bisa, aku akan berusaha sampai aku bisa mencintaimu dengan tulus” jelas Chanyeol. Nada bicaranya menenangkan.

Tapi, percuma saja. Saat Chanyeol kembali dari Jepang, aku sudah tidak ada. Jadi, sebaiknya selama Chanyeol di Jepang, ia berusaha melupakanku. Bukannya berusaha mencintaiku dengan tulus.

“Chanyeol-ah, misalnya kita tersesat disebuah pulau dan hanya ada satu makanan disana, padahal kita sudah sangat kelaparan. Jika kau memakan makanan itu, aku akan meninggal. Dan sebaliknya. Jika aku memakan makanan itu, kau yang akan meninggal. Menurutmu, kau akan memberikan makanan itu padaku atau kau yang akan memakan makanan itu?” tanyaku.

Aku sangat berharap Chanyeol akan menjawab bahwa ia akan memberikan makanan itu padaku. Jika ia menjawab seperti itu, kemungkinan besar ia mau mengorbankan nyawanya untukku. Sesuai yang dikatakan Naeun, jika seorang pria mau mengorbankan nyawanya untukku, sudah pasti pria itu tulus mencintaiku.

“jika aku memberikan makanan itu padamu, berarti aku membiarkan diriku sendiri meninggal?” Chanyeol terlihat agak frustasi karena pertanyaanku.

“tentu saja!” jawabku tegas.

“kalau begitu, kita bagi dua saja makanannya” jawab Chanyeol akhirnya.

“enak saja! makanannya tidak bisa dibagi dua!” protesku. Aku merasa tidak puas dengan jawabannya, tidak sesuai dengan harapanku.

“memangnya, sebanyak apa porsi makanmu sampai-sampai makanannya tidak bisa dibagi dua?” balas Chanyeol. Terdengar sedikit menyebalkan.

“geure, porsi makanku tidak banyak. Hanya saja makanannya tidak bisa dipotong” ujarku ketus.

“makanan macam apa itu? jika tidak bisa dipotong, berarti itu bukan makanan!” Chanyeol meninggikan suaranya.

Ketika aku ingin membalas perkataan Chanyeol, seorang pelayan mengantarkan makanan yang tadi kami pesan. Kami pun segera melahap makanan sampai habis. Selama makan, tak ada hal penting yang kami bicarakan. Paling, kami hanya membicarakan seputar makanan.

***

Aku mengerjap-erjapkan mataku perlahan, berusaha mennyesuaikan cahaya yang masuk dari celah-celah jendela. Aku menyibakkan gorden dan betapa terkejutnya aku karena menyadari diluar sana sudah sangat terang.

Keterkejutanku bertambah saat melihat jam yang ada didinding kamarku. Sudah jam 10.15. Aku bergegas mandi lalu keluar dari kamarku, menuju dapur. Aneh, aku tidak merasakan kehadiran Chanyeol dirumah ini. Tidak ada tanda-tanda bahwa dirinya ada disini. Apa mungkin ia juga bangun kesiangan? hmmm… tidak biasanya dia bangun kesiangan.

Saat aku melihat kearah meja makan, sudah ada beberapa jenis makanan terhidang disana. Tak ketinggalan, ada juga sebuket bunga mawar berwarna merah dan selembar amplop putih. Amplop putih itu ternyata berisi surat.

annyeong, Suzy-ah!

Saat kau membaca surat ini, kemungkinan besar aku sudah berada didalam pesawat yang menuju ke negara Jepang. Mian aku tidak membangunkanmu sebelum aku berangkat karena saat itu masih terlalu pagi dan tidurmu kelihatan sangat nyenyak. Melalui surat ini, aku ingin berkata jujur kalau 3 minggu adalah waktu paling cepat aku kembali ke Korea. Aku bisa disini selama 1 bulan atau lebih. Aku tidak memberitahumu kemarin karena aku takut kau tidak bisa menungguku. Selama aku masih di Jepang, aku tidak bisa sering-sering menghubungimu. Kuharap kau bisa mengerti pekerjaanku disini. Aku pasti akan selalu merindukanmu, Bae Suzy. Saranghae.

NB: setelah pulang dari Jepang, cintaku untukmu akan semakin besar kekeke

 

Calon suamimu,

Park Chanyeol

 

Air mata tak dapa kutahan saat aku membaca surat dari Chanyeol tersebut. Ia mengalir begitu deras dari pelupuk mataku.

Tak ada lagi harapanku untuk bertahan hidup karena Chanyeol akan sangat lama berada di Jepang. Lebih dari 19 hari. Ya, 19 hari adalah waktu hidupku dihitung dari hari ini.

Selama seharian, aku mengurung diri dikamarku. Aku menangis dan meratapi nasibku. Bagaimana kira-kira reaksi Chanyeol saat tahu aku sudah tiada sekembalinya ia dari Jepang? apa ia akan sedih lalu memilih untuk menyusulku? atau, dia akan marah lalu membenciku dan akhirnya dia memilih untuk kembali pada Seohyun?

Aish, lebih baik ia marah dan membenciku lalu kembali pada Seohyun. Aku tidak mau melihat orang yang kucintai menderita hanya karena diriku sendiri.

Aku menyesali keputusanku yang meminum ramuan aneh itu tanpa berpikir panjang. Tapi, jika aku tidak meminum ramuan waktu itu, aku tidak akan pernah bertemu dengan Chanyeol. Huff… semuanya serba salah.

***

Seminggu berlalu. Aku tidak pernah keluar dari rumah. Sungguh membosankan!

Hari ini aku memutuskan untuk makan siang direstoran karena aku sedang malas memasak.

Aku memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela. Dari jendela itu, nampak pemandangan jalan yang cukup ramai.

“kau pesan makanan apa, Suzy-ah?” tanya seseorang yang duduk tiba-tiba didepanku. Sudah bisa ditebak kalau orang itu adalah Son Naeun.

“aku pesan bibimbab. Wae? kau juga ingin makan?” tanyaku setengah bercanda.

“pencabut nyawa mana bisa makan!” seru Naeun kesal “sepertinya perasaanmu sedang buruk” sambung Naeun kemudian.

“sangat buruk! kau sudah tau kan masalahku?”

“ne. Bersabarlah, Suzy-ah! ah, aku pergi dulu. Ada seseorang yang mendekatimu!” ujar Naeun. Sedetik kemudian, ia sudah tidak ada lagi dihadapanku. Tumben sekali dia berpamitan sebelum menghilang.

Benar saja. Tak sampai semenit, ada seseorang yang menepuk pundakku “Se-sehun?”

Aku terkejut. Ini sepertinya benar-benar nyata, bukan ilusi. Sehun ada dihadapanku!

“boleh aku duduk didepanmu?” tanya Sehun sambil menunjuk-nunjuk kursi yang ada didepanku.

Aku mengangguk kaku, masih terkejut.

“bagaimana kabarmu?” Sehun berbasa-basi.

“baik. Kau sendiri? oh ya, bagaimana kau bisa tahu aku disini?” tanyaku to the point.

“aku tidak sengaja menemukanmu disini. Tadinya, aku berencana untuk makan siang disini. Ketika aku masuk, aku melihat seorang yeoja yang sangat mirip denganmu dari belakang. Ternyata, yeoja yang aku lihat memang benar kau” jelas Sehun.

“oh, begitu” gumamku pelan, hampir tak terdengar. Aku tidak tahu harus berkata apa.

“Bae Suzy, kemana saja kau selama ini? kenapa nomormu tidak aktif? enapa kau tidak pernah mengabariku? dan… kenapa kau meninggalkanku, huh?” tanya Sehun bertubi-tubi.

“mianhaeyo, Sehunnie. Akan kujelaskan satu per satu” potongku.

“geure, ternyata kau tidak memanggilku ‘oppa’ lagi. Silahkan. Aku akan mendengarkan” ujar Sehun dengan tatapan sendu.

Aku pun menjelaskan yang sejujurnya pada Sehun. Mulai dari aku yang tidak mencintainya lagi sampai dengan tentang Chanyeol.

“baguslah. Ka sudah menemukan namja yang tepat untukmu” Sehun tersenyum. Senyumannya terlihat tulus.

Tiba-tiba seorang pelayan datang membawa makanan yang kami pesan. Kami makan dalam diam. Sebelum berpisah, Sehun memaksaku untuk menyimpan nomornya diponselku. Katanya, jika aku membutuhkan bantuan atau ketika aku sedang kesusahan, aku boleh menghubunginya. Tapi, ia tidak akan menghubungiku sebelum aku dulu yang menghubunginya.

***

Hari demi hari berlalu. Waktuku tinggal satu hari lagi!!

Selama satu minggu terakhir, aku merasa badanku sangat lemas. Tidak ada tenaga sama sekali. Jadi, yang aku lakukan hanya berbaring dikamar dan saat aku merasa lapar, aku memilih untuk memesan makanan saja.

Ada untungnya Chanyeol pergi ke Jepang. Ia tak akan melihat kondisiku yang sekarat seperti sekarang ini. Jika ia melihat kondisiku yang sekarang, hanya akan menambah beban hidupnya saja.

Aku sempat berpikir untuk kembali pada Sehun karena mungkin saja Sehun tulus mencintaiku. Tapi, itu tidak mungkin. Aku hanya akan memanfaatkan cinta Sehun kepadaku karena aku sudah tidak punya lagi perasaan apapun padanya.

Selama seminggu ini pula, ada nomor tak dikenal yang mengirim foto-foto Chanyeol dan Seohyun sedang berjalan didaerah pertokoan Tokyo. Awalnya, aku tidak percaya bahwa namja difoto itu adalah Chanyeol. Tapi, hari ini aku ingin membuktikannya.

Baru saja nomor tak dikenal itu mengirimkan sebuah foto seorang yeoja dan namja sedang bergandengan tangan disebuah bandara. Katanya, foto itu adalah foto Seohyun dan Chanyeol dibandara Incheon.

Jika tidak percaya, datanglah sendiri ke bandara Incheon penerbangan XXX

Begitu bunyi pesan yang tertulis dibagian bawah foto.

Tanpa berpikir panjang, aku pergi ke bandara Incheon dengan menggunakan taksi. Aku tidak peduli dengan badanku yang sudah sangat lemas. Otakku sudah sangat pening sehingga aku tidak dapat berpikir banyak.

Sesampainya aku ditempat yang dimaksud oleh nomor tak dikenal itu, aku melihat Seohyun dan Chanyeol. Ketika aku ingin menghampiri mereka, hal yang tak pernah terpikirkan olehku terjadi. Mereka berciuman!

Badanku yang sudah sangat lemas menjadi tambah lemas saat melihat pemandangan itu. Rasanya aku ingin mati saja.

Ah ya, benar. Daripada aku harus menderita selama kurang lebih 24 jam, lebih baik aku pergi sekarang saja.

Aku keluar dari bandara Incheon dan ketika aku melihat sebuah truk yang melaju sangat cepat, aku terdiam ditengah jalan … membiarkan diriku ditabrak oleh truk itu.

Selamat tinggal, Park Chanyeol….

TBC

 

wahhh, udah mau selesai aja nih ff. Gomawo buat yang udah baca ff ini dari awal. Semoga kalian suka yaaa.

Bagi yang nanya password, langsung aja ke:

email:  salsabiilafarras@yahoo.com

twitter: @Salsa_Farras

fb: Farras Salsabiila (foto profilnya gambar bayi)

setidaknya kalian pernah koment ff ini baru author kasih password nya 😀

Iklan

134 pemikiran pada “Delay Death Chapter 9

  1. Apa bener itu chanyeol? Jlw bener brti dia udah ga nepatin janjinya ke suzy… kecrwa banget ke chanyeol.!! Trus itu suzy gimna akhirnya? Moga2 ajh chan nyadar dan dia rela ngorbanin hidupnya demi suzy

    Suka

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s