Cheon Sa (1004)

CHEONSA1004

1004 (Cheon Sa)

Author : Diramadhani | Cast : Oh Sehun & Krystal Jung | Genre : Angst, Friendship, Romance| Rating : Teenager

©SeHun and Krystal is belong to their parents. The storyline is mine.

Oneshot 2548 words

_____________

Cheon Sa (1004)

Dalam angka korea, 1004 dibaca Cheon Sa. Dan jika di sambung, kedua kata tersebut akan menjadi satu kata yaitu, Cheonsa yang artinya malaikat.

—————–

1004 Cheon Sa – © 2014

—————–

Sejarah adalah salah satu mata pelajaran yang harus ku selesaikan pagi ini. Dalam pelajaran itu, dosen bertubuh gempal dengan kacamata bulat memberi tugas kepada kami dengan delapan soal Essay.

Aku mengayuh sepeda gunung milikku secepat mungkin, berpikir bahwa aku sedang dikejar oleh seekor leopard dewasa tepat dibelakangku untuk segera sampai di sekolah, aku ingin menemui seseorang sebelum memulai jam pertama bersama guru sejarah dan essaynya.

Aku melihat dia tengah duduk di kursi kayu yang telah melapuk termakan waktu,  dengan balutan blazzer berwarna merah maroon, dan rambut cokelatnya terikat kebelakang. Gadis itu sama seperti biasa, sendirian dalam keheningan.

“Hei Jung Krystal!” teriakku kuat, menggunakan kemampuan tertinggi pita suaraku dapat digetarkan. Aku mengambil tempat duduk di samping dia sembari berusaha meluruskan napas yang masih tersenggal.

Setiap hari dia selalu mengikat rambutnya. Dan setiap hari pula, aku menarik ikatan rambut itu dari kepalanya, seolah sudah menjadi lebih dari kebiasaan.

Lalu, dengan sengaja, aku menarik kaleng kopi yang berada ditangannya, dan meneguk isi kaleng itu hingga tak menyisihkan satu tetespun di dalamnya.

“Aku sudah meneguk kopimu tak bersisa. Normalnya, kau marah.”

Krystal menatapku sebentar, aku sempat berpikir ia akan berteriak keras-keras sambil menghentakkan kakinya padaku. Namun pada kenyataannya, kejadian itu hanya tergambar di dalam kepalaku, Krystal tersenyum tipis dan membuang kaleng kosong itu ke tong sampah.

Aku hampir kehabisan akalku. Aku hampir menyerah. Menyerah akan ekspetasi bersarku pada Krystal. Tapi Belum, aku belum boleh menyerah untuk kali ini.

Aku menarik tas berwarna cokelat yang berada di punggungnya, kemudian mengeluarkan seluruh isinya di tanah dan mengambil selembar kertas kemudian menyobeknya menjadi enam bagian,

Bahkan seketerlaluan itupun, Krystal tidak berteriak kepadaku, gadis itu mengumpulkan sobekan kertas dan barang-barangnya untuk masuk ke dalam tas miliknya. Lalu, dia pergi ke dalam gedung sekolah dalam diam.

.

Krystal adalah robot. Hidup menurut dengan apa yang orang katakan padanya.

Krystal memberikan senyuman tipis dan mengikuti perintah guru sejarah ketika dikatakan dia harus berdiri di luar kelas karena kertas essay yang tadi pagi kurobek menjadi enam bagian.

Itu salahku, sepenuhnya salahku. Aku hanya ingin melihat Krystal marah padaku.

Aku pun memilih ikut jejak Krystal dan berdiri diluar dengan tidak mengeluarkan lembaran kertas essay itu dari dalam tas  punggungku. Krystal berdiri dengan tenang, kedua mata dengan kilatan indah itu melawan arah mentari, menampilkan cahaya dalam kekosongan. Selalu seperti itu, tidak berubah. Bahkan sejak aku mengenalnya dua bulan lalu, dia selalu seperti ini.

“Krys, maaf sudah membuatmu dihukum…”

Namun Krystal tidak menjawab, seulas senyuman tipis ia hadiahkan padaku. Senyuman yang bahkan selalu indah. Ketika dewi aprodhite memberikan kecantikannya, membuatnya mengalahkan ratu cleopatra, membuat senyumannya nampak selalu sempurna. Tapi melihatnya terus tersenyum seperti itu, percayalah, bahwa itu menyakitkan.

.

Banyak laki-laki yang menjanjikan pada pendamping hidupnya untuk membuat mereka tetap tersenyum, banyak ibu yang mengharapkan puteranya tetap tersenyum. Mereka hanyalah orang-orang yang tidak memahami situasiku.

Aku berjalan pelan sembari menuntun sepedaku, mengikuti jejak Krystal pulang ke rumahnya.

Waktu senja mengantarkan cahaya oranyean menyinari siluet dirinya. Gadis itu berjalan pelan, menyusuri terowongan pohon-pohon yang perlahan menerbangkan daunnya yang bewarna oranye. Wajahnya yang tak pernah lelah menampilkan senyuman, memberikan yang terbaik untuk burung-burung kecil yang terbang diantara pepohonan-pepohonan itu.

Aku tak tau apa-apa tentangnya, semua orang bilang, dia memang adalah seorang gadis pendiam dengan julukan robot. Dia selalu tersenyum dan seolah lupa cara untuk mengekspresikan emosi dirinya. Mereka bilang, itu terjadi karena masa lalunya yang konon menyakitkan.

Gadis itu masuk ke dalam ruko kecilnya, sedangkan aku tetap berdiri di luar, melawan dinginnya malam musim gugur bersama angin yang terus menghempas tubuhku. Aku mengeluarkan buku dari dalam tasku, mengerjakan tugas mata pelajaran kalkulus sembari sesekali menatap ke arah jendela ruko Krystal.

Penerangan redup berasal dari lampu-lampu jalanan membantuku untuk mengerjakan tiap angka yang terangkai di dalam buku kalkulus itu. Dan ketika lampu pada lantai dua ruko yang di tinggali Krystal telah mati, barulah aku menutup buku kalkulusku dan memasukkannya ke dalam tas, kemudian mengayuh sepeda gunungku untuk kembali ke rumah.

Aku hanya ingin memastikan bahwa Krystal, gadis kesepian itu baik-baik saja di dalam rumahnya. Aku melakukannya hampir setiap hari.

Gadis kesepian yang selalu tersenyum, membuatku memberikan segala cara untuk membuatnya kembali mengeluarkan emosinya. Banyak sekali hal yang sudah aku lakukan untuknya.

Aku pernah mengambil dompet miliknya dan meletakkannya diatas pohon, namun Krystal tidak marah. Aku pernah membuang buku sosiolognya ke dalam sungai, namun dia hanya tersenyum dan membeli yang baru. Aku pernah menyiram seragamnya dengan  cokelat panas, tapi dia melepas blazzernya dan mencucinya sembari berkata dia tidak papa.

Aku masih terus berharap, suatu hari nanti usahaku akan berakhir dengan baik.

.

Pagi ini seperti biasa, aku membayangkan seekor leopard dibelakangku agar aku bisa mengayuh sepedaku lebih cepat. Hari itu, tanpa sengaja aku berpapasan dengan Krystal, gadis itu berjalan di sepanjang trotoar untuk berangkat ke sekolah, rambutnya hari ini tidak terikat. Mungkin dia sadar, aku akan melepasnya lagi seperti hari-hari lalu.

Aku menghentikan sepedaku tepat di sampingnya.

 “Krys…” Sapaku.

Krystal menoleh, kedua mata beriris hitam legamnya terarah pada sepasang milikku. Aku tersenyum, pagi itu untuk pertama kalinya Krystal datang dengan rambut tak terikat, dan entah mengapa, itu membuatku merasa secercah cahaya menyelimuti perasaanku. Aku memintanya untuk ikut denganku, dan dengan sedikit paksaan, dia naik di bagian belakang sepedaku.

“Hei, Krys. Kau itu tinggal dimana sebenarnya?” tanyaku, sebenarnya pertanyaan itu jelas sekali aku telah tau jawabannya, tapi aku hanya ingin mendengarkan suara halus Krystal ketika berbicara.

“Tidak jauh.”

“Kau tinggal dengan siapa?” Tanyaku lagi, berharap untuk mendapatkan jawaban lagi.

“Sendirian.”

Aku diam. Tidak ada suara selain bunyi decitan pedal yang kukayuh serta enggahan napasku, dan suara-suara deru kendaraan yang lewat. Kami hanya terdiam. Aku membiarkan diriku sendiri merasakan desiran darah yang membuatku terus ingin tersenyum, merasakan keberadaan Krystal yang duduk di belakangku, sembari memegang pinggangku.

Krystal langsung turun ketika kami berada di gerbang sekolah. Dia mengucapkan terimakasih dengan senyumannya yang paling lebar sebelum berjalan masuk ke dalam gedung. Aku memandang punggung gadis itu yang dirasa semakin lama semakin rapuh, tidak ada siapapun yang bisa menjadi sandarannya.

Satu pemikiran terlintas dalam benakku, aku melepas sepatu kiriku dan kemudian melemparnya ke punggung Krystal. Kemudian, gadis itu membalikkan tubuhnya dan menatap ke arahku, seperti biasa, aku mengharapkan respon apapun selain tersenyum darinya.

Namun aku gagal lagi, Krystal mengambil sneaker kiri ku dan berjalan mendekat ke arahku yang belum berpindah tempat, dia memberikan sneaker itu padaku, kemudian tersenyum lagi. Krystal tidak marah.

Kupejamkan kedua mataku, kutarik napas dalam-dalam, memenuhi seluruh kapasitas udara yang sanggup ditampung oleh paru-paruku. Menenangkan diriku yang hampir frustasi. Kemudian aku menyandarkan sepedaku sembarang tempat, berlari mengejar Krystal yang terlebih dahulu masuk ke dalam sekolah.

Aku menarik tangan kecilnya dan berlari ke halaman luas sekolah, tepat di dekat kursi kayu berwarna cokelat yang  sudah termakan usia, dimana biasanya Krystal duduk sebelum jam pelajaran sekolah di mulai. Aku yakin kedua mataku sudah penuh akan kilat-kilat kecil yang kuat.

“Krystal Jung…” ucapku pelan. Gadis itu menatap ke arahku, lagi-lagi membuat kedua iris kami berseturu dalam satu tatapan yang dalam. Untuk beberapa saat kami terdiam, terpaku pada tatapan masing-masing dalam hening yang menyerbak.

“Adakah yang SeHun ingin bicarakan?” tanyanya pelan.

“Ya. Ada.”

Gadis itu mengerjapkan kelopak matanya dua kali, menunggu ucapan lain datang dari bibirku.

“Krystal, Menangis lah, marah lah, kesal lah… kau boleh melakukannya.” Ucapku pelan, aku masih belum melepas genggaman tanganku pada miliknya. Dia tidak merespon, hanya diam seperti biasanya. Hampir setengah menit, seperti itu sebelum dia tersenyum padaku, lagi.

Aku menghempaskan napasku dalam.

“Apa SeHun sudah selesai bicara? Kita ada kelas sekarang…” ucapnya. Kemudian dia membalikkan tubuhnya meninggalkanku. Aku menatap punggung itu lama, aku hampir menyerah. Perasaan Krystal terbeku, dia sudah tidak tersentuh lagi, dia mungkin akan tetap tersenyum hingga dia meninggal. Satu sisi positifnya, mungkin nanti ia akan meninggal dengan wajah yang tersenyum.

“Hei Krystal Jung!” panggilku kuat-kuat. Langkahnya terhenti, namun badannya tidak berbalik.

“Apa kau seperti ini karena laki-laki berengsek yang menjadi tunangan kakakmu? Laki-laki berengsek yang kabur ketika acara pernikahan mereka berdua? Lalu membuat kakakmu mengakhiri hidupnya sendiri?” tanyaku pelan. Tapi kupastikan, krystal mendengarnya. Gadis itu diam, tidak memberikan respon sekalipun hanya dengan gerakan kecil.

“Atau… karena ibumu yang tidak kuat menahan malu dan terlalu terpukul atas kepergian kakakmu lalu berakhir di rumah sakit jiwa?” tanyaku lagi, namun dia masih tetap terdiam.

“Ah, mungkin karena ayahmu yang menjadi pemabuk dan pecandu narkoba kemudian menyiksamu? Lalu meninggal akibat efek samping adiksinya dan meninggalkanmu sendirian di dalam rumah sepi itu?” tanyaku lagi, aku bahkan melakukan segala hal termasuk mencari setiap inchi masa lalu Krystal.

Aku mendekati punggung rapuh itu, punggung yang melawan sinar terang matahari, punggung yang tidak pernah memiliki sandaran yang kokoh untuk mendampinginya, kesepian dan luka masa lalu yang memenjarakan dalam topeng ‘senyuman’ hidup selayaknya robot yang mengikuti semua perkataan orang.

Aku menyentuh bahunya dan membalikkan badannya, dan ketika itu, aku sangat terkejut.

Krystal menangis. Air mata keluar dari pelupuk matanya, sembari terus menunduk. Aku tau dia sedang sebaik mungkin menahan isakannya. Tangannya terkepal, dia benar-benar tampak lemah. Tapi aku lega, Krystal menunjukkan sisi lemah dirinya.

Aku menariknya masuk ke dalam pelukanku, memberikannya ketenangan. Aku tidak tau apakah aku cukup kokoh untuk menjadi sandarannya, tapi aku akan berusaha mengokohkan diriku sendiri. Aku mengusap rambut cokelatnya yang terurai, membiarkan dia menangis hingga perasaannya merasa lebih baik.

“Menangislah, Krys. Menangislah… itu wajar bagi seorang manusia.” Ucapku sembari terus mengusap rambutnya.

.

Tidak banyak yang berubah setelah kejadian itu. Namun setidaknya, Krystal sudah menunjukkan sedikit perubahannya. Gadis itu mulai bicara padaku menceritakan beberapa hal yang telah sekian tahun ia pendam untuk dirinya sendiri, meskipun itu juga masih belum bisa di sebut dengan ‘sering’. Namun aku menyukai perubahan ini.

Dia tidak menolak untuk berangkat bersamaku setiap pagi. Aku akan datang dan menjemput Krystal di depan rukonya dan kemudian kami akan berangkat bersama-sama.

Dia akan tersenyum padaku setiap harinya, seperti hari-hari lalu. Namun aku lebih suka senyumannya yang sekarang, senyuman itu tidak nampak kosong. Dia memberiku ruang untuk memahaminya lebih dalam.

Aku juga mengajaknya berjalan-jalan mengunjungi beberapa taman di musim gugur, mempertunjukkan padanya bahwa dunia yang telah diciptakan oleh tuhan ini luas, beragam serta penuh akan estetika.

Aku memboncengkannya dan membiarkan kedua tangannya melingkar di pinggangku menelusuri lorong yang dibuat oleh pepohonan yang berjajar, ia tersenyum dengan cerah hari itu sesekali merentangkan kedua tangannya merasakan angin yang berhempus pada celah-celah jemari lentiknya.

Dia terlihat lebih hidup. Bahkan sesekali dia mulai mengeluh padaku jika keberatan atas tugas-tugas yang diberikan oleh guru Bahasa Inggris yang membuat kedua tangannya pegal untuk menulis lima puluh buah soal essay.

Dia bahkan memprotes ketika datang ke rumahku, kamarku terlihat acak-acakan dengan kondisi yang cukup parah : buku-buku tergeletak tak tertata di lantai, baju-baju yang teracak diatas tempat tidur, beberapa cup mie instan berserakan di dekat sofa, kabel-kabel charger laptop bergelantungan dimana-mana. Kemudian, gadis itu membereskannya satu persatu sembari terus mengomel. Sedangkan aku hanya duduk sembari memandangi dirinya yang membersihkan kamarku sembari mengomel.

Aku hanya beralasan, sudah wajar, seperti itulah kamar laki-laki.

Aku juga merasa lebih hidup melihatnya seperti ini. Aku bahagia dengan keadaannya sekarang. Dia adalah gadis yang baik.

.

Kala itu, mungkin merupakan akhir dari kisah ini.

Semua orang mengharapkan akhir yang bahagia. Begitu pula aku.

Sore di musim dingin. Salju menyelimuti tanah, mendinginkan kota Seoul dan memaksa orang-orang mengenakan baju yang lebih tebal. Aku memakai wol yang di rajutkan ibu khusus untukku. Ada kalanya seorang laki-laki merasa perlu untuk menyatakan isi hatinya pada gadis yang ia suka. Mungkin itu kesempatanku.

Aku tidak pernah menyangkal alasan yang di katakan oleh orang-orang tentang aku yang tidak pernah menyerah pada Krystal, mereka bilang aku menyukai Krystal. Dan itu memang sepenuhnya benar. Label suka mungkin sudah bukan lagi cocok untuk saat itu, lebih menunju ke cinta. Haha,

Aku mengayuh sepedaku melalui jalanan perlahan, berniat untuk menuju ruko milik Krystal dengan membawa setangkai bunga mawar merah yang kusembunyikan di balik jaket wol yang aku kenakan. Ku kayuh sepedaku dengan pelan namun pasti.

Ketika sampai di depan rumah Krystal, aku melihat gadis itu sedang melihat keluar melalui jendela, jadi aku melambaikan tanganku, tanpa menyadari jika ada es yang menumpuk tepat di depan sepedaku, dan aku tergelincir.

Kupejamkan mataku, aku tidak tau tapi satu rasa yang kurasakan. Aku sangat pusing. Kepalaku membentur benda yang runcing, entah apa itu, aku juga tidak tau. Aku merasakan cairan mengalir di dahiku, dan ketika aku memegangnya dengan tangan kananku dan melihatnya, aku tau itu darah. Aku tersenyum tipis, ini mungkin benar-benar menjadi akhir.

Aku bisa mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahku, kemudian kudengar teriakan keras seorang gadis, dan aku meyakini itu suara Krystal.

“Oh SeHun! Kau bisa mendengarkanku?” tanyanya. Pandanganku memburam, tapi aku masih sempat melihat wajahnya yang terlihat khawatir, dan itu membuatku menarik kedua ujung bibirku dan tersenyum. Aku masih bisa mendengarkan suaranya yang terdengar kacau terus memanggil namaku.

Gadis itu menggunakan perban yang ia bawa dan terus berusaha menekan lukaku.

“SeHun, kau akan baik-baik saja, tenanglah…” ucapnya, napasnya semakin tersenggal. Namun aku menggeleng lemah, dengan segala kekuatan yang aku miliki, aku berusaha menggerakan tanganku untuk menghentikan gerakannya.

“Krys, berhentilah. Aku tidak akan baik-baik saja. Darahnya tidak akan berhenti mengalir.” Ucapku. Namun Krystal menggeleng.

“Tidak SeHun. Aku sedang berusaha. Tunggulah, kau akan baik-baik saja.” Ucapnya yakin, gadis itu bersikeras untuk menghalangi darah yang terus keluar dari kepalaku. Tapi aku tau, dia tidak akan pernah berhasil.

“Tidak krys, itu tidak akan pernah berhenti. Aku… aku pengidap hemofilia…” ucapku lemah dalam keadaan yang benar-benar pusing.

Kedua tangan Krystal yang tadi berusaha menekan luka ku melemas, seolah dia tidak memiliki harapan lagi. Kedua matanya menyiratkan ketakutan, kedua tangannya gemetar, dia terus menggeleng kuat- kuat.

Aku tersenyum padanya, berusaha tetap menarik kedua ujung bibirku dalam keadaan yang sangat lemas dan pusing.

Tangan Krystal gemetar sembari berusaha memencet tombol ponselnya, aku yakin dia menghubungi rumah sakit.

“Krys, terimakasih ya… hiduplah dengan baik… jangan seperti robot –”

“SeHun diamlah aku sedang menelpon! Kau akan baik-baik saja!—”

“Sekali-kali kunjungi ibumu di rumah sakit, beliau kesepian…”

“Dia jatuh dari sepeda. Tidak itu lebih buruk dari yang kalian bayangkan! Oh SeHun, tolong diamlah…”

“—tetaplah tersenyum, namun jangan terlalu sering. Menangislah sesekali, marahlah, kecewalah, sedihlah—”

“Laki-laki ini mengidap hemofilia! Bisakah kalian datang secepatnya?” Krystal menatapku dengan ekspresi khawatirnya, dia benar-benar terlihat hidup ketika khawatir, gadis itu menggenggam tanganku kuat-kuat. “SeHun! Tetap buka mata! Jangan tidur!”

“Krys, aku mencintaimu…” dan sejurus dengan itu aku sudah mulai tidak bisa merasakan kesadaranku lagi, suara Krystal berteriak masih dapat kudengar, suara isakannya juga masih dapat tertangkap olehku. Tubuhku semakin dingin, salju mungkin telah membasahi jaket wol ibuku. Dan suara yang terakhir kudengar dalah suara sirine ambulance yang tadi ditelpon oleh Krystal.

Selanjutnya, aku benar-benar sudah tidak mendengar, melihat, merasakan apapun lagi. Jantungku tidak lagi berdetak dan aku tak bernapas lagi. Namun setidaknya aku diberi kesempatan untuk mengatakannya pada Krystal.

___________________________________________________________

Epilog

Oh SeHun adalah malaikat, malaikat yang terang bersinar seperti matahari yang memberikan kehidupan bumi. SeHun bagaikan bintang yang bertabur diatas langit yang gelap dan memberikan cahaya-cahaya kerlipan kecil yang indah.

Oh SeHun mengajariku bagaimana cara hidup yang lebih baik, mengajariku bagaimana itu marah, sedih, senang, kecewa, takut, khawatir… dan memberitahuku bagaimana kehangatan kasih serta membuatku merasakan perasaan yang disebut dengan –cinta.

Oh SeHun, laki-laki yang datang dengan sepeda gunungnya dan tersenyum padaku, membawa bunga mawar yang terangkai kata ‘I Love You’ di dalamnya.

Oh SeHun, laki-laki yang membuatku berteriak dan memanggil ambulan dan merasakan khawatir, takut, panik, bingung dalam satu waktu.

Oh SeHun, laki-laki yang selalu terbayang di dalam kepalaku disetiap detiknya, disetiap menitnya disetiap jam nya. Memberikanku arti yang lain terhadap kehidupan.

Oh SeHun, laki-laki yang memberitauku bagaimana hidup dengan benar,

Oh SeHun, Cheonsa yang tersesat di hadapanku.

_______________________________

Iklan

11 pemikiran pada “Cheon Sa (1004)

  1. Haloo saya readers baru di siniii
    Huweeee sad ending. Sehun T___T
    Pertama kali baca aku kira yg di sebut cheonsa itu si krystal karna senyum terus ga pernah marah makin kebelakang makin tau kalo krys senyum cuma buat nutupin rasa sakitnya
    Oh sehun hemofilia T_______T
    Sukses buat mewek u.u

    Suka

  2. HunStal ><
    Sad ending~ Enggak juga sih, ini cuma ending yang mengharukan /?
    Yang pasti air mata aku jatuh tapi aku juga senyum pas baca bagian epilognya.

    Ini singkat tapi feelnya udah dapet banget saolohhh /envy jadinya/

    Oke, Kak. Another SeStal? Kalo bisa yang happy ending sih? ._.

    Suka

  3. finally, saya baca juga cerita ini 🙂
    Kan, memang cerita mu selalu menarik de ^^, meskipun harus rela akhrnya bersedih2 ria karena tragisnya nasib Sehun.
    Lagi, Hemofilia itu selalu saja jadi silent killer 😦
    Membayangkan betapa sedihnya perasaan Sehun, ingin melindungi org yang dicintainya tapi Hemofilia merenggut kebahagiaan itu, sepersekian detik 😥
    So sad story …

    Suka

  4. Sumpah ini pas epilognya air mata jatuh gitu aja.

    Dan kerennya ini luar binasa /eh?
    Terpesona banget sama karakter yang dituliskan kakak. Bahasanya simple gak muluk2 dan padat. Gak bosenin dan gam binggungin.

    Eh iya, hallo kak. Aku reader yang biasanya mbaca gelap-gelapan/? dan tiba2 nyasar ke blog ini dan nyasar lagi ke fict ini. Jangan heran kalo temanya nyasar2. Soalnya aku gak punya peta internet/? :3
    Salam kenal ya.
    Annisa

    Suka

  5. Sebelum adegan Sehun meninggal pun aku udah nangis terlebih dulu T^T
    Astaga, udah gitu aku bacanya sambil ngedengerin lagunya Taeyeon-Love, that one word. Pas banget masa :’3
    Keren! Kukira si Krystal bisu. Ternyata dia mendem masa lalunya. Oh Sehun, kenapa kamu harus mengidap hemofilia? T^T
    Aku suka sama bahasa kamu. Bisa nyeritain ringkas. Sedangkan aku justru bisanya nyeritain adegan bertele-tele, rinci banget sampe panjang ga karuan T^T
    Awesome fanfic! Terus berkarya, fighting^^!

    Suka

    • Biasa aja loh, itu karena aku berusaaha meringkas, biar nggak terlalu panjang epepnya, krn biasanya aku juga perincian adegan kek kamu, sampe yang nggak penting tulis semua -___- btw makasih ya atas pujiannya 🙂

      Wah-wah, kamu pasti mengiranya bisu, tapi krys mendem masa lalu paitnya, dan ktika ada yang berusaha ngerubah, eh yang ngerubah malah pergi 😥 emang sih, sedih, thanks to my beloved friends yang maksa aku bikin FF ini :v

      makasih ya komentarnya

      Suka

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s