Music Is What I Want To Do [Chapter 1]

cover music is what i want to do psd

Music Is What I Want To Do Chapter 1

Main Cast :

  • Park Jiyeon ( T – ara ) as Jiyeon
  • Lee Ji Eun as Jieun / IU
  • Byun Baekhyun ( EXO) as Chris Byun
  • Jung Yonghwa (CNBLUE) as Yonghwa
  • Kang Minhyuk (CNBLUE) as Daniel Kang / Minhyuk

Support cast :

  • Park Jin Young as Head Master Park / Jiyeon’s father
  • Kim Na Ran as Jiyeon’s mother
  • Lee Sung Hyun as IU’s father
  • Kwon Hae Jin as Kwon Seonsaeng / Baekhyun’s mother
  • Byun Ho Min as Baekhyun’s father
  • Jung Minri as Yonghwa’s mother
  • Kang Kyu Won as Minhyuk’s father
  • Na Myung Sa as Minhyuk’s mother

Author : Chan

Genre : Musical life, romance, friendship, angst, family, school life

Length : Chaptered

Author’s note : Di Chapter 1 hanya baru pengenalan, pengenalan hidup mereka sebelum bertemu di JAIHS….and don’t be silent reader!

Summary :

Hidup kita berbeda, berbeda asal usul dan tujuan hidup, namun kita memiliki takdir yang sama. Bersatu di atas naungan awan harapan yang sama, membiarkan semangat membara mengalir dalam setiap darah kita, kita hanya anak remaja yang memiliki gairah pada musik dengan cara yang berbeda. Ini bukan soal perbedaan, namun bagaimana cara kita memanfaatkan perbedaan itu.

~o~

Jiyeon’s POV

Disinilah aku, duduk meringkuk sambil merapatkan blazer seragamku. Rambut ikalku kubiarkan tergerai, dan kepalaku kubenamkan diantara kedua kaki. Mungkin aku terlihat seperti orang yang menangis, tapi sebenarnya tidak. Aku tak cukup berani untuk meneteskan cairan bening ini. Wajahku terlihat pucat dan mataku juga sayu. Mungkin kalian akan menebak bahwa aku sedang terjerat masalah yang berat, tapi sebenarnya tidak. Ya, bisa dibilang ini masalah sepele namun dibesar-besarkan. Alasannya hanyalah karena appa tak mengizinkanku untuk mengikuti Olimpiade Matematika di Beijing. Alasannya sederhana, hanya karena aku tak bisa berbahasa China.

Haish…apa yang orang tua itu pikirkan? Bahkan dikiranya aku masih terlihat ingusan, seperti anak yang tak mengenal dunianya sendiri. Lalu apa fungsi sebenarnya dari kemampuan berbahasa inggris? Apakah orang China sebegitu mencintai bahasanya sampai – sampai tak tahu tentang bahasa Internasional?

Berbagai alasan ku lontarkan agar pintu kayu ini bisa terbuka, tolonglah Olimpiade ini adalah puncaknya. Tentu saja, sudah bertahun – tahun aku menantikan penantian terakhir ini.

“Hah, sudah cukup bersedihnya, lebih baik aku memikirkan cara agar bisa lolos. Bila memakai rengekan tidak berhasil, aku harus memakai cara terakhir!” gumamku bersemangat, segera ku rapikan baju seragam dan blazerku yang tampak kusut.

“Ketebalan besi ini sekitar 10 cm, hmm cukup tebal. Sedangkan jarak dengan kusen sekitar 2 cm, tidak terlalu sempit. Jadi bila aku gunakan alat ini, pasti akan mampu menggesernya dengan menjorok keluar.” Ucapku bersemangat, seperti yang ku tahu jendela ini bisa digunakan untuk meloloskan diri karena ketebalan dan jaraknya yang sedikit tidak pas, jadi aku bisa memanfaatkan pergeseran ini.

Segera, aku meraih penggaris besi miliknya. Kemudian aku geser dengan putaran 30 derajat, setelah cukup tergeser, untung aku bisa keluar berkat tubuh langsingku. Aku mengelap keringat di sekitar dahiku, kemudian membuka penahan yang terpasang di luar jendela untuk mengambil tas. Setelah semua dipastikan siap, segera aku langsung meluncur dengan sepeda sport berwarna hitam. Kuharap, aku tak terlambat mengejar bisnya!

~o~

Jieun’s POV

Suara itu sungguh membuatku terbuai, lagu milik Taylor Swift yang entah menurutku sungguh sesuai dengan nada remaja. Entah mengapa lagunya begitu enak didengar walau kurang lebih memiliki chord yang sama. Suaranya yang terdengar unik lengkap dengan kemampuan bermain gitarnya sudah cukup membuatku iri. Ya, siapa yang berani membandingkan seorang Lee Jieun dengan Taylor Swift? Kurasa semuanya hanya akan tertawa.

Lagu ini berputar terus di kepalaku, lagu ‘Teardrops On My Guitar’ mengapa begitu membuatku merasa menjadi pemeran utama. Bedanya, ini adalah dengan versi yang berbeda. Bila dalam lirik aslinya bercerita tentang seorang perempuan yang menyukai seorang laki – laki, namun dibuat patah hati karena pada kenyataannya sang laki – laki menyukai perempuan lain. Namun dalam versiku, aku menangis di atas gitar ini karena appaku menentang mimpiku.

He’s the reason for the teardrops on my guitar
The only thing that keeps me wishing on a wishing star
He’s the song in the car I keep singing, don’t know why I do

Sudah jelas itu ditujukan untuk appaku. Aku tetap berharap bahwa dia akan memberikan restunya, andai dia mendukungku, pastinya dunia ini terasa begitu indah. Karenanya aku bisa bertahan sampai sejauh ini, harapanku agar dia bisa membuka hatinya merupakan pendorong utama.

Dia begitu berbeda, yang dulu dan sekarang. Tanpa sepengetahuannya, aku memiliki koleksi albumnya saat ia menjadi musisi sukses dulu. Lagu – lagunya bahkan terasa hidup, emosi yang ia tuangkan terasa lepas begitu saja. Membiarkan para pendengarnya meresapi setiap emosi dalam liriknya. Kuharap, dia ingin mendukungku sekali saja. Itu saja sudah cukup untuk membuat hidupku paling berarti…..

Baekhyun’s POV

Disini lah aku, dibalik sebuah pintu yang dihiasi oleh berbagai macam tempelan. Kubiarkan suara itu terus saja mengusikku, tak tahu kah dia bahwa aku sedang kesal.

‘Tok Tok Tok’ haish, benar – benar. Sudah tahu aku merajuk, masih memaksaku untuk membukakan pintunya.

“Baekhyunnie…tolong buka pintunya! Jangan seperti ini…”  ujar suara di seberang sana, yang terdengar memuakkan.

“Berisik sekali kau, eomma…biarkan aku sendiri! Aku benci padamu! Kau bukan eomma yang baik, yang seharusnya bersedia mengabulkan permintaan sepele ini saja! Lalu apa gunanya kau disana? Lebih baik kau bekerja di bar dan melayani pria – pria disana. Toh gajinya juga lebih besar!” balas aku ketus. Aku tahu ini keterlaluan, tapi ini sudah melewati batas.

“Ya! Byun Baekhyun! Jaga bicaramu! Aigoo! Kan eomma sudah bilang, bahwa peraturan disana memang seperti itu. Bila memang diperbolehkan, eomma pasti sudah mendaftarkanmu dari jauh jauh hari. Mengertilah, kumohon…” Jelas eomma, pasti matanya tampak berair, merasa bersalah atas ketidakmampuannya membahagiakan anaknya sendiri. Aku memang merasa bersalah, namun siapa suruh ia tidak mengizinkan anaknya mendapat pendidikan terbaik.

“Gotjimal! Meskipun tidak boleh, kan eomma bisa membuat koneksi! Lakukan apa saja biar aku bisa masuk ke JJ High School! Kalau perlu selingkuh saja dari appa dan goda kepala sekolah JAIHS! Pokoknya aku tidak mau tahu, pastikan aku masuk ke sekolah itu! Titik.”

“Geurae…bila begini jadinya. Kau harus berusaha sendiri! Biar saja kau terlambat menjadi musisi, agar tak ada yang ingin membeli albummu! Kalau kau berani, ikut Global Audition di Amerika berhubung bahasa inggrismu bagus, pakai nama Inggrismu dan ikutlah audisi. Semua ini tergantung pada sebesar apa usahamu untuk menjadi musisi terkenal. Jangan hanya mengandalkan tangan orang tuamu, bersikaplah dewasa! You’re not a kid anymore” tandas eomma panjang lebar. Aku termenung mendengarkan penjelasannya, kurasa aku memang terlalu kekanak-kanakan. Baiklah akan aku buktikan bahwa aku bisa!

Yonghwa’s POV

Brosur itu berterbangan dimana-mana, kupungut satu persatu untuk melihat isinya. Aku mendengus kesal, ternyata isinya hanyalah promo makanan di berbagai café. Kukira ini adalah brosur pencarian karyawan kerja. Huh, bisakah Tuhan berbaik sedikit untukku? Tidak tahukah dia bahwa eomma sedang sakit parah sekarang ini.

Kutelusuri jalan di daerah Cheongdamdong sambil memerhatikan toko – toko disekelilingnya. Sudah lama aku memutari toko sekitar Cheongdamdong, namun hasilnya nihil. Tak ada yang membutuhkan karyawan, entah ini disebabkan oleh apa. Yang jelas aku merasa Tuhan pilih kasih padanya. Sudah merasa lelah, aku duduk di bangku depan suatu toko baju, keringat mengucur dari daerah sekitar pelipisnya. Rasa haus seolah mencekik tenggorokanku, betapa segarnya ice coffee pada saat seperti ini. Aku memasukkan tangan ke semua kantong celana, namun hasilnya nihil. Tak ada uang sepeser pun.

Aku sudah benar – benar putus asa saat itu, namun perhatianku tertuju pada sebuah café. Café yang didalamnya terdapat sebuah piano klasik berwarna putih. Hatiku berdoa supaya aku bisa bekerja di café tersebut.

Segera saja kulangkahkan kakiku ini ke dalam café dengan interior klasik yang sempat kupandang tadi. Segera menghampiri seseorang yang terlihat seperti manajer dari café ini.

“Annyeonghaseo…aku kebetulan sedang mencari pekerjaan. Apakah ada lowongan pekerjaan disini? Aku memang tidak pintar tapi setidaknya ingin berusaha. Keahlianku adalah bermain piano, tapi aku juga bisa diandalkan dalam banyak hal. Tolong terima aku” yonghwa menghembuskan napas panjang, ya setidaknya kalimat itu merupakan kalimat terpanjang yang ia ucapkan hari ini.

Seseorang yang kukira manajer itu hanya melongo heran melihat keantusiasanku.

“Hei hei anak muda, kau ini bersemangat sekali. Tapi sepertinya dewi fortuna berpihak padamu, kami memang sedang mencari seseorang untuk piano itu. Ya, meskipun hanya sebagai pemain pengganti. Tapi, sudahlah kau diterima!”

Minhyuk’s POV

Bau alcohol menyeruak dengan ganasnya memasuki sela sela indra penciuman siapa saja yang memasuki area ini. Ya, bahkan baunya saja sudah menjijikan. Tapi entah mengapa ini menjadi tempat favoritku. Tak terhitung lagi berapa banyak botol wine dengan kadar alcohol tinggi yang kuhabiskan dalam kurun waktu kurang dari 2 jam. Apakah itu terlalu hebat untukku? Aku tahu, aku memang bukan peminum yang hebat jadi rasanya ‘tidur cepat cepat’ adalah tujuanku.

Semakin malam, club ini semakin penuh saja. Bahkan untuk bernapas saja sudah susah. Tak mungkin aku berakhir disini dengan keadaan mengenaskan kemudian pulang dengan bekas lebam sana sini. Siapa pelakunya? Tentu saja preman suruhan abeoji, yang selalu berpatroli mengunjungi setiap club untuk menghajarku – kejam. Dengan kekuatan yang ada, aku keluar melewati pintu belakang, karena akses untuk keluarnya tidak terlalu susah. Tak kupedulikan lagi berapa banyak wanita wanita murahan itu menggodaku. Cukup, aku sedang tak ingin bermain – main.

Dengan sempoyongan, akhirnya aku bisa keluar dari club terkutuk itu. Terlihat jalanan mulai sepi, hanya beberapa kendaraan yang terlihat berlalu lalang. Penerangan juga terlihat redup karena club ini letaknya memang terpencil. Aku usahakan sebisa mungkin berjalan menyusuri gelapnya malam, berharap ada sedikit keberuntungan untukku agar aku tidak terjatuh disini.

Dan terakhir kali hal yang kulihat adalah, sebuah toko musik yang masih memasang tanda ‘open’. Setidaknya merepotkan orang lebih baik, daripada harus menahan lebam yang tak kunjung sembuh.

-TBC-

Iklan

2 pemikiran pada “Music Is What I Want To Do [Chapter 1]

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s