Kak Luhan

1459176_336753873134234_859626219_n copy

 

 

Title: Kak Luhan

Author: Chubby Kawaii 136 a.k.a CK136 (https://chubbykawaii136.wordpress.com)

Genre: Bromance, Family

Rating: General

Length: Ficlet

Main Cast: Oh Sehun & Xi Luhan

Disclaimers: Saya pemilik sah alur cerita ini! Don’t copas without permission!

Summary:Terimakasih sudah menjadi kakak Sehun, kak Luhan. Sehun sayang kak Luhan 🙂

 

Read this to: It’s Me & Aku Minta Maaf

Aku Oh Sehun, aku baru saja naik ke kelas lima sekolah dasar. Aku punya kakak angkat bernama Luhan. Dia anak panti asuhan yang kebetulan diangkat menjadi anak oleh orangtuaku.

 

Dia anak yang baik, rajin membantu orangtua, selalu mensyukuri apa yang diberikan ayah dan punya banyak teman.

 

Kami hanya tinggal di gubuk kecil nan sederhana di sebuah dusun. Perlu berjalan sekitar tiga kilometer untuk sampai di sekolahku. Sementara Kak Luhan (yang saat ini sudah kelas tiga SMP) harus berjalan menanjak ke bukit di balik sekolahku untuk bisa sampai ke sekolahnya.

 

Suatu hari ketika sepatuku mulai jebol dan menganga seperti mulut buaya, aku meminta kepada ibu, “Bu, sepatu Sehun sudah rusak. Bisakah belikan yang baru untuk Sehun?”

 

Aku memberikannya pada ibu dan ibu menerimanya dengan senyuman, “Tapi ibu belum punya uang, sayang. Mungkin bulan depan setelah panen lobak ibu baru bisa memberikan Sehun sepasang sepatu baru.”

 

Aku hanya bisa tersenyum maklum, “Terimakasih, bu.”

 

Kebetulan setelah aku berbalik, kak Luhan sudah bersiap untuk pergi bermain sepak bola lengkap dengan sepatu usang yang masih ia pakai, “Bu, Luhan ada pertandingan sore ini. Luhan tidak boleh terlambat jadi harus segera berangkat. Luhan pamit dulu, bu.” ucapnya sopan. Kak Luhan kemudian mencium tangan ibu dan mengacak rambutku penuh kasih sayang, “Apa Sehun mau ikut lihat kak Luhan main sepak bola?”

 

Aku melirik ibu untuk meminta persetujuan, “Pergilah, Sehun pasti jenuh di rumah terus.” aku berlonjak gembira.

 

Kak Luhan menggandeng tanganku di sepanjang jalan, matanya selalu terlihat berbinar penuh semangat, “Apa tadi Sehun minta sepatu baru kepada ibu?”

 

“Iya, kak Luhan. Sepatu Sehun sudah rusak jadi tidak bisa dipakai lagi.” curhatku.

 

Kak Luhan tersenyum, “Tapi… coba dikipir lagi. Ayah bekerja siang malam di kebun, menahan panasnya terik matahari yang membakar punggung dan dinginnya angin malam yang bisa saja membuat ayah sakit. Dan ibu yang setiap hari selalu pergi memanggul berkilo-kilo beban dipunggungnya untuk dijual ke pasar, berjalan puluhan kilometer jauhnya tanpa mengenal lelah. Lalu pulang dengan beberapa lembar uang yang tidak seberapa jumlahnya, mengabaikan pegalnya kaki dan punggung dan memilih untuk berjalan daripada naik ojek atau kendaraan lainnya hanya untuk mengumpulkan uang demi sekolah kita.”

 

Aku menunduk mulai merasa bersalah. Harga sepasang sepatu itu sama dengan lauk kami selama seminggu.

 

“Kak Luhan masih punya sepatu yang sudah kekecilan di rumah, bagaimana jika Sehun memakai itu saja?”

 

Aku menengadahkan kepala, “Benarkah, kak? Apa Sehun boleh memakainya?”

 

“Tentu, Sehun. Tapi ada beberapa bagian yang sudah terkelupas, tapi masih bisa dipakai kok.”

 

Tak terasa perbincangan kami sudah mengantarkan kami sampai di lapangan dimana kak Luhan biasa bertanding sepak bola.

 

“Kali ini sekolah kakak akan bertanding dengan sekolah anak kota. Meski begitu semangat kami tidak luntur.” aku melihat kak Luhan dan teman-temannya mulai bersiap mengenakan sepatu masing-masing.

 

Kak Kris (anak pemilik kebun yang digarap ayah) menghampiri kak Luhan, “Han, pakai yang ini saja. Ini masih baru dan khusus aku belikan untukmu.” kak Kris memberikan sepasang sepatu bola yang masih kelihatan baru, bahkan aroma aneh khas sepatu baru masih menempel disana.

 

Tapi kak Luhan menggeleng sambil tetap tersenyum, “Aku tidak ingin merepotkanmu, Kris. Kau saja yang pakai, aku masih punya sepatu ini.” tunjuk kak Luhan pada sepatu usang yang sudah pudar warnanya.

 

“Ayolah, Han. Kau striker jadi harus pakai sepatu bagus untuk bisa lari kemcang dan membobol gawang lawan. Kalau cuma pakai sepatu usang begitu bagaimana kau bisa mencetak gol nanti?”

 

“Ini sepatu yang aku beli dari sisa uang sakuku selama enam bulan dan membantu paman Suho di ladang. Butuh perjuangan keras untuk bisa membeli sepatu usang ini, Kris. Sepatu ini juga masih layak pakai, jadi berikan saja sepatu itu pada yang lain. Aku akan selalu mengenakan sepatu usang ini karena sepatu ini adalah sepatu keberuntungan.” jelas kak Luhan sambil tersenyum bangga.

 

Kak Kris mengangguk mengerti, “Tapi tolong terimalah sepatu ini jika kau berhasil membuat tim kita menang karena aku sengaja membeli sepatu yang hanya cocok untuk kakimu.”

 

“Khekhekhe~ baiklah, Kris.”

 

Semua pemain mulai berkumpul di tengah lapangan dan pertandinganpun dimulai. Kak Luhan sudah bersiap ditempat. Sambil menunggu operan bola datang, kak Luhan melihat kemari. Aku memberikan sorakan semangat untuknya.

 

Kak Xiumin merebut bola dari lawan dan membawanya maju, melihat ada peluang ia menendang pada Kai (anak kelas enam) yang tidak dijaga musuh lalu dengan sigap menendang bola sekeras mungkin ke gawang. Tapi mungkin keberuntungan belum berada di tim kak Luhan. Sang kiper berhasil menangkis bola dengan tangannya dan membuat bola melambung tinggi. Kak Luhan melihat kesempatan itu, ia berlari menyundul bola dan…

 

“GOL…………!!!!!!!!!!!!!!!” sorak riuh seisi lapangan termasuk aku.

 

Aku berdiri ketika kak Luhan berlari kecil ke pinggir lapangan dengan peluh yang terus menetes dari dahinya.

 

“Huft~ selesai sudah. Apa kak Luhan bermain dengan baik?”

 

“Tentu, kakak yang terbaik.” aku memberinya dua jempol.

 

Kak Kris datang menghampiri kami lagi, “Sesuai ucapanku tadi, Han. Terimalah sepatu yang aku berikan.”

 

Kak Luhan masih terlihat enggan untuk menerimanya, “Berapa harga sepatu ini Kris?”

 

“Untuk apa tanya harganya? Ini khusus buat kamu kok, Han. Gratis, tidak usah dibayar.”

 

Tapi kak Luhan tetap terlihat tidak enak, “Aku kan cuma anak angkat seorang buruh tani di dusun, tidak enak kalau menerima begitu saja sepatu dari anak bos ayahku sendiri. Aku akan menyicilnya sedikit demi sedikit. Aku janji, Kris.” kemudian kak Luhan menerima sepatu itu lalu mengucapkan kata terimakasih berulang kali, “Kata ibu, tidak baik jika berhutang pamrih pada orang lain.” imbuhnya.

 

“Kau orang yang benar-benar baik, Han. Aku sangat senang punya teman sebijak kau.”

 

Kami pulang, kak Luhan langsung memamerkan sepatu barunya pada ibu.

 

“Tapi tidakkah ini terlalu mahal, sayang?”

 

Aku menyeletuk, “Itu pemberian kak Kris, bu. Tapi kak Luhan bilang ingin menggantinya nanti.”

 

Ibu tersenyum haru.

 

Kak Luhan mengorek sesuatu dari saku celananya, “Ini, Luhan ada sedikit uang untuk membeli beras dan lauk, bu.”

 

“Ya Tuhan!” ibu terkejut melihat lembaran uang yang aku tahu itu tidak sedikit, “Tapi kamu dapat uang dari mana, sayang?” tanya ibu sambil mengusap kepala kak Luhan.

 

“Tadi tim Luhan menang, bu. Dan sebagai juara satu, tim Luhan mendapatkan piala dan uang tunai. Dan itu bagian yang Luhan terima.”

 

Mata ibu terlihat berkaca-kaca, beliau segera merengkuh kak Luhan, “Kamu sudah bekerja keras sayang.” ucapnya terdengar serak. Beliau melepas pelukannya dan diam-diam mengusap sudut matanya yang berair, “Sehun sayang, besok akan ibu antar ke pasar untuk membeli sepatu baru.”

 

Aku sangat bahagia begitu mendengar ucapan ibu, tapi ketika mengingat bagaimana perjuangan keras ibu dan ayah demi mendapatkan sesuap nasi aku jadi berpikir ulang, “Tidak usah, bu. Kak Luhan bilang masih punya sepatu yang sudah tidak muat dan bisa dipakai. Sehun bisa pakai sepatu kak Luhan, tidak perlu beli yang baru.” kedua orang dihadapanku tersenyum bangga.

 

Malamnya ketika ayah pulang sambil membawa sekantong ubi rebus, aku dan kak Luhan langsung datang menyambut ayah. Kami memeluk beliau, kak Luhan mengambil alih barang bawaan ayah dan aku memijit kakinya yang terlihat kasar.

 

Kami makan ubi rebus tadi bersama, dalam kehangatan dan canda tawa. Aku menceritakan dengan bangga bagaimana kak Luhan menendang bola dan membuat timnya menang.

 

Malam sudah semakin larut, kak Luhan membimbingku untuk tidur di tempat tidur beralaskan tikar milik kami berdua. Dia suka menceritakan tokoh pahlawan nasional sebagai cerita penghantar tidurku, yah~ hitung-hitung sambil belajar, katanya.

 

 

~*~*~*~

 

Kami berpamitan pada ayah dan ibu lalu mulai berjalan berangkat sekolah. Agar tidak bosan, kak Luhan bercerita sepanjang jalan. Mengenai apapun, baik tumbuhan, sapi, burung, kayu, petani, ayah, aku, sepatu bola, sampai batu kerikil.

 

Deru motor yang berhenti membuat kak Luhan menghentikan ceritanya.

 

“Hei, Han.”

 

“Oh~ Kris, hai. Tumben kau disini?”

 

“Ya, kemarin setelah bermain sepak bola, papa mengajakku bermain di kebun dan tadi malam aku menginap di villa keluarga kami. Kalian pasti mau ke sekolah kan? Kebetulan, ayo naik!”

 

“Apa tidak merepotkan, Kris?”

 

“Tentu saja tidak, Han. Naiklah. Daripada Sehun harus berjalan jauh, kasihan dia.”

 

Kak Luhan tersenyum sambil berkata terimakasih berulangkali.

 

Kami berhenti di sekolahku, aku juga mengucapakan rasa terimakasihku pada kak Kris. Tao (teman sekelasku) berlari menghampiri kami, “Kakak jahat! Kakak jahat!” serunya heboh.

 

Kak Kris menatapnya aneh, “Jahat kenapa, Zi?”

 

“Kakak pergi berdua dengan papa! Tao cuma sendirian sama bibi Jung di rumah! Sebal!”

 

“Yasudah, nanti sepulang sekolah ikut dengan Sehun saja. Sehun, kau tahu villa yang ada di atas bukit dekat rumahmu itu kan?” aku mengangguk, “Tolong nanti antarkan Zi kesana ya.”

 

“Baik, kak.”

 

“Jangan nakal ya, belajar yang baik.” kak Luhan melambai kemudian pergi berlalu.

 

Tao menepuk-nepuk pundakku, “Apa itu tadi kakak Sehun?”

 

“Iya, namanya kak Luhan. Apa Tao adiknya kak Kris?”

 

“Iya, dia kakak paling menyebalkan di seluruh dunia! Kak Kris pergi liburan sendiri dengan papa tanpa mengajak Tao, menyebalkan kan?”

 

“Apa Tao sering liburan?”

 

“Tentu saja, kalau akhir pekan biasanya Tao pergi sama papa ke taman bermain. Kalau Sehun liburannya kemana?”

 

“Sehun tidak pernah pergi liburan. Kalau akhir pekan, biasanya Sehun membantu ayah panen atau membantu ibu berjualan di pasar.”

 

“Apa kamu tidak merasa bosan?”

 

“Tidak kok, Sehun senang bisa membantu ayah dan ibu. Kak Luhan bilang membantu orangtua itu sudah kewajiban seorang anak.” Tao mengangguk mengerti, “Eh~ tapi Tao, jadi orang kaya itu enak nggak sih?”

 

“Ehm~ gimana ya? Biasanya kalau Tao minta apapun ke papa pasti papa kasih. Tapi papa jarang ada di rumah, kak Kris juga pasti pergi keluar. Meski rumah Tao besar tapi rasanya sepi karena Tao selalu sendiri. Setiap hari pasti papa berangkat kerja pagi waktu Tao masih bobo terus pulang waktu Tao udah bobo. Tao jarang bicara sama papa, karena papa sibuuukk banget. Kalo Sehun gimana?”

 

“Ayah juga berangkat ke kebun di pagi hari. Tapi biasanya kak Luhan dan ibu sudah membangunkan Sehun sebelum ayah berangkat. Ibu memasak di dapur, kak Luhan menyapu halaman depan dan Sehun mengisi jeligen-jeligen hingga penuh dengan air untuk persediaan air minum. Kami selalu sarapan bersama. Dan ketika berangkat ke sekolah, biasanya kak Luhan selalu memanggil ayah dan kami akan melambaikan tangan bersama.”

 

“Kelihatannya keluargamu sangat bahagianya, Sehun. Tao jadi iri.”

 

“Jangan iri, Tao-ah~. Kata ibu kebahagiaan itu bisa tercipta berkat saling menyayangi dan saling menunjukan rasa cinta ke sesama. Oleh karena itu aku tak pernah sekalipun melihat senyum luntur dari wajah kak Luhan. Kak Luhan bilang, senyum akan memberikan energi positif dan membuat orang sedih bisa kembali tertawa.”

 

Sekeras apapun hidup, sesulit apapun rintangannya, jika kita menjalaninya dengan hati yang ikhlas maka akan diringanan bebannya, dilebarkan jalannya, dan diberikan segala yang selalu diharapkan. Meski Sehun hanya memakai sepatu usang, meski Sehun hanya makan ubi rebus, meski Sehun harus berjalan kaki. Tapi Sehun bahagia karena kak Luhan bilang, kebahagiaan tak selalu harus penuh dengan kemewahan.

 

Terimakasih sudah menjadi kakak Sehun, kak Luhan. Sehun sayang kak Luhan 🙂

 

===JALAN BUNTU===

 

 

Yo yo yo guys *salamin satu-satu* saya baru mabuk terus malah nulis ff abstrak beginian :v Eotthe? semoga dapat diambil hikmahnya. Seperti ff sebelumnya, ini sequel It’s Me dan Aku Minta Maaf. FF tentang nilai-nilai kehidupan dan entah kenapa yang cocok dihati saya itu sepasang makhluk kece penyuka bubble tea itu 🙂

seperti biasa, mind to review? 😀 saya sangat suka jika readers coment panjang-panjang penuh kritik dan saran *cipok* tetap semangat 136 kawan ~^.^~

Iklan

7 pemikiran pada “Kak Luhan

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s