Trade Off chapter 7

chapter 7 copy2

 

 

Title: Trade Off chapter 7

 

Author: Chubby Kawaii 136 a.k.a CK136 (https://chubbykawaii136.wordpress.com)

 

Genre: Straight, Romance, Friendship, Angst, Hurt/Comfort, School life, Fantasy, AU

 

Rating: Teen

 

Length: Chaptered

 

Main Cast: Shim Sekyung (OC) sebagai reader sekalian, Park Chanyeol, Wu Yi Fan a.k.a Kris, Oh Sehun, Oh Hyesun (OC), dan Byun Baekhyun

 

Disclaimers: Saya pemilik sah alur cerita ini! Don’t copas without permission!

 

Summary: Trade off, setiap kisah kehidupan pasti memerlukan sebuah pengorbanan untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Baik itu fisik, materi, persahabatan, tali persaudaraan bahkan… cinta.

 

 

 

 

 

~~~(Special banget pake telor) Chanyeol POV~~~

 

 

Mommy tidak memperbolehkanku berkendara lagi. Alasannya cukup sederhana, beliau khawatir dengan keselamatanku. Mommy takut aku kehilangan kesadaran saat berkendara dan mengakibatkan kecelakaan yang tidak diinginkan.

 

 

Akhir-akhir ini rasa sakit di kepalaku semakin menjadi, tapi aku tidak ingin menunjukkannya dihadapan Sekyung. Tidak boleh, Sekyung tidak boleh tahu! Aku tidak ingin senyum manisnya menghilang. Tidak ada satu orangpun yang ingin melihat orang yang disayanginya menangis sedih kan? Begitu juga dengan ku.

 

 

Kami naik bus sekolah. Aku memilih duduk di dekat jendela agar bisa merasakan angin dan melihat jalanan Seoul meski tak seleluasa saat aku berkendara. Sekyung nampak duduk manis dengan senyum yang tak pernah lengkang dari wajahnya.

 

 

“Aku suka naik bus.” ucapku.

 

 

Sekyung menjawab, “Aku juga suka naik bus.”

 

 

Otak jailku mulai beraksi, “Kau lebih suka naik bus atau aku bonceng?”

 

 

Sekyung menatapku kaget. Tuh kan benar, aku suka melihat mata bulatnya. Khekhekhe~

 

 

“Aku pikir oppa sudah tahu jawabannya.” ucap Sekyung malu-malu. Aku merasa gemas akan tingkahnya. Ku cubit pelan hidungnya hingga Sekyung mengaduh.

 

 

Kami tiba di sekolah, aku mengantar Sekyung sampai kelasnya dan memastikan ia duduk dengan nyaman tanpa gangguan Hyesun.

 

 

Hari ini tim basket akan latihan di pagi hari. Itu artinya aku harus segera ke loker untuk mengambil baju dan bergegas ke lapangan.

 

 

Kris,Tao, Luhan, Kai, dan Lay sudah terlihat memenuhi lapangan. Aku menyapa mereka satu persatu.

 

 

“Kau terlihat pucat, Yeol.” ucap Kris.

 

 

“Benarkah? Ahaha~~ mungkin karena aku tadi tidak sarapan.” bohongku. Aku menutupi rasa sakitku dengan wajah bahagia agar orang-orang disekitarku tidak lagi bersedih dan khawatir.

 

 

“Kau yakin tidak apa-apa jika ikut latihan basket?” tanya Kris kembali memastikan.

 

 

“Tentu saja, bukankah kemarin-kemarin aku juga ikut berlatih?”

 

 

Kris masih terlihat belum percaya, dia sangat susah dibohongi, “Tapi, Yeol…”

 

 

“Percayalah, Kris. Nanti jika aku merasa tidak enak badan aku akan langsung berhenti.”

 

 

“Baiklah, keras kepala.”

 

 

Kami mulai berlatih. Sesekali aku melambai dan tersenyum pada Sekyung yang selalu menonton kami berlatih di pinggir lapangan. Yeoja-yeoja banyak yang meneriakkan namaku. Tapi hanya Sekyung yang terlihat di mataku, hanya Sekyung yang memenuhi pikiranku, dan hanya dia yang berhasil merebut hatiku.

 

 

Belum berapa lama kami berlarian mengejar bola di lapangan, tapi pandanganku mulai buram dan semakin tak terlihat. Berulang kali Kris mengatakan bahwa aku menabraki dia.

 

 

Aku harus bertahan. Bukankah biasanya aku juga selalu merasakan sakit. Aku tidak boleh membuat Sekyung kecewa.

 

 

Sekuat tenaga aku berusaha menajamkan penglihatan, meski kepalaku bertambah sakit namun aku kembali dapat melihat senyum Sekyung meski dari jauh.

 

 

Pelatih membunyikan peluit panjang. Kami berlomba untuk duduk di kursi pojok lapangan. Aku berjalan secepat yang aku bisa.

 

 

Kris memandangku bingung, “Kau tidak apa-apa, Yeol?”

 

 

“Memang aku kenapa, Kris?”

 

 

“Kau berhenti cukup lama di tengah lapangan dan berjalan terseok-seok. Apa kau benar-benar sehat?” apa aku separah itu? Tidak, jangan terlihat lemah dihadapan teman-temanmu, Chanyeol. Kau harus kuat!

 

 

“Kau meragukan imunitasku, heum?” gurauku.

 

 

“Bibirmu benar-benar pucat, Yeol. Lebih baik kau ke UKS saja.”

 

 

“Jangan bercanda Kris, kita masih harus berlatih satu seri lagi dan tinggal beberapa minggu sebelum turnamen tahunan basket antar sekolah diadakan. Aku tidak mungkin melewatkan latihan ini.”

 

 

“Tapi… ah~ kau mimisan, Yeol! Cepat ambil…”

 

 

Kepalaku semakin berdenyut sakit, pusing semakin memperparah rasa sakit yang ku derita, ditambah lagi mataku mulai memburam kembali, suara Kris semakin tak terdengar, dan… semuanya hitam.

 

 

 

~~~Sekyung POV~~~

 

 

Aku menganga kaget melihat Chanyeol oppa kembali jatuh pingsan. Aku berlari sekencang yang aku bisa. Kris sunbae juga terlihat panik, sangat panik seperti yang dilakukan mommy.

 

 

“Apa dia bawa obat?” tanya Kris sunbae padaku.

 

 

Aku menggeleng, “Chanyeol oppa tidak mau minum obat.”

 

 

“Kalau begitu cepat bawa Chanyeol ke rumah sakit!”

 

 

“Jangan!” larangku, “Chanyeol oppa tidak suka rumah sakit, cukup bawa saja ke UKS. Aku akan merawatnya.”

 

 

“Baiklah, mungkin kau lebih tahu apa saja yang Chanyeol butuhkan.”

 

 

Kris sunbae dan Kai mengangkat tubuh Chanyeol oppa ke UKS dan membaringkannya perlahan. Lagi-lagi mimisan dan aliran darahnya lebih cepat dari kemarin. Wajah Chanyeol oppa begitu pucat.

 

 

Aku menggenggam tangannya. Ah~ tidak! Kenapa terasa dingin? Tuhan, aku takut, benar-benar takut! Aku takut hal yang tidak diinginkan sampai terjadi pada Chanyeol oppa. Tolong dia, Tuhan. Aku mohon.

 

 

Badannya juga terasa sedingin es. Aku mengambil selimut dan beberapa bantal. Ku selimuti Chanyeol oppa dan menata bantal-bantal tadi di sekitar tubuh Chanyeol oppa, cara yang aku lakukan ketika salju turun lebat.

 

 

Aku semakin penasaran dan takut. Tapi, apa yang bisa aku lakukan untuk mengetahui penyakit yang diderita Chanyeol oppa tanpa bertanya langsung pada oppa ataupun mommy?

 

 

Kriet~~

 

 

Seseorang membuka pintu. Hyesun eonnie, wajahnya terlihat khawatir dan sepertinya berusaha menahan tangis.

 

 

“Ada apa dengan Chanyeol oppa? Chanyeol oppa kenapa? Apa lukanya parah? Jawab aku, Sekyung?”

 

 

Sekyung? Kenapa Hyesun eonnie memanggilku Sekyung bukan Kyungie? Bukankah kami sudah baikan dan berteman kembali?

 

 

“Aku juga tidak tahu, eonnie. Chanyeol oppa tiba-tiba pingsan dan mimisan seperti ini.”

 

 

“Apa kau sudah menghubungi dokter? Aku akan menelpon dokter.”

 

 

“Jangan! Chanyeol oppa tidak akan suka, nanti dia marah!”

 

 

“Kalau begitu aku akan panggil perawat pengurus UKS.” Hyesun eonnie keluar dengan terburu-buru dan tak berapa lama kembali dengan seseorang ber jas putih.

 

 

“Biar saya periksa terlebih dahulu.” aku memberi ruang agar perawat itu dapat memeriksa keadaan Chanyeol oppa. Mulai dari matanya, detak jantungnya, hingga bagian perut diperiksa secara menyeluruh.

 

 

Dan kesimpulan yang bisa diambil adalah, “Kita harus membawa namja ini ke rumah sakit segera!” aku menangkap sebuah keterkejutan di mata perawat tadi.

 

 

Aku tidak bisa lagi menahan rasa ingin tahu sekaligus khawatir atas kesehatan Chanyeol oppa, jadi aku bertanya, “Maaf, tapi jika aku boleh tahu… sebenarnya Chanyeol oppa sakit apa?”

 

 

“Yang jelas ini bukan penyakit biasa yang bisa disepelekan. Sudah berapa kali dia jatuh pingsan?”

 

 

“Kemarin oppa juga pingsan namun tidak selama ini dan suhu tubuhnya juga tidak sedingin ini.” paparku.

 

 

“Silakan hubungi keluarganya dan segera bawa dia ke rumah sakit.”

 

 

Aku ragu untuk menelpon mommy, tapi bagaimana jika hal buruk terjadi jika Chanyeol oppa tidak segera dibawa ke rumah sakit? Ya Tuhan, ini keputusan yang berat. Ayo Shim Sekyung, berpikir! Berpikir!

 

 

“Cepat hubungi keluarganya, Sekyung!” bentak Hyesun eonnie.

 

 

Baiklah, mungkin ini memang yang terbaik. Maafkan aku Chanyeol oppa, aku tidak punya pilihan lain.

 

 

Aku menekan dial number untuk menelpon mommy, “Hallo~” sapa suara seberang.

 

 

“Mom, Chanyeol oppa jatuh pingsan dan mimisan lagi. Rencananya pihak sekolah akan membawa Chanyeol oppa ke rumah sakit.” aku bisa membayangkan ekspresi kaget mommy.

 

 

“Oh My God! Baiklah, segera bawa Yeollie ke rumah sakit, mommy akan bergegas ke rumah sakit yang dituju.”

 

 

Pip~

 

 

Aku menyandarkan tubuhku lemas ke dinding. Aku harap kejadian ini tidak akan terjadi lagi. Cukup dua kali saja aku melihat Chanyeol oppa pingsan. Cukup dua kali aku berusaha menahan airmata. Cukup dua kali saja aku kehilangan senyum Chanyeol oppa. Cukup dua kali saja, tidak lebih.

 

 

 

==========Trade Off==========

 

 

 

Aku berdiri tegang di depan kamar dimana terdapat Chanyeol oppa di dalamnya. Mommy dan Hyesun eonnie menangis. Aku juga ingin menangis, tapi tidak boleh! Aku ingat ucapan seseorang bahwa aku adalah lord of happiness jadi aku tidak pantas bersedih.

 

 

Hhhhhh~~

 

 

Helaan nafas panjang kelimaku. Antara rasa jenuh dan berdebar menunggu keluarnya dokter, aku selalu berdoa ‘Tuhan, tolong jaga Chanyeol oppa untukku. Aku masih ingin melihatnya tersenyum Tuhan.’

 

 

Dan yang ditunggu-tunggu akhirnya keluar, mommy ditemani Hyesun eonnie mengikuti arah perginya dokter tadi. Aku terpaku ditempatku berdiri. Aku ingin masuk dan melihat keadaan Chanyeol oppa. Tapi… apa pihak rumah sakit membolehkan?

 

 

Seorang suster keluar dari ruang Chanyeol oppa, “Sus, apa pasien boleh dijenguk? Saya keluarganya, saya ingin melihat keadaan pasien.”

 

 

“Silakan, tapi tolong jangan membuat kegaduhan dan mengganggu pasien. Pasien juga sudah siuman. Sekitar setengah jam lagi pasien akan diperiksa lebih lanjut.”

 

 

Aku membungkuk untuk berterimakasih. Aku melakukan seperti yang telah suster tadi katakan, aku perlahan membuka pintu dan mengintip ke dalam. Chanyeol oppa reflek menengok, dia tersenyum meski terlihat begitu dipaksakan.

 

 

Aku duduk di kursi yang sudah disediakan. Mataku memanas melihat tangannya tertancap selang infus dan wajahnya semakin pucat.

 

 

“Oppa…” lirihku dan sialnya suaraku terdengar bergetar. Ah~ tidak, aku merasa ada beban yang mulai terkumpul dipelupuk mata membuat penglihatanku sedikit terhalang. Aku harap itu bukan airmata. Dan sedetik kemudian, ketika aku berkedip, ada sesuatu yang hangat melewati pipiku.

 

 

Chanyeol oppa berusaha bangkit untuk menghapus airmataku, dia kelihatan tidak suka, “Hey~ jangan menangis.” aku merasa bersalah karena telah menghilangkan senyumnya.

 

 

“Ini airmata kebahagiaan, oppa. Aku menangis karena bahagia melihat oppa sudah siuman. Syukurlah~” aku bohong lagi. Maaf oppa, aku tidak bisa menahan rasa sedih ketika melihatmu terbaring lemah seperti ini.

 

 

“Apa aku pingsan cukup lama?”

 

 

“Sekitar tiga jam, dan oppa benar-benar membuatku merasa takut.” aku meraih sebelah tangannya yang tidak terpasang infus, “Berjanjilah, jangan pernah seperti ini lagi! Oppa tidak boleh sakit, oppa harus selalu sehat. Aku berjanji akan selalu membuat oppa bahagia jika oppa bisa segera sembuh.”

 

 

Chanyeol oppa tersenyum tipis, tangannya membalas genggamanku, “Aku akan sembuh secepatnya, aku berjanji tidak akan membuatmu menagis lagi. Aku akan bicara dengan mommy dan kita akan pulang.”

 

 

“Aku tahu oppa tidak suka rumah sakit.”

 

 

Chanyeol oppa merengut, “Apa mommy yang memberitahumu?” aku mengangguk.

 

 

Chanyeol oppa menarikku mendekat dan membawaku pada dada bidangnya, aku balas memeluknya dengan kedua tangan, “Aku akan sembuh, kau jangan khawatir. Karena aku kuat.”

 

 

Seseorang membuka pintu dan membuat sedikit kegaduhan. Orang itu mommy diikuti Hyesun eonnie yang mengekor dibelakangnya.

 

 

“Yeollie~” aku merenggangkan pelukan kami dan menatap Chanyeol oppa. Ia masih berusaha tersenyum.

 

 

“Mom, aku mau pulang!” rajuknya.

 

 

“Setelah dokter memeriksamu, baru kau boleh pulang. Atau perlu mommy panggil saja dokter Kevin untuk datang ke Korea?”

 

 

“Tidak perlu berlebihan, mom. Rumah sakit Korea juga sudah berstandar internasional. Lagi pula, ada Sekyung disini.” aku tersenyum mendengar penuturannya.

 

 

“Bagaimana jika Sekyung pulang terlebih dahulu dan tolong siapkan makanan untuk Chanyeol. Mommy yang akan menunggu Chanyeol disini.”

 

 

Aku mengangguk paham, mommy pasti akan merawat Chayeol oppa lebih baik daripada aku, “Baik, mom. Aku akan memasak banyak dan lezat. Aku pergi dulu oppa, cepat sembuh.”

 

 

Chanyeol oppa melambai kecil sebelum akhirnya aku menutup pintu. Hyesun eonnie juga ikut keluar, wajahnya terlihat menyimpan beban yang berat.

 

 

“Ada apa denganmu, eon? Gwaenchana?”

 

 

Hyesun eonnie menghentikan langkahnya dan menatapku sendu. Ia berkata, “Aku minta maaf.”

 

 

Aku menautkan alisku bingung, “Untuk?”

 

 

“Untuk semua yang telah aku perbuat, Kyungie. Hiks~”

 

 

“Tapi bukankah eonnie sudah minta maaf kemarin?”

 

 

“Aku hanya berbohong, Kyungie. Hiks, aku membohongimu karena aku masih menaruh harapan pada Chanyeol oppa.”

 

 

Aku sedikit berjalan mundur, tersentak dengan penuturan Hyesun eonnie. Jadi, Hyesun eonnie membohongiku? Jadi permintaan maafnya kemarin hanya untuk merebut Chanyeol oppa dariku? Tapi… kenapa Hyesun eonnie melakukan hal sekejam itu?

 

 

“Hiks, aku tersadar. Aku merasa benar-benar bersalah. Ibu Chanyeol oppa sudah menjelaskan semuanya tadi. Dan sekarang aku mengerti bahwa kata-kata Kris sunbae benar.” ia menyeka airmatanya.

 

 

“Memang Kris sunbae bilang apa pada eonnie?”

 

 

“Chanyeol oppa hanya mencintaimu dan tidak ada seorangpun yang bisa menggantikanmu dari hatinya, sekalipun itu aku. Dan aku merutuki kelakuan bodohku yang berniat merebut Chanyeol oppa darimu.”

 

 

Tangannya mengayun ke atas dan menepuk pundakku lembut, “Jaga cinta Chanyeol oppa, Kyungie. Aku mempercayakan Chanyeol oppa padamu. Ia sangat rapuh.”

 

 

 

==========Trade Off==========

 

 

 

Kami tiba di rumah. Hyesun eonnie bilang ingin membantuku memasak untuk Chanyeol oppa. Dibantu eomma, kami mulai memotong-motong sayuran dan meracik bumbu-bumbu. Aku yang bertugas mengaduk, membalik, dan mencicipi karena aku kurang pandai memasak.

 

 

Kami membuat berbagai masakan tradisional Korea. Eomma bilang Chanyeol oppa terlalu lama tinggal di New York dan pasti sangat merindukan masakan khas Korea.

 

 

Uap panas mengepul ketika aku menata beberapa mangkuk besar berisi makanan yang telah matang di meja makan. Baunya sungguh lezat. Jangankan Chanyeol oppa, bahkan aku sekarang juga merasa lapar.

 

 

Suara deru mobil berhenti di halaman. Eomma dan Hyesun eonnie berlarian ke depan menyambut orang yang ditunggu-tunggu. Seperti biasa aku mengintip lewat jendela.

 

 

Senyumku yang awalnya berseri-seri karena Chanyeol oppa telah tiba mendadak luntur karena kenyataan yang terlihat mata kepalaku.

 

 

Chanyeol oppa duduk lemah di atas kursi roda. Mommy mendorongnya perlahan masuk.

 

 

Aku berusaha tersenyum karena semua orang terlihat bahagia.

 

 

Kami duduk melingkar di meja makan. Kebetulan appa sedang ada pekerjaan diluar kota jadi beliau melewatkan moment kebersamaan yang sangat langka seperti ini. Diantara kami, hanya Chanyeol oppa yang namja, dan dia adalah milikku.

 

 

Aku menata kursi agar kursi roda Chanyeol oppa dapat berada diantara aku dan mommy. Kami makan diselingi perbincangan hangat.

 

 

“Apa kau yang membuatnya?” tanya Chanyeol oppa padaku.

 

 

“Aku hanya membantu saja. Kenapa?”

 

 

“Ini makanan terenak yang pernah aku rasakan selama aku hidup! Jika kau hanya membantu saja dan rasanya sudah seenak ini, bagaimana jika kau yang memasaknya sendiri?”

 

 

“Jangan mulai menggombal!” kemudian semuanya tertawa bersama.

 

 

Tuhan, jangan biarkan senyum hilang dari wajahnya. Aku rela menukar apapun demi melihat Chanyeol oppa selalu tersenyum. Apapun.

 

 

 

Chanyeol oppa mengangkat sendoknya yang sudah terisi makanan, namun…

 

 

Klontang…

 

 

Sendoknya terjatuh ke lantai membuat isinya berhamburan kemana-mana. Chanyeol oppa terdiam cukup lama sebelum akhirnya berkata atau lebih tepatnya mengeluh, “Panas~”

 

 

Aku mengambil beberapa tissue dan membersihkan tangan dan celananya yang terkena kuah sup.

 

 

“Hati-hati, Yeollie.” mata mommy terlihat berkaca-kaca. Aku tahu ada yang tidak beres dengan keadaan Chanyeol oppa.

 

 

Chanyeol oppa hanya tersenyum simpul sebelum memandang piringnya yang masih terisi makanan.

 

 

“Oppa masih lapar? Aku bisa menyuapi oppa jika mau.”

 

 

Mata Chanyeol oppa berbinar, “Sungguh? Aku ingin disuapi diluar. Aku ingin melihat langit malam Seoul.”

 

 

Aku meminta ijin mommy dan mommy mengijinkannya.

 

 

Aku mendorong kursi roda Chanyeol oppa keluar. Kami duduk bersandingan di bawah pohon filicium yang teduh. Bulan terlihat cukup terang malam ini, bintang-bintang juga nampak berkedap-kedip.

 

 

Aku menyendok isi piring dan menyuapi Chanyeol oppa, namja itu terlihat begitu bahagia.

 

 

“Kau tahu…” aku menunggu kata-kata selanjutnya dengan sabar, “Dari dulu ketika aku kecil, hobbyku adalah memandang langit. Biru ketika siang, dan hitam ketika malam tiba. Matahari akan bersinar sebelum digantikan oleh bulan. Dan aku selalu mengingatmu sebagai matahari.”

 

 

“Kenapa aku matahari?”

 

 

“Kau sangat terang, chagi. Dan aku tidak ingin melihat gerhana lagi, aku tidak ingin sinarmu terhalangi apapun.”

 

 

Aku tersenyum sedikit mengejek, “Oppa seorang pujangga yang hebat.” kami terkikik sebentar, kemudian aku melanjutkan, “Jika aku matahari, lalu oppa apa?”

 

 

“Aku bulan.” tangannya menujuk ke atas, “Malam ini bulan purnama dan sinarnya terlihat begitu indah. Apa kau tahu apa sebabnya?” aku menggeleng, “Itu karena aku adalah bulan dan kau adalah matahari yang bisa membuatku bersinar untuk menerangi bumi saat malam tiba. Tanpamu aku tidak bisa bersinar, tanpamu aku lemah. Kau satu-satunya sumber energiku, chagi.”

 

 

Tangannya terentang dan menungguku untuk memeluknya. Aku meletakan piring yang sedari tadi aku pegang ke sembarang tempat dan memeluknya erat, sedikit melupakan tujuan awal kami tadi keluar. Aku bahagia melihat Chanyeol oppa kembali tersenyum, aku tidak boleh membuatnya kecewa dengan airmata lagi.

 

 

“Matahari hanya menyinari bumi pada siang hari saja, untuk itu diperlukan bulan untuk menggantikan peran matahari ketika malam. Tanpamu, bumi juga akan gelap gulita tanpa pelita. Karena itu oppa harus kuat. Aku tidak ingin malamku kelam tanpa cahaya.”

 

 

“Aku akan kuat, karena kau ada disisiku.”

 

 

Aku merenggangkan pelukan kami dan kembali mengambil piring yang sempat terabaikan. Mommy mengintip dari jendela, cahaya lampu dalam rumah cukup membantuku untuk dapat melihat lelehan airmatanya meski dari jauh. Aku hanya melemparkan seulas senyum dengan sebuah makna didalamnya.

 

 

‘Chanyeol oppa baik-baik saja disini, mom. Tenang saja, dia bersamaku.’

 

 

Mommy sadar aku melihatnya dan bergegas keluar, “Sekyung, Yeollie, masuk. Sudah malam, waktunya tidur.”

 

 

Chanyeol oppa mendongak untuk membisikkan kata selamat malam pada bulan, aku mendorong kursi rodanya pelan dan mengantarkannya masuk ke kamar tamu. Aku membantu mommy mengangkat Chanyeol oppa dan membaringkannya di tempat tidur.

 

 

“Bisakah kau tidur disini.” pinta Chanyeol oppa.

 

 

“Tapi…”

 

 

“Aku mohon, malam ini saja.”

 

 

Aku mengalah, mommy dan eomma juga sudah mengijinkan. Aku mengambil segala perlengkapan tidur dan menatanya di samping tempat tidur oppa.

 

 

“Anggap saja kita sedang kemah berdua.” candanya.

 

 

Aku menarik selimutku dan mencari posisi senyaman mungkin, “Selamat tidur.” ucapku sebelum menutup mata.

 

 

“Tunggu jangan tidur dulu, sepertinya insomnia ku kambuh lagi.”

 

 

“Tapi besok kita harus sekolah, oppa. Aku tidak mungkin tidur di jam pelajaran Kang songsaengnim.”

 

 

Chanyeol oppa nampak kecewa, mungkin kata-kataku melukai hatinya tapi mana mungkin aku tidak tidur sekarang. Besok jam pertama adalah pelajaran Kang songsaengnim dan aku tidak mungkin membiarkan diriku menerima hadiah dari guru killer itu kan?

 

 

“Baiklah, aku mengerti. Aku juga akan mencoba tidur. Annyeong.”

 

 

Setelahnya tak lagi terdengar suara berat Chanyeol oppa, mungkin oppa sudah tidur. Aku juga memutuskan untuk mengistirahatkan diri.

 

 

 

==========Trade Off==========

 

 

 

Aku membuka mata karena cahaya matahari yang berlebihan masuk lewat jendela. Ya, ini bukan kamarku. Jadi daun pohon filicium tidak bisa melindungiku dari sengatan matahari pagi lagi. Aku menguap kecil, berusaha mengumpulkan nyawa kembali.

 

 

Sebuah gundukan besar tertutupi selimut. Aku tahu itu Chanyeol oppa, namja memang bangun lebih siang dari yeoja. Tapi kami kan ingin sekolah. Aku membuka selimutnya perlahan agar Chanyeol oppa tidak terbangun dulu. Namun… aku hanya mendapati sebuah guling didalamnya.

 

 

Aku mulai panik, kemana perginya Chanyeol oppa? Apa dia sudah bangun? Mungkin iya, dan sekarang mungkin tengah mencari makanan di bawah.

 

 

Tanpa merapikan tempat tidur aku berlari ke daun pintu. Tapi… seorang namja menghalangi jalanku. Namja yang menjengkelkan, namja yang dulu sempat menjadi temanku, namja yang hilang, dan sekarang… dia kembali?

 

 

Aku masih menganga tidak percaya, “Baek… hyun?” gumamku pelan.

 

 

Matanya tampak memerah dengan sedikit airmata yang tersisa di sudut matanya, “Aku kembali untuk meminta maaf, Sekyung.”

 

 

“Aku sudah memaafkan kesalahpahamanmu, Baekhyun. Tidak perlu dipermasalahkan lagi.”

 

 

Baekhyun malah menangis, aku jadi bingung. “Cepat mandi dan bergegas ke bawah.” ucapnya sebelum menghilang, masih dengan tangisan yang semakin menjadi.

 

 

Aku menuruti ucapan Baekhyun dan berjalan tergesa-gesa menuruni anak tangga.

 

 

Sepi, hanya terlihat eomma yang sedang duduk. Bahunya kadang terguncang. Apa eomma menangis?

 

 

“Eomma~” pangilku. Eomma mengangkat kepalanya dan benar saja, matanya sembab dan bengkak. Sudah berapa lama eomma menangis?

 

 

Aku menghampiri eomma dan mengusap punggungnya, “Gwanchana eomma?” tanyaku bingung dan khawatir.

 

 

“Eomma tidak apa-apa kok, sayang.”

 

 

Aku hanya mengangguk pura-pura mengerti apa yang sebenarnya terjadi, “Kemana Chanyeol oppa? Waktu aku bangun tadi oppa sudah tidak ada di tempat tidurnya. Mommy juga tidak kelihatan.”

 

 

Eomma menghembuskan nafasnya dan berusaha berkata setegar mungkin, “Chanyeol dan ibunya kembali ke New York. Mereka berangkat pagi-pagi sekali sebelum kau bangun.”

 

 

“Tapi kenapa mendadak sekali?”

 

 

“Ada masalah serius yang harus segera diselesaikan.”

 

 

 

==========Trade Off==========

 

 

 

Hari ini aku berangkat ke sekolah sendiri. Aku naik bus yang akhir-akhir ini menjadi kendaraan untuk aku dan Chanyeol oppa berangkat dan pulang sekolah. Aku duduk di kursi yang biasa kami tempati. Aku memilih kursi dekat jendela. Angin pagi menerpa wajahku, membuatku merindukan Chanyeol oppa meski dia baru saja pulang ke New York. Aku sedikit marah, kenapa oppa tidak pamit padaku dulu? Setidaknya tadi malam dia seharusnya menjelaskan sesuatu.

 

 

Bus berhenti di halte beberapa blok setelah rumahku, dan masuklah seorang namja yang aku kenal. Kami bertukar pandang sebelum dia duduk di sampingku.

 

 

“Kau naik bus juga?” tanya Sehun.

 

 

“Ya, setelah Chanyeol oppa tidak boleh lagi berkendara aku selalu naik bus dengannya.”

 

 

“Lalu kemana dia sekarang.”

 

 

“Kembali ke New York, kata eomma ada urusan penting disana.”

 

 

Sehun mengalihkan pandangannya dengan rasa bersalah. Mungkin ia tahu sesuatu tentang Chanyeol oppa, sesuatu yang belum aku ketahui. Mungkin… penyakit Chanyeol oppa.

 

 

 

~~~~~TeBeCeh~~~~~

 

Yang dari kemarin pada nyariin Baekhyun, manyar suami *ohouk~~* semoga puas dengan chapter ini. Sebentar lagi sampai di akhir cerita. Semangat 136!!! ~^.^~

Iklan

18 pemikiran pada “Trade Off chapter 7

  1. waaaaa sbenernya udah ngikutin ff ini dari awal, tapi baru bisa komen sekarang 😦 maaf ya.. oh iya ff nya bagus, aku suka sama jalan ceritanya+yg aku suka dari ff ini selalu.bisa buat sekyung sama reader penasaran pokoknya daebakk deh. keep hwaiting buat authornya

    Suka

  2. Authornim, ah sedih Chanyeol sakit. Nggak apa apa deh balik ke New york untuk berobat nanti pulang lagi kan untuk bersama Sekyung. Iya rindu sama Baekhyun akhirnya muncul. Seperti biasa ditunggu next chaptnya dan berharap Happy ending. Fighting

    Suka

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s