B(itch)est Friend

B(itch)est Friend.

Bitch Best Friend

LuHan & Sehun

By Diramadhani

Best Friend, heh? Are you kidding me? You’re just a suck bitch friend!

 _

Rate : PG -15

________

Warning! Many harsh and uneducated words! Story of Arguing and fighting boys! Weird plot! Stuck diction! Freak storyline! Mainstream! Bad boys! Nothing is interested! 😛

Klasik.

 Respon saja begitu. Memalukan aku bercerita seperti ini, seperti perempuan cerewet yang sedang menggosip, tapi Hell, kalian yang terlalu memaksa tau!

 Dan tadi, yang kusebut klasik itu adalah cerita ini yang sesungguhnya. Sangat payah dan kuno. Kalian pernah dengar cerita dramatis tentang Sahabat yang bertengkar gara-gara jatuh cinta pada gadis yang sama? Nah, rata-rata ceritaku seperti itu. Biarpun fokusnya juga bukan disitu.

 Ini tentang kami; aku, si brengsek Lu Han. Dan mungkin sedikit tentang seorang gadis; namanya Yui, tapi dia hanya muncul sedikit.

 Jadi, aku akan bercerita dimulai dari bertemunya aku dengan Lu Han, beberapa tahun lalu, ketika duduk di bangku ke dua sekolah menengah pertama. Hari itu adalah hari ke empat sekolah masuk, setelah pengacakan ulang kelas. Aku tidak gampang bersosialisasi, kau tau. Aku malas kenal dengan orang-orang; apalagi yang tabiatnya ‘emejing’ atau yang overload ketika bicara, atau yang tersenyum dengan duapuluh baris gigi. Jadi selama empat hari terakhir aku tidak kenal siapapun selain anak yang duduk disebelahku, namanya Suho, pendiam juga. Jadi aku cocok-cocok saja dengannya.

 Tapi hari itu, Suho tiba-tiba duduk bersama orang lain, entah siapa aku tidak peduli.

 Dan seseorang bernama Lu Han mengambil posisi disebelahku. Dia mengajakku bicara, namun kalimat perdananya padaku bukan layaknya cara manusia normal berkenalan, tidak ada yang bertanya nama, apalagi berjabat tangan.

 Pertanyaan pertamanya padaku adalah, “Apa pekerjaanmu sudah selesai? Boleh nyontek tidak?”

 Awalnya aku sempat tertegun sebentar, tapi langsung kuganti ekspresiku; agar tidak sebelas-duabelas dengan orang idiot. Lalu, kuambil pekerjaanku dan kuserahkan padanya. Dia tersenyum lantas dengan tekun dan rajin menconteknya.

 Setelah itu, kami lebih sering saling mencontek untuk PR, dia pintar di Fisika, resmi diberi gelar oleh Mrs Kim sebagai the king of physics dan dia juga bersahabat dengan matematika. Sedangkan dia bergantung sejarah, seni dan literatur padaku.

 Aku lebih merasa ‘klop’ dengannya setelah menemukan hobi dan kesukaan yang sama; dia gila video game dan suka minum bubbletea. Kami lantas dilabeli “Dua lelaki keren yang misterius dan selalu bersama” oleh anak-anak perempuan, mereka bahkan berebut sampai bertaruh untuk memenangkan hati kami, haha, itu lucu, tau.

 Kami disebut demikian dikarenakan aku dan dia sama-sama ogah bersosialisasi, kemanapun hanya berdua. Lagi, sama-sama pintar (meskipun sebenarnya itu dikarenakan simbiosis mutualisme : saling tukar jawaban), dan aku tampan —entah aku tidak yakin dengan LuHan juga atau tidak.

 Tapi yah, hubungan kami mendadak retak sejak seminggu yang lalu. Bisa kalian lihat memar keunguan yang masih menempel di pipiku? Atau merasa janggal dengan jalanku yang agak pincang? Semua itu tak hanya rekayasa; ada asal-usulnya. Dan terimakasih pada si berengsek Lu Han. Dia telah membuat wajahku yang bak model Ceci ini berubah jadi seperti preman tukang bertengkar yang kena efek adiksi heroin.

 Tapi jika diingat-ingat, itu bukan sepenuhnya salah Lu Han, dia juga tak jauh beda keadaannya dariku, yang jelas memar dimana-mana saat terakhir kali kami bertemu.

 Saat kupejamkan mataku, ada hal yang sangat mengganggu. Layaknya delusi, menghantuiku, mengejar-ngejarku dan memojokkanku.

 Aku tidak mengerti kenapa, yang jelas ulu hatiku berdenyut nyeri setiap menutup mata. Karena yang kulihat adalah wajah Lu Han yang babak belur akibat karyaku, tatapan matanya berkobar api kebencian. Dan aku benci itu, Lu Han tak pernah menatapku seperti itu sebelumnya, sekasar apapun ucapanku padanya.

 Awalnya, aku tak pernah sudi menyebut Lu Han sahabatku. Well, aku tidak merasa kami sedekat itu.

 Hanya saja, setelah pertengkaran mengerikan beberapa hari lalu  itu berakhir, aku merasa kehilangan. Katanya sih karena aku terbiasa dengannya dan tiba-tiba kami tidak lagi bersama-sama. Dia mulai menjauh serta menghindar ketika akupun tidak berniat mendekat ataupun meluruskan segalanya. Kalaupun aku ingin, aku tak akan pernah melakukannya, itu hanya mempermalukanku.

 Minta maaf sama sekali bukanlah gayaku, pun juga bukan gaya Lu Han. Itu mungkin saja membuat k kami akan berakhir menjadi rival seumur hidup; itu tidak mustahil, tau. Dan membayangkannya saja membuatku bergidik.

 Tapi ketahuilah, selama ini aku tidak pernah merasa benar-benar bersama seorang ‘sahabat’ ketika dengannya. Maksudku, dari yang kubaca dari fiksi picisan mahal (aku beli novel fiksi itu dengan harga yang tidak murah) sahabat itu artinya orang yang membuatmu nyaman ketika bersamanya. 

 Tapi yang kulakukan dengan Lu Han selama ini hanya bersilat lidah, menyulut emosi dengan mulut, saling mengumpat satu sama lain, dan beradu argumen tiap-tiap bertemu.

 Namun baru kini aku sadar, meskipun selalu begitu, aku tidak pernah terganggu ataupun merasa benci dengan kata-kata kasar LuHan padaku, begitupun dengannya. Sekalipun aku menyebutnya si berengsek Lu Han dan dia menyebutku si Idiot Sehun, kami tidak pernah memasalahkannya.

 Aku selalu menempel padanya meski hanya berakhir dengan berdebat; tapi disitulah sisi menariknya. Perdebatan itu, jika tak pernah ada, aku tak akan sebetah ini dengannya, dengan Lu Han. Dan aku menyesal baru menyadarinya.

 Baik, aku mau cerita apa penyebab pertengkaran “terkeren” kami seminggu lalu. Kau tau, kusebut keren karena benar-benar terlihat keren, kami jadi terlihat seperti ahli karate yang sedang mengikuti olimpiade; kami sampai kacau.

 Meskipun aku yang mulai, tapi aku tidak menyebut itu kesalahanku. Itu salah Lu Han! Mutlak salah Lu Han.

 Hari itu, seperti biasa sepulang kampus aku lari ke rumah Lu Han, kami berbeda fakultas meskipun masih satu kampus. Dan aku telah terbiasa menemukan tubuh LuHan terbaring diatas kasurku ketika aku pulang. Atau langsung masuk ke rumah LuHan seenaknya sepulang kampus, padahal orangnya belum ada.

 Jadi, jangan kira aku penguntit hari itu ketika seenak jidat masuk ke rumah yang penghuninya sedang tidak disana.

 Selain itu, Aku terbiasa mengbrak-abrik isi lemari LuHan, mencari baju ganti, mengotak-atik ponsel miliknya, membaca semua chat sampai histori teleponnya, atau bahkan hal-hal yang tidak wajar lainnya.

 Jangan kira ada batasan privasi diantara kami; aku tahu segalanya tentang Lu Han, dari hal paling klise sampai paling menakjubkan, begitupun sebaliknya. Tapi kami sama-sama pandai menutup mulut. Meskipun sering saling mengancam; ending-nya tidak pernah ada yang saling membocorkan ‘rahasia-rahasia’ besar itu.

 Sampai hingga hari dimana kami bertengkar hebat, beberapa menit sebelum pertengkaran dimulai, aku sadar kami masih punya batas privasi, aku tidak pernah menyentuh dompet LuHan. Sama sekali tidak.

 Awalnya aku tidak tertarik. Aku yakin tidak akan menemukan sesuatu yang mengejutkan, karena aku tahu LuHan bukanlah seseorang anak pengusaha yang kaya dan berdompet tebal.  Jadi aku tidak pernah berniat untuk membukanya.

 Namun hari itu, aku hanya merasa bahwa aku harus membukanya, seperti perasaanku saja berjeritan begitu. Aku yakin ada sesuatu yang aku tidak tahu dan sangat penting disana, firasatku berkata demikian.

 Dan iya, ada.

Hal mengejutkan itu tergambar di sana, di dalam dompet Lu Han.

Rahangku terjatuh; mulutku terbuka lebar; tenggorokanku terasa kering; jiwaku lenyap dari tubuhku. Aku melihatnya, foto itu, dengan kedua mataku sendiri, apa yang tergambar disana. Lu Han merangkul pinggang seorang gadis, posesif.

Dan sialnya, gadis itu bernama Yui, dan ketahuilah, Yui adalah kekasihku.

 Aku tidak bisa untuk tidak terkejut, seumur hidup, baru pertama kali aku ingin ‘serius’ dengan seorang gadis. Memang, aku sering berganti pacar, tapi itu dulu. Dan ketika aku mencoba setia. Inilah jawabannya : LuHan menyukai gadisku. Gadis yang kucintai.

 Dan itu… benar-benar dilakukan seseorang bernama Lu Han.

Lu Han? Kau, kau benar-benar Lu Han kan? Kau yang selalu mencontekiku pekerjaan fisika? Yang tertidur di ranjangku tanpa izin? Kau yang selalu membuatku betah dengan pertengkaran-pertengkaran ‘gila’ itu, kan?

 Tentu iya, jelas sekali, orang ini adalah Lu Han. Dompet ini milik LuHan dan foto itu, benar-benar LuHan dan Yui.

Tapi… kenapa?

 Huh, pertanyaan konyol, heh?

Jawabannya jelas, idiot. LuHan juga menyukai Yui.

Tapi… kenapa harus kau, Lu Han? Kenapa kau menyukainya, LuHan? Kenapa harus Yui? Kenapa bisa begini?

Menyebalkan, aku mendadak begitu melankolis, ya? Haha… Tidak lucu sekali.

Aku, rasanya kepalaku berkabut, pikiranku kosong, hanya ada kemarahan, kecewa dan kesal yang memukulku bertubi-tubi.

Berengsek!

 Terdengarlah suara knop pintu depan dibuka, kemudian suara tapak kaki menggantikannya. Telingaku menajam, Tanpa perlu melihat, aku yakin siapa orang yang masuk; tidak pernah seyakin ini dan itu pasti adalah LuHan, si penghianat berengsek.

 Duagh!

 Hit his face.

 Aku menggunakan kepalan tanganku untuk menghantam rahang Lu Han, kemudian tersenyum miring setelah berhasil. Lelaki itu tersungkur, punggungnya membentur lantai dan menatapku terkejut. Alisnya berkerut tanda tak mengerti atas tatapan penuh emosiku. Huh, sialan dia! Berengsek! 

 “Kau penghianat!” Desisku tajam, aku mengangkat tubuhnya untuk kembali bangkit dengan menarik kerah kemeja birunya. Kemudian, mendorong dan memojokkanya ke dinding. Ia masih menatapku penuh tanya.

 “Apa yang kau bicarakan, heh?!” LuHan berteriak, membalas desisanku. Lelaki itu mendorong tubuhku menjauh darinya, dan sialnya dia cukup kuat untuk berhasil; sepasang matanya mulai berkobaran api emosi; dadanya naik turun seolah hendak meledak dan napasnya bersahutan.

 “Apa yang baru kubicarakan, heh? Kau tidak tahu?” Tanyaku sarkas. Dia mengerutkan kening, seolah-olah tidak mengerti, membuatku ingin meludahi wajahnya. Dasar penghianat.

 “Tanyakan pada ini!” Teriakku, lantas kulemparkan dompet yang kutemukan tadi tepat pada wajahnya; aku diam sejenak menunggu responnya.

Matanya membulat sempurna, ada raut terkejutan yang terlukis gamblang pada wajahnya; tangannya beralih untuk mendekap dompet itu. Kemudian kedua matanya mengambil tatapanku, raut wajahnya sangat sulit diartikan (Bahkan sulit bagiku yang mengenalnya bertahun-tahun) sebelum dia menghela nafas lantas berkata, “Oh… itu. Seperti yang kau lihat, Sehun-ah. Aku menyukai Yui; sama sepertimu. Seperti kata orang-orang; kita ini mirip. Sampai bisa jatuh cinta pada orang yang sama, haha.” Ucapnya, pelan, nyaris lepas dari pendengaranku.

 Aku tertawa, bisa-bisanya dia berkata demikian tanpa beban! Konyol. Berengsek. Sialan!

 Aku melayangkan pukulan sekali lagi di rahangnya, dia terjatuh lagi, terjerambab beberapa kaki ke belakang. LuHan mengusap sudut bibirnya yang menjejak darah, menatapku (jika tidak salah) sendu, sejenak. Lantas ia terkekeh, entah apa yang dia tertawakan dan Itu membuatku semakin membencinya.

 “Kau berengsek, Lu Han!” Teriakku.

 Dia tertawa lagi, mengusap sudut bibirnya dan menatap darah di ibu jarinya, menjilatnya, kemudian bangkit. Mata penuh emosinya menatapku nyalang. Tanpa sempat kusadari, dia melayangkan hantaman di perutku, hingga aku terdorong beberapa meter ke belakang. Aku meringis, pukulan LuHan bukanlah hantaman yang lemah.

 “Kau benar-benar berengsek! Manusia rendahan! Berengsek!” Teriakku tak keruan.

 Aku segera bangkit sebelum terkena pukulan lagi; mengejarnya dan memukulnya sekali lagi, mendesis emosi karena gagal.

 Dia justru berhasil menendang kaki kiriku kuat hingga aku tersungkur kebelakang, dan kepalaku mengenai ujung lancip meja dan aku meringis, itu sangat sakit dan dunia rasanya berputar-putar disekitarku.

 “Kau idiot! Oh Sehun!” Teriaknya kasar, ia menendang kepalaku hingga terbentur ujung meja sekali lagi, dan itu membuat kepalaku rasanya jauh lebih sakit lagi.

 Aku menangkap kaki kanannya ketika ia hendak menendangku, kemudian menariknya hingga LuHan terjatuh, punggungnya berbunyi debuman keras akibat mencium keramik, aw, itu pasti sakit, aku bangkit dan menendanginya keras-keras, berkali-kali dia berteriak dan meringis. Namun aku seolah kesetanan, tak peduli.

Selanjutnya, justru dia yang kini berhasil menangkap kakiku dan membalik keadaan, pungungku menyentuh lantai kuat-kuat, tulang belakang dan rusukku rasanya remuk berkeping-keping. Namun belum sempat dia menendangku aku bangkit, hendak berlari namun dia menendang kakiku kuat, rasanya sampai mau patah dan aku terjatuh lagi.

 Selanjutnya, aku berhasil berdiri dan sempat mengumpat, “Kau bajingan tengik! Iblis bermuka malaikat!” Sebelum melarikan diri -bukannya aku pengecut, hanya saja ogah aku dan dia mati hanya karena pertengkaran.

 Aku bersumpah, itu yang paling mengerikan. Bukan kali pertama kami saling tonjok, tapi itu yang terparah. Kudengar dia sampai dilarikan ke rumah sakit tapi entahlah.

 Dan sekarang, disinilah aku, melamun menatap langit. Merasa hambar. Tidak ada teman bicara, apalagi beradu mulut. Rasanya seperti masakan tak berbumbu, kaleng kosong yang terbuang mengenaskan, tak berisi, tak bernyawa.

 Aku putus dengan Yui dua hari selanjutnya, malas juga. Gara-gara dia aku jadi hilang kontak dengan LuHan. Aku rasa, aku tidak marah karena aku cemburu, tapi marah karena itu LuHan, kalau itu Suho yang menyukai Yui, aku tidak mungkin semarah itu, karena aku yakin Yui tak akan berpaling dariku. Tapi ini LuHan, duh, maksudku, aku benci ketika dia membohongiku. Bukan berarti aku tidak mencintai Yui, aku sangat mencintainya. Awalnya aku juga cemburu ketika tahu bahwa LuHan menyukai Yui, tapi…

 Aku selalu bertanya pada diriku sendiri. Siapa Yui, dan siapa LuHan.

 Yui, gadis cantik yang kutemui setahun yang lalu, irisnya berwarna cokelat, rambutnya bergelombang, hidungnya bangir, bibirnya tipis dan kulitnya putih merona. Dia ramah, ceria, dan selalu dapat mengobati penat.

 LuHan, lelaki yang setiap detik ketika kami bertatap mata hanya menimbulkan telinga sakit, saling meledek dan bertengkar dengan kata-kata kasar, mengumpat, berkelahi dan berucap sarkastik.

 Sekilas, harusnya aku memilih Yui dan mempertahankannya. Tapi, jika dipikirkan, LuHan itu terlalu langka.

 Lagipula, LuHan adalah satu-satunya yang menepuk punggungku ketika aku merasa kesepian, terpojok dan tak berarah, ketika aku putus asa dan duduk sendirian, dia selalu datang, kemudian berkata, “Lihatlah, kau makin mengalahi itik buruk rupa; menjijikkan. Bahkan kau terlihat semakin idiot, kau tahu ketika kau tersenyum itu sangat menggelikan, apalagi jika disaat seperti ini, aku sampai rasanya muntah melihatmu. Mending-mending kau yang menggelikan dibanding yang membuatku mual.”

 Tersenyumlah, kau akan terlihat lebih baik. Itu yang dia maksud, tapi diucapkan dengan cara lain. Caranya. Cara Lu Han.

 Selanjutnya aku akan membalasnya kasar juga. Dan dengan obrolan absturd dan pertengkaran aneh itulah semangatku kembali untuk menyambung kata-kata pedasnya, mendapatkan semangat ketika aku putus asa. Dan tak ada yang dapat melakukan hal serupa selain dia. Hanya LuHan, bukan Yui, bukan siapapun itu.

 LuHan juga adalah satu-satunya yang peduli ketika aku sakit. Aku ingat jelas ketika dulu dirawat di rumah sakit karena demam berdarah, tidak ada yang datang selain ayah dan ibu, itupun hanya sesekali. Namun tidak dengan LuHan, dia selalu datang dan berkata, “Aku tidak datang karena peduli. Tapi kasian, hidupmu miris sekali tidak ada yang menjenguk ketika sakit.” Aku selalu tersenyum mendengarkan, pada kenyataannya dialah satu-satunya yang peduli. Lalu itulah jalanku untuk terlihat ‘hidup’ ketika sangat lemah dan demam tinggi, meskipun aku tak terlalu sehat untuk membalikkan kata-kata sarkas LuHan.

LuHan juga yang pertama kali memberiku selamat dengan cara aneh ketika aku berhasil memenangkan penghargaan atas lomba maket rumah-rumahan, (aku calon arsitek, tau) dia berkata seperti ini, “Hei Sehun, pialamu terlalu indah bersanding dengan orang sepertimu. Kau beruntung sekali, ingat itu hanya keberuntungan yang sangat tidak elit karena akhirnya berakhir ditanganmu. Tapi… ekhem, uh-uh… selamat.”

 Aneh, kan? Tapi ucapan aneh itu adalah motivasiku untuk berhasil. Dan hanya LuHan satu-satunya yang bisa melakukan itu.

 Dan dia juga orang yang pertama kali mengucapkan selamat Ulang Tahun padaku. Yah, tidak kalah absturd-nya dengan mengucapkan selamat atas penghargaan. Dia selalu menelponku tengah malam kemudian berkata, “Hei, jadi kau tambah tua ya? Aku menunggu detik ini sampai rela begadangan, bukan mengucapkan selamat ulang Tahun, hanya ingin melihat wajah idiotmu yang kelamaan tambah usia dan keriput seperti kakekku di desa!” Dan aku hanya bisa tersenyum untuk ucapan selamat yang ukh -tulus itu.

 Itulah alasanku, kenapa akhirnya aku memilih putus dengan Yui. Aku menyukai Yui, bukan berarti LuHan tak boleh menyukainya juga, kan?

 Itu haknya, lagipula dia berbohong untuk menjaga perasaanku. Akulah yang terlalu tersulut emosi sampai tidak berpikir secara benar.

 Tidak ada yang bisa menyaingi LuHan. Tidak ada. Dia itu makhluk langka, yang harusnya dimasukkan ke dalam status endangered oleh pemerintah; seperti simpanse dan macan.

Dan disinilah aku. Di depan pintu rumah LuHan. Jemariku menekan password rumahnya; itu tanggal lahir artis sensualHyorin Sistar,  Password yang sama persis dengan rumahku sendiri.

 Aku masuk ke rumah yang seminggu tak ku kunjungi ini. Seminggu lalu rasanya seperti dua tahun, eish, hiperbolis, bukan gayaku.

 Aku berjalan pelan ke balkon rumah LuHan. Entahlah, aku hanya merasa lelaki sedang disana. Dan dugaanku benar. LuHan disana, tubuhnya dipenuhi perban di beberapa sisi dan luka memar dimana-mana. Tatapannya kosong. Entahlah, Melamun? Mungkin.

 Aku berjalan mendekat, kurasa dia tidak menyadari keberadaanku. LuHan benar-benar nampak kosong, kelihatannya dia mungkin juga memikirikan pertengkaran kami, itu hanya mungkin. Manakutahu kenyataannya.

 Aku menghela nafas dan mempersiapkan diri untuk memulai percakapan, rasanya dirundung rasa yang benar-benar canggung. Tapi aku takut untuk berkata-kata, bagaimana jika dia mengusirku?

 Kutarik nafas dalam-dalam, kemudian pelan-pelan kuhempaskan. Lantas aku mulai bicara, “Ck, kita terlihat semakin tampan dengan luka-luka ini, dua pemuda keren dan yang salah satunya adalah manusia tertampan didunia; aku. Terlihat sangat maskulin dengan bekas luka dimana-mana.” Ujarku. Harap-harap cemas dia akan merespon, responnya artinya sebuah maaf.

 Dia melirikku sejenak, namun tidak menanggapi. Aku mulai takut sekarang. Bagaimana jika ia benar-benar mengusirku dari sini?

 “Aku putus dengan Yui, tau. Kau bisa bersamanya. Bisa juga tidak. Atau lebih baik kita berdua tidak usah bersamanya. Kita ini tampan tau, terlebih aku. Jadi mudah cari yang lain.” Ucapku, aku mendadak semakin kalut karena dia mendiamkanku.

 Aku tidak bisa kehilangan LuHan.

 “Kau tau? K-kau ter-terlihat seperti orang idiot, uh, sekarang, tidak merespon b-begitu.” Ucapku.

 Memalukan, memang. Gagap bukanlah gayaku, sialan. Tapi sungguh aku sedang benar-benar takut, kumohon jangan tertawakan aku.

 Beberapa menit kami terdiam, rasanya sangat mencekam dan aku hampir mati karena takut.

 LuHan tertawa keras tiba-tiba, beberapa saat kemudian. Membuatku terperangah. Menatapnya tidak mengerti, apa yang dia tertawakan? Apa maksud tawanya?

 “Hei, aku bahkan terlihat lebih tampan, lebih keren darimu. Mana ada lelaki keren yang bicara terbata-bata seperti tadi!” Balasnya pada akhirnya.

 Aku mengulum senyum, menghempas nafas lega. Dia meresponku!

Aku menatapnya lama sembari tetap senyum lebar, begitu lama hingga kurasa dia risih, tapi biarlah, aku ini kan sedang bahagia.  Kemudian dia menatapku tak suka sambil berkata, “Eish eh eh, kau tetap Oh Sehun, ya. Si Idiot.”

Aku tertawa, dia benar-benar LuHan sekarang, LuHan yang mencontekiku pekerjaan fisikanya di sekolah menengah.

 “Ya, dan kau tetap LuHan, si berengsek.” Balasku. Dan ia tersenyum lebar.

 Kami terdiam beberapa saat, menikmati angin malam yang berhembus dan keberadaan bintang yang akhir-akhir ini mulai jarang terlihat. Hembusan kami mendominasi suasana, terkadang suara deru nafas juga ikut mengambil andil.  Hingga pada akhirnya, dialah yang memecah keheningan, “Jadi, apa rencanamu? Setelah membuang Yui?” Tatapan matanya tetap mengarah pada bintang diatas langit. Sedangkan Aku mengendikkan bahu.

 “Entah. Cari gadis lain? Ya, aku akan mencari gadis lain dan memutuskan agar LuHan tak pernah melihat rupanya. Aku tidak mau melihatmu menyedihkan dan berakhir dirumah sakit karena masalah seperti ini.”

 Kami tertawa bersama.

 LuHan mengangguk. “Kali ini aku akan mencoba setuju. Aku tidak akan memacari Yui, seperti katamu, aku ini sangat tampan untuk mencari gadis lain dan koreksi, aku jauh lebih memikat daripada kau, idiot.” Ucap LuHan.

 “Berengsek. Aku lebih tampan, mantan kekasihku lebih banyak!”

 “Itu karena kau playboy, idiot!”

 “Oh, tentu saja bukan, karena mereka mau-mau saja kuduakan!”

 “Kau tau, itu kegiatan orang yang sangat idiot, tampan tapi murahan! Jual mahal sedikit, kenapa?”

 Dan yah, jangan dengarkan lagi, atau kau akan pusing mengurus pertengkaran kami yang tidak akan pernah habis sampai kami mati, mungkin?

 Hanya itu, hahaha, melankolis dan dramatis, kan? Bukan gayaku sekali. Tapi aku terlanjur bercerita, sih, jadi biarlah.

 Fin

Just Kill me!

Yeah, bahasa kasar itu, jangan ditiru, hanya penyempurna cerita xD

dan, do you get the feeling?
It is not about arguing, or somewhat fighting. But, i wanna ask you about the friendship. I really want to bring a reality.

Realistis. Cukup terkesan realistis, kan?

Maksudku, kisah sahabat yang mintamaaf dengan peluk-pelukan itu cuma di fairytale; atau mungkin cuma terkisah di sinetron. Biasanya, sahabat dekat itu justru orang yang paling jarang mintamaaf, apalagi terimakasih. Tapi mereka tetap nyaman satu sama lain, seperti cerita ini. Haha, entahlah, seketika ketika aku memikirkan judul dan mengetik, cerita ini mengalir secara spontan, begitu saja. But i think it was overflowing 😛

Has been published on, http://milkywaystories.wordpress.com others may be a plagiarism.

Iklan

11 pemikiran pada “B(itch)est Friend

  1. I get the feeling,
    Daebakk ><
    Ffnya keren . ^^
    Enthalh menurutku ini kayak argumen"(?) Gitu..,
    But i like it, 😁 And.. i agree with you, "sahabat dekat itu justru orang yang paling jarang mintamaaf, apalagi terimakasih. Tapi mereka tetap nyaman satu sama lain"
    .
    Keep writing thor!!
    Fighting !! ^^

    Suka

  2. nah bener. Ngarepin maaf dan terimakasih dari sahabat itu kaya ngarepin dinotice bias. Kadang cukup sama senyum atau perlakuan kecil semua selesai. Friendshipnya kerasa banget. Yeahh, justru cerita yg dianggap klasik biasanya yg lebih bisa dapet feel karna bisa dibayangkan dengan mudah dan karna sudah biasa jadi lebih terasa nyata.. bagus. Keren tau 😀 (hahaha aku jadi suka cara ngomongnya sehun yg selalu pake ‘tau’) kkk

    Suka

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s