Music Is What I Want To Do [Chapter 2 / One Step Closer ]

cover music is what i want to do psd

Tittle : Music Is What I Want To Do [Chapter 2 / One Step Closer ]

Main Cast :

  • Park Jiyeon ( T – ara ) as Jiyeon
  • Lee Ji Eun as Jieun / IU
  • Byun Baekhyun ( EXO) as Chris Byun
  • Jung Yonghwa (CNBLUE) as Yonghwa
  • Kang Minhyuk (CNBLUE) as Minhyuk

Support cast :

  • Park Jin Young as Head Master Park / Jiyeon’s father
  • Lee Sung Hyun as IU’s father
  • Kwon Hae Jin as Kwon Seonsaeng / Baekhyun’s mother
  • Jung Minri as Yonghwa’s mother
  • Kang Kyu Won as Minhyuk’s father
  • Min Ryu Won as The Owner Of Musical Instrument Store

Author : Chan

Genre : Musical life, romance, friendship, angst, family

Length : Chaptered

Summary :

Hidup kita berbeda, berbeda asal usul dan tujuan hidup, namun kita memiliki takdir yang sama. Bersatu di atas naungan awan harapan yang sama, membiarkan semangat membara mengalir dalam setiap darah kita, kita hanya anak remaja yang memiliki gairah pada musik dengan cara yang berbeda. Ini bukan soal perbedaan, namun bagaimana cara kita memanfaatkan perbedaan itu.

~OoO~

Author POV (Jiyeon’s side )

Dentingan garpu dan sendok begitu kentara terdengar di dalam ruang makan itu. Hanya keluarga utuh yang sedang sarapan, tidak lebih. Gadis itu, Park Jiyeon yang merupakan tuan putrid di rumah itu hanya bisa makan dalam diam. Berbicara, oh tidak. Sama saja seperti memaksakan diri masuk ke mulut harimau.  Dentingan sendok yang terdengar jelas dari arah seberang lagi – lagi membuat hati Jiyeon tak karuan. ‘Ayolah..jangan lagi’ itulah suara hati Jiyeon yang memang berharap banyak pada appanya. Jiyeon bahkan sudah mempersiapkan semuanya, menutup mata, hati, dan telinga.

“Jiyeon-a….” panggil appa Jiyeon, yaitu Jin Young. Dalam hatinya detak jantung terasa berhenti, deru nafas seakan tercekat, tak ada lagi yang bisa menggambarkan bagaimana rasanya Jiyeon saat itu.

Sedangkan yang dipanggil hanya menoleh sambil berusaha untuk menenangkan detak jantungnya.

“Bagaimana keputusanmu?” Tanya Jin Young, lagi – lagi menatap tajam Ji Yeon.

“N-ne? Keputusan a-pa?” Ji Yeon sudah memiliki firasat buruk atas ini, sudah 1 minggu yang lalu Jin Young menanyakan ini dan memutuskan untuk memberi Ji Yeon waktu berfikir. Dan sekarang bahkan sudah lewat dari waktu yang dijanjikan, bisa apa Ji Yeon? Mau meminta tambahan waktu lagi? Dirasa hal yang mustahil.

“Tentang sekolahmu” Jin Young hanya menghela napas pasrah.

“Aku masih belum memutuskannya, appa…” balas Ji Yeon takut, matanya hanya memandang ke arah piring kosongnya.

“Geurae…karena ujian masuknya tinggal 1 bulan, persiapkan dirimu untuk itu. Jangan membantah apalagi menolak, ingat kau sudah berjanji” Tegas Jin Young, dirinya bersiap untuk berdiri. Matanya ia pejamkan, mungkin sedikit stress karena melihat kelakuan Ji Yeon yang sepertinya tak ingin sekolah di sekolah musik melainkan sekolah Sains seperti idamannya.

Ji Yeon hanya mendengus pasrah, 1 bulan setidaknya waktu yang tidak sebentar bukan?

IU’s side

Kring…

Suara lonceng khas café yang terletak di distrik Gangnam itu berbunyi. Menandakan bahwa ada pelanggan yang datang.

“Eoseo Oseyo…” sapa seorang pelayan wanita seraya membungkukkan tubuhnya.

“Annyeong Ha Myung – ah !” balas pelanggan itu, ia sunggingkan senyum manisnya menunggu pelayan itu balik tersenyum.

“IU eonnie!”

“Apa yang membawa eonnie datang kesini?” Tanya pelayan yang tadi dipanggil Ha Myung.

“Aigoo anak ini, kau tidak tahu aku pelanggan? Ckckck…” balas IU dengan dengusan khasnya.

“Aaa…mianhae eonnie aku lupa. Bukannya kau biasa datang ke sini untuk curhat?” ucap Ha Myung diselingi cengiran khasnya.

Sedangkan IU hanya balas terkekeh, betapa malunya dirinya.

Beberapa menit kemudian Ha Myung membawa secangkir Americano dan duduk menunggu curhatan IU.

“Ah…Ha Myung-a, apa yang harus ku lakukan?” ujar IU tiba – tiba yang sontak mengagetkan Ha Myung. Ditambah lagi dengan erangan frustasinya.

“Aish…Wae? Apakah ini berhubungan dengan abeojimu? Ditentang lagi? Aigoo…dasar orang tua itu” balas Ha Myung yakin, seolah itu memang topik curhatan IU.

“Bukan! Kali ini tentang pekerjaan…”

“Mwo? Kau ingin bekerja? Dalam umur semuda ini? Aigoo…kau bahkan belum memutuskan ingin ke SMA mana. Fokuslah pada ujian kelulusan!” Ha Myung mencibir IU. Kadang ia sendiri tak tahu tentang jalan pikirannya.

“Haish…bukan sekarang adikku tercinta…kau gila? Bisa apa aku tanpa ijazah SMA? Maksudku nanti usai aku lulus dan melanjutkan ke perguruan tinggi – mungkin. Aku ingin melanjutkan cita – citaku, menjadi penyanyi…”

“Geuraseo?” lirik Ha Myung malas, gadis itu sudah tahu betul cita – cita IU. Tak perlu diberi tahu lagi.

“Tapi sayangnya untuk diterima di agensi impianku, setidaknya harus memiliki ijazah SMA Musik dengan kualitas Internasional. Tapi kau tahu bukan, bila biaya administrasinya sangat mahal…” ujar IU sambil mendengus sedih.

“Hei hei, jangan sedih dulu… eum..aa..oiya! Aku dengar JAIHS tahun ini membuka pendaftaran dengan berbagai cara ! kau tidak perlu membeli formulir. Bila eonnie berhasil masuk 10 teratas saat audisi, maka dipastikan eonnie akan mendapat beasiswa untuk 1 tahun pertama!” jelas Ha Myung dengan semangat.

“JAIHS itu apa?” 3 kata yang cukup membuat Ha Myung sakit kepala.

“JJ Art Internasional High School. Sekolah seni bergengsi di dunia ! semua siswanya berasal dari berbagai Negara, hanya bakat terbaik yang diambil. Untuk menjadi siswanya, kau harus bekerja keras!”

“Daebak! Aku minta alamat websitenya!”

“Dasar, eonnie ini..”

Baekhyun’s side

Mata indah yang dilapisi eyeliner tipis itu sibuk menyusuri rentetan kata – kata yang terpampang di laptopnya. Sungguh teliti sampai – sampai tak sadar berapa jarak antara laptop dan matanya.

“Aw…appo” ujarnya sambil memegang kedua matanya. Sepertinya Baekhyun terkena radiasi, matanya memang begitu sensitif.

Baekhyun mengumpat kesal sambil terus mencari kacamata anti radiasinya.

“Oh my god! Where is it? Damn!” ucap Baekhyun penuh dengan umpatan. Setelah Baekhyun membongkar isi meja belajarnya, akhirnya ia menemukan kacamatanya.

Sambil mengomeli kacamatanya tidak jelas, Baekhyun kembali menuju ke kursi meja belajarnya. Menghampiri laptop kesayangannya dan melanjutkan aktivitas yang sempat tertunda.

Emosi Baekhyun kadang sulit dikendalikan sejak insiden penguncian kamar dan diakhiri oleh pernyataan tegas nyonya Kwon. Menyadari bahwa bekerja sendiri itu sulit malah berakhir dengan keegoisannya sendiri.

Sifatnya yang egois dan emosional ini juga tak pernah menguntungkannya dalam hal appaun. Tak disenangi guru dan teman. Walau Baekhyun anak yang pintar terutama dalam bidang seni.

“Global…Audition…! BINGO!” Baekhyun teriak kegirangan, kini ia merasakan betapa senangnya saat kita berhasil dengan usaha sendiri. Walau hal kecil, ini sudah menjadi perjuangan yang cukup berat bagi Baekhyun. Baekhyun yang memang payah dalam hal internet wajar saja bila mencari link begitu susah.

KLIK

“Ckckck….sekolah ini benar – benar menggunakan bahasa inggris? Waa daebak!” ucap Baekhyun kagum. Bahkan sekolah internasional memakai bahasa inggris pun dibilang hebat. Anak ini…

Untung saja kemampuan bahasa inggris Baekhyun bagus, otak sang jenius tak akan memiliki kelemahan.

“Audisi penerimaan siswa JAIHS secara global akan dilaksanakan di Negara yang terdaftar. Negara yang terdaftar selain di Korea adalah Cina, Jepang, Amerika, Inggris, dan Prancis.

Bagi warga negara yang terdaftar memiliki bakat dan minat menjadi seniman bisa mendaftarkan diri dan mengikuti audisi di tempat yang sudah dijelaskan.

Syarat bagi pendaftar adalah harus berumur minimal 14 tahun dan maksimal 16 tahun.

Harus terdaftar dalam kartu keluarga secara sah dan diakui negara.

Mendaftar sesuai dengan bakat dan keahlian masing – masing.

Harus bisa berbahasa Inggris untuk menyesuaikan dengan peserta dan juri.” Baekhyun menghentikan ucapannya dan merenungkan syaratnya. Baekhyun memajukan bibirnya, merasa sedih.

“Ini akan sulit bila meminta Uncle Sam untuk menambahkan aku sebagai anggota keluarganya. Hmm…mau bagaimana lagi. Kalau hati sudah siap, tinggal dilakukan. Bahkan kalau disuruh mencium kakinya aku akan melakukannya!”

Dan untuk yang pertama kalinya, seorang Byun Baekhyun berani menjatuhkan harga dirinya demi impian terbesarnya.

Yonghwa’s side

Lantunan lagu klasik karya Mozart berhasil diselesaikannya dalam sebuah piano. Yonghwa benar benar tahu bagaimana membuat lagu – lagu Mozart menjadi sebuah medley yang menarik untuk didengar. Sungguh jenius.

Penampilan menawannya diakhiri dengan tepuk tangan meriah. Pengunjung café yang biasanya sepi kini sungguh ramai bagaikan pasar. Semua orang duduk dan menatap sang pangeran yang memainkan jari – jarinya di atas piano klasik berwarna putih. Penampilan yang hanya bisa didapat di konser konser eksklusif. Belum lagi ditambah dengan wajah dan suaranya yang bagaikan malaikat, melebihi sempurna bagi seorang pemain piano café.

Melihat pengunjung antusias, Yonghwa melebarkan senyumnya. Matanya memandang ke arah laki – laki tua yang bersandar di belakang sambil tersenyum bangga. Tak perlu menjadi pianis terkenal yang harus berpijak di atas gedung mewah. Cukup duduk di atas kursi yang tak mewah dan di lingkungan panas tak ber-AC sudah menjadi pengalaman hebat tersendiri bagi Yonghwa.

Saat Yonghwa bersiap untuk turun dari panggung kecil itu, tiba tiba saja sebuah tangan menepuk bahunya.

“Ikut aku anak muda…” perintah seorang ahjumma dengan perawakan sedang. Yonghwa yang diperintahkan hanya mendecak dan tanpa berpikir panjang Yonghwa mengikuti sosok ahjumma yang memanggilnya.

“Apa ada yang ingin kau bicarakan?” Tanya Yonghwa seusainya sampai di pekarangan café.

“Sebelumnya ahjumma minta maaf, karena telah mengajakmu tanpa alasan. Ahjumma hanya ingin membagi informasi yang menyangkut masa depanmu. Kulihat kau sungguh berbakat, tapi mengapa harus di café kecil ini? Aku yakin kau bisa berdiri di atas panggung yang megah, yang hanya menyorot untukmu seorang.” Jelas Ahjumma itu sambil menatap Yonghwa lekat – lekat.

Yonghwa hanya mendesah pasrah namun ia tersenyum dengan cepat layaknya orang bodoh.

“Hehehe…aku tak mempunyai pendidikan musik yang bagus dan selain itu aku bahkan tak mempunyai uang..aku bahkan tak ada niatan untuk melanjutkan SMA.” Balas Yonghwa dengan cengiran bodohnya.

“Apa? Kau masih SMP? Aku tak menyangka anak semuda ini sudah memiliki bakat yang luar biasa. Pokoknya kau harus menjadi pianis terkenal! Apapun caranya!” ujar ahjumma itu dengan tangan yang terkepal juga intonasi yang terdengar sedikit memaksa.

“Kenapa kau jadi berteriak? Ini hidupku dan kau bukan siapa – siapa. Lebih baik begini agar aku bisa menghasilkan uang untuk eommaku, dia sedang sakit parah dan hanya aku yang beliau punya. Tak ada waktu untuk sekolah, tak ada waktu untuk bermimpi menjadi pianis terkenal. Aku bersyukur dengan hidupku. Hidupku ini berbeda, jadi jangan rasa kau mengerti” balas Yonghwa ketus. Entah mengapa bila menyangkut masa depannya Yonghwa menjadi emosional.

“Maaf anak muda.. aku memang tidak sopan. Tapi kurasa kau masih ingin melanjutkan SMA, apalagi SMA seni. Begini saja, aku ada usul. Bagaimana jika kau mengikuti audisi untuk JAIHS? Dengan bakatmu ini ku yakin bahwa kau akan masuk 10 teratas dan bisa mendapatkan beasiswa untuk 1 tahun. Ini brosurnya dan ikutilah bila berubah pikiran.” Jelas ahjumma itu, ia meraih brosur dan menyerahkannya ke Yonghwa.

Sedangkan Yonghwa hanya terdiam menatapi brosur ditanganya. Haruskah?

Minhyuk’s side

Cahaya lampu menusuk mata pria itu. Tangannya tergerak untuk memegangi dahinya, sepertinya ia pusing. Belum sempat ia sadar sepenuhnya, suara seorang laki – laki tua menginterupsi pikirannya yang sedang kacau.

Bagaimana cara ia bisa sampai kesini? Itulah yang sedang dipikirkannya. Dan tunggu dulu, Minhyuk baru menyadari bahwa ia tertidur di atas sofa toko musik.

“Hei pemabuk, kau sudah bangun?” sindir laki – laki tua itu yang sepertinya pemilik toko musik berinterior klasik itu.

Minhyuk hanya mendengus kasar kemudian berusaha untuk berdiri walau badannya sedikit limbung.

“Bahkan setelah malam – malam kau tidur di luar tokoku layaknya aku mengusirmu, kau tak ingin berterima kasih?” lanjut ahjussi itu sambil mengelap alat musiknya.

Minhyuk kembali ingat kejadian itu ketika dirinya sudah tak kuat kemudian pingsan di depan toko alat musik. Mengingatnya sudah membuat Minhyuk malu setengah mati. Tapi demi harga dirinya, Minhyuk langsung saja pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun.

“Dan juga ketika kau muntah dan mengotori lantaiku yang bersih? Masih ingin pergi? Yakin bila appamu tak akan marah?” Tanya ahjussi itu, kali ini dengan suara yang lebih terdengar ‘menggoda’?

Minhyuk menghela napas, benar juga kalau abojinya tahu bisa – bisa kena pukul lagi. Minhyuk membalikkan tubuhnya malas dan beranjak duduk lagi di sofa.

Minhyuk mengamati setiap alat musik yang dipamerkan. Mulai dari yang biasa sampai yang mewah, mullah dari yang kuno sampai modern. Ini benar – benar mengangumkan.

Matanya kemudian tertuju pada sebuah drum berwarna hitam menyala, apalagi setelah dilihat terdapat logo naga di stik drumnya, yang menurut Minhyuk keren. Secara naluri Minhyuk langsung berjalan menghampiri drum itu. Matanya berbinar binar pada pandangan pertama. Ini adalah pengalaman pertama melihat alat musik terlebih drum dari jarak dekat. Entah mengapa dalam sedetik Minhyuk sudah jatuh cinta pada drum hitam ini.

Tak tahu kapan, ahjussi pemilik toko itu sudah berada di samping Minhyuk.

“Apakah kau menyukai drum?” Tanya ahjussi itu, tangannya ia taruh di belakang punggung.

Sedangkan Minhyuk tetap berdiri disitu dan memandangi drum hitam itu layaknya orang bodoh. Tak menghiraukan pertanyaan ahjussi itu. Kekagumannya masih belum berkurang.

“Ikut aku!” perintah Ahjussi itu kemudian menepuk bahu Minhyuk agar mengikutinya.

Tempat yang dituju ahjussi itu adalah sebuah studio musik pribadi. Terdapat berbagai macam alat musik layaknya sebuah band.

Mata Minhyuk memandang takjub, apalagi saat tatapannya bertemu dengan drum hitam itu. Sontak saja Minhyuk menghampirinya dan mencoba untuk memainkannya. Saking semangatnya Minhyuk bahkan tak sadar bahwa sedari tadi mulutnya masih dibiarkan menganga.

Ahjussi itu hanya terkekeh, kemudian mempersilahkan Minhyuk untuk menggunakannya.

Minhyuk mengambil stik drum kemudian secara spontan memukul drum sesuka hatinya, sekuat – kuatnya. Sampai ia merasa lelah, kemudian untuk endingnya Minhyuk memukul cymbal kuat – kuat sehingga menimbulkan dentingan yang keras.

Senyum Minhyuk tak pernah lepas, napasnya naik turun namun ia serasa lepas. Ini lebih baik dari alkohol, dan Minhyuk menyukainya.

“Kau suka?”

Minhyuk menganggukan kepalanya pelan, tetapi tatapannya tak pernah lepas dari drum itu.

“Lebih baik kau memukul drum sekuat mungkin untuk menumpahkan emosimu daripada merusak hidupmu sendiri dengan alcohol. Masih banyak cara yang dilakukan sebagai pelampiasan, bukan alcohol.” Nasehat ahjussi itu. Ia tersenyum penuh arti kepada Minhyuk.

Dan kemudian…

“Anak muda, kau ingin masuk JAIHS?”

-TBC-

Author’s note : like + commentnya, semakin banyak semakin cepat publish next chapter! Right! Semoga readers pada suka, dan maaf kalau kurang greget 😀

Iklan

3 pemikiran pada “Music Is What I Want To Do [Chapter 2 / One Step Closer ]

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s