Endless Love

endlesslovee

Endless Love

“My Love won’t be ended even if you don’t have same feeling for me.”

Oh SeHun form EXO And Original Character (OC)

Disclaimer : “I don’t own anything beside the storyline. SeHun is belong to himself, his parents, and God. The character doesn’t reflect to his real life.”

A FanFiction by Diramadhani.

_____________________

.

.

.

.

Namanya Seyoung.

Gadis yang berdiri disana, dengan wajah seriusnya yang indah. Hidungnya mungil, bibirnya tipis, dagunya yang indah, kedua matanya yang berbinar cemerlang, sangat cantik. Kedua mata itu seolah-olah adalah jelmaan dari bintang-bintang yang bertaburan di langit, bersinar terang, berkelip dan menawan.

Di tangan kanannya terdapat sebuah buku bersampul cokelat tua. Seperti warnanya, buku itu sudah cukup lama disimpan di perpustakaan ini, namun kelihatannya masih mampu menarik atensi dari gadis itu, sungguh buku yang sangat beruntung untuk mendapatkan tatapan mata menawannya. Aku iri, iri sepenuhnya pada buku cantik itu, buku yang mampu mendapat tatapan mata dari seorang Seyoung. Sedangkan aku tak mampu.

Mengamatinya dari jauh seperti ini, bagiku sangat cukup.

Bagaikan bunga matahari yang berada di halaman rumah yang rendah, dan sang matahari yang bersinar terang menguasai langit nan jauh dan tinggi. Dan bunga matahari kecil itu terus menatap kepada matahari sepanjang waktu, namun matahari tidak pernah menyadarinya, meskipun sang bunga matahari menatap dia sepanjang hidupnya.

Namun bunga matahari selalu itu beruntung, karena diberi kesempatan untuk mendapatkan sinar cemerlang dari sang surya, diberi kesempatan berharga untuk mengamati cahaya benderang yang terpancar oleh sang raja siang.

Itulah pengibaratan aku dan dia.

Ketika aku berdiri di balik rak-rak buku yang menjulang tinggi, mengamati wajahnya yang serius membaca per frasa dari dalam buku-buku itu, aku tak akan lupa berhenti tersenyum. Mungkin dia tak pernah tau aku berada disini, dia tak pernah menyadari eksitensiku. Namun tak masalah, bagiku melihatnya sudahlah cukup.

Terkadang dia memilah tempat yang dekat dengan jendela perpustakaan, membuka udara luar untuk masuk ke dalam perpustakaan yang pengap, membiarkan anak-anak rambutnya yang berwarna cokelat madu terbawa pelan oleh hembusan angin, bergoyang-goyang dengan irama yang indah.

Jemari lentiknya menggeser tiap lembar buku itu, tanpa mengubah tatapan matanya yang bersinar terang, sembari terus menggerakkan bulir mata hitamnya ke arah tulisan yang tersusun rapi di dalam sana.

Dengan sepasang mata yang selalu terhipnotis untuk mengarahkan perhatian padanya, aku terus menatap gadis itu, meskipun tatapannya bukanlah untukku –dan tidak akan pernah menjadi untukku, aku senang, setidaknya aku masih bisa melihatnya dengan kedua mata ini, melihat keindahannya.

Meski aku tahu, bahkan buku tua dengan tanggal lama itu itu memiliki keberuntungan jauh lebih baik dariku.

.

Gadis itu terdiam, atensi tatapnya terarah pada sebuah cokelat batang berbalut pita yang berada di tangan lentiknya. Senyumannya merekah, menunjukkan sisi dirinya yang paling indah, kedua matanya berbinar-binar cemerlang.

“SeHun! Seseorang mengirimiku ini!” serunya, sekeras mungkin. Gadis itu menunjukkan padaku cokelatnya dengan wajahnya yang penuh akan sarat kebahagiaan. Aku turut tersenyum, kemudian menatap cokelat itu lama, aku tahu. Aku tau harganya, aku tahu dimana membelinya, dan aku tahu siapa yang membelinya. Orang itu adalah aku.

Siang tadi aku menaruhnya di loker Seyoung, bersembunyi dan melihat betapa cerahnya ia mendapatkan cokelat tersebut, dia selalu meng-klaim cokelat sebagai makanan terfavoritnya.

Dia kemudian mengupas kertas yang membungkus cokelat itu dan memakannya ceria, dia selalu memiliki aura yang membuat siapapun di sekitarnya turut tersenyum, terutama aku. Seyoung menyantap cokelat itu dengan sepenuh hatinya sembari mendudukkan diri diatas kursi belajar, sembari sesekali membalikkan halaman buku yang ia baca.

Setelah menghabiskan cokelatnya, ia akan kembali belajar seperti biasanya. Dia selalu berusaha meraih peringkat terbaik di sekolah. Dia juga anak yang sangat menyukai membaca, kepribadiannya ceria, ramah serta santun membuat semua orang menyukainya. Dia memiliki sinar yang tak tertolak.

“Noona?” panggilku.

Dan gadis itu menatapku, sembari bertanya ada apa. Selanjutnya aku akan menggeleng sembari tersenyum, melihat wajah penuh tanyanya itu sangat menyenangkan bagiku, dia selalu indah bagaimanapun ekspresinya.

“Kau suka sekali mengerjaiku seperti itu, SeHun.” ucapnya, setengah bercanda. Kemudian tatapannya kembali beralih ke arah buku-bukunya lagi, sedangkan aku akan tersenyum diam-diam. Hal seperti itu sangat sering kulakukan, mengingat kami tinggal di bawah atap yang sama. Di atas tanah yang sama, tanpa sekat pembatas apapun.

Tapi itu tak berarti dia dekat, justru karena hal itu, dia terasa begitu jauh bagiku.

Seyoung kakak perempuanku. Itu kuncinya.

.

Hujan.

Entah mengapa, aku tidak begitu menyukai hujan.

Ketika mega mendung menutup mentari menyinari permukaan bumi, sembari menjatuhkan tiap tetes air yang mengalir deras ke permukaan bumi. Artinya tidak ada lagi cahaya matahari, dan itu membuat sang bunga matahari akan kehilangan kesempatan untuk melihat sinar menakjubkan yang menjadi satu-satunya keberuntungan baginya. Lagi-lagi aku memikirkan matahari dan bunga matahari itu, entah kenapa aku hanya merasa pengibaratan itu benar-benar cocok untuk kami.

Ku buka payung berwarna biru milikku yang baru kubeli tadi siang, ketika mengetahui ramalan pasti akan terjadinya hujan.

Namun kututup payungku lagi ketika melihat sosok lain di sana, hendak pula meninggalkan sekolah. Dan aku yakin, dia tidak membawa payungnya. Ku hempaskan napasku, menyesal membeli payung berukuran kecil yang mustahil melindungi dua tubuh secara bersamaan.

Dengan diam-diam dan hati-hati, kuletakkan payung itu di dekatnya, ketika dia tidak melihat –sibuk mencermati ponselnya. Aku kemudian berlari secepatnya, menembus hujan tanpa pelindung. Hujan lebat di musim gugur yang dingin, hujan yang memburamkan penglihatan. Ku lalui semua itu, hingga sampai di rumah.

Eomma langsung memarahiku karena aksi nekat yang aku lakukan, menanyakan bagaimana bisa aku tidak membeli payung sembari mengusap wajahku dengan handuk, dan lima belas menit kemudian, Seyoung datang dengan payung biru –milikku. Dia menatapku khawatir, bertanya apakah aku tidak apa-apa, kenapa tidak mencarinya –agar bisa pulang bersama, tapi aku hanya menjawab, “Aku baik-baik saja, Noona. Jangan khawatir.” Bersama dengan sebuah senyum yang kubuat meyakinkan.

.

Seyoung sering menyuruhku untuk pulang terlebih dahulu jika dia memiliki tugas atau pelajaran tambahan di sekolah, yang akan merenggut waktu hingga malam menjelang.

Tapi ingatlah, aku Oh SeHun. Aku tidak akan sanggup membiarkan gadis rapuh dan indah seperti Seyoung berjalan sendirian di tengah gang sepi yang dingin mencekam, pencahayaan minim dan rawan akan tindak kekerasan.

Aku akan menunggunya di dekat gerbang, sembari menyumpal telingaku dengan headset, menunggu gadis itu keluar dari ruang kelasnya, bahkan jikapun harus menunggu dari pukul dua siang hingga tengah malam, akan aku lakukan.

Ketika langkah kaki-kaki jenjang itu berjalan pelan diantara gang-gang yang sempit, aku juga akan berada disana, melindunginya dari belakang, tanpa pernah dia sadari. Memandang punggung yang berjalan semakin jauh, mengikutinya perlahan, memastikan gadis itu selalu mendapatkan keamanannya.

Terkadang dia akan mengeratkan jaketnya sendiri, agaknya udara dingin malam yang mencekam ini mengganggunya, disaat itu hal nomor satu yang ingin aku lakukan adalah memeluknya, aku tau itu adalah gagasan yang sangat bodoh. Atau mengeluarkan senandung lirih yang terdengar nyaman namun menyedihkan, aku tau dia tidak suka sesuatu yang sepi, ingin saja aku muncul, mengeluarkan beberapa lelucon garing namun setidaknya dia akan tertawa, tapi tentu itu adalah gagasan yang sama bodoh dengan yang sebelumnya, mimpi saja sana, kau Oh Sehun.

Terkadang aku menyesal menjadi adiknya. Atau sekedar menyesal diumpamakan dengan bunga matahari, meskipun sebenarnya aku sendiri yang menciptakan perumpamaan itu, sih. Punggungnya terlalu menggugah untuk direngkuh, terlihat rapuh, apalagi saat kelelahan seperti ini.

Aku selalu menjaga jarak sebaik mungkin darinya, agar dia tak pernah tau aku sedang mengikutinya, berusaha melakukan hal konyol –menjaganya dari belakang, menjaga sembari menatap punggung kecilnya tanpa dia tahu. Dan ketika dia sudah mencapai tempat-tempat ramai yang kupastikan dia akan aman, aku akan berlari mendahuluinya ke rumah, membanting diri diatas ranjang dan berpura-pura tidur.

Pernah suatu hari, aku melihat dua orang preman bertubuh besar –agak sedikit jauh dari Seyoung, hendak menangkapnya dari belakang, tengah malam seperti itu. Aku melempar preman itu dengan sebuah batu, sehingga atensi mereka terarah padaku, dan Seyoung menyadari keberadaan mereka kemudian dia akan berlari –tanpa sempat melihatku.

Dan selanjutnya, masalah akan berpindah padaku. Aku tidak gila dengan melawan mereka semua sendirian dengan tangan kosong, jadi aku berlari. Sayangnya, mereka berhasil menangkapku dan kemudian memukulku, menendangku sampai mereka puas, dan kemudian pergi.

Aku tidak pulang ke rumah hari itu, namun dengan sedikit paksaan memenceti bel rumah Kai tengah malam yang membuat laki-laki berkulit gelap itu mendiamkanku selama berhari-hari, meskipun dia memberikanku tumpangan dan membantuku mengobati luka.

Memang sakit, namun ketahuilah… Apapun akan kulakukan. Untuk Seyoung.

.

Seyoung sangat bersinar diatas sana, diatas podium mengucapkan pidato kelulusan dengan senyuman kebanggaannya, kudengarkan secara cermat suara halus itu mengucapkan tiap kata yang telah terangkai, kemudian dia tersenyum pada seluruh orang, mengucapkan terimakasih dan memamerkan pialanya.

Gadis cantik itu adalah kakakku. Kakak. Ya, kakak. Dan selamanya akan menjadi kakakku. Tidak akan pernah lebih.

Kakak yang bagaikan matahari untuk adik sekuntum bunga matahari di atas tanah yang rendah.

Cinta memang salah jika kutujukan perasaan ini padanya. Tidak wajar. Gila. Dan juga tabu.

Tapi salahkah aku jika aku hanya menyimpannya untuk diriku sendiri? Aku bahkan tidak pernah memberitahunya tentang eksitensi perasaan ini. Dia tak pernah tau. Dia tak pernah menyadarinya.

Dia tak pernah melihat bagaimana rongga dadaku yang hampir meledak ketika melihatnya tersenyum dengan senyumannya yang selalu jadi terindah bagiku. Dia tidak pernah mengerti bagaimana darahku berdesir setiap mendapat sentuhan tangannya yang halus. Dia tak tau bagaimana kedua mataku tidak pernah berhenti menatap wajahnya. Dia tidak pernah sadar jika aku menyembunyikan satu hal yang sangat besar padanya. Cinta ini. Dia tak pernah mengetahuinya.

.

Setelah aku menuaikan pendidikanku, semuanya terlihat baik-baik saja, aku meneruskan perusahaan ayah, tentu.

Tak ada masalah dengan itu, hanya yang paling menggangguku adalah keputusan Seyoung untuk menikah, dia benar-benar tidak pernah mengetahui perasaanku, bahkan setelah sekian tahun terlewat. Ya, mungkin aku hanya adik kecil yang manis baginya. Bunga matahari yang tak terlihat oleh sang surya.

Seyoung menikah dengan seorang lelaki yang tampan. Laki-laki yang berhasil meraih perasaan dan hati Seyoung dengan mudah. Aku iri padanya –oh lihatlah, segala yang berkaitan dengan Seyoung bahkan bisa membuatku menjadi makhluk penuh akan rasa iri.

Gadis itu bersama dengan calon suaminya, berdiri di altar, mengucapkan janji suci yang berharga untuk kehidupan mereka kedepannya. Meremukkan hatiku yang dari dulu memang sudah tidak berbentuk lagi, disanalah puncaknya dimana aku merasakan luka yang paling dalam seumur hidupku.

Menarik air mataku untuk keluar, namun tak kubiarkan mereka menetes, kudongakkan wajahku, kutarik kedua ujung bibirku, aku akan tersenyum di sebuah hari yang membahagiakan bagi kakakku sendiri. Aku tidak akan menangis sekalipun tenggorokan ku terasa sangat sakit menahannya, ada sebuah hasrat yang mendesak untuk dikeluarkan, namun kutelan mentah-mentah mereka semua.

Dengan bibir yang selalu mengucapkan kata-kata halus, indah dan menawan itu, Seyoung tersenyum padaku, melambangkan kebahagiaan yang paling besar yang ia dapat, hendak membaginya denganku, jadi aku tersenyum. Menghargai apa yang ia coba berikan padaku, meski itu justru menyakitkan. Meski itu justru membuatku semakin merasa sulit. Namun ketahuilah, kekuatanku untuk tetap melanjutkan setiap hempas napas itu berada padanya, pada Oh Seyoung. Jadi, meski aku tidak bisa meraih matahari yang jauh, aku akan tetap bisa hidup dengan menghadap matahari itu, lagi-lagi perumpamaan yang sama.

Ketika sang lelaki beruntung mencium bibir Seyoung, kualihkan tatapanku, agaknya karpet berwarna merah maroon itu jauh lebih menarik dibanding dengan pemandangan diatas sana. Semua orang bersorak sorai bahagia, seseorang yang memiliki sinar terang itu telah melewati satu lagi hari bahagia, ku gerakkan kedua tanganku, turut bertepuk tangan dengan hati yang remuk, rasanya jantung yang berada di dada kiriku hendak meledak, menyuarakan jeritan tidak rela sekeras mungkin, kedua tanganku terkepal, hingga rasanya aku melukai tanganku dengan kuku-kuku tajamku, menahan hasrat untuk tidak mengacaukan pesta ini –SeHun, ini pernikahan kakakmu, tunjukkan senyummu yang paling merekah,

Aku menatapnya, penuh akan sarat kesenduan, kutundukkan wajahku, berusaha menutupi perasaan yang tak ayal menggebruk diriku sendiri dalam diam. Tak ada yang tau, dan memang seperti itulah yang paling benar. Inilah jalan yang paling tepat. Aku harus menjalaninya, karena aku mencintainya.

Seyoung noona, apapun yang terjadi, ketahuilah bahwa aku akan selalu mencintaimu.

.

Janji itu bukanlah sebuah bualan semata.

Hari itu kami pergi liburan, aku, Seyoung, suami juga anaknya yang sialnya begitu mirip dengan Seyoung, berwajah indah dan sangat menawan, dia perempuan, memandangnya membuatku seolah-olah melihat replika Seyoung dalam ukuran kecil.

Busan adalah tujuannya, dan akulah yang menyetir. Perjalanan cukup menyenangkan, tanpa hambatan. Diisi dengan candaan Seyoung dan anaknya, aku akan sekali-kali tersenyum merespon candaan mereka.

Namun sayang, perjalanan itu tidak berakhir dengan baik. Mobil yang aku setir menabrak mobil lain, aku sudah berusaha membanting stir agar Seyoung dan keluarganya selamat, membiarkan bagian depan –tempatku duduk menjadi bagian yang paling parah.

Kurasakan rasa basah yang mengalir lancar di keningku, kaki-kakiku tidak lagi terasa, kedua mataku memburam, napasku tidak lagi teratur, tak tau apa yang terjadi dengan denyut nadi dan jantungku, satu hal yang terselip, menjadi beban pikiranku saat itu, satu nama, Oh Seyoung, atau tepatnya Kim Seyoung setelah dia menikah, mungkin selanjutnya aku tak akan bisa melindunginya lagi… dan yang kutau adalah aku yang mulai kehilangan kesadaranku setelah beberapa sekon terlampaui,

dan mungkin juga….

napasku.

.

.

.

.

Angin dingin yang baru saja datang menyelip ke dalam kamar kecil itu, menembus jendela yang sengaja di biarkan terbuka. Membiarkan gordyn berwarna hijau itu berkibar-kibar, kemudian menerpa ujung rambut cokelat seorang gadis.

Gadis itu berusaha membuka sepasang mata doenya yang berkilauan, sangat perlahan, tangannya bergerak secara pelan-pelan. Dan dengan sepasang mata yang selalu dikagumi oleh Oh SeHun, dia berusaha menetralkan cahaya yang masuk ke dalam retina miliknya, gadis itu hanya terdiam untuk beberapa saat. Dan pertanyaan pertama yang ia ajukan adalah, “dimana aku?”

Kemudian beberapa orang datang memasuki ruangan itu, berbagai ekspresi yang nampak di wajah mereka, ada yang menangis, ada juga yang tersenyum –sangat bahagia. Dan Seyoung tidak mengenal satupun diantara orang-orang ini. Dia tak pernah melihat mereka sebelumnya. Dan pertanyaan kedua yang ia ajukan adalah, “siapa kalian?”

Kemudian seorang lagi, dengan raut serius dan jas berwarna putih mendekatinya, melakukan hal-hal yang aneh padanya, juga menanyainya macam-macam, yang ia sadar keseluruhannya tidak bisa ia jawab dengan baik. Terbukti dari raut orang-orang itu yang berubah menjadi kecewa.

Setelah itu, orang dengan jas putih tadi berkata “Seyoung mengalami amnesia permanen. Ingatannya tidak akan kembali. Apa yang terjadi di masalalu dia tidak ingat, namun setidaknya dia masih ingat jati dirinya sebagai seorang Seyoung, juga ia masih dapat bicara dengan baik. Semoga keluarganya dapat bersabar.” Dan Seyoung tak tau apa maksudnya. Amnesia itu apa?

“Juga, jangan memaksakan ingatannya, itu akan berdampak lebih buruk. Jangan beri tahu dia tentang masa lalunya, tunjukkan saja padanya masa depan. Jangan ingatkan dia tentang siapapun yang tinggal di masa lalunya dan tak kan ada di masa mendatang, demi kebaikannya.”

Seyoung terdiam, tatapannya kosong terhadap orang-orang itu, dia menikmati sinar mentari yang masuk melalui jendela kamarnya, perasaan rindu membuncah pada sinar mentari yang terang seperti ini, ia jadi ingin bertanya, berapa lama ia tertidur?

Beberapa belah dari ujung hatinya terasa linu, ada beberapa bagian yang menghilang, menurutnya hampir kesemuanya telah hilang, ia juga tak tau lenyap kemana mereka semua. Seolah-olah ada yang benar-benar mengganjal baginya.

Gadis itu tetap diam, ketika burung gereja bertengger di kusen jendelanya, burung-burung itu seolah-olah berusaha mengajaknya bicara, dengan bahasa yang tidak Seyoung mengerti, dahinya berkerut, burung itu benar-benar berusaha memberitahunya sesuatu, mungkin yang hilang itu. Ekspresi burung itu seolah memaksanya untuk tau, memaksanya untuk memahami.

Namun Seyoung tak pernah memahami bahasa burung. Jadi ia tidak menangkap apapun yang burung itu coba katakan padanya. Sehingga ia tetap terdiam, menatap bunga matahari yang di tanam di halaman rumah sakit. Bunga matahari yang terlihat fokus menatap sang mentari diatas sana, melihat bunga itu, sesuatu menghantam perutnya, begitu keras. Tapi ia tak tau apa yang terjadi.

Ia tak tahu apapun.

Seyoung tak pernah tau bahwa ada seseorang yang selalu melindunginya dari belakang.

Seyoung tak akan pernah mengingat bahwa ada seseorang yang selalu berusaha membuatnya tersenyum. Tak akan pernah mengingat bahwa ada seseorang yang sempat menggeledah pintu hatinya, mengetuknya, namun Seyoung tidak pernah membukanya –tidak bisa.

Seyoung tak akan pernah mengingat bahwa dulu pernah ada seseorang yang selalu berusaha menyembunyikan rasa sukanya, namun orang itu terlalu bodoh, tentu saja Seyoung mengetahuinya serta dia tak bisa melakukan apapun, selain berpura-pura tidak tau.

Seyoung tak akan pernah mengingat bahwa dia pernah memergoki seorang laki-laki dengan hidung mancung, kulit putih, rahang tegas, dan bibir tipis yang tampan tengah meninggalkan sebatang cokelat di lokernya.

Seyoung tak akan pernah mengingat bahwa dia pernah melihat seorang laki-laki dibawah hujan lebat tanpa perlindungan apapun tidak payung tidak jaket, karena payungnya ditinggalkan untuk Seyoung.

Dia tak akan pernah mengingat bahwa dia pernah menyaksikan seorang Oh SeHun dipukuli oleh preman-preman hingga mendapat luka disekujur tubuhnya –demi melindungi dirinya yang bodoh –dirinya yang tidak berguna.

Seyoung tak akan pernah mengingat tatapan sedih yang terpancar dari iris gelap menawan milik adiknya sendiri ketika dia memilih menikah.

Seyoung tak pernah mengingat rasa sakitnya mengetahui ia tak bisa membalas perasaan adiknya, melihat SeHun dipukuli oleh preman-preman karena dirinya dan dia tak bisa melakukan apapun, melihat SeHun berlari di bawah hujan tanpa pelindung, melihat tatapan terluka SeHun ketika dia menikah, dan dia tak mengingat betapa ia ingin memeluk anak laki-laki yang terlihat sok kuat itu, yang bisa-bisanya menunjukkan senyuman padanya di sebuah hari sakral yang Seyoung sendiri tidak menginginkannya dalam artian sesungguhnya.

Sedangkan dia bisa hanya terus bisa melukainya, melukai laki-laki itu, dan bodohnya anak itu tidak berhenti untuk tersenyum padanya, seolah tak terjadi apa-apa.

Dan Seyoung tak akan mengingat bahwa dia pernah mencintai seseorang bernama Oh Sehun dalam diamnya.

Seyoung tak akan mengingat SeHun yang telah tertidur panjang di bawah tanah dengan tenang.

Seyoung tak lagi mengingat bahwa dia memiliki seorang adik bernama Oh SeHun. Tak akan ingat bahwa ada seseorang yang mengorbankan nyawanya demi dia. Seyoung bahkan tidak pernah tau bahwa ada seseorang yang sangat mencintainya, lebih dari siapapun.

Tak pernah tau jika di dunia ini pernah hidup dan bernapas seseorang bernama Oh SeHun.

Seyoung tak mengingatnya, dia tak mengingat Oh SeHun lagi. Tak mengingat orang yang mencintainya sampai dia mati. Dia tak akan pernah tau, bahwa dia telah kehilangan Oh SeHun, seseorang yang sangat berharga baginya –bagi hatinya.

Selamanya.

.

“[Kuharap, Seyoung noona bisa hidup dengan baik dan bahagia]” –doa terakhir SeHun sebelum dia memejamkan mata, selamanya.

.

.

.

A Sad ending FanFiction

Apa kalian dapat feelnya? xD

Well, hanya sebuah sad ending FanFiction biasa. Yeah, kalian harus tau, FF ini pernah ku share dengan tokoh yang lain. No, bukan di wordpress. Kalian akan tau jika berhasil menemukanku dengan nama yang lain, sedikit aneh memang. Tapi, begitulah.

By the way, thanks for reading, all.

Love ya!

Iklan

4 pemikiran pada “Endless Love

  1. Dari awal aku baca judulnya aku udh nebak klo ini incest, and see…

    Aku semakin yakin klo ini incest pas baca kalimat pertama yg meninformasikan nama oc yg rada mirip Sehun. Biasanya ff incest yg aku baca pasti akhirnya bisa bahagia. Tp ff ini nggak, salut ama eonni yg bisa bikin ff kyk gini *.lap ingus * .

    Nggak bisa ngomong apa2 lagi cma bisa ngomong good job and keep writing eonni ^^.see you in other fics, salam xoxo.bye~~~

    Suka

  2. ffnya tuh brhasil bgt buat aku trus nanya sm diri sndiri, ini nanti gimana ya kdepanny gmana ya critanya, bakal brakhir gimana kira2? bgitu trus bca ff ini, kata per katanya tuh y bgus bgt, perumpamaan yg sangat bgus tadi itu. tapi y ampun itu nyeseknya luar biasa. okelah sgitu aja :’))

    Suka

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s