[ESO #2] Eyes, Nose, Lips

eyesnoselips[JONGSEO-VER]4(1)

  1. Title : Eyes, Nose, Lips
  2. Cast : Kim Jong In (EXO)||Nam SeoYeon(OC)|| Oh Sehun (EXO) ||Park Chanyeol (EXO)
  3. Genre : Romance||Angst
  4. Length : 2381 words
  5. Rating : PG-13
  6. Summary : Ini waktunya untuk melepas sesuatu yang memang dari awal bukan miliknya lagi. Ini waktunya melepaskan cinta itu untuk pergi.
  7. Recommended Song : Taeyang – Eyes,Nose, Lips

Remember !

[-oOo-]:Flashback

[-oOOo-]:Now

________________

 

-oOOo-

 

Jongin mematut dirinya di depan sebuah cermin. Dengan sigap, satu persatu, ia kancingkan kemeja putih polosnya yang merupakan keluaran Calvin clein. Lalu ia mengambil dasi berwarna hitam yang ada di dalam rak khusus dan memakainya dalam waktu singkat. Arloji dengan merk Chopard pun langsung Jongin pasangkan ke pergelangan tangannya sebelah kiri. Dan tak lupa, ia membenahi rambutnya dengan memberikan sedikit gel agar terlihat lebih rapih. Kemudian untuk sentuhan akhir, ia mengenakan tuxedo yang senada dengan warna dasinya dengan ukuran pas mengikuti tubuhnya memberikan efek atletis pada tubuhnya.

Sempurna. Satu kata itulah yang bisa digambarkan dari pantulan cerminnya sekarang.

Hari ini adalah sebuah hari dimana hanya suka citalah yang dapat dilihat oleh berbagai pasang mata. Bahkan disaat bukan kitalah yang memegang hari tersebut. Karena hari ini satu lagi ikrar janji suci akan diucapkan disalah satu Gereja besar, Seoul. Sebuah pernikahan. Dan Jongin, tidak akan melewatkan hari ini. Ia sudah menyiapkan hatinya untuk hari ini.

Jongin kembali menarik napas mencoba untuk menenangkan seluruh pikirannya. Ia sudah memutuskan tidak akan lari untuk hari ini saja. Ia akan berada disana untuk memenuhi janjinya pada Seoyeon.

-oOo-

“Jongin-a” panggil Seoyeon yang saat ini tepat bersandar di bahu Jongin, dan duduk di sebuah sofa apartemen milik Jongin menyaksikan sebuah kartun movie. Kegiatan yang selalu mereka habiskan apabila sedang bersama.

“Hmm?” gumam Jongin membalas panggilan Seoyeon yang masih menatap layar kaca.

Seketika Jongin merasakan genggamannya dengan Seoyeon terasa lebih kuat dari sebelum karena tindakan preventif dari Seoyeon. Seperti ada sebuah rasa sakit yang membuat Seoyeon menggenggam kuat tangan Jongin. “Let’s break up” ucap Seoyeon dengan suara yang agak parau menahan agar tangisannya tidak tumpah.

Sejenak, atmosfir yang terasa saat ini adalah keheningan diantara keduanya. Hanya suara dari movie “Toy Story 3-lah yang mengisi raungan tersebut.

Okay” balas Jongin singkat. Bohong jika ia katakan tidak kecewa, tapi ia sudah tahu bahwa hubungannya dengan Seoyeon akan segera berakhir. Sejak awal hubungan mereka memang tidaklah benar. Jongin dan Seoyeon sudah cukup dewasa untuk memutuskan untuk menjalin hubungan yang salah ini. Dan mereka juga sudah cukup dewasa untuk mengakhirinya secara baik-baik meskipun hati mereka terluka sangat dalam.

Mianhae, Jongin-a, jeongmal mianhae” ucap Seoyeon yang tak bisa lagi menahan tangisnya. Meskipun dalam suasana gelap dan hanya di terangi oleh televisinya, Jongin bisa merasakan bahwa kini Seoyeon benar-benar menangis. Kemudian Jongin menarik Seoyeon kedalam pelukannya untuk mencoba membagi rasa sakit yang juga ia rasakan.

Gwenchan-a, Seoyeon-i, semua akan baik-baik saja” ucap Jongin seraya menguatkan pelukannya kepada Seoyeon.

Don’t be sorry,
that makes me more pitiful.
With your pretty red lips
please hurry, kill me and go.
I’m all right.

“Lihat aku, Seoyeon-i” pinta Jongin dengan suara lembutnya. Namun Seoyeon terus menunduk tak ingin melihat tatapan Jongin. “Kumohon” pintanya sekali lagi dengan nada lebih lembut yang membuat Seoyeon kini menatapnya.

“Seoyeon-i, kumohon tersenyumlah ketika mengingat seluruh waktu yang pernah kita habiskan selama ini. Karena aku akan selalu tersenyum saat mengingatmu. Jadi kumohon jangan menangis lagi setelah ini” ucap Jongin dengan suara lembutnya yang di balas anggukan kecil dari Seoyeon. Hal itu membuat Jongin tersenyum lega dan kembali memeluk Seoyeon.

Look at me one last time
Smile like nothing’s wrong,
so when I miss you I can remember.
So I can draw your face in my mind.

 

-oOOo-

Suara iPhone yang Jongin miliki membuyarkan semua lamunannya. Kemudian ia bergerak meraih iPhone-nya yang ada diatas nakasnya. Tertera nama temannya, Chanyeol di dalam display name iPhone tersebut.

From:Chanyeol Park

Yyak Jongin-a, Gwenchan-a?

It’s okay if you weren’t coming

We don’t want to see you suicide after the ceremony

Received 3 minutes ago

Seulas senyum terpasang di wajah Jongin. Ia bisa merasakan bahwa temannya yang satu ini sedang panik karena dirinya yang memutuskan untuk hadir. Memang sebuah keputusan yang tidak biasa diambil Jongin kali ini yang membuat teman-temannya khawatir sejak mendengar keputusan Jongin untuk menyaksikan pernikahan Seoyeon.

Jongin melihat arlojinya, dan tertera bahwa sekarang sudah menunjukkan pukul 8 dan artinya 2 jam lagi acara tersebut akan dimulai. Tanpa basa-basi Jongin langsung mengambil kunci mobilnya dan menuju basemant, tempat dimana Porsche hitamnya terparkir sempurna disana.

Jongin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menyusuri Seoul yang saat ini tidak terlalu ramai. Mungkin karena hari ini adalah hari minggu dan juga ini masih pagi. Banyak diantara mereka yang masih bergelut dengan mimpi dalam ranjang empuk mereka.

Namun Jongin tak langsung ke Gereja, ia memberhentikan mobilnya di pinggir sungai Han. Ia ingin sedikit mengenang pertemuannya dengan Seoyeon sebelum ia benar-benar melepaskan Seoyeon dari hidupnya.

Dengan mata terpejam, Jongin dengan jelas mengingat pertemuannya dengan Seoyeon setelah 6 tahun tak bertemu dengannya di sini, di sungai Han ini 5 bulan lalu pada tengah malam.

 

-oOo-

“Seoyeon?” panggil Jongin untuk memastikan orang yang ada di hadapannya adalah Seoyeon. Yeoja yang pernah menjadi seseorang yang sangat spesial sewaktu masa SMA dulu. Seoyeon yang dipanggilpun menoleh ke arah Jongin, namun ia sedikit berpikir siapa yang memanggilnya, karena penerangan di sungai Han ini agak minim sehingga Seoyeon tak bisa dengan jelas melihat wajah Jongin.

Nugu?” tanya Seoyeon yang sedikit berhati-hati saat bertemu dengan Jongin.

“Aku Jongin, Kim Jongin, apa kau mengingatnya?” tanya Jongin dengan menunjuk dirinya sendiri.

“Eoh? Jongin”

***

Jongin dan Seoyeon memutuskan untuk memakan udon di sebuah kedai kecil yang masih buka pada tengah malam. Jongin tersenyum ketika melihat Seoyeon terlihat sangat menikmati makanannya, namun ekspresinya berubah ketika ia melihat jari manis kiri Seoyeon kini telah terlingkar oleh sebuah cincin.

Seoyeon yang melihat arah tatapan Jongin-pun sedikit risih dibuatnya. “Wae? Aku sudah bertunangan, apa kau cemburu?” tanya Seoyeon yang dibalas anggukan polos dari Jongin yang langsung membuat Seoyeon tersedak karena pikirannya langsung teralih dari makanannya. Jonginpun dengan sigap memberikan air terdekat Seoyeon.

“Apa aku mengenalnya? Apa dia teman SMA kita?” tanya Jongin memberanikan diri.

“Kita saja baru bertemu setelah 6 tahun, dan juga dia bukan teman SMA. Dia orang pilihan eommaku” jawab Seoyeon yanng langsung melanjutkan makannya.

“Apa kau mencintainya?” tanya Jongin yang membuat Seoyeon berhenti memakan udonnya.

“Aku tidak mencintainya, tapi aku mencintai eommaku melebihi aku mencintai diriku sendiri” jawab Seoyeon.

“Aku masih mencintaimu, Seoyeon-i” ucap Jongin dengan menatap Seoyeon lekat. Sebelum Jongin melanjutkan kuliahnya di Jerman, ia dan Seoyeon memang saling mencintai sejak kelas 2 SMA, bahkan mereka mendapatkan gelar “Prom King and Queen” saat acara perpisahan di sekolah mereka. Namun hubungan mereka harus berakhir karena orang tua Jongin menginginkan putranya melanjutkan studi Arsitektur di München, Jerman.

My selfishness that couldn’t let you go
turned into an obsession that imprisoned you.
were you hurt because of me?
You sit silently.

 

“Tapi aku akan menikah dengannya 5 bulan lagi, dan kutekankan lagi bahwa aku menyayangi Eommaku” balas Seoyeon tanpa menatap Jongin yang dirasa akan menghipnotisnya. Meskipun tak dapat di pungkiri bahwa Seoyeon juga masih mencintai Jongin meski 6 tahun telah berlalu.

“Kalau begitu mari habiskan waktu bersama dalam 5 bulan terakhir” usul Jongin dengan serius yang dibalas tatapan tak percaya Seoyeon.

Love you, loved you
I must have not been enough
Maybe I could see you just once by coincidence.

 

 

-oOOo-

Gereja St. Pierre, Seoul

10:00 A.M

Alunan musik klasik karya Beethoven sebagai pengiring pernikahan mulai dimainkan, semua tamu undangan berdiri seraya Seoyeon dan appa-nya dengan perlahan berjalan menuju altar dimana calon pendampingnya, Oh Sehun dan sang Pastur telah menunggu mereka. Ia sangat cocok dengan balutan gaun pengantin dengan warna putih gading yang dirancang khusus oleh Atelier Versace dari Madrid berpadu dengan kulitnya yang seputih susu. Mungkin sekarang semua orang mengira bahwa hari ini mereka sedang menyaksikan pernikahan seorang Dewi Aphrodite karena Seoyeon yang sungguh cantik hari ini.

Ketika mata Jongin dan Seoyeon saling bertemu, dengan tulus Jongin memberikan senyum terbaiknya yang mungkin akan menjadi terakhir kalinya untuk Seoyeon. Dan Seoyeon pun membalas senyuman tersebut meskipun ada rasa sakit di dalamnya.

“Hadirin keluarga dan sahabat dari Oh Sehun dan Nam Seo yeon. Hari ini dengan rasa suka cita, kita berkumpul untuk menjadi saksi dari pengikatan suci yang telah Tuhan rencanakan untuk kedua insan yang berada dihadapan kita” ucap Sang Pastur sebagai kalimat pembuka, dan semua tamu dengan seksama mendengarkannya.

Kemudian sang Pastur mulai pada bagian inti upacara pernikahan ini, yaitu pengucapan ikrar suci.

Hal ini lebih berat dari dugaan Jongin sebelumnya. Semua badannya terasa bergetar saat ini juga. Jongin berusaha mengepalkan tangannya untuk menghilangkan rasa gemetar ini namun itu tidak berhasil. Ia tak sanggup untuk melihat semuanya hingga akhirnya ia hanya bisa memejamkan matanya untuk menghilangkan ketakutannya.

 

-oOo-

“Apa yang terjadi setelah ini?” tanya Seoyeon dengan nada putus asa pada Jongin yang kini telah sampai di depan pintu apartemen Seoyeon.

Jongin menaruh kedua tangannya pada bahu Seoyeon, dan dengan yakin mengatakan “Hidupmu akan bahagia selamanya seperti cerita Cinderella yang selalu kau ceritakan padaku”.

Jongin tersenyum kepada Seoyeon namun Seoyeon bisa merasakan kesedihan dibalik mata Jongin. Terjadi keheningan diantara mereka. Hanya isakan kecil dari Seoyeon yang terdengar dan membiarkan air matanya tak berhenti mengalir. Seoyeon menutup matanya ketika mengetahui Jongin akan mengahapus air matanya dengan menciumnya kedua matanya.

Kemudian Jongin menangkup kedua pipi Seoeyeon dengan tangannya. Seoyeon kembali menutup matanya ketika merasakan keningnya kini di cium sesaat oleh Jongin. Lalu dengan perlahan hidung Seoyeon pun mendapat ciuman lembut dari Jongin.

Jongin dan Seoyeonpun kini saling menatap satu sama lain. Keduanya saling merasakann sakit yang tergambar jelas dalam manik mata mereka.

“Saranghae, Seoyeon”

“Saranghae, Jongin”

Dengan menutup mata Jongin mendekatkan wajahnya kearah Seo yeon. Kini sudah tidak ada lagi jarak diantara Seoyeon dengan Jongin ketika bibir mereka saling bersentuhan. Ciuman lembut yang disertai air mata dari mereka berdua ini merupakan penutup dari hubungan mereka selama 5 bulan belakangan ini.

Your eyes, nose, lips
Your touch that used to touch me,
to the ends of your fingertips.
I can still feel you

 

-oOOo-

“Jongin-a, kau yakin pulang sendiri?” tanya Chanyeol melihat kini wajah Jongin lebih pucat daripada biasanya.

“Tentu saja, lagipula aku akan langsung ke bandara untuk berangkat ke München” jawab Jongin.

Chanyeol menautkan kedua alisnya setelah mendengar kata bandara, “München? Kau tidak bilang akan pergi setelah pernikahan ini?” gerutu Chanyeol.

“Mianhae, karena tidak memberitahumu sebelumnya. Aku mendapat telepon untuk segera berangkat kesana sebisa mungkin” jawab Jongin dengan nada bersalah.

“Heol, baiklah jaga dirimu baik-baik Jongin, dan ingat aku tak ingin mendengar berita besok bahwa kau berusaha bunuh diri” canda Chanyeol yang membuat Jongin tertawa karenanya. Dan kinipun mereka berpelukan sebagai tanda perpisahan mereka.

“Arra, arra, kau juga jaga dirimu baik-baik” ucap Jongin yang kini mulai memasuki Porsche hitamnya. Lalu mobil Porsche hitamnya pun meninggalkan Chanyeol yang hanya berdiam diri melihat kepergiannya. Dan dalam hati Chanyeol berharap candaan yang dilontarkan barusan memang tak akan pernah terjadi.

Selama dalam perjalanannya menuju bandara, Jongin tak bisa menahan tangisnya lagi setelah sekuat mungkin ia tahan selama upacara tadi. Ia sadar selama ini yang selalu mengisi pikirannya adalah Seoyeon. Sekuat apapun dia berusaha melupakannya maka sekuat itu pula kenangannya bersama Seoyeon terus kembali. Ia kini tak yakin apakah ada sisa dari dirinya yang bisa ia bangun ulang di negeri dimana ia berpisah dengan Seoyeon 6 tahun lalu.

Seketika lamunan Jongin buyar ketika sebuah truk besar merusak pembatas jalan yang ada di depannya dan bersiap menghantam mobil Porsche milik Jongin.

‘Benar, hari ini aku tak akan menghindari apapun’, ucap Jongin yang kini tersenyum melihat truk besar tersebut dalam beberapa detik lagi akan menghampirinya.

Matanya mulai terpejam dan pkirannya kembali pada seseorang.

Saranghaae, Seoyeon-i

CITTTTT

BRUAKKK

but like a burnt out flame,
burnt and destroyed
all of our love.
it hurts so much, but now I’ll call you a memory.

 

EPILOG

5 years later

“Annyeong Jongin” sapa Seoyeon seraya menaruh bunga tulip pada sebuah batu nisan.

Mianhae, karena baru mengunjungi sekarang sejak 5 tahun lalu karena setelah kepergianmu aku pergi ke Belanda untuk menemani Sehun melanjutkan studi hukumnya , aku harap kau tak marah disana”

“Oh iya, sebelum aku pergi ke Belanda, aku sempat mengunjungi apartemenmu, dan aku menemukan ini” ucap Seoyeon seraya mengeluarkan kertas yang sedikit kusam dari tasnya.

“Apa kau ingat pernah menulisnya untukku? Jika kau lupa, aku akan membacakannya untukmu” ucap Seoyeon sambil membuka lipatan kertas tersebut.

 

Dear my love,

Hey Seoyeon-i, ini sudah 5 bulan kita bersama semenjak 6 tahun lalu kita sempat berpisah. Aku senang bisa melihatmu kembali dengan keadaan sama ketika aku meninggalkanmu ke München bahkan ku lihat kau lebih cantik dari sebelumnya. Sebenarnya aku tak yakin kau akan membaca surat ini karena surat ini ku tinggalkan di apartemenku.

Yang ingin kukatakan padamu adalah kata maaf. Maaf karena membuatmu menjadi anak nakal dalam 5 bulan terakhir sebelum pernikahanmu. Dan juga terimakasih. Terimakasih karena kau mau bersama denganku meskipun hanya 5 bulan.

Aku sungguh menyukaimu Seoyeon. Aku menyukai mata hitammu itu yang hanya melihatku seorang. Aku menyukai hidungmu yang menghembuskan nafas yang terasa manis dan segar. Dan aku juga menyukaimu ketika bibirmu membisikkan kata ‘i love you’ untukku. Sepertinya terdengar menggelikan, kau tahu aku bukan perangkai kata yang baik. Tapi dari semua yang kusukai darimu ada satu yang sangat kusukai. Aku menyukai hatimu yang bisa tulus mencintai segala kekuranganku. Gomawo Seoyeon-i.

Kebanyakan orang akan mengatakan bahwa mereka ingin memiliki kehidupan kedua agar bisa bersama orang terkasihnya, namun tidak denganku. Aku tidak ingin kehidupan kedua, ketiga atau keberapapun itu karena aku tak yakin bisa menemukanmu kembali, lagipula 5 bulan ini kurasa sudah sangat cukup bagiku untuk bersamamu melihat aku sepertinya termasuk daftar anak nakal.

Tapi jika ada permohonan yang dapat dikabulkan, maka aku ingin kebahagiaan untukmu meskipun bukan bersamaku. Hiduplah bahagia bersama Oh Sehun. Ia adalah yang terbaik untukmu, karena Eommamu percaya akan hal itu. Dan juga aku mengenal Oh Sehun dengan baik ketika kami sama-sama sekolah di Jerman. kau pasti tak percaya betapa sempitnya dunia ini.

Hiduplah bahagia seperti cerita cinderella, karena akupun juga akan bahagia karenanya.

Saranghae Nam Seoyeon

 

With all my heart

 

 

Kim Jongin

(someone who forever love you)

 

Air mata Seoyeon terus mengalir satu persatu ketika membacakan kembali surat Jongin yang sudah ribuan kali ia baca ulang.

“Eomma” panggil namja kecil yang mendekati Seoyeon.

“Jong-a, sudah eomma bilang tunggu di mobil” ucap Seoyeon sambil menghapus air matanya.

“Eomma, apa dia yang sering Eomma ceritakan padaku?” tanya namja kecil tersebut yang dibalas anggukan dari Seoyeon.

Annyeong Jongin ahjusshi, apa ahjusshi tahu, jika namaku Jongin juga?” tanya namja kecil yang membuat Seoyeon tersenyum.

“Jongin, aku ingin kau tetap menjadi bagian dari kebahagiaanku dengan cara seperti ini. Kau tak keberatankan?” tanya Seoyeon.

“tentu saja ia tak keberatan” ucap Sehun dari belakang dengan senyum tulus terulum darinya.

“Aku sudah hidup bahagia disini, kaau juga pasti sudah bahagiakan di sana?” tanya Seoyeon sambil mengusap batu nisan Jongin.

 

Our Beloved

Kim Jongin

 

 

1994-2017

 

END

*****************************************

Iklan

7 pemikiran pada “[ESO #2] Eyes, Nose, Lips

  1. Bagus, feel nya dapet bngt.
    Kata-kata dan tulisannya juga rapi, jadi keliatan bagus dan enak dibacanya 🙂

    Ceritanya juga bagus, tapi sayang sad. Tapi akhirnya Seoyeon juga bahagia sama Sehun 🙂

    Suka

  2. Aku nangis pas baca partnya Jongin..
    Kasihan banget hidupnya..
    Aku nggak kebayang gimana sakitnya Jongin ditinggal nikah sama Seoyeon, orang yang bener-bener Jongin cintai 😦
    Daebak dehh buat ff ini!!

    Suka

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s