99th Mission 4th Chap : Laughing Together

99thmissionn

99th Mission 4th Chapter : Laughing Together.

Ayah selalu mendedikasikan Sehun agar menjadi seorang polisi, sama seperti beliau. Sejak kecil, ayah selalu mengajarkan SeHun bagaimana seorang polisi itu bertindak, larangan menjadi penakut, dan beberapa pengetahuan lain tentang kepolisian.

Dan pada usia tujuh tahun, Ayah mengirim SeHun ke akademi kepolisian.

SeHun bukanlah anak yang pandai bergaul, ia lebih memilih pergi kemanapun seorang diri. Kedua tangannya selalu tertaruh di dada, kalau tidak berada di dalam saku celana atau jaketnya. Memamerkan arogansinya sebagai putera opsir Oh, seorang polisi yang terbaik kala itu.

SeHun memiliki prestasi yang memukau, ia selalu duduk bersama seorang anak bernama Byun Baekhyun yang sebenarnya SeHun juga tidak terlalu mengenalnya, mereka berdua sama-sama asosial. SeHun tidak keberatan duduk bersama Baekhyun yang pendiam dan juga cerdas.

SeHun dengar, Baekhyun memiliki tingkat intelegensi yang tinggi. Konon katanya, Baekhyun akan dicalonkan sebagai seorang pemimpin yang merencanakan penyerangan nanti. SeHun juga pernah berpikir, jika ia menjadi polisi, akan sangat keren jika dia dipadukan dengan Baekhyun, dia tidak pernah berpikir bahwa bayangan absturdnya terwujud di masa mendatang.

Tapi tidak sedikit siswa akademi yang tidak menyukai SeHun, atas arogansinya sebagai siswa paling berprestasi dibergai macam bidang, maupun karena anak laki-laki itu merupakan putra opsir Oh. SeHun selalu merasakan atmosfir kebencian ketika dekat dengan teman entah rivalnya.

Dan SeHun merasakannya ketika kedua kakinya terkilir saat lari maraton. Tidak ada yang mempedulikannya, bahkan tidak sedikit kalangan yang mentertawainya yang tidak bisa bangun sendirian, sedangkan jika menunggu para guru maka menghabiskan waktu yang lama, mengingat mereka masih jauh di belakang.

Dan disanalah, SeHun bertemu dengan Lu Han, seorang senior di akademi. Lu Han terseyum dan mengulurkan tangannya kepada SeHun. Anak laki-laki itu hampir mengabaikan uluran tangan Lu Han demi harga dirinya, namun mengingat kakinya yang sudah hampir membengkak karena cideranya, tidak ada opsi lain selain menerima tangan Lu Han.

Saat itu, Lu Han berusia duabelas tahun, dan SeHun baru menginjak usia ke delapan.

Lu Han adalah tipe kakak yang tidak pernah SeHun bayangkan hadir dalam kehidupannya yang terkesan dingin, setelah kejadian itu, Lu Han selalu datang untuk menemani makan siang SeHun yang selalu sendiri. Pada awalnya, SeHun selalu mengabaikan Lu Han dan makan dalam diam. Namun kelamaan, SeHun mencoba terbuka dan mengurang arogansinya. Mereka berteman dengan baik, meskipun ada pertenggangan usia yang mencolok dan perbedaan bahasa. Lu Han sendiri adalah mutasi dari Cina, dia belum terlalu paham hangeul.

SeHun pernah bertanya, kenapa Lu Han justru menjadi polisi di Korea? Bukan di Cina?

Dan Lu Han menjawab, orang tuanya bercerai, ia di bawa oleh Ibu yang merupakan warga negara Korea. Lu Han memiliki sumpah untuk menjaga ibu dengan baik, itu sebabnya anak laki-laki itu memilih masuk ke akademi kepolisian, ibu memberikan dukungannya dengan bangga.

Pada suatu malam dengan hawa menusuk di musim dingin, SeHun merasa dia ingin menangis jika ia lupa dengan harga dirinya yang selangit. Anak laki-laki itu tanpa sengaja menumpahkan jatah makan malamnya sendiri. Banyak anak-anak lain yang menertawainya, namun SeHun menutup pendengarannya, anak laki-laki itu hendak memungut roti yang terjatuh, dan disanalah Lu Han berperan sebagai kakak, ia melarang SeHun mengambilnya.

Lu Han dengan senyuman memberikan jatah makanannya pada SeHun dan mengatakan bahwa Lu Han sudah kenyang. Padahal jelas sekali bahwa Lu Han juga sama kelaparannya dengan SeHun. Tapi karena keras kepalanya Lu Han, akhirnya SeHun lah yang memakan makan malam itu.

Dan setelah enam bulan berteman, akademi mereka menerima seorang anak laki-laki yang sangat pendiam dan terlihat kesepian, Lu Han berdecak dan berkata ‘banyak sekali anak-anak yang tidak tau cara mendapat teman’. SeHun tau Lu Han menyindir dirinya. Lu Han pun mengajak anak laki-laki itu untuk bermain dengannya dan SeHun. Siswa baru itu memiliki usia yang terpaut beberapa bulan dari SeHun, namanya Kai. Mereka bertiga menjadi sahabat yang dekat. Dimata orang lain pun seperti itu, tidak ada yang bisa memisahkan mereka bertiga.

Kecuali satu hal, kematian.

.

SeHun mengepalkan tangannya erat, membiarkan buku-buku jarinya memutih. Perlahan, tetes demi tetes air hujan mulai jatuh dari atas langit, menghujam dengan kuat diatas dedaunan sebelum mengalir ke tanah, air itu membasahi pakaian yang SeHun pakai saat itu. Namun laki-laki itu enggan beralih dari tempatnya, ia terus menatap makam itu dengan sendu.

Ia tahu semua akan menjadi seperti ini, itu sebabnya dia tidak pernah datang kemari.

Makam Lu Han perlahan diguyur oleh air hujan. SeHun bahkan ingin berteriak keras dan memberikan atensinya pada Hujan yang seenaknya membahasahi tempat dimana seorang Lu Han tertidur.

Bahkan sampai saat itu, SeHun masih belum bisa menerima kematian LuHan. SeHun terus mensugestikan dirinya dengan anggapan bahwa Lu Han hanya pergi ketempat yang sangat jauh untuk beberapa saat, dan suatu saat nanti Lu Han akan kembali dan memberikannya pelukan lagi. Itu adalah salah satu sebab kenapa dia tidak pernah datang kemari, selain takut akan kemungkinan dia menangis. Karena di dalam hatinya, seseorang yang tertidur di balik tanah itu, bukanlah Lu Han.

“Lu Han Hyung! Tidak bisakah kau kembali? Lu Han hyung… kumohon…”

SeHun memiliki sisi lemah jauh di dalam jiwanya, namun Laki-laki itu terlalu pintar menutupi kelemahan itu dengan arogansi dan harga dirinya. Itu sebabnya dia bertahan hingga detik ini. Sayangnya hari ini, semua lepas dan tereskpos. SeHun tidak bisa mengemas kerinduannya yang membuncah.

Dia tetap manusia. Manusia yang memiliki hati, dan sosok Kakak seorang Lu Han berhasil menyentuh hatinya.

Ia memiliki satu janji lagi di dalam hidupnya, Ia akan melindungi siapapun yang berhasil menyentuh hatinya. Ia tidak boleh kehilangan salah satu dari mereka, atau penyesalan yang sama akan terulang. Dan SeHun tau bahwa janji itu ia buat untuk Ellin.

.

SeHun memutar kunci pintu berpelintur cokelat tua rumah miliknya dan kemudian masuk. Ia beberapa kali menghela nafasnya, bajunya basah karena hujan. Ketika masuk, Ia menangkap bayangan Ellin sedang membersihkan rumahnya, gadis itu bilang dia bosan dengan acara televisi. SeHun mengangguk dan masuk ke dalam rumah.

“Tunggu tuan SeHun. Berdirilah disana!” Gadis itu berlari ke bagian belakang rumah kemudian dia kembali dengan membawa sebuah handuk berwarna hijau. Gadis itu berdiri dihadapan SeHun lalu mulai mengusap kepala SeHun dengan handuknya, entah Ellin sadar atau tidak saat melakukannya, tapi SeHun menyukainya.

Ia menatap wajah Ellin yang mengekspresikan kekhawatiran dengan jelas. Ia tersenyum kecil menyadarinya. Tapi satu realita lain yang harus ia akui. Ini hari terakhir keberadaan Ellin dirumahnya. Esok hari, Lay akan membawa Ellin ke rumah milik laki-laki dengan lesung pipi itu.

SeHun menangkap tangan Ellin yang sedang sibuk mengusap rambut SeHun dengan dua tangannya. Ellin menghentikan aktifitasnya dan menatap SeHun, laki-laki itu sendiri hanya diam, kemudian tersenyum tulus.   “Terimakasih, Ellin.”

Ellin menunduk, SeHun tidak memikirkan apa yang Ellin coba sembunyikan dari wajahnya. Ketika menyadarinya, ia akan merasa besar kepala, sayang sekali SeHun tidak bisa menahan kekehannya.

“Aku akan mengganti pakaianku. Kau lanjutkan apapun kegiatanmu.” SeHun berjalan meninggalkan Ellin di ruang tamu. Laki-laki itu lenyap setelah memasuki pintu kamar mandi.

.

Hujan terjadi kurang lebih selama dua jam. Langit masih mendung namun tidak ada deretan rintik air yang terjatuh dari langit. Air menggenang di sepanjang jalan dan menetes dari ujung-ujung daun tanaman. Udara lebih segar seolah di saring oleh hujan, SeHun menghisapnya banyak-banyak, merelaksasikan paru-paru yang seharian menerima pasokan karbon dioksida dan monoksida berlebih.

SeHun mengusap kaca jendela, berjalan-jalan diluar kelihatannya cukup menarik. Ia melirik Ellin yang duduk di kursi sembari menonton TV.

“Ellin, apa kau bosan? Bagaimana dengan berjalan-jalan keluar?” Tanya laki-laki itu pelan. Tanpa butuh waktu lama, Ellin menolak. Tidak, ia tidak bisa keluar. Ia terlalu takut pada sosialita. Ia takut jika mungkin ia akan bertemu orang-orang yang pernah melukainya.

SeHun berjongkok di depan gadis itu, kemudian menggenggam tangannya dan mengusapnya pelan,

“Kau lupa? Aku pernah berjanji akan melindungimu. Aku tidak akan membiarkan seorangpun melukaimu, jadi ikutlah.” Ucap SeHun pelan. Ellin diam selama beberapa saat, mungkin berpikir.  SeHun memberinya sebuah senyum untuk meyakinkan gadis berambut cokelat itu, kemudian akhirnya Ellin memberikan persetujuannya dengan sebuah anggukan.

SeHun tersenyum senang, ia mengambil jaket di dalam lemarinya sendiri. Memakaikan salah satunya kepada Ellin, SeHun tertawa ketika menyadari jaket itu terlalu longgar untuk di kenakan Ellin. SeHun sendiri memakai jaket berwarna merah bata. Ia juga menyempatkan untuk menata rambut Ellin yang berantakan dengan tangannya sendiri.

“Kau tampak lebih cantik jika seperti ini.” Ucap SeHun sembari terkekeh. Ia kemudian menarik tangan Ellin keluar dari rumahnya, kedua sepatu mereka menimbulkan bunyi kecipak ketika menginjak genangan air yang belum sempat mengalir ke drainase di luar rumah. Kedua tangan dua anak adam dan hawa itu saling menggenggam.

“Tuan SeHun, kita mau kemana? Apa akan banyak orang disana?”

“Ikuti saja aku. Dan jangan panggil aku Tuan SeHun. Aku tidak pernah memiliki kata ‘tuan’ sebagai namaku.”

Mereka berlarian dengan menggenggam tangan. Hingga SeHun berhenti setelah menempuh jarak  kurang lebih tiga kilometer. Sebuah padang rumput terhampar di hadapan mereka, di sisi kirinya terdapat sebuah tembok tebal yang membentang sepanjang padang rumput, dan jauh di ujungnya terdapat rel kereta api tua. Kemudian, di sisi kanan padang rumput terdapat sebuah sungai kecil yang airnya mengalir tenang.

SeHun menarik Ellin duduk pada sebuah kursi kayu tua yang mulai lapuk akibat terkena panas dan dingin selama bertahun-tahun, aroma khas usai hujan masih tercium dengan jelas. Ellin merasakan kursi itu masih basah,

“Kau suka?” tanya SeHun pelan, laki-laki itu tersenyum pada Ellin, tanpa berpikir Ellin mengangguk membenarkan pertanyaan SeHun. Laki-laki itu tersenyum puas, kemudian mengarahkan tatapannya pada ilalang yang meneteskan titik-titik air dari ujungnya.

“Tuan SeHun?” Ellin memanggil laki-laki itu,

“Apa? Sudah kubilang, jangan panggil aku ‘Tuan’” ketus SeHun dingin. Sedangkan Ellin terkekeh sendiri, entah ia sadar atau tidak. Sedangkan laki-laki yang duduk bersamanya justru tertegun. Ellin yang merasa ditatap berhenti tertawa pada akhirnya.

“Kenapa?” tanyanya. SeHun lah kini yang tertawa. Laki-laki itu menggeleng. Kemudan ia diam dan menatap Ellin sendu. Kalian tau? Pertama kali Oh SeHun bisa melihat Ellin tertawa adalah pada tiga jam terakhir sebelum mereka tidak bisa saling bertemu lagi. Keduanya saling bertatap dalam keheningan yang menyelimut, SeHun tidak sempat berpikir tentang apa yang Ellin sedang pikirkan, Namun disisi SeHun sendiri, ia merasa sangat kalut.

Mereka diam dalam pikiran mereka sendiri. Selimut keheningan menutupi keduanya dalam kehangatan. Dua anak adam dan hawa itu masih terlarut dalam pikiran masing-masing.

Mereka diam bahkan hingga suasana sekitar berubah menjadi keoranyean, senja sudah menjelang. Suasana bertambah klasik ketika sebuah Kereta api melewat, menimbulkan bebunyian keras akibat gesekan roda besi dengan rel nya. Ellin berdiri, berusaha menajamkan pandang matanya untuk dapat menangkap bayangan kereta itu dengan jelas. Kereta itu membunyikan peluitnya bersamaan dengan mentari yang mulai menapakkan diri untuk kembali ke belahan lain dunia, menyisakan warna keemasan sementara yang akan menghilang.

Ellin tersenyum, apa yang tersaji dihadapannya benar-benar indah, aliran sungai juga menimbulkan bunyi gemricik yang menenangkan. Semakin tiap detik terlewat, langit semakin gelap, namun tidak mengurangi keindahan berkat kerlipan bintang mulai menyombongkan diri bersama pantulan sang rembulan. Jangan lupakan keberadaan kunang-kunang yang berterbangan diantara ilalang liar yang tinggi. Angin sesekali menghempas mereka hanya untuk melewat.

Ellin melirik SeHun, laki-laki itu tetap diam sejak satu jam keberadaan mereka disini. Tapi Ellin tau, SeHun tidak dalam situasi yang kondusif untuk mengagumi tempat ini. Entah apa yang SeHun pikirkan, tapi Ellin yakin, atensinya ditujukan pada kalender yang dilingkari warna merah itu. Ellin tidak tau apa yang terjadi pada hari ini beberapa tahun yang lalu hingga membuat SeHun sedih, namun ia mengimani bahwa itu merupakan sebuah peristiwa bermakna.

Ellin tidak tau jika sedihnya SeHun bukan hanya karena kalender itu, tapi juga karena mereka akan terpisah.

“Hei, Aku tau aku tampan, jadi berhentilah menatapku.” Ucap SeHun sembari terkekeh, Ellin mengalihkan tatapannya dengan cepat, dia merasa gugup tiba-tiba setelah tertangkap sedang memperhatikan SeHun. SeHun semakin memperkeras tawanya melihat wajah Ellin yang seperti itu.

Ellin memukul lengan SeHun karena kesal, dan laki-laki itu meringis. Menyadari usahanya berhasil, Ellin sekaranglah yang tertawa disusul oleh SeHun.

Dan disana, detik itu, SeHun ingin menghentikan waktu. Disaat mereka berdua bersama. Dikala mereka berdua tertawa lepas bersama seperti ini. I want to stop the time when you and me are laughing together.

.

Malam itu, Lay mengetuk pintu rumah SeHun. Laki-laki itu dengan berat hati membukakan pintu jatinya untuk jalan masuk Lay. Lay dengan ramah memperkenalkan dirinya kepada Ellin, ia juga memperjelas  maksud tujuannya datang kepada Ellin

Dan SeHun bersumpah, ia melihat tatapan yang penuh akan kekecewaan ditujukan Ellin padanya, dan itu menyakitinya. gadis itu membiarkan kedua matanya berkaca-kaca, melambangkan kesedihannya yang akan tertumpah. Ia menolak bersama Lay.

“Ellin, percayalah padaku, Lay adalah laki-laki yang baik.” Ucap SeHun lembut. Dia berlutut di depan Ellin yang sedang duduk. Kemudian, laki-laki itu memegang tangan Ellin dan mengusapnya lembut.

“Kau mempercayaiku kan, Ellin? Jika kau mempercayaiku, kau juga harus percaya pada Lay. Aku bersumpah dia laki-laki yang baik. Aku akan prioritaskan mengunjungimu jika memungkinkan.” Ucap Laki-laki itu halus, Ellin mengalihkan tatapannya dari SeHun, ia tidak mau menatap kedua mata SeHun saat itu. Sedangkan Lay ternganga melihat pemandangan itu. Ia tidak pernah membayangkan Oh SeHun bicara sehalus itu pada orang lain selain ibunya.

Ellin menggeleng, air mata berjatuhan di pipinya.  “Apa aku bersalah? Apa aku menyusahkan? Apa aku menyebalkan? Apa aku merepotkan? Tidak tuan SeHun… apa saja asalkan aku tidak terpisah denganmu…. A-aku… aku…”

SeHun menggeleng, laki-laki berkulit pucat itu mengusap airmata yang mengalir di pipi Ellin dengan lembut. “Ellin, kau tidak bersalah. Tapi ini harus terjadi. Kumohon, percayalah pada Lay. Aku janji akan datang berkunjung…” ucap SeHun halus, ia sendiri sudah hampir mengusir Lay dari rumahnya dan tidak membiarkan Ellin pergi, namun logikanya masih bertahan untuk berpikir logis.

Ellin terus menggeleng, tapi SeHun juga tidak bisa menahan Ellin lebih lama lagi. Ia membantu Lay membawa Ellin masuk ke dalam mobil. Kemudian, Lay menjalankan mobilnya, mobil itu pergi bersamaan dengan teriakan Ellin yang terus menyebut namanya, dia Oh SeHun.

SeHun menghempaskan nafasnya, Ellin pergi bersama dengan lenyapnya mobil Lay dari jangkauan penglihatannya. Ellin pergi setelah berhasil menyentuh hatinya yang dingin. Ellin meninggalkannya, dengan kehendak SeHun sendiri. Laki-laki itu mengatur dadanya yang kembang kempis menahan perasaannyanya sendiri. Tidak, SeHun tidak menangis.

.

Kai harus kembali ke markas tengah malam, kebiasaan lupanya yang menyebalkan membuatnya harus kembali demi ponselnya. Tapi ketika mengambilnya, Laki-laki itu terheran ketika melihat siluet seorang gadis berdiri di balkon sendirian.

“Hai Chae.” Sapa Kai pelan. Chaeri menoleh ke arah Kai dan mengangguk tipis. Kedua manik matanya tertuju pada langit malam yang menyuguhkan pemandangan indah, mengalahi udara dingin yang menusuk.

“Kukira kau sudah pulang, Kai.” Gumamnya pelan, namun dia tidak menatap kearah Kai. Kai menggeleng, laki-laki itu menyanggakan tubuhnya diatas pagar pembatas balkon. Keduanya hening, memilih untuk fokus pada pikiran masing, masing suara hempasan napas dan angin yang berhembus adalah satu-satunya yang mengisi keheningan,

“Apa yang kau pikirkan heum?” Laki-laki berkulit tan itu memilih memulai bicara terlebih dahulu, membuka gerbang keheningan yang berdiri kokoh diantara mereka. Chaeri menghempaskan nafasnya. Kemudian ia menoleh dan menghadap ke arah Kai.

“Lu Han itu siapa sebenarnya?” gumam Chaeri pelan. Kai tertegun. Chaeri adalah anggota baru yang bergabung empat tahun lalu di kepolisiannya. Dia merupakan murid di sekolah kedokteran, tentu saja dia tidak tau menahu soal Lu Han yang telah meninggal lima tahun lalu.

“Aku tidak terlalu tau. Kasus ini ditutupi oleh pihak keluarga Lu Han. Entah kenapa, tapi satu hal yang jelas. Ketua mafia Ghats, Kang Jinseok terlibat dalam pembunuhan ini, kudengar, organisasi itu tidak terlibat dalam ini semua, hanya ketuanya saja. Aku juga sedikit bingung, tapi itu saja yang aku tau.” Kai kemudian menyandarkan tubuhnya di dekat jendela.

Helaan napas terdengar dari Chaeri gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada. “Ayolah Kai, kau ini detektif. Seharusnya mudah untuk menemukan hal-hal seperti itu.”

Sedangkan Kai menggeleng, “Aku tidak pernah mencobanya Chae, terlalu berbahaya.”

Chaeri mengangguk-angguk kemudian menghela nafas. Kemudian, Gadis itu menawarkan secangkir kopi pada Kai sebelum masuk ke dalam ruangan, dan keluar sepuluh menit kemudian dengan dua cangkir kopi instan. Kai hanya menerimanya dan mengucapkan terimakasih.

Karena Chaeri diam, Kai mulai kembali berbicara, dia menceritakan kejadian misinya di dalam markas yang ternyata jebakan itu dari sudut pandangnya. Awalnya Chaeri yang acuh akhirnya memilih untuk mendengarkan cerita Kai.

Hari itu, Kai memang berbelok berbeda arah dengan SeHun setelah meringkus beberapa baker yang berjaga dibagian paling luar toko roti kecil itu. Ketika membuka pintunya, laki-laki itu menemukan lorong yang sangat gelap tanpa sedikitpun cahaya, laki-laki itu kemudian meminta bantuan senter yang keberuntungan baginya karena ia tidak lupa membawa benda tersebut.

Kai berjalan pelan di dalam lorong sepi terserbut, sepuluh menit berlalu tidak terdengar tembakan ancaman atau semacamnya. Kai awalnya terheran, namun semuanya terbayar ketika kakinya menyentuh sebuah laser dan ledakan kecil terjadi. Beruntung Kai selamat, sambutan yang sangat menarik. Ia jadi berpikir, apa yang terjadi dengan SeHun di sisi lain sana, apa SeHun baik-baik saja? Namun pertanyaan itu terjawab sendiri, tentu saja, SeHun adalah Oh SeHun, polisi terbaik Korea Selatan saat ini.

Kai menetralkan napasnya yang tersenggal akibat keterkejutannya akan sambutan laser itu, kemudian ia menyalakan ponselnya dan menggunakan aplikasi  deteksi laser dan ranjau yang dibuat oleh Kyuhyun di dalam smartphonenya. Sungguh, hyungnya itu cerdas dalam ITE.

Disana, tidak ada halangan yang berarti bagi Kai, sebelum dia menemukan dua buah cabang lorong. Ia sempat berpikir untuk berbelok ke arah kiri, karena jika kearah kanan, mungkin ia akan bertemu dengan SeHun. Tapi ketika ia mendengar suara tembakan di arah kanan, tembakan itu berulang-ulang. Kai yakin, mereka mengepung SeHun, dan mungkin SeHun dalam masalah.

Laki-laki itupun berlari dengan sintingnya mendekat ke arah suara tembakan itu, dan disana ia melihat seseorang sedang menodong SeHun pistol dari belakang, ketika pemuda berkulit pucat itu sama sekali tidak menyadarinya. Kai pun dengan cepat melepas pelatuknya, dan laki-laki tadi tersungkur dengan tidak etis dan peluru yang menancap diatas langit-langit.

Kai terkejut ketika SeHun justru menodongnya dengan pistol setelahnya, dan laki-laki berkulit pucat itu bahkan melepaskan pelatuknya, Kai pikir SeHun hendak membunuhnya, tapi pemikirannya terlalu dangkal. Jika SeHun tidak menembak seseorang  yang kini sudah terkapar itu, mungkin Kai-lah yang akan mati. Ia bergidik ketika menyadarinya.

Dan satu lagi, Kai sempat melihat SeHun tersenyum padanya hari itu. Kai bersumpah ia melihatnya, ia rasa, SeHun belum sepenuhnya meninggalkan persahabatan mereka.

Chaeri tertawa mendengar cerita panjang lebar Kai. Hanya sebuah senyuman kecil berarti bahwa SeHun belum melupakan persahabatan itu? Sungguhkah? Aw, benar-benar konyol, itu jika dari sudut pandang Chaeri.

Namun Kai mengelak, Chaeri hanya tidak mengenal seperti apa Oh SeHun itu, bagaimana sifatnya, tindak-tanduknya. Chaeri membalas bahwa ia juga mengenal Oh SeHun, ia tau SeHun jarang tersenyum, tapi bukan berarti jika sebuah Senyuman melambangkan pertemanan.

Dan obrolan itu berakhir dengan pertengkaran penuh akan sarkasme yang terkesan konyol.

.

Dua hari lalu, Lay membawa Ellin bersamanya, dan itu membuat SeHun tidak bisa bernapas dengan benar. Apa Ellin baik-baik saja? Apa dia bertemu perempuan? Apa dia mengamuk? Apa dia sudah makan? Apa Lay memperlakukannya dengan baik? Dan itu mengurangi konsentrasinya bahkan ketika sedang rapat dengan anggota lainnya.

Ia bahkan belum sempat mengunjungi rumah Lay yang letaknya cukup jauh dari lokasi SeHun berada, serta jangan lupakan kesibukan SeHun untuk terus memantau perkembangan-perkembangan kasusnya yang paling besar ini.

Sebenarnya, tak jarang SeHun tidak fokus dengan pembicaraan. Ia lebih sering mengamati layar dinding ponselnya. Ia menggukan gambar Ellin yang ia ambil diam-diam, gadis itu tersenyum dengan kedua mata berbinar yang memantulkan cahaya kunang-kunang, dan itu indah.

Ia bahkan tidak menghubungi Lay. SeHun menghindar dari pertanyaan-pertanyaan semacam : Kenapa SeHun khawatir? Kenapa SeHun peduli? Atau pertanyaan sejenis yang lain.

SeHun masih meninggikan harga dirinya. Sekali Oh SeHun, dia tetap Oh SeHun.

SeHun terkadang merasa menyesal memilih satu ruangan dengan Baekhyun, akhir-akhir ini anak laki-laki yang dulunya pendiam itu berubah setelah dia mengenal Park Chanyeol, menjadi berisik dan membuat kepala pening, seperti sekarang, Baekhyun tidak henti-hentinya mengoceh, apapun dari opsi a sampai dengan z dibicarakan. Mungkin jika ada tombol pause pada bibir Baekhyun, SeHun sudah menekannya dari dulu.

SeHun menyesap kafeinnya, kepalanya terlanjur pusing karena suara Baekhyun yang menggema di setiap sudut ruangan. SeHun tipe orang yang benci suara dan lebih suka keadaan yang tenang. Baekhyun masih terus bercerita,

Sampai suara engsel pintu ruangan itu berdecit, kedua laki-laki itu menoleh kearah pintu untuk mengetahui siapa yang membukanya. Dan disanalah, Chanyeol muncul di depan pintu dengan wajah sumringah seperti biasa.

“Hei Oh SeHun, ada tamu untukmu.” Ucap Chanyeol girang. SeHun menautkan alisnya, Tamu? Untuknya?

“Siapa?”

“Alexa Lu.” Jawab Chanyeol dengan senyuman di wajahnya. SeHun membulatkan matanya. Alexa? Sedang apa gadis ini datang ke markas hari ini? Tanpa menghubungi SeHun terlebih dahulu?

SeHun segera bangkit dari duduknya untuk menemui Alexa. Namun disaat yang sama, ponselnya berdering. SeHun hampir mengabaikannya jika Baekhyun tidak berteriak dan memberitahukan bahwa nama ‘Lay’ tertampil disana. Laki-laki itu menghentikan langkahnya dan kembali sembari menyeret ponselnya untuk diangkat sembari berjalan keluar menemui Alexa, namun langkahnya berhenti ketika mendengar komposisi panik yang terdapat pada nada bicara Lay,

 “SeHun! SeHun! Sehun!” Lay berteriak seperti orang kehabisan cara untuk bicara, nafasnya tedengar tidak beraturan dan suaranya kacau, dan itu justru membuat Oh SeHun semakin kacau dan lebih sinting dibanding Kai, laki-laki berkulit pucat itu berteriak pada Lay untuk bicara dengan jelas.

“SeHun…

.

.

.

Ellin menghilang.”

“APA?”

SeHun merasa seolah napasnya tersendat detik itu. Percaya atau tidak, dalam kurun waktu dua menit, ia telah mendapatkan kejutan yang luar biasa.

____________

Ya Alloh, cast baru lagi asdfghjkl -_- ntar makin susah nyelesaiinnya baru kapok keknya aku -_- apalagi itu? Keluarga Lu Han menutupi kasus? Itu keknya juga bakalan butuh penjelasan, huh. Padahal aku sendiri yang buat 😀

Maap lama /butuh meditasi pas ketiknya/ Eh aku malah mau bikin FF baru lagi masa, castnya Lu Han, hahah keknya aku ini gak kapok2 bikin Chaptered. Masih belum memutuskan di share atau enggak, enaknya gimana ya? Share? Atau gak? Ah, gelap lah =.=

Iklan

13 pemikiran pada “99th Mission 4th Chap : Laughing Together

  1. Sekalinya oh sehun yang dinginnya minta ampun ya tetep oh sehun-_- tapi kalo udah di depannya ellin jadi lembut banget :’V /eakkkk/ alexa lu siapa lagi itu? Ellin juga kenapa malah menghilang-_- lay gimana sih jaganya :3 jangan-jangan lay mendadak amnesia jadinya ellin hilang? :”3 /ditampol lay/ /lupakan ini/
    makin lama makin seru ini hihihih~

    Suka

  2. ellin kabur atau diculik??!!! cieh… sehun udah mulai ada hati sma ellin… 😀 makin ribet nih ceritanya, soalnya makin banyak yang harus dijelasin… tpi tetap makin seru… semoga ellin gak knpa2… ohiya pasti alexa lu itu salah satu keluarganya luhan, semoga gak salah tebak… next thor…

    Suka

  3. ini chapter dari bulan Juli? daebakk aku bahkan baru baca di Oktober 2014 ini.. dan apakah belum ada rencana buat tittle selanjutnya dongsaeng? chapter 5 *kedip kedip* 😀 !
    aku menunggu banget lohh .. entahlah trkhir aku coment bhkn aku lupa dibulan apa .-.
    btw mksh ya buat password.a !!
    aku mohonnn dilanjut yahh.. aku tau kamu udah kelas 9 dan aku tau banget sesibuk apa kelas 9 itu -_- persiapan ujian.. ulangan ini itu.. blm ujian praktik nya .. berbagai hafalan yg menyita waktu? ohmygod.. tapi kalau ada waktu luang sempetin nulis buat next chapter yh dongsaengg!! eonji mohonnn.. eonni pgn bgt lihat di next chapter.. kiasan perasaan.a OhSe ke Ellin itu kaya apa! akankah dia menyatakan perasaan.a dengan gamblang? atau masih bersikukuh pd pendirian.a yg seperti .. yah.. “kulkas berjalan” haha XD !!
    buat OhSe oppa jatuh ke dalam pesona Ellin hingga tak bisa berpaling ke wanita lain yh dongsaeng! eonni mohonnnnnn *puppy eyes* pokoknya aku tunghu chapter selanjutnyaaa yaaaaaa….

    annyeong!! paii..paii..
    mian aku coment di tengah malam kya gink XD

    Suka

  4. wah wah wahhh ellin bener2. kemana ilangnya? bahkan mungkin aja dia gatau alamat rumah sehun.
    alexa lu itu siapa thor? kerabatnya luhan?

    Suka

  5. Huahhhhhh…. MWO??? Ellin menghilang??? kok bsa…
    Chap ini kok di protec thor, knp?
    Pasti ini akan menjadi crita yg pnjg. Q ska ellin bsa ketawa kkkkkk

    Suka

  6. grrr ellin ilang. bener2 dah disini aku ampe ikutan teriak. kirain aku cuma ngamuk doang. ternyata ilang yampunnnn’….’

    Suka

  7. astaga bagaimana ini. ellin hilang..
    duh, sehun sih, kenapa juga itu harga diri ditaruh di langit. tuh, akhirnya ellin hilang jadinya.

    alexa lu? siapa? jangan bilang pacarnya. oh ayolah ellin mau di kemanain kalo gitu?
    hufft. intinya sih next chapter di tunggu thor 😀

    Suka

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s