Cruel Love Story In Joseon

cover ff cruel love story in joseon

Title : Cruel Love Story In Joseon
Author : Chan
Genre : Historical life, angst, hurt.
Ratting : PG – 13
Main Cast : Do Kyungsoo

Other cast : Cameo

Author’s note : Sebelumnya saya minta maaf jika FFnya gak nyambung, gak dapet feel, gak ngerti, gak memuaskan readers. Soalnya ini pertama kali saya buat FF bertema Joseon, berhubung saya suka drama saeguk jadi iseng buat. FF ini pernah dilombakan tapi gak menang -__-, jadi mohon banget kritik+saran+like+comment buat ngoreksi lagi. Oiya, ff ini udh pernah dipublish di WP pribadi. authorchanfanfic.wordpress.com. Yaudah deh kalo gitu, happy reading yeoreobun!!

~OoO~

Aku menatapnya. Lembaran itu. Lembaran usang yang bahkan hampir tak terbaca. Tinta – tinta hitam itu bahkan terlihat samar, tidak menunjukkan kualitas tinta terbaik di zaman itu. Nyatanya, lembaran kertas itu terbuat dari kertas terbaik yang pernah ada, serta ditulis menggunakan kuas dan tinta yang hanya dimiliki keluarga kerajaan.

Sebenarnya sulit untuk tak mengetahui identitas asli lembaran usang itu, aku bahkan ingin menjadi orang paling bodoh untuk hari ini saja. Membiarkanku dalam ketidaktahuan, berusaha menerka – nerka identitasnya. Berusaha untuk bersikap bodoh, seolah aku tak pernah belajar membaca. Karena membaca namanya saja sudah membuatku sesak.

-OoO-

Secercah harapan mustahil tak bisa ku elakkan, terlalu mustahil. Mungkin saat kau mendengarkannya, kau akan berdecak melihatku sudah seperti orang gila. Aku berharap bila Tuhan bersedia mengembalikan waktunya untukku. Mungkin kedengarannya mustahil, namun aku mempunyai suatu permintaan.

Tuhan, bisakah kau jadikan aku sebagai budak rendahan yang diperlakukan layaknya hewan dan tidak berpendidikan, daripada harus berlagak seperti sarjana yang paling pintar. Sarjana yang paling menguasai semua doktrin tingkat tinggi, yang bisa berbicara dan menulis 10 bahasa. Tapi nyatanya tidak bisa menguasai kata hatinya sendiri.

Bagiku itu semua hanya bualan, tak seperti ocehan yang sering ku dengar dulu saat baru belajar membaca.  Ketika ada suatu pepatah mengatakan bahwa ‘ilmu adalah kunci segala sesuatu’ aku tak pernah percaya. Mungkin saat aku masih ingusan, begitu mendambakan kekuasaan ilmu. Saat itu aku benar – benar percaya, bahkan sempat bermimpi untuk lebih berkuasa dari Raja Sukjong, kemudian menjamah Joseon menjadikannya milikku seorang. Kupastikan itu adalah sebuah pemikiran dangkal seorang calon sarjana sungkyukwan terbaik yang sampai sekarang tak pernah kuakui.

-OoO-

Aku masih menatap langit senja, yang bertaburkan warna jingga, membuatnya terlihat lebih indah dari aliran sungai jernih yang mengalir itu. Aku bersumpah. Walau jingga sudah mulai kemerahan, itu tidak akan berubah. Kenyataanya senja tetap seindah dirinya. Senja perlahan lahan ditutupi oleh awan hitam, mejadikannya berselimut dalam gelap. Menggantikan dengan cahaya bulan sabit bertahtakan bintang di sekeliling. Apakah itu indah? Jawabanku malah lebih indah. Karena langit malam yang cerah bukan hanya dipenuhi kegelapan, masih ada secercah cahaya bermunculan mengitari Sang bulan. Sang bulan lah yang paling terang, karena di malam hari tidak akan pernah terlihat pancaran terang sang matahari. Tapi walau bagaimanapun, kenyataannya matahari lebih terang dari bulan. Bulan hanyalah Sang Raja yang akan tetap bersinar walau kegelapan menyelimutinya, akan tetapi Matahari jauh lebih bersinar karena tak ada kegelapan yang bersamanya.

Malam hari lama tak berujung, membuat suatu titik terang. Karena kenyataanya malam akan lebih lama saat musim dingin, begitulah yang ku pelajari. Cobalah kau sejenak memperhatikanku, kawan. Apakah aku aneh? Berusaha ingin menjadi orang paling bodoh, namun tetap berlagak layaknya  seorang professor. Apakah aku terlalu munafik?

-OoO-

Tunggu, gemerlap bintang itu berkelap kelip, bukan bintang di sebelah timur, tapi bintang yang di sebelah barat – yang paling cerah menurutku. Bintang itu berkelap kelip, kadang sekali, kadang dua kali. Aku hanya tersenyum miris, melihat bintang itu berkelip dua kali, tandanya aku munafik. Bintang tidak pernah berbohong, karena dia adalah milik langit. Sekali dia berbohong, maka ia akan dihapus dan tidak akan pernah bisa menerangi kita, kawan.

Coba lihatlah kawan, bulan terlihat sangat terang benderang menemani bintangnya memancarkan cahaya dalam gelap. Tapi apakah kau tidak memerhatikan bintang di sekelilingnya, mengapa begitu redup? Seandainya bila tidak ada bulan, mereka tidak akan bisa tetap memancar terang seperti bintang di barat.

-OoO-

Kawanku itu hanya menghela napas berat, memandangku kasihan. Tatapannya seakan penuh arti. Kawanku itu merapikan topinya sejenak, kemudian duduk bersimpuh wangryeongwan miliknya. Dia adalah sarjana sungkyukwan, teman dekatku. Turut memandangi bintang yang kusebut – sebut. Aku hanya tersenyum kecut, membiarkan semilir angin malam hari musim dingin menusuk nusuk kulitku, membiarkannya didera kedinginan, tidak menggunakan baju berlapis atau apa.

Lepaskah dia Kyung Soo, kau tahu dia itu terlalu sulit digapai. Kau harus menyadarinya. Dia adalah bunga mawar yang cantik dan harum. Tapi apakah kau lupa? Mawar juga memiliki duri di tangkainya, bisakah kau melewati semuanya? Bisakah kau melewati semua penghalangnya tanpa merasakan sakitnya tertusuk duri?

Mungkin dirimu akan tetap aman sampai akhirnya kau bertemu Sang Kelopak. Tapi, apa kau yakin kau masih akan tetap seperti saat kau masih sarjana? Masih tampan, pandai, dan gagah? Kau hanya akan berakhir dengan duri sebagai malaikat mautmu, mungkin kau sudah berhasil mencapai kelopaknya. Namun, apakah kau tak berfikir berapa lama biaya, waktu, dan usaha untuk mendapatkannya? Tidak Kyungsoo, itu terlalu sulit.

Mungkin dengan ilmu bela diri dan kecerdasanmu, serta pesonamu bisa membantumu ke atas sana? Kau hanya akan bertemu dengannya, dengan segala kerinduan dan cinta. Tapi kemudian, ketika kau dihadapkan pada sesuatu hal yang kau khianati, bisakah kau mengelaknya? Tidak Kyungsoo, kau hanya akan berakhir tertusuk duri yang lebih tajam dari itu. Ditolak mentah – mentah, aku tahu itu hanyalah satu satunya jawaban. Karena dia sudah mendapatkan cintanya yang bersemayam di lubuk hatinya, walau cinta itu tak pernah mekar seindah bunga mawar.

-OoO-

Aku terduduk lesu di bawah pohon ek yang sudah membeku ini, masih memikirkan banyak kenangan yang mungkin sudah terlupakan olehnya. Waktu itu kami sengaja membuat janji, bertemu di bawah pohon ek. Itu adalah pertemuan terakhir kami, sebelum ia benar – benar meninggalkanku. Semuanya masih tercetak di dalam memoriku, karena entah mengapa pertemuan itu begitu berkesan. Memberikan sensasi kesenangan dan juga kepiluan di saat bersamaan. Senyum, tawa dan ekspresi kesalnya ketika kalah dalam permainan begitu polos. Apalagi saat ia menjawab dengan jawaban yang salah. Raut wajahnya mendadak sebal, dan aku menjadi terkekeh melihatnya.

Ya, kami memainkan lomba menjawab pertanyaan. Saling menjawab pertanyaan satu sama lain, yang menang adalah yang berhasil menjawab paling banyak.

Tentunya permainan itu mungkin tidak seperti yang kalian bayangkan. Mungkin kalian akan membayangkan  bermain petak umpet atau sekadar melempar biji pohon ek. Jika kalian tahu, itu adalah permainan populer yang sering dimainkan anak kelas Cheonmin atau paling tinggi juga kelas Sangmin. Kami kaum Yangban, tidak memainkan permainan seperti itu. Kecuali mereka yang benar – benar berjiwa petualang. Kami, yang memang benar benar tahu kesopanan dan kesantunan tidak akan pernah main layaknya kaum rendahan. Jadi, walau hanya permainan melontarkan pertanyaan, itu sudah terasa sangat seru bagi kami.

Itu adalah hal terindah yang pernah kudapatkan, bahkan lebih indah daripada mendapatkan kuda baru. Benar – benar istimewa dan tak akan pernah dilupakan. Bercengkrama bersama seseorang yang sekarang telah menjadi orang istimewa. Lebih istimewa dari apapun. Karena dia cinta pertamaku.

-OoO-

Suasana pasar terlihat ramai, seperti biasa. Para pedagang sibuk berteriak menjajakkan barang dagangannya. Kebanyakan yang berbelanja disini adalah para kaum Yangban. Disinilah kaum Yangban bersaing yang mana yang lebih baik pakaiannya. Mulai dari jogeori sampai binyeo. Sedangkan aku disini, berjalan santai sambil mengibaskan kipas perlahan. Terkadang aku membetulkan sedikit gat milikku yang sebenarnya baik – baik saja. Tanganku yang satunya kujuntaikan ke belakang, seolah berusaha untuk memperlihatkan wangryeowan yang baru kubeli dari seorang desaigner ternama di Joseon saat itu.

Tidak perlu berlama – lama, sampai tatapan semua yang ada disitu beralih menatapku. Wajah yang terkagum – kagum serta tak lupa decakan decakan mereka lontarkan. Bahkan beberapa dari mereka berbisik sambil menatap ke arahku. Aku hanya tersenyum miring, seleraku tak akan pernah salah bila telah beralih ke masalah pakaian. Kau tahu, aku ini adalah sarjana terbaik yang bukan hanya berprestasi di bidang akademik, tapi juga di bidang keterampilan.

Aku masih saja tersenyum santai, membiarkan mereka terus menatap kagum ke arahku. Namun itu tak bertahan lama, sampai semua kaum Yangban ricuh, berebut menepi mencari posisi. Aku hanya terdiam bingung, mengamati kericuhan yang sempat terjadi. Apakah akan ada perang? Tapi sepertinya tidak, mereka justru mencari posisi di pinggir lantas membungkukkan badan mereka. Aku yang masih bingung hanya terdiam, sampai terdengar suara seruan yang terdengar sangat keras dan tak lupa dentingan gong yang menggema leluasa.

Yang Mulia Permaisuri Telah Tiba!! Beri Jalan!! Aku mematung terdiam sejenak, rasanya aku masih bergelut sendiri dengan pikiranku. Sampai tiba – tiba seseorang menarik pergelangan tanganku, memaksaku untuk membungkuk mengikuti kaum Yangban lainnya.

Mataku hanya menatap kosong, sampai akhirnya iring – iringan ratu tiba di barisanku. Pikiranku yang sempat berkecamuk teralihkan oleh indahnya pakaian itu semua. Lihatlah para prajurit itu, menggunakan baju yang indah apalagi dilapisi oleh mantel anti peluru. Disisinya terdapat pedang serta tongkat penjaga. Begitu pula dengan dayang, mereka berpakaian rapi membentuk suatu barisan, dengan setia selalu menjaga setiap sisi tandu. Wha, ini benar – benar hebat. Aku memang mengetahui dengan jelas tentang jenis pakaian yang dipakai oleh bagian dari kerajaan. Tapi melihatnya langsung dalam jarak sedekat ini begitu hebat.

Tatapanku terasa begitu tajam, mengamati setiap detail pada pakaian tersebut. Hinga, dia terlihat. Dia yang paling anggun dan tercantik, perempuan itu datang ke arahku. Tidak, tepatnya ia hanya melihatku. Lebih intens dari saat kita bertemu di bukit itu.

~OoO~

Hari demi hari telah berlalu, menciptakan suatu kesan memilukan sekaligus mengharukan. Walau ada beberapa kisah menyenangkan, tetap saja itu harus berakhir dengan cara yang menyedihkan. Kenangan lama yang tak akan pernah terlupakan menuntunku menuju bukit ini. Hamparan rerumputan hijau mengantar kuda kuda peliharaan itu menikmati setiap gigitan rumput dengan lahap. Tak ada yang lebih indah dari pemandangan di bukit ini.

Pandanganku kosong, di tanganku tergenggam selembar kertas usang yang sudah kuceritakan waktu itu. Sempat kuceritakan tentang kisah bintang di malam hari, bukan? Apakah kalian masih mengingatnya? Semuanya tak lepas dari lembaran kertas usang ini, hanya selembar namun mengapa begitu memekkakan jiwa. Aku memandangi lembaran kertas itu, memberanikan diri untuk membaca. Sekarang aku tak akan mau lari lagi, aku tak akan mau membohongi diriku sendiri. Berharap agar Tuhan bersedia mengubahku menjadi budak adalah pemikiran bodoh. Sekarang aku baru mempelajari sesuatu, tak semua masalah itu menemukan solusinya dengan cepat. Terkadang kita sampai membutuhkan usaha dan kesabaran yang ekstra, berusaha menahan gejolak hati yang tak pernah reda.

Kita tidak butuh teori, teori para cendekiawan terkenal sekalipun. Karena yang namanya masalah hati tak akan mempunyai teori, ilmu akademi bukanlah segalanya. Perlukah kita menemukan teori tentang kejujuran hati? Apakah itu bisa dibeli dengan pengajaran khusus?

Kerinduan yang tak tertahan, rasa sakit yang terus membengkak, dan rasa cinta yang semakin menguat hanyalah omong kosong. Persetan dengan kata – kata puitis. Karena semua hanya akan berujung pada keserakahan diri, pada kebodohan yang membuat kita gila. Cinta itu memang buta, terlalu buta untuk bisa membedakan. Dia yang kau cintai tapi tak pernah mencintaimu atau aku yang dengan setia mencintaimu walau kau tak pernah melirikku?

~OoO~

Kyungsoo-shi, masihkan kau mengingatku? Akulah ‘Yeon’ mu, teman masa kecilmu. Lihatlah kini aku sudah seperti apa, dikelilingi kekuasaan tak berarti. Kini aku hanyalah boneka politik mereka, menjadikanku sebagai alat untuk mempertahankan partai mereka. Dunia ini benar – benar memuakkan, aku bahkan dibuat kesepian karenanya. Tapi walau begitu, aku masih bisa bersyukur karena diberikan kekuatan cinta oleh Tuhan. Dia yang membuatku merasa tak kesepian. Senyumnya selalu menghiburku walau itu bukan ditujukan untukku. Sakit. Memang itu rasanya, benar benar sakit. Tapi entah mengapa dibalik itu semua, tersirat perasaan bahagia bila ia juga bahagia. Apakah ini cinta sejati? Rasanya begitu manis dan pahit disaat yang sama.

Bila kau melihat langit malam, pasti kau akan melihat  ‘bintang di barat’. Dulu kita sering memandanginya, menyebut nyebut bahwa bintang itu tetap terang walau ia kesepian, jauh dari bulan. Tidakkah kau menyadari bahwa kisah yang kita buat benar benar mirip dengan kisahku. Ah, andaikan jika kita membicarakan bintang yang berdekatan dengan bulan, akankah aku bisa menjadi sepertinya? Mendapat cinta tulus darinya?

Ah, apakah kau ingat sesuatu? Ini adalah sesuatu yang sangat ingin ku utarakan. Ingat pada pohon ek favorit kita? Banyak kenangan yang terjadi antara kita, seperti saat aku bilang bahwa aku menyukaimu. Itu sudah lama sekali, bukan? Waktu itu aku masih berumur 7 tahun, benar benar lugu. Tidakkah kau menganggap itu serius? Hahaha, maafkan aku karena mengatakan itu. Mungkin kau juga tidak akan menganggapnya serius. Tapi yang jelas soal itu aku hanya membual, tolong jangan dianggap serius. Terima kasih untuk waktumu yang terbuang karena membaca surat tidak penting ini, Kyungsoo-shi. Semoga kita tetap dapat berkomunikasi dengan baik.

Salam Hangat, Min In Hyeon

~OoO~

Mataku berkaca – kaca, aku meremas sekuat tenaga surat itu. Merobek – robeknya dan membuangnya ke arah jurang. Membiarkan rasa sesak ini menjalar mengunci hatiku. Sambil menatap lurus ke arah jurang, aku menghirup napasku sebanyak mungkin. Kemudian, entah kapan kaki ini sudah tak berpijak lagi. Sudah jatuh terhempas oleh  kerasnya tebing.

Pada akhirnya aku akan menemuimu In Hyeon. Aku tak akan pernah bisa hidup tanpamu. Aku harap pada kehidupan selanjutnya, kita bisa ditakdirkan bersama tanpa perlu mengalami takdir yang menyakitkan. Perempuan itu, ibu negeri ini Queen In Hyeon yang terlalu tinggi untuk diraih. Aku mencintainya sampai kapanpun.

Your friend, Do Kyung Soo

-FIN-

  1. Sungkyukwan : perguruan tinggi jaman joseon
  2. Wangryeowan : baju bangsawan joseon tahun 1880.
  3. jeogori : atasan hanbok.
  4. binyeo : tusukan konde dengan bentuk yang bermacam – macam, dipakai oleh wanita yang sudah menikah.
  5. gat : topi bangsawan pria joseon
  6. Cheonmin : kelas rendahan, seperti budak, gisaeng
  7. Sangmin : rakyat jelata, seperti nelayan dan buruh
  8. Yangban : kelas bangsawan, seperti keluarga pejabat pemerintahan. Cendekiawan.
Iklan

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s