This Love [Chap 3]

Student ID : Aiden Lee || Main Cast : Byun Baekhyun, Kim YoungRa || Support Cast : Park Chanyeol, Lee JiEun || Leght : MultiChapter | Genre : Friendship, Romance, School Life, Family, Sad || Rating : PG-13 ||

A/N :

Annyeong haseyo! Aiden kambekk/? dengan fanfic baru chap3! Jika ada typo berlebihan tolong koreksi yaa dan maafkan aiden’-‘ . Dan ini tulisan kedua aiden asli!^^ NO SILENT READERS

Mohon untuk hargai karya imajinasi Author yaw^

Summary :

“Kita tak’kan tau apakah takdir akan berpihak kepada kita. Jalanilah apa yang sudah kita perbuat.”

 

Pagi ini, YoungRa di antar oleh ayahnya ke sekolah. Saat di ajak oleh sang ayah ia hanya meresponnya dengan memicingkan mata dan batinnya berkata, ‘Tumben sekali ayah mau mengantarku. Biasanya tak punya waktu. Huh.’

Appa..aku masuk ne.” ujar YoungRa dengan melambaikan tangan kepada ayahnya yang baru saja mengantarkan dirinya kesekolah. Tuan Kim mengangguk seraya tersenyum kecil kepada anaknya. Lalu ia memutar stir mobilnya dan mengendarainya menuju pintu gerbang sekolah.

YoungRa yang melihat ayahnya sudah pergi. Ia menghembuskan nafasnya panjang dan berbalik menuju gedung sekolah. YoungRa berjalan lunglai menuju kelasnya dan terkadang ia tak sengaja menabrak siswa lain.

 

SREEEEG!

 

Dia menggeser pintu kelas dan melangkahkan kakinya menuju tempat duduknya. Ia melihat teman sebangkunya sedang tersenyum sendiri disana. Tetapi ia tak memperdulikan hal itu. Ia hanya duduk dan menelungkupkan wajahnya ke meja.

JiEun yang melihatnya sontak menoleh kearah YoungRa, “Kau kenapa lagi.?” tanyanya. YoungRa menggeleng pelan tanpa menatap JiEun. YoungRa sedang dalam keadaan badmood sekarang. Karena kejadian kemarin, orang yang dijodohkan dengannya tiba-tiba saja tak menghadiri acara jamuan malam yang digelar oleh orangtuanya. Hanya kedua orangtuanya saja yang datang. Ia mengutuk siapa orang yang sudah membuatnya kesal.

JiEun menghelah nafas dan mengalihkan pandangannya menerawang kepapan tulis. Tiba-tiba ia teringat sesuatu yang membuatnya tersenyum lebar dan mengguncangkan lengan YoungRa keras.

“Hey hey hey YoungRa.!”

“Hm.”

“Kau tahu ak—

“Tidak.”

“Ya! Aku belum selesai berbicara.” sungut JiEun dengan mendorong lengan YoungRa keras yang membuat YongRa sedikit bergeser. YoungRa tetap tak berpindah dari posisinya. JiEun memanyunkan bibirnya, “YoungRa-ya~. Aku ingin bercerita.” rajuk JiEun.

YoungRa sedikit menghelah nafas, “Silahkan.” JiEun yang mendengarnya memasang wajah masam. Ia tak suka jika ada orang yang mengacuhkan dirinya jika ingin berbincang walaupun itu hal yang tidak penting pun.

JiEun menatap YoungRa dari dekat, “YoungRa-ya~…aku serius.” ujarnya lagi. YoungRa menghelah nafas kembali dan menegakkan tubuhnya menatap JiEun. Ia mengerti keadaan sahabatnya dan lebih baik mengalah kepadanya. JiEun tersenyum dan ikut menegakkan tubuhnya.

“Ada apa.?” tanya YoungRa. JiEun semakin tersenyum lebar menanggapinya yang membuat YoungRa mengerutkan dahinya, “Kemarin—aku baru saja bertemu dengan pangeran tampan.”

YoungRa memutar bola matanya malas, “Huufftt..lalu.?”

“Dia—mempunyai mata yang sayu. Dan aku suka itu.!” ujar JiEun lagi dengan pandangan kelangit-langit kelas menerawang kejadian 1 hari yang lalu.

YoungRa menatap malas JiEun, “Hm.”

“Dia juga mempunyai bibir yang sangat manis.”

“Memang kau sudah mencicipinya.?”

 

TAK!

 

“Aa-aaww! Ssshh..sakit Lee JiEun.!” pekik YoungRa seraya mengusap dahinya yang disentil oleh JiEun. JiEun menatap garang sahabatnya ini, “Jagalah omonganmu! Dasar yadong!” umpatnya. YoungRa hanya memanyunkan bibirnya, “Hey! Seharusnya aku yang menyentil dahimu! Koreksi ucapamu itu JiEun! Kau berbicara seola-olah kau sudah merasakan bibirnya.!” ralat YoungRa dengan menatap sengit JiEun.

JiEun menghelah nafas, “Baiklah baiklah! Maksudku senyumanya.!” ujar JiEun. YoungRa mengangguk dan menatap JiEun lama. JiEun yang mengerti apa arti tatapan itu tersenyum kembali dan bercerita tentang orang yang kemarin ia temui.

“Lalu—dia juga sosok lelaki yang aku idam-idamkan.”

“So? Kau menyukainya? Begitu.?” tebak YoungRa tepat dan JiEun dengan semangat menganggukkan kepalanya, “Ne! Kau benar! Aku, sangat sangat menyukainya Kim YoungRa! KKYYAAAAA! Rasanya itu seperti kau bertemu dengan Park Chanyeol mu itu.!” ujar JiEun menggebu-gebu.

 

DEG

 

Tiba-tiba saja YoungRa tersentak mendengar nama pangeran sekolah Neul Paran High School ini. Park Chanyeol. ‘Bagaimana kabarnya setelah insiden itu ya.?’ batin YoungRa dengan menatap jendela yang berada dibelakang JiEun. Ia jadi mengingat masa saat ia dan Chanyeol berciuman digang sempit.

Ia tak tahu apa maksud dari ciuman itu sendiri. Entahlah. Perasaannya kini campur aduk mengingat ia sebentar lagi akan menjadi milik oranglain dan tidak bisa berhubungan kembali dengan Chanyeol. Ia takut, Chanyeol menjauhinya karena ia sudah mempunyai calon suami.

Eh? Mengapa YoungRa menjadi setakut ini? Ingatlah! Chanyeol bukan siapa-siapamu Kim YoungRa! Kejadian 2 hari yang lalu pun itu hanya kecelakaan kecil! Jika saja kau tidak dikejar dengan para suruhan orangtuamu, pasti kau tidak akan mengalami insiden itu!

YoungRa larut dalam pikirannya dan tidak mendengar cerita sahabatnya ini. JiEun mengguncangkan lengannya. Ia sedikit tersentak dan menatap JiEun yang sedang tersenyum. ‘Sepertinya dia tidak menyadari sikapku.’ batin YoungRa. Ia tersenyum seolah-olah menanggapi apa yang diceritakan JiEun.

Lalu ia melihat JiEun yang sedang merogoh saku blazernya dan mengambil smartphone putihnya. YoungRa mengerutkan dahinya. Tetapi JiEun memperlihatkan pada dirinya foto seorang lelaki berpakaian seragam sekolah berwarna kuning. Tak terlalu jelas sebenarnya. Tetapi ia masih bisa melihat bagaiaman rupawan lelaki itu. ‘Lumayan.’ batin YoungRa.

“Apakah dia murid School Of Performing Art.?” tanya YoungRa. JiEun menganggukan kepalaya semangat lagi, “Ya..menurutmu—bagaimana.?” tanyanya. YoungRa mengetuk dagunya dengan telunjuknya, “Hmm…yaaa..cocok denganmu! Aku setuju jika kau berhubungan dengannya.!” ucap YoungRa seraya tersenyum dan mengangguk pasti.

 

Kurasa suatu saat nanti kau akan menyesali perkataanmu itu, YoungRa-ssi.

.

.

“Byun Baekhyun-ssi.”

“Ye.?”

“Kau dipanggil oleh Kepala Sekolah diruangannya.” ujar salah satu teman Baekhyun kepadanya. Baekhyun sedang mengerjakan tugas dari Ihm Songsaenim. Semua siswa dikelasnya menatap dirinya was-was.

Baekhyun mengerjapkan matanya dan menganggukkan kepala. Ia berdiri dari duduknya dan menghadap Ihm Songsaenim, “Jeongsahamnida saenim. Saya pergi dulu.” ucapnya sopan. Ihm Songsaenim tersenyum dan mengangguk memperbolehkan salah satu muridnya untuk menemui Kepala Sekolah.

 

TAP! TAP! TAP!

 

“Huufftt…ada apa ya? Jarang sekali aku dipanggil oleh Kepala Sekolah.” gumam Baekhyun seraya terus berjalan menuju ruang Kepala Sekolah School of Performing Art. Saat sudah sampai ia melewati simpangan, ia melihat seorang siswi yang berseragam berbeda dengannya.

Siswi itu juga melihat Baekhyun dari jauh dan mengalihkan pandangannya lalu berjalan meninggalkan Baekhyun yang diam menatapnya. ‘Neul Paran High School, eoh.?’ batin Baekhyun melihat seragam sekolah itu.

Ia melanjutkan perjalanannya menuju ruang Kepala Sekolah. ‘Apakah ia ingin menemui Kepala Sekolah? Tapi, untuk apa.?’ batin BaekHyun lagi yang melihat siswi itu berjalan mengarah yang sama.

Saat Baekhyun sudah sampai di depan pintu ruangan Kepala Sekolah ia melihat siswi itu diam ditempat. Tidak langsung masuk kedalam untuk menemui Kepala Sekolah.

Siswi itu menatap Baekhyun, “Apakah benar ini ruangannya.?” tanyanya dengan pelan. Baekhyun sedikit tersentak dengan suara lembut siswi ini. Baekhyun menganggukkan kepalanya dan mulai memegang kenop pintu. Tetapi tiba-tiba saja sebuah tangan memegang lengannya yang membuat dirinya menghentikkan aktifitasnya.

“Ada apa.?” tanya Baekhyun kepada siswi itu. Siswi itu menggigit bibir bawahnya, “Emm..apakah dia galak.?” bisiknya pelan dengan ekspresi yang sedikit ketakutan. Baekhyun tersenyum kecil melihatnya dan menggeleng pelan, “Aniya..dia baik.” ucapnya singkat. Siswi itu membulatkan mulutnya dan melepas cengkramannya kepada Baekhyun.

 

CEKLEK!

 

Annyeong haseyo

“Oh hey nak! Kalian sudah datang, eoh.?” ujar seseorang yang membuat Baekhyun dan siswi itu sedikit tersentak yang sedang menunduk sopan. Tetapi Baekhyun tetap tidak bergeming dari posisi menunduknya. Hanya siswi itu yang menegakkan tubuhnya karena merasa familiar dengan suara orang itu.

Eomma?! Appa.?!” pekiknya dengan mata melebar melihat orangtuanya dan bersama orang lain yang ia kenal berada disekolah ini.

“Hai nak.!” sapa ibunya dan ayahnya hanya tersenyum. Baekhyun yang mendengar itu ikut menegakkan tubuhnya dan melihat siapa yang mereka temui. Baekhyun ikut melototkan matanya dan menatap heran orang yang melambaikan tangan kepadanya seraya tersenyum, “Eo-eomma? Appa.?”  ujarnya terbata.

“NE.?” pekik siswi itu yang mendengar lelaki disebelahnya memanggil perempuan yang berada disebelah ibunya. Ia juga sontak menoleh kearah Baekhyun. Tetapi tidak dengan Baekhyun, ia mematung ditempatnya.

Keduanya tak saling berpandangan lama memutar otak apa maksud dari semua ini. Lalu tak berapa  lama kemudian kedua mata mereka saling melebar satu sama lain dan menatap semua orang yang sedang duduk disana.

“Aish..Jinjja.!” gumam keduanya dengan raut wajah yang sulit diartikan.

.

 .

TAP—! TAP—! TAP—!

 

“Aku tak pernah berfikir bisa terjadi seperti ini.” ujar seseorang dengan menatap aspal yang ia pijak. Ia bukan orang idiot yang berbicara sendiri, ada seseorang juga yang menemaninya.

“Yaah..akupun begitu. Dan bahkan, aku sama sekali tak berfikir bahwa aku, akan dipindahkan kesekolah School Of Performing Arts.” ucap sang lawan bicara disebelahnya dengan menatap lurus kedepan melihat beberapa orang yang sedang menikmati alunan angin yang berhembus disekitar taman ini. Ya, mereka berdua sedang berjalan-jalan ditaman kota.

“Kau tak pernah memikirkan ini sebelumnya.?” tanya orang itu dengan ikut menatap lurus kedepan. Keduanya tak pernah menatap satu sama lain sejak pertama mereka memutuskan untuk jalan-jalan. Seolah-olah mereka adalah orang asing yang baru saja bertemu atau mungkin memang benar.

Sang lawan bicara menggidikkan bahunya dan menggeleng pelan, “Aniya..bahkan untuk memikirkannya saja aku sangat malas.” ucapnya yang membuat orang itu sedikit tersentak.

Orang itu tersenyum miring, “Kau benar.” ujarnya.

Sang lawan bicara menengadah keatas. Mengganti objek pandangnya yang sebelumnya dengan langit luas yang ditemani oleh awan dan beberapa burung yang melintasinya, “Apakah kau menerima hal ini.?” tanyanya.

Orang itu terdiam dan terus memandang lurus kedepan dengan mata sayunya. Dia menghelah nafas panjang dan memasukkan kedua tangannya kesaku celana sekolahnya, “Mau duduk disana.?” tawarnya pada sang lawan bicara. Ia sengaja mengalihkan pembicaraan mereka. Terlalu malas untuk mengingat hal bodoh yang sebelumnya ia lakukan.

Sang lawan bicara menghelah nafas pendek dan mengangguk, “Boleh.”

Keduanya berjalan sedikit cepat kebangku taman yang menghadap ke sebuah kolam kecil yang dipadukan dengan air mancur ditengahnya membuat sebuah percikan kecil terdengar seolah-olah sedang berbincang dengan ikan yang saling menari didalam kolam itu.

“Kau belum menjawab pertanyaanku.” ujar sang lawan bicara. Orang itu memejamkan matanya menikmati semilir angin yang berhembus menerpa kulit mulusnya dan menyenderkan punggungnya kebangku taman.

“Impianku adalah membahagiakan orangtuaku.” jawabnya. Sang lawan bicara tersenyum kecil dan mengalihkan pandangannya dari kolam kecil itu kesamping. Ambigu. Ya. Jawaban orang itu serasa ambigu ditelinganya.

Orang ini, dilihat dari cara bicaranya tadi seperti orang yang dipaksakan untuk menjawab itu. Berlawanan dengan hati kecilnya dengan apa yang terjadi pada dirinya sekarang. Ia terlalu naïf. Terlalu naïf hingga mengorbankan dirinya sendiri.

“Hey.” panggil orang itu kepada sang lawan bicara. Orang itu memberanikan diri untuk menatap sang lawan bicara. Sang lawan bicara yang merasa dirinya yang dipanggil sontak menoleh dan bertemu dengan sebuah mata sayu yang indah menurutnya.

Orang itu tersenyum dan mengulurkan tangannya, “Byun Baekhyun.”

Sang lawan bicara yang mengerti membalas senyuman itu dan menjabat tangan orang itu dengan lembut, “Kim YoungRa.” ujarnya dan mereka saling tersenyum satu sama lain.

Ini, kali pertama mereka saling bertatapan dan saling mengenalkan diri masing-masing dengan senyuman dikedua bibir mereka. Mereka tak akan melupakan kejadian ini hingga mereka tak bisa melihat mata yang lain akan tertutup selamanya.

Semilir angin yang berhembus menerpa rambut halus seseorang yang sedang berdiri disebuah tempat untuk memberikan doa kepada mereka yang sudah tiada. Dia tersenyum saat ia merasakan hembusan angin itu seraya menatap batu nisan yang tak jauh darinya.

Annyeong.” ujarnya pelan.

Dia melangkahkan kakinya lebih dekat kegundukkan tanah besar yang menjulang keatas seraya memasukkan tangan kirinya kesaku celana bahannya. Ia tersenyum miring saat melihat lebih dekat batu nisan itu.

“Bagaimana kabarmu disana,?” ucapnya. Dia mengusap batu nisan itu yang sedikit berdebu karena sudah lama ia tak membersihkan makam ini.

“Kau bertemu dengannya,?” ujarnya lagi dan kali ini dia membersihkan makam itu yang membuat tempat untuk dedaunan yang berjatuhan saat musim gugur. Ia tersenyum kecil setelah makam itu terlihat sedikit bersih tak seperti pertama ia melihatnya.

“Ah ya! Ini..mianhae..aku membawakanmu ini, lagi,” ujarnya dengan menyerahkan sebuket bunga mawar putih yang cantik dihiasi oleh sebuah kertas origami kecil ditengahnya. Dia menyimpannya didepan batu nisan itu. Dia tertawa kecil dengan mengusap tengkuknya.

“Padahal kau tidak suka dengan bunga cantik ini,” ujarnya bermonolog.

Ia terkekeh pelan, “Aniya…aku tak melupakan hal itu. Hanya saja..aku senang membuatmu kesal. Hahaha..maafkan aku,” ucapnya tertawa pelan. Ia menatap makam itu lama. Sebuah hembusan angin menerpa wajahnya. Ia tahu maksud dari angin itu.

Dia dengan perlahan menurunkan badannya untuk berjongkok, “Kau tahu, aku bertemu denganmu, lagi,”

“Dia…sama sepertimu,”

“Terlihat sama, hingga aku sulit untuk melupakannya, lagi,”

“Ceria, penyayang, tak pernah merasa ada beban dihidupnya, ya..sama seperti dirimu,” ujarnya dengan terus mengusap batu nisan itu. Ia menerawang ke hamparan langit luas. Hembusan kecil terdengar ditelinganya. Lagi, dia tersenyum miring.

“Kau selalu membuatku merasa terus bersalah,”

“Kenapa kau melakukan ini padaku? Heum,?”

“Apa kau ingin aku mengakui kesalahanku,?” ujarnya dengan nada gemetar. Dia menghembuskan nafas kasar menahan sesak didadanya. Ia menyentuh dada kirinya yang tiba-tiba saja sesak. Lalu memejamkan matanya dan menelan salivanya kuat.

Dia mengalihkan pandangannya ke batu nisan itu lagi, “Kenapa? Apa kau menyesal telah menyuruhku untuk melakukan hal keji, kepadamu,?” ujarnya dengan nada rendah hampir berbisik.

Setetes liquid jatuh berasal dari matanya. Dia memejamkan matanya perlahan dan mengatur nafasnya yang memburu, “Mianhae,” bisiknya. Lagi, semilir angin menerpa wajahnya lagi. Ia merasa sebuah bisikkan telah terdengar ditelinganya seolah menjawab apa yang ia tanyakan terus menerus.

Mianhae….jeongmal mianhae..” bisiknya dengan menahan isak tangis. Ia menundukkan kepalanya. Menyembunyikan tangisan perih dihatinya. Dada kirinya terus menerus berdegup kencang dan sakit. Seolah-olah sedang mengejeknya karena perbuatan bodoh dirinya.

Lama ia menundukkan kepala. Lalu dengan perlahan ia menatap kembali batu nisan itu. Tersenyum lebar kepadanya, “Hey…” sapanya dengan suara serak.

Saranghae my lovely girlfriend..”

.

.

KRIIING! KRIIING! KRIIING!

 

DUUAAAKK!!

 

“A-AAWWW! A-APPOYO.!” teriak Baekhyun dengan mengelus dahi dan bokongnya secara bergantian. Ia meringis kesakitan dan merutuk jam weker jadul miliknya yang selalu tidak santai saat membangunkan dirinya. Terkadang entah kenapa ia selalu merasa tidurnya sangat singkat.

Ia menatap tajam jam weker yang diam menghadap dirinya. Jam weker itu seperti meledek dirinya karena sudah membuat majikannya terjatuh dari tempat tidur karena ulahnya.

Baekhyun menghelah nafas dan bangun dari jatuhnya dengan sesekali meringis kesakitan. Ia berjalan dengan memegang bokongnya untuk mandi dan berangkat kesekolah.

Saat sudah selesai mandi, ia membuka lemari bajunya dan mengambil handuk kecil untuk mengerikan rambutnya yang basah. Ia menyiapkan dasi dan juga blazer sekolah dan digantungkan dikenop pintu lemari.

 

TOK! TOK! TOK!

 

“Baekhyun?! Kau didalam, nak.?” ujar ibunya dari luar kamar. Baekhyun melirik pintu coklat itu dan mengedipkan matanya sejenak.

Ne eomma..aku sedang ganti baju. Ada apa.?”

“Turunlah. Eomma sudah siapkan sarapan untukmu.” Tak biasanya sang ibu menyuruhnya untuk sarapan. Bukan tak pernah membuat sarapan, tetapi sang ibu tak pernah hingga mengetuk pintu kamarnya. Biasanya, ibunya akan menunggunya hingga ia turun sendiri. ‘Ada hal yang akan dibicarakan. Pasti.’  batinnya.

“Ya…aku kesana nanti.” jawab Baekhyun dengan memakai kemeja sekolahnya.

“Baiklah..” balas ibunya dan terdengar suara derap langkah kaki menjauhi kamar Baekhyun. Bakehyun menghentikkan tangannya yang sedang bergerak mengancingi kemejanya. Ia menghelah nafas sejenak dan menggidikkan bahunya seraya mengambil blazer sekolahnya.

 

DRAP! DRAP! DRAP!

 

“Oh..pagi Baekkie.!” sapa ayahnya tanpa mengalihkan pandangannya dari Koran paginya. Baekhyun yang sedang melangkahkan kakinya keruang makan menghentikkan langkahnya dan menatap ayahnya dari balik Koran itu.

Baekhyun memutar bola matanya malas dan menghelah nafas seraya berjalan kembali keruang makan dimana ibunya yang sedang sibuk bersama maid-maid nya dan ayahnya yang membaca berita Koran terkini.

“Hey.” panggil ayahnya dengan mengalihkan pandangan dari Koran untuk menatap Baekhyun yang sudah duduk disampingnya. Baekhyun hanya melirik ayahnya tanpa menjawab sapaannya. Lalu mengalihkan pandangannya lagi kearah ibunya.

“Haaaah..Byun Baekkie marah.”

APPA.!” teriak Baekhyun dengan menatap tajam ayahnya. Ayahnya yang melihat anaknya seperti itu terkikik kecil dan melanjutkan acara membaca Koran paginya.

“Hhh…sewaktu kecil, kau senang sekali jika dipanggil seperti itu, Baekkie~” ujar ayahnya dengan mengangkat kaki kananya untuk bertuumpu kelutut kaki kiri.

Appa hentikan.” ucap Baekhyun dengan nada datar seraya melirik ayahnya. Lalu ia mengalihkan tatapannya pada tangan ibunya yang sedang menaruh roti dan susu untuknya dipiring. Ia juga melirik ibunya yang tertawa mengejek kepadanya yang membuatnya mendengus kesal.

“Baekkie~~ oh baekkie~~”

Appa! Sudahlah! Aku tak ingin berdebat denganmu pagi ini. Okey.” ucap Baekhyun dengan sedikit mengeraskan volume suaranya. Ia lalu mengambil selembar roti dan kaleng selai. Saat membuka tutup selai itu ia mengerutkan dahinya.

Eomma..apa kau tak membeli selai strawberry.?” tanya Baekhyun dengan meneliti kaleng selai itu. Ibunya menghampiri dirinya dan duduk didepan Baekhyun.

“Kau seperti anak kecil saja, Baekkie.” ejek ayahnya dengan membalikkan satu halaman Koran.

Baekhyun langsung mendelik kearah ayahnya, “Biar saja! Aku memang anak kecil.!” ujarnya dengan merengut. Ayahnya sontak menutup Koran paginya dan ikut menatap Baekhyun.

“Berarti aku boleh memanggilmu Baekkie~~.”

APPA! BERHENTILAH MENGEJEKKU.!” teriak Baekhyun dengan menendang kaki meja sedikit keras. Ibunya yang melihatnya tertawa keras dan juga para maid disana tertawa melihat Tuan Byun dan Tuan Mudanya berdebat karena kejahilan Tuan Byun.

Ibunya duduk didepan dirinya, “Aniya..di supermarket biasa eomma belanja tak ada.” balas ibunya dengan merebut selai kacang itu dari tangannya. Baekhyun yang mendengarnya mendengus kesal.

Chogiyo…Nyonya, aku menemukan selai strawberry dilemari.” ujar salah seorang maid kepadanya dan menunjukkan kaleng selai strawberry yang tinggal sedikit. Baekhyun tersenyum sumringah, “Berikan padaku” ujarnya.

“Tidak! Kau mau memakan selai kedaluwarsa, eoh?! Itu sudah lama sekali. Buang saja.” ujar ibunya dengan mengambil roti Baekhyun dan mengoleskan sedikit selai kacang diatasnya.

Eomma..jangan banyak-banyak.” rengek Baekhyun kepada ibunya yang mengoleskan selainya yang menurutnya banyak. Ibunya melirik dirinya, “Yayaya…ini.” ujar ibunya seraya menyerahkan roti itu.

“Oh ya Baekkie kau—

Appa..jangan memanggilku seperti itu lagi! Itu menggelikkan.!” sungut Baekhyun dengan memakan brutal rotinya. Ayahnya tertawa dan mengangguk-anggukkan kepalanya.

Ne ne ne…baiklah. Begini, appa ingin kau menjemput YoungRa dirumahnya.”

“YEE.?!” teriak Baekhyun kaget dengan membulatkan matanya menatap ayahnya. Hampir saja ia tersedak dengan roti yang ia kunyah jika saja belum ditelan habis.

“Kenapa berteriak begitu.?” tanya ibunya santai yang diangguki oleh ayahnya. Baekhyun mengerutkan dahinya, “Kenapa harus aku.?!” tanya balik Baekhyun dengan menunjuk dirinya.

Ibunya menghelah nafas, “Kau lupa atau apa, eoh? YoungRa dipindahkan kesekolah mu Baekhyun.” balas ibunya. Baekhyun mengerjapkan matanya. Ia lupa jika YoungRa akan menjadi murid baru disekolahnya.

“Yaaa…tapi…kenapa harus aku?! Bukankah dia mempunyai supir untuk mengantarkannya kesekolah?” ujar Baekhyun lagi. Ibunya menatap dirinya dengan pandangan datar, “Memang supirnya mengantarkan YoungRa hingga ke kelasnya.?!” balas ibunya lagi yang membuat Baekhyun diam.

“Sudahlah Baekhyun, dia juga akan sekelas denganmu nanti.” ujar ayahnya dengan berdiri dan membetulkan letak celana kerjanya. Baekhyun menghelah nafas dan dengan perlahan menganggukkan kepalanya.

“Yasudah. Berangkatlah. Ini sudah lebih 3 menit dari biasanya kau berangkat sekolah. Belum lagi, kau akan menjemput YoungRa.” ucap ayahnya lagi seraya menepuk bahunya dan berjalan keluar rumah bersama istrinya yang membawakannya tas kantor. ‘Apa yang harus aku katakan kepada teman-temanku nanti.?!’ batin Baekhyun tak tenang.

.

.

BRUUM BRUUM BRUUM

 

Baekhyun telah sampai didepan rumah YoungRa. Ia mengetahui alamat rumahnya dari pesan singkat ayahnya yang menyuruhnya paksa untuk menjemput YoungRa. Dia menghentikan mobilnya didepan rumah YoungRa dan menatap rumah megah itu.

Baekhyun tak langsung masuk kerumah mertuanya. Dia tak tahu harus berkata apa saat bertemu mertuanya dan YoungRa, calon istrinya. Ia harus menyiapkan sebuah kata-kata sebelum menemui mereka. Jujur saja, jika dirinya sudah didepan orang lain akan menjadi pendiam tak seperti dirumah tadi.

“Hhhh…apa yang harus kukatakan.!” sungut Baekhyun dengan mengacak rambutnya frustasi. Dia menyenderkan punggungnya ke punggung jok mobil. Dia menghelah nafas. Lalu menatap kembali kerumah megah itu.

Ia mengalihkan pandangannya kearah arloji yang bertengger dipergelangan tangannya. 30 menit lagi bell sekolahnya berbunyi. Baekhyun menggeram kesal dan akhirnya setelah menunggu beberapa menit didepan rumah YoungRa ia turun dari mobilnya. Berbuat nekat agar sampai disekolah lebih awal dari bell berbunyi. Pikirnya.

 

TING TONG TING TONG

 

Kresek 

 

“Ya? Keluarga Kim disini. Ada yang bisa kami bantu.?” ujar seseorang dari intercome rumah keluarga Kim. Baekhyun berdehem pelan sebelum dirinya sedikit membungkukkan badan untuk melihat kearah intercome itu.

“Eoh, em..ya, i-ini Byun—Byun Baekhyun dari Keluarga Byun.” balas Baekhyun dengan sedikit gugup. Ia harus menahan nafas saat berbicara dengan seseorang yang di intercome ini. Apalagi ia sedang bertatap muka dengan salah satu maid dirumah ini.

“Ye?? Apakah ini Tuan Byun Baekhyun calon suami YoungRa.?” ucap orang itu yang membuat Baekhyun sedikit tersentak. Baekhyun sontak menganggukkan kepalanya dan tersenyum meringis. Maid itu tersenyum kepada Baekhyun dan pintu gerbang pun terbuka untuk Baekhyun.

Baekhyun menatap takjub pekarangan depan rumah mertuanya ini. Ia disuguhkan dengan pemandangan taman yang menurutnya lebih luas dibandingkan pekarangan depan rumahnya. Maklum, dari awal ia mengetahui perjodohan ini, Baekhyun belum pernah berkunjung kerumah ini.

Ingatkah kalian? Sewaktu Keluarga Kim mengadakan acara jamuan makan malam. Baekhyun mendadak tak bisa ikut yang membuat YoungRa marah dan kesal terhadapnya saat JiEun menceritakan seorang lelaki yang disukainya. Dan sampai saat kejadian itu ia belum pernah berkunjung kemari.

Tak ingin mengulur waktu, iapun melangkahkan kakinya dengan ragu memasuki rumah YoungRa. Dia menghelah nafas dan menyemangati dirinya. Lalu ia pun mempercepat langkah kakinya untuk menuju pintu rumah Keluarga Kim yang sudah terbuka.

Saat ia memasukki rumah itu ia langsung dihadapi dengan ibu YoungRa yang tersenyum cantik kearahnya, “Aigoo…Baekhyun ingin menjemput YoungRa, eoh.?” tanya mertuanya itu.

Baekhyun mengangguk, “Ne eommonim.” jawab Baekhyun singkat. Ia lalu diajak lebih masuk kedalam rumah YoungRa. Lebih tepatnya ia diajak keruang tengah yang dekat dengan ruang makan walau dihalangi oleh sekat tembok.

“Apakah kau sudah sarapan? Jika belum, kau bisa bergabung dengan YoungRa yang sedang sarapan diruang makan.” tawar Nyonya Kim kepadanya.

Baekhyun menggeleng, “Ah..aniya. Aku sudah sarapan eommonim.” tolak Baekhyun halus dengan tersenyum.

Nyonya Kim membalas senyuman itu, “Baiklah..kalau begitu kau duduklah dulu disini, eommonim akan memanggil YoungRa.” Ujar mertuanya itu dan berlalu dari ruang tengah meninggalkan Baekhyun disana.

Baekhyun mengamati dengan teliti dekorasi dan pajangan lukisan serta foto-foto Keluarga Kim. Ia tersenyum saat matanya menangkap sebuah foto berukuran sedang yang terpajang tepat didepannya.

Seorang bayi perempuan yang memakai baju berwarna kuning cerah dan juga pita kecil menghias rambutnya sedang menatap dirinya dengan tatapan polos. Pupil matanya yang lebih besar dari korneanya membuat Baekhyun tertawa kecil karena imutnya foto tersebut. ‘Kim YoungRa’ batin Baekhyun melihat foto itu.

“Hey.” ujar seseorang dari samping Baekhyun yang membuuatnya sontak menoleh kesamping. Dia melihat YoungRa yang menurutnya cantik dengan memakai seragam yang sama seperti dirinya.

“Eoh. Ka-kau sudah siap.?” ujar Baekhyun kepada YoungRa yang sudah siap dengan seragam School of Performing Arts. YoungRa menganggukkan kepalanya dan tersenyum kecil menanggapinya. Tetapi, YoungRa sedikit memicingkan matanya melihat Baekhyun memakai seragam ini. Ia merasa…familiar.

Baekhyun menganggukkan kepalanya dan berdiri dari duduknya, “Geurae….eum, kemana eommamu.?” tanya Baekhyun. YoungRa menghelah nafas, “Dia bilang jika ingin berangkat, berangkatlah saja. Tak usah menunggunya.” Balas YoungRa.

Baekhyun mengangguk, “Baiklah..kajja.!” ajaknya dan mereka pun berjalan keluar bersama untuk berangkat menuju sekolah baru YoungRa.

.

.

PIIIP

 

“Nomor yang anda tuju sedang berada diluar jangkauan. Coba—

“AISH! KIM YOUNGRA EODDISEO.?!” teriak JiEun dikelasnya dengan menekan layar ponselnya. Ia sudah berkali-kali menelfon sahabatnya itu yang belum datang sedari tadi. Padahal 3 menit lagi bell berbunyi.

Tak biasanya YoungRa telat hingga seperti ini. Ia takut ada yang terjadi dengan YoungRa. Entah kenapa ia gelisah mengingat YoungRa yang tak datang seperti sekarang. Ia menatap ponselnya yang tak kunjung mendapat balasan dari YoungRa.

Biasanya jika YoungRa tak masuk ataupun membolos, dia pasti akan menghubunginya terlebih dahulu. Ia mencoba kembali mengirim pesan kepada YoungRa. Tetapi sayangnya, bell sekolah telah berbunyi yang membuatnya harus menghentikkan niatnya yang sudah menggebu-gebu.

“Hai semua.” ujar Shin songsaenim kepada murid-muridnya. Guru itu akan mengajar Bahasa Korea dikelasnya. Semua murid menjawabnya tapi tidak termasuk dengan JiEun yang diam menatap ponselnya yang ia taruh ditengah halaman buku catatannya. Shin Songsaenim menurutnya guru yang baik. Tetapi, jika sudah ada murid yang mengganggu pelajarannya. Ia tak segan-segan akan mengeluarkannya dari jam pelajarannya.

“Sekarang kita akan membahas tentang…………”ujar panjang lebar Shin songsaenim kepada murid-muridnya. Semua murid hampir tak memperhatikan dia karena mendengar ocehan panjang yang menurut mereka tak bermutu.

JiEun mengalihkan pandangannya dari ponsel itu ke jendela sampingnya. Ia menerawang melihat lapangan luas yang sedang ramai karena ada kelas lain yang sedang jam pelajaran olahraga. JiEun merubah raut wajahnya menjadi sedikit tegang.

Disana tak sengaja ia menatap seseorang yang dielu-elukan oleh sahabatnya, YoungRa. Park Chanyeol sedang mengambil bola basket yang dialihkan kepadanya dari teman sekelasnya itu. Dia merubah lagi raut wajahnya.

JiEun mengamati Chanyeol dengan tatapan intimidasi. Sebenarnya ia tahu apa yang sudah terjadi dengan YoungRa dan Chanyeol sewaktu diloker. Mereka berdua berpelukan. Dan Chanyeol berlalu saja dari sana meninggalkan YoungRa yang membuatnya kesal.

Entah mengapa JiEun tak suka dengan Chanyeol yang suka mengumbar popularitas dipublik sekolah. Ia benar-benar membenci Park Chanyeol hingga rasanyan ingin meremas wajah sok tampannya itu. Cih! Wajah idiot saja dibanggakan!. Pikirnya. Sekarang saja ia sudah melampiaskan kekesalannya kepada buku catatan yang sudah ia remas-remas.

Ia juga tak tahu kenapa berfikiran negative kepada Chanyeol perihal hilangnya YoungRa saat ini. Apa mungkin YoungRa tak masuk sekarang ada hubungannya dengan Chanyeol? Jika memang ada hubungannya dengan namja idiot itu. Ia tak akan segan-segan untuk mencekik Chanyeol hidup-hidup.

“Gggrrr…park chanyeooool! NEO MICHISSEO.!”

 

BRRAAAKK!

 

“LEE JIEUN! KELUAR DARI JAM PELAJARANKU SEKARANG.!”

 

TBC

 

KYAYAYAYAYAYAYAY CHAPTER 3 UP!! Huuuwaaaaa gimaana sama ceritanyaaaa?? Makin aneh yaa? Makin ga nyambung yaaa? Aiishh…mianhaee kalo ceritanya makin ngawur dan ada yang keluar dari jalan cerita sebenarnya ‘-‘ . Aiden gak tau lagi harus gimana-_-#plak!. Cerita ini juga tergantung sampe chapter berapa. Tapi kalo menurut Aiden sendiri, This Love ini pasti bakal panjang ‘-‘ Huuuwaaaaa gak taau lagi harus gimanaaaa…

Tolong kritik dan sarannya neee^^

Iklan

7 pemikiran pada “This Love [Chap 3]

  1. Jangan terlalu buat sakit hati Thor -,-
    Aku ngerasa sakit hati gak tau kenpa , mngkin karna jieun Dan baekki
    Buat baekra moment third
    Buat jieun tau , Dan chanyeol tau di chap 4 nya -,-
    Milan banyak minta ^^

    Suka

    • aigoo…
      mianhae ne…kalo ff nya makin jelek 😦
      di bagian mana yang feel nya gak terlalu dapet?
      atau semua nya?
      biar nanti aku bisa bikin lebih greget/? di chap 4.-.

      Suka

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s