When I Can’t Sing (Ficlet)

IMG_20140706_210317

BYoon presents

✘ When I Can’t Sing ✘

Starring by EXO’s Chen and IU

Genre: AU, Angst, Romance | Rating: T | Length: Ficlet

Attention! This story is mine but all cast belongs to God. Don’t copycut and plagiat without permission! Sorry for typo and bad story.

Credit poster: ARin Yessy @Poster Channel

Inspired by song Se7en-When I Can’t Sing

Silent readers? Go away, please!

₪₪₪

 

Apakah kau tahu bahwa diriku di layar kaca bukanlah segalanya?

Apakah kau tahu bahwa kepercayaan diriku yang berlebih membuatku semakin khawatir?

Berdiri dibawah kilauan cahaya lampu, ada sebuah bayangan orang bodoh dibelakangku

 

Butir demi butir salju berguguran dari balik langit hitam kelabu. Tak ada satupun bintang yang nampak pada langit malam ini. Begitu pula dengan sinar rembulan yang akhir-akhir ini kerap bersembunyi dari singgahsananya. Angin yang berhembus cukup kencang menyentuh permukaan kulitku. Lantas kurapatkan mantel yang membalut tubuhku seraya memasukkan kedua tanganku ke dalam saku. Musim dingin telah berlangsung selama seminggu, namun entah mengapa aku baru menyadarinya kali ini.

Hanya segelintir kendaraan yang berlalu lalang pada jalan raya, bahkan aku dapat menghitungnya dengan jemariku. Aku menghela nafas dengan berat. Sudah berapa lama aku tak menyetir mobil pribadiku? Rasanya aku telah mengurung mobil usang itu di garasi selama satu tahun lamanya. Kurasa benda itu tak dapat kukendarai lagi.

Kubenahi letak masker hitam yang membalut separuh batang hidungku serta bibirku. Begitu pula dengan topi yang melindungi helai-helai rambutku dari butiran salju. Angin malam selalu berhembus kencang setiap menitnya. Aku yakin sekali bila esok hari badai salju akan menjadi liputan hangat di sejumlah stasiun televisi. Ah, mengenai televisi, sudah berapa lama aku tak menggunakannya? Seluruh perabot di rumahku pun rasanya jarang sekali tersentuh olehku. Lagipula aku hanya mengunjungi rumah sekali dalam sebulan. Entah bagaimana rupa perabot-perabot itu saat ini.

Kerumunan gadis yang berada tak jauh di hadapanku sedikit mengusik rasa penasaranku. Mereka berdiri menghadap sebuah etalase toko seraya menggumamkan sesuatu.

“Menurutku dia akan bersaing dengan Byun Baekhyun”

Kuhentikan langkahku tepat di belakang kerumunan gadis yang kini berdiri memunggungiku. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, namun aku dapat mendengar nama yang tidak asing di gendang telingaku.

“Kau tahu, esok lusa mereka akan berada di atas panggung yang sama!”

“Sungguh? Esok lusa?”

Sepertinya aku mulai mengetahui arah pembicaraan mereka.

“Ya, dan kudengar, penggemar Kim Jongdae kini telah beralih mengidolakan Byun Baekhyun!”

Tidak salah lagi, mereka membicarakanku.

“Tentu saja, Baekhyun memiliki suara yang jauh lebih indah daripada Jongdae”

“Tidak hanya suara yang indah, Baekhyun pun memiliki paras yang sangat tampan!”

“Dia seperti masih muda saja, padahal usianya setahun lebih tua dari Jongdae”

“Aku sangat yakin bila karir Baekhyun akan menanjak tahun ini”

“Benar sekali. Ia akan menggusur Jongdae dari tahtanya”

Kukepalkan kedua tanganku dengan kuat. Lantas aku menunduk seraya melangkahkan kakiku meninggalkan kerumunan itu. Seharusnya aku tidak berada di sana. Seandainya saja aku tidak mengetahui apa yang mereka bicarakan. Namun kalimat-kalimat itu terlanjur tersimpan di dalam memori otakku. Bahkan masih mendengung tepat pada gendang telingaku.

Selembar sobekan surat kabar tergeletak tepat di hadapanku. Aku menyimak artikel pada surat kabar itu dengan jeli. Wajah seorang lelaki nampak memenuhi sampul lembaran itu. Gambar seorang lelaki yang tengah menggenggam mikrofon. Wajahku, wajahku terpampang jelas di sana. Disertai dengan beberapa buah kalimat bercetak tebal di bawahnya.

Popularitas ‘Kim Jongdae’ Tergusur oleh Kehadiran ‘Byun Baekhyun’

Kualihkan pandanganku ke arah tong sampah di sisi jalan. Benda berwarna kelabu itu nampak telah berkarat dan sudah tak layak lagi. Seluruh orang berlalu lalang di hadapannya setiap detiknya, namun tak ada satupun yang memerhatikan bagaimana kondisi benda itu. Teracuhkan oleh setiap khalayak, seolah menganggap benda itu hanyalah pajangan kota semata, atau bahkan tak menganggap keberadaannya sama sekali. Apakah aku akan menjadi seperti tong sampah itu?

Sayup-sayup lonceng menguggah lamunanku. Seorang gadis bersurai sebahu muncul dari balik pintu toko yang berada tak jauh di hadapanku. Ia memeriksa sesuatu di dalam kantong plastik yang ia genggam. Gadis bertubuh mungil itu nampak tak asing di kedua mataku, Lee Jieun. Baru saja aku hendak mengangkat sebelah tanganku seraya menyerukan nama gadis itu, namun seorang lelaki yang turut muncul dari balik pintu toko membuatku mengurungkan niat untuk memanggil gadis tersebut.

Lelaki berperawakan jangkung itu merangkul bahu Jieun seraya menuntun gadis itu menuju mobil yang terparkir di sisi jalan. Raut wajah Jieun nampak begitu bahagia. Bahkan ia sama sekali tak menepis rangkulan lelaki itu. Jieun terlihat begitu nyaman bersamanya.

Sepersekian detik berikutnya, mereka telah lenyap dari balik pintu mobil. Aku memandang sayu kepada mobil hitam yang kini melaju meninggalkanku itu. Kuturunkan sebelah tanganku yang semula terangkat dengan perlahan.

Apakah alasan Jieun menolak tawaran makan malam hari ini hanya untuk lelaki itu? Mengapa ia tak mengutarakan yang sejujurnya saja kepadaku? Beberapa hari ini ia sedikit menjaga jarak dariku, apakah ini juga karena lelaki itu? Mengapa semua nampak begitu berbeda? Apakah, ini semua karena kabar mengenai popularitasku yang semakin menurun?

₪₪₪

 

Suatu hari nanti, akan tiba waktunya

Aku akan turun dari panggung ketika sorakan itu mulai berkurang

Seandainya pundakku mulai tak berdaya

Kepalaku mulai tertunduk

Akankah kau tetap berada di sisiku?

 

Lengkingan suara Baekhyun yang menggema di setiap sudut ruangan membuatku bergidik. Alunan nada yang menggebu-gebu itu sangat sepadan dengan irama yang Baekhyun lantunkan. Menciptakan keharmonisan yang dapat memikat hati siapapun yang mendengarnya. Aku dapat melihat lelaki itu dari celah tirai merah di hadapanku. Beberapa buah lampu menyorotinya di atas panggung Sayup-sayup sorakan serta tepuk tangan mendominasi tatkala Baekhyun mengakhiri lagu yang ia lantunkan. Sangat meriah.

Baekhyun melangkahkan kakinya meninggalkan panggung. Ia menyibak tirai merah itu. Langkahnya sempat terhenti begitu menyadari keberadaanku. Lantas ia tersenyum sinis.

“Aku menunggu penampilanmu, Kim Jongdae”, ucap Baekhyun seraya melipat kedua tangannya di depan dada.

Aku hanya menanggapi ucapan Baekhyun dengan senyum tipis. Meskipun semua orang menganggap ia adalah rivalku, namun aku sama sekali tak menganggap serius hal itu. Kami memang harus bersaing dalam dunia tarik suara, namun bukan berarti hal ini kujadikan sebagai ajang untuk saling menggusur popularitas.

“Aku akan bernyanyi sebaik mungkin”, tuturku sebelum meninggalkan Baekhyun di belakang panggung.

Dapat kurasakan atmosfer yang berbeda tatkala kujejakkan kedua kakiku tepat di tengah panggung. Seluruh hadirin sama sekali tak mengeluarkan suara sekecil apapun. Mereka memandangku, menunggu reaksiku selanjutnya. Lantas aku merekahkan senyum seraya membungkukkan tubuhku di hadapan mereka. Manik mataku menangkap sosok Jieun di deretan kursi terdepan. Ia melayangkan senyum malaikatnya kepadaku. Menggugah semangat yang tersembunyi dalam diriku. Ia hadir untuk malam ini.

Alunan nada pembuka mulai mendominasi. Kuraih mikrofon yang bertengger tepat di hadapanku. Lampu putih itu menyorotiku, seolah membuatku nampak begitu bersinar. Aku akan menunjukkan kemampuan bernyanyiku. Aku dapat melakukannya.

Kulantukan bait demi bait lagu dengan menyesuaikan nada. Sesekali aku menggunakan nada yang begitu rendah dan tak jarang pula kulengkingkan suaraku. Kupejamkan kedua kelopak mataku, meresapi suasana serta arti tersirat akan lirik lagu yang kulantunkan. Selalu seperti ini, terlarut dalam alam imajinasiku sendiri.

Kuakhiri alunan lagu dengan nada rendah. Tak seperti yang sudah-sudah. Kini, aku hanya dapat melihat segelintir orang saja yang menepukkan kedua telapak tangannya. Seluruh pasang mata memandangku dengan tatapan yang sulit kudefinisikan. Seolah menyuruhku agar segera menyingkir dari panggung ini. Salah seorang hadirin menyerukan sorakan kepadaku. Memicu sorakan-sorakan lain yang saling sahut menyahut. Bukan sebuah sorakan bangga, melainkan sorakan yang merendahkan. Mereka memamerkan rasa ketidaksukaan itu di hadapanku.

Kugenggam mikrofonku dengan erat. Sorakan itu mendengung hebat pada gendang telingaku. Aku tak pernah membayangkan hal ini sebelumnya, meskipun aku mengetahui semua ini akan terjadi cepat atau lambat. Kudapati sosok Jieun yang hanya terdiam mematung. Ia memandangku dengan tatapan–kecewa. Nampak jelas pada guratan wajahnya yang cukup menyayat hatiku.

Lantas aku membungkukkan tubuh sebelum pada akhirnya melangkah meninggalkan panggung dengan kepala tertunduk. Mungkin ini adalah penampilanku untuk terakhir kalinya. Atau ini adalah awal dari keterpurukanku.

Kusibak tirai merah di hadapanku. Kehadiranku disambut oleh tepuk tangan Baekhyun yang nampak melecehkan. Ia menghampiriku seraya menepuk bahuku dengan tatapan mengejek.

“Maafkan aku, sepertinya penggemarmu lebih menikmati penampilanku daripada penampilanmu, Kim Jongdae”, bisik Baekhyun.

Ia sempat tersenyum sinis sebelum melangkah memunggungiku. Kualihkan pandanganku pada mikrofon yang kugenggam. Satu-satunya alasan mengapa aku tetap bertahan. Aku selalu mendambakan untuk bernyanyi di hadapan setiap orang bersama alat ini. Ambisiku yang kini terkabul. Akan tetapi, apakah aku harus mengubur semua yang telah kuraih saat ini juga?

₪₪₪

 

Kau berkata bahwa kau mencintaiku, tapi apakah orang yang kau cintai itu benar-benar diriku?

Kau berkata bahwa kau jatuh cinta padaku, tapi apakah orang yang membuatmu jatuh cinta itu benar-benar diriku?

Ketika kau dipelukku, memandangiku

Aku ingin menanyakan semua ini padamu

 

Kujejakkan kakiku pada rerumputan. Kuedarkan pandanganku ke segala penjuru. Taman kota nampak begitu lengang, hanya ada segelintir pasangan saja yang saling bercengkrama di setiap sudut. Jika tidak karena Jieun, mungkin aku tak perlu repot-repot untuk bertandang ke mari di malam yang sangat dingin ini. Gadis itu ingin menemuiku. Aku tidak tahu apa yang akan ia rencanakan. Aku hanya menyanggupi permintaannya tanpa menanyakan alasan sedikit pun. Lagipula, aku pun ingin menanyakan suatu hal kepadanya.

Naluriku memboyongku menuju ke tepi danau. Entah mengapa aku merasa begitu nyaman memandang air tak beriak itu. Rasanya ingin sekali aku menceburkan diri ke dalam sana. Mungkin aku akan mati beku hanya dalam hitungan detik. Hah, lucu sekali. Akhir-akhir ini aku selalu membayangkan apa yang akan terjadi bila suatu saat nanti diriku tak dapat lagi menghirup udara, apakah ada seseorang yang tetap mengingatku?

“Bukannya aku sudah menyuruhmu untuk menunggu di kursi taman?”

Suara lembut itu membuyarkan lamunanku. Entah sejak kapan Jieun sudah berdiri tepat di sampingku. Ah, parasnya nampak begitu bersinar, atau ini hanya perasaanku saja?

“Sesekali aku menginginkan suasana yang berbeda”, ucapku seraya tersenyum tipis.

Jieun mengangguk paham. Namun tak lama, ia memandangku lamat-lamat. Salah satu alisnya terangkat.

“Kau tidak mengenakan topi atau masker untuk menyamar?”, tanya Jieun.

Aku hanya terkekeh pelan. “Untuk apa? Lagipula tak akan ada yang mengerubungiku untuk meminta secoret tanda tangan. Apa kau lupa bila aku sudah tak memiliki satu pun penggemar?”

“Jangan berkata seperti itu. Apa kau tidak menganggapku sebagai penggemarmu?”, ujar Jieun.

Aku hanya terdiam. Apakah benar kau mengagumiku? Apakah benar kau adalah penggemarku satu-satunya? Apakah aku dapat mempercayai ucapanmu?

“Ah, sudahlah. Bagaimana jika kita berkencan ke tempat karaoke seperti biasa? Aku sudah memesan ruangan dan makanan kecil sore tadi”

Gadis itu tersenyum sekilas sebelum menggenggam sebelah telapak tanganku.

“Tidak perlu”, ucapku datar.

Terlihat beberapa kerutan pada dahi Jieun. Ia memandangku dengan tatapan penuh tanya.

“Mengapa? Apa kau sakit?”, selidik Jieun.

“Aku tidak ingin bernyanyi”, tuturku.

Sekarang Jieun memandangku tak percaya.

“Kau ini kenapa? Apa sesuatu yang buruk sedang menimpamu? Atau perlu kubatalkan saja kencan ke karaoke hari ini dan kuganti di hari yang lain?”

Aku menggeleng pelan. “Aku tidak ingin bernyanyi, Lee Jieun. Untuk selamanya”

Jieun memandangku dengan wajah terkejut. “Ada apa denganmu, Jongdae? Aku benar-benar tidak mengerti”

Kuhela nafasku dengan berat. Lantas aku menyentuh kedua bahu Jieun. Memandang kedua manik matanya dengan lekat. Pandangan itu, sangat teduh.

“Ada suatu saat dimana aku memiliki titik jenuh. Popularitasku, semua itu sudah tak berarti lagi. Sorakan dan hinaan itu melunturkan ambisiku untuk menjadi solois ternama. Aku sudah tak memiliki peluang lagi, Lee Jieun. Aku sudah lelah”, jelasku.

Guratan kekecewaan itu terlukis pada raut wajah Jieun. Ia memandangku dengan sendu. Seolah memberi pukulan telak tepat pada ulu hatiku. Seharusnya aku tak mengutarakan hal memalukan seperti ini di hadapannya. Aku justru mengecewakan gadisku ini.

“Aku ingin beristirahat. Semua hal itu membuatku terasa penat. Maaf bila aku mengecewakanmu, Lee Jieun. Sebut saja diriku sebagai lelaki terburuk yang pernah ada. Maafkan aku”

Jieun menahan pergelangan tanganku sebelum aku sempat membalikkan tubuh. Ia menggenggam sebelah tanganku dengan erat. Menimbulkan desiran aneh yang menjalar di sekujur tubuhku.

“Kim Jongdae yang kukenal bukanlah seorang pengecut. Kau kemanakan Kim Jongdae yang selama ini selalu memiliki ambisi yang menggebu-gebu? Apakah lelaki itu telah lenyap ditelan gundukan tanah?”

Kukepalkan kedua tanganku dengan kuat. Aku memandang rapuh pada rerumputan hijau tempatku berpijak. Ya, Lee Jieun. Kim Jongdae telah ditelan gundukan tanah.

“Jika iya, katakan pada Jongdae bila aku telah bersusah payah untuk mencarikan hadiah untuk hari ulang tahunnya”

Kedua kelopak mataku melebar dengan sendirinya. Hadiah ulang tahun? Lantas aku berbalik menghadap Jieun yang kini tengah membawa sebuah kotak hitam dari balik tas jinjingnya. Ia memandangku dengan sayu seraya mengulurkan kotak hitam itu kepadaku.

“Dan katakan juga kepada Jongdae, bila ia tak menyukai hadiah yang kuberikan, ia dapat melemparkan benda itu tepat di depan wajahku kapanpun ia mau”, tutur Jieun.

Aku memandang cukup lama kotak hitam itu sebelum meraihnya dengan perlahan. Bodoh, bagaimana bisa aku melupakan hari ulang tahunku sendiri? Kubuka tutup kotak itu secara perlahan. Sebuah benda berwarna perak nampak memikat perhatianku. Mikrofon.

“I–ini–”

“Bila kau tak menyukainya, lemparkan saja benda itu tepat di wajahku”, sahut Jieun.

Kugenggam mikrofon perak itu dengan kuat. Tidak, Jieun. Jauh di dalam lubuk hatiku, aku sangat menyukai hadiah ini. Benda yang selalu menemaniku setiap detiknya. Benda yang selalu mendampingiku saat karirku memuncak. Aku merindukan saat-saat dimana aku adalah segalanya bagi mereka. Semua mengenalku sebagai Kim Jongdae, si solois ambisius.

“Jangan pedulikan cemoohan yang mereka tujukan kepadamu. Jangan hiraukan semua tatapan tajam yang mereka layangkan kepadamu. Semua itu hanyalah satu dari sekian batu haluan yang menghalangi puncak kesuksesanmu”, jelas Jieun.

Kupertemukan kedua manik mataku dengan kedua manik matanya. Untuk sepersekian detik, kami saling bertukar pandang satu sama lain. Tanpa kusadari, Jieun menyentuh kedua bahuku.

“Aku tidak peduli mengenai semua kabar yang berhembus. Aku tidak peduli mengenai popularitasmu yang telah meredup. Tidak peduli apakah kau adalah Kim Jongdae yang mereka kenal sebagai solois ternama atau justru Kim Jongdae yang mereka kenal sebagai solois yang tak lagi bersinar. Di mataku, kau tetaplah Kim Jongdae yang mengisi relung hatiku. I will always in your side, no matter what will happen to you

Aku memandang lekat pada kedua manik mata Jieun. Menggali letak kebenaran yang tersembunyi di sana. Ia sama sekali tak berdusta, aku sangat yakin akan hal itu. Sorot matanya menyiratkan kehangatan.

“Aku mencintaimu, Kim Jongdae. Selamat ulang tahun”, ucap Jieun seraya merekahkan senyumnya.

Tanpa kusadari, aku turut tersenyum simpul mendengar kalimat itu. Aku merengkuh tubuh mungil Jieun ke dalam dekapanku, melindunginya dari angin malam yang berhembus membelai helai demi helai rambutnya. Kehangatan seketika menjalar di sekujur tubuhku.

“Kim Jongdae yang bodoh ini juga mencintaimu. Tetaplah berada di sisiku, Lee Jieun”, ucapku seraya tersenyum tipis.

Meski aku tak dapat melihat bagaimana paras Jieun, namun entah mengapa aku dapat merasakan bila ia tengah tersenyum saat ini. Getaran-getaran itu kembali mengusik denyut jantungku. Kurasa Jieun dapat mendengar debar jantungku yang berdentum tak karuan. Sesuatu yang aneh kembali menjalar di sekujur tubuhku, seolah memberi sengatan-sengatan kecil di setiap sel syaraf organ tubuhku.

“Ah, lusa lalu aku melihatmu bersama dengan seorang lelaki. Siapa dia?”

Segera aku membungkam mulutku dengan sebelah tanganku. Jieun merenggangkan dekapanku. Ia memandangku dengan tatapan yang sulit kuartikan. Bodoh, Kim Jongdae! Mengapa pertanyaan itu justru mencelos secara tiba-tiba di saat seperti ini?

Namun aku tak melihat raut kekhawatiran maupun raut ketidaksukaan di wajah Jieun. Ia justru tersenyum renyah. Membuat sebelah alisku terangkat. Ada apa dengannya?

“Lusa lalu, aku meminta bantuan salah seorang teman untuk memilih hadiah yang tepat untukmu. Aku sengaja mengajaknya karena ia telah berpengalaman untuk menangani hal seperti ini”, tutur Jieun.

Aku tersenyum lega. Kekhawatiranku yang semula berkembang kini justru menciut begitu saja. Namun, Jieun melayangkan tatapan curiga kepadaku secara tiba-tiba.

“Kau membuntutiku?”, selidiknya.

Aku menggeleng dengan cepat. “Tidak. Saat itu aku tidak sengaja berjalan di sekitar sana. Sungguh”

Tawa Jieun meledak seketika. Kurasa ia tak tahan memandang ekspresi wajahku–yang sepertinya–terlewat kikuk. Aku hanya menggaruk tengkukku yang tidak gatal.

“Hei, sepertinya Kim Jongdae yang kukenal telah kembali seperti semula! Bagaimana bila kau menyanyikan sebuah lagu untukku di tempat karaoke? Hanya untukku, dengan mikrofon itu”, usul Jieun antusias.

Aku memandang mikrofon yang kugenggam sekilas sebelum tersenyum cerah kepada Jieun. “Baiklah, hanya untukmu”

 

 

FIN

 

 

Annyeonghaseo^^

Mungkin untuk kali ini aku sedang bertaubat untuk membuat fanfic yang berakhir ngegantung :’v Tapi, suatu saat nanti aku bakal buat fanfic ber-ending seperti itu lagi. Tunggu saja tanggal mainnya(?) :’v

Ah iya, itu lagu Se7en totally recomended buat kamu pecinta lagu ballad ^^ Aku tahu lagu itu karena ga sengaja nemu video Dara 2NE1 nge-cover itu lagu di acara Strongheart, dengan beberapa pengubahan lirik dan dance ‘-‘ haha

Mind to review? Komen kalian sangat membantu 🙂

Iklan

12 pemikiran pada “When I Can’t Sing (Ficlet)

  1. Ping balik: Kumpulan Fanfiction IU&EXO (All Fanfiction EXOIU) | w93iu's Blog

  2. Raaaannn…. ini nyesek 😥 *kok nyesek* ya nyesek aja, biarpun ga terlalu paham jongdae tapi ketika popularitas direnggut itu rasanya pengen mati aja, kek mimpi yang kemarin di pelupuk mata, terbang melampaui bintang yang benderang di langit, bahkan ketika kau mengangkat tanganmu, bintang itu sulitttt di capai. /komentar puitis/ -__- Tapi itu bukan berarti mimpimu berakhir, bukankah kata pepatah gantungkan mimpimu setinggi bintang dilangit? Setiap masalah yang kamu dapat dalam meraih mimpimu, tetap aja jalan meraihnya, untung Jieun ada /hug Jieun/

    Setidaknya aku tau itulah amanat yang mau kamu sampaikan, it’s so damn pretty FanFic.

    Bahasamu juga awee ❤

    Keep Writting 😀

    Suka

    • Bahkan sewaktu komentar pun kamu masih nyempetin pake diksi :’D
      Ahaha, untuk bahasa yang kupake masih jauh di bawah kamu lah. Diksimu lebih ngena 😀
      Makasih udah nyempetin baca dan komen ^^ Keep writing, too 🙂

      Suka

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s