Trade Off chapter 6

chapter 6  copy copy

Title: Trade Off chapter 6

Author: Chubby Kawaii 136 a.k.a CK136

Genre: Straight, Romance, Friendship, Angst, Hurt/Comfort, School life, Fantasy, AU

Rating: Teen

Length: Chaptered

Main Cast: Shim Sekyung (OC) sebagai reader sekalian, Park Chanyeol, Wu Yi Fan a.k.a Kris, Oh Sehun, Oh Hyesun (OC), dan Byun Baekhyun

Disclaimers: Saya pemilik sah alur cerita ini! Don’t copas without permission!

Summary: Trade off, setiap kisah kehidupan pasti memerlukan sebuah pengorbanan untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Baik itu fisik, materi, persahabatan, tali persaudaraan bahkan… cinta.

chapter 1 / chapter 2 / chapter 3 / chapter 4a / chapter 4b / chapter 5

~~~Sekyung POV~~~

Pagi ini terasa berbeda. Meski aku hanya dibonceng Chanyeol oppa seperti biasa, tapi rasanya lain. Jika di hari-hari kemarin, kami hanya seperti seorang teman, tapi sekarang aku merasa lebih. Mungkin karena suatu hal yang sudah dijelaskan orangtua kami kemarin malam. Sebuah rencana besar yang mengubah haluan hidupku.

Aku sempat berpikir, bagaimana jika Chanyeol oppa terlahir sebagai seorang wanita atau aku terlahir sebagai seorang laki-laki? Apa orangtua kami tetap melakukan perjodohan ini? Ok, ini bodoh lupakan saja.

Dan lagi, sebuah pertanyaan besar sekaligus menjadi ketakutan tersendiri untukku. Bagaimana jika Chanyeol oppa mencintai wanita lain? Atau bagaimana jika aku tertarik dengan Kris sunbae lagi atau bisa jadi di masa depan aku bertemu dengan seorang pria dan mencintainya? Huft~ lagi-lagi pemikiran bodoh. Buang itu jauh-jauh, Shim Sekyung!

Hadapi saja kenyataan. Aku yakin perasaan Chanyeol oppa tulus padaku, dan aku juga mulai tertarik padanya. Apa salahnya menjalani hubungan yang didasari oleh sebuah perjodohan? Toh Chanyeol oppa juga dari keluarga baik-baik dan keluarga kami juga sangat dekat.

Sebelah tanganku yang selalu digenggam Chanyeol oppa, terasa hangat dan nyaman. Aku bisa melihat senyumnya dari kaca spion meski terhalangi helm. Setiap kali dengan Chanyeol oppa, waktu terasa berjalan dengan lambat dan menyenangkan.

Kami berhenti di tempat parkir sekolah. Kami saling menatap penuh canggung.

“Jangan ragu untuk memelukku saat berkendara. Karena sekarang kau sudah tahu bahwa kita saling memiliki.” kata Chanyeol oppa.

Tapi walau bagaimanapun sebuah hubungan harus dimulai dari pernyataan cinta. Meski kami dijodohkan, bukan berarti aku miliknya.

“Oppa tidak bilang mencintaiku?” tanyaku.

Chanyeol oppa malah tertawa keras seakan ucapanku tadi lelucon paling lucu yang pernah ia dengar, apa dia pikir aku main-main? Aku serius!

“Haruskah?” tanya Chanyeol oppa penuh ejek. Aku merengut, sedikit marah akibat jawabannya.

Ponsel Chanyeol oppa berdering, ia mendengus ketika melihat nama yang tertera dilayar (meski aku tidak tahu siapa itu).

“Apa, mom?” oh, jadi mommy yang menelpon. Tapi untuk apa? Apa ada barang Chanyeol oppa yang tertinggal?

“Kau lupa minum obat, Yeol. Nanti mommy akan ke sekolahmu untuk mengantarkan obatnya.” bukan bermaksud menguping, tapi aku dapat mendengar perbincangan mereka karena speaker ponsel Chanyeol oppa lumayan keras.

“Tak perlu, mom. Percuma!” Chanyeol oppa mengakhiri perbincangan singkat mereka secara sepihak. Wajahnya terlihat seperti kemarin malam sewaktu mommy bilang menginginkan kami untuk bertunangan.

Rasa penasaranku tentang kesehatan Chanyeol oppa semakin membesar. Mommy kelihatan sangat khawatir dengan kondisi oppa, sedangkan Chanyeol oppa sendiri malah terkesan menyepelekan. Aku ingin sekali tahu dan bertanya apa yang sebenarnya dideritanya, tapi mungkin sekarang bukan saat yang tepat mengingat moodnya yang sedang jelek.

Tanpa sepatah katapun, Chanyeol oppa menarik tanganku pelan. Dia berjalan cepat menuju kelasku dan dengan sedikit kepayahan aku ikut mengimbangi langkah lebarnya.

Di dalam kelas hanya ada seorang wanita yang duduk di sebelah kursiku. Siapa? Apa Sehun mengubah rambut pendeknya menjadi sangat panjang? Atau jangan-jangan… yang dilihat mataku ini adalah makhluk penunggu gedung sekolah?

Aku mendongak untuk melihat perubahan air muka Chanyeol oppa, masih sama tanpa perubahan yang berarti. Mungkin yeoja yang ku lihat memang bukan makhluk sejenis itu.

“Hai~ Chanyeol oppa~” sapa sebuah suara yang berhasil memasuki gendang telingaku dan membuatku kembali melempar pandangan ke dalam kelas. Yeoja yang duduk di sebelah kursiku tadi ternyata bukan Sehun, bukan juga makhluk gaib penunggu gedung sekolah, tapi…

“Hyesun eonnie…” gumamku tak percaya. Mengapa Hyesun eonnie bisa duduk disana lagi? Apa itu artinya… Hyesun eonnie mau berteman denganku lagi? Apa dia sudah memaafkanku?

“Kebetulan sekali, kita sama-sama datang lebih awal ya.” ucap Hyesun eonnie terdengar beribu-ribu kali lebih ramah dari biasanya. Aku memastikan bahwa ini bukan sebuah mimpi atau imajinasi liarku dengan menampar kecil pipiku hingga terasa sakit. Sakit? Berarti semua ini kenyataan! Tapi… mungkinkah Hyesun eonnie berubah baik secepat ini?

“Jangan sok bertingkah manis dihadapanku!” ketus Chanyeol oppa. Benar juga, Chanyeol oppa masih setia disampingku bahkan menggenggam tanganku erat.

Hyesun eonnie bangkit dari duduknya, menimbulkan suara decitan kecil karena pertemuan antara kaki kursi dan lantai. Ia berjalan mendekatiku, “Aku ingin meminta maaf atas semua perbuatan tercelaku, aku kalap hanya karena seorang pria dan berani memutus persahabatan kita. Aku mohon belas kasihanmu untuk memaafkanku, Kyungie.” Kyungie, sebuah nama panggilan yang sangat aku rindukan.

Matanya terus menghipnotisku untuk mengucapkan kata, “Ya, aku memaafkanmu, eonnie.” sebuah senyum manis yang selalu aku puji tercetak jelas dibibir Hyesun eonnie. Aku senang, jika Hyesun eonnie benar-benar menyadari kesalahannya.

Sebuah tangan besar menepuk bahuku lumayan keras, “Jangan membual sepagi ini, Hyesun! Kau pikir aku akan tinggal diam jika kau membuat Sekyungie terluka lagi?” Chanyeol oppa berbalik, “Ayo pergi ke kelasku dulu, nanti jika sudah banyak siswa baru aku antar kau ke kelasmu lagi.”

Aku melihat perasaan kecewa tercetak jelas diwajah Hyesun eonnie, “Chakkaman, oppa. Mungkin Hyesun eonnie benar-benar menyesal. Kami sudah berteman semenjak kecil dan aku tahu betul Hyesun eonnie tidak pandai berbohong.”

Chanyeol oppa nampak tidak suka, wajahnya semakin terlihat berkerut-kerut marah, “Jadi maksudmu kau lebih mempercayai dia dari pada aku? Apa kau masih ingin memberi penghianat itu kesempatan kedua?”

“Bukannya aku tidak mempercayaimu, sungguh. Tapi…”

“Tapi apa?” Chanyeol oppa menghempaskan tanganku kasar. Aku menatapnya tak percaya. Kelakuannya sudah diluar batas toleransiku. Rasanya sakit, oppa! Aku tidak peduli jika nanti ratusan siswa di sekolah ini melihat mata bengkakku, karena aku sudah tidak bisa menahan airmata kesakitan ini. Ini pertama kalinya Chanyeol oppa bertindak kasar padaku, dan aku harap juga akan menjadi yang terakhir kalinya.

Chanyeol oppa tersadar. Dia kaget dan menghapus airmataku yang terlanjur jatuh, “Maafkan aku. A… aku… aku terlalu… hhh~ akhir-akhir ini aku banyak pikiran. Maafkan aku, maaf.” tangan besarnya merengkuhku dan terus membisikan kata maaf.

Aku merenggangkan pelukan kami, “Gwanchana, aku hanya terkejut saja dan reflek menangis.” ujarku bohong demi menenangkan Chanyeol oppa dan tidak ingin membuatnya merasa bersalah.

Pandangan tajamnya menatap Hyesun eonnie lagi, “Kau yakin akan keputusanmu untuk memaafkannya?” tanya Chanyeol oppa yang langsung aku angguki, “Baiklah jika itu keputusanmu. Jaga dirimu baik-baik, jika terjadi sesuatu yang membuatmu terluka langsung saja hubungi aku. Ponselku selalu aktif untukmu.” Pria ini sepertinya belum percaya juga. Tapi tak apa, mungkin karena Chanyeol oppa benar-benar mencemaskanku karena dia… mencintaiku.

“Aku jamin tidak akan terjadi hal-hal seperti itu lagi. Percayalah.” ucapku kembali meyakinkannya.

Chanyeol oppa benar-benar melepaskan pertautan jemari kami dan melenggang pergi ke kelasnya sendiri.

Aku memberanikan diri untuk masuk kelas. Hyesun eonnie menyambut dengan sebuah senyuman, “Aku pikir kau pergi dengan Chanyeol oppa karena dia tidak mempercayaiku.” ucapnya sedih meski senyumnya tidak luntur.

Aku menggeleng, “Chanyeol oppa percaya padamu, eonnie. Mungkin hanya perlu sedikit bukti lagi. Dia memang keras kepala.” candaku. Aku kembali melihat mata bulan sabitnya ketika tertawa, aku sangat merindukan moment seperti ini. Semoga saja ini bukanlah mimpi sesaat ataupun kebohongan belaka, semoga saja.

“Aku yakin pada eonnie.” imbuhku.

“Jadi sekarang kita berteman?” tanyanya sembari mengangkat jari kelingkingnya.

Aku melingkarkan jari kelingkingku pada jari kelingking Hyesun eonnie, “Tentu, teman.”

==========Trade Off==========

~~~Hyesun’s Special POV~~~

Aku dan Sekyung menonton latihan basket bersama. Chanyeol… namja itu tidak pernah melepaskan pandangannya dari Sekyung. Sekyung juga tak bergerak seinchipun, ia terlihat melamun sembari tersenyum, membayangkan Chanyeol oppa mungkin.

“Hey~ lihat, Kris sunbae melihat kemari.” ucapku.

Sekyung kelihatan biasa saja, apa dia sudah tidak memiliki rasa dengan Kris sunbae?

“Mungkin hanya kebetulan saja.” jawab Sekyung sekenanya dengan senyum bodoh yang semakin ku benci. Ya, aku membencinya! Dan tidak akan pernah ada yang bisa mengubahnya! Kecuali orang itu menyerahkan Chanyeol oppa padaku!

Aku sangat merasa tertolong akan sikap bodoh dan polosnya. Chanyeol oppa benar, aku berbohong. Dan aku rasa aktingku sangat bagus, mungkin seharusnya aku mendaftar ke agensi aktris.

“Kau yakin? Tapi aku melihat mata Kris sunbae tertuju padamu.” tambahku masih berusaha membuat perhatiannya teralih dari Chanyeol oppa.

Kali ini aku tidak berbohong, Kris sunbae memang melihat kemari. Dia tersenyum, entah kepada siapa.

“Aku belum menceritakan hal penting tentang aku dan Chanyeol oppa.” kata Sekyung terlihat begitu serius. Aku mulai kehilangan senyumanku. Apapun yang ia katakan aku harus siap. Jangan sampai aku merusak rencanaku yang sudah berjalan sejauh ini.

“Apa itu?”

“Orangtua kami sudah menjodohkan kami sejak mereka berteman dekat, mungkin sebelum mereka menikah. Aku harap eonnie mengerti dan tidak marah lagi padaku.”

Oh… My… God… apa yang yeoja pabbo ini tadi katakan ?! Dijodohkan! Dengan… Chanyeol oppa?!! Demi seluruh darah yang mengalir ditubuhku!!! Aku bersumpah tidak akan membiarkan perjodohan mereka berjalan lebih lama lagi!

“Oh… selamat. A… aku ikut senang mendengarnya.” aku mencoba mengontrol amarah, walaupun jawaban yang keluar dari mulutku hanya kata-kata yang terkesan kaku.

Chanyeol oppa masih melihat kemari, aku harus bersikap semanis mungkin dihadapan Sekyung agar Chanyeol oppa tidak mencurigaiku.

“Emh, bagaimana jika nanti sore kita pergi ke café untuk merayakan persahabatan kita yang rujuk kembali, setuju?”

“Ok, apa Chanyeol oppa boleh ikut?”

“Tentu saja.” karena itu yang sebenarnya aku inginkan.

==========Trade Off==========

Aku datang bersama Sehun. Sedikit susah untuk membujuknya ikut serta namun berkat sedikit penekanan akhirnya sepupuku yang juga bodoh ini bisa diluluhkan.

“Sebenarnya untuk apa kita kemari, Hyesun?” ocehnya.

“Cukup diam dan nikmati saja pertunjukannya!” dahinya berkerut bingung, “Bukankah kata-kataku tadi cukup mudah untuk dicerna otakmu, heum?” Sehun mendengus dan memalingkan mukanya.

Sekyung datang bersama Chanyeol oppa, aku benci melihat tangannya selalu menggandeng Chanyeol oppa. Aku berusaha tersenyum secantik mungkin, tapi Chanyeol oppa malah melirikku tajam. Ada yang salah dengan dandananku? Apa aku terlalu cantik?

Sekyung duduk disampingku diikuti Chanyeol oppa yang duduk di sebelah Sekyung.

“Kalian sudah lama menunggu?” tanya Sekyung sok lembut. Cih!

“Belum, kami juga belum lama datang. Pelayan!”

Seorang namja dengan seragam pelayan café mendekati meja kami, “Kalian boleh pesan apa saja, kali ini aku yang traktir.” tawarku. Sekyung terlihat begitu antusias.

“Aku pesan satu vanilla latte.” teriak Sekyung semangat.

“Aku juga.” timpal Chanyeol oppa. Jadi dia juga suka vanilla latte, heum~ lain kali akan aku bawakan oppa.

“Aku ingin orange jus saja.” tutur Sehun.

“Tumben tidak pesan bubbletea?” bingungku, ada yang aneh dengannya. Dia tidak terlihat memandang Sekyung penuh harap seperti dulu.

Bubbletea bukan minuman yang tepat untuk saat seperti ini.”

“Terserah kau sajalah. Emh, aku pesan green tea satu ya.” menyerahkan kembali daftar menunya.

Seorang namja berlari memasuki café, dengan terengah ia berucap, “Dua…”

“Kris sunbae?” tanyaku bingung entah pada siapa.

“Kris sunbae juga ikut oppa?” tanya Sekyung pada Chanyeol oppa. Chanyeol oppa mengangguk sekilas.

Dengan seenak jidat Kris sunbae menyeret kursi disampingku dan mendudukinya, “Aku juga pesan green tea dengan es yang banyak, tolong cepat!” ributnya.

Dasar menyebalkan! Seharusnya Chanyeol oppa yang duduk disampingku! Bukan dia!

Tak berapa lama pesanan kami datang. Kami berbincang penuh tawa, aku juga ikut tertawa meski sebenarnya isi dari percakapan ini sangat membosankan. Chanyeol oppa selalu tertawa keras ketika Sekyung berceloteh. Apa dia juga menyukai Sekyung? Tidak, tidak boleh!

Yang paling aktif diantara kami hanya Chanyeol oppa dan Sekyung, seakan dunia ini hanya milik mereka berdua. Jangan-jangan mereka berdua saling jatuh cinta? Oh~ itu kiamat namanya!

Kali ini Sehun yang menjadi pembicara, Sekyung menyangga kepalanya bosan dan aku masih tidak bergeming dari wajah tampan Chanyeol oppa. Sayangnya, sepasang mata indah itu tidak melihatku, mungkin tidak pernah. Aku melihat jelas dari tempatku duduk bahwa yang terlihat dari pantulan bola matanya hanya Sekyung. Sial!

Aku semakin kesal dengan kemesraan yang Sekyung dan Chanyeol oppa buat. Aku mencoba mencari arah pandangan lain, dan yang aku temukan adalah… Kris sunbae ternyata diam-diam mencuri pandang padaku. Matanya terlihat membesar begitu mengetahui dirinya tertangkap basah. Aku kembali memfokuskan diri pada Chanyeol oppa, untung saja tidak ada yang melihatnya selain aku.

Hari sudah semakin sore dan kami memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Sehun pulang dengan subway, sedangkan Sekyung diantar Chanyeol oppa (aku muak melihat adegan ini setiap harinya!). Aku masih berdiri di tepi jalan untuk menunggu taxi lewat. Sedikit jenuh karena sudah lebih dari lima belas menit aku menunggu tanpa kepastian.

“Mau aku antar pulang?” sebuah suara besar mengusik kejenuhanku.

“Kris sunbae… belum pulang?”

“Niatnya ingin pulang tapi aku melihatmu masih disini jadi tidak ada salahnya menawari tumpangan.” aku mengangguk mengerti.

“Ayo naik ke mobil, aku antar pulang.”

Aku duduk disamping kursi kemudi, persis seperti impian Sekyung yang pernah ia harapkan. Duduk disamping Kris sunbae yang sedang menyetir. Tapi kenapa aku yang mengalaminya? Kenapa bukan Sekyung saja? Kenapa Sekyung malah bersama Chanyeol oppa yang seharusnya untukku? Ah~ takdir terlalu rumit untuk dipahami!

“Aku tahu kau menyukai Chanyeol.” ujar namja disampingku dengan tegas. Matanya masih terfokus dengan jalanan didepannya, “Percuma jika kau mengharapkan Chanyeol membalas cintamu, karena dia hanya mencintai Sekyung seorang.” dari mana dia tahu jika aku menyukai Chanyeol oppa? Apa semua siswa di sekolah juga sudah tahu?

“Kau sunbae ku, jadi aku masih menghormatimu. Tolong diam dan berhenti ikut campur urusan pribadiku.”

“Pria sejati tidak akan membiarkan wanitanya menangisi dan mengharapkan cinta pria lain.”

“Maksud sunbae apa?”

“Aku menyukaimu.”

Deg~ deg~ deg~

Mendadak jantungku berlomba, apa yang Kris sunbae ucapkan sungguh diluar perkiraanku. Aku pikir dia menyukai anggota cheerleader lain, atau mungkin yeoja sejenis Sekyung.

“Seperti yang sudah pernah aku katakan ketika kita berjumpa di toko buku, mencintai tidak harus memiliki. Kau boleh mencintai Chanyeol karena itu hakmu, namun kau tidak boleh memiliki Chanyeol karena dia hanya milik Sekyung.” imbuhnya.

“Bagaimana jika suatu saat Chanyeol oppa bisa aku dapatkan dan ternyata ia memang milikku?”

“Aku tidak yakin, karena Chanyeol berjanji hanya akan jatuh cinta satu kali dan cinta pertama sekaligus terakhirnya adalah Sekyung.”

Aku memalingkan wajahku kesal, “Bukankah sunbae bilang tadi menyukaiku? Bagaimana jika aku menolak sunbae dan lebih memilih untuk terus memperjuangkan cintaku pada Chanyeol oppa?” tanyaku berniat menjebaknya.

“Tak apa jika itu keputusanmu, karena cinta tidak bisa dipaksakan. Semakin kau memaksanya, semakin dia menjauhimu.” sial, kata-katanya malah terasa menancap dihatiku.

“Rumahmu yang bercat hijau kan?” aku mengangguk tetap melihat keluar kaca.

Mobil Kris sunbae berhenti, di halaman rumah Sekyung nampak seorang ibu rumah tangga yang belum pernah aku lihat tengah bertengkar kecil dengan Chanyeol oppa. Aku membuka pintu mobil dan turun.

“Terimakasih atas tumpangannya, sunbae.”

“Tentu, jika perlu aku akan mengantarmu ke sekolah setiap harinya seperti yang dilakukan Chanyeol pada Sekyung. Tidur yang nyenyak, annyeong.”

Aku melangkah masuk sambil mengingat ulang apa saja yang Kris sunbae ucapkan padaku tadi. Entah kenapa ucapannya terasa lebih bernalar dan aku tidak bisa memungkiri bahwa itu terlihat lebih nyata, seakan-akan Kris sunbae mengkritik tindakanku. Apa yang aku lakukan untuk merebut Chanyeol oppa dari Sekyung akan berakhir sia-sia?

==========Trade Off==========

~~~Sekyung POV~~~

Aku mengintip lewat kaca, Chanyeol oppa sedang marah karena terus-menerus dipaksa minum obat oleh mommy. Sebenarnya obat apa itu?

“Kau kabur saat diterapi kan?” tanya mommy masih berusaha lembut.

“Sudah aku bilang, percuma mom! Tidak akan ada hasilnya! Aku hanya akan merepotkan dan menghabiskan uang yang sudah susah payah dikumpulkan mommy dan daddy!” nada bicara Chanyeol oppa meninggi. Kenapa kedengarannya sakit yang diderita Chanyeol oppa cukup parah? Aku kembali bertanya-tanya dan dirundung rasa takut. Bagaimana mungkin namja seceria dan sekuat Chanyeol oppa bisa jatuh sakit?

“Tapi kata dokter Kevin…”

“Mommy lebih percaya ucapan dokter Kevin atau takdir Tuhan?” Chanyeol oppa meringsut, tubuhnya seperti lemah dan tak kuat lagi menahan beban. Tangannya memegangi kepalanya kuat-kuat, seakan merasakan kesakitan yang amat sangat.

Mommy terlihat panik dan berusaha membopong tubuh tinggi Chanyeol oppa ke dalam. Aku segera membantu mommy dan membaringkan Chanyeol oppa di sofa ruang tamu. Hidungnya mengeluarkan darah yang tidak sedikit.

Mommy mengusap kasar airmatanya, “Dasar anak nakal, tidak mau menuruti omongan orangtua!”

Aku ingin bertanya pada mommy, ‘Sebenarnya Chanyeol oppa sakit apa?’ tapi tidak sampai hati untuk mengucapkannya.

Aku memilih mengambil bantal dan tissue untuk membersihkan darah Chanyeol oppa.

Mommy setia menunggui Chanyeol oppa dan menggenggam tangannya erat-erat seolah mommy takut Chanyeol oppa akan pergi jauh.

Aku duduk di samping mommy dan menatap lekat wajah damai Chanyeol oppa, matanya tertutup rapat. Sebenarnya aku juga ingin menangis karena khawatir, tapi tidak boleh karena mommy bisa semakin sedih melihatnya. Cukup Chanyeol oppa saja yang membuat mommy khawatir, aku tidak boleh menambahi beban pikiran mommy.

“Apa sebaiknya Chanyeol oppa dibawa ke rumah sakit saja, mom?”

Mommy menolak usulku dengan gelengan halus, “Chanyeol sangat membenci rumah sakit. Chanyeol hidup di rumah sakit lebih lama daripada di rumahnya sendiri. Chanyeol bilang, jika Chanyeol berada di rumah sakit maka yang ia lihat hanya orang-orang yang menangis sedih karenanya. Oleh sebab itu Chanyeol sangat benci ke rumah sakit, apapun alasannya.”

Aku sedikit tercengang mendengar realita hidup Chanyeol oppa yang diungkapkan mommy. Itu berarti sakit yang diderita Chanyeol oppa sudah lama bersarang. Apa penyakit itu parah? Apa bisa disembuhkan?

“Tunggu sebentar, mommy ambil obat Chanyeol dulu, tolong kau jaga dia.” aku mengangguk.

Ku pandangi wajahnya yang semakin memucat sembari membersihkan darah di hidungnya yang belum berhenti mengalir.

Alisnya bergerak perlahan, jemarinya juga terasa bergetar. Perlahan Chanyeol oppa membuka matanya dan mengerjap.

“Sekyung?” tanyanya dengan suara serak.

“Oppa sudah merasa baikan?” tanyaku memastikan.

Chanyeol oppa merebut tissue dari tanganku dan bangkit untuk duduk di sofa, sebelah tangannya ia gunakan untuk memegangi kepalanya. Dahinya berkerut menahan sakit.

“Aku panggilkan mommy ya.”

Aku baru saja bangkit berdiri, tapi tangan Chanyeol oppa menahanku, “Tidak perlu, cukup duduk dan temani aku disini.” tangannya menuntunku untuk duduk disampingnya. Aku menurutinya.

Perlahan kepalanya ia sandarkan ke bahu sempitku. Nafasnya mulai terdengar teratur. Apa Chanyeol oppa tidur? Dengan sangat lembut aku memindahkan kepalanya agar lebih nyaman.

“Jangan pernah tinggalkan aku!” o o, ternyata Chanyeol oppa belum tidur.

“Tidak akan pernah.” ucapku mantap.

“Yaksok?”

“Ya, ne yaksok.”

Mommy berlari ke ruang tamu dengan kotak obat besar. Bau obat langsung menusuk hidung.

“Astaga,Yeollie. Kau sudah sadar? Bagaimana rasanya? Apa sakitnya sudah mendingan?” ribut mommy khawatir.

Chanyeol oppa memelukku posesif, “Aku sudah sehat, mom. Karena obatku ada disini.” aku tersenyum malu.

“Masih sempat-sempatnya kau menggombal! Mommy tanya serius!”

“Aku juga serius, mom. Aku tidak apa-apa.”

“Ya sudah. Kalau begitu minum obatnya.” mommy menyodorkan tiga botol kecil berisi obat yang berbeda bentuk, warna dan ukuran.

“Tidak mau!”

“Sekyung, bantu mommy!” gawat! Aku terperangkap di perang antara ibu dan anak.

Chanyeol oppa menggeleng sementara mommy memberiku tiga botol obat tadi. Karena mommy lebih dituakan, jadi dengan terpaksa aku menerima botol obat dari mommy.

“Pastikan Chanyeol meminum ketiganya, mommy percayakan Chanyeol padamu, Sekyung.”

Aku menelan ludah kasar, kenapa jadi aku yang sepertinya bertanggung jawab atas semua ini?

“Oppa~”

“Jangan harap aku akan meminumnya, Sekyungie. Tidak akan! meski kau yang memintanya!”

“Tapi… aku ingin oppa cepat sembuh.” ucapku memelas.

“Aku beri tahu kau satu hal, Sekyungie.” Chanyeol oppa mengangkat kepalanya dan memandangku tajam, “Percuma! Percuma aku meminum obat itu, tidak akan ada reaksi yang berarti. Kau mengerti aku kan, chagi?” a… apa dia bilang? Chagi? Chanyeol oppa memanggilku chagi?

“Ta… tapi jika mommy tahu…”

“Aku yang akan menjelaskan.” Chanyeol oppa menarik tengkukku, aku segera menutup mata karena gugup. Inikah second kiss kami???

Jawabannya, iya. Meski hanya dikening. Perlahan-lahan Chanyeol oppa menarik tubuhku untuk ikut berbaring disampingnya.

“Aku mengantuk, temani aku tidur ya?” pintanya yang tidak bisa aku tolak.

Chanyeol oppa memelukku erat dan mulai menutup mata. Tak berapa lama terdengar hembusan nafas yang teratur serta dengkuran halus.

Sebenarnya apa yang terjadi pada Chanyeol oppa? Tuhan, apapun yang Engkau rencanakan dimasa depan. Aku mohon, buat Chanyeol oppa bahagia.

~~~~~TBC~~~~~

Mind to review??? ~^.^~ salam squid

Iklan

13 pemikiran pada “Trade Off chapter 6

  1. Sebelumnya mau bilang mian ama authornya baru komen skrang, tp aku suka bgt ama ff ini thor, apalagi pemerannya Chanyeol oppa hehee
    Tp semoga aja ini happy ending ya, takut bgt ps tau chan oppa sakit, udah kepikiran mcem2 dan sad ending, tp aku msh berharap ini bakalan happy ending ya thor .. Jebal 😦

    Suka

  2. Makin penasaran authornim sama penyakit Chanyeo. Aku kangen Baekhyun, dulu aku kira pasangan akhir Sekyung itu Baekhyun walapun Baekhyun cuman imanjinasi Sekyung. Seperti biasa aku harap ceritanya happy end. Fighting authornim.

    Suka

    • “entah kenapa tapi aku lebih suka kalo bias aku bukan sebagai pemeran utama ._. aneh ya? Semacam nggak ikhlas mungkin *aduh jadi curhat*
      makasih udah selalu rcl ~^.^~ chapter depan baekhyun muncul kok c: mampir ke blog aku ya 🙂

      Suka

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s