Stupid Talk and a Bouquet of Red Roses

hqdefault

Stupid Talk and a Bouquet of Red Roses

Park Chanyeol & Jung Eunji

Romance, Fluff

Teen

Vignette

by exoticpanda

Summary: Yeah, obrolan bodoh biasa, hingga sebuah buket mawar merah.

Disclaimer: Maaf tidak bisa menyertakan kredit poster, karena hanya ambil dari google. Saya bukan seorang pengedit yg handal.

[*] Tidak apa-apakah bila ini dikatakan special utk Chanyeol Day? padahal sudah lewat lama T.T

:::

Baru lima belas menit, tapi rasanya Eunji sudah tidak tahan.

“Jadi…sepanjang hari kau selalu sendiri di sini?”

Eunji memutar matanya kembali. Tampaknya ini yang kelima kalinya.

“Iya,” jawab Eunji bosan.

“Tidak bosan?” tanyanya kembali.

“Sekarang jadi bosan,” jawabnya. Tanpa pernah bersitatap dengan si pemilik suara bass tersebut. Ia terlalu sibuk dengan bunga-bunga yang sedang ia rangkai.

“Kenapa?”

“Karena ada kau di sini.”

“Ya! Apa yang salah denganku?” tanyanya. Kali ini, Eunji menengok ke arah penanya itu. Ia sedang duduk, berbeda dengan Eunji yang berdiri menghadap meja. Dan ia juga sedang memegang gitarnya.

“Salah, Park Chanyeol. Karena kau bertanya tidak ada habisnya. Aku pusing,” jawab Eunji pada lelaki yang dilansir memiliki nama Park Chanyeol.

“Ya, ya. Baiklah, aku akan diam.” Park Chanyeol si jangkung itu benar-benar menepati perkataannya. Ia memilih bungkam dan meneruskan permainan gitarnya yang sungguh tidak membentuk suatu lagu apapun.

Sudah lima belas menit semenjak kehadiran Park Chanyeol di toko bunga milik keluarga Eunji, dan selama itu pulalah gadis penjaga toko tersebut dihujani oleh pertanyaan-pertanyaan dari Chanyeol. Lama-lama, lelah juga ia menjawabnya satu per satu.

“Eunji-ya, Baekhyun tidak pernah kemari?”

“Tidak,” jawab Eunji singkat. Apa laki-laki itu melupakan janjinya untuk tidak bertanya? Atau janji itu hanya berlaku untuk beberapa menit?

“Sekali pun?”

“Iya.”

“Tapi dia pernah bilang kalau dia ingin beli sebuket bunga di tokomu.”

“Dulu pernah. Sekali.”

“Dia…memberikannya padamu?”

Eunji menghentikan kegiatannya. Ia lalu menarik napas dalam, “Untuk apa dia membeli dariku dan memberikannya padaku? Memang dia kurang kerjaan?”

“Jadi…bukan untukmu?”

“Hmmm.” Hanya dehaman dari Eunji yang menimpali tanya Chanyeol.

“Kira-kira untuk siapa ya? Dia tidak pernah cerita.”

“Jangan cemburu.”

“Ya! Aku masih normal!” pekik Chanyeol segera. Seolah ia tidak membiarkan fitnah itu terlalu lama di permukaan. Eunji hanya terkekeh pelan saja menanggapinya. “Tapi, apa kau tidak cemburu?”

“Untuk apa?” Lagi, Eunji berhenti sejenak dari kegiatannya. Ia menyempatkan diri untuk melotot ke arah Chanyeol.

“Kalian sangat dekat.”

“Hanya teman.”

“Benar? Eyyy.” Chanyeol memasang seringai dan muka jahilnya.

“Benar. Untuk apa aku cemburu? Aku tidak menyukainya.” Eunji segera membentengi diri.

“Eyyy.”

“Aku lempar kau, Park Chanyeol, dengan pot ini.” Benar saja, Eunji mengambil sebuah pot plastik kecil yang ada di dekatnya, ia angkat ke udara, dan siap untuk mengenai wajah mulus orang yang sedang memasang ekspresi iseng.

“Ah, iya, tahan-tahan. Jangan lempar. Aku tidak akan mengejekmu lagi,” janjinya. Dan sejak itu Chanyeol lebih hati-hati. Bisa-bisa wajah rupawannya itu harus dimodifikasi kalau pot itu mendarat dengan sangat keras di sana. “Jadi, jika tidak suka Baekhyun, siapa yang kausuka?”

“Tidak ada.”

“Benar tidak ada?”

“Harus berapa ratus kali aku katakan agar kau berhenti bertanya?”

“Yeah, aku hanya memastikan.”

“Untuk apa?” Eunji balas bertanya. Sungguh, ini kali pertama ia mengajukan tanya.

“Yaaa, sekadar tahu. Masa teman dekat tidak tahu apa pun soal temannya.” Chanyeol menaikturunkan alisnya beberapa kali. Eunji pun sempat jijik melihatnya.

“Jangan sok akrab.”

Chanyeol hanya bisa mendengus.

Keheningan sempat menjadi atmosfer yang dominan untuk beberapa saat. Sebelum akhirnya pengamatan Chanyeol ia suarakan.

“Sungguh, kau tampak feminin secara visual bila kulihat sekarang. Tapi, apabila aku memejamkan mata, dan hanya fokus pada suaramu saja, bahkan sisa-sisa feminin itu tidak ada bekasnya,” ujar Chanyeol. Rupanya, pengamatannya ialah aktivitas Eunji yang saat ini tengah merangkai bunga, dan kontrasnya sewaktu Eunji menimpali tanya-tanya yang Chanyeol ajukan tadi.

“Tuan Park Chanyeol, apakah Anda baru memuji atau menghina?”

“Dua-duanya, Nona Jung. “

“Bisakah Anda angkat kaki dari sini sekarang juga, atau pot ini benar-benar melayang mengenai batang hidung Anda?”

“Oke.” Chanyeol segera berdiri, dan meletakkan gitarnya ke atas meja, lantas ia mengangkat kaki kirinya. “Aku sudah angkat kaki, Nona Jung.”

Dan Jung Eunji tidak bisa menahan hasrat untuk melayangkan pot itu. Maka, pot cokelat itu kini sudah benar-benar bebas di udara, sedang dalam perjalanannya untuk mengenai Park Chanyeol. Ah, bayangkan saja adegan ini dengan gerakan lambat. Ada Chanyeol yang sedang terperangah, dan matanya perlahan-lahan (karena ini adegan slow motion) melebar. Dan dengan gerakan gesit, namun karena gerakan diperlambat jadi tampak ia secara dramatis berupaya menghindar ke kiri. Kepalanya ia tolengkan ke kiri, sementara matanya tetap mengawasi pot itu yang melewati kepalanya dengan jarak yang sangat tipis. Lalu, keadaan berubah menjadi gerakan normal lagi. Pot itu sudah melayang ke ujung ruangan dan mendarat di sudut. Tidak kena. Chanyeol bisa lega berkat gerak refleksnya. Alih-alih bersyukur, ia lebih memilih berteriak kaget.

“YA!”

“Kenapa? Masih ada pot kedua, ketiga dan keempat. Aku akan memperbaiki tingkat akurasiku,” jawab Eunji, menantang. Tidak berhasil terintimidasi oleh teriakan marah Chanyeol. “Jadi…masih mau tetap di sini?” tantang Eunji lagi.

Chanyeol mengerjap, sekali, dua kali.

“Oke.” Setelah menelan ludah, akhirnya ia menemukan kalimat. “Aku akan pergi. Tapi sebenarnya aku ke mari untuk membeli bungamu, Nona Jung.”

“Yeah, ambil saja mana yang kaumau,” jawab Eunji santai, sementara Chanyeol tampak sudah memasukkan gitarnya ke dalam guitar case.

“Kau tidak bertanya untuk siapa?”

“Nope. Baekhyun, kan?” lagi-lagi kekehan kecil meluncur dari bibir Eunji. Sementara Chanyeol berdecak.

“Untuk gadis yang kusuka,” jawab Chanyeol, tanpa ditanya.

Segera ekspresi kekehan itu hilang dari Eunji. Ia lumayan kaget mendengarnya. Tapi, dalam beberapa detik, ia sadar. Lalu ia segera menampik apa yang berkelebat secara instan dalam pikirannya. Tampak dari ekspresinya yang kembali wajar.

“Oh, silahkan ambil saja,” katanya.

Lalu, Chanyeol segera berjalan ke arah lain di tempat yang ada banyak bunga-bunganya. Ia mengambil beberapa tangkai mawar merah. Cukup banyak. Lantas, ia berjalan ke arah Eunji, dan memberikan padanya untuk dibungkus.

“Mawar merah, sering disebutkan dalam puisi dan lirik lagu, kan? Lambang yang tepat untuk cinta. Bungkus dengan plastik yang paling bagus ya. Dan berapa harganya?”

Setelah menyebutkan nominalnya, Chanyeol segera mengeluarkan dompet di belakang saku jinsnya, dan mengambil beberapa lembaran won. Ia membayarkannya pada Eunji.

Sementara Eunji membungkus pesanan Chanyeol, lelaki jangkung itu kembali ke tempatnya tadi dan menyandang gitarnya. Ia lalu berjalan ke luar dan melewati Eunji.

“Ya! Ya! Bungamu sudah selesai kubungkus,” ujar Eunji dengan tergesa. “Park Chanyeol!” Ia meninggalkan counter-nya dan berlari kecil mengikuti Chanyeol. Sampai lelaki itu ke luar dari pintu dan meninggalkan toko bunga Eunji. Eunji juga turut ke luar. Dengan tergesa ia mengejar ketertinggalannya yang tidak terlalu jauh.

“Park Chanyeol, bungamu ketinggalan!” Eunji berteriak dari belakang.

Chanyeol akhirnya menghentikan langkah panjangnya. Ia lalu menoleh ke belakang, meski badannya tetap menghadap ke depan.

“Simpan saja. Itu untukmu,” ujarnya dan mengulum sebuah senyuman. Dengan aura yang kontras dengan beberapa saat yang lalu, ia dengan cool memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana, dan berjalan dengan langkah tegap dan gagah ke depan.

Sementara, Eunji menelan ludah lalu menganga.

-fin-

a/n: Chanji yeeaaahhh \m/ Couple ini emang enak banget dibuat rusuh haha. Ih gemes banget sama real-nya mereka yang sama-sama kocak. Cocok deh cocok. Suka banget sama kepribadian dua orang konyol itu.

hihi… tapi jangan lupa yaa kasih review buat ff ini. Dihargai banget yg kasih komen, i love youuu to the moon and back ❤

Iklan

5 pemikiran pada “Stupid Talk and a Bouquet of Red Roses

  1. Oww.
    How sweet.
    Pengen jadi Eunji masaaa._.
    Keren ceritanya. Bahasanya ringan dan gampang dimengerti. Kali yang perlu ditambah penambahan italic dan penataan supaya terkesan lebih nyess /apaan coba/
    itu aja deh. Ceritanya super duper kereen.
    Keep writting eonn.sarangeh/?

    Suka

    • makasih ya!
      iyaa… tadinya udah di-italic pas masih di microsoft word. tapi pas di copas di wordpress kok tiba-tiba ilang wkkk… hehe emang kelupaan di justify.
      makasih yaa sarannya 😀

      Suka

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s