99th Mission 5th Chap : I Can’t

99thmission4cast

99th Mission

FanFiction by Diramadhani

Sehun & Kai form EXO, EXO, and Original Chara(s).

© Disclaimer :
“I don’t own anything beside the storyline (It’s originaly came up form my mind). Oh SeHun, Kai and EXO belong to God, theirselves, and their parents. Characters don’t reflect to their real life.”

Warning!
Some harsh words, Stuck diction, bad plot, typo(s) everywhere, bored, absturd, and mainstream.

Chapter Five : I can’t

_______________________________

“Siapa itu Ellin?” Tanya Alexa. Gadis bertubuh jenjang itu menatap SeHun lekat-lekat, pertanyaan yang penuh akan sarat introgasi itu terus ditujukan pada SeHun.

“Ellin. Dia adalah tawanan kami. Aku harus mencarinya. Dia kabur dari rumah si psikiater, Lay.” Jawab SeHun, kedua matanya sudah tidak bisa berhenti bergerak gelisah, pikirannya terkacaukan, ia bukan dalam kondisi baik untuk bicara dengan Alexa.

“Tawanan? Apa polisi kelas tinggi sepertimu bertugas hanya untuk mencari tawanan yang kabur? Serendah itu?” tanya Alexa, sarkastik. SeHun terpekur, kedua matanya berubah menjadi menerawang, pikirannya terlalu semrabut, kata-kata Alexa tidak terpikir olehnya, dan menurut SeHun itu mengejutkan. Oh SeHun, si polisi kelas atas yang selalu mengutamakan harga diri, terjatuh begitu saja hanya karena Ellin menghilang. Dimana harga dirinya?

“Oh lihatlah, Tatapanmu itu tidak seperti seorang polisi yang kehilangan tawanannya.” Desis Alexa. Gadis itu mendekatkan dirinya dengan Oh SeHun. “Lebih nampak seperti seorang laki-laki kehilangan orang paling berharga di hidupnya.” Sambung Alexa. Gadis yang memiliki rupa hampir serupa dengan Lu Han itu duduk di kursi belakang SeHun.

SeHun bungkam, tak sepatah katapun keluar dari bibir tipisnya.

Alexa tersenyum samar, “Kau bilang kau mencintaiku, Oh SeHun. Kuharap tidak ada yang berubah.” Lirih Alexa.

“Listen Alex.” SeHun menghadapkan tubuhnya di depan Alexa. Ia menarik udara sebanyak mungkin mencapai kapasitas total paru-parunya, “Ellin adalah satu-satunya jalan untuk melacak orang yang membunuh kakakmu. Itu sebabnya aku harus mencarinya sekarang, aku pergi dulu.” Ucap SeHun, laki-laki itu berlari menjauhi markas serta Alexa. Tidak mengindahkan malam yang mulai datang setelah Senja, tanpa pelapis tubuh yang tebal untuk melawan dingin.

Alexa memandang punggung SeHun yang semakin menjauh. Rasanya ada jeritan tidak rela dari dalam hatinya ketika membiarkan kaki-kaki SeHun menjauh darinya, ia merasa… takut. SeHun meninggalnya, dan itu mungkin dalam artian yang sebenarnya.

“Tapi kurasa tidak Oh SeHun, ini lebih dari itu.”

.

SeHun menata deru napasnya yang bersahutan, tidak ada yang namanya kedamaian sejak mendengar satu kalimat sederhana dari Lay, Ellin menghilang, dan rasanya sukma Oh SeHun keluar dari fisiknya.

Kedua kakinya membelah dingin malam, menginjak satu-persatu pertokoan yang dekat dengan tempat tinggal Lay, tidak peduli sebanyak apa itu, tidak peduli sedingin apa itu, Ellin adalah prioritasnya.

Bahkan Ellin tak tau apapun tentang dunia luar? Apa yang gadis itu lakukan sendirian? Bahkan ia memiliki ketakutan berlebih pada perempuan.

SeHun benci mengakuinya, ia bahkan merendahkan jabatannya sampai sebawah ini, karena batinnya akan memberontak jika SeHun hanya berdiam diri di dalam rumah hangatnya saat Ellin menghilang. Kehilangan orang yang berharga cukup membuatnya trauma. Tidak, jangan Ellin. Tidak bisa.

SeHun bertanya-tanya pada orang sekitar, nyatanya tidak ada yang tahu tentang seorang gadis bernama Ellin. Kelamaan, polisi profesional itu frustasi. Ia tidak bisa menggunakan logikanya disaat sepanik ini. Karena satu hal, sebelum ini Oh SeHun tidak pernah panik apapun keadaan yang ia hadapi. Dan Ellin harusnya bangga, bisa mengubah Oh SeHun seratus delapan puluh derajat.

Ia berlarian menyelusuri gang-gang kecil, menajamkan penglihatan dan pendengaran. Kali saja ia akan mendengar suara tangisan nyaring di dalam gang sempit, menemukan Ellinnya sendirian, dan SeHun akan memelukknya, mengatakan dia tidak akan mengulangi hal sama. Namun pada kenyataannya, tujuh belas gang yang ia telusuri, tidak ada satupun yang terdapat seorang Ellin.

Oh SeHun berteriak tidak jelas dikerumunan manusia yang berlalu lalang, pergerakan mereka dirasa sangat cepat, sedangkan SeHun sendiri sangat lambat, terasingkan, dan kebingungan. Satu pertanyaan yang berkelebat di dalam otaknya, hanya satu, Dimana Ellin?

Oh SeHun mengusap peluh yang mengucur disepanjang pelipisnya. Kali ini ia merasakan ponselnya bergetar, SeHun membuka perpesanan 25 pesan tak terbaca. 17 panggilan tak terjawab. SeHun membuka pesan yang paling akhir, dari Kim Kai.

–SeHun? Kau dimana? Ellin telah ditemukan, dia menangis histeris, menyebut namamu–

SeHun menaruh ponselnya di balik saku jaket, kemudian berlari gelimpangan menuju markas. Meskipun rasanya tubuhnya telah dibagi menjadi dua saking lelahnya, bibir itu tersenyum. Ellin ditemukan. Dia selamat. Kenyataan itu membuatnya melupakan dunia sekitar, Ellin baik-baik saja.

Hanya satu yang perlu SeHun lakukan, datang seperti pahlawan kesiangan, memeluk Ellin dan membuat semua orang terkagum atas aksi heroiknya. Hal yang paling utama sekarang adalah, membenahi tampilannya yang berantakan, bersikap sok cool seperti dirinya yang biasa.

Saatnya kembali menjadi Oh SeHun.

.

Seluruh isi ruangan itu terdiam, menatap Oh SeHun yang baru saja datang melewati batas pintu kusen berwarna cokelat. Beberapa tatapan itu berusaha menjudgenya. Kai melipat tangannya di depan dada. Baekhyun berdecak.

“Darimana saja kau, Polisi terbaik Korea selatan, Oh SeHun?” tanya Baekhyun, sarkastik. SeHun berjalan mendekat masuk, tidak mengindahkan pertanyaan yang keluar dari bibir Baekhyun, sedangkan bulir iris hitamnya terus menelusur tempat itu, mencari sesuatu, tepatnya seseorang.

“Dia tertidur disana.” Suara Chaeri terdengar, menunjuk pintu yang berada di sisi kiri ruangan. SeHun lega, sekumpulan beban berat yang barusan ia pikul terasa lebur begitu saja. Laki-laki itu menatap kawan-kawannya yang masih menuntut jawaban.

“Darimana kau? Tidak tau betapa sulit kami menenangkannya?” seru Kai. Laki-laki itu menyandarkan diri pada kusen pintu, sembari menghentakkan kaki kirinya pelan, berusaha nampak mengintimidasi –meski tau itu sia-sia.

“Tidur. Di dalam rumah.” Jawab Sehun, munafik. Baekhyun menatapnya, penuh akan sarat ketidak percayaan. Sebelah alisnya naik ke atas, sedangkan bibirnya melengkungkan sebuah senyum tak lengkap, hanya setengah.

“Sungguh? Tidur. Terdengar seperti bualan kosong, Oh Sehun.” desisnya, sarkas. SeHun tidak menanggapinya, kedua kaki jenjangnya tidak lagi bisa ditahan untuk sekedar berjalan mendekati pintu yang terkunci itu, tangannya dengan lincah memasukkan kunci ke dalam lubangnya, menarik daun pintu itu tergesa.

SeHun melihatnya, Ellin terbaring di ranjang itu, terlihat beberapa luka di dapat pada tubuh gadis itu. SeHun mengerang, menatap kawan-kawannya yang masing-masing diam, sibuk mencermati SeHun yang terlihat hampir tidak waras.

“Hei, kalian diam saja? Ada apa dengannya?” Seru SeHun. Dia menatap Ellin yang harusnya sudah lebih baik, dan luka-lukanya mengering, namun sekarang, SeHun melihat gadis itu lagi dalam keadaan yang berbeda, seratus delapan puluh derajat.

“Kami mencarimu, gadis itu terus mengamuk. Melukai dirinya sendiri. Jadi Chaeri terpaksa memberinya anestesi.” Jelas Chanyeol, dia mengiba pada sang gadis yang terkulai lemah. Terbesit pikiran bahwa banyak sekali luka yang di pikul oleh gadis itu. Entah apa yang membuatnya mengalami trauma parah, yang jelas ia tau, gadis itu terlalu sering terluka.

SeHun menunduk, menatap terenyuh pada gadis yang kini memejamkan matanya dengan damai, terlihat seolah tidak merasakan beberapa luka yang harusnya menyakitkan pada lapisan kulitnya. Rambut hitamnya tak tertata, dan pada kulit halus dibagian kanan kiri wajah itu terdapat sebuah sayatan kecil. Dia menghela napasnya, tatapannya melunak –terlihat menyedihkan, mungkin.

Laki-laki itu menarik sebuah kursi, kemudian mendudukinya, kedua mata nyalangnya yang biasanya terlihat gagah dan bersinar itu redup, melihat Ellin seperti ini, SeHun tak tau apa yang bersahutan di dalam hatinya, dan hal-hal itu membuat dirinya sendiri bingung, bahkan logikanya tak lagi berjalan.

Tangannya yang kokoh menggenggam tangan mungil Ellin yang terdapat sebuah seretan seperti terkena benda runcing, SeHun tidak bisa memastikannya, namun ia mencoba percaya bahwa itu di hasilkan oleh serpihan kaca. Ia menyesal membiarkan Ellin bersama Lay. Gadis ini hanya mempercayainya, setelah kejadian itu. Harusnya dia tau, akan kekeras kepalaan Ellin.

“Bisakah kalian meninggalkanku disini?” tanyanya, lirih dan pelan. Lepas dari nada yang biasa ia gunakan, sombong, berwibawa dan tegas.

Semua orang saling melempar pandang, sebelum meninggalkan ruangan itu satu persatu. Membiarkan SeHun sendiri disana –tidak dalam artian yang sesungguhnya karena ada Ellin disitu, tidak dalam kondisi sadar.

Laki-laki itu mengusap rambut Ellin, perlahan. Menata letak rambut panjang itu dengan jemarinya. Kemudian dia mengambil kassa dan antiseptik di dalam kotak obat, membersihkan luka di tangan halus milik Ellin (meski ia tahu Chaeri sudah melakukan hal sama sebelumnya), kemudian pada wajah cantik –bak keturunan ratu Cleopatra, SeHun bisa merasakan napas hangat gadis itu berhembus di tangannya ketika mengusap luka pada sudut bibir mungil itu, gerakannya terhenti. Ia terdiam untuk beberapa saat.

Dalam diam yang sunyi itu, SeHun terhanyut pada alam pikirnya, atensi matanya tertuju pada wajah sang gadis yang terganggu oleh beberapa luka disana. SeHun tidak bercanda ketika ia mengumpamakan ratu Cleopatra padanya.

Ia ingin melihat sinar yang terpancar pada wajah indah Ellin, seperti beberapa waktu lalu di padang rumput, mereka tertawa bersama. Ketika itu, SeHun bisa melihat dengan sempurna pantulan kilau yang menyejukkan dari dua iris yang ia kagumi.

Perlahan, tangan itu mengusap rambut itu lagi. Dia tersenyum lemah untuk sesaat, mengecup dahi Ellin, Ellinnya. “Maafkan Aku Ellin, aku tidak akan mengulanginya lagi.”

.

“Ada alasan kenapa kau mengajakku kemari?” Kai menatap bangunan yang berdiri tegak dihadapannya, nuansa klasik tercipta dengan sekali pandang, beberapa lampu hias yang berwarna terang terpancar pada bangunan dihadapannya.

“Sekali-kali nikmati hidupmu. Terlalu lebur dengan pekerjaan tidak berdampak baik, kau tau.”

“Konyol. Aku cinta pekerjaanku. Hal yang paling indah adalah berlarian di dalam gedung berisi ribuan ranjau dan keluar dengan selamat.” Desis Kai, namun gadis itu tidak berminat menanggapinya, kaki jenjangnya menapak masuk ke dalam bangunan klasik tadi, kemudian duduk di salah satu meja yang tidak jauh dari pintu masuk. Kai tidak punya pilihan lain selain mengikuti gadis itu.

“Chae. Kau serius ingin membeli kopi disini? Sebenarnya aku lebih suka kopi buatanmu di markas. Disini mahal.” Keluh Kai. Ia mendudukkan diri di hadapan Chaeri sembari mencermati menu dan juga harganya. Sesekali kedua matanya sibuk melahap interior klasik kuno yang terlihat nyaman, sungguh indah, detail benar-benar diperhatikan, serta aroma-aroma manis menerpa penciumannya.

“Kupikir mereka menghargaimu dengan nilai tinggi. Bahkan membeli kopi saja kau berpikir. Berapa gajimu, heh?” tanya Chaeri. Kai tertawa remeh. “Aku memikirkan masa depanku. Tanyakan saja kemana uangku pada bank dan buku tabunganku.” Desis Kai, nadanya sedikit menyindir Chaeri. Namun Chaeri tidak langsung menanggapinya, sibuk memesan minuman. Barulah setelah selesai dengan sang pelayan, ia menanggapi ucapan Kai.

“Sekali-kali manjakan lidahmu. Untuk apa menabung banyak-banyak? Uang sebanyak itu tidak akan habis selama napasmu masih berlangsung. Jadi jangan konyol untuk berpikir membawa mereka bersama jasadmu ketika dikremasi nantinya.” Jawab Chaeri, masuk pada perdebatan yang ia mulai sendiri. Melayani persilatan argumen dari Kim Kai.

“Cih. Dasar tidak memikirkan masa depan. Kehidupanku masih lama bodoh, alur pikiranmu jangan terlalu sempit. Jangan iri ketika melihatku bersenang-senang di masa tuaku, kalau bisa aku akan mandi dengan lembaran dollar.” Jawab Kai.

“Terserah kau saja, lakukan itu, aku akan bertepuk tangan meriah. Seorang pensiunan polisi yang seumur hidup merasakan minum kopi ditempat mewah hanya satu kali, mandi dengan lembaran dollar. Tenang saja, aku akan menunggu dengan sabar hal itu terwujud.” Balas Chaeri, tidak mau kalah.

“Yah, dan kau akan mengeluarkan air liurmu melihat dollarku.”

“Aku akan dengan sabar menunggu masa itu terjadi, Kim Kai.” Ucap Chaeri, dilanjutkan dengan ucapan terimakasih pada pelayan yang meninggalkan dua moccalatte untuk keduanya, Chaeri memejamkan matanya, menyesap perlahan sensasi kopinya, harga memang menentukan kualitas, Chaeri mengakuinya.

Sedangkan Kai –dia bahkan tidak sempat mengingat eksitensi kopi di atas mejanya, agaknya memandang gadis dihadapannya menikmati kopi membuatnya cukup merasakan betapa nikmat kopi yang akan sangat menguras isi dompetnya itu.

“Aku tau aku cantik. Namun jangan sia-siakan kopimu. Kau bilang kau tidak suka membuang isi dompetmu, jadi minum. Aku tidak mau menghabiskan milikku jika bahkan yang mentraktirku tidak melakukan hal serupa.”

“Heh? Siapa yang mau mentraktirmu?” tanya Kai, sembari mendengus. Laki-laki itu menyambar kopinya dan meneguknya cepat, kemudian berhenti setelah merasa lidahnya terbakar, kenapa tidak ada yang mengingatkan padanya bahwa kopi ini bersuhu hampir seratus derajat?!

“Laki-laki yang harusnya mentarktir wanita.” Jawab Chaeri, singkat, sembari menyesap kopinya sekali lagi. “Jadi jika kau merasa laki-laki, traktir aku.”

“Kau yang mengajak, bodoh.” Sahut Kai, penuh akan sarat menyerah. Membayangkan isi dompetnya berkurang akibat Seorang Seo Chaeri.

“Laki-laki baik.” Komentar Chaeri –andai dia bukan wanita, Kai pasti akan menendangnya sampai ke antartika, Kai bersumpah.

.

Kedua mata Ellin terbuka, mata dengan iris cokelat itu sibuk mengerjab, membiarkan akomodasi matanya mencerna cahaya yang berdesakan masuk ke dalam retina, dia kemudian menegakkan badannya yang terasa kaku. Kepalanya terasa pusing dan seluruh tubuhnya nyeri.

Dan ketika penglihatannya sudah sempurna, kedua mata yang berkilau itu menangkap bayangan seseorang tengah tertidur disampingnya, seorang laki-laki yang duduk diatas kursi jati dan kepala yang terletak diatas tempat tidur. Laki-laki dengan kedua mata terpejam.

Ellin terpekur. Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia benar-benar Oh SeHun, laki-laki yang memikul seluruh kepercayaan darinya. Tangan kecil itu terangkat, hendak menyentuh helaian rambut laki-laki ini, memastikan bahwa laki-laki ini adalah nyata, berada disebelahnya serta benar-benar tertidur disana.

Namun ketika ia hendak mengangkat tangan yang lain, ia terperajat, tangannya berada di genggaman Oh SeHun, laki-laki itu menggenggam tangannya begitu kuat, seolah-olah tidak mengizinkannya untuk pergi. Tatapan Ellin melunak, ia benar-benar yakin jika ia berhadapan dengan laki-laki ini sekarang. Bukan ilusi. Bukan mimpi, jadi ia tersenyum.

SeHun disini. Artinya dia berada di dunia yang paling aman, ia percaya itu.

Dia tidak bisa untuk tidak menarik bibirnya kebelakang, ia tersenyum. Oh SeHun ada disini. Dia tidak lagi bersama dengan laki-laki asing dengan lesung pipi menawan itu –meski menawan, ia tidak mempercayai laki-laki itu, karena dia bukan Oh SeHun. Ia akan bersama dengan Oh SeHun, dan ia akan melakukan apapun, asal SeHun tidak mengirimnya pergi, lagi.

Ellin terkesiap ketika Oh SeHun secara mendadak menegakkan tubuhnya, pada sepasang mata itu terpancar tatapan yang penuh akan sorot kekhawatiran, tatapan mata Oh SeHun terarah padanya. Laki-laki itu hendak mengucapkan beberapa huruf, namun tertelan lagi, entah kenapa suaranya enggan dikeluarkan.

“Hai, tuan SeHun?” sapa Ellin mendahului SeHun, dan SeHun pun membalasnya, laki-laki itu tersenyum.

“Apa kau baik-baik saja, Ellin?” tanyanya. Laki-laki itu menyelipkan anak rambut Ellin ke belakang telinganya menampilkan luka kecil disana. Ellin mengangguk, dia baik-baik saja. Sehun mengusap luka kecil itu pelan.

“Jangan seperti ini lagi, jangan pernah lukai dirimu sendiri. Aku tidak suka kau melakukannya. Cintai dirimu sendiri, kumohon?” ucap SeHun. Laki-laki itu memberikan sebuah senyuman tipis pada Ellin, dan gadis itu tersenyum lebar, menampilkan deretan gigi depannya yang rapih.

“Aku berjanji. Tapi kumohon, jangan menyuruhku pergi lagi…” pintanya lirih, menampilkan sorot mata yang penuh akan permohonan, siapapun bahkan tidak akan pernah bisa menolak permintaan itu,

SeHun mengangguk, dia berkali-kali menatap luka yang terdapat pada wajah Ellin, beralih ke arah tangan yang berada di genggamannya. “Apa ini baik-baik saja?” tanya SeHun, dan Ellin hanya mengangguk disertai senyuman, berusaha untuk terlihat meyakinkan di kedua mata SeHun. Namun tentu saja hal itu membuat SeHun bertanya-tanya, bagaimana bisa luka seperti ini tidak terasa sakit?

“Aku tidak bohong. Aku sering mendapat lebih buruk dari ini.” Ucap Ellin, seolah tanpa beban dalam mengucapkan kalimat itu, SeHun terpekur beberapa saat. Kedua mata hitamnya yang gelap dan dingin menatap luka-luka ditubuh Ellin, dia merasa tersungkur. Gadis yang dihadapannya sedang berkata bahwa dia sering dilukai, dan bukannya menghilangkan luka itu, sehun justru menambahnya, kenyataan itu membuatnya kalut.

“Aku berjanji kau tidak akan mendapatkan luka itu lagi, sekecil apapun.” Ucap SeHun –tanpa disertai kesadarannya, kalimat itu hanya terucap begitu saja. Bahkan beberapa detik setelahnya, SeHun masih tidak percaya jika barusan ia telah mengucapkan kalimat itu. Ellin tersenyum, ia mengangguk dan memeluk Oh SeHun, membuat laki-laki itu terbeku untuk beberapa saat. Menepuk punggung sang polisi yang kokoh itu.

“Terimakasih Tuan… terimakasih.”

Dan SeHun semakin merasa kacau, ia tidak pernah berfikir bahwa suatu saat akan mengucapkan kalimat itu, sungguh. Ia tidak tau, apa ia benar-benar bisa menjaga janji itu?

Bola mata Ellin dan iris hitamnya yang menawan terus menatap SeHun, tatapan itu mirip sekali dengan anak-anak, lemah, rapuh dan membutuhkan perlindungan yang paling nyata, SeHun mengusap pipi gadis itu, beberapa saat dia terdiam.

Kemudian ia pejamkan matanya, mengeliminasi jarak diantara keduanya, mendekatkan kedua wajah itu hingga ia sendiri bisa merasakan deru napas Ellin yang hangat menerpa permukaan wajahnya. Ketika jarak sudah tak tersisa, kedua belah bibir itu menempel, saling menyalurkan hasrat masing-masing dalam diam, SeHun pun, Ellin pun. Keduanya menikmati ciuman itu.

Namun ketika SeHun sadar, laki-laki itu menjauhkan tubuhnya, cepat.

SeHun tidak bisa, itu jawabannya. Ia harus melindungi orang lain. Orang lain yang mendapat janji serupa terlebih dahulu.

Kepada Alexa Lu. Adik dari Lu Han.

***

.

Waktu yang sangat lama untuk update ini, 99th Mission, berapa bulan ya kutinggal? Tenang, udh update kan, sekarangnya 😀

Password di chapter empat udah aku buka kok (Aku sadar kalo sebenernya di protek ga ada gunanya :v) dan makasih buat yang baca FF ini, apalagi yang nungguin 😀 maafkan untuk telat update!

Iklan

12 pemikiran pada “99th Mission 5th Chap : I Can’t

  1. Kak.. Dilanjut dong. Baru nemu ini ff sih. Tapu ternyata udah dipost setahun yang lalu 😑 kapan dilanjutin. Seru. Terlalu seru kalo nggak lanjut. Sayang kan.

    Suka

  2. Ngiri banget sama ellin yang dijagain, dilindungi terus sama sehun T^T padahal ini kan cuma fiksi, tapi berasa kek beneran :”3 ngefeel banget T^T
    alexa lu itu adiknya luhan toh ‘-‘ si sehun katanya cinta sama alexa? 😮 terus ellinnya gimana dong?-_- yaudah hun, daripada lu bingung milih antara ellin atau alexa, mendingan lu sama gue aja deh:’V /abaikan/

    Suka

  3. Ukh.. aku nunggu banget kamu post chapter 5 ini .. apalagi chapter 4 itu udh dr bulan Juli 2014 loh ㅡ_ㅡ
    tapi next soon chapter aku berharap hal yg sama.. yaitu menjadi lebih panjang :-X dan perbanyak sweet romantic nya Sehun Ellin 😀 karena mereka br2 pnya perasaan yg sama tapi bodohnya malah blm disadari nya .
    Sehun bahkan rela menurunkan harga diri nya demi menjaga Ellin .. kalau bsa dibilang Ellin itu sperti anak kecil yg tak tau apa2 . dan beruntungnya dia krn bsa dijaga oleh POLISI TERBAIK KOREA SELATAN aitu “OPSIR OH SEHUN” aku bahkan dibuat iri dengan ny 😀

    sekian deh cuap2ku.. takutnya malah lebih panjang XD

    Regards,
    깈종인’s Wife 😀

    Suka

  4. aku gak tau hrus komen apa? Bener2 daebak.. Feel nya dapet apalagi pas chap 3. Pokok ny spechless bgt, berasa n0nton film action.. Than, Tpi sayang chap 4 d pw.. Boleh minta? 🙂

    Suka

  5. Huuueeee kereennn…kashannya Ellin..bner2 butuh perlindungan dr Sehun..

    Terus Alexa gmna??? Sehun sempat suka Alexa ya?? Kyknya Alexa agk mnja nih…

    Aduuhh smkin mnarikkkk…lnjutannya jgan trllu lma yaaa..takur klupaan certa sblumnya hihuhihi

    Suka

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s