[ESO #1] To Love or To Be Loved

yennykristina

  1. Judul : To Love or To be Loved
  2. Cast : Kai, Lee Hana (OC), Jieun (OC)
  3. Genre : sad
  4. Sinopsis : Ketika Hana memiliki dua pilihan, mencintai atau dicintai? Ia memilih untuk mencintai. Namun saat musim dinginnya kali ini datang. Ia harus menjalani kehidupan yang berbeda, hidup sebagai bayangan kelabu yang mencintai Kai dalam kebisuan dari jendela beku kamarnya
  5. Panjang : 1.622 words
  6. Isi cerita :

| Title: To Love or To be Loved |

| Length: Oneshoot | Author: yenykristina | Genre: Sad | Main Cast: Lee Hana (You) & Kai|

| Support Cast: Jieun |

.

.

.

Ketika aku dihadapkan pada dua pilihan.

Mencintai atau dicintai?

.

.

Aku memutuskan untuk mencintai.

.

.

.

.

Lapisan es mulai terbentuk di sepanjang jalan beraspal ketika salju turun, butiran halusnya melayang ringan melewati jendelaku yang hitam dan persegi seperti kelopak bunga. Musim dingin kali ini begitu buruk, tidak seperti musim dinginku yang lainnya. Ketika aku menginjakkan kakiku pada salju tanpa alas kaki, aku bahkan tidak merasakan apa apa.

Dari kejauhan di balik dinding kamarku, bayangan itu datang lagi. Untuk sesaat aku mengira itu hanya hayalan semata yang menggangguku akhir-akhir ini. Namun saat bayangan itu semakin mendekat, aku bisa melihatnya dengan jelas. Mengigil kedinginan dengan mantel coklat dan sarung tangan, berjalan tanpa suara melewati jalanan di depan rumahku yang hangat.

Pertemuan pertamaku dengannya adalah pada awal tahun ajaran pertama dimulai, lelaki itu menghampiriku yang tengah memunguti beberapa buku di lantai. Kai mengabaikan segalanya, mengabaikan beberapa pasang mata yang tengah menatap kami dengan pandangan aneh. Begitu aneh hingga setelah Kai pergi dengan senyuman ramahnya, segerombolan gadis menarik kerah kemejaku ke dalam kelas yang sepi.

Aku benci pada diriku yang begitu lemah. Ketika salah satu dari mereka menarik rambutku dan menampar pipiku, alih alih untuk membalasnya ataupun memberikan perlawanan, aku hanya diam memandangi mereka dengan menyedihkan. Aku berharap semua ini segera berhakhir. Namun saat mereka mulai meninggalkanku yang terjatuh di lantai kelas, aku tahu ini adalah awal dari segalanya.

“Jauhi Kai atau kau akan mati”

Meeting you was fate, becoming your friend was a choice, but falling in love with you I had no control over.

Aku menyukai Kai. Dan itu terjadi beberapa bulan setelah pertemanan kami. Aku belum memeberitahunya secara gamblang, karena aku takut apa yang kuharapkan tidak terwujud.

Aku tidak peduli pada betapa bodohnya aku saat ini. Rasa nyaman yang semula aku rasakan sebagai sahabat kini terasa berbeda. Aku mulai memikirkan Kai saat malam hari sebelum tidur, tersenyum lebar saat mendapati pesan singkat dari Kai meskipun hanya berisi jadwal mata kuliah, dan hal-hal sepele lainnya yang mampu membuat hatiku berubunga-bunga.

Aku berdiri diam untuk waktu yang lama, menunggu Kai untuk menyelesaikan mata kuliahnya di dalam kelas. Saat yang lainnya berbondong-bondong menuju ke kantin hanya untuk secangkir coklat panas, aku tak ada niatan sama sekali untuk menyusul mereka. Ada semacam hawa mengigit di balik hembusa udara dingin yang menjanjikan salju akan turun lagi malam ini meskipun kota sudah diselimuti oleh salju dimana-mana.

Kai berdiri di ambang pintu dan melambaikan salah satu tangannya ke arahku. Aku melangkah dengan hati-hati menembus orang-orang yang berlari keluar kelas.

“Kai” bisikku.

“Kau menungguku lagi?”

“Tidak lama, hanya beberapa menit”

“Kau bisa menungguku di perpustakaan atau membeli secangkir coklat panas kesukanmu, bukan malah berteman dengan salju di luar sana” Kai mendesis melihat keadaan tubuhku yang sedikit menggigil.

Setelah memutari beberapa gedung hanya untuk sampai di satu-satunya kantin yang buka pada musim dingin ini, kami memilih duduk pada sudut ruangan dengan jendela kecil disana. Aku melihat Jieun dan teman-temannya menuju kantin yang sama denganku.

Namun belum sempat aku menyembunyikan wajahku , Jieun telah berdiri tak jauh dari kami dengan tatapan seolah ingin membunuhku saat itu juga. Mata Jieun terus terpaku padaku sepanjang waktu, mengisyaratkanku untuk segera menjauh dari Kai. Aku menghembuskan napas panjang, mencoba untuk tidak memperdulikan Jieun yang ku yakin setelah ini ia akan menghabisiku mati-matian.

“Aku… sebenarnya ada sesuatu yang ingin ku katakan. Tapi aku tak yakin apa kau memiliki pemikiran yang sama”

“Katakan saja, aku akan mendengarkanmu bahkan jika kau terus mengoceh hingga sore”

“Sebenarnya apa hubungan kita? Maksudku… yah..kurasa ini sudah melewati batas sebagai teman”

“Apa lagi? Kita ini sahabat”

“hanya itu?” tanyaku memastikan.

“Tentu saja, kau adalah sahabatku yang paling baik sedunia” Kami tertawa kemudian kai merangkul pundakku seperti yang sering ia lakukan pada temannya yang lain.

Ya

Hanya sahabat

Bukankah itu sangat menyakitkan? Meskipun aku tahu Kai bukanlah lelaki yang peka akan keadaan di sekelilingnya, namun aku tetap berharap suatu hari nanti kai akan tahu apa yang kurasakan. Bahwa aku mencintai Kai dan mengabaikan segala kemungkinan yang terjadi termasuk ancaman Jieun yang terus terngiang di kepalaku.

Aku memejamkan mata. Sesaat aku berharap dengan sepenuh hati bahwa Kai akan segera mengetahui perasaanku padanya. Kai berbeda dengan teman lelakiku di kampus. Dia rapih seperti kupu-kupu pada musim semi, indah seperti gemercik air pada air terjun, dan hal lainnya yang tak bisa ku sebutkan satu per satu.

“Sometimes you think you’ve gotten over a person, but when you see him smile you suddenly realize you’re just pretending you’re over him to ease the pain of knowing that he will never be yours.”

Beberapa tahun telah berlalu dan perasaanku kepada Kai semakin menjadi. Tentu saja aku masih merahasiakan ini. Hanya menunggu waktu yang tepat untuk memberitahu kai, karena aku tahu Kai tidak akan pernah menyatakan cinta kepadaku, karena di mata kai aku adalah sahabatnya dan bukan seseorang untuk dicintai.

Hari ini, dimana musim dingin akan segera tiba. Aku mengungkapkan perasaanku padanya untuk pertama kali.

“Kai… aku mencintaimu” aku mengatakannya dengan takut-takut, Kai yang semula terlihat begitu antusias kini tiba-tiba mengerutkan dahinya seolah-olah aku mengatakan sesuatu yang begitu mengerikan. Ia menggelengkan kepalanya dan mundur beberapa langkah, kemudian detik setelahnya Kai berbalik menjauhiku.

Aku memandangi punggung Kai yang perlahan menjauh. Bahkan ketika butiran salju semakin menusuk seluruh permukaan kulit, aku tetap berdiri di tempat ini. Aku hanyalah seseorang yang memilih untuk mencintaimu dalam diam, tak bergerak, dan dingin. Namun ketika aku mengerahkan seluruh keberanianku untuk sekedar menatap kedua matamu, kau lebih dulu mengacaukan semuanya dengan membuat seluruh napas ini tercekat.

“ Sekalipun hanya sesaat apa kau sama sekali tidak pernah menyukaiku?” aku menitikan air mata bersamaan dengan salju yang turun dari langit.

Setiap langkah yang kuambil, seharusnya aku memikirkan kemungkinan apa saja yang terjadi setelah melakukan hal ini. Tidak pernah sekalipun, hingga saat Kai mengetahui perasaanku sebenarnya aku tidak mengira akan sesakit ini.

“Tidak pernah” Kai menghentikan langkahnya sejenak. Aku mencoba untuk tidak percaya dengan apa yang dikatakan Kai, mungkin saja karena angin yang berhembus terlalu kencang membuat Kai seolah berkata demikian. Tapi kata-kata itu terdengar begitu nyata.

“Berbaliklah… kumohon. Aku akan mencoba mengerti jika menatap langsung matamu”

“Kai” aku berbisik di antara udara dinggin yang mencekat, memandangi Kai yang sedari tadi membelakangiku.

Namun saat Kai benar-benar berbalik dan menatapku dengan pandangan datar aku mulai menyadari sesuatu.

“Ternyata benar. Sekarang aku mengerti, semuanya hanya aku yang merasakannya, hanya aku yang jatuh cinta”

Aku terlalu tinggi membangun dinding tebal mengelilingi hatiku, seharusnya aku tahu. Bahwa jika saja aku jatuh, aku tidak yakin apakah aku bisa kembali berdiri atau tidak. Semua itu ku lakukan karena aku mencintainya begitu dalam.

Air mata yang kutahan sejak awal kini mengalir tiada henti. Aku membutuhkan bertahun-tahun hanya untuk mengatakan hal itu kepada Kai, namun aku tidak pernah mengira hanya dalam beberapa menit semuanya hancur.

“You will never know true happiness until you have truly loved, and you will never understand what pain really is until you have lost it”

Pertama kalinya aku menghubungi Kai setelah apa yang terjadi dua hari yang lalu. Sikapnya tak lagi sehangat dulu, mengabaikan beberapa pesan singkat dan panggilanku, bahkan ketika berpapasan di kampus Kai tak sudi untuk menatapku walaupun untuk sejenak. Aku tidak tahu apakah aku membuat suatu kesalahan fatal yang membuat lelaki itu bersikap dingin kepadaku atau hal yang membuatnya tidak nyaman berada di dekatku. Namun beberapa kali aku meminta penjelasan padanya, sebanyak itulah Kai mengabaikanku.

Aku tidak melakukan dosa besar, aku hanya mengungkapkan bagaimana perasaanku sebenarnya sebelum kesempatan itu benar-benar hilang. Tetapi aku tidak menyangka sama sekali saat dengan begitu cepat Kai mengatakan tidak. Maksudku setidaknya jika memang Kai tidak bisa menerima pernyataan cintaku bukankah semua ini bisa dibicarakan secara baik-baik? Bukan dengan cara seperti ini, menghilang dan menghindariku selama beberapa hari.

Ketika salju masih mengelilingi langit Seoul, aku berjalan melewati kelas dimana Kai berada. Hanya untuk memastikan apakah lelaki itu baik-baik saja. Namun tiba-tiba pandanganku kabur dalam beberapa detik, aku melihatnya tengah memeluk Jieun di dalam kelasnya yang sepi. Melihatnya yang tersenyum bahagia bersama wanita lain sudah cukup menjelaskan perubahan yang terjadi pada diri Kai selama ini.

Sekarang aku tahu mengapa Kai selalu mengabaikan panggilanku, mengapa kai tidak pernah menggandeng tanganku, mengapa Kai tidak pernah sekalipun mengatakan cinta kepadaku. Yang jelas ketika salju turun malam itu, melalui tatapan kedua matanya aku megetahui sesuatu. Bahwa Kai tidak pernah menginginkanku.

Aku duduk di pinggiran trotoar, di mana jalanan mulai di tutupi salju lebat, dan membuat air mata ini semakin tak tertahankan.Aku menyadari betapa sulitnya mencintai dan dicintai. Namun disetiap hembusan nafas dan langkahku, aku selalu berharap sebuah keajaiban bahwa orang yang ku cintai juga akan mencintaiku.

Aku bukanlah gadis yang dicintai begitu banyak lelaki dan aku bukanlah seseorang yang hanya termenung menunggu pangeran datang menghampiriku. Dan aku tahu pasti, sekarang aku hanyalah orang asing yang berlalu-lalang, orang asing yang tidak akan pernah mengganggu hari-hairmu, orang asing yang akan selalu melihatmu dari kejauhan. Aku hanyalah ruang hampa berlubang yang dipenuhi oleh pikiran-pikiran sadar, bahwa kenyataannya Kai tidak pernah memandangku sebagai wanita, bahwa Kai tidak pernah mencintaiku.

Tapi bagaimanapun aku mencintai Kai, sama seperti cinta pertamaku dulu. Aku hanya akan kembali terluka dan kembali merasakan betapa sakitnya hatiku. Teramat sakit hingga aku merasa seperti ada ribuan jarum yang bersarang dalam hatiku yang teluka. Cukup kali ini saja, kurasa aku takkan pernah jatuh cinta lagi.

Musin dinginku yang selanjutnya telah tiba. Aku masih seperti dulu, sebuah bayangan kelabu yang mencintai Kai dalam diam. Setiap kali memandangi jalanan sepi dari jendela kamarku, aku selalu melihatnya. Aroma tubuh Kai seakan menyatu dengan indra penciumanku untuk waktu yang tidak dapat ditentukan, ketika Kai dengan tubuh mengigil melewati jalanan itu aku akan selalu menyadari keberadaannya.

Aku merindukanmu, Kai.

-FIN-

Admin note : I’m sorry, karena seenaknya membuat poster, maaf juga karena posternya jelek, aku tidak cek lagi kamu kirim bersama dengan covernya atau tidak, hehe 😀

Iklan

10 pemikiran pada “[ESO #1] To Love or To Be Loved

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s