[Request] Imperfection

imperfection

Imperfection

By doremigirl

Casts: Oh Sehun, OC | Rating: G | Genre: Sad romance | Length: Ficlet

.

Cause all of me, loves all of you.” – John Legend

.

Punggung itu masih menawarkan kenyamanan, meski kini bentuknya terus melengkung ke belakang tanpa ia sadari. Tangan itu masih tangan yang sama dengan tangan yang memegang tanganku. Memberikan kehangatan meski kini genggamannya tak sekuat dulu.

Selambu putih itu membuat bias cahaya matahari terlihat begitu redup. Sinarnya mendarat dengan lembut ke arah rambutnya, seperti seorang ibu yang sedang membelai anak laki-laki kesayangannya.

Jika selambu putih itu dibuka, akan terlihat pemandangan pagi. Bukan pemandangan yang spektakuler. Hanya pemandangan biasa. Burung-burung gereja berkicau dengan riang, pohon-pohon bergoyang ditiup angin. Semuanya sederhana, namun terlihat begitu harmoni.

Di tengah semua keindahan itu, ia tetaplah sinar paling menyilaukan di mataku. Keindahan yang selalu membuatku terpukau.

Laki-laki itu menghela napasnya pelan. Ia mengedarkan pandangnya ke sekeliling kamar, berusaha mencari suatu hal yang tak kutahu. Dulu, ia pernah berkata bahwa ia ingin sekali menemukan seorang peri. Katanya, keajaiban bisa terjadi di mana saja.

Sehun adalah pemercaya keajaiban nomor satu. Ia percaya akan adanya takdir. Ia percaya akan adanya suatu fase di mana hal yang dapat dipikirkan nalar tidak lagi penting. Sehun selalu merunut semua aktivitasnya, dan pada malam hari ia akan mencari di bagian mana keajaiban bekerja pada harinya.

Manik mata kami berdua kemudian bersirobok. Persembunyianku kini sudah ia temukan. Ada desir halus di dalam perutku – desir yang tak pernah hilang bahkan setelah sekian lama. “Ayo kita pulang.” Begitu ucapnya.

Sempat aku berharap ada senyum tipis yang terpahat di wajahnya. Yang kudapati hanyalah wajahnya yang terlihat begitu tidak nyaman. Mungkin selambu putih mengganggunya – atau mungkin kicauan burung gereja terdengar begitu ribut di telinganya.

Aku melangkah mendekatinya, menekuk lututku untuk sejajar dengan kursinya; laki-laki itu duduk di atas kursi rotan di dekat jendela. Aku memegang tangannya. Terasa beku, sedingin es.

Biasanya dia yang akan menghangatkan tanganku di musim dingin. Membawakanku secangkir kopi panas, atau mungkin sekadar menyusupkan jemarinya di antara jemariku. Kehangatan menjadi ciri khasnya yang begitu kurindukan.

“Mereka berbisik padaku lagi, Nara..”

Mereka. Jika ada suatu hal yang benar-benar ingin kulakukan, aku ingin menghilangkan kehadiran mereka. Tidak akan semudah mengusir kucing liar, namun aku ingin sekali membuat mereka tidak lagi mengganggu Sehun.

Tapi sekeras apa pun memang tidak bisa.

Jika dibandingkan dengan dulu, Sehun adalah orang yang paling bisa mengingat setiap detil. Ia ingat di mana kunci rumah diletakkan. Kapan terakhir kali kami makan siang, atau barang apa yang biasanya aku lupakan. Otaknya bekerja begitu baik.

Namun sekarang, mengingat letak atau sebuah frasa saja ia begitu susah mengingatnya.

“Nara, aku ingin pulang..”

Aku menatap lekat-lekat kedua matanya. Air mata terasa membakar mataku. Untuk kali pertama, tatapan Sehun terasa begitu menyakitkan. Ia bahkan tidak melakukan apa pun – hanya berkata ingin pulang.

Kalimat sederhana itu membuatku merasa sedih. Merasa gagal. Merasa terhina meski Sehun mengucapkannya dengan wajah polos.

“Nara, aku takut..” Begitu katanya lagi. Ekspresinya tidak berbohong – meski aku ingin sekali ia tiba-tiba meloloskan tawa karena sedang melempar lelucon padaku.

Perlahan, aku merengkuhnya ke dalam pelukanku. Lihat, biasanya ia yang akan melakukan ini untukku. Dia lah yang menawarkan penghiburan. Pelipur lara untuk hatiku. Kini aku yang bergerak untuknya. Sehun hanya diam, menyandarkan dagunya di bahuku.

Sementara aku menangis sejadi-jadinya.

Tapi ini adalah rumahnya. Rumahku. Rumah kami. Begitu pula dengan selambu, kamar, juga kursi. Ini milik kami berdua. Setiap inci ruangan ini merupakan hasil dekorasinya sendiri saat baru membangun rumah – hal yang mungkin sudah ia lupakan sepenuhnya. Jika ia bisa mengingat, ia akan mengingat bagaimana ia mengecat kamar ini dengan cat biru muda. Bagaimana ia memasang lampu di langit-langit. Bagaimana ia mengecat ukiran di jendela.

Aku tak tahu harus membawanya pulang ke mana.

Perlahan, lengan itu merengkuh pinggangku. Membawaku ke dalam kehangatan yang tak pernah kudapatkan lagi. “Jangan menangis..” katanya pelan. Bukannya terdiam, aku malah menangis makin jadi. Harusnya aku bersyukur masih ada aku dalam memorinya.

Tapi aku begitu merindukan laki-laki pemercaya takdir itu. Jika perlu aku akan mengikuti kebiasaannya merunut waktu; mencari keajaiban. Meski aku dulunya adalah penganut realita nomor satu, aku rela menuntut keajaiban untuk saat ini.

Mungkin inilah cinta. Yang menyebabkan aku merasa terluka saat ia ingin pulang – padahal sedianya ia sudah berada di rumah.

 “Kau sudah pulang, Sehun. Di sini rumahmu..”

Mungkin inilah kasih. Yang membuatku selalu ingin memeluknya setiap pagi, mengingatkannya bahwa aku adalah tempat di mana ia selalu kembali.

Kendati penyakit gila bernama alzheimer terus mengikis ingatan Sehun tiap hari. Membuatnya makin lemah dalam mengingat. Membuatnya terus-menerus melihat mereka. Aku akan tetap di sini, menjadi pengawal nomor satu yang akan membuatnya kembali ingat.

Karena aku mencintainya.

.

“ – Cause all of me, loves all of you

Loves your curves and all your edges

All your perfect, imperfections..”


A/N: Based on [this] challenge

I thank knaraxo for the idea. Lots lots of thanks for you. 🙂 Maaf sekali kalau ini jadinya nggak oneshot. Ini aku lagi wb parah, dan dari sekian request yang masuk ke aku, punya kamu adalah yang paling bisa aku kerjain untuk sekarang. Maaf banget untuk pe-request yang lain. Nggak bisa cepat, tapi aku janji bakal ngerjain.

Have a nice day for you! xoxo~

Iklan

16 pemikiran pada “[Request] Imperfection

  1. ya ampun kasihan sehun…. ak enggk tau alzheimer itu ap… jdi ak cri d google….eh ternyata seseram itukah penyakit itu??? sumpah yg sehun alami udh parah… feel ny dapet banget,mengharukan,dan nyesek banget k hati…. aku udh kehabisan kata” cuman mau bilang chingu daebak… aku suka..keep writing

    Suka

  2. Awesome! 😀
    Diksinya bagus, bisa bikin aku terbawa suasana ^^ Dan ucapan Sehun yang selalu bilang ‘aku ingin pulang’ itu..argh! I really want to cry T^T
    Terus berkarya 🙂

    Suka

  3. Aaah, maaf banget ya auhor, baru bisa buka wordpress sekarang. Apalagi bukaknya bukan komputer -_- FF nya bagu, lho. Sedih banget pas tahu kalau Sehun sakit alzheimer di sini 😥 makasih lho author requestku sudah dikerjakan, apalagi FFnya sumpah bagus bangeeeet XD Gamsahamnida~ 😀

    Suka

    • panggil aja veli, jangan author. hehe. X) iyaa gapapa, kook. sebenernya aku udah baca komen kamu mulai kemaren, tapi baru bales sekarang. maaf, yaa. syukur kalo kamu pikir ini bagus. makasih juga, ya sumbangan idenyaa. ❤

      Suka

  4. Ya Alloh kak… feelnya ngena banget… apalagi sambil muter All of me. Kak, you always great. Aku nggak nyesel udah mendeklarasikan diri sebagai fans kakak, sumpah, pendek tapi feelnya ngena sampe menghujam dalem banget gitu /ngelantur keluar jalur / Kapan bikin novel? Ntar aku dikasih ya kalo udh bikin /gubrak/

    “Aku ingin pulang…” kamu di rumah sayang, ya Alloh, nyesek banget rasanya. Alzheimer itu nggak ada obatnya… 😥 pokonya gegara nonton 1000years promise udah tiap denger kata alzheimer kenanya pasti nyesek fiksinya, dari awal pas SeHun bilang soal mereka menggangguku, aku udah yakin ini alzheimer. Dan tebakanku seratus persen bener,

    Nara, kamu harus sabar ya… pada akhirnya, penderita alzheimer cepat atau lambat akan meninggal juga, merinding kan aku jadinya……

    Pokonya aku nggak cukup bilang ini keren, kurang kalo kubilang sangaaaaaaaaaaaaat keren, sampe ‘a’ nya menuhin kolom komentarnya juga nggak cukup -_-

    Oke, kak kutunggu FFmu yang lain, ntar lama-lama aku ikutan request, cuma request apaan ya? nanti kalo ada ide aku request ya,… harus diterima pokoknya /maksa/

    Yodah, itu aja… maap cerewet 😀

    Suka

    • aduuh syukurlah feel-nya ngena, dek. aku pikir ini kependekan, loh. 😦 nggak, lah dek. i’m not always great. fufufu..

      1000 years of promise aku malah belum nonton. ini terinspirasinya dari satu ff, sih. terus malah keinget anterograde masa. jadilah di fusion campur aduk kayak gini, duh. xD perasaan nasib sehun di fanfic aku selalu nista…….. padahal bias. /kemudian hening/

      makasih, ya deeek~

      Suka

      • Hahaha, SeHun bias juga kok ‘-‘ aku malah belum baca anterograde, maksudnya anterograde tomorrow kan? Itu keknya angst juga 😥 kemaren aku acak-acak blog kakak mencari informasi tentang anda /ini penggemar beneran/ kakak suka junmyeon kan? Jongin juga kan? wkwkwk….

        Suka

    • mereka itu maksudnya makhluk halus yang cuma bisa diliat sehun. tapi itu bukan mistis maksudnya. penderita alzheimer emang sering banget ngeliat-ngeliat begituan. hehe.. makasih, ya. 🙂

      Suka

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s