Snowflower 1st Chap : Ain’t Same

Snowflower

Written by Diramadhani And Starred by Park Chanyeol & Bae Suzy

Genre :  Angst, Romance

©Fanfic & Plot are mine. The Cast(s) are belong to God, their agency, and Their family.

Chapter One : Ain’t Same

_________________________

Aku memasang jas bewarna putih diatas kemejaku, sembari melangkah pelan membiarkan suara menggema oleh sepasang sneakersku, Sehun menghalangi jalanku tadi pagi, laki-laki itu berkata bahwa ada seorang pasien yang menunggu.

Kugeser pintu dengan cat bewarna putih pembatas ruangan perlahan, memperlihatkan dua orang laki-laki dewasa, yang salah satunya langsung menyambut kedatanganku. Laki-laki itu tersenyum ramah.

“Namaku Park Yoochun. Dan benar, aku yang menelponmu semalam.” Laki-laki itu memberikan tangan kanannya, menantikan jabatan tangan dariku.

“Aku Dr. Bae Suji. Ada yang bisa kubantu?” tanyaku pelan, laki-laki itu duduk di bangku yang dibatasi oleh meja kayu berukuran satu kali dua meter dariku.

Dia menghempaskan napasnya perlahan, kemudian menggerakkan kepalanya kesamping, menunjukkan seorang anak laki-laki dengan rambut hitam legam duduk di kursi rotan yang menghadap jendela, kedua tangan laki-laki itu terkepal dan kepalanya tertunduk, terlihat begitu tertekan.

“Namanya Park Chanyeol. Dia adikku.” Ucap Yoochun pelan. Kakak laki-laki itu mengusap rambut adiknya yang masih tidak mau mengangkat kepala, penuh sayang dan lembut. Aku menarik kongklusi bahwa Park Yoochun adalah seorang kakak impian dari sikapnya.

Aku melirik anak laki-laki itu, jika diperhatikan postur tubuhnya saat duduk, aku yakin dia memiliki tinggi badan yang bahkan melebihi kakaknya sendiri.

“Kau sudah pernah membawanya ke dokter sebelumnya? Dia sakit apa?” tanyaku hati-hati.Yoochun menggelengkan kepalanya, ia mengusap rambut bergelombang milik adiknya, bercerita tentang kesehariannya merawat seorang Park Chanyeol, hingga akhirnya dia harus menikah. Ia tidak mungkin membebankan Chanyeol kepada istrinya, itu sebabnya kakak laki-laki ini membawa Chanyeol padaku.

Aku mengangguk mengerti, dan laki-laki itu berpamitan padaku.

.

Laki-laki ini bernama Park Chanyeol. Usianya kira-kira seperempat abad lebih dua tahun. Postur tubuhnya sangat tinggi, bahkan hal itu dapat kau lihat ketika dia melengkungkan punggungnya. Dia melakukan segala hal tidak lagi sama dengan orang normal. Termasuk ketika duduk. Laki-laki itu menjauhkan punggungnya dari sandaran rotan, dan meletakkan badannya di bagian paling ujung kursi.

Laki-laki itu tidak pernah berhenti meremas ujung kemejanya, atau mengepalkan jemarinya hingga buku-buku jari itu memutih.Bibir laki-laki itu terlipat –khas balita berusia empat puluh delapan bulan yang sedang merajuk pada ibunya.

Aku berjalan mendekat ke arahnya, dan kurasa laki-laki  itu menyadari kehadiranku. Punggungnya yang melengkung ia luruskan. Kedua iris matanya yang bening –persis seperti milik anak-anak, berseturu tatap denganku.

Entah apa yang laki-laki itu pikirkan tentang diriku, dia mengarahkan pandangnya padaku begitu lama. Hingga kedua mata bersinar elok itu meredup, dan dia mengalihkan tatapannya dariku.

“Hai, Chanyeol…” Sapaku halus. Namun laki-laki itu tetap diam dan melirikku sinis. Dia kemudian tertawa keras-keras.

“Jika kau datang hanya untuk menyakiti Yeen, maka jangan pernah berpikir aku akan membiarkanmu.” Ucapnya, dengan nada penuh akan sarkasme.Ah, Yeen.

Yoochun bilang, Chanyeol sering menyebut-nyebut seseorang bernama Yeen. Yoochun menambahkan bahwa ia belum pernah mendengar nama Yeen disebutkan oleh Chanyeol di masa lalunya. Mungkin, Yeen lah penyebab semua ini dibebankan pada Chanyeol.

Aku tak tau, mungkin hanya Chanyeol yang mengetahuinya.

“Aku ingin pulang.” Begitu ucapnya, bibirnya terlipat dan kedua matanya menatapku penuh harap. Dia memegang kedua lenganku,

“Yeen pasti kesepian dan merindukanku.” Ucapnya pelan, laki-laki itu menampilkan wajahnya yang merengek. Aku menghela napasku berat.

“Siapa Yeen, Yeol?” tanyaku hati-hati. Namun laki-laki itu justru menundukkan wajahnya.

“Aku mau pulang, Yeen merindukanku…” ucapnya lagi. Kedua matanya yang penuh kilauan hitam persis seperti anak-anak menatap lurus keluar, ke arah taman rumah sakit. Menelusuri dedaunan berwarna cokelat tua yang membelai jendela. Laki-laki itu tersenyum dengan senyumannya yang paling lebar, menunjukkan seluruh deret gigi depannya.

“Tempat yang indah. Yeen pasti senang jika aku mengajaknya kemari.”

Yeen. Laki-laki itu terus mengucapkan nama yang sama, seolah-olah semua yang berkaitan dengan orang itu mengganggunya. Seolah-olah orang itu segalanya, yang apabila dia terluka, akan sangat menyakitinya. Apa Yeen lah kunci dari semua masalah ini.

.

“Bagaimana dengan pasienmu?” Soojung duduk diatas mejaku sambil menyesap kopi dari mugnya. Aku mengedikkan bahuku. “Tidak ada yang aneh. Hanya pasien laki-laki berbadan tinggi yang tidak berhenti menyebut nama Yeen.”

Soojung mendelik, iri. Dia bercerita pada kami tentang pasiennya yang tidak berhenti berteriak-teriak. Seorang wanita berusia empat puluh tahun yang konon kehilangan anak semata wayangnya, dan berakhir disini.

“Aku bahkan harus menyuntikkan LSD* padanya.” Ucap gadis itu, dia menumpukan dagunya diatas kedua tangannya yang terkepal. Soojung juga menunjukkan bekas cakaran ditangannya, dia meringis sakit ketika menunjukkan tiga goresan berwarna merah itu, membuat Oh SeHun langsung bertindak berlebihan dan menanyainya macam-macam, seperti “Apa kau baik-baik saja?”Oh Ayolah, itu hanya luka kecil.

“Bagaimana denganmu, Hun? Ada masalah dengan pak tua itu?” SeHun menatapku sejenak, psikiater bertubuh tinggi, berwajah angkuh dan sedikit konyol itu menggeleng pelan.

“Tidak ada masalah. Seperti biasa, ia menangis.” Ucapnya. Ia mengambil roti isi daging dan menggigitnya pelan. Soojung menghempaskan napasnya, ia melirik arloji berwarna putih gading yang melingkar di pergelangan tangannya dan berpamitan pada kami, ada beberapa pasien yang masih harus ia tangani.

SeHun langsung mengejarnya, tanpa berpamitan padaku. SeHun adalah dokter yang sangat dihormati, dia memiliki sangat banyak pasien. Cara berpikirnya dalam menghadapi pasien sangat matang, meskipun kepada orang normal, dia bisa dibilang sedikit mengesalkan, karena sikapnya yang konyol dan angkuh.Aku menaruh susu kotakku dan meletakkan di meja kerja. Terkadang menjaga kesehatan tulang itu penting –well, memang berlebihan. Kemudian, mengikuti langkah kedua rekan kerjaku untuk menjenguk pasienku, salah satunya pasien yang terus menyebut nama Yeen tadi.

Kubuka perlahan pintu pembatas dua ruangan itu, kutarik pegangannya yang berwarna abu-abu. Dan benar, laki-laki itu masih disana –tidak lagi duduk diatas kursi rotan dengan posisinya yang menurutku sedikit tidak biasa, namun dia berdiri tegak menghadap taman rumah sakit. Punggungnya tegak dan juga terlihat kokoh, dia tidak sama dengan laki-laki yang tadi merajuk menyebut nama Yeen.

Aku mendekati laki-laki itu pelan, berusaha tidak menimbulkan suara decit dari pertumbukan ujung sepatu dengan lantai. “Park Chanyeol?”

Laki-laki itu membalikkan tubuh tingginya, kedua mata bulatnya menatapku dari ujung sneakersku, kemudian lututku, jas putihku, dan sampai di wajahku. Kemudian laki-laki itu tersenyum ganjil. Dia berdecih sinis.

“Jadi, Yoochun benar-benar membawaku kemari, huh?” ucapnya, seolah-olah menahan tawa keras-keras. Aku mengerutkan dahiku, dia benar-benar bukan laki-laki yang terakhir kalinya kutemui. Laki-laki itu menatap keluar lagi, menghempaskan napasnya kuat-kuat.

“Sudah kuduga, istrinya pasti tidak sudi merawat orang tidak waras sepertiku.” Ucapnya lagi, air wajahnya berubah warna. Dia benar-benar tidak terlihat seperti orang yang mengalami masalah kejiwaan, sungguh tidak.

Ia menegakkan punggungnya, menatapku lama. “Kau tidak bertanya siapa Yeen kan? Akupun tak tau,” Ucapnya lagi. Tatapan mata berkilau laki-laki itu menerawang keluar.

“Kau, apa kau psikiater yang menanganiku?” tanyanya, penuh penekanan. Aku menautkan alisku, satu kesimpulan yang tiba-tiba ku dapat, Laki-laki ini memiliki dua kondisi, dan ini yang dinamakan kondisi dia sepenuhnya sadar, dia bisa diajak bicara hal-hal yang logis dan realistis.

“Eh? Eum… Namaku Bae Suji.”Laki-laki itu tersenyum tipis, kemudian mengangguk pelan.

“Kau baik-baik saja? Apa kau tau apa yang terjadi padamu?” tanyaku pelan, penuh kehati-hatian. Laki-laki itu menatapku sejenak, dia menghempaskan napasnya lagi, entah sudah yang keberapa kalinya dia melakukan itu, pikirannya terlihat jauh dari sini, laki-laki itu, pasti banyak hal yang dia sedang pikirkan.

Aku ingin menanyakan tentang Yeen, tapi dia bilang dia tidak tau. Mungkin memang belum saatnya aku bertanya –atau tepatnya dia belum siap menjawabnya.

“Entahlah.” Dia mengedikkan bahunya. “Aku tidak tau dan aku tidak ingin tau apa yang telah menghancurkan kehidupanku.” Ucapnya lagi, benar-benar pelan. Aku menatapnya, penuh rasa simpatik.

“Maafkan aku mendengar itu, aku akan berusaha sebisaku. Kau akan sembuh.”

“Begitukah?” tanyanya, terdengar agak ragu. Dia menaikkan satu alisnya keatas, dia mendudukkan dirinya diatas kursi rotannya, duduk layaknya orang lain, menaruh punggung kokohnya diatas sandaran kayu rotan. Kemudian menatapku lagi, jelas sekali keraguan disana.

“Iya, kau tau, aku seorang dokter. Itu tugasku.” Ucapku pelan, dia tertawa lagi.

“Kalau begitu, lakukan apa yang kau bisa lakukan.”

.

*

LSD : Singkatan dari Lysergic Acid Diethylamide. Sejenis narkotika yang digunakan dunia medis untuk menenangkan pasien dengan gangguan jiwa. Cara kerjanya adalah merilekskan otot-otot yang tegang.

Iklan

6 pemikiran pada “Snowflower 1st Chap : Ain’t Same

  1. Waah aku first yaaa hihi
    Jadi chanyeol dsni gangguan jiwa atau kesurupan sih thor kekkeke
    kog sbntr normal sbntr aneh
    kepribadian ganda kah?
    Nanti chanyeol sm suzy cinlok ya?
    Waahh~👏
    Aku tunggu chapt selanjutnya ya thor
    Keep writing!!♥♥

    Suka

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s