Dream

 21679-Dream-Catcher-Sunset copy

Dream

by Fiolacindy

Staring by:

Byun Baekhyun and unnamed cast

Attention:

FF ini terinspirasi dari perkataan Cha Eun Sang dalam drama ‘The Heirs’ namun tentu dengan jalan cerita yang sangat berbeda yang muncul dari pemikiran saya sendiri. Dilarang menjiplak dan menyebarkan hasil karya saya tanpa izin.

‘Aku akan menghilang layaknya mimpi di musim panas semalam. Selamat tinggal’

Tap … tap … tap …

Derapan sepatuku yang saling berbalapan diselingi nafas yang tak teratur. Ini hari pertama aku masuk sekolah di musim panas dan aku sudah ketinggalan bus sekolah. Tak terbayang hukuman apa yang akan aku dapat apabila aku telat nantinya. Hal-hal seperti guru killer, guru BK, dan lebih tepatnya lagi senior-senior tak berperikeadikkelasan . Oh Dewa keberuntungan, bisakah kau berpihak padaku sekali ini saja?

Aku mempercepat lajuku. Sambil kulirik arloji tuaku. Damn! Lima belas menit lagi kelas dimulai. Aku harus ekstra cepat sebelum gerbang sekolah ditutup. Aku semakin mempercepat laju kedua kakiku. Lalu …

Bruk!!!

Buku-bukuku bertebaran dimana-mana begitupun barang milik seorang noona bermantel coklat /walaupun kukira aneh karena ini musim panas/ yang telah tidak sengaja aku tabrak.

“Maafkan aku, Noona. Aku sedang terburu-buru dan aku tidak melihatmu.”

“Oh tidak apa-apa. Mari saya bantu.” Ucapnya kembali mengemas barang-barangnya. Setelah selesai membereskan, kami berdua saling membungkuk dan berpamitan. Tapi sebelum aku berbalik, ia mengangkat bicara dan mulai membuat suasana agak canggung.

“Sebentar. Sepertinya anda sedang kesusahan. Mau saya antar? Saya membawa mobil, akan saya ambil lagipula untuk permintaan maaf karena sudah dengan sengaja menabrakmu.”

“Tidak usah. Aku bisa berangkat sendiri. Nanti aku akan merepotkanmu.”

“Tapi di luar sedang hujan” lantangnya. Ada apa dengan orang ini? Cuaca secerah ini dibilang hujan. Apakah dia sudah buta? Kubalikkan badanku lalu kubalas kata-katanya dengan senyuman.

“Ah tidak mungkin. Matahari sedang bersinar dengan cerahnya. Aku beragkat dulu, mari.” Aku melanjutkan langkahku dan apakah kau tahu? Baru kulangkahkan kaki keluar pintu apartement dan tiba-tiba hujan mengguyurku. Apa ini?! Sepuluh detik yang lalu matahari bersinar menyilaukan mata, lalu sepuluh detik kemudian …

“Mau saya antar?” tawaran itu tiba-tiba terdengar lagi oleh telingaku. Kutarik napas dalam-dalam. Baiklah mungkin aku akan menerimanya walaupun sedikit mengganjal perasaanku.

Inilah aku yang sedang berada dalam keadaan yang buruk mungkin, memprihatinkan tentu. Aku menumpang di mobil seorang noona yang bahkan aku tak mengenalnya. Terus terbayang di benakku keadaan sekolah nantinya. Air hujan yang terus mengguyur jalanan, begitu pula keringat dingin yang mengguyur sekujur tubuhku. Kali ini aku tak berani melirik kearah arlojiku.

“Jadi, Byun Baekhyun, dimana tepatnya sekolahanmu itu?” sebuah pertanyaan aneh terlontar mengingat kami berdua tak saling kenal.

“Bagaimana kau tahu namaku? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?”

“Nametag-mu” jawaban yang singkat, jelas dan padat. Bodohnya aku, aku sedang memakai seragam ya?!

“Di Kim High School. Cukup lurus lalu belok ke kiri.”

@KimHighSchool

“Terimakasih, Noona. Maaf telah merepotkanmu. Aku akan berjalan dari sini, anda boleh pergi.” Aku membungkukkan badan lalu mempersilahkanya pergi dengan sopan.

”Tidak. Aku akan menunggumu. Mungkin kau akan membutuhkan bantuanku lagi.” Apa katanya? Orang satu ini keras kepala sekali. Ah sudahlah yang terpenting aku sudah sampai di sekolah dan berterimakasih padanya. Tunggu, jam berapa ini? Aku sudah telat. Aku berlari ke arah gerbang sekolah dan benar dugaanku, sudah ditutup.

“Apa?! Diliburkan?”

“Iya. Para guru sedang ada rapat di Incheon, jadi sekolah diliburkan dan baru dimulai Rabu depan.” Oh My Gosh, are you kidding me? Seluruh tubuhku rasanya seperti meleleh, lemas.

“Haha. Bagaimana? Kau tidak diizinkan masuk?”

“Tertawalah,Noona. Tak bisakah kau lihat aku sedang menderita?” gerutuku padanya. Hari ini, benar-benar mengesalkan.

“Hah? Menderita? Kau seharusnya berterimakasih kepada Dewa Hermes –dewa keberuntungan Yunani- karena dia memihakmu sekarang.” Bicara apa noona ini? “Ikutlah denganku, aku akan mengantarkanmu pulang.”

Aku bangkit lalu mengikuti perempuan itu yang bahkan aku tak tahu darimana asalnya memasuki mobilnya. Berterimakasih katanya? Aku seharusnya tidak perlu kejar tayang begini jika tahu sekolah libur. Mimpi apa aku semalam sampai mengalami kejadian seperti ini?

“Jangan salahkan mimpi. Ini semua salahmu. Seharusnya kamu bangun lebih pagi. Mimpi selalu membawa kebahagiaan.” Apakah aku tidak salah dengar? Siapa sebenarnya dia ini? Mind reader? Perasaan-perasaan aneh mulai menyelimuti benakku sampai ia mulai menyetir ke arah yang salah.

“Hey kau salah jalan. Ini bukan jalan ke arah apartementku. Kau seharusnya belok kanan di perempatan ketiga.”

“Iya aku tahu bodoh. Apa kau ingin kembali ke apartement dan bertemu dengan hyungmu dan mengisi harimu dengan mendengarkan celotehanya?” benar juga, hari ini hyung pulang dari Beijing. Kurasa sekali ini aku bisa lari dari hyung.

“Jadi, kau mau kemana?”

“Waaaa Lotte World!”

“Haha, kenapa? Bukankah ini tempat yang kau impikan?”

“Iya. Aku selalu bermimpi dapat datang ke tempat ini bersama seseorang yang aku sayang. Lihatlah itu, biang lala. Jika kau beruntung kau bisa berhenti tepat di puncak dan membuat permohonan. Kemungkinan permohonanmu akan terkabul.”

“Lalu tunggu apalagi? Ayo naik!”

Biang lala raksasa itu mulai bergerak segera setelah aku menaikinya. Satu putaran, dua putaran dan tadaa! Kami berhenti tepat di titik tertinggi dari wahana tersebut. Dari atas terlihat seluruh bagian dari tempat bermain tersebut.

“Baekhyun-ah,buatlah permohonan.” Sedari dulu aku ingin berada di tempat ini dan memohon berbagai hal. Tapi saat ini, entah kemana perginya semua permohonan tersebut. Yang aku ingin kali ini, yang aku mohon saat ini hanya satu hal. Wahana ini mulai perlahan turun.

Setelah selesai berkeliling tempat  yang tak terhitung kecil kami pulang. Tak terasa hari sudah mulai gelap dan matahari sudah resmi menanggalkan dirinya untuk digantikan oleh bulan. Kami berjalan menuju parkiran.

Kruuuk … kruuuuk … sepertinya cacing-cacing di perutku mulai bernyanyi. “Duh laparnya” gerutuku sambil memegangi perutku. Semenjak pagi aku hanya menelan sepotong roti tawar.

“Kau lapar? Kita mampir ke restoran dulu.”

Kulahap hampir seluruh makanan yang ada di meja makan. Sementara ia hanya meminum secangkir Cappuccino hangat entah karena dia merasa tidak nyaman denganku atau memang hampir semua makanan kuhabiskan.

“Baekhyun-ah, ngomong-ngomong apa yang kau mohon tadi?” ia mulai mengangkat bicara lagi dan membuat perasaan canggung itu datang kembali.

“Begitu banyak permohonan di kepalaku tapi aku hanya memohon hal sederhana saja.”

“Hal-hal seperti … “

“Dapat seperti ini setiap harinya. Noona aneh memang, tapi aku merasa nyaman di dekatmu walaupun pada awalnya kukira kau orang yang menyebalkan. Tetaplah di sini, bersamaku kumohon.”

Hah? Bicara apa aku tadi? Ini konyol. Seharusnya aku tak mengatakan hal sebodoh itu. Damn! Aku terlihat seperti idiot sementara noona misterius itu hanya tertawa dan tersenyum simpul.

“Maafkan aku… maafkan aku sepertinya Dewa tidak bisa mewujudkan permohonanmu kali ini. Tidak, bukan belum. Setelah ini, setelah semua yang kita lewati aku akan menghilang seperti mimpi musim panas semalam.” Maksudnya apa? Keadaan makin tambah aneh. Menghilang?

Ding dong … ding dong … jam mulai berdentang menandakan pukul dua belas tepat. Noona itu beranjak dari tempat duduknya dan berlari keluar restoran. Aku mengejarnya hingga sampai kesebrang jalan. Seberkas cahaya yang menyilaukan mataku bertambah terang dan semakin terang. Aku tak dapat melihat apa-apa.

Aku akan menghilang seperti mimpi musim panas semalam. Selamat tinggal Chanyeol-ah.

Dagg!

Aduh kepalaku sakit. Kuelus kepalaku dengan telapak tanganku yang sialnya terkena meja di samping tempat tidurku. Oh hanya mimpi. Jam berapa ini? Kuambil ponselku diatas meja dengan keadaan masih terkapar di lantai. Kedua mataku membulat seketika aku melirik digit jam ponselku.

Tujuh lima puluh ?! Aku terlambat lagi!

Aku langsung mengambil tasku. Berlari menuruni tangga dengan kedua tanganku cekatan memakai dasi dan jas. Mengambil selembar roti tawar dan langsung memakanya masih dengan berlarian ke luar kamar. Seragam komplit, sarapan sudah, buku catatan sudah, laptop sudah, mandi? Mungkin tidak usah sekarang. Aku berlari keluar apartement.

Bruk!!! Aku terjungkal ke depan begitunpun buku-bukuku yang bertebaran.

“Maafkan aku Noona.” Ucapku sembari memunguti buku-bukuku yang berserakan di lantai.

“Oh tidak apa-apa. Biarkan aku yang membereskan, kau harus pergi.” Aku memasukkan semua bukuku ke tas kemudian berlari keluar. Ku bernafas lega setelah masuk taksi. Saat itu juga aku tidak sengaja melihat ahjumma yang aku tabrak tadi. Mantel coklat? Inikan musim panas. Tunggu… mantel coklat?!

“Silahkan masuk. Nona, kenapa kau tidak menolong laki-laki itu?”

“Aku sudah menolongnya semalam. Tugasku sudah selesai. Mari kita pulang.” Ia pergi meninggalkan apartemen menuju ke tempat yang siapa saja tidak tahu dimana. Dengan meninggalkan kenangan dan keyakinan akan terus bermimpi, ia pergi.

-END-

Hay hay saya kambek nih. Haha maaf lama banget ga update -emang ga ada yang diupdate- yah memang jadwal saya padet beberapa minggu ini tapi yah lupakan saja anggap saya tidak ada di sini.  Oh ya saya juga mengucapkan Selamat Tahun Baru, semoga menempuh hidup yang lebih baik,eh. Jadi, gimana ceritanya? Kepedekankah, alurnya kecepetan, latarnya loncat-loncat? Comment jusseyo …

Iklan

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s