This Love [Chap 1]

Student ID : Aiden Lee || Main Cast : Byun Baekhyun, Kim YoungRa || Support Cast : Park Chanyeol, Lee JiEun || Leght : MultiChapter | Genre : Friendship, Romance, School Life, Family, Sad, Married Life || Rating : PG-13 ||

A/N :

Annyeong haseyo! Aiden kambeekk/? dengan fanfic baru. Jika ada typo berlebihan tolong koreksi yaa dan maafkan aiden’-‘ . Dan ini tulisan kedua aiden asli!^^

Summary :

“Kita tak’kan tahu apakah takdir akan berpihak kepada kita. Jalanilah apa yang sudah kita perbuat.”

 

 

Pagi ini dikediam keluarga Kim sudah terjadi keributan karena ulah sang anak mereka. Membuat tetangga yang mendengarnya harus menutup telinga mereka dan mengumpatnya karena sudah membuat keributan di pagi hari. Sang satpam yang menjaga perumahan komplek pun hanya menggelengkan kepalanya disaat ia melewati kediam keluarga Kim.

Shirreo! Aku tidak mau.!”

“Tidak bisa sayang~ kau harus menyetujui hal ini.”

Andwe! Sudah kubilang aku tidak mau eomma! Aku belum mengenalnya dan bahkan belum bertatap muka dengannya! Andwe! Aku tidak mau.!” tolak seorang yeojadengan keras dengan menatap tajam kedua orangtuanya.

“YoungRa! Kau tidak bi—

“BISA! Aku bisa menolak hal ini karena aku tidak pernah mengenalnya.!” potongnya kepada ibunya. Ibunya yang mendengar teriakkan sang anak hanya meringis dan memikirkan cara agar anaknya mau menyetujui suatu hal yang menurutnya penting.

“Tapi YoungRa..kau benar-benar tidak bisa menolaknya.” ucap ibunya dengan mengelus dadanya. Ia sudah sangat sabar untuk menghadapi anak perempuan satu-satunya.

WAE? Kenapa? Apa kalian sudah terpengaruh oleh mereka.?” ujar anaknya yang bernama Kim YoungRa.

“Bukan..bukan begitu, tetapi—sungguh! Kau ti—aish! Appa! Bantulah eomma untuk mempercayainya.!” ucap ibunya seraya memukul bahu suaminya yang sepertinya sangat tidak peduli dengan apa yang terjadi dengan anak dan istrinya. Ia hanya bersiul dengan menumpangkan kaki kanan kelutut kiri.

“Aiih..sudahlah eomma..biarkan saja dia seperti itu. Ssh..toh juga apa yang ia katakan tidak akan merubah semua ini. Tenang saja.” ujar suaminya dengan tersenyum dan mengangkat kedua alisnya. Istrinya hanya meringis kesal kepada suaminya. YoungRa yang mendengarnya menghentakkan kakinya.

APPA.!” teriaknya dengan merusak selembar kertas dan map. Ibunya yang melihat itu langsung membulatkan matanya dan berteriak keras.

OMONA! APA YANG KAU LAKUKAN KIM YOUNGRA! ANDWEEE.!” teriakknya seraya memegang kepalanya dan menoleh kearah suaminya yang sepertinya tenang-tenang saja dengan kejadian itu.

“YA! KIM HONGDAE! LIHAT! LIHATLAH KELAKUAN ANAKMU! KIM YOUNGRA MEROBEK KERTAS PERJANJIAN ITU HONGDAE! BERBUATLAH SESUATU.!” teriak ibunya frustasi. Sungguh! Kertas sangat-sangat berharga dan penting baginya.

“Hei! Hei! Hei! Tenanglah sedikit, itu hanya kertas kosong dengan tulisan-tulisan jelek dia sewaktu Sekolah Dasar. Tenang saja, kertas perjanjian itu sudah disimpan ditempat yang aman.” bisiknya kepada istrinya yang tampak sangat-sangat frustasi.

Kim YoungRa tidak mendengar itu. ia hanya sibuk dengan merobek kertas itu hingga tak tersisa. Setelah dirasa sudah tidak tersisa dia langsung berlari menuju kamarnya untuk mengambil tas sekolahnya dan pergi meninggalkan rumah.
.

.

BRRAAAKK!

 

“YA! Tak bisakah kau santai sedikit untuk menggeser pintunya.?!” bentak sang ketua kelas yang bernama Kim Minseok kepada YoungRa yang baru saja memasuki kelasnya 2-4. YoungRa yang dikatai seperti itu hanya memutar bola matanya malas dan menatap sinis sang ketua kelas. Minseok yang ditatap seperti itu hanya berdecih pelan dan melanjutkan acara mencatatnya.

“Kau kenapa YoungRa.?” tanya teman sebangkunya yang bernama Lee JiEun.

“JiEun-ah.!” panggil YoungRa dengan menatap JiEun.

“Hm.”

“Orangtuaku ingin menjodohkanku dengan orang yang tak ku kenal.” ujar YoungRa yang membuat JiEun membulatkan matanya.

MWOYA?! KAU INGIN DI—Hhhhmmpppttttt.”

“Pppssstt! Jangan keras-keras Lee JiEun.!” ucap YoungRa dengan membekap mulut JiEun. JiEun mengangguk dan menunjuk-nunjuk hidungnya yang ikut terbekap. Ia kesusahan untuk bernafas. YoungRa yang melihat hal itu langsung melepaskan mulutnya dan meminta maaf pada JiEun.

JiEun yang sudah kembali semula menoleh kearah YoungRa yang sedang menumpukkan kepalanya ke meja, “Jjinja? De-dengan siapa?” ucap JiEun dengan berbisik. YoungRa menatap JiEun dan dengan cepat ia menjitak kepala JiEun.

“Kau bodoh atau apa eoh?! Aku saja belum tahu siapa orangnya Lee JiEun.!” bentak YoungRa yang murka kepada teman telminya ini. JiEun mengelus kepalanya dan memanyunkan bibirnya, “Kukira kau tahu siapa orangnya! Jangan menjitakku begitu YoungRa-ah! Ini sakit.!” sungut JiEun dan menatap tajam YoungRa.

YoungRa menghelah nafas panjang, “Mianhae.” JiEun mengangguk dan menatap YoungRa yang sepertinya sangat-sangat tidak menyukai perjodohannya.

“Memangnya kau tidak mecoba untuk membantah.?” ucap JiEun. YoungRa meniup poninya, “Aku sudah melakukan itu dan hasilnya sia-sia. Bahkan kertas perjanjian perjodohan itu sudah aku robek-robek.”

MWO? Lalu—apa kata orangtua mu.?” tanya JiEun. YoungRa menggeleng singkat. JiEun yang melihat itu mengerti dan mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Hei..siapa tahu orang yang dijodohkan oleh orangtuamu adalah pria tampan bagaimana.?” ujar JiEun dengan tersenyum. YoungRa berdecih dan menatap malas JiEun.

“Aku tidak menyukainya walaupun setampan apapun dia. Aku akan tetap menyukai My Prince Chanyeollie.” ucap YoungRa dengan digantikan dengan wajah sumringah.

Park Chanyeol adalah pangeran sekolah di Neul Paran High School. Kim YoungRa termasuk yeoja yang menyukai Chanyeol disekolahnya. Tetapi tidak dengan JiEun. Dia justru membenci Chanyeol karena menurutnya Chanyeol itu adalah namja idiot. Selalu tersenyum kepada semua orang. ‘Apakah giginya itu tidak pernah kering?’ pikir JiEun.

JiEun memutar bola matanya malas, “Heuh..Chanyeol lagi Chanyeol lagi. Apa ketampanannya dia sehingga kau menjadi seperti ini, eoh?! Selalu tersenyum dan menampakkan giginya. Apakah dia mempunyai pasta gigi yang banyak untuk menjaga giginya agar tidak mongering.?” gumam JiEun. YoungRa menatap datar JiEun.

“Aku tahu kau tidak menyukainya. TETAPI BISAKAH KAU TIDAK MEMAKINYA.?!” teriak YoungRa kesal. Dia paling tidak suka dengan orang yang suka menjudge Chanyeolnya. Sebagai seorang fans pasti selalu seperti itu bukan?

“Ya ya ya..terserah kau saja. Dan tolong! Kecilkan suara melengkingmu itu. Okey.?” JiEun dengan cepat menutup kedua telingannya dengan tangannya. YoungRa yang mendengarnya langsung mempoutkan bibirnya.

.

.

Ne..kita sudah rencanakan ini sebelumnya bukan.?”

“Ya..semoga anakku bisa menerimanya Tuan Kim.”

“Aish..jangan terlalu formal begitu. Panggil saja HongDae. Sebentar lagi kita akan berbesan JiYoung-ah.” ucapnya Tuan Kim kepada Tuan Byun. Rekan kerja sekaligus teman semasa SMAnya dulu.

Tuan Byun tersenyum dan menepuk pundak Tuan Kim, “Aahahaha..kau benar HongDae-ah!. Jika seperti ini, kita seperti kembali lagi ke masa SMA. Benar bukan.?” ujarnya seraya tertawa. HongDae ikut tertawa dan menganggukkan kepalanya berkali-kali. Mereka terbawa suasana dan menceritakkan tentang masa-masa SMA mereka. Sesekali mereka mengejek satu sama lain saat kesalah apa yang mereka buat dimasa SMA.

Nyonya Kim dan Nyonya Byun hanya tersenyum simpul melihatnya dan kembali berbincang mengenai sebuah lamaran yang akan dilaksanakan 2 minggu kedepan.

“Aku pulang.!” teriak seseorang dari depan rumah. Nyonya Byun tersentak dan langsung mengarahkan pandangannya kearah orang itu. Nyonya Byun tersenyum mendapati anak bungsunya sudah datang.

“Baekhyun-ah! Kemarilah nak.!” suruh Tuan Byun kepada anaknya yang juga melihat anaknya sudah datang. Anak bungsunya yang bernama Baekhyun itu tersenyum tipis dan membungkukkan badannya melihat ada 2 orang paruh baya dirumahnya. Mungkin rekan kerja appa dan eomma. Pikirnya.

“Aigoo..anakmu ini sopan sekali SeoRin-ah.!” pekik Nyonya Kim kepada Nyonya Byun. Nyonya Byun hanya tersenyum dan sedikit bergeser untuk menempatkan anak bungsunya duduk disebelahnya.

“Nah, perkenalkan dia anak bungsu kami, Byun Baekhyun.” Baekhyun yang mendengarnya tersenyum kepada Tuan dan Nyonya Kim. Tuan Kim tersenyum melihat anak yang akan ia jodohkan dengan anak perempuannya terlihat baik dan sangat sopan juga pendiam.

“Hei nak! Kau tampan sekali.” puji Nyonya Kim dengan menatap Baekhyun intens. Baekhyun yang ditatap hanya tersenyum kikuk dan mengusap tengkuknya.

“Lihatlah dia! Aigoo~ aku jadi tak sabar untuk mempertemukan dia dengan anakku.” Nyonya Byun semakin tersenyum melihat sepertinya Keluarga Byun dan Keluarga Kim akan menjadi keluarga besar yang menyenangkan.

Baekhyun sedikit tersentak saat perempuan paruh baya ini yang ia yakini sebagai rekan kerja ibunya berbicara seperti itu. Apa maksud ucapan orang itu? Dan—mungkinkah ini ada kaitannya dengan apa yang dibicarakan minggu lalu oleh kedua orangtuanya? Baekhyun terkalut dengan pemikirannya.

“Baekhyun-ah, ada yang ingin appa bicarakan.” ucap appa  dengan pandangan serius. Baekhyun yang mengerti langsung menegakkan duduknya dan membalas tatapan itu. Bukan bermaksud untuk menantang. Hanya saja, memang itu yang harus ia lakukan jika sudah berhadapan dengan ayahnya.

“Ekhem…begini, kau mengingat kejadian minggu lalu saat aku memberikanmu sebuah kertas di map biru.?”

 

DEG

 

Benar dugaannya.

Baekhyun mengangguk pelan dengan raut wajah cukup tenang. Walau begitu, ia tetap tak bisa membohongi perasaannya yang sedang was-was menanti apa yang akan dibicarakan selanjutnya.

“Kau—apakah kau sudah melihat isinya.?” tanya Tuan Byun dengan menatap Baekhyun. Ia benar-benar tak mengalihkan pandangannya dari mata yang sedikit gemetar itu. Baekhyun yang mendengarnya langsung gugup.

Ia lupa jika ia belum membaca isi map tersebut. Karena sewaktu ia ingin membacanya salah satu temannya berteriak kepadanya ditelinga Baekhyun yang membuat emosi Baekhyun terpancing dan jadilah ia memarahi temannya itu dan tidak jadi membaca isi map itu.

N-ne…a-aku sudah membacanya.” Baekhyun gugup dan sedikit gelisah. Ia benar-benar tidak membaca isi map tersebut!

Tuan Byun menghelah nafas panjang dan kembali menatap Baekhyun, “Jadi—apakah kau menerimanya.?” tanyanya.

Atmosfer diruang tamu Keluarga Byun menegang dan sedikit was-was menanti apa jawaban yang diberikan Baekhyun. Baekhyun mengerutkan dahinya sedikit dan kembali berekspresi semula untuk menyembunyikannya. Dan untung saja semua orang disana tidak melihat itu.

Baekhyun bingung ingin mejawab apa kepada appanya yang menanyakkan perihal ini. Ia menjadi takut karena tidak membaca isinya. Ia takut isi map itu adalah sebuah pernyataan yang sangat penting bagi keluarga Byun. Ia berfikir menebak-nebak apa yang tertulis dikertas putih itu.

Mungkinkah sebuah kontrak kerja yang melibatkan dirinya? Ataukah sebuah pernyataan bahwa dirinya akan dibawa oleh kedua orang paruh baya dengan marga Kim ini? tetapi untuk apa jika iya? Apakah dirinya akan dijual dan—Baekhyun menggeleng ketika ia memikirkan hal itu. Tak mungkin kedua orangtuanya setega itu menyerahkan dirinya kepada orang asing.

Matanya bergerak gelisah dan kepala yang ia tundukkan. Ia sedang mencari-cari jawaban yang pasti untuk ke empat orangtua yang sedang menatapnya dengan intens dan tajam. Ia sekarang sudah seperti seorang namja mesum yang tertangkap basah telah menghamili anak orang. Eh?

Ia tak mau mengecewakan kedua orangtuanya jika ia menggelengkan kepala dan bahkan berkata ‘Tidak’ . Tetapi—sungguh! Ia akan mengutuk temannya itu dan meninju wajahnya jika ia bertemu dengan teman yang sudah membuatnya tidak bisa membaca dan melupakan isi map tersebut.

Baekhyun berdehem pelan dan menganggukkan kepalanya sepelan mungkin. Mungkin jawaban inilah yang membuat kedua orangtua Baekhyun bernafas lega dan tersenyum. Terdengar helaan nafas lega diantara mereka. Baekhyun yang mendengar itu mendongkakkan kepalanya dan melihat kedua orangtuanya itu dan rekan kerjanya tersenyum satu sama lain.

“Terima kasih Baekhyun-ah. Kau sudah mau menerima anakku.” ujar salah satu paruhbaya disitu yang ia ketahui disebut-sebut Nyonya Kim. Baekhyun kembali dibuat tegang dan gelisah mendengarnya. Baekhyun yang mendengarnya menganggukkan kepalanya ragu dan tersenyum kikuk.

“Baiklah..kalau begitu bagaimana jika kita majukkan saja tanggalnya.?” ucap Nyonya Byun. Baekhyun yang tidak mengerti sama sekali arah pembicaraan orang-orang disana pamit undur diri untuk membersihkan tubuhnya dan beristirahat menjernihkan pikirannya. Ia berjalan menjauh dan menaikki tangga dengan perlahan sembari menajamkan indra pendengarnya.

“Aaah…kurasa itu tanggal yang tepat untuk acara resepsinya.”

 

DEG

 

Otak Baekhyun langsung berputar dan terbelalak saat ia mengetahui apa isi dari map itu dengan mendengar perkataan orang-orang disana. Sebuah—perjodohan?! Tebaknya. Yaah..memang benar. Dan pikiran Baekhyun pun semakin bertambah dengan kejadian ini.

.

.

“JiEun-ah! Tunggu aku.!” teriak YoungRa seraya berlari cepat mengejar JiEun yang berjalan tergesa-gesa didepannya.

“Aish! Aku tak punya waktu untuk menunggumu bocah.!” maki JiEun kepada YoungRa yang membuatnya terkena sial seperti ini. JiEun langsung berbelok saat ada persimpangan sepi dan langsung memasuki toilet yeoja.

 

CEKLEK!

 

“Hooshh..hossh..YA! Lee JiEun! Dimana kau.?!” ujar YoungRa dengan mengatur nafas dan mendobrak bilik toilet satu persatu dengan kencang. JiEun tak peduli dengan hal itu. Ia benar-benar kesal kepada sahabatnya itu. Dan saat YoungRa mencapai pintu kelima ia langsung saja mendobraknya kasar tanpa memperdulikkan siapa dan sedang apa yang berada didalam bilik itu.

 

BRAAAKKK!

 

“YA! LEE JI—KKYYAAAAAAAAAA.!” teriak YoungRa dengan menutup wajahnya dengan kedua tangannya melihat apa yang berada didepannya. JiEun yang mendengarnya berjengit kaget dan menoleh kearah pintunya melihat YoungRa sedang berteriak. Ia pun ikut berteriak setelah menyadari apa yang membuat YoungRa berteriak.

“HHUUUUAAAAAA! KIM YOUNGRA! APA YANG KAU LAKUKAN.!”

 

BRAAAKKK!

 

“YA! KIM YOUNGRA MESUUUUUUM! KAU! BENAR-BENAR MESUUUUM.!” JiEun langsung memaki YoungRa dengan umpatan-umpatan kasar dan heboh sendiri didalam bilik itu. YoungRa yang mendengar dirinya dikatai mesum langsung melototkan matanya tak terima dan menendang pintu itu berkali-kali dengan kakinya.

“YAK! HEH! SIAPA YANG MESUM, EOH?! KAU SENDIRI LUPA TIDAK MENGUNCINYA BODOH! JANGAN SALAHKAN AKU JIKA AKU MENDOBRAK PINTUNYA! CIH.!” bentaknya kepada JiEun dengan menaruh kedua tangannya dipinggang. Ia juga kesal dengan JiEun yang se’enak jidatnya meninggalkannya dikelas untuk mengambil baju olahraga mereka.

“HEI! HEI! JANGAN MENENDANGNYA BODOH! CEPAT AMBIL BAJUMU DAN GANTI! KAU MAU TELAT DISAAT JAM PELAJARAN OLAHRAGA HAH?! AKU TAK AKAN MENUNGGUMU LAGI JIKA KAU TELAT KIM YOUNGRA! SANA PERGI KE RUANG LOKER.!” suruh JiEun dengan beretriak keras. Sangar keras sehingga suaranya menggema didalam toilet. Untung saja keadaan koridor toilet dan didalam toilet yeoja hanya ada dia dan YoungRa. Jika ada seseorang yang melihatnya. Mereka berdua pasti akan dimaki habis-habissan.

YoungRa mendengus kesal dan berhenti menendang pintu itu. Ia lalu meninggalkan sahabatnya yang sedang berganti baju olahraga seraya berjalan menghentak-hentakkan kakinya menuju ruang loker untuk mengambil bajunya.

“Huh! JiEun menyebalkaaaaaan.!” teriaknya saat sudah sampai ruang loker. Ia langsung menuju dimana tempat lokernya berada. Saat ia melewati loker sang pangeran sekolah ia melihat disana ada 2 orang laki-laki yang sedang berusaha membuka loker sang pangeran sekolah.

YoungRa mengerutkan dahinya dan menatap tajam 2 lelaki itu seraya melangkahkan kakinya perlahan menuju 2 lelaki itu. Saat sudah dibelakangnya tak ada salah satu pun dari mereka yang menoleh kearah belakang. Sepertinya mereka memang tak menyadarinya dan terlalu sibuk dengan kegiatannya.

YoungRa menghembuskan nafasnya perlahan dan berdehem keras, “EKHEM.!”

Kedua lelaki itu langsung berjengit kaget dan dengan perlahan menolehkan kepalanya kebelakang. Mereka melihat YoungRa sedang mempersiapkan diri untuk berkelahi dengannya.

“Kalian ingin melakukan apa dengan loker itu.?” desis YoungRa dengan menatap tajam 2 lelaki itu. Ia tahu, salah satu dari mereka adalah komplotan yang sering menganggu dan meneror sang pangeran sekolah.

Ya, Chanyeol memang digemari oleh semua siswa disekolah itu. Tetapi tidak dengan para lelaki, ia selalu mendapat masalah dengan siswanya dan baru-baru ini juga ada kabar bahwa Chanyeol sedang diteror. Para siswi disana cemas dengan keadaan Chanyeol. Mereka takut akan terjadi apa-apa dengan idolanya.

2 lelaki itu menelan salivanya dengan susah payah dan bahkan mengeluarkan bunyi disuasana loker yang sepi ini. Mereka berdua takut dengan YoungRa. YoungRa terkenal dengan bela dirinya yang keren. Ia baru saja mengakhiri level dibela diri Taekwondo nya dengan memiliki sabuk hitam dan gelar sebagai Ketua Club Taekwondo disekolahnya.

Salah satu orang itu menggaruk tengkuknya dan meringis,“Ka-kami..se-sedang ingin me-menaruh—A-aaww.!”

“Eehehe..i-itu kami disuruh oleh Chanyeol untuk menaruh kertas ini kedalam lokernya” potong salah satu dari lelaki itu saat temannya ingin mengatakkan yang sesungguhnya. Ia juga memberi bonus kepada temannya dengan menginjakkan sepatunya dikakinya.

YoungRa berdecih pelan dan bersiap untuk berkelahi, “Cih! Kau berbohong padaku eoh?! Lihatlah muka panik mu itu dengan tubuh yang bergetar! Kau kira aku tidak tahu jika selama ini adalah komplotan kalian yang sering meneror Chanyeol?! HAH.!” bentaknya dan langsung memukul 2 lelaki itu dengan cepat. 2 lelaki itu langsung jatuh tersungkur dan berlari keluar dan meninggalkan sebuah amplop putih.

YoungRa tersenyum menang dan mengambil amplop putih itu yang ia duga sebagai bahan terror Chanyeol selama ini. Ia merobeknya paksa dan mendapati sebuah kertas dengan berlumuran darah.

 

“Kau adalah pembunuh yang sebenarnya, bukan aku, Park Chanyeol. Ingat.!”

 

YoungRa mengerutkan dahinya setelah membaca surat terror itu. Ia tidak tahu apa maksud dari kata-kata si peneror. Apaka Chanyeol mempunyai kesalahan yang besar dengan si peneror?!

 

TAP! TAP! TAP!

 

BRAAKK!

 

YoungRa kaget saat ada yang mendobrak pintu ruang loker dengan keras. Dia langsung menoleh kearah pintu dan mendapati seorang namja dengan tinggi yang semapai juga tubuh atletis. Sang pangeran sekolahnya tengah berjalan menuju dirinya. YoungRa membulatkan matanya dan menaruh kedua tangannya yang sedang memegang amplop dibelakang punggungnya.

YoungRa menahan nafas saat melihat sang pangeran sekolahnya tengah tergesa-gesa seperti mencari sesuatu dengan raut wajah gemetar dan ketakutan. YoungRa menatap aneh Chanyeol dari samping. Wajah Chanyeol memerah menahan amarah dan berkeringat banyak.

Dia heran dengan Chanyeol. Ia tak pernah melihat Chanyeol seperti ini. Biasanya ia sering sekali melihat Chanyeol tersenyum dengan gigi putihnya itu dan menyapa semua fansnya. Jujur saja, ini pertama kalinya dia melihatnya. Dia juga berfikir apa yang membuat Chanyeol seperti ini.

 

TING!

 

Seperti ada lampu bohlam berwarna kuning diatas kepala YoungRa. YoungRa langusng mengerti mengapa idolanya seperti ini. Apakah karena surat terror yang sedang disembunyikannya dibalik punggungnya? Pikirnya.

YoungRa terus menatap Chanyeol yang sedang berkeliling tempat loker dan membuka satu-persatu loker milik orang lain. Terkadang Chanyeol juga membanting pintu kecil loker itu dengan keras. YoungRa memberanikan diri untuk bertanya kepada Chanyeol. Mungkin apa yang ia pikirkan benar.

“E-eum…Chan-Chanyeol-ssi.” panggilnya gugup dengan menatap Chanyeol sebentar. Chanyeol yang merasa dirinya terpanggil menoleh kearah sumber suara dan saat melihat ada seseorang didalam loker itu ia kaget. Karena sibuk dengan benda yang ia cari, ia sampai tak menyadari bahwa disana ada seseorang selain dirinya.

Chanyeol langsung membuat senyuman manis yang membuat YoungRa hampir saja lemas kalau tak menopang tubuhnya menyenderkan punggungnya dijejeran loker. Chanyeol bergerak melangkah maju mendekati YoungRa. Saat sudah didepan YoungRa, Chanyeol langsung tertawa sedikit dan bertanya.

“Ada apa.?” tanyanya dengan raut wajah yang berbeda sekali dari yang YoungRa lihat tadi. YoungRa menelan gugup salivanya dan dengan hati-hati ia mengeluarkan amlop itu dari punggungnya.

“A-apakah be-benda ini ya-yang sedang ka-kau cari.?” ujar YoungRa dengan menyerahkan amplop itu. Chanyeol tersentak dan langsung berubah ekspresinya wajahnya. Yang tadinya tersenyum manis sekarrang tergantikkan oleh wajah menegang dan keringat pun kembali bercucuran.

“Ka-kau..mendapat ini da-darimana.?” tanya Chanyeol dengan tangannya yang perlahan menggapai amplop putih itu. YoungRa menatap Chanyeol iba. Dia rasa memang pemikirannya benar. Chanyeol memiliki masalah dengan si peneror.

“Eum..be-begini, ta-tadi saat aku i-ingin mengambil baju o-olahragaku, aku me-melihat dua orang lelaki sedang be-berusaha mem-membuka lokermu. A-aku langsung me-mencegat mereka da-dan memukulnya. La-lalu mereka pergi da-dan meninggalkan i-ini di-disini.” jawab YoungRa dengan terbata. Ia takut Chanyeol marah karena amplop itu sudah tak utuh.

“Ma-maafkan aku ka-karena aku dengan la-lancang membuka a-amlop itu. Su-sungguh! A-aku tak berniat ingin me-membukanya hanya saja memang a-amlop itu sedikit sobek dan aku melihat darah di ke-kertas itu.” cicitnya dengan wajah menunduk. Chanyeol tak menjawab pernyataan YoungRa.

Ia lebih memilih diam dan memperhatikkan kertas dan amlop itu dengan tangan gemetar dan wajah tegang. Baju seragamnya basah karena keringat yang muncul seluruh tubuhnya. YoungRa yang tak mendengar ucapan apapun yang keluar dari mulut Chanyeol langsung mendongkakkan kepalanya menatap Chanyeol.

“Cha-Chanyeol-ssi? Gwae-gwaenchanayo? A-apa kau baik-baik saja.?” tanya YoungRa dengan menatap idolanya khawatir. Ia takut terjadi apa-apa dengan Chanyeol. Chanyeol menjatuhkan amlop itu dan menatap lantai dengan nafas yang memburu.

Chanyeol langsung menoleh kearah YoungRa dengan tatapan memelas. YoungRa kaget melihat tatapan itu dan membulatkan matanya. Ia benar-benar takut terjadi apa-apa dengan Chanyeol.

“Peluk aku. Kumohon.” lirih Chanyeol.

NE.?!” teriak YoungRa dengan mata yang lebih lebar. A-apa maksud dari semua ini? Chanyeol tiba-tiba saja meminta dirinya untuk memeluknya. Aish! Ia benar-benar tak menyangka apa yang terjadi dengan idolanya itu.

“Ta-tapi Cha—

 

GREEEP!

 

“Tenangkanlah diriku.” bisik Chanyeol tepat ditelinga YoungRa. Chanyeol langsung memeluk YoungRa dengan erat dan menelusupkan wajahnya dileher YoungRa. YoungRa semakin bingung dibuatnya dan juga geli merasakkan deru nafas dan juga bibirnya yang menempel dileher YoungRa.

YoungRa yang mendengar Chanyeol berkata seperti itu mengerti dan membalas pelukkan Chanyeol dengan mengelus punggung Chanyeol pelan. Mungkin dengan cara ini ia bisa menenangkan idolanya.

Chanyeol memejamkan matanya merasakkan tangan lembut itu mengelus punggungnya. Ia merasa nyaman dengan yeoja ini dan ketakutan yang ia rasakkan hilang begitu saja. Entah mengapa ia selalu ingin memeluk yeoja ini. Menurutnya didalam dekapan yeoja ini sangatlah nyaman dan seperti pelukkan ibunya.

Lama mereka berpelukkan seperti itu. Chanyeol enggan melepas pelukkannya dan justru ia semakin erat memeluk YoungRa. YoungRa yang merasakan pelukan Chanyeol lebih erat ikut melakukan hal yang sama dan terus mengelus punggung Chanyeol. Mungkin Chanyeol belum tenang dari rasa takutnya.

YoungRa berfikir lagi agar Chanyeol tenang dan nyaman. Ah ya! Ia jadi teringat perlakuan ibunya kepadanya. Disaat ia sedang menangis atapun ketakutan ibunya sering memperlakukkan dirinya dengan memeluknya dan membisikkan kata-kata penenang untuk dirinya. Mungkinkah ia harus melakukannya juga kepada namja ini? Dan hatinya pun bergerak tak bisa menolak.

“Semua akan baik-baik saja Chanyeol-ssi. Aku akan selalu berada disampingmu.”

.

.

“Baekhyun-ah!”

 

PUK!

 

“Mwo.?!” ujar Baekhyun dengan raut wajah kesal kepada temannya. Kim JongIn atau biasa dipanggil Kai oleh siswa-siswi School of Performing Art. Kai menatap Baekhyun dengan wajah cemberut.

“Hey! Kau kenapa.?” tanya Kai polos tanpa tahu apa kesalahan nya. Baekhyun yang sedang memakan sisa air ramyeonnya tersedak dan terbatuk hingga wajahnya memerah.

“Uhhukk! Uhuukk! A-ambilkan m-minum! Uuhuukk! Uhuukk.!” suruh Baekhyun kepada Kai dengan menepak pundak Kai keras yang tak kunjung memberinya minum. Kai yang mengerti mendengus kesal dan memberi Baekhyun minum dengan kasar.

“Haah..haaah..haah..KAU.!” bentaknya kepada Kai yang sedang santai memakan kripik kentang miliknya. Mereka sedang berada dikantin sekolah dan beberapa menit bell masuk.

Kai mendongkakkan kepalanya melihat Baekhyun yang berdiri. Kai mengangkat dagunya seraya terus mengunyah kripik kentang milik Baekhyun bermaksud berkata ‘apa yang ingin kau bicarakan.?’

Baekhyun melototkan matanya dan dengan tiba-tiba ia meninju pipi Kai keras. Keras sekali hingga Kai menjatuhkan kripik kentangnya yang masih setengah membuatnya berceceran dilantai.

MWO?! YAK! KAU! A-aaww! Ssshh! Sebenarnya kau ada masalah apa denganku? HAH.?!” ucap Kai dengan nada tinggi dan ikut berdiri menatap temannya itu seraya menyingsihkan jas sekolahnya bersiap untuk berkelahi.

“Kau masih bertanya apa salahmu hah?! Kau benar-benar lelaki tak tahu diri Kim JongIn.!” makinya terhadap temannya itu. Kai yang dikatai seperti itu tidak terima dan menarik kerah kemeja Baekhyun.

“APA MAKSUDMU HAH?! KAU SEDANG MENGAJAKKU BERKELAHI.?!” bentaknya kepada Baekhyun temannya. Kai tak menyangka jika Baekhyun temannya sendiri akan memakinya sekejam itu. Jujur saja, ia tidak pernah mendapat makian dari Baekhyun seperti itu. Walaupun terkadang Baekhyun sering memarahinya dan membentakknya ia tak pernah mendengar umpatan kasar langsung dari mulut Baekhyun.

Baekhyun tersentak kaget dengan melihat sorot mata temannya berkilat marah. Dirinya juga tak pernah melihat Kai semarah ini dengan wajah yang memerah menahan amarah dan mata yang menyorotkan kepedihan juga kemarahan.

Baekhyun menghelah nafas panjang dan mengalihkan pandangannya dari Kai. Ini semua salahnya. Bukan karena Kai yang meneriakki dirinya tepat ditelinganya dan membuat dirinya lupa akan isi map tersebut. Mungkin ini juga karena ia tersulut oleh emosi yang ia pendam saat mengetahui isi map tersebut secara langsung pada 2 hari yang lalu.

Kai mendorong Baekhyun dengan kasar. Kai meninggalkan Baekhyun yang sedang termenung entbah apa yang sedang dipikirkan temannya itu. Kai sedang tidak mau memikirkan temannya itu. Masa bodoh dengan apa yang terjadi dengan Baekhyun. Ia sudah cukup kecewa dengannya yang sejak SD menjadi sahabat dirinya.

Baekhyun mengusap kasar wajahnya dan berjalan keluar untuk kembali kekelasnya karena bell masuk telah berbunyi 1 kali. Jika saja bell tidak berbunyi, ia pasti sekarang sedang mencari keberadaan Kai temannya. Pasti Kai akan membolos pelajaran.

Saat Baekhyun sudah sampai dikelasnya ia sudah melihat Choi Songsaenim baru menjatuhkan bokongnya dikursi empuk. Baekhyun membungkuk sopan sambil mengucapkan kata maaf karena terlambat beberapa detik. Baekhyun termasuk anak yang sopan dan pendiam disekolahnya.

Choi Songsaenim tersenyum dan mempersilahkan Baekhyun duduk ditempatnya. Saat Baekhyun melihat bangku urutan paling belakang kosong ia menghelah nafas dan mendengarkan apa yang diterangkan oleh guru itu. Benarkan? Kai membolos. Dan itu semua karena dirinya.

.

.

“Em..maaf, Kyungsoo-ssi apakah kau melihat Kai.?”

Aniya Baekhyun-ah. Memang kenapa.?” tanya Kyungsoo yang teman kelas dirinya dan Kai. Kyungsoo termasuk anak yang pendiam juga. Tetapi, ia mau berbaur dengan yang lainnya. Tidak seperti Baekhyun yang sepertinya hanya bermain dengan Kai teman dekatnya. Yang tentu saja Baekhyun melakukannya ada sebuah alasan.

Baekhyun tersenyum kikuk dan menggaruk tengkuknya, “Em..i-itu—

“Masalah lagi eoh.?” tebak Kyungsoo. Baekhyun mendongkakkan kepalanya menatap Kyungsoo dan tersenyum meringis mengingat kejadian saat dikantin. Kyungsoo menghelah nafas dan tersenyum maklum.

“Ada apa? Kau bisa cerita padaku.” tawar Kyungsoo.

Baekhyun menggeleng dengan tersenyum, “         Ani..gwaenchanayo. Aku pergi dulu.” ucapnya dan langsung melarikan diri dari hadapan Kyungsoo yang menatapnya dengan raut wajah bingung.

Baekhyun masih terus mencari keberadaan sahabatnya itu. Terkadang ia berlari dan menoleh kekanan dan kekiri. Ia juga sudah mencari Kai ketempat biasa Kai kunjungi. Tetapi, tetap saja Kai tidak ada disana.

“Haish! Kau kemana Kim JongIn.!” sungut Baekhyun. Ia benar-benar merasa bersalah kepada sahabatnya yang sudah menemani dirinya ketika ia sedih maupun senang. Selalu menemani dirinya jika ia dalam kesulitan.

Baekhyun berhenti berlari dan melangkahkan kakinya menuju bangku taman yang ia temui saat mencari Kai. Baekhyun mengatur nafasnya yang sesak.

“Haah..Kaai ggrr..eoddiga.?!” lirihnya. Peluh membasahi seragam sekolah dan dahi Baekhyun. Terik matahari juga membuatnya dehidrasi. Mukanya memerah karena cuaca panas. Baekhyun menemukan kedai ice cream dipojok taman. Dia tersenyum sumringah melihatnya dan berlari menuju kedai itu.

Saat setelah memasuki kedai tersebut. Ia baru tahu jika ingin mendapatkan ice cream rasa strawberry harus mengantri terlebih dahulu. Banyak sekali orang-orang yang mengantri demi menetralisi rasa haus dikerongkongannya.

Tak hanya anak-anak saja yang masih memakai seragam TK. Disana juga terdapat anak-anak seusianya dan bahkan mahasiswa. Baekhyun merengut dan memilih duduk menyamping disalah satu meja kosong sambil menunggu antrian yang begitu panjang.

 

TEP!

 

“Eh.?!” Baekhyun menoleh kekiri saatsaat dirinya mendengar suara barang yang dibanting ke meja. Dirinya menemukan seorang perempuan yang sedang menatap ice creamnya yang sudah ia dapat. Baekhyun mengerutkan alisnya melihat perempuan itu. Apakah ia tak sadar jika meja ini sudah menjadi miliknya?

Perempuan itu mendongkakkan kepalanya melihat seseorang didepannya yang memperhatikan dirinya. Baekhyun yang ditatap balik memalingkan wajahnya. Bukan malu ataupun salah tingkah. Ia sedang malas berbicara dengan orang asing.

“Ah.!” pekiknya saat melihat Baekhyun. Baekhyun menoleh singkat dengan mengangkat kedua alisnya seolah bekata, ‘ada apa.?’

Jeongsahamnida..maaf jika aku duduk disini tanpa seizinmu. Habisnya disini ramai dan aku sudah mencari-cari tempat yang kosong tetapi tetap tidak ketemu dan hanya kursi ini satu-satunya yang kosong. Mianhae~” ucapnya dengan sedikit menundukkan kepala.

Baekhyun tersenyum paksa dan mengangguk-anggukkan kepalanya untuk membalas perkataan perempuan itu. Ia melihat seragam sekolah yang dikenakan perempuan itu, ‘Oh. Murid Neul Paran High School.’ batinnya. Baekhyun kembali menatap antrian yang tak kunjung sepi. Ia sedikit menghelah nafas karena bosan menunggu.

Perempuan itu tersenyum melihat Baekhyun yang menurutnya tidak terlalu terganggu dengan keberadaan dirinya. Baekhyun yang melihat senyum itu sedikit tersentak dan kembali memasang wajah poker face nya, ‘Manis.’  batinnya dengan sedikit gugup.

Perempuan itu mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Baekhyun. Baekhyun menatap tangan itu dengan mengangkat satu alisnya. Perempuan itu kembali tersenyum manis yang membuat Baekhyun sedikit salah tingkah.

“JiEun. Lee JiEun.”

 

TBC

Kyyyyaaaaaaaaaa…akhirnya jadi juga fanfic yang kedua!! Gimana nih sama ceritanya? Aneh kah? Ini baru chapter 1 looh…belum yang kedua. Aiden lagi mau coba fanfic multichapter. Hihihi..semoga ga ngbosenin ya.. gomawo uda mau baca! Saranghae readers/?

Silahkan tinggal kan pesaan andaa^^

Iklan

5 pemikiran pada “This Love [Chap 1]

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s