Trade Off chapter 8

chapter 8 copy

 

 

Title: Trade Off chapter 8

 

Author: Chubby Kawaii 136 a.k.a CK136 (https://chubbykawaii136.wordpress.com)

 

Genre: Straight, Romance, Friendship, Angst, Hurt/Comfort, School life, Fantasy, AU

 

Rating: Teen

 

Length: Chaptered

 

Main Cast: Shim Sekyung (OC) sebagai reader sekalian, Park Chanyeol, Oh Sehun, Wu Yi Fan a.k.a Kris, Oh Hyesun (OC), dan Byun Baekhyun

 

Disclaimers: Saya pemilik sah alur cerita ini! Don’t copas without permission!

 

Summary: Trade off, setiap kisah kehidupan pasti memerlukan sebuah pengorbanan untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Baik itu fisik, materi, persahabatan, tali persaudaraan bahkan… cinta.

 

 

 

 

 

 

~~~Sehun POV~~~

 

 

Jadi Chanyeol sunbae sudah kembali ke New York. Secepat inikah?

 

 

Aku tahu, kemarin Chanyeol sunbae sempat dibawa ke rumah sakit, penyakitnya semakin parah saja. Sekyung sepertinya belum tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi. Chanyeol sunbae berpesan padaku agar aku menjaga Sekyung selama ia pergi ke New York. Jadi, jangan sampai aku membuatnya bersedih.

 

 

“Oh, kalau begitu besok kita berangkat bersama saja.” ajakku. Sekyung hanya mengangguk sebagai tanda persetujuan.

 

 

Bus yang kami naiki berhenti di depan gerbang sekolah. Aku dan Sekyung turun bersama dan berjalan ke kelas. Tapi baru beberapa meter kami berjalan dari gerbang, aku melihat seorang yeoja turun dari mobil Kris sunbae.

 

 

“Sejak kapan Kris sunbae punya yeojachingu?” gumamku yang rupanya didengar Sekyung.

 

 

“Ha? Kris sunbae punya yeojachingu? Mana? Aku mau lihat!” heboh Sekyung.

 

 

Kami menepi dan mengamati gerak-gerik Kris sunbae serta yeojachingunya. Ada yang aneh, kenapa rasanya yeoja itu tidak asing ya? Kenapa sepertinya aku pernah melihat tas yang ia bawa? Kenapa yeoja itu terlihat seperti…

 

 

“Ha?! Itu… Hyesun eonnie!” seru Sekyung. Jadi perkiraanku benar? Tapi kenapa Hyesun bisa berangkat bersama Kris sunbae? Apa mereka benar-benar menjalin sebuah hubungan atau hanya kebetulan saja?

 

 

“Sudah, lebih baik kita ke kelas dulu. Pagi ini kan kita harus sarapan pelajaran Kang songsaengnim.” Sekyung menepuk kepalanya sembari mendesis sebal.

 

 

“Oh tidak, selamat datang di neraka.” aku tertawa mendengar penuturannya.

 

 

Hyesun sudah terlebih dulu tiba di kelas dan rupanya ia duduk di kursi sebelah Sekyung. Dengan senang hati Sekyung tersenyum. Malangnya ia, Sekyung tidak tahu jika Hyesun hanya berpura-pura baik padanya. Aku tidak boleh membiarkan Hyesun duduk disebelah Sekyung, aku takut Sekyung kenapa-kenapa nantinya.

 

 

“Bisa kau duduk di kursi lain, ini kursiku.” ujarku pada Hyesun.

 

 

“Tapi aku ingin duduk sebangku dengan Kyungie.” bantah Hyesun.

 

 

“Jangan munafik, Hyesun! Kau pikir aku tidak tahu jika kau hanya berpura-pura baik pada Sekyung?” sungutku, Hyesun terlihat membulatkan matanya kaget.

 

 

Sekyung berusaha melerai perdebatan kami, “Sudah, kalian kan saudara sepupu, tidak baik jika bertengkar seperti ini.”

 

 

Hyesun berdiri dari kursinya, “Memang kemarin aku sempat berencana untuk membohongi Sekyung, tapi sekarang aku sudah sadar bahwa aku menyia-nyiakan sahabat sebaik Sekyung. Percayalah, Sehun.” ujar Hyesun membela diri.

 

 

“Aku…” aku barusaja ingin menyuarakan rasa ketidaksetujuan, namun seseorang memutus ucapanku.

 

 

“Hyesun benar, Sehun. Percayalah padanya. Jika dia berani berbohong lagi, maka aku yang akan bertanggungjawab.” tegas Kris sunbae.

 

 

“Oppa~” Hyesun tersenyum dan berlari kecil mendekati Kris sunbae. Aku melihat mereka saling berpegangan tangan. “Kris oppa yang telah membuatku tersadar, dan aku sangat berterimakasih padanya.”

 

 

Hyesun kembali mengangkat sudut bibirnya dan ajaibnya (untuk seorang Kris sunbae, kapten tim basket yang terkenal dingin) dibalas senyum lebar oleh Kris sunbae. Cinta memang benar-benar hebat, bisa mencairkan bongkahan es.

 

 

“Jadi, mulai sekarang biarkan Hyesun dan Sekyung memulai kisah persahabatan mereka lagi.” kata Kris sunbae sebelum kembali ke kelasnya.

 

 

Aku memilih mengalah dan duduk di kursi disamping Sekyung. Meski Sekyung dan bahkan Kris sunbae sudah percaya sepenuhnya pada Hyesun, aku masih belum bisa mempercayainya. Siapa tahu ia punya rencana lain dengan memanfaatkan Kris sunbae.

 

 

 

==========Trade Off==========

 

 

 

Saat tim basket mulai menjalani rutinitas latihan untuk turnamen tahunan mereka, aku menangkap wajah sedih Sekyung. Matanya yang biasanya berbinar bahagia kini seperti kehilangan sinarnya, seakan sinar itu ikut pergi besama Chanyeol sunbae.

 

 

Tubuh Sekyung terlihat tersandar ditembok pemisah ruang aula dan lapangan basket. Lama-lama aku tidak tega melihat guratan kesedihannya itu.

 

 

Dipihak lain, Hyesun tengah mengusap keringat di dahi Kris sunbae dan memberinya air mineral. Apa yeoja picik itu mulai berakting baik lagi?

 

 

Aku meninggalkan Sekyung sendirian tenggelam bersama kesedihannya dan berlari kesudut lapangan.

 

 

Sedikit mencondongkan diri untuk berbisik pada Hyesun, “Aku ingin bicara denganmu, penting!”

 

 

Hyesun memandangku sesaat dan mengerti tatapan mengintimidasiku. Dia mengikutiku berjalan ke taman belakang sekolah, satu-satunya tempat tersepi selain perpustakaan dan toilet.

 

 

Aku menarik nafas sejenak untuk menstabilkan emosi, “Sebenarnya apa lagi yang telah kau rencanakan, heum? Aku mohon berhentilah melukai hati Sekyung!”

 

 

Hyesun berpikir sejenak sebelum menjawab, “Aku tidak merencanakan apapun, Sehun. Sudah ku bilang aku sudah benar-benar sadar dan tidak akan mengulangi kesalahanku lagi. Apa itu tidak cukup untuk meyakinkanmu?”

 

 

Aku menggeleng tegas, “Aku tidak akan jatuh kelubang yang sama untuk kedua kalinya, Hyesun!”

 

 

“Aku tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Chanyeol oppa hingga ia harus buru-buru ke New York.”

 

 

Pernyataannya membuatku menyeringai sebal, “Jadi karena itu kau baik pada Sekyung?” sinisku.

 

 

“Kemarin ketika Chanyeol oppa pingsan, aku dan Sekyung menemaninya ke rumah sakit. Ibunya datang dan kebetulan sekali aku ikut bersamanya ke ruang dokter…”

 

 

 

#Flashback ketika di rumah sakit#

 

 

~~~Hyesun POV~~~

 

 

Aku mengikuti wanita puruh baya yang aku lihat tempo hari di halaman rumah Sekyung sedang bertengkar kecil bersama Chanyeol oppa, dan ternyata wanita ini adalah nyonya Park alias ibu Chanyeol oppa.

 

 

Aku antusias mengikuti eheum~ calon mertua ke ruang dokter yang tadi memeriksa Chanyeol oppa.

 

 

Kami duduk dihadapan dokter. Dokter itu mulai angkat bicara, “Apa anda tahu apa penyakit yang diderita anak anda?”

 

 

Ibu Chanyeol oppa mengangguk dan mulai terdengar isak tangis yang memilukan, “Chanyeol… dia mengidap kanker otak.” aku membelalakan mata karena terkejut. Tidak, ini tidak mungkin! Aku pasti hanya bermimpi dan akan segera bangun. Benar, ini hanya mimpi buruk! Bunga tidur!

 

 

Sang dokter menghela nafas cukup panjang, “Anda benar, dan apa anda tahu separah apa kanker yang bersarang di otaknya?”

 

 

“Hiks, aku tidak tahu. Karena dokter Kevin, dokter yang menangani Chanyeol saat kami masih di New York tidak mau mengatakannya. Dokter Kevin bilang dia sudah berjanji pada Chanyeol untuk tidak menyebarkan hasil pemeriksaannya pada siapapun. Dokter Kevin bilang Chanyeol kabur dari rumah sakit karena sudah tidak kuat menanggung rasa sakit yang selama ini ia derita dan ingin menemui cintanya. Aku tahu siapa yang ia maksud. Aku menghubungi ibu Sekyung di Korea dan ternyata benar, Chanyeol terbang ke Korea tanpa sepengetahuan kami. Jadi aku menyusulnya kemari dengan obat penghilang rasa sakit. Tapi Chanyeol tetap keras kepala, dia tidak mau meminum obatnya. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan lagi untuknya. Hiks~ hiks~ hiks~.”

 

 

Jadi… perjodohan yang Sekyung katakan benar adanya? Semua yang dikatakan Kris sunbae tiba-tiba muncul kembali diingatanku. Tentang cinta pertama dan terakhir Chanyeol oppa. Tentang Chanyeol dan Sekyung. Dan tentang betapa bodohnya aku yang berusaha memisahkan mereka berdua. Aku sungguh menyesal atas apa yang telah ku perbuat.

 

 

“Kanker yang bersarang di otak anak anda sudah sangat parah atau bisa dibilang stadium akhir. Jika anda berkenan, kami bisa melakukan operasi namun kemungikinan berhasilnya sangat kecil.

 

 

“Chanyeol pasti akan menolaknya mentah-mentah. Bahkan dia tidak mau di kemo terapi.”

 

 

“Kalau begitu, lebih baik anda mengantar anak anda ke dokter kepercayaan anda tadi untuk diobati. Jika tidak, maka… hal yang tidak diinginkan bisa datang kapan saja.”

 

 

Ibu Chanyeol oppa menghapus airmatanya dan menangani administasi. Aku keluar dengan keadaan lemas dan perasaan menyesal yang mendalam.

 

 

Aku menengok dari luar, terlihat Sekyung dan Chanyeol oppa tengah tersenyum bahagia. Sekyung tidak tahu apa yang sebenarnya diderita Chanyeol oppa, dan aku yakin Chanyeol oppa pasti mempunyai alasan khusus mengapa ia tidak memberitahu Sekyung tentang penyakit ganasnya.

 

 

Ibu Chanyeol oppa datang dari ruang administrasi dan berlari kecil masuk ke ruangan dimana Chanyeol oppa dirawat. Mereka bercanda tawa seolah tidak akan ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi dihari esok.

 

 

Ibu Chanyeol oppa menyuruh Sekyung pulang untuk memasak dan aku ingin menebus dosaku dengan membantu Sekyung apapun yang aku bisa, jadi aku ikut ke rumahnya.

 

 

Aku memotong sayuran, memasukan ini itu, dan Sekyung akan menyendok untuk mencicipi kemudian berujar, “Enak.”

 

 

Tak berapa lama Chanyeol oppa dan ibunya datang, kami makan malam dengan makanan hasil olahan tadi. Suasana terasa ceria sampai Chanyeol oppa menjatuhkan sendoknya dan terdiam seakan tulangnya terkunci untuk bergerak, hingga Chanyeol oppa mengeluh, “Panas~.”

 

 

Sekyung dengan telaten membersihkan kuah sup yang berserakan dan menyuapi Chanyeol oppa diluar rumah. Aku tidak tahu pasti apa yang mereka perbincangkan, namun cukup merasa lega dan ikut tersenyum ketika mendengar tawa berat Chanyeol oppa dan suara cempreng Sekyung.

 

 

 

Keesokan harinya, Kris sunbae menjemputku (seperti apa yang telah ia ucapkan tempo hari). Aku duduk disamping kemudi tanpa kata, hanya sekelebat cahaya matahari pagi dan suara burung gereja yang membuat perjalanan kami sedikit ramai.

 

 

“Kau sudah tahu mengenai Chanyeol?” tanya Kris sunbae setelah sekian lamanya membisu.

 

 

Aku mengangguk tak pasti, “Sekyung belum mengetahui kanker Chanyeol oppa kan?”

 

 

Kini giliran Kris sunbae yang mengangguk tak pasti, “Tapi sepertinya ia mulai curiga. Sudah sejak berumur sepuluh tahun Chanyeol difonis mengidap kanker otak oleh dokter Kevin dan sejak saat itu Chanyeol menjadi pendiam. Waktu itu saat dia berkunjung ke Korea untuk libur musim panas, aku tak melihatnya tersenyum seperti tahun-tahun sebelumnya. Kepalanya botak dan setiap anak kecil yang melihatnya akan tertawa dan mengejeknya hingga menangis. Aku sebagai sepupunya jelas tidak terima hingga kami berkelahi dan berakhir dengan mataku yang membiru. Chanyeol merawatku dengan hati-hati dan lembut seakan aku bayi kucing yang ia pelihara di New York.” jelas Kris sunbae panjang lebar diselingi senyum ketika membayangkan masa kecil mereka, sebelum akhirnya kembali berkata,

 

 

“Awalnya dokter Kevin bilang bahwa Chanyeol hanya akan bertahan tidak sampai tiga tahun lagi. Namun berkat kegigihan Chanyeol dan tekadnya untuk sembuh akhirnya ia bisa sampai pada usia lima belas tahun. Hari-harinya selalu diisi dengan suara detakan elektrokardiograf, selang infus, dan berbagai obat yang harus ia minum. Belum lagi kemo terapi tiap beberapa minggu sekali. Terakhir kali aku berkunjung ke New York saat libur semester, Chanyeol kelihatan begitu kurus hingga tulang iganya menonjol keluar. Matanya seperti zoombie. Bibi selalu menahan airmatanya tiap kali bercerita betapa menderitanya Chanyeol. Dokter Kevin serta segenap keluarga Park mulai kehilangan harapan akan kesembuhan Chanyeol.”

 

 

Kris sunbae menarik nafas sejenak, matanya berputar tidak fokus pada jalanan, “Hingga akhirnya bibi mengenalkan Chanyeol akan sosok Sekyung, gadis periang yang suatu saat dapat mendampingi hidupnya. Meski hanya lewat foto, Chanyeol merasa ia mempunyai semangat hidup lagi. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk kabur ke Korea tanpa sepengetahuan orangtuanya, hanya untuk menemui Sekyung, cinta pertama meski mereka belum pernah bertatap muka. Dan aku rasa… setidaknya Chanyeol sudah merasakan kebahagiaan dengan adanya Sekyung.”

 

 

Lampu merah membuat mobilnya berhenti, “Aku harap kau mengerti dan berhenti memisahkan Chanyeol dari Sekyung. Karena ada namja lain yang lebih mencintaimu. Seperti… aku.”

 

 

Aku memberanikan diri untuk melihat wajah Kris sunbae dan menelan ludah begitu aku baru menyadari bahwa Kris sunbae ternyata sangaaaaaatttt tampan, “Mungkin… sekarang aku belum bisa membalas cinta, sunbae. Namun aku akan belajar, bagaimana cara mencintai.” aku menunduk malu karena tidak tahan dengan rasa panas yang menjalar sampai kebelakang telinga.

 

 

“Jangan panggil sunbae, panggil aku oppa.”

 

 

“Baik, op… oppa.”

 

 

#End Of Flashback#

 

 

“Jadi… apa sekarang kau percaya padaku?” tanyaku, Sehun ternganga kaget. Sama seperti ekspresiku ketika pertama kali mendengar bahwa Chanyeol oppa yang tidak pernah sekalipun terlihat sedih mengidap penyakit kanker otak stadium akhir.

 

 

Karena Sehun tak menjawab pertanyaanku jadi aku kembali berkata, “Aku harap kau berhenti menyimpan harapan pada Sekyung, meski terasa sakit namun… kau mengerti apa yang aku masud kan, Sehun?”

 

 

Sehun menyangga kepalanya yang sepertinya berdenyut dan mengangguk samar. Aku bisa melihat matanya memerah.

 

 

 

==========Trade Off==========

 

 

 

~~~Author Pov~~~

 

 

Sekyung hanya memandang keluar jendela kamarnya tanpa bergerak pasti, matanya menerawang jauh pada pohon filicium dihadapannya. Tangannya mencoba menggapai sekelebat wajah Chanyeol yang muncul secara ajaib, meski sebenarnya itu hanya angin bercampur debu perkotaan.

 

 

Sudah ratusan kali Sekyung menghubungi Chanyeol, namun seorang operator wanita memberitahunya bahwa nomor yang dipanggilnya sedang tidak aktif. Usaha Sekyung tidak berhenti sampai disitu, ia juga berkali-kali mengirim pesan singkat tentang betapa ia merindukan Chanyeol dan berharap pria jangkung itu segera membalas pesannya.

 

 

Tak ada orang lain di rumah. Neneknya ada acara diluar, sedangkan ibunya menyusul ayahnya untuk mengurus bisnis. Sekyung hanya seorang diri bersama sesosok anak laki-laki yang biasanya dapat membuat hangat suasana.

 

 

Seperti yang biasa ia lakukan, Baekhyun duduk manis membiarkan Sekyung larut dalam pikirannya yang keruh. Ia sudah menyerah untuk membuat Sekyung kembali tersenyum dan bangkit dari keterpurukan.

 

 

Hanya suara detikan jam yang menggema di kamar Sekyung, diam-diam angin mencoba mengeringkan airmatanya, dan matahari bersinar terik agar hati Sekyung kembali hangat, namun sepertinya sia-sia.

 

 

 

 

 

Matahari sudah digantikan bulan, hari Rabu sudah berganti Kamis, dan bulan sabit sudah menjadi bulan purnama. Coretan merah pada kalender kecil di nakasnya terlihat sangat mencolok. Sekyung menghitung hari dan ternyata genap tiga puluh, genap satu bulan sejak kepergian tanpa pamit Chanyeol. Apa memang itu kebiasaan buruknya?

 

 

Sekyung semakin kurus, matanya menghitam dan sembab karena kurang tidur hanya untuk menangis. Rambutnya terlihat kusut seperti tak terawat, sama seperti hatinya.

 

 

Sekyung berjalan sempoyongan ke pinggir danau buatan. Memandang takjub kapal-kapal kecil yang membuat air beriak tak tenang.

 

 

Kenangan akan kebersamaannya dengan Chanyeol mencuat kepermukaan. Sekyung ingat dengan senyum mengerikan Chanyeol yang entah bagaimana terlihat sangat tampan, tentang telinga besarnya yang mengundang tawa, tentang bagaimana ia bermain basket dan tersenyum hanya untuknya ditengah lapangan, tentang bagaimana ia merebut minuman yang seharusnya untuk Kris, tentang bagaimana ia mencuri ciuman pertama Sekyung, tentang bagaimana ia merengek agar Sekyung memeluknya saat ia sibuk berkendara, dan berakhir tentang bagaimana Chanyeol tergeletak tak berdaya dengan darah segar yang mengalir bebas dari hidungnya.

 

 

Sekyung mulai risih dengan rasa khawatirnya yang berlebih tentang penyakit Chanyeol. Namun ia tetap berusaha berpikir positif bahwa Chanyeol akan kembali dan mereka akan tertawa bahagia tanpa akhir.

 

 

Sebuah air jatuh di telapak tangannya, ini bukan airmatanya karena terasa dingin. Dilihatnya lagi air danau yang permukaannya semakin tak berbentuk.

 

 

Hujan

 

 

Angin bertiup kencang dari timur, mungkin badai akan datang. Sekyung tak bergeming dari tempatnya, membiarkan tubuhnya basah kuyup dan tulangnya terasa tertusuk-tusuk karena dingin.

 

 

Butiran air yang jatuh semakin membesar, namun kenapa baju yang Sekyung kenakan tak kunjung basah?

 

 

Sekyung mengamati rumput sekitarnya yang kembali segar karena air hujan dan mendongak sebentar untuk mengetahui penyebab ia tak kunjung basah.

 

 

Jawabannya payung.

 

 

Seorang lelaki tegap dengan cengiran khasnya menggenggam kuat sebuah payung agar tidak ikut terbang bersama kencangnya angin.

 

 

Sekyung bergetar tak percaya, apa ini halusinasi yang sering kali ia lihat, atau memang benar namja didepannya adalah orang yang sudah membuatnya menderita karena rindu?

 

 

“Oppa~” lirih Sekyung terdengar serak dan putus-putus, nyaris tak terdengar karena angin semakin tak terkendali.

 

 

Ia berusaha membuka jaket tebalnya dan memakaikannya pada Sekyung, “Tidak baik hujan-hujanan, nanti kau bisa sakit.”

 

 

Sekyung tersenyum mendengar sosok didepannya berbicara dengan begitu jelas, itu artinya ia tidak sedang bermimpi ataupun berkhayal lagi.

 

 

Chanyeol (namja tadi) menyeret ringan Sekyung entah untuk membawanya entah kemana. Dengan patuh Sekyung juga turut melangkahkan flat shoesnya mengikuti Chanyeol.

 

 

Mereka memasuki sebuah kedai kecil dan duduk di pinggir jendela transparan. Sekyung hampir tak berkedip karena sibuk memandangi namja dihadapannya. Chanyeol memesan dua mangkuk ramen kesukaannya dan balas menatap Sekyung.

 

 

Tanpa sadar Sekyung menggosok-gosokan telapak tangannya karena dingin dan sedetik kemudian sepasang telapak tangan raksasa membungkus tangannya yang terlihat sangat kecil.

 

 

“Tunggu sebentar lagi, ramen akan membuatmu sedikit merasa hangat.” ucap Chanyeol masih dengan senyum yang terpatri.

 

 

Sekyung membuang pandangannya keluar. Dilihatnya pepohonan yang miring karena dasyatnya angin, air hujan yang seharusnya turun lurus kini sedikit menukik ke kanan sehingga kaca dihadapannya basah.

 

 

“Silakan dinikmati.” ujar pelayan yang mengantarkan pesanan mereka (tepatnya Chanyeol).

 

 

Dengan rakus Chanyeol menghabiskan muatan mangkuknya, namun Sekyung malah mengabaikan keberadaan makanan hangat itu. Diam-diam, airmatanya kembali meleleh.

 

 

“Oppa~”

 

 

Chanyeol mendengar panggilan Sekyung dan mendongak masih mengunyah, “Ne?”

 

 

“Kenapa oppa waktu itu tidak pamit untuk kembali ke New York? Aku hampir mati karena merasa khawatir.”

 

 

Hati Chanyeol mencelos setelah mendengar ucapan Sekyung, ditambah lagi airmata yang menggenangi pipinya, “Uljima, aku minta maaf soal itu. Kejadiannya terlalu mendadak dan aku buru-buru.” Chanyeol terkekeh pelan, tangannya kembali meraih sumpit tanpa ada niat untuk menghapus airmata Sekyung.

 

 

Sekyung semakin terisak, dia menangis dalam diam, “Lalu untuk apa oppa kembali ke Korea?” tanya Sekyung sarkastik, rasa khawatirnya menguap menjadi kekesalan. Sekyung merasa Chanyeol berubah, atau pria dihadapannya bukanlah Chanyeolnya yang dulu?

 

 

Chanyeol meletakkan sumpitnya karena mangkoknya telah kosong, “Aku ingin memberitahumu sesuatu, namun habiskan dulu ramenmu.”

 

 

Selera makan Sekyung hilang sejak kepergian Chanyeol, jadi ia menggeleng dan menuntut, “Katakan saja sekarang.”

 

 

“Aku akan mengatakannya bila bulan sudah terlihat nanti.”

 

 

Sekyung merasa kesabarannya telah habis, Chanyeol yang ada dihadapannya benar-benar menyebalkan. Tiga puluh hari Sekyung bersabar menunggu Chanyeol namun ini yang ia dapat?

 

 

Dengan gusar Sekyung melangkah keluar kedai tanpa memperdulikan Chanyeol, seakan mereka adalah orang asing seperti ketika pertama kali bertemu di bandara.

 

 

“Tunggu, Sekyungie. Jangan pergi!” Chanyeol segera berlari ke kasir dan meletakkan selembar uang yang berhasil ia keluarkan dari dompetnya. Sang kasir meneriakan kembalian Chanyeol namun namja itu telah raib dari kedai. Chanyeol berlari sekencang yang ia bisa tanpa memperdulikan bajunya yang basah dan genangan air yang dapat membuatnya terpleset jatuh sewaktu-waktu.

 

 

Tangannya berhasil menggapai tangan Sekyung. Yeoja itu segera meringkuk dalam pelukan Chanyeol dan gemetar antara dingin dan isak tangisnya.

 

 

“Apa yang kau lakukan? Kau basah, kau bisa sakit.” teriak Chanyeol melawan deruan angin.

 

 

Sekyung berulang kali memukul dada Chanyeol sekuat tenaga, “Kau tidak tahu sudah berapa lama aku menunggumu? Dan kau baru mengkhawatirkanku setelah aku berlari menembus hujan?! Hiks~ aku sudah lama sakit, oppa. Sudah tiga puluh hari aku sakit dan ketika obatku tiba… ternyata ia malah membuat rasa sakitku terasa sia-sia. Kau bukan Chanyeol oppa ku!”

 

 

Sekyung terjatuh dan memeluk kedua lututnya. Chanyeol kembali merasa teriris, “Aku minta maaf jika tingkahku membuatmu marah.”

 

 

“Hiks~ katakan saja sekarang apa yang tadi ingin oppa katakan dan aku ingin pulang!” raung Sekyung.

 

 

“Berdirilah dan aku antar pulang.” suara Chanyeol melembut seiring dengan tangannya yang mengayun untuk membantu Sekyung berdiri.

 

 

Hati Sekyung melunak, tubuhnya berdiri dan menuruti langkah Chanyeol. Sebuah limousine putih menunggunya diujung jalan. Chanyeol membukakan pintu mobil panjang itu dan menyilakan Sekyung masuk terlebih dahulu. Seorang sopir sudah siap sedia di kursi depan.

 

 

“Ke rumah Sekyung, pak.” ujar Chanyeol. Rambut depannya basah terkena air hujan.

 

 

Di sekitar rumah Sekyung sama sekali tak terlihat bekas hujan turun. Jalanan masih kering seperti biasa.

 

 

Chanyeol hampir menjerit karena terkejut, ia menuding langit yang semakin cerah, “Lihat di atas sana, ada pelangi.” Sekyung juga melihatnya dan tersenyum, Chanyeol mengeratkan genggaman tangannya, “Pelangi datang saat kita bertemu, itu artinya pelangi adalah jembatan cinta kita.”

 

 

“Kau terlalu banyak berimajinasi, oppa.”

 

 

Dan seperti hari-hari sebelumnya, senyum Chanyeol kembali dapat menghangatkan hati Sekyung. Tangan Chanyeol tak pernah melepaskan pergelangan tangan Sekyung untuk satu detikpun. Seakan ia tidak ingin menyia-nyiakan waktunya yang sangat tipis.

 

 

Masih dengan pakaian basah mereka memutuskan untuk duduk dibawah pohon filicium. Langit mulai menggelap, muncul satu bintang yang tak terlalu terang.

 

 

Chanyeol menunjuk bintang itu, “Bintang itu adalah teman bulan kan?” Sekyung mengiyakan, “Bintang itu adalah temanku, bintang adalah penerang malam selain bulan.” tuturnya.

 

 

Sayup-sayup, dibalik sibakan kabut setelah hujan,bulan perlahan muncul. Sinarnya terbias sampai ke tempat mereka berdua duduk.

 

 

“Sekarang, katakan apa yang ingin oppa sampaikan tadi.”

 

 

Sekyung merasakan genggaman Chanyeol semakin erat setelah mendengar ucapannya, Chanyeol menelan ludahnya kelu, “Ini tentang perjodohan kita.” Sekyung seketika menegang mendengar kata perjodohan, “Aku membatalkannya.”

 

 

Deg~~

 

 

Chanyeol… membatalkan perjodohan mereka? Tapi…

 

 

“Kenapa? … Apa alasan oppa sampai membatalkan perjodohan kita?” dalam diam Sekyung menangis. Hatinya yang baru saja mekar dalam sekejap layu. Chanyeol dapat merasakan tangan yang ia genggam bergetar menyalurkan betapa sakitnya hati Sekyung.

 

 

“Aku akan menikah dengan wanita pilihanku di New York.” Chanyeol mengeluarkan sesuatu dari sakunya, “Ini undangannya, aku harap kau datang.”

 

 

Sekyung melepaskan tangannya dari Chanyeol dan berlari memasuki rumahnya. Chanyeol hanya bisa memandang Sekyung dari tempatnya, hatinya benar-benar ia matikan.

 

 

“Aku tidak berniat melakukan ini, Sekyungie. Aku tidak punya cara lain. Aku minta maaf karena telah menyakitimu. Aku mencintaimu.”

 

 

 

 

~~~~~TBC~~~~~

 

 

Gimana? Gimana? Gimana? Jangan kaget ya, Chanyeol cuma mau nikah sama aku kok *kemudian diserbu orang se-rt* Tinggal satu chapter lagi, terimakasih yang selama ini sudah bersedia rcl (meski ada yang cuma baca doang -_- tetap saya hargai kok c: ) tetap semangat 136 kawan!!! ~^.^~

 

 

salam hangat, ck136 :3

Iklan

16 pemikiran pada “Trade Off chapter 8

  1. Hahaha makasih Chubby, udah selalu diterapi shock sama sad ending dan cerita yang digantungin, sakitnya tuh disini*mukuldada*. Ditunggu juga sequelnya ya. Fighting

    Suka

  2. Hueekksss kok jadi sedih banget begini authornim. Mendadak shock liat posternya bukan sama Chanyeol tapi my boyfriend Sehun. Arght aku potek juga nih Chanyeol, Sekyung jangan pisah dong sama Chanyeol. Maunya Chanyeol sama Sekyung bukan sama Sehunie *ngambek*. Semoga Chanyeol sembuh dan bisa bareng Sekyung lagi *berjamaahbilanaamiin*. Fighting authornim. Tetep ngarep happy end Sekyung Chanyeol

    Suka

    • “oh jadi sehun boyfriend kamu? Ok deh, semoga langgeng ^^ *apa ini?*
      kok pada ngarepin happy ending semua ya??? Yah dilihat deh ntar chapter depan gimana. Makasih udah selalu rcl, dear :3 ff kamu keren ~^^b

      Suka

  3. Hhikzs,mreka ptus,,,pa krna pykitnx yg tdk bsa smbuh y…
    Hya,,,hppy/sad ,,,,end-?
    Ah,,,yg trbaik,-lah bwt mrka!!fighting,author!!!!^_^

    Suka

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s