[Chapter 9A] Dandelion: Hospital

dandelion

Casts: Oh Sehun, Lee Hyora (OC), Park Chanyeol, Bae Sooji | Genre: Romance, life | Rating: Teen

Disclaimer: I do not own anything beside the storyline. Park Chanyeol, Oh Sehun, and Krystal Jung as visualization of Lee Hyora are belong to God.

.

Aku ingin ia menjelaskan mengapa,”

Piyama berwarna biru itu melekat pada tubuh kurusnya. Di sampingnya terdapat sejumlah peralatan medis dengan tugas yang berbeda-beda; satu bertugas untuk menyuplai oksigen, yang lain bertugas untuk memasukkan cairan, serta satu lagi memiliki kewajiban untuk mengontrol kondisi detak jantung.

Dadanya naik-turun dengan tenang. Dia jelas akan terlihat seperti orang yang sedang tidur jika peralatan medis itu tidak terpasang pada tubuhnya. Ketenangan tak tertembus itu masih saja terlihat bahkan saat kritis seperti ini.

Aku melirik Sooji yang sedang tertidur di atas sofa. Perempuan itu terus menunggui kami berdua dalam ruangan ini. Memastikan bahwa aku tidak akan jatuh pingsan lagi. Kejadian ketika di Wina masih ia ingat dengan baik.

Chanyeol sendiri pergi entah ke mana. Setelah melihat kondisi Sehun selama beberapa menit, laki-laki itu akhirnya keluar. Mungkin mencari udara segar. Chanyeol tidak suka bau antiseptik.

Aku mengelap wajahnya dengan saputangan. Sehun terus saja berkeringat. Suhu tubuhnya sempat naik beberapa saat yang lalu. Nyaris mencapai 40 derajat. Beruntung dokter begitu cekatan dalam menanganinya. Kondisinya jauh lebih baik.

Aku menyentuh kepalaku sendiri, lantas menopang dagu dengan sebelah tangan. Mengamati setiap inci paras laki-laki di hadapanku. Kepalaku memang masih terasa pening. Bisa jadi karena aku terlalu bingung memikirkan hal yang terjadi secara tiba-tiba seperti ini.

Ibu langsung memberikan izinnya begitu saja ketika kukatakan Sehun sedang kritis. Tanpa bertanya lebih lanjut beliau memberikan tiket tercepat ke Seoul untuk kami bertiga, berkata bahwa beliau akan menyusul segera setelah ia berhasil mendapatkan perizinan.

Aku tidak tahu apa yang akan beliau pikirkan ketika melihat Sehun seperti ini. Sehun seperti anaknya sendiri, dan melihat laki-laki itu dalam keadaan seperti ini pasti akan membuatnya hancur.

Sama sepertiku. Bahkan kurasa aku sudah hancur sampai tak tersisa sekarang.

Beberapa saat yang lalu, Sooji sempat menarikku dalam sebuah percakapan empat mata. Perempuan itu menceritakan segala hal yang terjadi pada Sehun saat aku tak ada.

Sooji berkata bahwa kakak Sehun dijatuhi vonis, tepat satu minggu setelah keberangkatanku ke Wina. Bukan vonis hukuman mati, hanya hukuman federal berupa kurungan penjara selama lima belas tahun. Sehun sempat bersikap serba-tertutup pada Sooji, sampai akhirnya pada beberapa hari kemudian ia datang dengan kondisi mabuk berat ke apartemen Sooji. Meracau tentang betapa kacaunya hidupnya.

Paginya, Sehun mendapati dirinya berada di sofa apartemen Sooji. Laki-laki itu terlihat menyesal sekali. Namun Sooji menawarkan kenyamanan yang Sehun butuhkan. Semenjak itu Sehun dan Sooji menjadi makin dekat.

Sooji kemudian mengungkapkan padaku bahwa Sehun terus mengecek handphone-nya berulang kali. Menunggu sebuah e-mail, katanya. Sooji tidak tahu Sehun berkirim e-mail pada siapa, sampai akhirnya ia menemukan Sehun mabuk lagi. Itu aku. Ia menunggu e-mail-ku.

Ketika Sooji menceritakan keadaan Sehun, napasku tercekat. Kepalaku berdenyut, dan kurasakan keringat dingin mengaliri pelipisku. Harusnya aku kembali, atau minimal membalas e-mail-nya. Aku terlampau ceroboh.

Sooji kemudian tertawa getir ketika sampai pada akhir cerita. Perempuan itu masih memiliki perasaan untuk Sehun, dan membuat Sehun kembali dekat padanya seperti saat ini, meluapkan rasa senang.

“Tapi sedekat apapun aku dengannya, aku tidak akan bisa menggantikan bayangan itu,” Begitu katanya. “Dia selalu punya bayangan itu di mana saja. Menantikannya, serta berceloteh tentangnya tanpa sadar. Bahkan menggumamkan namanya saat tidur, dan saat ini,” Suaranya memelan pada kalimat terakhir. Aku kembali merasa tertohok akan kalimatnya.

Itu aku.

Sehun pasti berada dalam kondisi yang begitu sulit. Sempat ia mengira kakaknya akan baik-baik saja, namun kakaknya berakhir dalam jerat jeruji besi. Tidak akan ada lagi anggota keluarga tempat ia bersandar.

Satu-satunya tempat di mana ia bisa mendapatkan sepercik aura kekeluargaan itu adalah pada diriku. Pada keluargaku. Bagaimanapun aku dan ibu adalah tempat pulang untuknya. Tempat ia menceritakan nyaris setiap detil dirinya.

Namun kami akhirnya menghilang. Dan tinggallah Sehun dengan semua masalahnya di sini.

Masalah itu makin terasa pelik ketika Sooji mendapati Sehun batuk suatu hari. Sehun terbatuk tanpa henti. Ia terus-menerus memukul dadanya. Ia menenangkan Sooji, berkata bahwa itu hanya batuk biasa.

Tapi Sehun melupakan titel paralel dua yang didapatkan Sooji saat sekolah menengah. Sooji terlampau cerdas untuk bisa ia bohongi. Sooji tahu ada yang tidak beres. Perempuan itu mengamati Sehun diam-diam. Mengikutinya sampai pulang ke rumah. Dan benar saja, Sooji mendapati Sehun tidak sadarkan diri di teras rumahnya.

Tanpa sadar air mata mengaliri wajahku. Aku menyibak rambut cokelatnya. Bahkan laki-laki ini tidak sempat berpikir tentang penampilannya. Ada cekungan di matanya, serta rambut-rambut pendek yang mulai tumbuh di dagunya.

Jika aku membandingkan penampilan Oh Sehun saat ini dengan beberapa bulan yang lalu, jelas perbedaannya begitu jauh. Sehun yang kukenal sangat memperhatikan penampilan. Bahkan sampai pertemuan terakhir kami di bandara, laki-laki itu masih terlihat stylish dengan sweater merahnya.

Aku kemudian tertegun. Sweater merah itu.

Kulirik Sooji yang sedang tertidur di atas sofa. Tak butuh waktu lama untuk mengenali sweater merah yang sedang dipakai perempuan itu. Sweater itu terlihat sedikit kebesaran untuk tubuhnya yang mungil.

Sedekat itukah? pikirku pahit. Ada perasaan membara dalam dadaku.

Aku mengelap wajah Sehun lagi. Tanganku terasa lemah. Aku meletakkan saputangan itu ke nakas sebelah ranjangnya, lalu melangkah gontai ke arah jendela. Kubuka jendela berwarna putih itu sedikit, membiarkan angin malam menerpa wajahku. Terasa dingin, dan menggigit.

Hatiku memang sudah hancur tak bersisa. Tapi aku butuh Sehun menjelaskan semuanya.

Semuanya, tanpa terkecuali.

.

My name’s Arthur Daniels. Nice to meet you,” Seorang laki-laki ber-ras kaukasoid mengulurkan tangannya ke arahku. Laki-laki itu tinggi sekali, membuatku harus mendongakkan kepalaku karena selisih jarak sekepala. Ada senyum ramah di wajahnya. Kedua iris berwarna birunya menunjukkan aura ketegasan yang kuat.

Perlahan, aku menyambutnya. Ikut memperkenalkan diri. Sedikit terselip di hatiku mengapa Daniels bisa sampai ke tempat ini. Dari aksennya berbicara, kutahu bahwa Daniels adalah orang Australia.

Laki-laki itu mendudukkan diri di sofa yang semalam dipakai Sooji untuk tidur. Sekarang perempuan itu sudah pulang, dengan niat untuk membersihkan diri sebelum akhirnya kembali ke rumah sakit.

Daniels terlihat begitu tenang. Netranya mengamati Sehun dari ujung kepala sampai ujung kaki. Jika Sehun dalam keadaan sadar, ia pasti merasa risih akan pandangan Daniels yang begitu menyelidik.

So, Lee Hyora,” Daniels memanggil namaku. Terdengar sedikit susah untuk lidahnya. “You are his sister?”

Aku menggeleng. Daniels lantas mengangguk-angguk sok tahu. “Oh. Girlfriend,” katanya singkat. Aku hanya diam, tidak membalas apapun. Merasa kurang clue akan mengapa Daniels berada di sini.

Ada hening beberapa saat yang menyelimuti kami berdua. Aku menggenggam tangan Sehun erat, entah mengapa merasa takut. Apa Daniels ada hubungannya dengan kasus kakak Sehun?

You are a police, right?” tanyaku tanpa basa-basi. Aku sempat tidak sengaja mengamati sebuah pistol di balik jaket hitamnya. Daniels terkesiap sejenak. Lalu mengangguk. Perasaan takut itu terasa makin membesar.

Well, if you don’t mind. Can we talk just a little bit, miss Lee?”

.

Punggung tinggi Daniels berlalu, meninggalkanku dengan perasaan yang campur aduk. Semua kenyataan yang sudah ia ungkapkan membuatku makin hancur. Makin kesal pada diri sendiri.

Aku melangkah lemah ke kamar rawat Sehun. Laki-laki itu masih belum sadar. Jika ia terbangun, ingin sekali aku bertanya padanya, agar bisa menjelaskan tentang mengapa yang terus bermunculan dalam kepalaku.

Daniels memang seorang polisi. Orang yang sama dengan orang yang sedang menangani kasus kakak Sehun. Daniels ke mari untuk mengecek keadaan Sehun yang berstatus sebagai saksi.

Sehun dicurigai menerima sebagian dana yang sudah diterima kakak Sehun dari percobaan nuklir ilegal itu, lalu menyelundupkan sebagian hasil percobaan dalam rumahnya. Bukti-bukti sudah mulai dikumpulkan, dan jika ia tertangkap tangan, ia akan masuk penjara juga.

Tugas Daniels adalah memastikan Sehun tidak berbohong tentang masalah sakitnya. Ia akan mengecek keadaan Sehun secara konstan. Laki-laki itu tersenyum menenangkan padaku, berkata bahwa mungkin Sehun bisa lepas dari tuntutan itu.

Bahkan dalam keadaan sakit seperti ini ia masih harus menjalani semua ujian.

Aku menangis. Nyaris tanpa henti malam itu. Memegang tangan Sehun, sampai aku terlelap. Sehun adalah laki-laki yang kuat, dan aku ingin ia terus bertahan seperti itu.

Dalam hati aku menggumamkan harapan agar Sehun sadar esok hari.

.

Aku membuka mataku perlahan. Terasa sedikit lengket karena bercampur dengan sisa air mata yang mengering. Aku menarik napas panjang, lantas melirik ke arah sofa. Sooji pasti kembali ke sini semalam.

Aku kemudian menatap tanganku. Masih menggenggam tangan Sehun. Hanya ini satu-satunya cara agar ia tahu aku ada. Aku ingin ia tahu eksistensiku. Aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.

“Pagi, Sehun,” kataku sambil mengusap kepalanya dengan sebelah tangan yang lain. Entah apa yang mendorongku untuk melayangkan ucapan selamat pagi untuknya.

Tanpa kusadari genggaman tangannya menguat.

“.. Hyo.”


A/N:  Iya, aku tahu aku nyebelin banget berani nge-post sependek ini. Aku tahu kok.

Cuma.. apa, ya. Aku nggak pengen membuat chapter 9 ini jadi berat, sih. Itulah sebabnya kenapa aku ngebagi ini jadi beberapa part. Mungkin cuma dua. Mungkin juga bisa sampai tiga. Belum bisa kupastikan juga apakah password protected akan berlaku di bagian yang mana. Karena untuk yang A ini aku ga pake password. /dor/ Untuk yang sudah kirim e-mail, tenang aja. Kalian bakal dapet special access pas yang protected muncul. xD

Well, ini cuma sampai 1.300-an words, sih. Nyebelin banget, ya. Tapi kupikir (dan kuharap) kalian cukup untuk meraba-raba ke mana cerita ini akan pergi. Akan aku buka lebih luas lagi di part yang selanjutnya.

So, what do you think?

p.s: [important] Untuk tahu bagaimana cara mendapatkan password, kalian bisa cek di [sini]

Iklan

26 pemikiran pada “[Chapter 9A] Dandelion: Hospital

  1. Sehun yg dikira bakal jd org paling happy ternyata jd yg paling kesian disini 😥
    Aduh dikit lagi. Tinggal chap akhir~ 😀
    Bales inbox aku yah authornim :*

    Suka

  2. annyeong readers baru Zhang Yura imnida hehe
    baru nemu blog+ff nya, belum baca sih tapi udh tertarik duluan sama judul nya ” Dandelion ” waah daebak
    absen dulu sebelum baca hehe, siap baca maraton dari awal smpe chapter ini hehe

    buat author nya fighting yaa 😀 ^^

    Suka

  3. sehun:” those conflicts seem to be complicated. dan mulai membayang2 gimana klimaksnya by myself nih hahaha. aku liat makin kesini udah terlihat rapi dan bahasanya bener2 bisa dipahami. jujur suka yg gini daripada yg bagus tapi pakai banyak diksi yg rumit untuk orang awam pahami. overall bagusss, just i always make myself as sooji hahaha. keep going on authornim! (p.s: can i get the pw of next subchapter hihihi so i may to be more appreciated this masterpiece ehehe)

    Suka

  4. Anyeong slam kenal…..aq gk sengaja ngubek2 ff trus nemu ne blog pas baca ff ini aq kepincut hehehhe aq mlah baru baca d chap ini tp jujur aq suka bngettt…gendre nya seruuu aq sukkaaa…
    Ijin baca dr chap awal yhh

    Suka

  5. atuhlah gue harus gimana ;( sedih liat sehun 😦 di mata gue sehun itu pecicilan, cacad, jahil tapi depan kamera cool, evil dan bikin melting trs di cerita ini dia pinter, tipe org serius, peroko?? dari chapter 1-9A aku berusaha keras membayangkan sehun dgn character yg begitu, aku suka bgt btw, menantang jadinya.. aku bnr2 ngarep sehun bahagia, ga mati karena paru2nya, dan pliss hyo jangan labil 😦 sehun ya sehun, chanyeol ya chanyeol! jangan bikin abang gue terluka ya, gue rela kalo sehun sama sooji, asal hyo ga labil2 langsung sama chanyeol :””
    (aku baca ngebut semuanya skaligus dan aku memutuskan comment d chap ini)
    lanjut ya thor!!

    Suka

  6. Hidupnya sehun teramat sangat malang disini. Kalau aku jd sehun udah showeran sambil minun karbol deh. Hyo bnr2 malaikat dihatinya sehun yaw.. sedeket apapun dia ama sooji cuma hyo yg ada dihati & pikiran sehun. Sehun hyorin hrs dibuat bersatu dan hidup bahagia ka~~

    Suka

  7. gak sempet ninggalin jejak di chap2 sebelumnya 😦
    baru ketemu ff ini dan langsung penasaran sama judulnya yang unik u,u
    dan ternyata gak cuman judulnya yang unik tapi ceritanya juga unik u,u
    nice ff 😀

    Suka

  8. Hiksssss,,demi Tuhan thor kenapa kamu jahat banget sma Sehun? Kamu kejam thorr 😥
    #NiruHyoMukul2BahuAuthor

    Thor,kenalin akikah reader baru,,sumpah dah,,akikah baru nemu FF ini thor!!

    Tapi,kenapa sehun ngenes banget thorr??? 😥
    Kakaknya masuk penjara 15 tahun,15 tahun itu gk sebentar loh thor itu lama :'(Hyo pergi ke Wina,dia yg skit parahh dan setelah itu dia jga terancam masuk penjara 😥
    Sehun-ah,kau harus kuat 😥

    Itu,Hyo suka sma Sehun apa chanyeol sih? kenapa di chap sebelumnya Hyop gk mau Chanyeol pulang?? Ato Hyo suka dua-duanya? Huaaaahhh,,jangan donk Hyo!! :3

    Thor,seneng deh sma gaya bahasa author 🙂
    Gaya penulisannya dewasa tpi ringan 😥

    Hwaigthing deh buat autot selalu :* :* :*

    Suka

  9. aku new reader di ff ini…..baru nemu ni ff hari ini….serius dech…..
    juga baru baca sekarang….meski udah baca dari prolog tapi aku komen dari chap ini aja ya…..aku juga blm tau ni ff udah ada lanjutan apa belum mengingat ini udah hampir sebulan yg lalu di post…..

    sumpah ni ff keren bgt…..sweet juga….meski rada bingung juga samaperasaan hyo yg sebenrnya mengingat hyo yg sempet nggak mau di tinggalin chanyeol waktu di wina…..
    sehun kasian bgt…..masalahnya numpuk setinggi gunung-nggak jg sih-
    sehun beneran bakal masuk penjara…..mengingat di prolognya sih kyk gitu….klo bisa jgn donk….kasian semuanya….

    klo bakal di protect….kasi tau donk….ni ff keren bgt…..sumpah…..

    Suka

  10. Nyesek dek.. nyeseeek banget! T.T benci ngebayangin sehun kaya begitu T.T jangan apa2kan sehun dedekkk!!! Huwee T.T /alay-_-/ ga bisa bayangin kalo ini bakal jadi sad ending ;A; bdw, aku ga nemu part 8nya dek.. lagi nyari dulu wehehe.. :Dv

    Suka

  11. Aku baru baca ff ini huwaaa sedih bgt sehunnya sakit, good job thor alur ceritanya g bisa dtebak jdi pnasaran next chapt nyaaa. Ditunggu thor :p

    Suka

  12. gak bisa ngebyangin jadi sehun yg punya bnyk msalah , tpi setiap mslah slalu ada jln kluar kan ? mkin gk sbar nh nunggu chapter berikutnya .

    Suka

  13. Kenya aku mulai bisa ngeliat kenapa sehun masuk penjara. Gara-gara kasus kakak ya kan? /sotoy. Sehun sebenrrnya sakit apa sih ya smpe kritis gitu. Si hyora jg jdi cemburu garagara sooji. Hyora sih gak baca email sehun. Jdi bakal ada yg di protek ni. Oke saya langsung kirim email

    Suka

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s