[Request] Pain Killer

painkiller

Pain Killer

Written by Diramadhani and Starred by Kim Kai & Original Charachter (OC)

©FanFic is mine. Thanks for Kaihwa who requested me for making this Fic. Inspired by Pain Killer – Spica.

_______________

Aku ini menyedihkan.

Aku bahkan sudah tidak punya lagi sisa satu huruf untuk membawanya kembali. Setiap hari aku terus membiarkan hati kecilku ini memiliki ekspetasi buram yang mustahil untuk menjadi kenyataan.

Laki-laki itu, apa mungkin dia tau apa yang telah ia lakukan kepadaku?

Laki-laki yang membiarkanku sendiri dan pergi dengan alasan tidak masuk akal. Laki-laki yang membuatku berada di jalan untuk menjadi gila. Terciptalah lingkaran di sekitar mataku, entah sudah berapa hari aku selalu mengalami malam yang panjang.

Aku takut, aku bahkan terlalu takut untuk tertidur. Ketika disetiap aku memejamkan mata, wajahnya langsung melayang hinggap dikepalaku, itu menyakitiku. Setiap hembusan napas yang terhempas dari sistem pernapasanku, fatamorgana-fatamorgana itu selalu datang. Bayangan tentang dirinya, senyumannya, kesalnya, marahnya, bahkan ketika detik terakhir kedua pasang iris kami bertubrukan, sebelum dia hilang, meninggalkan bayangan random yang tak tertepis dari kepalaku.

Aku memiliki kebencian yang dalam, dan atensinya tertuju pada laki-laki itu, laki-laki yang menyebut dirinya dengan nama Kai. Laki-laki yang menegaskan bahwa dia terlalu bosan melihat wajahku, Memberiku sebuah permohonan untuk menghilang dari hidupnya.

Laki-laki itu duduk disana hari itu, dia mengirimiku pesan agar aku secepatnya datang. Seperti apa yang ia minta, aku hadir disana, dengan bodohnya tersenyum tanpa mengetahui apa yang hendak ia katakan padaku.

Laki-laki itu tersenyum, kemudian memintaku untuk duduk. Ia memesan dua cangkir cappuccino dan menyuruhku meneguknya, ia juga melakukan hal yang serupa. Kai melipat kedua tangannya, dia   memastikan aku menghabiskan isi mug berwarna hijau tua berisi cappuccino milikku dan kemudian dengan ringan ia berkata,

“Elle, aku sudah bosan padamu, ayo sudahi disini. Ayo kita tidak usah saling bertemu dan saling menghilang dari kehidupa satu sama lain.” Dan bahkan sebelum aku menanggapinya, laki-laki itu menyeret jaketnya keluar dari kafe dan menghilang dari pandanganku. Aku tertegun, masih berusaha memahami apa yang sedang terjadi. Namun ketika aku memahaminya, aku merasa dihantam kuat-kuat pada ulu hatiku. Laki-laki itu benar-benar tidak pernah kembali.

Aku ingat, aku ingat wajahnya yang tegas tanpa penolakan ketika mengucapkan kalimat menyakitkan itu, pada rautnya tidak tersisa harapan lagi untukku mempertahankan dirinya. Apakah mungkin semuanya akan berubah andaikata aku berlutut dihadapannya memohonkan diri? Apa semuanya akan berbeda? Bahkan harga diripun, akan aku buang jauh-jauh asalkan aku tidak perlu menjadi gila seperti ini.

Air mata? Aku tak pernah meneteskannya setetespun, pada setiap mililiter airmata terdapat luka yang mendalam, tapi taukah laki-laki itu? Bahkan airmataku telah membeku bersama hatiku yang dingin, tidak ada kehangatan lagi semenjak dia pergi, seolah dia meninggalkanku di antartika sendirian.

Setiap hari bibirku selalu menggumamkan satu kalimat yang sama. Tak berubah bahkan hingga sekon ini berakhir, “bisakah kau menjadi milikku? Bisakah kau tinggal untukku? Bisakah kau menjadi satu-satunya bagiku?”

Aku membencinya, jika ada satu hal di alam semesta ini yang harus aku benci, opsi terbesar tertuju padanya. Namun satu hal yang tak boleh terlewatkan, munafik sekali jika aku berkata aku tidak merindukannya.

Hujan mengguyur Seoul dengan frekuensi tinggi, menghujam tanah tanpa ampun, membasahi kota yang masih tak libur dari kesibukannya yang luar biasa. Tapi di dalam ruangan kecil yang gelap itu, aku dibiarkan sendirian dan kedinginan.

Kakiku perlahan melangkah keluar, seretan kecil yang pasti. Kubuka pintu tua yang membatasi ruangan dengan dunia luar, membiarkan tubuhku terhempas oleh angin yang kencang kemudian terjebak dalam dinginnya hujan. Aku lelah, aku lelah akan harapan dan ekspetasi kosong yang terus datang enggan pergi.

 Dia tidak akan pernah kembali, seberapapun besar aku berharap. Dia tidak akan pernah datang lagi untuk memberikan pelukan hangatnya seperti dulu, mengucapkan kata-kata yang sama bertema roman setiap harinya.

Semuanya sudah menjadi mustahil. Jadi biarkan aku disini, terhempas udara bersuhu rendah dan terhujam oleh air yang dijatuhkan oleh langit. Satu hal yang harus tetap kupegang, aku mencintainya. Seseorang yang berengsek dan menginggalkanku hanya dengan sebuah alasan simpel. Ah, mungkin ia memang tidak pernah mencintaiku. Mungkin selama ini dia hanya berbohong padaku.

Terimakasih pernah datang di hidupku, meskipun itu hanya sebentar dan berbuah luka yang membunuhku perlahan, luka yang tak akan pernah kutemui obatnya, mungkin hingga ketika napas terakhirku terhempas. Terimakasih, Kim Kai.

__________________

 Maaf pendek /bow/

Aku langsung ketik tadi begitu liat request, mumpung lagi mau hehe 😀 Maaf kalo nggak ngefeel atau klo banyak yang kurang, untuk typo udah kuusahakan nggak ada. Makasih buat kaihwa yang udah request yaaa… 😀

Iklan

2 pemikiran pada “[Request] Pain Killer

  1. Meskipun pendek, tapi feelnya tetap terasa. Nggak tahu kenapa selalu suka karya kak Diramadhani a.k.a kak jeong seomi. Diksinya bagus, ide ceritanya juga keren – keren. Keep writing ya kak ^^

    Suka

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s