Make You Feel My Love [ Special Kai’s Birthday ]

make you feel my love cover

Tittle : Make You Feel My Love

Cast : Kim Jongin ( EXO ) and Shin Hae Ra ( OC )

Genre : angst

Author : Lee Chan

Length : One Shoot

Rating : G

Author’s note : ini ff special buat Kai yang lagi ulang tahun. Mohon maaf bila ceritanya gak ngena atau gak suka. Disini aku benar – benar ubah imejnya Kai. Dan, ff ini terinspirasi sama lagunya mba adele yang ‘make you feel my love’. Semoga suka, jangan lupa like + commentnya! Dan jangan pernah plagiat! Happy reading!

~OoO~

Hujan semakin deras, disusul gemuruh serta petir yang menyambar. Badai benar – benar terjadi saat itu. Pohon – pohon tumbang menerpa kendaraan yang sedang berhenti. Listrik mendadak padam, suasana sunyi dan lenggang. Tak ada yang berani mempertaruhkan nyawa menghadapi badai sehebat itu, walau tak sampai memporak – porakkan seluruh kawasan Seoul, tetap saja jika tak ingin terkena pohon tumbang atau papan reklame pilihannya hanya satu, jangan beranjak dari rumahmu. Cukup bergelung di dalam selimut, merapatkan kehangatan yang bisa didapat. Kemudian terlelap, sampai menunggu cahaya hangat matahari.

Tapi siapa aku? Siapa yang berani membuka pintu dan melangkahkan kaki ke luar rumah? Apalagi hanya berbekal payung serta jaket yang tidak terlalu tebal. Berdiri di tengah kerumunan ranting – ranting yang berjatuhan, mungkin dari seperjuta penduduk Seoul, hanya aku lah yang mungkin sudah gila. Aku akui, aku memang gila berani berjalan tegap melewati segala rintangan, mengabaikan luka tertusuk entah ranting atau duri yang berserakan. Aku tidak peduli, asalkan menemukannya semua luka itu tak ada artinya.

Aku sebenarnya masih tidak percaya, berdiri di tengah badai untuk mencarinya, tapi hanya berdasarkan firasat. Aku tidak tahu firasat apa, yang jelas itu sesuatu yang buruk. Hatiku bahkan sudah terlanjur sesak mengingatnya. Mataku sibuk berkeliling, menembus deras hujan dan terpaan angin dimana – mana, membuat payungku sedikit oleng dan hampir tersandung.

Tak terhitung berapa lama aku sibuk berjalan perlahan, mengamatis setiap penjuru Seoul. Hingga langkahku terhenti pada suatu taman. Taman yang mungkin sudah tak asing bagi kita, taman inilah yang menjadi favoritnya. Aku segera melangkah masuk perlahan, mengamati sebisa mungkin, walau melihat saja rasanya sudah mustahil. Hingga samar – samar aku melihat seorang pria berambut hitam kelam, tertunduk lemas di bawah guyuran hujan. Terduduk di bawah rerumputan basah, wajahnya bahkan terlihat pucat. Dia lah yang kucari, sosok tegap namun lemah, wajahnya yang dewasa namun sifatnya masih kekanak-kanakkan. Dialah, Kim Jong In pengidap Sindrom Asperger yang terkucilkan. Dia yang selalu diabaikan, dihina, padahal dia adalah seseorang yang tidak berdosa.

Sontak aku langsung menghambur ke arahnya, memberikan pelukan terhangat yang aku bisa, memayunginya serta memberikan jaket satu – satunya yang aku pakai. Biarlah aku mati kedinginan, karena berkorban untukmu. Daripada mati sia – sia karena melihatmu terbaring lemah kedinginan. Aku menatapnya sendu, bibirnya bergetar dan membiru. Ia hanya melihat ke bawah, namun gesturenya seolah menghadap ke arahku. Tangannya ia mainkan kaku, kebiasaannya saat ingin memulai percakapan.

Aku hanya menggeleng, berusaha berbicara “kau tidak perlu berbicara, Jong In-ah” walau hanya dari tatapan mata. Ia menggigit bibir bawahnya, matanya berkeliaran memandang rumput hijau yang basah.

“Noona…”

Ia berkata lirih, matanya yang sayu mendadak berkilat dan terbuka lebar, bibirnya bergetar hebat, gerak tubuhnya seolah tidak tenang. Aku tahu, dia sedang mempunyai masalah. Kemudian, aku menggenggam tangannya berusaha memberikan kehangatan walau sebenarnya tanganku sudah berkeriput dingin. Kami tetap di bawah perlindungan payung, terduduk di rerumputan, tetap bertahan pada posisi seperti ini, tidak ada niatan untuk mencari tempat berteduh.

“Teman – teman tadi berkata bahwa Jong In pendosa, dan teman – teman juga bilang kalau Jong In akan masuk neraka. Disiksa selamanya. Apakah itu benar? Jong In tidak bersalah noona, Jong In tidak ingin disiksa…Jong In tidak ingin disiksa…tidak, tidak..”

Jong In mempererat genggamanku, matanya terbelalak takut disusul dengan gelengan hebat. Matanya meneteskan air mata walau ditutupi dengan air hujan yang sebelumnya sempat membasahi wajahnya. Ia berteriak berusaha melepaskan semua kegelisahannya. Jong In benar – benar takut, tatapannya begitu gelisah.

“Tidak Jong In, Uri Jong In tidak begitu. Jong In anak yang baik, tidak pernah berbuat nakal. Jong In juga tidak pernah merepotkan eomma dan appa, kan? Uri Jong In tidak akan disiksa dan masuk neraka, percayalah pada noona. Mungkin teman – teman hanya salah berbicara. Aigoo, jangan menangis lagi ya..”

Aku memeluknya, berusaha untuk menyalurkan kehangatan yang bisa ku lakukan. Bisa kurasakan getaran tubuhnya, isakan tangisnya yang makin menjadi – jadi. Tangan kananku kugunakan untuk mengelus punggungnya dengan lembut, hanya dengan itu ia bisa  kembali tenang.  Tapi mendadak Jong In melepaskan pelukanku dengan kasar, tatapannya tidak berubah sejak yang pertama.

“Tidak, Noona bohong!”

“Jong In!”

“Noona bohong, Noona bohong! Noona pembohong!”

“Siapa yang mengatakan itu? Jong In tidak baik berbicara sembarangan!”

“Ani, aku tidak berbohong! Noona bahkan sudah mengatakan itu berjuta kali, namun apa yang terjadi? Teman – teman tetap berkata bahwa aku pendosa, aku gila, aku pembawa masalah, dan aku idiot! Aku benar – benar idiot! Aku anak idiot!..”

Aku sudah tidak tahan lagi, dengan cepat aku langsung mendekapnya erat. Tangisku tumpah, aku menangis dalam diam. Tak terbayang berapa penderitaan yang Jong In alami selama ini. Apakah pengidap Sindrom Asperger harus diperlakukan layaknya pendosa? Layaknya seorang penjahat dunia? Apakah ini adil? Tuhan, mengapa kau biarkan Jong In mendapatkan cobaan seberat ini? Bisakah kau membiarkannya tertawa bersama teman – temannya, dan dianggap sebagai anak normal walau hanya sekali saja? Apa yang bisa ku lakukan untuk membuat itu terjadi? Aku sudah lelah, lelah untuk menangis meratapi nasibnya. Aku hanya ingin kebahagiaannya, Tuhan.

Mataku terpejam sambil memohon tulus, hatiku makin teriris begitu memikirkan nasib Jong In. Terkucilkan, hanya karena dia sedikit berbeda. Badai saat itu disertai dengan suara isakan kami, dibawah lindungan payung kami saling berbagi kehangatan, saling membagi ketenangan, saling mencurahkan perasaan masing – masing.

Tidak apa – apa Jong In bila kau dianggap pendosa, penjahat, pembawa masalah, gila, atau bahkan idiot. Bagi noona kau tetaplah Jong In, Jong In yang selalu mendatangkan kebahagiaan pada noona, mengisi hari – hari membosankan noona dengan tawamu. Tidak masalah jika seluruh dunia menyalahkanmu, karena noona akan tetap disini. Memelukmu dengan hangat, melindungimu dengan segenap kekuatan noona, menjadikanmu sebagai kebahagiaan utama noona. Jangan pernah menyerah untuk terus berjalan tegap hanya karena kamu adalah seorang yang sedikit berbeda. Noona mencintaimu Jong In, dengan segala kekuranganmu. Bisakah kau merasakannya?

~O~

Malam mulai datang, badai sudah terhenti. Kini digantikan dengan malam cerah bertahtakan ribuan gemintang, seperti tidak ada badai yang terjadi. Kami membangun sebuah api unggun, membuat kemah – kemahan di halaman rumah. Jong In sepertinya terlihat senang, sedari tadi ia bertepuk tangan begitu mengamati api yang tertiup semilir angin. Aku bahagia, bahagia melihatmu tersenyum cerah seperti ini, daripada harus menelan kesedihan melihatmu kedinginan seperti tadi.

Langit malam terlihat lebih gelap namun tergantikan oleh banyaknya gemintang yang bermunculan. Jong In terlihat bosan dan lelah hanya memandangi api yang hanya seperti itu saja. Tidak berubah. Kemudian ia kembali ke posisi sebelumnya, duduk sambil menekuk lututnya dan menenggelamkan wajah tampannya di antara sela sela paha. Aku mengamati wajahnya dalam diam, walau sebenarnya bukan wajahnya hanya rambut hitam kelam yang tertiup angin. Begitu damai, tenteram, tidak seperti sebelumnya.

“Mengapa noona melihatku seperti itu?”

Aku tersentak kaget, kemudian membetulkan posisi dudukku. Aku berdehem kecil.

“Aniya, aku hanya tak sengaja melihatmu.” Jawabku gugup sambil terus memandang lurus.

“Jangan berbohong, noona. Mengapa noona melihatku seperti itu, mengapa, mengapa?”

“A-aku tidak berbo-hong, ko…”

“Apakah noona melihat Jong In  dengan tatapan aneh itu karena Jong In benar – benar idiot?  Mengapa noona selalu seperti ini? Berbohong kepada Jong In mengatakan bahwa Jong In anak yang baik, padahal sebenarnya Jong In anak pembawa masalah! Jong In idiot! Benar – benar idiot”

Jong In tiba – tiba saja mengangkat kepalanya, memotong perkataanku dan berucap marah. Entah apa yang membuatnya tiba – tiba berbicara seperti itu. Padahal sejak tadi kita sudah tidak mengungktitnya, membiarkan itu tenggelam dalam kesenangan bersama. Mungkin perasaan tertekan yang membuatnya selalu membicarakan perihal kata ‘idiot’ itu.

Tiba – tiba tangisannya meledak, membiarkanku dalam perasaan kalut, menatapnya sesak. Aku menghampirinya, mengangkat wajahnya, mengusap air matanya penuh sayang. Kemudian tanganku beralih turun memegang pundaknya, menatap matanya yang selalu menghindar dengan nanar.

Mengapa hidupmu bisa se-menyedihkan ini, Jong In-a? Semua orang terdekatmu meninggalkanmu, tidak ada yang mau mengerti tentang keadaanmu. Jika kebahagiaan tidak bisa kau dapatkan dari orang tuamu, aku lah yang akan memberikannya. Jika mimpi mimpi besar yang tak bisa kau wujudkan bersama keluargamu, aku lah yang akan mewujudkannya. Aku akan terus memegang tanganmu, memberikan kekuatan untuk terus maju sampai kapanpun.

Sampai jutaan tahun yang akan datang, Shin Hae Ri adalah milikmu seutuhnya. Jika kau membutuhkan mataku, kau bisa mengambilnya, menjadikan mataku sebagai milikmu. Jika kau membutuhkan telingaku, kau bisa mengambilnya, dan menjadikannya milikmu. Jika kau membutuhkan tanganku, aku bisa memberikannya untukmu, dan menjadikannya sebagai tangan keduamu. Jika kau membutuhkan kakiku, aku bisa memberikannya untukmu dan menjadikannya sebagai kaki keduamu. Kekuatan, kekayaan, ilmu, segalanya. Akan ku berikan untukmu. Karena aku hanya ingin satu. Tolong, Bisakah kau menyadari perasaanku? Tolong jangan abaikan perasaan cinta ini. Aku mencintai seseorang yang selalu mewarnai hidupku. Ya, aku mencintai Kim Jong In.

~END~

Iklan

3 pemikiran pada “Make You Feel My Love [ Special Kai’s Birthday ]

  1. Netes. Ini antara ceritanya yang greget atau memang akunya yang gampang kesentuh kalo sudah baca tentang saudara2 gitu.
    Omaygad, ternyata bukan kakak kandung. Kupikir kakak kandung. Makanya aku nangis2 gaje.
    Rrr. Tapi keseluruhan bagus. Top lah pokoknya.

    Suka

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s