[Chapter Eight] Dandelion: Please Don’t

dandelion

Title: [Chapter Seven] Dandelion: Need | Author: doremigirl

Casts: Park Chanyeol (EXO), Lee Hyora (OC), Oh Sehun (EXO) | Genre: Romance, Life | Rating: T

Disclaimer: I do not own anything beside the storyline. Despite that I really want Oh Sehun as my boyfriend. Park Chanyeol, Oh Sehun, and Krystal Jung as visualization of Lee Hyora are belong to God.

Read previous chapters [here]

.

Beberapa bulan yang lalu..

Ayunan di taman bermain tua itu berderik pelan. Engselnya yang tak terminyaki memecah tirai keheningan yang menyelimuti tempat ini selama beberapa menit terakhir. Ia duduk di sana, dengan tas sekolah cokelatnya. Seragamnya terlihat tak beraturan, sebagian terjuntai keluar, sebagian tidak.

Sehun terlihat begitu kalut. Baru kusadari ada sepasang kantung mata hitam yang bergelayut di matanya. Tak ada kerlip di iris mata hitam itu. Netranya terlihat begitu kosong.

Aku mendudukkan diri di ayunan sebelahnya, lalu mengamati wajah sahabatku itu lekat-lekat. Sesaat aku melihat bungkusan yang berada tak jauh dari dirinya. Itu adalah peralatan membuat jembatan. Pasti ia baru saja dari rumah Luhan, menjalani latihan dalam rangka mempersiapkan diri untuk kompetisi merakit jembatan.

“Baru saja dari rumah Luhan?” Demi memecah keheningan, akhirnya aku menanyakan hal tersebut. Laki-laki itu mengangguk, terlihat tidak berminat untuk mengeluarkan sepatah kata pun dari bibirnya.

Tidak mendapat respons yang kuinginkan, akhirnya aku menggoyangkan ayunanku. Merasakan angin sore menerpa wajahku, menerbangkan helai-helai rambutku dengan lembut.

Sehun terbatuk. Awalnya memang hanya batuk ringan, namun batuknya terasa makin mengeras. Terang saja aku menghentikan gerakan ayunanku dengan sebelah kaki, lantas menatapnya dengan tatapan khawatir.

“Kau baik-baik saja?”

“Iya,” Begitu katanya di sela-sela batuknya. Ada bau yang seketika menyadarkanku. Bau yang kubenci, karena bau yang sama menguar dari napas ayahku ketika ajalnya menjemput.

“Kau.. merokok?” tembakku tanpa basa-basi. Kedua manik mata Sehun melebar sekilas, terlihat terkejut. Namun seperti biasa dirinya dapat mengendalikan diri dalam waktu sepersekian detik.

Laki-laki itu tidak menolak, pun mengiyakan perkataanku. Sebagai gantinya ia malah menyibukkan diri dengan ponsel miliknya. Mengetikkan sebuah pesan singkat entah untuk siapa.

Lama akhirnya tirai kesunyian kembali menyelip di antara kami berdua. “Maaf. Aku memang sudah merusak diriku sendiri. Kau boleh membenciku,” katanya. Aku menatap lekat-lekat matanya.

Selama ini aku selalu berpikir bahwa Sehun adalah tipikal laki-laki yang begitu antisipatif terhadap sesuatu. Bagaimana tidak, untuk praktikum, ia bahkan sudah menyiapkan semua bahannya beberapa hari sebelumnya. Begitu pula dengan karya tulis. Semuanya sudah ia rencanakan, serta persiapan.

Dalam hati aku bersumpah serapah. Kali ini dia bahkan tidak memikirkan kesehatannya sendiri. Tenggelam dalam adiksi terhadap sebuah zat bernama nikotin.

“Kau boleh pergi dari sini. Aku memang tidak pantas untuk kau temani lagi,” kata Sehun, sarat frustasi. Sepertinya ia memiliki masalah besar yang tidak bisa ia tangani. Aku tahu ia tidak benar-benar berniat untuk mengusirku.

“Kau kenapa?”

Sebuah pertanyaanku membuatnya mengusap wajahnya dengan kasar. Wajah itu terlihat makin kalut, dan perasaan takut tiba-tiba menyelip di hatiku. Sebenarnya apa yang terjadi?

Tangannya kemudian merogoh saku celana pipanya, lalu meraih sebuah kotak rokok. Ia mengambil sebatang, menghidupkan baranya lalu menyesap benda itu, bersikap apatis akan kehadiranku di sini. Sungguh, meski ia adalah laki-laki yang cenderung pendiam, namun Sehun bukanlah laki-laki yang akan mencampakkan orang. Ia selalu memiliki atensi yang bisa ia bagi.

Derak bara dari benda bernikotin itu kembali memecah keheningan. Kuirit napasku agar aku masih bisa bertahan.

Seharusnya kutahu, ketika ia bertindak seperti seorang laki-laki berengsek, pasti ada masalah yang sedang menimpanya. Dalam kasus ini, merokok pun sudah termasuk kriteria laki-laki berengsek dalam kamusku. Sedikit kasar, memang. Tapi selamanya aku akan membenci eksistensi benda yang sudah mengikis kesehatan paru-paru ayahku itu.

Tidak tahan, aku mengambil secara paksa sebatang rokok yang menyelip di jarinya. Aku tidak ingin begini. Dia adalah laki-laki yang begitu kujaga, dan aku tidak ingin ia mengalami nasib yang sama seperti ayahku.

“Kau bisa bercerita padaku, Sehun. Ada apa?” tanyaku lagi, dengan nada yang lebih lembut. Laki-laki itu menatapku, dan rokok yang sudah kuinjak. Nyaris tak berbentuk karena sudah kugesekkan berulang-ulang di tanah.

Ia menggigit bibirnya. “Kakakku. Dia ternyata ditahan di Melbourne, karena percobaannya dengan nuklir. Ilegal,” Sehun tersenyum kecut. “Padahal masalah perizinan sudah diurus beberapa bulan sebelumnya, namun ternyata surat keterangannya tidak dilegalisir. Ditahan selama enam bulan, dan beberapa saat lagi ia akan menjalani sidang perdananya.”

Laki-laki itu menarik napas panjang, lalu melempar kotak rokok yang sudah kosong ke tanah. Menginjaknya seperti yang aku lakukan terhadap batang rokoknya. Menyeretnya berulang-ulang, sampai bentuk kotak itu melesak tidak karuan.

Ia kemudian kembali mengusap wajahnya, menyusut kehadiran setetes air mata di wajahnya. “Aku baru tahu kabarnya setelah aku menelepon salah satu kawannya kemarin. Aku ingin sekali mendampinginya saat sidang perdana. Setidaknya ia bisa merasa ada salah satu anggota keluarganya di sana.”

Tidak mungkin, batinku. Beberapa saat lagi ujian akan segera dimulai, dan itu akan sangat menentukan kelulusannya di sekolah. Paling tidak, jika ia pergi ke Australia, ia akan butuh waktu sekitar satu minggu untuk tinggal di sana.

Shit,” Kudengar ia mengumpat pelan. Sepatunya menghentak tanah, terlihat begitu gelisah. Kakaknya adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki, wajar jika ia bertingkah seperti ini. “Aku akan menghadapi kontes jembatan, dan ujian. Tapi ia malah datang membawa masalah.”

Kemudian bahunya bergetar keras, tumpah ruah semua tangisnya hari ini. Aku berdiri, lantas memeluknya dari belakang. Membisikkan kata-kata penenang yang bisa kupikirkan. Laki-laki itu terus terisak. Ia selalu memendam semuanya sendiri, mencari pelarian lewat sebatang nikotin.

Aku tahu ia rusak. Tapi aku percaya apapun yang rusak pasti bisa diperbaiki lagi. Sama seperti mainan. Aku mau membantunya untuk menghilangkan candu itu. Untuk saat ini aku hanya memikirkan kondisinya.

“Apa yang harus aku lakukan, Hyo? Semua hal ini bisa-bisa membuatku gila,” Ia merintih pelan. Tubuhnya memang tak terasa sakit, namun bagian paling rapuh dalam dirinya terusik. Aku menggigit bibirku, kepala kami berdua beradu.

Anehnya kata-kata penghiburan tak bisa lagi lolos dari bibirku.

Don’t go, Hyo. Please, don’t,” Napasnya tercekat ketika mengatakan dua kalimat tersebut. Dadanya naik-turun, berusaha keras untuk menenangkan diri sendiri.

Untuk pertama kalinya aku merasa dibutuhkan oleh seseorang selain ibuku. Dua kalimat sederhana itu menimbulkan hangat yang menyusup ke dalam jiwaku. Membuat aku terasa kebas. Perasaan yang aneh.

I won’t. Eventhough the time won’t let me, I’ll be beside you. Take my words,” bisikku tepat di telinganya. Perlahan kurasakan napasnya mulai teratur, tangannya menggenggam tanganku yang melingkar di lehernya, tak mengatakan sepatah katapun.

Aroma mint dari tubuhnya masih menguar begitu hebat, kendati napasnya masih mengeluarkan bau rokok. Sungguh aneh bagaimana laki-laki ini berhasil membuatku mendapatkan adiksi yang baru. Kombinasi antara aroma yang begitu kusukai, dan bau yang bukan favoritku.

You are so cheesy,” gumamnya. Aku hanya terdiam, tidak menanggapi. Itu adalah hal yang berasal dari lubuk hatiku yang terdalam, dan aku tidak mau menariknya, pun membuatnya terdengar seperti lelucon.

Kau tertidur, ya?” Ia bertanya lagi. Aku terdiam, membiarkan ia mengira bahwa pikirannya benar.

Angin kembali berhembus pelan, membuat anak-anak rambutku kembali berterbangan. Membuat daun-daun pohon di sekitar kami bergemerisik pelan, membuat berisik. Meski demikian, aku sangat yakin aku tidak salah mendengar bisikannya.

“Thanks for being here, for me. From today, in this place. My heart yours.”

Aku memang terlalu keras kepala karena tidak mempercayai telingaku saat itu. Bahkan saat Sehun tidak melepaskan tanganku aku masih tidak mau percaya apa yang kudengar. Ada perasaan meletup yang menyakitkan, namun menyenangkan. Aku ingin mendengarnya sekali lagi.

Keesokan harinya, Sehun kembali ke sekolah dengan wajah cerahnya. Kupikir masalahnya sudah diselesaikan dengan baik. Tak perlu kukhawatirkan lagi.

.

Hari ini..

Aku mengayuh sepedaku pelan, merasakan dinginnya angin musim semi Wina di wajahku. Di punggungku melekat sebuah tas ransel berwarna krem. Aku baru saja dari universitas Haag, sebuah universitas yang cukup terkenal di Wina. Menyerahkan selembar blanko pendaftaran yang akan menentukan hidupku.

Tanpa sadar, kutarik panjang napasku. Dari sinilah semuanya akan dimulai. Masa depan yang baru akan segera tersambut.

Di ujung jalan, aku dapat melihat sosok tinggi Chanyeol sedang berdiri di depan rumah. Ada sebuah gitar yang menempel begitu saja di punggungnya. Laki-laki itu memang selalu membawa gitarnya ke mana pun. Begitu pula dengan sebuah notes, yang tak pernah absen dari tasnya. Inspirasi untuk menulis lagu bisa berasal dari mana saja.

Semakin dekat kayuhan sepedaku mendekat, aku dapat melihat ekspresi Chanyeol. Terlihat janggal. Dahinya berkerut, sedang alisnya bertemu di tengah. Wajahnya terlihat begitu serius, atensinya tertuju pada seseorang yang sedang berada di seberangnya.

Dua kayuhan berikutnya aku terhenyak. Rasanya ada sebongkah batu besar yang ditimpakan begitu saja di kepalaku.

Itu Sooji.

Awalnya aku tidak percaya perempuan itu hadir di sini. Setidaknya, aku tahu sekali kemungkinan perempuan itu untuk berada di Wina besar. Ini negara bebas. Tapi tak pernah kutahu bahwa ia akan menyusulku sampai ke rumah.

Butuh waktu sekitar dua puluh jam ke sini, dan aku tidak tahu apa motif perempuan itu berada di sini.

Napasku tercekat. Entah mengapa pikiranku melayang ke arah laki-laki ber-sweater merah yang terakhir kali kutemui di bandara. Sebagaimana hubungan antara pensil dan pulpen, hubungan Sehun dan Sooji selalu terkoneksi begitu saja di otakku.

Neo.. micheosseo? (kau.. gila?)Dapat kudengar Chanyeol berkata pelan pada perempuan itu. Nadanya terdengar ragu. Ekspresi wajahnya menunjukkan keterkejutan yang begitu hebat.

Jika Chanyeol sudah mengeluarkan kalimat itu, kutahu bahwa hal yang mereka bicarakan bukanlah hal yang sepele. Aku sudah mengenal Chanyeol baik-baik, dan ia bukan tipikal orang yang akan mengeluarkan kalimat seperti itu jika tidak berada dalam kondisi denial hebat akan sesuatu.

Mereka seketika berhenti bicara ketika aku melewati mereka, lantas memarkirkan sepedaku begitu saja di depan rumah. Aku berusaha memasang wajah senormal mungkin. Berusaha untuk menutupi kenyataan bahwa aku sudah mendengar sekelumit pembicaraan mereka.

Sooji langsung memelukku begitu aku sampai di hadapannya. Sampo beraroma lily miliknya begitu wangi, aku suka sekali. Ketika ia melepaskan pelukannya, kulihat kedua manik matanya berkaca-kaca.

“Sooji, bagaimana kabarmu?” Aku memang tak terlalu dekat dengan Sooji, namun itulah sederet kalimat paling menyenangkan yang bisa kupikirkan. Basa-basi.

“Aku baik,” kata Sooji. Kedua tangannya memegang tanganku, membuat perasaan takut tiba-tiba menyergapku. Menjadi makin hebat ketika kulihat sungai yang mengalir di mata perempuan itu.

“Kau tidak menerima e-mail-ku?” tanya Sooji. Aku menggeleng. Kebiasaan jelek yang dari dulu kupelihara adalah melupakan tempat benda-benda yang begitu kubutuhkan. Ibuku bahkan sampai mengomel tiada henti karena kebiasaan jelekku ini.

“Kau harus pulang, Hyo,” Sooji berkata. Nadanya tegas. Bukan bertanya, melainkan menuntut. Sebuah perintah.

“Ada apa memangnya?” tanyaku. Kurasakan saraf tubuhku menegang. Jika ini ada hubungannya dengan Sehun, aku harus tahu. Ada sedikit perasaan kesal pada diri sendiri karena aku sudah melupakan satu-satunya cara untuk berkomunikasi dengan laki-laki itu.

Sooji terisak makin hebat. Aku lantas melirik ke arah Chanyeol, menuntut penjelasan. Perempuan itu terlihat tidak dapat menjelaskan semuanya, namun kuyakin Chanyeol bisa. Aku yakin benar Sooji sudah menceritakan duduk permasalahannya pada Chanyeol.

“Ada ap – “

He is sick,” Begitulah kata-kata yang muncul dari mulut Chanyeol. Sesungguhnya perkataan tersebut lebih terdengar seperti umpatan ketimbang jawaban. Namun tak butuh waktu lebih dari sedetik bagiku untuk menyadari situasi seperti apa yang sedang dia alami.

Aku menelan ludahku. Kepalaku terasa pening. “Sakit apa?”

Something affected half of his lung,” jawab Sooji. Beberapa saat kemudian muncul anak-anak sungai di kedua mataku tanpa kusadari. Tak pernah kubayangkan Sehun akan mengalami hal seperti itu. Ketakutan akan kejadian ayah masih membayangiku. Sempat kutangkap basah Chanyeol sedang menatapku.

“Aku akan pergi,” kataku tegas sambil hendak masuk ke dalam rumah. Namun selangkah masuk ke dalam rumahpun aku tak bisa. Kepalaku kepalang pening, kehilangan kendali atas kerja bagian tubuh.

Yang kuingat adalah wajah Chanyeol, dan tangannya yang berada di bawah tubuhku, sebelum akhirnya pandanganku menggelap. Samar-samar kudengar sebuah suara memanggil namaku.

.

.

“Hyo. Please, don’t go,”


A/N: My friends, akhirnya sampai juga kita di chap. 8.. /cries an ocean.

Sesuai perkataan aku di chap sebelumnya, chapter 9 akan aku protect. Belum tahu juga apakah pada chap 10 akan berlaku sistem ini juga.

Untuk teman-teman yang ingin mendapatkan password, kalian bisa kirim e-mail ke: onecupofdreams(at)gmail.com dengan titel [Password Dandelion]. Sertakan di sana nama ID WordPress kamu + komen kamu di chapter berapa, acc twitter kamu,  juga catatan kecil kamu buat cerita ini. Hehe.. Untuk yang terakhir ini opsional aja, sih.

Kalau nggak lengkap, kemungkinan besar aku nggak akan melayani permintaan request kalian. Maaf banget. Soalnya setiap hal yang aku lampirkan di sini penting (buat aku). Jadi pastikan saja lengkap, ya. Hehe..

Udah, deh. Sampai bertemu di chapter selanjutnya! Cups~

Iklan

14 pemikiran pada “[Chapter Eight] Dandelion: Please Don’t

  1. Feelnya dpt bgt. Hhuhuhu~~~ aku ikut sedih pas tau sehun itu amat sangat lemah didlmnya. Dan suka bgt adegan hyo meluk sehun dr belakang, so sweet bgt. Chanyeol aku ngeri dia mlh salah tanggap dgn kebaikan hyo ke dia. Aku takutnya chanyeol berfikir hyo jg nerima perasaan dia. Hyo kan sukanya ama sehun #pdbanget

    Suka

  2. aduuuh thor ini terlalu singkat deh kayanyaaaaaa. jadi gapuas bacanya, hehe.

    langsung netesin air mata begitu denger sehun sakit. don’t go hunnaaaaa:”'((

    Suka

  3. Chapter 8 akhirnya. Walaupun masih blm tau keadaan sehun gimana. Dan jujur aku masih blm nemuin titik permasalahan ff ini. Author emg hebat bgt ngerahasiain masalah yg sebenernya. Pasti bakal ttep ditunggu lanjutannya

    Suka

  4. Arghh akhirnya di publish juga. Udah lama nunggu ff ini. Baru tau ternyata Sehun seperti itu, dab sedikit bingung bukannya pas emailnya dibaca Hyo. Sooji belum jumpa sama Hyo. Okey dari pada jiwa detektif gadungan gue keluar. Gue tunggu ff selanjutnya. Fighting

    Suka

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s