[Request] Impossible

impossible

Impossible
by Diramadhani

Kim Kai EXO And Kim Jiwon

-Romance, Hurt/comfort-

©Disclaimer
FanFic is mine, thanks to Cca Eonni, who requested me for creating thisf fict. Cast isn’t Mine.

__________________

Kelihatannya cara berpikirku tidak akan pernah selurus dengan ayah. Aku mengenal budaya liberal sejak tinggal di Malibu, California. Gaya hidup bebas terlanjur mendarah daging, dan justru ayah yang kuno itu menganggapku tidak bermoral. Setahuku, hampir seluruh penghuni negara adidaya ini sudah tak ingat dengan kata ‘moral’, jadi itu bukan alasan yang masuk akal dengan keputusan ayah mengirimku kembali ke Korea.

Setelah berjam-jam diatas pesawat, aku menelusuri bandara Incheon, mencari-cari sesosok yang entah wajahnya berubah atau tidak, terakhir aku kemari ketika aku duduk di bangku tahun ke empat sekolah dasar, kemungkinan sangat kecil untuk mengingat wajahnya. Ketika mataku menangkap sosok laki-laki yang membawa papan dengan namaku, bisa kupastikan dia adalah saudara sepupuku, Kim Jong In.

“Kau Kim Jongin?”

Laki-laki dengan kulit sedikit gelap itu menatapku sejenak, kedua irisnya berwarna hitam pekat –terlihat begitu memikat. Terakhir aku ingat dia hanyalah bocah kecil yang menatapku dengan pandangan menyala-nyala, bersinar seperti anak-anak lainnya –baiklah, itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Kini dia berdiri tepat dihadapanku, aku ingat dulu dia hanya sepundakku, namun kini akulah yang setinggi pundaknya. Wajahnya terlihat dewasa, raut kebijaksanaan dan kewibawaan menguar begitu kau bertemu tatap dengannya.

“Ya. Dan kau adalah Kim Jiwon, apa aku benar?”

Aku tersenyum, memberikan terbaik yang aku bisa.

“Yah,” ucapku pelan. Aku memandangi seluruh isi bandar udara Incheon, kemudian kembali menatapnya. “Lama tidak bertemu, bagaimana dengan nenek?”

“Masih sama, Tegas dan penyayang.” Ucapnya, laki-laki itu tersenyum padaku, aku mengangguk pelan. Dia membawaku pulang dengan menaiki mobil bak terbukanya. Dulu, ayah sering mengajakku menunggangi mobil ini ketika di Korea, dan mobil itu masih disimpan –terawat dengan baik.

.

Tinggal dibawah satu atap, tidur hanya bersekat dinding bata yang bertumpukan, belajar ditempat yang sama, bernapas dengan udara yang sama, semuanya menjadi sebuah kebiasaan, ada aku dan ada Jongin dimanapun. Itulah pada akhirnya yang terjadi semenjak aku pindah ke Korea. Jongin sudah tinggal dengan nenek semenjak dia kecil, sepuluh tahun yang lalu kecelakaan pesawat merenggut ayah dan ibunya, jadi ia tinggal bersama nenek, sampai sekarang.

Terkadang semuanya dimulai karena kebiasaan, nenek selalu memperingatkan kami untuk melakukan apapun bersama, agar terlihat lebih akrab, disanalah aku menyadari Seorang Kim Jongin lebih dewasa daripada apa yang selama ini aku bayangkan.

Dia memiliki kepribadian yang manis, pelindung, penuh akan karisma yang tidak tertahan.

Ada sebuah kejadian yang tak akan terlupakan olehku, Kejadian itu terjadi belum lama, namun sangat membekas di relung hatiku.

Hujan yang deras. Sudah selayaknya terlalu membosankan dikisahkan dalam drama-drama dan film dengan tajub romansa, adegan dimana seorang laki-laki memayungi seorang gadis di bawah jaket tebal miliknya, dibawah hujan dan berlari bersama menembus hujaman air yang menyapu permukaan tanah, namun bagiku momen itu lebih dari istimewa.

Kehangatan yang dia berikan benar-benar asing bagiku, kenyamanan yang Jongin tawarkan menggiyurkanku, semuanya nampak begitu lurus, murni dan aku menyukainya, semua rasa aman yang dia berikan padaku, itu nampak begitu indah,

Kupandang wajahnya dari sudut mataku, atensi tatapan kedua iris gelapnya terarah lurus kedepan, menantang titik-titik air yang menghujam tanah  kuat-kuat. Tatapan itu tegas dan penuh akan perlindungan. Lengannya yang melingkar dipundakku memberikan kehangatan tersendiri. Napasnya menerpa tengkuk leherku, memberikan sensasi menggelitik yang terasa nyaman, menggetarkan rongga dadaku perlahan, namun pasti, terasa sangat nyaman dan menyenangkan.

Kami berdua berhenti di depan sebuah box telepon. Jongin membawaku masuk ke dalamnya. Melepaskan satu-satunya jaket yang menjadi pelindung kami, menyisakan seragam berwarna merah maroon yang basah. Aku menatap laki-laki itu, dia berdiri dengan tubuh kokohnya di sisi kiri box, rambut bagian depannya basah, begitupula sepatu dan kemejanya.

Aku berdiri di sisi kanan box, diam sembari mengamati Jongin, yang baru-baru ini kusadari memiliki ukiran wajah yang sempurna, sembari sesekali menggosokkan dua tangan di depan tubuh, mencari-cari kehangatan yang bisa kudapat ketika dingin terus menggemparkanku.

“Kau kedinginan?”

Laki-laki itu merapatkan dirinya padaku, mendekatkannya sedekat mungkin. Kemudian, dia merangkul pundakku dengan lengannya yang kekar.

“Kelihatannya kau benar-benar kedinginan. Aku tidak mau merepotkan nenek karena membawa pulang kau yang demam ke rumah.” Ucapnya lagi, laki-laki itu tertawa. Tawa lepas yang menggema di dalam box itu. Pada sekon itu juga,  aku telah memastikan bahwa aku menyukai tawa seorang Kim Jongin.

Kehangatan tubuh Jongin mengalir pelan padaku, melawan hawa dingin dan memenangkannya. Sejenak semuanya nampak baik dan berjalan di arah yang tepat. Namun semuanya semakin melenceng ketika kurasakan rongga dadaku bergetar dan perutku tergelitik, aku tersenyum setiap mengingat bahwa seorang Kim Jongin berdiri tepat dibelakangku. Namun senyum itu lenyap tak berbekas ketika mengingat bahwa kami memiliki ikatan darah yang sama.

.

Jongin memiliki seorang kekasih, jika aku tidak salah namanya Jung Soojung. Seorang gadis dengan perangai ceria, ramah dan memiliki wajah yang sempurna. Seratus persen serasi dengan Kim Jongin.

Terkadang aku iri pada Soojung, dia memiliki pesona yang sebanding dengan Jongin. Dan dia memiliki harapan yang aku tidak punya –harapan untuk bersama dengan Jongin.

Cinta tidak pernah lurus dengan kenyataan. Cinta itu mengerikan.

Selain itu, kepribadiannya itu juga merenggut perhatian nenek. Kongklusi yang mudah dibuat, ketika melihat senyuman lebar nenek menyadari sosok Soojung berdiri di depan rumah.

Malam itu, bintang memancarkan sinarnya dengan begitu terang, aku memiliki kebiasaan yang kulakukan bersama bintang-bintang di langit California, menghabiskan malam dengan memandangi mereka untuk menghilangkan semua beban duniawi, mencari surga tersendiri dalam dunia yang fana. Dan menurutku, bintang di Seoul tidak kalah dengan mereka,

Bintang-bintang itu dengan gagahnya menyombongkan dirinya, berlomba-lomba mendapat predikat yang paling terang dengan kerlipan mereka yang menarik, seperti berlian yang ditabur diatas langit. Terkadang aku akan menghitung mereka satu-satu, atau mencari-cari bintang sirius diantara jutaan lainnya, memang konyol.

“Memandangi bintang, atau melamun dan kebetulan menatap langit?” suara berat terdengar bersamaan dengan angin semilir musim gugur yang melewat. Aku itu suara milik Jongin, suaranya terdengar berat dan menenangkan, namun kali itu aku tidak menoleh menatapnya, menyibukkan diri memandangi langit yang terlihat indah.

“Mungkin dua-duanya,” jawabku asal. Laki-laki itu tertawa.

“Sayangnya kau tidak berbakat dalam humor, benar kan?” Laki-laki itu menyahut,

“Tapi kau tertawa, bodoh.” Sahutku, enggan dikalahkan. Laki-laki itu tidak menanggapinya lagi, entah apa yang dia lakukan, aku hanya merasa seperti –diperhatikan. Entah apa yang membuatku yakin. Namun aku tau Jongin sedang mengamati wajahku. Aku dapat merasakannya meski tidak sedang melihat.

Ketika aku menolehkan kepala ke samping, dia sudah mengalihkan tatapannya ke arah lain, menunjukkan gerakan-gerakan konyol yang tidak masuk akal, berpura-pura tidak terjadi apapun, terlihat gugup. Aku tersenyum kecil.

“Apa aku cantik eoh?” tanyaku pelan, sembari terkekeh.

“Kau hanya terlalu percaya diri, jelek.” Ketusnya. Sedangkan aku semakin tertawa, melihatnya seperti itu terlihat lucu sekali. Heum… manis, mungkin?

.

Jongin membalas perasaanku.

Persetan dia putra kandung adik ayahku, atau dia punya kekasih. Aku tidak peduli.

Aku bukanlah seseorang yang bodoh. Aku menyadari jika dia juga menyukaiku. Terlihat jelas dari tingkah lakunya. Tak jarang aku mendapatinya sedang menatap ke arahku, tatapan yang tidak biasa digunakan oleh seorang teman ke sahabatnya, maupun adik sepupu ke kakaknya. Aku pernah melihat tatapan yang sama dulu, tatapan milik mantan kekasihku.

Kedua iris hitam itu akan menyala terang jika berseturu denganku, memberikan cahaya menyilaukan dan segelintir ketertarikan dan juga beberapa luka. Ketika kami bertemu pandang, dunia menghentikan pergerakannya, memberikan kami ruang dan waktu untuk bicara, bernapas dan tersenyum berdua. Namun itu hanya sejenak, kembali ke realita, maka semua akan lenyap, tak berbekas.

Namun jika kuperhatikan lagi, tatapannya lebih dari sekedar pembalasan terhadap perasaanku, dia menyimpan luka di balik kedua mata hitamnya yang berkilauan. Well, kami berdua tau, ini tidak boleh.

Malam itu dia sedang belajar di daskboardnya, kedua pandangnya serius pada buku-buku yang kini sedang menjadi objek tatapnya.

Kau tau, satu kebiasaan baru yang aku sangat suka lakukan, yaitu menatapnya. Ketika dia sedang belajar, iris gelap menyalanya begitu terang terarah pada selembar kertas, raut serius itu nampak benar-benar memikatku, atau ketika dia sedang bercanda dengan Oh SeHun dan yang lainnya, merekam tawanya baik-baik di kepalaku. Atau bahkan saat dia sedang tidur, jangan salahkan aku dia punya kebiasaan tidak menutup pintu kamar di malam hari. Dia terlihat seperti malaikat yang tenang ketika tidur.

Dan hari ini, dia justru tertidur diatas bukunya sendiri, kelelahan mungkin? Dia belajar benar-benar keras untuk ujian akhir sekolah. Aku mendekatinya, menatap kedua kelopak mata yang sedang menyatu, menimbulkan kurva lengkung yang indah, hembusan napasnya teratur. Laki-laki itu tertidur dengan lelap.

Kemudian aku duduk disampingnya, kembali menatap wajahnya yang tenang ketika tidur, perlahan tanganku menyentuh rambut cokelatnya yang halus, tersenyum kecil sejenak. Laki-laki itu benar-benar sempurna, tuhan memang seniman yang paling agung.

Perlahan, aku mendekatkan diriku pada keningnya, membiarkan napasku berhembus mengenai kulitnya, serta memastikan bahwa apa yang kulakukan tidak dia ketahui, kemudian mengecup keningnya beberapa detik, sebelum kujauhkan wajahku.

Namun saat hendak menjauhkan wajahku, tangan Jongin mencekal lenganku, kedua matanya terbuka. Iris itu penuh akan tatapan yang menyala-nyala, menatapku begitu lama, dengan cengkraman tangan yang belum mengendor pada tanganku, itu sakit, namun semua sakit itu teralihkan oleh iris hitam pekatnya yang memenjarakanku, membuatku lupa akan logika, akal sehat dan dunia sekitar. Hanya aku dan dia, rasanya sesimple itu, namun pada kenyataannya begitu rumit.

Iris hitam itu menelusuri kedua mataku, mencari arti yang kusimpan dalam-dalam selama ini. Mencari-cari apa yang selama ini kupendam, dan aku berusaha memberitahunya lewat tatapan semu itu, aku membalasnya, aku mencintainya. Aku ingin berteriak padanya, namun semua itu hanya tersisa di pangkal tenggorokanku, berharap saja dia mendengar jeritan itu melalui sebuah tatapan mata yang memberikan kesan kuat. Aku mencintainya.

Laki-laki itu mendekatkan wajahnya, mengeliminasi jarak yang berada diantara kami, menipiskannya dan mengikisnya, hingga hempasan napas hangatnya terasa sampai permukaan wajahku. Kedua mata elangnya menatapku intens, dia merapatkan dirinya denganku, menyatukan belah bibirku dengan miliknya, menggerakkannya perlahan dan kuberikan balasan setimpal akan permainannya, dia melakukannya halus, namun cepat.

Sebelum kami melakukan hal-hal yang lebih jauh lagi, aku mendengar suara debuman yang keras, kami terkejut, menjauhkan wajah kami secara spontan. Kami berdua menengok ke arah kanan, di sumber suara. Dibawah kusen pintu jati berwarna cokelat tua, nenek terduduk sembari mengamati kami, wajahnya sayu dan terlihat terkejut. Oh Tuhan…

Jongin langsung melepaskan cengramannya pada tanganku, wajahnya sama-sama shock dengan nenek, dia terlihat linglung dan bingung. Sedangkan aku sendiri mati rasa ditempat, enggan menebak apa yang akan terjadi di masa selanjutnya, tepatnya takut.

Jongin bergerak pelan, ia menggeser kursinya dan berdiri, pergerakannya begitu pelan, terlihat belum sepenuhnya sadar. Dia mendekati nenek namun nenek mengusirnya,

“Jangan mendekat!” teriak nenek. Beliau berusaha menetralkan napasnya yang tidak keruan, karena melihat apa yang barusan dua cucunya lakukan. Jongin memberikan tatapan khawatir dan penuh akan rasa bersalah, aku bisa memaklumi itu, dia sangat menyayangi nenek, lebih dari siapapun.

.

Tidak semua akhir dari pertemuan sepasang anak manusia yang kenyataannya saling mencintai bisa berakhir bahagia. Well, cinta tidak cukup untuk menjamin sebuah kebahagiaan. Cinta bukanlah tonggak dari segala keberhasilan.

Sejak awal, kami tahu semua ini salah, maka selamanya akan tetap salah. Sebuah kesalahan tidak dapat bertranformasi menjadi sebuah kebenaran, itu hukum yang mutlak.

Maka aku menelpon ayahku, berkata bahwa sepertinya Malibu lebih cocok denganku, disertai dengan pendapat serupa nenek, Ayah memberiku izin untuk terbang kembali ke California. Lagipula aku baru saja menamatkan pendidikan sekolah menengah. Amerika memiliki pendidikan yang lebih baik dibanding Korea, maka aku akan melanjutkan kuliah disana, untuk menghindari Jongin juga.

Ah Jongin…

Aku yakin dia akan bahagia bersama Soojung nantinya. Lagipula Soojung jauh lebih baik dibanding aku. Aku hanya angin kecil yang berhembus sejenak, membuatnya berbelok untuk menikmati semilir angin yang sementara, kemudian aku hilang. Maka setelah angin itu hilang, Jongin akan kembali ke tujuan awalnya, yaitu Soojung.

Tidak. Aku tidak mengakhiri ceritaku dengan akhir yang menyedihkan. Akhir yang tidak mengizinkan kami bersatu bukanlah akhir dari kehidupan, buktinya aku ataupun Jongin masih bernapas dengan baik. Meskipun yah, kau tahu, menyakitkan itu memang. Perlukah ku ulang jika Cinta itu kejam?

Karena menurutku, Aku akan hidup di Malibu dan menemukan kisah-kisah yang baru lagi, dengan awal dan akhir yang berbeda dan laki-laki yang berbeda pula. Dan Jongin, dia akan bahagia dengan Soojung, mungkin? Entah, aku juga tidak tahu. Siapa yang akan tahu tentang rencana Tuhan? Mungkin juga mereka akan berpisah, mungkin juga tidak. Aku hanya bisa berdo’a untuk kebaikannya.

Tapi aku tidak akan pernah menyesali kesempatakanku untuk tinggal sementara di Korea, ataupun menyesal karena mengenal Jongin, tidak sama sekali. Itu semua menambah pengalamanku dan membuatku tumbuh lebih dewasa, memahami akan sakitnya cinta agar tidak terjerumus di lubang serupa nantinya.

Yah, seperti itulah, aku harus kembali ke Malibu sekarang. Terimakasih sudah mendengarkan ceritaku, kawan. Ini sudah waktunya.

Sampai ketemu di lain waktu,

Kim Ji Won.

-FIN-

Well, aku tau ini tidak sepenuhnya sama dengan apa yang eon mau. Tapi jujur, aku bukanlah seseorang yang pandai membuat seorang perempuan menjadi agresif /? So, jadinya seperti ini.

Maaf jika penuh dengan kekurangan, saya berusaha update kilat, saya berusaha memenuhi semua request sebelum saya harus benar-benar terjun di dunia belajar, saya harus selamat di UN 2015. Masih ada satu lagi FanFic request yang belum saya selesaikan, dan itu sudah bertanggal lama sekali, tetap saja itu hutang bagi saya, akan saya selesaikan, pasti. Saya ada masalah dengan salah satu cast dari FanFic tersebut, sehingga pengepostan ditunda lagi,

XOXO, Diramadhani.

Iklan

9 pemikiran pada “[Request] Impossible

  1. Uwawwwwwww..serapi ini kmu buatx brp lama ya…hemmm
    Aq kya dengerin org yg lgcurhat..soalx berasa nyata banget dri awal sampai ending bcax
    Good dear ^^

    Suka

  2. aku tuh ya, paling benci sama kisah cinta yg ga bisa bersatu. klo kata sheila on7, kenapa harus ada derita jika ada bahagia? tp pada kenyataannya itu semua udh hukum alam. mutlak. tidak bisa di ganggu gugat. cinta sesama saudara emang ga akan pernah bisa bersatu. hanya 1% cinta mereka yg bisa bersama. author, thank you untuk tulisannya yg luar biasa. dan buat cca tury, keren bgt ide ceritanya 🙂

    Suka

  3. Ping balik: Unrequited #1 | EXO FanFiction Indonesia

  4. Tetep! yang buat aku salut sama tulisan kamu itu adalah diksinya, Dek Dira hahaha.
    Sumpe deh, soal gaya bahasa menulis aku kalah jauh dari kamu. hhaha

    Dan aku ga nyangka kamu bakal make orang pertama di FF ini, dengan cakupan cerita yang agak luas kamu juga bs ngerangkupnya jadi oneshot yang menarik. Sumpah aku suka FF ini haha.
    Dan lagi tetep ya Oh Sehun ga pernah ilang dari semua FF buatan dek Dira, ada-ada aja nyelipnya dikit -___-

    btw, makasi udah nyempet-nyempetin waktu untuk buatin ide cemerlangku jadi FF yang menarik hahaha…
    Love you full dah hahaha

    Suka

    • Jezz…

      aminin aja lah /claps/ kegiatan yang harusnya dilakukan adalah “mari memperbanyak diksi” heum…

      Aku lebih nyaman make sudut pandang orang pertama, terasa lebih ngefeel dimanapun aku membuatnya. Karena aku berusaha meringkasnya menjadi oneshot, bagaimanapun, aku tak dalam kondisi membuatnya menjadi panjang 🙂

      Well, kenapa Oh Sehun harus disebut2??? Okay, sekali cinta tetap cinta dan akan terus cinta kakak, xD. Sayang sekali dalam sebuah Oneshot tidak memasukkan namanya, kurasa itu wajib 😀

      Okay, makasih juga kasih ide cemerlang ini ke aku, 😀

      Suka

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s