Friendzone

bfnfn_accaazrs1

Friendzone-by: eishiefkaa

|| Casts: Park Chanyeol, OC (Kim Hye Ju) || Genre: Friendship, Romance, Fluff || Rating: T || Length: Drabble ||

Warning: typo, bahasa kurang baku, dan genre friendship lagi (OuO )~

I’m not the owner of the casts. Enjoy:)

 

.
.

.

FRIENDZONE

Namanya Chanyeol, seorang remaja-manja-labil korea yang umurnya baru memasuki 17 tahun. Ia bukan namja polos, terbukti dari kesadaran akan dirinya sendiri yang tampan. Jadi tak aneh jika selfi jadi hobi-nya tak kenal tempat. Mungkin kebanyakan orang sering berkata, ‘Woah, ganteng sekali! Siapa namja ini?’-begitu melihat foto profile-nya di socmed-socmed tertentu. Yang begini sudah biasa terdengar di telinganya. Dan ia memang mudah tersanjung.

Namun, ada suatu hari, saat fotonya dikomentari berbeda oleh temannya.

“Friendzone, ya, Yeol?”

Chanyeol tersedak roti sarapannya, menoleh pelan ke arah Byun Baekhyun, malaikat sebangkunya sejak sekolah dasar. Sedari tadi, namja itu memang sedang melihat-lihat facebook Chanyeol. Dan menurut Chanyeol, ia harusnya bertanya layaknya ia biasa bertanya: ‘kau memotret di mana?’ atau ‘kau bersama siapa di sini?’, -seperti itu. Karenanya, mendengar kalimat yang tak biasa tadi, Chanyeol hanya berkedip lima kali, memajukan bibirnya lima senti, menghentikan kegiatannya makan roti. “Mwo?”

Sebutan Baekhyun memang terdengar asing  di telinga Chanyeol. Ia, jujur saja, tahu yang dikatakannya mengartikan zona pertemanan. Itupun menurut kamus korea-inggris, jika tiap katanya diterjemahkan. Friend-teman, zone-zona. Semua orang juga tahu hal mendasar begitu.

Lalu?

“Nggak… habis di foto ini kesannya seperti itu.” ujar Baekhyun lagi, menyodorkan apa yang ia lihat kepada Chanyeol. Chanyeol awalnya biasa saja menganalisis foto yang terpampang di handphone namja tersebut. Hanya sekedar selfie biasa, antara dirinya dengan seorang yeoja-teman akrab masa SMP-ketika kemarin tanpa sengaja bertemu di toko buku. Namanya Kim Hye Ju.

“Ada apa dengan foto ini?” Chanyeol masih tak mengerti. “Friendzone itu apaan, sih?”-sekaligus mengulang pertanyaan pertama. Baekhyun mendengus, mengetuk-ngetuk layar hp-nya sendiri.

“Lihat, dong, matamu di sini, Yeol.”

Chanyeol terpaksa fokus lagi. Kali ini ia langsung paham maksud temannya, bahwa penglihatannya saat itu tertuju ke arah Hye Ju, bukan lensa kamera. Langsung saja ia dorong pelan pundak Baekhyun. “Ya! Memang kenapa kalau aku tidak sengaja melihat ke-wajahnya, eoh? Jangan bilang kau berpikir aku suka dia…”-pipi Chanyeol otomatis memerah.

“Kan, kubilang kesannya seperti itu.”-cakap Baekhyun tenang, “…seperti friendzone.”

“Frenzon-frenzon, artinya apa, sih??” Yang dibuat bingung makin penasaran, sedang namja sebaya-dewasa-di depannya hanya terkekeh merdu. Chanyeol berdecak, “Ya, Byun Baekhyun! Lagipula dia sudah punya pacar tahu! Jangan beranggapan aku suka dia!”

“Tuh, kan, keadaan semakin mendukung.”

“Mwo?”

Baekhyun mengangkat alisnya, “Tanya saja pengertiannya pada yeoja itu.”

“Nugu (siapa)? Hye Ju?”

“Yah.. siapapun namanya. Tanya saja dia.”

“Aaaiisshh! Kau menggantung!” Chanyeol mengusap-usap rambut Baekhyun kesal.

.

.

.

Ting Tong.

Pada akhirnya, Chanyeol mendatangi Hye Ju. Berhubung rumah mereka rupanya berdekatan, tidak sulit jika ia mau menghampiri yeoja tersebut. Namun ditekankan lagi, Chanyeol adalah seorang remaja-manja-labil korea-cina. Ia MANJA. Sangat. Dan yang dimaksud ‘menghampiri’ di sini adalah: Chanyeol menghampiri Hye ju saat yeoja itu sudah menekan bel rumah miliknya. Intinya saat Hye ju sudah di depan pintu rumah Chanyeol, karena ia disuruh datang oleh si pemilik rumah. Lebih diperjelas lagi: Bukan Chanyeol yang datang ke rumah Hye Ju, tetapi sebaliknya. Dan ia memanggilnya hanya untuk bertanya-

“Tahu tidak, friend zone itu apa?”

Kasihan Hye Ju.

Yeoja itu diam di tempatnya. Yang bertanya juga diam, menunggu jawaban. Suasana sesaat hening sebentar. Hingga Hye Ju membuka mulutnya lebar, “…Hah…?”

“Friend zone itu- Aaw!” Chanyeol tiba-tiba mendapat tendangan di kakinya, “Yaaa! Appo!”

Tak ada rasa tega melihat namja itu mengaduh, Hye Ju malah berkacak pinggang, “Kau memanggilku untuk bertanya hal bodoh seperti itu??”

“Apanya yang bodoh? Pertanyaan itu dari Baekhyun, tahu!”-ketus Chanyeol ribut. Sakit di lututnya tak membaik.

“Siapa lagi itu Baekhyun?” Hye Ju semakin mengerutkan dahinya tak mengerti. Sedetik kemudian, ia sudah mengambil posisi bersandar di sofa depan televisi Chanyeol, mengabaikan penjelasan lebih lanjut ala namja itu tentang seseorang bernama Baekhyun. “Aku letih sekali… Hei, mana orangtua-mu?”

Chanyeol berenti mengoceh. Sembari langsung menyajikan cemilan miliknya, ia mendongakkan kepala ke luar pintu, “Mereka sedang pergi.”

Hye Ju menatap gerak-gerik namja tersebut yang kali ini beranjak ke dapur mengambilkan dua gelas air mineral. Ia tahu Chanyeol akan selalu membawakan apapun yang bisa dinikmati oleh tamunya, jika eomma atau appanya tak sedang di rumah. Kategori anak baik? Tidak. Bisa dibilang hanya sifat ini yang bisa dibanggakan darinya (pikir Hye Ju).

“Yang benar?”-Hye Ju merespon antusias mengenai orangtua Chanyeol yang sedang pergi. “Kalau begitu aku mau pinjam DVD ’85’ mu, dong, Yeol. Waktu itu, kan, belum nonton sampai tamat.” sambungnya lagi. Chanyeol memutar bola matanya datar menatapnya,

“Oh, boleh saja.” Ia menjawab tenang. Tetapi kemudian ia mulai mendekatkan tubuhnya ke sofa, lalu melakukan hal yang sama dengan wajahnya ke arah Hye Ju, membuat yeoja itu membulatkan fokusnya terkejut melihat Chanyeol yang terus memperpendek jarak. Dilihatnya tangan Chanyeol menekan sofa, menyeimbangi tubuhnya sendiri. Dan kedua tatapan mereka sudah melekat beberapa senti.

“M-mwoya..?” Akhirnya Hye Ju berkata, sedikit terkekeh gugup untuk mencairkan suasana. Telapaknya coba mendorong bahu Chanyeol, yang sialnya, justru dengan mudah ditangkap oleh tangan namja itu. “Y-YA!”

“Kau tahu? aku paling tidak suka dengan kata: G-R-A-T-I-S,” Chanyeol menjawab, sama sekali tak meredamkan kegelisahan Hye Ju. Yeoja yang ditahannya mulai menahan napas.

“Yeol, jangan bercan-“

“Nonton nggak gratis, tahu.”

Akhirnya yeoja itu memejamkan matanya erat tatkala wajah Chanyeol kembali mendekat.

“Jawab pertanyaanku terlebih dahulu, Hye Ju.”

.

.

.

.

.

“Friendzone itu… apa?”

.

Persis di detik yang sama, Hye Ju membuka matanya kasar, “MWO?” kemudian mengerutkan alisnya cepat, lalu sukses meninju keras Chanyeol, ‘BUK!‘ mementalkan namja itu ke lantai.

“Ya!!! Aishhhhh” Kembali Chanyeol mengaduh, “Aku salah apa, sih?!”

“Dasar bodoh! Bodoh! Dari tadi friendzone-friendzone terus!” Cerca Hye Ju memukul kepala Chanyeol sebal (ia belum puas).

“Aku, kan, bertanya! Makanya kau ada di sini untuk menjawab pertanyaanku!” Chanyeol bersikeras. Yeoja di depannya semakin kesal, dan Chanyeol menjadi panik saat Hye Ju mengambil tasnya dan melangkah pergi.

“Yasudah! Aku pulang saja!” serunya tak sabar. Lantai ruang tamu itu jadi berdentum akibat tapak keras Hye Ju, menuju ke arah pintu luar.

“Hye Ju! Hye Ju tunggu!” Chanyeol tergopoh-gopoh mengejar. Satu tarikan lengan yang ia berikan, ditarik kembali oleh si empunya. Namun itu cukup membuat Hye Ju berhenti dan menoleh,

“Kau ini keras kepala!”

Chanyeol menunduk, sedikit menyesal. Sedikit. “Hye Ju, mianhae. Jeongmal mian… habisnya aku benar-benar tak mengerti..” dan ia tahu, segalak-galaknya Hye Ju, tak akan tahan dengan mimik aegyo miliknya. Dulu juga begitu, ia berikan paras termanisnya agar Hye Ju mau membantunya piket di kelas. Ketika itu, piket bukanlah kewajiban, melainkan hukuman karena tidak mengejakan pr. Dan pr bukanlah sesuatu yang penting bagi Chanyeol, sebab segala sesuatunya selalu ia prinsipkan, ‘yang penting cerdas‘.

Yah, ia cukup cerdas untuk merubah pikiran orang lain.

Lihat saja, Hye Ju kini mendengus pelan. Yeoja baik hati itu kemudian memegang wajah Chanyeol dengan kedua tangannya, “Ne, gwenchana. Angkat kepalamu, cengeng.”

Chanyeol (tentu saja) tersenyum lebar mendapat kesempatan. Tanpa menunggu waktu ia bertanya lagi, “Jadi… kau mau memberitahuku apa maksud istilah tadi?”

Hye Ju menarik napas, “Hh, baiklah, dengarkan baik-baik.”-Chanyeol mengangguk.

“Friend zone itu,” -katanya memulai, “saat dimana kau menyukai teman dekat-mu, tetapi dia hanya menganggapmu sebagai teman dekat, tidak lebih.”

Chanyeol mengangguk-angguk kembali. Akhirnya ia menjelaskan-pikirnya dalam hati.

“Atau,”-Yeoja itu melanjutkan, “kau sering bermain, jalan, atau pergi kemanapun bersamanya, tetapi bukan sebagai pacar.”

Chanyeol masih mendengarkan serius. Sekali-kali ia berikan tanggapan “Oh~” panjangnya karena mengerti.

“Bisa juga seperti ini, ketika teman-mu itu sudah memiliki pacar, dan kamu masih dekat dengan dia sebagai sahabat, padahal kamu juga sayang dia. Itulah arti friendzone. Paham Chanyeol?” Hye Ju mengakhiri bicaranya.

“Ne, aku paham sekarang! Gomawo Hye Juu,” Hye Ju tersenyum mendapat pelukan kecil dari namja itu. Setelah melepasnya, ia kembali membuka pintu depan.

“Kalau begitu, sejkarang aku pulang saja, ya. Sudah sore. Jangan lupa kunci rumahmu, Chanyeol pabo.” pamitnya.

Chanyeol tertawa, “Okee. Hati-hati, Hye Ju!” pesannya seraya melambaikan tangan. Tetapi kemudian ia tersadar akan sesuatu dan segera menarik lengan Hye Ju lagi.

“Eh, tunggu Hye Ju!”

Hye Ju menoleh bingung. Apalagi kali ini?

“Berarti aku juga friendzone, dong?” ujarnya polos.

Hye Ju mengerutkan dahinya. “Memangnya… kau kenapa?”

“Aku, kan, suka sama kamu Hye Ju.”

“HAH?”

.

.

“…oops…”-Namja itu keceplosan mengutarakan perasaannya.

Congratulation, Yeol

 

END~

_____________________________________________________________________

annyeong 🙂 makasih utuk kalian yang membaca fanficku. Ff friendzone ini pernah kubuat di blogku pakai versi Luyoon, jadi mungkin ada yang udah pernah baca. Itu aja note-nya. Maaf keseringan pakai friendship’s genre (abisnya suka banget bikin begini haha) Wassalam~

Iklan

7 pemikiran pada “Friendzone

  1. baru buka dan langsunh tertarik buat baca ini..

    ffnya bagus ^^
    antara lugu ngegemesin sama nggak tau diri jadi orang sifat chanyeol nya..
    ngalir dengan indahlah hehe

    keep writing yaa

    Suka

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s