Jae

Jae

By Diramadhani.

Bibir Junmyeon terbuka lebar, suara tersenggal yang keras terdengar, telapak tangannya sibuk menekan sisi kanan kiri pinggang, serta matanya mulai mengeluarkan cairan. Junmyeon sendiri bahkan tak tau, sejak kapan ia bisa tertawa sekeras itu. Kapan terakhir kalinyapun, itu tak tenggambar lagi di dalam memorinya.

Ia mengusap liquid yang tersisa di pelupuk matanya, lantas menatap kepala bersurai brunnete yang masih sibuk menggumam tak jelas.

“Kau boleh menertawakanku sepuasmu, Kim Junmyeon.” Lelah gadis itu, bergumam lirih layaknya tak punya kekuatan untuk menggetarkan pita suaranya. Tatapan sepasang iris kelabu itu meredup, terarah pada simpul rumit diatas  sepasang sneakersnya.

Junmyeon menghela nafas. Lantas diam-diam lelaki itu tersenyum lemah. Nyatanya, aku tidak menertawaimu, melainkan diriku sendiri.

“Dia benar-benar tak peka. Aku sudah memberikan begitu banyak sinyal tentang perasaanku.” Rutuk gadis itu, ia menaruh lagi beberapa helai brunnete-nya kembali ke belakang telinga. “Namun lelaki itu menganggapku lelucon, apa yang harus kulakukan, Junmyeon-ah?” Sambungnya, lantas tertawa getir.

Junmyeon menghempas karbon dioksida melalui mulutnya. Satu-satunya yang tak peka disini adalah, kau.

Lelaki itu kemudian tersenyum tipis, menepuk pundak lawan bicaranya, hendak memberi ketegaran

“Junmyeon-ah, I Love him, I Love Jae, I really love him…”

Jemari Junmyeon mendarat diatas helaian brunnete terpisah itu, rongga dadanya terserang ngilu tiba-tiba. Ia ingin mengumpat, memberikan sumpah serapah pada siapapun itu Jae. Ia ingin gadisnya kembali tersenyum cerah, bukan menangis tersedu-sedu sembari meminjam bahunya.

Bukan Junmyeon tak suka, dia hanya benci kenyataan dia hanya dapat memberikan ketenangan yang sementara. Pada kenyataannya, bukan dirinya yang gadis ini butuhkan, bukan dia yang gadis ini harapkan.

“Junmyeon-ah…” suara lirih itu terdengar lagi. Lantas Junmyeon melepaskan pelukannya. Menatap kedua iris kelabu itu dalam-dalam.

“Hn?”

“Aku mencintai Jae.”

“Aku kau kau mencintainya.” Tapi disini, ada aku yang selalu mencintaimu. Aku, bukan Jae, siapapun dia.

Gadis itu lantas tersenyum hampa. “Benarkah kau tau?” Lirihnya, ia buang mukanya sejauh mungkin dari jangkauan pandang Junmyeon.

“Ya, kau mengatakannya setiap hari.” Jawab Junmyeon, lelaki itu menghela nafasnya. Bagi lelaki ini, cinta tak berbalas itu menyakitkan.

***

Kau bahkan tidak pernah bertanya siapa Jae.

Bagaimana jika kau tau Jae adalah dirimu, Junmyeon-ah?

Tak bisakah kau melihatku yang terus berharap kau menyadarinya?

Cinta tak berbalas itu, menyakitkan, ya?

***

Iklan

6 pemikiran pada “Jae

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s