Trade Off Chapter 9 [Final Chapter]

chapter 9 copy copy

 

 

Title: Trade Off chapter 9

 

Author: Chubby Kawaii 136 a.k.a CK136 (https://chubbykawaii136.wordpress.com)

 

Genre: Straight, Romance, Friendship, Angst, Hurt/Comfort, School life, Fantasy, AU

 

Rating: Teen

 

Length: Chaptered

 

Main Cast: Shim Sekyung (OC) sebagai reader sekalian, Park Chanyeol, Oh Sehun, Wu Yi Fan a.k.a Kris, Oh Hyesun (OC), dan Byun Baekhyun

 

Disclaimers: Saya pemilik sah alur cerita ini! Don’t copas without permission!

 

Summary: Trade off, setiap kisah kehidupan pasti memerlukan sebuah pengorbanan untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Baik itu fisik, materi, persahabatan, tali persaudaraan bahkan… cinta.

 

Recommendation song: Jin – Gone

 

 

 

 

Semenjak pertemuan terakhirnya dengan Chanyeol, Sekyung sakit hati dan tak banyak bicara. Matanya memandang sedih helm yang selama ini ia gunakan ketika berboncengan dengan namja tinggi itu.

 

 

Sekyung teringat dengan apa yang pernah Chanyeol tegaskan padanya ketika ia meragukan cinta Chanyeol, “Aku percaya pada Park Chanyeol dan akan selalu berada disampingnya apapun yang terjadi.” kata-kata ini sepertinya membawa pengaruh besar bagi Sekyung. Paling tidak sudut bibirnya sedikit terangkat ketika mengingat kenangan ini. Namun airmatanya tiba-tiba turun begitu ingat bahwa Chanyeol akan menikahi wanita lain.

 

 

Kenapa terlalu tiba-tiba? Bukankah mereka saling mencintai? Jadi kenapa Chanyeol memilih wanita lain dari pada Sekyung?

 

 

Sekyung mengacak rambutnya frustasi. Apa Chanyeol hanya mempermainkannya? Tapi mengapa ia terlihat begitu mencintai Sekyung dan hanya Sekyung yang ada di hatinya? Apa ia tidak ingat jika dialah yang mencuri first kiss Sekyung?

 

 

Sehun berdiri di ambang pintu, menatap nanar pada punggung Sekyung yang bergetar. Sehun mencoba menguatkan hatinya dan berjalan mendekati Sekyung.

 

 

“Sekyung~” serunya namun tak mendapat respon apapun, “Aku tahu kau sedang bersedih.” Sehun duduk disamping Sekyung dan mencoba mengambil sebelah tangannya yang terasa dingin, jantungnya mulai berlomba. Ini pertama kalinya bagi Sehun untuk menyentuh tangan seorang gadis, terlebih lagi adalah tangan gadis yang ia cintai, Sekyung.

 

 

“Besok aku akan ke Amerika untuk mengikuti penelitian yang diadakan disana, jika mau kau bisa ikut dan aku akan mengantarkanmu ke New York.”

 

 

Sekyung mengangkat kepalanya dan melayangkan tatapan membunuh pada Sehun, “Lalu kau ingin aku melihat orang yang aku cintai menikahi wanita lain?”

 

 

Sehun kaget dan langsung menjauhkan tangannya dari Sekyung, “Chanyeol sunbae akan menikah dengan wanita lain? Di… New York?”

 

 

“Dia yang memberiku undangannya satu minggu yang lalu.” Sekyung mengeluarkan sobekan kertas yang lusuh, menandakan betapa bencinya ia akan apa yang tertulis di dalam undangan itu.

 

 

Sehun mulai menyusun kertas-kertas itu layaknya sebuah puzzle. Terlihat jelas nama Park Chanyeol tercetak dihalaman depan dengan nama seorang wanita. Sehun mengerang kecewa, dia pikir Chanyeol ke New York untuk berobat, tapi ternyata Chanyeol malah mengkhianati cinta Sekyung.

 

 

Namun mengingat pesan terakhir Chanyeol, Sehun kembali berpikir, “Tapi tidakkah kau ingin melihat Chanyeol sunbae untuk terakhir kalinya? Maksudku, kita datangi acara pernikahannya dan ucapkan selamat tinggal. Aku yakin Chanyeol sunbae sangat ingin kau datang.”

 

 

“Tapi apa aku kuat? Apa hatiku kuat menyaksikan orang yang aku cintai memakaikan cincin dan mengucapkan janji suci pada wanita lain dengan mata kepalaku sendiri?”

 

 

“Ku mohon datanglah, demi Chanyeol sunbae.” pinta Sehun. Hati kecilnya berbisik, mungkin Sekyung harus datang ke acara pernikahan Chanyeol. Sehun belum sepenuhnya mempercayai kenyataan bahwa Chanyeol akan menikahi wanita lain. Sehun yakin dengan sepenuh hati bahwa Chanyeol benar-benar mencintai Sekyung, sama sepertinya.

 

 

Kepala Sekyung rasanya seperti ingin meledak, ia menghembuskan nafas kasar, “Baiklah… jika itu yang terbaik.”

 

 

 

 

==========Trade Off==========

 

 

 

 

Sekyung dan Sehun masing-masing menyeret koper dan barang bawaannya. Mereka duduk bersebelahan. Sekyung duduk di dekat jendela dan memandang keluar. Sehun hanya bisa diam, ia tidak tahu apa yang harus dikatakan, salah-salah nanti malah membuat Sekyung semakin merana.

 

 

Beberapa jam kemudian mereka tiba. Mereka menuju hotel yang sudah dipesan Sehun jauh-jauh hari. Sekyung masih bungkam dan tatapannya terlihat begitu mengenaskan, seakan jiwanya sudah mati.

 

 

“Satu jam lagi acara pernikahannya akan dilaksanakan. Lebih baik kita bersiap-siap.” Sehun membongkar kopernya untuk mencari celana, kemeja serta jas yang akan ia kenakan.

 

 

Perlahan Sekyung mengikuti aktivitas Sehun. Ia memilih dress sederhana berwarna soft pink lengkap dengan sepatu berwarna senada.

 

 

Sehun mengamati kertas undangan pernikahan Chanyeol yang sudah diselotip, “Acaranya bertempat disebuah gereja. Aku tahu gereja ini, lokasinya tidak jauh dari sini.”

 

 

Sekyung berjalan lunglai ke ambang pintu, “Kajja.”

 

 

Mereka pergi dengan sebuah mobil yang sudah disediakan pihak hotel. Tak ada percakapan selama perjalanan, sama sekali tak ada suara selain deru mesin. Raga Sekyung benar-benar seperti mayat hidup.

 

 

Sehun menghentikan mobil yang ia kendarai disebuah gereja tua, cukup besar dan megah. Tak ada satupun mobil selain yang mereka naiki. Mungkin keluarga Chanyeol hanya ingin rekan-rekannya saja yang menghadiri acara pernikahannya.

 

 

Sekyung turun dari mobil, matanya menatap nanar gereja cantik dihadapannya. Mungkin ia pernah bermimpi akan menikah di gereja sebagus ini dengan Chanyeol, tapi kenyataannya ini bukan acara pernikahan mereka.

 

 

Sehun memilih diam di ambang pintu membiarkan Sekyung sendirian memasuki gereja itu. Kursi-kursi tertata rapi tanpa penghuni. Rangkaian bunga kering menghiasi sudut-sudut antara dinding dan langit-langit. Manik Sekyung menangkap sosok yang berdiri di depan dengan tuxedo hitam, hanya punggungnya yang terlihat.

 

 

‘Apakah itu Chanyeol oppa?’

 

 

Antara ingin dan tidak ingin, hatinya terasa sakit bila menerima kenyataan bahwa Chanyeol sudah menikahi wanita lain namun jauh dilubuk hatinya Sekyung sangat merindukan Chanyeol, meski dia sudah menyandang status sebagai suami wanita lain.

 

 

Sekyung membulatkan tekadnya dan berlari menembus angin. Sekyung sengaja berhenti untuk menyisakan jarak yang tinggal beberapa meter saja. Matanya memanas, hatinya sedih sekaligus bahagia karena akhirnya dapat melihat raga Chanyeol kembali. Lalu apakah itu airmata kesedihan atau kebahagiaan?

 

 

“Op… pa~~” lirih Sekyung, bibirnya bergetar menahan isakan.

 

 

Sosok yang memunggunginya perlahan berbalik seiring dengan gemuruh di dada Sekyung yang semakin menjadi. Sekyung berusaha melengkungkan bibirnya meski masih dipenuhi airmata. Namun tiba-tiba lenyap ketika sosok didepannya menyerukan namanya.

 

 

“Sekyung~” mata mereka sama-sama basah.

 

 

“Mom… mommy~~?” Sekyung menggeleng dengan nafas yang memburu, kepalanya berputar-putar mencari sosok Chanyeol namun nihil, “Chanyeol oppa~ eodigayo?”

 

 

Ibu Chanyeol terduduk lemas, wanita paruh baya itu sudah tak bisa lagi mengontrol perasaannya, “Chanyeol… meninggal.”

 

 

Deg~

 

 

Untuk beberapa saat jantung Sekyung berhenti berdetak, “Hiks~ jangan bercanda, mommy. Ini benar-benar tidak lucu!”

 

 

“Chanyeol menderita kanker otak, hiks~ dia meninggal tepat setelah selesai menghias gereja ini.”

 

 

Hati Sekyung patah menjadi berkeping-keping, dan terbang bersama angin menjadi sepihan debu, “Katakan padaku jika ini hanya lelucon, mommy.” dengan beruraian airmata Sekyung mencari disegala sudut ruangan, “Pasti Chanyeol oppa sedang bersembunyi disuatu tempatkan? Benar kan, mom?” raung Sekyung masih tak percaya.

 

 

Ibu Chanyeol menggeleng lemah dilantai, “Dia sudah benar-benar pulang, Sekyung.”

 

 

Tubuh Sekyung melemas, perlahan Sekyung kembali mendekati ibu Chanyeol dengan langkah yang terseok-seok, “Kenapa aku baru diberitahu? Hiks~ kenapa? Setidaknya biarkan aku merawat Chanyeol oppa di saat-saat terakhirnya.” Sekyung bersimpuh di samping ibu Chanyeol.

 

 

“Itu karena Chanyeol tidak ingin kau bersedih. Chanyeol juga membuat sebuah kebohongan bahwa ia akan menikah dengan wanita lain agar kau marah padanya, bukan sedih. Bagi Chanyeol sudah banyak orang yang menderita karenanya, dan ia tidak ingin membuat cintanya juga menderita.”

 

 

Ibu Chanyeol meraih sebuah kotak merah marun dengan pita putih di atasnya, “Chanyeol bilang ini untukmu, Sekyung.”

 

 

Sekyung menerimanya dengan tangan bergetar, perlahan ia membukanya.

 

 

Sebuah foto usang dengan wajahnya yang tengah tersenyum manis di sebuah taman, disudut kanan bawah bertuliskan, ‘Mommy bilang gadis cantik ini bernama Sekyung, dia tinggal di Korea. Dia takdirku.’

 

 

Tangannya meraih benda lain, sebuah plastik berisi gulungan rambut, didalamnya juga terselip secarik kertas, ‘Hasil kemo hari ini. Ah~ aku botak lagi.’

 

 

Mata Sekyung tertarik pada sebuah kemeja dengan noda hitam, ‘Namanya Sekyung dan dia yang telah menumpahi kemeja kesayanganku dengan kopi panas. Tapi aku tidak marah, karena ini takdir yang telah mempertemukan kami.’

 

 

Di bawah kemeja tadi ada dua buah botol air mineral yang tampak tak asing bagi Sekyung, ‘Ini milikku, bukan milik Kris!’

 

 

Ada sebuah foto lagi, Sekyung tersenyum melihat cetakan punggungnya ada disana, ‘Danau, tempat kencan pertama.’

 

 

Disisi yang lain ada sebuah kotak kecil berisi benda-benda kecil dengan kertas yang menempel disetiap benda tersebut. Sebuah bungkus plaster, tissue berlumuran darah, sendok, dan cup jelly kesukaan Sekyung.

 

 

‘Plaster untuk Sekyung. Aku tidak mau melihatnya kesakitan karena ulah Hyesun.’ ‘Tissue dari Sekyung saat penyakitku kambuh.’ ‘Malam ini dia menyuapiku.’ ‘Ini makanan kesukaannya.’

 

 

Sekyung merengkuh kotak itu, berharap yang sedang ia peluk sekarang adalah tubuh Chanyeol. Sekyung rindu melihat senyuman Chanyeol, Sekyung rindu nafas mintnya, Sekyung rindu tangan besarnya yang hangat.

 

 

Masih dengan tangan bergetar, Sekyung membuka sebuah amplol berwarna putih gading. Di dalamnya terdapat secarik kertas berisi surat dari Chanyeol.

 

 

 

Aku minta maaf untuk semua yang telah ku perbuat, untuk setiap kesedihanmu, untuk setiap airmatamu. Aku sudah berjanji untuk selalu membuatmu tersenyum. Jadi aku mohon, jangan pernah menangis lagi, jangan pernah bersedih lagi. Aku sudah sembuh, Sekyung. Jadi jangan lagi menghawatirkanku. Karena sesungguhnya kesembuhanku adalah kematian. Aku sudah tenang di surga. Kau akan segera menemukan namja yang lebih baik daripada aku. Namja yang tidak mungkin menyusahkanmu, namja yang aku jamin tidak akan membuatmu menangis. Dan aku yakin ia pasti sedang kemari untuk mengantarmu.

Tersenyumlah, matahariku. Aku mencintaimu

Park Chanyeol

 

 

 

Airmata Sekyung menetes ke atas surat tadi, bercampur dengan tinta dan tetesan darah yang entah bagaimana bisa ada disana.

 

 

“Aku juga mencintaimu, Park Chanyeol.”

 

 

 

 

~~~THE END~~~

~~~EPILOG~~~

#Flashback ketika di rumah sakit#

 

 

~~~Chanyeol side~~~

 

 

Chanyeol barusaja diperiksa kembali oleh dokter di rumah sakit itu. Ibunya masuk dengan wajah yang terlihat sangat dipaksakan untuk tersenyum. Chanyeol masih dapat melihat sisa airmata di wajah ibunya. Hatinya sakit, lagi-lagi ia membuat orang yang ia sayangi bersedih.

 

 

“Ayo sayang kita pulang.” ucap ibunya terdengar serak.

 

 

Perlahan Chanyeol bangun sendiri dari katilnya. Namun ketika ia sudah berdiri dan siap berjalan, kakinya terasa lemas. Chanyeol ambruk ke lantai yang dingin, kepalanya pusing dan sakit, pandangannya kembali kabur.

 

 

Ibunya panik dan segera memanggil dokter.

 

 

“Saya sarankan agar anak anda memakai kursi roda saja, keadaannya sudah sangat tidak memungkinkan untuk berjalan, kemungkinan saraf yang mengatur kinerja kakinya sudah lumpuh. Jika tidak segera diobati maka bisa saja lumpuh total ataupun menyebar hingga ke saraf yang mengatur ingatannya sehingga anak anda dapat terkena amnesia.” jabar sang dokter.

 

 

Dibantu sopir keluarga Park, Chanyeol masuk ke dalam mobil. Ibunya berusaha keras agar tidak menangis, meski matanya sudah memerah.

 

 

Dengan lembut ibu Chanyeol berucap, “Mommy tidak mau tahu, kau harus segera dibawa kembali ke New York, Yeollie. Mommy tidak ingin kesehatanmu semakin menurun.” itu keputusan akhirnya, mau tidak mau ia akan tetap membawa Chanyeol kembali ke New York di rumah sakit yang dulu menangani anaknya.

 

 

“ Percuma, mom.” lirih Chanyeol, tenggorokannya terasa perih dan kepalanya semakin pening ketika berusaha mengeluarkan suara, “Dokter Kevin bilang umurku tinggal dua bulan.”

 

 

Krak~~

 

 

Hatinya sebagai seorang ibu mendadak patah. Ibu Chanyeol tak lagi dapat menahan airmatanya yang terus menerus mendesak keluar.

 

 

“Sebenarnya itu adalah alasanku mengapa aku kabur dari rumah sakit dan pergi ke Korea. Karena aku ingin menemui cinta pertamaku, Sekyung. Aku ingin mengenalnya meski hanya satu bulan, aku ingin merasakan cinta. Tapi baru satu minggu aku berada di Korea dan kesehatanku mulai menurun.” Chanyeol tersenyum hambar, “Tapi tidak apa-apa, setidaknya aku sudah ada dimemori Sekyung meski hanya dalam satu minggu. Aku harap ia akan mengingat kenangan kami walau hanya sedikit. Dan sepertinya kali ini aku harus menuruti keinginan mommy. Jika mommy ingin aku kembali ke New York aku akan melakukannya. Aku ingin berusaha membuat bahagia orang-orang yang aku sayangi dipenghujung usiaku.” Chanyeol menarik nafasnya, perlahan airmata turun membasahi pipinya, “Aku minta maaf karena telah menyusahkan mommy. Aku tidak bisa membahagiakan dan membalas jasa-jasa mommy.”

 

 

Ibu Chanyeol mengusap airmata Chanyeol, mengabaikan pipinya yang juga basah, “Tidak, Yeollie. Kau sudah membuat mommy bahagia. Jika begini keadaannya maka lebih baik kau tinggal saja di Korea bersama Sekyung. Mommy mengijinkanmu.”

 

 

Chanyeol menggeleng lemah, cukup lama berpikir untuk menjawab pernyataan ibunya, sepertinya otaknya mulai sukar untuk merangkai kata-kata. Ia berkedip beberapa kali sebelum akhirnya kembali menjawab, “Tidak, aku tidak ingin meninggalkan kenangan terlalu banyak dihati Sekyung. Aku tidak ingin melihatnya menangis ketika teringat kenangan-kenangan kami, satu minggu sudah lebih dari cukup.”

 

 

Setelah itu, diam-diam ibu Chanyeol membeli tiket penerbangan ke New York. Ibunya membiarkan Sekyung menyuapi Chanyeol dan tidur berdua, karena Chanyeol bilang ia ingin mengucapkan salam perpisahan pada Sekyung meski tidak secara langsung.

 

 

Pagi-pagi sekali ibu Chanyeol mengemasi barang-barang mereka dan bersiap menuju bandara. Perlahan Chanyeol turun dari tempat tidurnya. Ia mengusap pelan pipi Sekyung dan mencium dahinya lembut.

 

 

“Selamat tinggal, Sekyungie.”

 

 

 

==========Trade Off==========

 

 

 

Selama satu bulan penuh Chanyeol terbaring lemah di rumah sakit. Bayang-bayang tentang wajah Sekyung selalu menghiasi harinya. Tapi setidaknya sudah ada malaikat yang ia percaya untuk menjaga Sekyung.

 

 

Chanyeol teringat kata-kata terakhirnya untuk Sehun, “Sampaikan perasanmu pada Sekyung, aku ingin kau menggantikan peranku sebagai malaikatnya. Aku ingin kau yang melakukannya Sehun, karena aku tahu kau juga mencintai Sekyung. Ini nomor telepon Sekyung yang aku dapatkan ketika pertama kali mengantarkannya pulang, segera hubungi dia. Lakukan itu untukku, ini permintaan terakhirku padamu.”

 

 

Seorang pria berjas putih memasuki kamar dimana Chanyeol dirawat, “Dokter Kevin~” Chanyeol menyambutnya dengan sebuah senyuman hangat, seakan penyakitnya bukanlah penghalang bagi Chanyeol untuk sekedar memberikan raut bahagia ditengah penderitaannya.

 

 

“Bagaimana hasil pemeriksaannya? Maksudku tentang kanker yang ku derita.” lanjut Chanyeol.

 

 

Dokter Kevin membenarkan letak kacamatanya dan memandang Chanyeol datar, “Maafkan aku, Chanyeol. Kali ini aku tidak membawa kabar bahagia.”

 

 

“Tak apa, dokter Kevin. Aku siap menerima apapun yang terjadi.”

 

 

Dokter muda itu menyerahkan beberapa kertas, “Benar-benar buruk. Meski kakimu sudah bisa digunakan berjalan lagi, namun kankermu sudah menyelimuti sebagian besar otakmu, bahkan sampai ke otak kecil. Aku tidak berani jamin kalau umurmu dapat sampai empat hari ke depan.”

 

 

Chanyeol hanya menggenggam kertas pemberian dokter Kevin, tak ada niatan sedikitpun untuk membaca isinya karena ia sudah tahu dengan sangat jelas lewat penjelasan dokter Kevin.

 

 

“Aku sudah siap mati, dokter Kevin. Jadi kapanpun Tuhan ingin menjemputku, aku tidak akan memberontak dan mengemis untuk bisa hidup satu hari lagi. Karena aku sudah bahagia.” tangan kurus Chanyeol menggapai pundak dokter Kevin, “Aku sangat berterimakasih pada dokter karena sudah bersedia merawatku selama belasan tahun.”

 

 

“Lakukan apapun yang kau inginkan, gunakan sisa waktumu sebaik mungkin, Chanyeol.” dokter Kevin memeluk tubuh ringkih Chanyeol.

 

 

Chanyeol akhirnya mulai berpikir apa saja yang belum sempat ia lakukan untuk membahagiakan orang-orang yang ia sayangi. Chanyeol mulai menyusun daftar kegiatannya selama empat hari. Mulai dari mengajak orangtuanya jalan-jalan bersama (meski Chanyeol tak dapat berjalan terlalu jauh), mengirim Kris sebuah novel yang dulu diperebutkan oleh Hyesun dan Sekyung, dan keinginan terbesarnya adalah dapat memandang wajah Sekyung lagi.

 

 

Dengan surat ijin dari dokter Kevin, ibu Chanyeol mengijinkan Chanyeol pergi ke Korea, meski wanita itu tidak yakin apa yang akan terjadi pada anaknya jika ia terlalu banyak beraktivitas.

 

 

Chanyeol tak ingin melihat Sekyung menangisinya ketika ia sudah tidak ada, dan akhirnya Chanyeol memutuskan untuk berbohong agar Sekyung benci padanya dan bisa bersama dengan Sehun.

 

 

Ia memberi Sekyung sebuah undangan pernikahan dengan namanya dan sepupu perempuannya pada Sekyung. Sungguh, hati Chanyeol berdarah ketika melihat Sekyung menangis atas apa yang ia lakukan. Dengan begitu Chanyeol berjanji akan menggunakan sisa waktunya untuk membuat hadiah kecil untuk Sekyung.

 

 

Dengan bantuan ibunya, Chanyeol mendatangi sebuah gereja. Chanyeol merangkai bunga-bunga kering untuk mempercantik gereja dan beberapa pita warna-warni. Ibunya yang bertugas memasang.

 

 

Chanyeol juga menata barang-barang yang menurut ibunya terlihat aneh ke dalam sebuah kotak. Melihat raut bingung ibunya, Chanyeol menjelaskan, “Ini hadiah untuk Sekyung.” ucap Chanyeol riang. Hatinya sangat bahagia dan tidak sabar lagi untuk bertemu dengan Sekyung.

 

 

“Ah~ hadiah ini tak akan lengkap tanpa sebuah surat cinta.” jemari kurusnya mulai menggoreskan tinta ke atas kertas. Chanyeol menuliskan isi hatinya. Ia mengangkat secarik kertas itu dengan sebuah senyuman puas kebahagiaan. Dan ketika ia hendak meraih sebuah amplop, tiba-tiba kepalanya terasa pusing. Chanyeol mimisan lagi dan menodai kertas suratnya.

 

 

Sebuah sosok hitam mendekati Chanyeol dan membawanya pada sinar yang amat terang.

 

 

“Yeollie~~” raung ibu Chanyeol.

 

 

Chanyeol kaget dan memutar kepalanya untuk melihat apa yang terjadi. Raganya tergeletak lemah beralaskan surat cintanya untuk Sekyung. Chanyeol meninggal. Namun setidaknya Chanyeol sudah melakukan apa yang ia inginkan. Ia sudah bahagia berkat cinta Sekyung dan dukungan dari keluarganya. Jadi, Chanyeol pergi dengan madai.

 

 

Upacara pemakaman dilakukan sore harinya. Ketika langit berwarna jingga terang, ketika matahari berganti menjadi bulan dan bintang, ketika itu Chanyeol dikebumikan. Wajah Chanyeol terlihat damai dan bahagia, penderitaannya selama ini telah usai. Selamat tinggal Park Chanyeol.

 

 

 

 

==========Trade Off==========

 

 

~~~Present~~~

 

 

Kris mendribble bola basket dengan gesit, hari ini tim basket sekolah mereka masuk ke final pertandingan basket tahunan antar sekolah. Hyesun menyemangai tim sekolahnya bersama cheerleader yang ia pimpin. Ya, berkat kerja kerasnya akhirnya Hyesun terpilih menjadi ketua cheerleader.

 

 

Sekyung duduk di kursi penonton bersama Sehun dan sahabat khayalannya, Baekhyun. Senyum serta tepuk tangan menggema menjadi satu saat Kris dan kawan-kawan berhasil memenangkan pertandingan.

 

 

Untuk merayakan kemenangan sekolah mereka, maka diadakan pesta BBQ di halaman sekolah. Sekyung tertawa bahagia disamping Sehun, Hyesun, dan Kris.

 

 

Sekyung sudah berjanji untuk selalu tersenyum. Sekyung percaya Chanyeol juga bahagia di atas sana. Mungkin ini pilihan yang sudah ditakdirkan Tuhan. Setelah sekian banyak hal yang sudah ia korbankan untuk mencapai akhir ini. Entah akan berakhir bahagia ataupun sedih, namun Sekyung percaya dengan senyuman dan yakin pada pilihan yang telah ia ambil, maka tak akan ada penyesalan.

 

 

Sekyung mendongak untuk melihat bulan purnama yang terukir wajah Chanyeol, ‘Aku mencintaimu, bulanku.’

 

 

 

 

~~~The End~~~

 

 

 

 

*sujud syukur* akhirnya ni epep abstrak selesai juga \^^/ *tiup terompet* happy ending atau sad ending??? Ane juga bingung khekhekhe~~ sedikit terinspirasi dengan film ‘Nathan & Milly’ jadi jangan heran kalau rada mirip, tapi endingnya beda kok. Sampai ketemu di ff-ff absurd saya selanjutnya. Tetap fighting, ganbatte, jiayou, semangat 136 *cipok satu-satu*

Iklan

16 pemikiran pada “Trade Off Chapter 9 [Final Chapter]

  1. halo admin, aku baru baca. keren ffnya, kirain cy bakal hidup trs yg mati sekyung karna judulnya trade off:v aku nangis bhak. lanjutkan thorrrr!!!!(y)

    Suka

  2. bener2 baru baca sekarang, emg telat bgt dan maaf thor kalo baru komen di chapter terakhir. Sumpah nangis, sedih bgt ff nya huhuhu tp emg dr awal aku udh duga kalo pasti chanyeol bakal dibuat meninggal sm authornya. Gila kalo jd sekyung mungkin seumur hidup gaakan bisa cinta sm cowo lain selain chanyeol

    Suka

  3. Thor, aku nangis masaaaaaa 😭
    Aku udah salah tebakan juga nih. Sumpah ini ff keren karena bikin tebakan aku salah. Hahahaha… aku ngiranya sekyung bakal jadinya sama kris. Tapi sehun malah yg dipercaya sama chanyeol.
    Sumpah ini bikin aku harus dan terpaksa ngeluarin air mata karena gak bisa ditahan lagi thor 😂 Daebaakkkk.. lanjutkan untuk menulis ff yg lebih daebak lagi thor 😀

    Suka

  4. Sumpah thor .. aku nangis baca ff ini . apalagi aku sambil denger lagu jin – gone ..ini ffnya sad ending banget .. sumpah ini ff yg pertama bikin aku nangis . apalagi ini castnya si ceye

    Suka

  5. udah ketebak chanyeolnya bakal berakhir begitu. 😦 over all aku suka bgt sama pembawaan author yg udh bikin ffnya jd keren bgt. sukses bikin nangis -_- sedih.
    keep writting authornyaa. 😀

    Suka

  6. Dan akhirnya beneran sad ending, mewek2, ingus2an negebacanya thor .. Walopun aku benci knp ini jd sad ending karena aku pling ga suka sad ending tp gomawo ya thor untuk ff yg bagus ini, ini bneran bagus thor walopun bikin mewek .. Hiks

    Suka

  7. finally gue mewek -_- . aku baca ff ini ambil dengerin lagu nya kris -_- pas banget.
    bagus thor, untung gak ada yg di protect jadi gak begitu ribet kekeke ^^

    Suka

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s