[Ficlet] Unrequited Love

8.-Unrequited-Love

 || Wendy Son | Kim Joonmyun ||

|| Hurt | Urban Life ||

Ficlet

PG for language

“If you care about someone, you should want them be happy. Even if you wind up being left out”

Ini bukan pertama kalinya laki-laki yang saat ini menginjak usia 24 tahun tergesa-gesa menuju suatu club exclusive kawasan Gangnam. Ia bahkan telah melanggar peraturan berlalu lintas sebanyak tiga kali dalam kurun waktus 15 menit terakhir. Ia menerobos lampu merah sebanyak 2 kali dan mengendarai dengan kecepatan di atas rata-rata, di mana itu dapat membahayakan dirinya dengan orang di sekitarnya. Semua itu ia lakukan untuk menuju tempat dunia gemerlap malam nyata dengan visual indah bagi ‘penikmatnya’ ini.

Kakinya berhasil melewati pintu masuk utama dan tanpa harus mencari —sosok yang menjadi alasannya datang kemari— lebih dalam ia sudah menemukannya. Gadis itu  kini tengah beradu fisik ala ‘wanita’ dengan seseorang yang laki-laki itu yakini hanyalah salah satu pengunjung di club ini yang sengaja atau tidak mencari masalah dengan gadis itu.

“Suho, kemari” panggil seseorang  berpakaian layaknya bartender yang menyadari kedatangan  laki-laki tersebut.

Suho pun berdecak kesal sebelum akhirnya ia mendekati dua wanita yang menjadi pusat perhatian club malam ini. Ia pun berinisiatif menarik gadis yang ia kenal untuk menghentikan perkelahian para gadis ini.

“Nona Son, mari pulang” ajak Suho sambil menahan gadis yang ia cari bernama lengkap Son Seungwan yang notabennya adalah putri dari Perdana Menteri Korea Selatan dimana tempat ia menggantungkan kebutuhan finansial keluarganya selama ini karena ayahnya adalah seorang sekretaris  dari Perdana Menteri tersebut.

I don’t give a damn to you, bitch. You suck!” maki Nona muda kepada lawannya itu sambil berusaha melepaskan diri dari Suho yang mengunci tubuhnya.

“Suho, sebaiknya kau bawa pulang Nona muda itu” ucap seseorang tadi yang juga berusaha menghentikan gadis yang satunya lagi dengan menahan tubuhnya dari belakang.

Suho menganggukkan kepalanya mengerti. “Terimakasih Chanyeol, telah mengabariku” ucapnya kepada orang tersebut dan sebelum ia meninggalkan tempat ini  dan tak lupa Suho mengeluarkan cek kantor untuk mengganti semua kerusakan yang telah Nona muda-nya lakukan.

Suho melepaskan tuxedo-nya dan menyampirkannya ke tubuh Nona muda itu —-dimana gaun malam berwarna biru ocean dengan glitter yang ia kenakan terlihat basah dan lusuh— lalu menggiring gadis itu ke dalam mobil sedan hitamnya. Laki-laki itu membukakan pintu penumpang untuk gadis itu dan tanpa penolakan, ia pun memasuki mobil tersebut. Setelah itu, Suho pun memutari mobil tersebut dan mengambil tempat kemudi tepat di sebelah Nona mudanya itu. Ia pun bersandar pada jok mobilnya sambil melonggarkan dasi yang sudah mengikat lehernya sejak pagi tadi. Sekilas dirinya melirik putri bosnya yang saat ini bersandar di kaca jendela menatap kosong dashboard  mobilnya dengan sesekali mengeluarkan suara khas cegukan.

Suho sedikit memiringkan kepalanya melihat manik hazel itu terlihat hampa sekarang “Are you okay?” tanyanya dengan lembut.

It’s not my fault, Suho. Racau gadis itu yang membahas -tepatnya membela diri- atas apa yang terjadi di club tadi meski Suho sebenarnya tak mempermasalahkan hal tersebut sekalipun itu adalah kesalahan Nona mudanya.

I know.” Jawab laki –laki itu yang mulai memutar kunci mobil dan menarik pedal gas. “I’ll take you home.” Tepat setelah ia mengucapkan kalimat itu  tangan kanannya tertahan oleh dinginnya sentuhan dari nona mudanya.

Don’t take me home.” pintanya kepada Suho.

Laki-laki itu pun menoleh.“Tapi Wen—”

“Kemanapun, asalkan jangan rumah. Kumohon, Joon” pinta gadis itu dengan semakin lirih.

Jika Nona muda yang biasa Suho panggil Wendy —ketika tidak ada orang lain— memanggilnya ‘Joon’ itu artinya gadis itu benar-benar dalam keadaan terpuruk dan berada di titik terendah. Sejujurnya hal itu membuat sisi lain dalam hati Suho juga ikut merasakan sakit. Ia tumbuh bersama gadis itu secara tidak langsung karena pengabdian ayahnya yang sudah cukup lama terhadap Perdana Menteri Son dan melalui waktu yang tidak sebentar itulah maka secara tidak langsung pula ia memahami Wendy.

Tanpa pikir panjang –tidak seperti biasanya– Suho mengiyakan permintaan Nona mudanya. “Aku mengerti Wendy. Kau tidak kuantar pulang malam ini”

Suho pun mulai membawa mobilnya pergi dari tempat ini dan kemanapun itu Wendy percaya bahwa bukan rumahnya lah destinasi Suho saat ini seperti ucapan laki-laki itu barusan dan ia bisa bernapas lega sekarang.

Memasuki pintu masuk tol  untuk ke luar Seoul, Wendy pun mulai membuka suaranya dengan keadaan setengah sadar.

“Joon, bukankah salah satu tugasnya seorang Perdana Menteri itu adalah menyayangi penduduk di negaranya? Tapi kenapa hanya untuk menyayangi putri semata wayangnya tidak bisa? Kenapa ia justru menyakiti putrinya dengan membawa wanita busuk itu ke rumah huh” racaunya tak karuan.

Sekarang Suho mengerti bahwa alasan Wendy menghabiskan 10 sloki vodka malam ini karena apa. Perdana Menteri kembali membawa istri barunya yang hanya selisih 7 tahun dengan Wendy ke rumahnya. Dan Wendy sangat membenci ketika batas teritorial wilayahnya sudah di lewati oleh wanitu itu.

“Lalu, bukankah seorang dokter itu bersiaga saat pasiennya membutuhkannya? Tapi kenapa tunanganku sendiri tidak bisa kuandalkan jika aku sedang membutuhkannya saat seperti ini?” racaunnya sekali lagi sambil memukul pelan dadanya menahan air matanya tidak tumpah.

Suho melirik sekilas Wendy yang masih meracau tak jelas di sebelahnya. Suho mengenal betul siapa tunangan Nona mudanya.

 Kim Jongin. Si dokter jenius anak pemilik Rumah sakit pusat Korea Selatan. Laki-laki sempurna bagi semua mata wanita dari berbagai kelas. Beberapa bulan yang lalu mereka melakukan peresmian hubungan diantara keduanya. Cerita klasik karena mereka di persatukan atas dasar strata sosial yang sama. Yang berbeda adalah bahwa nyatanya Wendy memang menaruh perasaan kepada Jongin itu karena dia adalah cinta pertama Wendy. Entahlah dengan laki – laki itu yang nampaknya justru lebih tertarik menangani pasien.

 “Tidak ada yang peduli dengan ku, Joon.”

 “Tidak ada yang menganggapku berharga.”

 “Tidak ada yang  membutuhkan kehadiranku. Tidak ada yang mencintaiku. Tidak ada. Tidak ada.”Itu adalah keluhan terakhir Wendy sebelum akhirnya ia benar-benar terlelap kedalam tidurnya.

Setelah keluar dari tol, Suho menepikan  mobilnya di gas stasion. Ia menoleh menatap Wendy yang kini tengah terpejam. Tangannya tergerak untuk menyisir  helaian rambut nilon Wendy yang menutupi sebagian wajahnya dengan jemarinya kemudian mengusap jejak air mata yang membentuk jalurnya sendiri dengan ibu jarinya.

“Kau salah Wendy. Selalu ada seseorang yang peduli padamu meski kau tak membutuhkannya sekalipun. Selalu ada seseorang yang menganggapmu  lebih berharga dibanding semua aset yang dimilikinya. Selalu ada seseorang membutuhkan kehadiranmu meskipun yang kau tidak melakukan apapun. Selalu ada seseorang yang mencintaimu meski kau tidak menyadarinya. Selalu ada”

“Dan orang itu adalah aku”

4 a.m

Perlahan Wendy mulai mengerjapkan matanya layaknya orang bangun tidur. Bola matanya bergerak menelusuri mobil Suho dan saat ia melihat keluar kaca, ada sesosok laki-laki yang duduk di depan mobil. Ah itu sudah pasti Suho.

Wendy pun keluar dari mobil dan mulai mengambil tempat di samping  Suho.

Aroma asin khas laut kini sangat kental di panca indera penciuman Wendy dan pekikan burung pelikan menyapa indera pendengarannya.  Suho membawanya ke dermaga Incheon  rupanya. Orang itu sangat mengerti dirinya. Suho sangat mengerti bahwa Wendy sangat menyukai suasana menjelang sunrise seperti ini.

“Berapa menit lagi mataharinya akan terbit ?” tanya Wendy yang mengedarkan pandangannya ke beberapa kapal pemancing ikan telah kembali dari laut.

Sekilas Suho melirik arlojinya.“Mungkin sekitar 5 menit lagi. Merasa lebih baik?”

“Sangat .Terimakasih telah membawaku kemari, Joon”

“Sama – sama.”

“Selamat ulang tahun, Son Seungwan.”

Wendy sontak menoleh ke arah Suho yang baru saja mengingatkan dirinya bahwa hari ini tepat 21 tahun ia lahir ke dunia. “Terimakasih Kim Joonmyun. Aku bahkan lupa bahwa hari ini adalah hari ulang tahunku ”

Eoh, So make a wish before the sunrise, Wendy” ujar Suho yang di patuhi oleh Wendy. Gadis itu langsung memejamkan matanya dan mengatupkan kedua tangannya di depan dada.

Ketika kedua biner matanya terbuka, suatu keajaiban di pagi fajar itu pun dimulai “Oh my God, Joon. Look. The sunrise” ucap Wendy dengan semangat. “It’s so pretty when the sun is painting the sky all different colors” lanjutnya dengan tatapan penuh dengan binar kagum.

Tidak seperti Wendy yang memfokuskan seluruh atensinya kepada sang fajar, Suho justru hanya melihat gadis itu di retinanya. ‘But you are even prettier thing than sunrise, Wendy. Your bright smile is coloring my world’ batinnya.

—Fin

Epilog

I wonder if your wish for this year, Wen?”

I wish to stay pretty, skinny,  healty and wealthy as always

“Just  a such childish thing huh?”

 

Of course i have a special wish. But it’s secret”

 

“Yyak, Miss Son Seungwan, please tell me”

 

“Never Mr. Kim Joonmyun”. ‘Because my secret wish is you always by my side just like that’



See ya

and

Keep Bust A Move

Iklan

2 pemikiran pada “[Ficlet] Unrequited Love

Review And Chat here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s